Kind: captions Language: id Kecil dan terlihat biasa saja. Serangga sering dianggap hanya bisa makan dan berkembang biak demi kelangsungan spesies. Padahal, mereka sangat cerdas, dengan karakter dan kepribadian unik. Keunikan kumbang daun ini benar-benar di luar dugaan. Otak mungil mereka sangat luar biasa. Lebah sangat peka terhadap waktu. Kita sekarang tahu bahwa laba-laba tertentu dapat menyusun rencana dan berpikir logis. Mereka harus pandai mengenali wajah. Mereka harus pandai memahami hubungan. Dan di bidang itulah, tawon sangat cerdas. Mereka hidup di antara kita, mengamati tanpa kita sadari. Saat kita tidak melihat, serangga berdatangan. Menikmati apa pun yang manis atau bergula. Perilaku mereka seolah sudah otomatis. Banyak yang tidak tahu bahwa serangga dapat bertindak cerdas. Namun, kian banyak ilmuwan meyakini hal sebaliknya. Beberapa tahun terakhir, peneliti serangga telah mengubah prasangka kita tentang makhluk kecil ini. Di London, Lars Chittka meneliti perilaku bumblebee dan lebah. Dia dianggap sebagai salah satu pelopor penelitian perilaku serangga. Kita tidak bisa mengukur IQ serangga dengan metode tes untuk manusia. Tapi, kita bisa memberi tes yang menguji fleksibilitas mereka. Misalnya, dengan melihat apakah mereka dapat menghitung atau menyelesaikan berbagai tugas seperti pada tes kecerdasan untuk primata dan burung gagak. Lars Chittka memakai bumblebee untuk salah satu tes kecerdasan yang paling penting. Bumblebee itu ditempatkan di institutnya di Queen Mary University. Keterampilan seperti merawat anak, itu sudah bawaan lahir. Namun, apa bumblebee mampu merampungkan tugas baru yang biasa dilakukan burung gagak? Air gula ditambahkan ke bunga tiruan untuk percobaan. Kemudian, enam bumblebee ditempatkan ke dalam boks. Lambat laun, mereka sadar bahwa ada hadiah yang bisa didapatkan. Langkah kedua, pelat plexiglass menghalangi hadiah. Bumblebee masih bisa melihatnya, tapi tidak bisa mencapainya. Awalnya, mereka mengabaikan benang itu. Yang menarik dari eksperimen ini adalah kumbang-kumbang itu tidak hanya bergerak menuju sumber makanan, mereka juga harus belajar gerakan baru untuk mendapatkannya. Dalam hal ini, mereka harus menarik benang. Ini belum pernah mereka lakukan dalam sejarah evolusi. Jadi, akankah mereka berhasil menarik benang itu? Bumblebee nomor 81 mulai mencoba. Hanya dalam tiga menit, dia berhasil. Yang lainnya mengikuti. Kesimpulannya: Seperti burung gagak cerdas, serangga kecil tahu cara menggunakan alat untuk dapat hadiah. Mengesankan. Kami tahu banyak orang akan terkejut. Meski menuai banyak kritik, penelitian Chittka merevolusi cara kita memandang bumblebee dan serangga lainnya. Ada sekitar satu juta spesies serangga di bumi ini. Mereka tidak bertulang belakang, punya enam kaki, dan tiga bagian tubuh. Salah satu spesies yang dijinakkan manusia sekitar 7.000 tahun lalu, yakni lebah madu. Koloni lebah dikenal sebagai superorganisme. Sebagai koloni, mereka bisa melakukan lebih banyak hal dibandingkan jika sendirian. Misalnya, lebah dapat mengatur suhu sarang dengan mengepakkan sayap. Namun, menjaga suhu konstan 35 derajat hanya mungkin terjadi dengan rencana matang. Untuk itu, lebah tertentu harus ditempatkan di posisi strategis. Setiap lebah punya tugas yang jelas. Tugas ratu lebah tidak seistimewa gelarnya. Tugasnya bertelur dan memeriksa sarang larva. Ratu lebah bisa hidup hingga lima tahun dan biasanya hanya kawin sekali seumur hidup. Lebah jantan menetas dari telur yang dibuahi, sedangkan lebah pekerja dari telur yang tidak dibuahi. Ratu lebah bisa bertelur hingga dua ribu butir sehari. 