File TXT tidak ditemukan.
Jerman menjelang pemilu 2025 - Pandangan negara Eropa atas pemilihan di Jerman | DW Dokumenter
2_UiEJg4TII • 2025-02-20
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Jerman adalah pusat Eropa.
Dan kekuatan ekonomi terbesar ketiga di dunia.
Selama bertahun-tahun, <i>Made in Germany</i>
identik dengan kekuatan ekonomi dan stabilnya demokrasi.
Namun, masa itu telah berlalu.
Perdebatan tentang militer, ekonomi,
migrasi, dan perpecahan sosial.
Jerman menghadapi perjuangan berat,
dan negara tetangganya bertanya:
Ada apa dengan Jerman?
Pukul 8 pagi di Hagen.
Di dapur umum, relawan Herbert Tepr
menyiapkan bungkusan makanan untuk dibagikan.
Mengapa perpecahan sosial dan politik semakin luas?
Dan mengapa dapur umum semakin banyak dikunjungi?
Mulai dari yang benar-benar membutuhkan
dan hidup di jalanan, tunawisma,
hingga mereka yang kesulitan
dan berjuang memenuhi kebutuhan hidup.
Pecandu narkoba, alkohol, macam-macam.
Kota Hagen terletak di tepi wilayah Ruhr.
Hagen, dulunya kota industri baja yang makmur.
Kota berpenduduk 200.000 ini
kini tengah menghadapi berbagai masalah struktural.
Banyak warganya tertinggal.
Di sini masalah sosial Jerman terlihat jelas.
Kentang, wortel.
Lalu ada daging cincang, kubis, sosis.
Suasana tenang sebelum pengunjung yang lapar berdatangan.
Orang yang hidup layak jumlahnya kini cukup banyak.
Tapi, mereka sering lupa bahwa banyak orang kesulitan.
Jika tiap orang berkontribusi,
kita semua akan hidup lebih baik.
Mobil <i>sport</i> di depan dapur umum ini
adalah milik salah satu relawan.
Jika sudah bekerja keras dan sukses,
tidak perlu malu dengan apa yang kita punya.
Mobil ini saya parkir di sini karena saya berusaha
ingin berbagi dan berkontribusi untuk dapur umum.
Di hari-hari sibuknya, dapur umum ini
memberi makan hingga 350 orang.
Pada tahun 2024,
sekitar 15% penduduk Jerman berisiko jatuh miskin.
Ketakutan akan kemunduran sosial semakin besar.
Lembaga sosial di Hagen merasakannya.
Di <i>laundry</i> ini, tunawisma bisa mencuci pakaian
dan mendapat bantuan lainnya.
Kami melayani pelanggan tunawisma,
mereka yang kurang beruntung,
yang punya masalah,
atau sekadar butuh orang untuk mengobrol.
Di sini juga ada toko pakaian, dokter...
Dokter Theo Scholten memberikan konsultasi gratis
bagi yang tidak memiliki asuransi kesehatan.
Di Jerman, sekitar 5,5 juta orang
menerima bantuan sosial.
Lebih dari 500.000 orang di antaranya adalah tunawisma,
10 persen di antaranya hidup di jalanan.
Kebanyakan politisi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Politisi sebaiknya menghabiskan waktu seminggu
di beberapa lembaga sosial
untuk melihat kenyataan sebenarnya.
Itu mengapa pemerintahan Jerman berikutnya perlu meredakan kecemasan
dengan memastikan adanya jejaring sosial.
Itu penting.
Jika gagal, masa depan AfD akan cerah.
Sebanyak 43% penduduk Hagen punya latar belakang migrasi.
Okan Kurban lahir di Hagen.
Pria berusia 26 tahun ini adalah sekretaris serikat pekerja
untuk kaum muda di IG-Metall.
Saya rasa tidak masalah jika proporsi migran di sini besar.
Namun, tidak semua orang setuju.
Kurban mengajak kami ke salon cukur
milik teman lamanya, Aras Sako.
Terlalu banyak orang yang dibiarkan masuk
tanpa pemeriksaan,
itulah sebabnya Jerman jadi seperti ini.
Tanpa kontrol perbatasan,
kita tidak tahu siapa saja yang masuk.
Mereka masuk begitu saja tanpa pemeriksaan.
Menurut saya, itu tidak baik.
Itu sebabnya semua jadi kacau sekarang.
Orang-orang yang bekerja dengan normal,
berperilaku baik, membayar pajak,
mereka boleh tetap tinggal, terserah.