21 hari setelah ratu bertelur, lebah pekerja menetas. Ia berjuang melepaskan diri dari sarang larva. Begitu berhasil, ia harus langsung mulai bekerja. Lebah pekerja menentukan kehidupan di koloni. Di musim panas, 30 hingga 50 ribu lebah hidup bersama di sarang. Setelah menetas, mereka menjaga kebersihan, mengatur suhu, dan memberi makan larva. Selanjutnya, mereka menjaga sarang dari ancaman. Setelah dua hingga tiga minggu, mereka jadi lebah pengumpul nektar dan polen bagi komunitas. Lebah jantan punya mata yang besar. Di musim panas, dua hingga enam ribu lebah jantan tinggal di sarang. Hidup mereka hanya berkisar di satu hal. Ketika musim kawin, mereka terbang bersama ratu muda yang baru menetas dan mengawininya. Koloni lebah sangatlah teratur, seperti dalam 100 juta tahun terakhir. Lebah secara naluriah tahu cara membangun sarang madu. Tiap sel segi delapan punya ukuran yang sama. Tidak perlu insinyur atau rencana konstruksi, mereka tahu caranya. Namun, siapa pun yang dengan intens mempelajari lebah madu akan bertanya apakah mereka bertindak hanya berdasarkan insting. Thomas Radetzki, telah memelihara lebah selama 40 tahun melalui Aurelia Foundation yang mendukung pendekatan lebih alami, yakni membiarkan lebah membangun sarang mereka, bukannya memakai sarang buatan manusia. Istrinya, Daniela, juga punya impian sama. Ini nektar segar, lihat. Lebah bisa terbang hingga lima kilometer untuk mengumpulkan nektar. Serbuk sari lalu menempel di tubuh mereka dan menyerbukkan ribuan bunga dalam sehari. Nektar dibawa ke sarang dan diubah menjadi madu dalam beberapa minggu. Lebah pengumpul penting bagi kelangsungan hidup koloni. Jika mereka tidak pulang, semua lebah akan kelaparan. Itulah mengapa mereka harus jadi navigator ulung. Setelah tahap pertama kehidupan di sarang selesai, lebah muda belajar mengenali lingkungan sekitarnya. Sebelumnya, mereka hanya berada di dalam sarang. Saat terbang pertama kali, mereka terbang keluar dan langsung berbalik. Lalu terbang mundur, sambil terus menghadap sarang dan terbang naik turun. Ini cara mereka mempelajari koordinat sarang, menggunakan sistem navigasi alami. Lebah punya orientasi waktu yang tajam dan mengikuti arah matahari, bahkan sewaktu mendung. Kompas yang berupa matahari membantu lebah untuk selalu bisa pulang. Tapi, bisakah itu berfungsi jika mereka dipindahkan ke tempat baru dalam keadaan gelap total? Dalam sebuah eksperimen, lima lebah diberi tanda kuning dan ditempatkan dalam kotak gelap, tanpa cahaya matahari sebagai panduan. Lalu mereka dibawa sejauh tiga kilometer melintasi pedesaan dengan sepeda. Alun-alun pasar ini adalah tempat asing, hampir tidak ada bunga yang bisa menarik lebah. Akankah lebah menemukan jalan pulang? Hai Thomas, aku baru melepasnya lima detik lalu. Kita sudah mulai. Mungkin lebahnya belum cukup kenal lingkungan sekitar. Kita tidak tahu hanya dengan melihatnya. Lihat, dia membuat dua lingkaran seperti yang lainnya, seperti sedang mencari arah. Secara teori, mereka tentunya bisa saja dimakan burung. Lebah bisa terbang cepat. Lebih dari 20 kilometer per jam. Jarak terbang dari alun-alun pasar ke sarang hanya satu kilometer. Itu dia! Keren! Kelima lebah berhasil menemukan jalan pulang. Tidak ada yang berhasil dalam waktu kurang dari dua menit. Waktu terlama adalah 8 menit 40 detik. Eksperimen ini dimulai pada abad ke-19 oleh ahli biologi perilaku Jean-Henri Fabre. Namun, baru belakangan ini kita tahu bagaimana lebah melakukannya. Seperti manusia, lebah punya peta virtual yang tersimpan di otak mereka. Mereka dapat mengingat lokasi di sungai, rumah, padang bunga, jalan, dan letak sarang mereka. Ketika terbang, lebah bisa menavigasi dengan sempurna jalan pulang dari lokasi baru di habitat mereka. Ini adalah pencapaian luar biasa bagi otak yang hanya sebesar butiran nasi. Di sana, terkoneksi sekitar satu juta saraf. Sebagai pembanding, otak manusia memiliki 86 miliar sel saraf. Sel-sel ini memproses dan menyimpan gambar, bentuk, bahasa, dan pengalaman, serta hal lainnya. Saudara dekat lebah yakni bumblebee, juga punya otak mungil. Namun, kecerdasan mereka tidak hanya tergantung pada jumlah neuron. Banyak serangga memiliki tali saraf ventral yang tersebar di seluruh tubuh. Setiap segmen, atau ganglia, memproses informasi dan mengontrol gerakan. Di kepala, beberapa ganglia bergabung membentuk otak. Stimulasi neuron dimulai di antena, yang juga berfungsi sebagai reseptor aroma, rasa, pendengaran, dan sentuhan. 60.000 pori kecil di antena menyerap aroma. Rangsangan dari reseptor penciuman diteruskan ke pusat penciuman pertama, yaitu lobus antena, tempat pemrosesan awal berlangsung. Rangsangan diteruskan melalui dua tali saraf yang terdiri dari banyak sel saraf, hingga mencapai <i>mushroom body. </i> Di sinilah tempat pusat pembelajaran dan memori. Bentuk, warna, aroma, lanskap. Lebah memproses semua ini dengan sangat cepat. Mereka hanya punya beberapa ratus neuron untuk melakukan tugas ini. Otak ini bekerja sangat efisien meski ukurannya kecil. Dari segi perilaku atau penampilan, pada umumnya orang tidak melihat banyak perbedaan antara satu serangga dan lainnya. Namun, apakah tawon ini lebih pemberani daripada saudara-saudaranya? Dia tahu cara cerdik agar lepas dari perangkap madu berbahaya ini. Di Universitas Bielefeld di Jerman, ahli biologi Caroline Müller mempelajari sifat-sifat serangga. Dia memilih jenis kumbang tertentu untuk penelitiannya: Kumbang mustard. Ini makhluk yang mungil. Sekilas, satu kumbang terlihat sama dengan yang lain, tidak ada perbedaan bentuk, pola, atau warna. Perilakunya juga serupa. Semua serangga ini dari satu ibu, tapi hanya sebagian yang punya ayah yang sama. Tampaknya, yang ada di pikiran mereka hanyalah makan dan berkembang biak. Eksperimen pertama melihat keberanian kumbang dengan menguji insting melarikan diri mereka. Caroline Müller mulai dengan memberi tanda pada setiap kumbang. Kami menjatuhkan kumbang-kumbang ini untuk meniru burung yang melepaskan kumbang yang tertangkap, supaya kumbang bisa melarikan diri. Eksperimen ini menguji reaksi melarikan diri mereka. Bagi banyak kumbang, reaksi awalnya sama. Mereka cepat melarikan diri dari tengah ke pinggir piring petri untuk mencari perlindungan. Namun, ada satu kumbang yang berperilaku beda. Kumbang ini terdiam dan mengamati sekeliling sebelum berjalan perlahan ke pinggir. Yang menarik dari tes ini adalah beberapa kumbang langsung berlari ke pinggir pada minggu pertama, dan setelah tiga minggu dites lagi, mereka tetap cepat berlari ke pinggir. Sementara yang awalnya lambat, tetap saja lambat saat diuji ulang. Konsistensi dan kepribadian individu kumbang daun sangat mengejutkan. Eksperimen berikut mengevaluasi aktivitas kumbang. Setiap kumbang bergerak di dalam piring petri selama 30 menit, dengan pola gerakan direkam oleh <i>software. </i> Merah dan kuning menunjukkan waktu lama di satu tempat, biru untuk waktu singkat, dan putih tidak sama sekali. Variasinya sangat beragam. Coba lihat kumbang ini, ia menunjukkan perilaku yang sangat berbeda. Jadi, ia lebih banyak berada di luar, kan? Iya, kumbang ini lebih sering di pinggir, tapi juga menjelajah di tengah. Sementara kumbang ini hanya di pinggir dan tidak banyak menjelajah. Genetik dan lingkungan membentuk kepribadian kumbang, sama seperti manusia. Kenapa