Tapi mereka yang hidup dari bantuan sosial,
kerja ilegal, dan bikin masalah di sana-sini…
Selalu ada kejadian.
Menurut saya, mereka semua harus dipulangkan.
Jujur saja, saya rasa tidak ada tempat buat mereka di sini.
Begitulah, Okan.
Okan Kurban memandang dirinya sebagai mediator.
Kamu hanya perlu melihat.
Kenyataan itu yang saya upayakan
agar orang bisa berpendapat sendiri.
Para pengunjung dapur umum terburu-buru
menyalahkan orang lain atas masalah mereka.
Semakin banyak migran yang kita terima,
semakin sedikit yang didapatkan penduduk lokal.
Ya, saya sering dengar migran atau pengungsi
dapat macam-macam bantuan.
Menurut saya itu tidak adil.
Ahli politik Isabelle Borucki memimpin studi
tentang kekhawatiran orang Jerman.
Menurut hasil survei terbaru
pada musim panas 2024 tentang kekhawatiran,
sekitar 57% responden sangat khawatir
atas peningkatan biaya hidup.
Di posisi kedua, adalah kekhawatiran
akan kedatangan migran yang mengancam kondisi kehidupan.
Biaya hidup semakin mahal.
Dan mayoritas melihat negara ini kewalahan
akibat masalah pengungsi.
Orang-orang di dapur umum sudah hidup dalam kemiskinan.
Saat ini, saya menerima bantuan sosial.
Tapi, saya berusaha mandiri dengan menawarkan jasa saya.
Saya tukang kayu terlatih,
tapi karena gangguan mental,
saya tidak bisa bekerja sesuai keahlian.
Saat ini, dia membantu saya bangkit
agar bisa keluar dari masalah saya.
Saya juga penerima bantuan sosial, tapi itu tidak cukup.
Jadi, saya bersyukur dia mau membantu.
Jika tidak, saya tidak tahu harus mulai dari mana
atau siapa yang mau menolong saya.
Lihatlah Hagen secara keseluruhan.
Kota ini kotor, dan sayang sekali kondisinya
semakin buruk bertahun-tahun belakangan,
seperti halnya Jerman.
Selamatkan tanah air kita.
Apa lagi yang bisa saya katakan?
Saya setuju.
Ya, itu yang saya mau.
Jerman harus kembali mengutamakan
kepentingannya sendiri, seperti Amerika Serikat.
Tinggalkan Uni Eropa dan NATO.
Jerman harus kembali jadi yang terdepan.
Selama beberapa dekade,
Jerman relatif terlindungi dari ekstrem kanan
karena sejarahnya dan kejahatan yang dilakukan Nazi.
Namun, 10 tahun terakhir ini,
seperti di banyak negara Eropa,
kita telah melihat sebuah partai
yang berhasil memantapkan posisi di tingkat nasional
dan kini menjadi partai kedua terkuat di negara ini,
dan kita menyaksikan normalisasi model ini
dalam politik Jerman.
Ini sistem eksploitasi buatan negara.
Jika saya orang asing,
saya juga akan memanfaatkannya.
Perdebatan mengenai migrasi
sangat berapi-api dan emosional.
Di Jerman, setiap kali terjadi serangan fatal
oleh orang asing,
selalu ada reaksi emosional besar yang diberitakan media.
Dan tentu saja, tiap kali, ada reaksi di jejaring sosial,
dengan pernyataan dari partai ekstrem kanan, AfD,
yang memanfaatkan kejadian ini
dan mendorong partai politik lain
untuk bereaksi dengan proposal yang sering kali dibuat
dengan terburu-buru, dan validitasnya dipertanyakan.
AfD jelas-jelas telah mengubah wacana di Jerman,
terutama soal migrasi.
Ini sangat terlihat pada CDU/CSU.
Dalam manifesto pemilu mereka,
CDU/CSU menuntut hal yang sama
dengan yang lama diinginkan AfD,
memperketat perbatasan.
Perdebatan pemilu berfokus pada migrasi.
Jerman ingin membatasi migrasi
dengan kontrol di perbatasan,
tapi siapa yang dirugikan dan diuntungkan?
Słubice dan Frankfurt (Oder)
terletak di perbatasan Jerman-Polandia.
Jembatan Oder menjadi simbol persatuan Eropa.
Namun sejak Oktober 2023,
kontrol perbatasan diterapkan di sisi Jerman,
menyebabkan kemacetan hingga 20 kilometer
dengan waktu tunggu berjam-jam.
Tomasz Stefański adalah Wakil Wali Kota di Słubice.