perbedaan ini sangat penting? Keragaman populasi adalah keunggulan besar dalam beradaptasi terhadap ancaman dan perubahan lingkungan. Di Universitas Tours, Prancis, para peneliti serangga menemukan hal baru yang masih menyimpan misteri. Salah satu yang membingungkan ahli biologi Joel Meunier dan timnya adalah, bagaimana cocopet merawat anak-anaknya. Cocopet merawat telurnya seperti burung. Betina melindungi telur-telurnya dan selalu tetap dekat. Setelah dua bulan, ketika larva menetas, cocopet betina terus melindungi mereka dari predator. Perilaku ini tidak biasa di dunia serangga. Di sini, Anda bisa lihat induk cocopet memindahkan anak-anaknya ke tempat baru menggunakan mulutnya. Mirip induk kucing yang memindahkan anak-anaknya ke tempat lain saat merasa stres. Namun, bisakah larva bertahan tanpa induknya? Mengapa harus repot-repot merawat mereka? Peneliti menemukan bahwa induk juga mendapat keuntungan dari waktu bersama anak-anaknya, karena mereka membantu mengusir parasit dari tubuh sang induk. Jadi, apakah ini perilaku alami? Untuk mengetahuinya, Meunier memisahkan cocopet yang baru menetas dari induknya. Lalu, ketika cocopet ini punya keturunan, bagaimana mereka merawat anak-anaknya? Beberapa minggu kemudian, hasil mengejutkan pun muncul. Seekor bayi yang tidak mendapatkan perawatan cenderung memberikan perawatan yang minim ketika menjadi induk. Ini mungkin bentuk pembelajaran. Tidak ada alasan untuk berpikir mereka tidak bisa belajar, hanya saja hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut. Para peneliti kini mempelajari seluruh siklus hidup serangga yang soliter. Jika serangga seperti cocopet saja bisa belajar, mungkinkah ada serangga lain yang punya keterampilan berpikir lebih kompleks? Ann Arbor, sebuah kota kecil di Amerika Serikat, menjadi tempat istimewa bagi para peneliti serangga. Di Universitas Michigan, terdapat area khusus untuk meneliti spesies tawon tertentu dan perilaku cerdasnya. Ini adalah tawon kertas. Tawon ini membangun sarang dari serat kayu yang dicampur air liurnya untuk membentuk cairan padat. Ketika kering, campuran ini berubah jadi bahan bangunan yang sangat keras. Keistimewaan tawon kertas adalah wajah mereka berbeda dengan warna dan tekstur yang unik. Elizabeth Tibbetts telah meneliti tawon kertas selama lebih dari 20 tahun. Berbeda dengan lebah, tawon kertas tidak terlalu terorganisir. Pengaturan koloni mereka mirip teman serumah yang santai, bukan sarang lebah yang terstruktur. Ini mungkin berkaitan dengan perbedaan wajah mereka dan kemampuan saling mengenali. Hal ini menunjukkan adanya area terpisah di otak untuk pengenalan visual dan memori. Sebelumnya, hanya lebah yang diketahui punya kemampuan ini. Lihat, beberapa tawon ada yang punya alis kuning, ada yang tidak. Ada yang punya bintik hitam di wajah, ada yang tidak. Padahal, semuanya dari spesies yang sama dan hidup bersama. Mengapa? Penelitian membuktikan bahwa tawon kertas dapat mengenali wajah sesamanya. Tawon mengenali wajah individu karena mereka punya peran berbeda dalam koloni. Mereka bisa ramah, galak, bekerja sama, atau saling menyerang. Jadi, mengenali wajah tiap tawon sangat penting bagi mereka. Tawon kertas aktif pada siang hari. Jika tawon asing mendekati sarang, mereka akan mendeteksi wajah yang tidak dikenal. Tawon itu lalu diancam atau diserang, dan pertempuran pun dimulai. Di taman botani institut penelitian ini, ahli biologi Emily Laub mempelajari serangga di lingkungan alami mereka. Sejumlah sarang digunakan sebagai objek studi. Emily Laub and Elizabeth Tibbetts menemukan bahwa setiap tawon kertas mempunyai kepribadian yang berbeda. Beberapa betina bertelur di sarang yang sama. Sedangkan lebah, hanya satu sarang untuk satu ratu. Jadi, tidak heran jika kehidupan sosial tawon lebih kompleks. Beberapa tawon lebih sosial, cenderung berinteraksi lebih banyak, sementara yang lain lebih agresif dan sering bertarung dengan tawon yang tidak mereka kenal. Kami juga menemukan perbedaan dalam aktivitas tawon, seperti waktu yang dihabiskan untuk bergerak dan kecenderungan untuk menjelajahi area baru. Ini sudah akhir bulan Juli. Tawon kertas sedang merawat anak-anaknya, dengan sedikit bantuan dari para ilmuwan. Kini, sarang menjadi damai setelah musim semi penuh gejolak, ketika beberapa betina bertarung untuk menjadi ratu. Ini sekelompok calon ratu yang saling mengamati. Kedua tawon ini bertarung, saling memukul dengan antena dan kaki depan. Tawon lainnya menonton, ingin tahu siapa yang menang. Betina itu juga mengamati, penasaran siapa yang akan menang. Pengalaman mereka dengan tawon-tawon ini memengaruhi perilaku mereka dalam pertarungan selanjutnya. Para peneliti ingin tahu lebih banyak. Dapatkah tawon kertas berpikir abstrak? Tidak hanya mengingat kejadian, tetapi juga menganalisis dan menarik kesimpulan? Bisakah tawon kertas menyelesaikan tes mental yang terlalu kompleks bagi otak balita manusia? Pertama saya akan melihat mereka. Ada naga, sapi, dan dinosaurus. Jika saya bilang naga lebih hebat bertarung dari sapi, dan sapi lebih hebat dari dinosaurus, meski belum pernah melihat naga dan dinosaurus bertarung, Anda bisa menebak, bahwa naga lebih baik dari dinosaurus. Ini contoh dasar inferensi transitif, menggunakan apa yang Anda tahu untuk menebak hubungan yang belum diketahui. Sebelumnya, berpikir logis dianggap hanya milik manusia. Sekarang kita tahu monyet, burung, dan ikan juga bisa berpikir. Inferensi transitif adalah kemampuan menyimpulkan hubungan yang belum diketahui berdasarkan yang sudah diketahui. Para peneliti sekarang melakukan eksperimen dengan tawon kertas, bukan memakai boneka, melainkan warna. Pertama, mereka harus mengingat lima warna berbeda. Selanjutnya, serangga harus menyusunnya dalam urutan yang logis. Tawon-tawon ini harus memilih di antara dua warna dalam empat putaran terpisah. Satu warna menyebabkan sengatan listrik kecil, yang lainnya tidak. Selain kuning dan biru muda, semua warna menyebabkan sengatan listrik atau tidak, tergantung pada pasangannya. Pada pasangan warna pertama, tawon lebih memilih kuning. Ia belajar di putaran pertama bahwa biru berhubungan dengan sengatan listrik. Tawon menyelesaikan tugas dengan benar. Lewat banyak pengulangan, mereka belajar Biru lebih menyakitkan daripada kuning, ungu lebih menyakitkan dibanding biru, hijau daripada ungu, dan biru muda daripada hijau. Mereka lebih memilih warna yang tidak menyebabkan sengatan listrik. Warna-warna tersebut terkait dengan rasa sakit, mengikuti prinsip logis, sama seperti eksperimen dengan boneka. Ini memungkinkan tawon membuat peringkat Apakah itu memungkinkan tawon mengevaluasi pasangan warna yang belum pernah dilatih sebelumnya? Warna apa yang lebih disukai tawon, biru atau hijau? Secara logis, tawon memutuskan memilih biru. Seberapa penting kemampuan tawon kertas menyimpulkan hal yang tidak diketahui dalam hidup mereka? Kehidupan tawon diatur dalam hierarki linear dari yang paling dominan hingga yang paling tidak dominan. Dengan inferensi transitif, mereka bisa menebak kekuatan tawon lain tanpa bertarung. Misalnya, saya mengalahkan Suzy minggu lalu, dan Suzy mengalahkan Jane, jadi saya mungkin bisa mengalahkan Jane. Ini membantu mereka mengelola konflik tanpa harus bertarung dengan semua