Saya masih ingat ketika mengantar anak saya
ke taman kanak-kanak di Frankfurt (Oder).
Itu adalah hari pertama kami bisa
melintasi perbatasan tanpa paspor.
Itu hari yang besar bagi kami.
Saya ingin kontrol perbatasan dihapuskan.
Kedua kota ini telah lama saling terhubung
dan menyebut diri mereka sebagai kota tanpa perbatasan.
<i>Ar</i>tis di Frankfurt (Oder)
melihatnya seperti itu.
Saya percaya bahwa daerah perbatasan ini
adalah <i>avant-garde</i> masa depan.
Karena di sini, kita melewati perbatasan setiap hari.
Kedua kota ini menyebut diri sebagai Kota Kembar Eropa, Frankfurt-Słubice.
Mereka tidak dapat dipisahkan.
Pada awal 90-an dan 2000-an,
ada banyak optimisme.
Sebagian karena euforia, rekonsiliasi, dan rasa ingin tahu.
Lalu, sebagai pertunjukan politik,
sebagai politik simbolik,
didirikanlah tenda ini, yaitu kontrol perbatasan.
Tapi itu hanya simbolis.
Ketika saya ke perbatasan Guben-Gubin beberapa hari lalu,
tidak ada kontrol sama sekali.
Jadi, saya bisa merekomendasikan pengungsi
untuk lewat Guben-Gubin,
karena di sana tidak ada halangan.
Banyak komuter dari Polandia yang bekerja di Jerman.
Diikuti oleh yang berasal dari Republik Ceko dan Prancis.
Sedikit yang berasal dari Austria dan Swiss.
Sekitar 60.000 orang berkomuter ke wilayah Brandenburg,
dan sekitar 2.500 orang antara Frankfurt dan Słubice.
Saya rasa banyak orang di Jerman akan sangat terkejut
begitu tahu seberapa banyak perusahaan
yang beraktivitas di Polandia
dan banyaknya tempat yang bergantung
pada perdagangan dan kerja sama ekonomi.
Bazaar legendaris di pinggiran Słubice ini
adalah surga belanja bagi orang Jerman
untuk berburu barang murah selama lebih dari 20 tahun.
Rokok, bahan makan dan pakaian.
Semua ada di sini dengan harga terjangkau.
Dulu, tempat ini selalu ramai,
tetapi kini telah berakhir dan toko-toko pun tutup.
Bazaar ini adalah tujuan wisata,
terutama bagi orang Jerman.
Dulu, ini menjadi aktivitas rekreasi bagi mereka,
tetapi sekarang, orang Jerman tidak punya uang
untuk kebutuhan sampingan seperti ini.
Kami tidak dapat apa-apa,
ada yang bahkan tidak bekerja lagi.
Anda bisa lihat berapa banyak kios yang tutup.
Ini bencana!
Jika kontrol perbatasan tetap ada,
bazaar ini tidak akan bertahan.
Pengusaha truk juga kena dampak.
Ia bekerja secara mandiri
dan berutang hingga 100.000 euro
(sekitar Rp1,6 miliar) untuk membeli truk ini.
Empat tahun lalu, saya bisa mengatur pekerjaan
dan bisa pulang setiap hari,
dengan pesanan dari pelanggan lokal
dan bolak-balik antara Jerman dan Polandia
dalam wilayah Brandenburg dan Lebus.
Saya masih bisa berbagi waktu dengan keluarga.
Sayangnya, semua berubah setelah ada kontrol di perbatasan.
Perjalanan antara Jerman dan Polandia menjadi lebih sulit.
Terkadang, perjalanan dari rumah ke Frankfurt (Oder)
memakan waktu 6 jam, biasanya hanya 20 menit.
Saya terpaksa mengubah alur kerja,
sayangnya bukan jadi lebih baik.
Kini saya harus berada di jalan selama beberapa hari
dan tidak bisa pulang ke rumah setiap hari.
Polandia adalah mitra perdagangan penting
bagi Jerman dan pada 2024,
melampaui Cina, sebagai pasar ekspor utama Jerman.
Jerman adalah mitra terbesar dan terpenting kita
dalam pertumbuhan ekonomi.
Jadi, jika keadaan memburuk di Jerman,
Polandia juga akan ikut terpengaruh.
Mereka membuat hidup makin sulit,
terutama di segi ekonomi,
termasuk ekonomi Jerman.
Menurut saya, kontrol perbatasan ini
sama sekali tidak berguna.
Jika kita ingin mencegah imigran ilegal masuk ke Uni Eropa,
ini harus dilakukan di perbatasan luar Uni Eropa,
bukan di perbatasan internal
yang justru menyusahkan hidup orang biasa.
Sejak kontrol perbatasan berlaku kembali pada Oktober 2023,
Jerman telah menolak sekitar 47.000 orang di semua perbatasan, menurut Kementerian Dalam Negeri.
Sebagian besar terjadi di perbatasan Jerman dengan Polandia.
Saya paham, mereka ingin melindungi negara
dari imigran ilegal.
Tapi siapa yang membuat imigran datang?
Siapa yang mengundang mereka ke Jerman?
Ini salah Jerman sendiri.
Kenapa para imigran tidak datang ke Polandia
atau memilih tinggal di sini?
Karena sistem sosial di Jerman
justru menarik mereka untuk masuk.
Jembatan yang menghubungkan Frankfurt dan Słubice
sangat indah di malam hari.
Di siang hari, jembatan ini mencerminkan masalah Jerman.
Jika perbatasan eksternal Uni Eropa diamankan,
kontrol perbatasan dalam Eropa bisa dihapus.
Namun, masalah terbesar Jerman tetaplah ekonomi.
Kirchzarten di Baden-Württemberg,
20 kilometer dari perbatasan Prancis.
Pukul 5.45 pagi,
Lionel Macor mulai lari pagi.
Macor khawatir tentang pemilu di Jerman
dan potensi dampaknya ke Eropa.
Ada risiko Eropa bisa terpecah dalam waktu dekat.
Jadi, hari ini, kita memilih
untuk tetap bersama sebagai Eropa
atau mungkin memilih
jalan masing-masing bagi setiap negara.
Pukul 7:30 pagi, insinyur itu berangkat ke Prancis.
Perusahaan konstruksi Macor berada di Mulhouse,
75 kilometer dari Kirchzarten.
Saya mulai bekerja tahun 2000,
tinggal di sini dan bekerja di Prancis,
tanpa ada pemeriksaan perbatasan.
Ada peningkatan nasionalisme di Eropa
sebagai reaksi terhadap banjirnya imigran,
tapi sulit menjelaskannya
karena tidak sesuai dengan nilai-nilai saya.
Ia hanya sekali mengalami penutupan perbatasan,
yaitu pada 2020 saat pandemi,
yang menyebabkan kemacetan panjang.
Perusahaan Lionel Macor terletak di kawasan industri
di Mulhouse, wilayah Alsace.
Dari sini, ia mengerjakan proyek-proyek di Eropa dan Afrika.
Proyek terbesar saat ini:
Jalur kereta api Prancis-Italia
dengan terowongan menembus Pegunungan Alpen.
Bersama mitra Italia, perusahaan Lionel
bertanggung jawab atas 12 kilometer terowongan.
Meski berlokasi di perbatasan Jerman,
perusahaannya tidak menangani proyek apa pun
di Jerman karena rumitnya birokrasi.
Kami harus mengajukan permintaan ke bea cukai,
pengawas tenaga kerja,
serta dana cuti berbayar di Prancis dan Jerman.
Asuransi juga harus diurus,
baik untuk pekerjaan maupun karyawan.
Semua dokumen harus diterjemahkan ke bahasa Jerman.
Jadi, untuk pekerjaan senilai 10.000 euro
(sekitar Rp170 juta),
kami harus menyiapkan binder tebal,
agar bisa bisa bekerja selama dua minggu.
Perusahaan Macor memiliki sekitar 170 karyawan.
Tidak ada yang berasal dari Jerman.
Karena upah di Jerman lebih tinggi,
lebih banyak orang Prancis
yang bekerja ke Jerman daripada sebaliknya.
Bagi kami, bekerja di Swiss
jauh lebih mudah daripada di Jerman,
meskipun Swiss bukan Uni Eropa.
Jika perusahaan bergerak di bidang otomotif, kimia,
atau baja dan ingin berinvestasi di Jerman,
pertimbangannya bukan hanya
apakah akan ada cukup pekerjaan,
tetapi juga apakah ada pasokan energi yang aman,
sistem pajak yang baik,
dan birokrasi yang ramping.
Semua faktor ini tidak mendukung investasi di Jerman saat ini.
Kami butuh kebijakan yang memberikan rasa percaya
bahwa kondisi di sini akan mendukung investasi.
Ada masalah biaya energi, terutama listrik.
Karena Jerman telah menghentikan penggunaan tenaga nuklir.