tawon. Para peneliti mengamati pertarungan tawon dengan cermat. Ini adalah situasi umum, lawan menyerah sebelum bertarung. Tawon ini mungkin sudah menyimpulkan tidak punya peluang menang Belum diketahui apakah spesies serangga lain memiliki keterampilan logis yang juga mengagumkan. Lebah madu tidak mampu menyelesaikan tes ini. Saya rasa tawon bukanlah jenius secara umum, mereka tidak akan pernah melukis atau menulis buku. Tapi ada beberapa hal yang perlu dikuasai tawon untuk bertahan hidup. Mereka harus pandai mengenali wajah dan memahami hubungan, dan dalam hal ini, tawon memang jenius. Jika serangga memang cerdas, apakah mereka juga punya sensasi dan perasaan seperti primata? Misalnya, bagaimana bumblebee merasakan sakit? Apakah melalui refleks atau merasakannya dahulu sebelum bereaksi? Karl von Frisch, yang pada awal abad ke-20 menemukan tarian 'waggle' sebagai bentuk komunikasi lebah, meragukan apakah serangga bisa merasakan sakit. Jadi, dia melakukan eksperimen berikut. Seekor lebah diberi air gula. Saat lebah itu minum, Karl von Frisch memotong tubuhnya menjadi dua. Lebah itu tidak menunjukkan refleks rasa sakit dan terus meminum beberapa detik sebelum mati. Bagi von Frisch, ini bukti bahwa serangga tidak punya reseptor rasa sakit. Tentu saja itu omong kosong. Siapa pun yang pernah mengaitkan belalang ke kail pancing tahu bahwa serangga jelas tidak senang dan berusaha melawan. Hal yang sama berlaku jika kamu mengganggu lebah dengan memencetnya dengan dua jari. Lebah akan menunjukkan reaksi alami. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa banyak spesies serangga punya reseptor rasa sakit, yang berarti mereka bereaksi secara refleks terhadap rangsangan. Jadi, seperti manusia, mereka juga bisa merasakan rasa sakit. Filsuf Jonathan Birch mempelajari sensitivitas hewan. Timnya menemukan bahwa gurita, lobster, dan kepiting kemungkinan besar merasakan sakit secara kognitif. Mereka invertebrata, seperti serangga. Di banyak restoran, lobster dilempar hidup-hidup ke dalam air mendidih dan bisa bertahan hidup hingga tiga menit. Selama itu, terjadi gelombang aktivitas sistem saraf sama seperti yang terjadi pada manusia atau hewan lain yang dimasukkan ke air mendidih. Jadi, ini bukanlah metode yang cepat, atau manusiawi. Temuan Jonathan Birch telah mendorong perhatian terhadap kesejahteraan hewan ini dalam undang-undang kesejahteraan hewan di Inggris di masa depan. Tim peneliti yang berbasis di London tengah menyelidiki apakah serangga juga merasakan sakit, yang bisa memberi mereka perlindungan hukum di Inggris dan Uni Eropa. Isu ini tiba-tiba sangat relevan, terutama karena serangga menjadi sumber makanan yang kian penting bagi manusia. Di St. Leonhard, Austria, Andreas Koitz mengembangbiakkan ulat hongkong. Kegiatannya di lahan seluas 65 meter persegi menghasilkan 500 kilogram serangga per bulan. Namun, bagaimana menerapkan kesejahteraan hewan dalam budi daya serangga, dan bagaimana mematikannya secara manusiawi? Beberapa waktu lalu, Uni Eropa mengizinkan pemrosesan ulat hongkong dan serangga lainnya menjadi makanan. Andreas Koitz hanya memberikan pakan berkualitas tinggi bagi ulat hongkongnya. Dalam boks ini, ada sekitar 10.000 hewan yang diberi pakan sampingan dari industri makanan, seperti dedak gandum, ragi bir, buah, dan sayuran. Ada juga kentang yang dianggap tidak layak dijual, tapi sempurna untuk kami. Setelah 3 hingga 4 bulan, larva dianggap cukup tua untuk diproses lebih lanjut. Mereka dipilah berdasarkan ukuran. Memelihara ulat hongkong tidaklah sulit, karena mereka berkembang dengan baik dalam kelompok. Namun, apakah ulat hongkong yang merupakan larva serangga ini bisa merasa sakit secara kognitif dan merasakan emosi? Selama produksi, saya tidak pernah secara sadar melihat rasa sakit atau hal lain. Bahkan dalam proses penyortiran yang melibatkan penyaringan, saya tidak melihat mereka makan lebih sedikit atau berperilaku berbeda. Tetap seperti biasa. Namun, dia memikirkan cara mematikan hewan-hewan ini secara manusiawi dan memilih metode sesuai dengan siklus hidup alami cacing di musim dingin. Cacing dibekukan pada suhu minus 20 derajat Celsius, menghentikan metabolisme mereka hingga mati. Sebaliknya, industri pertanian kurang memperhatikan kehidupan serangga. Pestisida membunuh miliaran serangga, bukan hanya hama, tetapi juga makhluk yang bermanfaat Lebah-lebah ini diracuni pestisida. Kematian mereka berlangsung beberapa menit. Secara ilmiah, masih belum jelas apakah lebah merasakan lebih dari sekadar refleks rasa sakit. Kelompok penelitian di Queen Mary University, London, tengah menyelidiki hal ini melalui eksperimen mendalam yang dirancang oleh ahli biologi perilaku Lars Chittka. Ahli biologi dan timnya menyiapkan sebuah boks dengan beberapa stasiun pemberian makan. Yang kuning berisi larutan gula 10 persen. Yang pink larutan gula 40 persen, yang lebih disukai bumblebee. Namun, permukaan di bawah larutan itu dipanaskan hingga 55 derajat. Pertanyaannya adalah apakah lebah, saat menemui rangsangan panas yang tidak menyenangkan, akan refleks melarikan diri atau apakah mereka dapat belajar menahan refleks itu jika mendapatkan hadiah. Mamalia jelas merasakan sakit karena sistem saraf mereka mirip manusia. Namun, sistem saraf serangga masih kurang dipahami. Eksperimen ini bisa memberi petunjuk. Seekor lebah menyadari ada yang manis di stasiun berwarna kuning. Yang lainnya tidak tahu bahwa air gula di wadah pink lebih manis. Meski panas membuat bumblebee stres, semakin banyak yang terbang ke sana. Studi dari 2022 menunjukkan, bumblebee bisa menahan sakit demi hadiah manis. Bumblebee ini paham bahwa ada makanan yang lebih baik di stasiun pink dan harus menahan rasa sakit dengan menekan refleks untuk melarikan diri. Dia mendapatkan hadiah dari platform yang menyakitkan. Ini menunjukkan bahwa perilaku menghindar dari stimulus rasa sakit bisa ditekan. Eksperimen ini memperkuat bukti bahwa serangga mungkin makhluk yang dapat merasa, dan bereaksi sesuai situasi. Lars Chittka bekerja sama dengan filsuf Jonathan Birch yang membawa perspektif berbeda. Saya rasa istilah sensitivitas menjadi sangat penting dalam kesejahteraan dan hukum hewan karena mencakup semua perasaan yang mungkin dimiliki hewan. Ini adalah kapasitas untuk merasakan, baik rasa sakit atau senang, maupun nyaman, tidak nyaman, gembira, atau antusias. Konsep ini berguna karena kita tidak hanya ingin membahas rasa sakit. Pernyataan ini mungkin terdengar provokatif bagi banyak peneliti serangga. Dia mempertanyakan apakah serangga memiliki kesadaran atau identitas diri. Apa yang membuat kamu menjadi kamu? Dunia batin yang subjektif itu. Saya tidak tahu apa tawon memilikinya. Saya juga tidak tahu cara mengukur kadarnya. Tapi itu benar. Ada implikasi filosofis dan pemikiran menarik tentang apa yang bisa dilakukan hewan, apa yang mampu mereka pikirkan, serta bagaimana kita memperlakukan mereka. Meski tawon tidak begitu imut, mereka mampu melakukan proses kognitif yang kompleks dan canggih. Hal ini memunculkan banyak pertanyaan menarik. Iya, banyak hal yang terjadi di kepala mereka, itu pasti. Sekarang kita paham betapa cerdas dan sensitifnya serangga. Namun sayangnya, aktivitas manusia mengancam kepunahan banyak serangga cerdas dan menakjubkan ini.