Diperlukan energi terbarukan, namun konsekuensinya
tidak selalu menguntungkan bagi industri atau masyarakat.
Hingga 2022, Jerman menghasilkan lebih banyak listrik daripada yang dikonsumsi.
Namun, keadaan berubah pada 2023.
Jerman mulai mengimpor listrik,
hampir seperempat dari kebutuhan listriknya.
Energi.
Sektor sedang dalam pembangunan.
Bisakah Jerman mengelola transisi energi
tanpa rugikan ekonomi?
Negara ini bergantung pada energi terbarukan.
Wilayah yang terletak di Hessen ini
merupakan daerah berangin.
Di sini terletak Kota Ulrichstein.
Direktur utama perusahaan utilitas kota ini
mengelola 21 ladang angin dengan 94 turbin.
Saya sangat terkejut dengan kemajuan yang kita capai.
Pada 2024, hampir 55% listrik di Jerman
diperkirakan berasal dari energi terbarukan.
Dua puluh lima tahun lalu,
saya tidak bisa memprediksi ini.
Dulu, pasokan energi
hanya mengalir satu arah: Ke pelanggan.
Permintaannya masih bisa ditangani.
Sekarang, dengan kapasitas pembangkit besar
seperti turbin angin dan panel surya,
jaringan ini tidak dirancang untuk itu.
Perlu investasi besar
untuk menyediakan layanan distribusi energi,
termasuk fasilitas penyimpanan untuk menghasilkan hidrogen
yang bisa digunakan di musim dingin.
Mereka telah menurunkan 18 turbin angin lama
dan memasang 5 turbin baru,
yang akan menghasilkan tiga kali lebih banyak listrik.
Turbin angin baru ini setinggi 166 meter
dan perlu lima tahun untuk bisa disetujui.
Tentu, kami fokus pada konservasi alam,
terutama perlindungan burung.
Saat burung layang-layang merah datang di musim panas,
kami akan matikan turbin pada waktu tertentu,
tergantung kecepatan angin,
untuk mengurangi risiko tabrakan burung.
Kota Ulrichstein mendapat bagian
dari hasil turbin pembangkit listrik.
Frank bertemu dengan wali kota di balai kota.
Steffen Scharmann memahami
dua sisi kemitraan publik-privat
dan mengerti masalah yang dihadapi perusahaan.
Saya sebenarnya berasal dari sektor swasta
dan baru lebih dari satu tahun di kantor ini.
Memang, transisi ke jabatan publik
seperti wali kota melibatkan perubahan besar.
Prosesnya lebih lama, semua perlu waktu lebih panjang.
Pemerintah federal menargetkan
untuk membangun turbin angin
pada dua persen lahan di Jerman sampai tahun 2032.
Bisnis Frank pun berkembang pesat.
Kami melihat adanya peningkatan
berkat undang-undang yang disahkan dua tahun terakhir.
Namun, ada risiko hal ini bisa berantakan.
Terlalu banyak birokrasi juga
menghambat pengembangan energi terbarukan.
Jika tidak berhasil, kita akan
menggunakan prosedur persetujuan lama.
Transisi energi memang penuh tantangan.
Turbin angin berusia 12 tahun ini
sudah setengah masa operasinya.
Turbin baru tidak bisa dibangun di sini
karena area untuk turbin angin
hanya berlaku untuk periode tertentu.
Karena itu, kami bekerja dengan komunitas
untuk menentukan area prioritas angin baru
melalui perencanaan tata guna lahan perkotaan
agar energi angin dapat terwujud di masa depan.
Untuk memastikan pasokan, Jerman akan membangun
pembangkit listrik gas selain energi terbarukan.
Sementara itu, tenaga nuklir tidak akan digunakan.
Menurut saya, keputusan tidak memakai energi nuklir
adalah keputusan yang tepat.
Itu bukan teknologi yang berkelanjutan.
Saya termasuk generasi yang mengalami Chernobyl,
yang tahu bagaimana rasanya ketika bencana nuklir
terjadi dalam jarak 2.000 kilometer.
Saya tidak ingin cucu saya mengalami itu.
Isu energi adalah masalah
yang selalu menjadi perdebatan di Eropa.
Isu energi telah menjadi perdebatan panjang
antara Prancis dan Jerman selama beberapa dekade.
Dari sudut pandang Jerman,
Prancis sangat tidak bertanggung jawab
dengan energi nuklir yang bisa berisiko besar.
Sementara dari sudut pandang Prancis,
orang Jerman kecanduan batu bara seperti pecandu,
meskipun itu menghasilkan
emisi CO2 yang jauh terlalu banyak.
Sementara itu, di Mulhouse, insinyur Lionel Macor
sedang mengerjakan proyek besar konstruksi energi nuklir.
Dua reaktor baru
sedang dibangun di dekat Dieppe, Normandia.
Tugas Macor adalah membangun basement dan fondasi.
Prancis menghasilkan 2/3 listriknya dari tenaga nuklir,
sementara di Jerman, semua reaktor telah ditutup.
Energi terbarukan menyumbang 56%
dari pembangkit listrik Jerman pada 2023,
sementara Prancis hanya 30%.
Prancis mendapatkan 67% listriknya dari nuklir,
sedangkan reaktor Jerman ditutup pada April 2023.
Setelah Fukushima, keputusan yang diambil di Jerman
terlalu dipengaruhi emosi.
Energi fosil semakin mahal karena harga CO2
dan kebijakan iklim yang kita jalankan.
Namun, ini juga disebabkan
oleh kenyataan bahwa di Jerman,
kami mulai mengatur transisi energi
dengan cara yang menghapuskan banyak hal,
seperti tenaga nuklir dan batu bara,
tanpa lebih dulu punya alternatifnya.
Kepercayaan banyak perusahaan industri
bahwa pemerintah akan berhasil merestrukturisasi sistem ini,
tidak kuat untuk mendorong mereka berinvestasi sekarang.
Hal ini bisa dilihat, misalnya, pada ThyssenKrupp,
yang merupakan ikon industri Jerman.
ThyssenKrupp adalah pemberi kerja utama di Hagen.
Dulu ada lebih dari 30.000 orang
bekerja di industri baja dan logam ini,
sekarang hanya sekitar 1.800.
Masalah yang dihadapi kota industri di Jerman ini
adalah pasokan energi murah.
Nantinya pemerintah baru bertugas menyediakan listrik
dengan harga kompetitif bagi perusahaan.
Ini membawa kita ke hal lain yang sedang dibangun: Infrastruktur.
Bisakah Jerman menuntaskan tantangan yang dihadapinya?
Di Hagen, ada masalah besar.
Okan Kurban menunjukkan
persimpangan lalu lintas utama kota ini.
Ini adalah Jembatan Altenhagen,
yang dibangun akhir 60-an atau awal 70-an
dan sejak itu tidak ada masalah.
Namun, jembatan ini telah ditutup lebih dari setahun
dan sejak itu tidak ada kemajuan.
Harus secepat mungkin diselesaikan,
kalau tidak kemacetan di pusat kota akan terus berlanjut.
Jerman menghadapi masalah besar,
khususnya infrastruktur kereta api, jalan, jembatan,
gedung publik, dan juga infrastruktur energi.
Penyebabnya adalah minimnya investasi publik
selama beberapa dekade.
Lembaga ekonomi menghitung
bahwa sekitar 600 miliar euro (Rp10 triliun)
perlu diinvestasikan dalam infrastruktur
publik selama 10 tahun ke depan.
Ekonomi juga sesegera mungkin harus lebih kompetitif.
Kualitas, riset, dan inovasi.
Mungkin peluang di masa depan
terletak pada kembalinya nilai-nilai lama ini.
Industri Jerman sukses karena dibangun
pada akhir abad ke-19 sebagai jaringan besar.
Di sini ada batu bara, baja,
dan institusi pendidikan yang melahirkan insinyur.
Perusahaan besar seperti ThyssenKrupp dan Siemens,
yang membentuk sejarah ekonomi Jerman,
didirikan pada masa itu.
Di sekitar perusahaan-perusahaan ini berkembang
jaringan bisnis menengah yang mendukung industri.
Mungkin, pemerintah baru akan mulai berinvestasi
dalam pertumbuhan,
terutama di bidang pendidikan dan riset,
agar semangat dan metode yang membuat
industri Jerman maju dapat berlanjut di masa depan.
Harapan ekonomi Jerman bergantung
pada orang-orang yang lahir dan besar di Hagen.
Saya magang sebagai pegawai administrasi industri
sejak Agustus 2024,
setelah lulus sekolah menengah.
Saya 23 tahun, dilatih sebagai operator mesin dan pabrik.
Saya 20 tahun dan sedang magang sebagai mekanik industri.
Orang tua dan kakek-nenek mereka berkontribusi
dalam membangun Jerman yang kuat.
Pendidikan adalah hal paling berharga.
Emas atau saham tidak akan membawa Anda
melangkah jauh tanpa pendidikan.
Apa pendapat ketiganya tentang Jerman?
Meskipun asal nenek moyang saya dari Turki,
saya besar di sini dan fasih bahasa Jerman.
Saya hidup nyaman dan menikmati kebebasan,
dan tanpanya saya tak bisa hidup.
Tentu, kita selalu bisa berdebat soal politik.
Tapi pada dasarnya di Jerman, sistem pendidikan
dan peluang layanan kesehatan tersedia,
dan kebebasan beragama terjamin.
Jika kita melihat sekeliling,
ada puluhan gereja, sinagoge, dan masjid.
Ada kebebasan tertentu yang berlaku.
Saya rasa di Jerman tidak ada yang dipersekusi
atau semacamnya.
Jadi saya merasa puas.
Ketika saya melihat negara lain,
saya senang dengan Jerman.
Kami berusaha sebaik mungkin untuk memastikan
sistem ini tidak runtuh dan tetap berlanjut.
Di konferensi partai AfD di Riesa pada Januari 2025,
anak muda memprotes ekstremis kanan
yang membatasi kebebasan.
Masyarakat terpolarisasi,
baik di jalanan maupun media sosial.
Kita butuh pendapatan yang stabil,
perlindungan yang bisa diandalkan di jalur perbatasan
dan lebih banyak yang dideportasi.
Kita butuh remigrasi.
Boris von Morgenstern punya lebih dari 130 ribu <i>subscriber</i>
di kanal YouTube-nya.
Saya menganggap diri saya konservatif
dengan pemikiran liberal.
Svenja Appuhn punya lebih dari 10 ribu <i>follower</i>
di akun Instagramnya.
Sebagai bentuk protes,
dia mundur dari Partai Hijau tahun 2024.
Ia ingin mendirikan gerakan pemuda sayap kiri yang baru.
Saya percaya hak atas tempat tinggal,
kesehatan, dan hak asasi manusia harus universal.
Itulah sebabnya saya berpihak ke kiri.
Itu juga perdebatan.
Solusinya tampak sederhana:
Ambil sedikit uang dari orang kaya,
berikan ke orang miskin, lalu masalah selesai.
Saya rasa kelompok sayap kanan sangat berhasil
dalam beberapa tahun terakhir menangkap suasana krisis,
perasaan kehilangan kendali,
dan kebingungan identitas.
Mereka kemudian mengarahkannya
terhadap kelompok tertentu
dan memasarkan narasi ini
dengan sangat sukses di media sosial.
Morgenstern punya banyak kritik.
Tapi, apa yang paling penting?
Perkembangan di kota besar menunjukkan
bahwa masalah migrasi adalah prioritas utama.
Perubahan iklim hampir tidak dibahas lagi.
Tentu, banyak orang khawatir perlindungan iklim
akan membebani mereka secara finansial,
dan saya bisa mengerti itu.
Banyak anak muda merasa kehilangan kendali
atas situasi politik di sekitar mereka.
Apa yang ditawarkan AfD adalah
mencoba mengembalikan kendali,
terutama dengan membatasi migrasi,
mendeportasi orang, dan lainnya.
Tentu saja itu yang membuat sebagian orang merasa kuat.
Polarisasi juga terasa di Hagen.
Di sini, AfD meraih hampir 18% suara dalam Pemilu Eropa.
Saya tidak mengerti orang yang memilih AfD.
Saya tidak mendukung kampanye pemilu
yang tidak manusiawi
dan tidak bisa memahami yang mendukungnya.
Kita bisa melihat bahwa masyarakat sekarang
cenderung lebih condong ke kanan
dibandingkan tiga tahun lalu.
Ini adalah fenomena perasaan kewalahan.
Saat ini perubahan dianggap ancaman dalam masyarakat.
Itulah yang membuat AfD semakin sukses.
Masalah lain: Militer Jerman.
Apakah Jerman mampu membela diri
dan tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan
dalam kebijakan keamanan?
Bagaimana memenuhi kewajiban NATO?
Menurut Komisioner Parlemen untuk Angkatan Bersenjata,
militer Jerman saat ini kekurangan 20.000 prajurit.
Wajib militer harus kembali diterapkan
karena militer Jerman kekurangan personel.
Semua orang di militer tahu itu dan mengakuinya.
Sayangnya, militer tidak cukup berani
untuk mengatakan secara terbuka:
Jika ini tidak diterapkan,
kita tidak bisa membela diri.
Apa pendapat anak muda ini tentang wajib militer?
Saya orang Jerman, tumbuh besar di sini,
dan mengecap pendidikan di sini.
Saya tidak akan ragu untuk masuk militer
dan melakukan apa yang perlu dilakukan.
Saya juga akan mengatakan yang sama.
Ini rumah saya.
Saya tumbuh di sini, akan tinggal di sini,
dan ingin menjadi warga negara yang baik.
Jadi, jika negara saya memberlakukan wajib militer
setelah saya lulus, kenapa tidak?
Dengan situasi ancaman seperti saat ini,
Jerman sangat membutuhkan rekrutan baru.
Di perbatasan NATO sebelah timur,
di Lituania, pada musim dingin 2023.
Dengan latar belakang perang agresi Rusia
terhadap Ukraina,
negara-negara mitra NATO
berkumpul untuk latihan militer bersama.
Latihan ini dipimpin oleh seorang letnan kolonel Jerman.
Latihan bersama dilakukan
untuk menutupi kekurangan pelatihan
dan menjaga kesiapan operasional.
Rusia mengancam negara-negara Baltik.
Kelompok tempur internasional
akan mempertahankan sisi timur NATO.
Mulai 2025, satu brigade tempur Jerman
akan ditempatkan secara permanen di Lituania,
dengan sekitar 5.000 anggota militer Jerman.
Ini sinyal politik penting:
Kami tidak akan membiarkan kalian sendirian.
Serangan terhadap anggota NATO
adalah serangan terhadap kita semua.
Latihan bersama selama beberapa hari dari lebih 1.000 tentara
memperlihatkan keragaman negara anggota NATO.
Mereka ingin menunjukkan kekuatannya di Lituania.
Hanya dengan keberadaan kami, latihan kami,
dan menunjukkan kesiapan operasional kami,
upaya penangkalan menjadi kredibel.
Latihan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa
negara-negara NATO mampu bertarung bersama.
Apa yang kami lakukan di negara-negara Baltik saat ini
melibatkan 4 hingga 7 negara
dengan 1.000 prajurit di tingkat batalion.
Ini tidak efektif.
Tidak hanya kerja sama yang sulit,
militer Jerman juga dalam kondisi buruk dalam banyak hal.
Meski ada dana 100 miliar euro
(sekitar Rp1.000 triliun),
militer Jerman, menurut Menteri Pertahanan,
tidak siap berperang.
Anggaran Militer Jerman telah dipangkas habis-habisan.
Dana khusus itu untuk memperbaiki kekurangan masa lalu,
sekarang kita butuh lebih banyak investasi
untuk masa depan.
Jika dihitung, totalnya sekitar 140 miliar euro
(sekitar Rp2.300 triliun) per tahun, sekitar 3,5%.
3,5% dari produk domestik bruto harus dibelanjakan untuk militer.
Presiden AS Trump menuntut lima persen.
Miliaran euro yang menjadi tantangan besar bagi Jerman.
Tak hanya minim dana, tapi juga kurangnya kemauan politik.
Selama latihan di Lituania, pasukan juga berlatih
untuk merespons keadaan darurat kontaminasi nuklir.
Jerman dan sebagian besar Eropa
masih berada di bawah perlindungan nuklir AS.
Masalah besar: Apa yang terjadi
jika Trump melonggarkan Pasal 5,
dan Eropa tidak lagi bisa
mengandalkan perlindungan nuklir AS?
Apa konsekuensinya?
Pertanyaan ini sedang dibahas
dengan sangat serius secara tertutup,
apakah negara seperti Jerman, Polandia, dan Italia
perlu memiliki senjata nuklir untuk melindungi diri negaranya.
Ancaman dari Rusia semakin meningkat,
sementara Amerika Serikat menarik diri.
Ini membuat Polandia merasa khawatir.
Sejauh ini, AS bisa diandalkan sepenuhnya.
Namun, itu kini tidak pasti karena kita tidak tahu
apa langkah Donald Trump.
Polandia butuh jaminan lebih dan bisa mengandalkan Jerman.
Ketika situasi sulit, jika Putin menyerang,
akankah Militer Jerman membantu?
Jerman menghadapi banyak proyek konstruksi bermasalah
yang perlu ditangani.
Pemerintah baru Jerman di Berlin harus menemukan solusi dan memulai hal baru.
Ini juga yang diharapkan negara tetangga Jerman.
Polandia berharap pemerintah baru Jerman
tegas di bidang keamanan, pertahanan, dan ekonomi.
Ini penting karena memastikan
kemakmuran dan stabilitas politik,
serta menjamin kebebasan di Eropa.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:12:58 UTC
Categories
Manage