File TXT tidak ditemukan.
Sisi gelap prostitusi: Keluar dari dunia penuh kekerasan dan eksploitasi | DW Dokumenter
OxRfh_uWbhg • 2025-05-05
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Saya pernah menjadi pekerja seks karena tergiur mudahnya mendapat uang. Syaratnya juga mudah. Dulu, saya bekerja di jalanan, di apartemen pribadi, rumah bordil, dan klub sauna. Melayani 25 hingga 35 pelanggan setiap hari. Saya memaksakan diri melampaui batas, dampaknya terasa secara fisik dan mental. Ini adalah pekerjaan terburuk di dunia. Nama saya Vivien. Saya 27 tahun dan berasal dari wilayah Ruhr. Saat ini, saya pekerja sosial yang bekerja dengan gadis remaja, dan saya pernah menjadi pekerja seks di sebuah bisnis <i>escort</i> dari 2018 hingga 2022. Di satu sisi, sulit bagi saya menerima kenyataan saya pernah menjadi pelacur atau mengakui itu pernah jadi bagian dari identitas saya. Di sisi lain, berhadapan dengan laki-laki setiap hari adalah tantangan, karena terus merasa khawatir tiba-tiba bertemu mantan klien. Itu yang sering menghantui hari-hari saya. Saya Christina, 32 tahun, dan ibu dari seorang putri berusia dua tahun. Saya berhenti menjadi pekerja seks empat tahun lalu. Saya dipaksa melacur selama sekitar 10 tahun dan sekarang tinggal di penampungan. Saya ingin jadi ibu yang baik karena saya tidak pernah punya figur ibu. Sekarang tantangannya adalah membangun kedekatan fisik dengan putri saya. Sentuhan itu tidak mudah, karena mengingatkan saya pada masa lalu. Waktu jadi pekerja seks, saya diraba begitu banyak lelaki setiap hari, karena itu saya menutup diri. Dan sekarang, waktu putriku menyentuh, saya merasa kotor. Saya harus ketat mengatur uang. Rasanya, masa muda saya diwarnai masalah kesulitan uang. Saya kira keadaan akan membaik setelah tamat SMA dan mengikuti program kerja sosial. Saya kira gaji saya akan lumayan, ternyata itu pun dipotong karena kami pernah dapat tunjangan negara. Saya lalu mendaftar di perusahaan penyedia jasa kencan atau <i>escort</i>. Saya hanya ingin bisa memperoleh sedikit tambahan uang untuk hidup baik. Saat menjadi pekerja seks, harga diri saya sangat rendah. Saya pikir, satu-satunya cara mendapatkan perhatian dan validasi adalah berhubungan seks dengan banyak pria. Entah bagaimana, saya pun merendahkan diri menjadi seperti itu. Saya pikir, wajar para pria bisa menyentuh tubuh saya. Saya pikir, saya tidak boleh mengatakan "tidak", karena itu membuat saya sok suci. Itulah alasan utama saya terjun ke dunia prostitusi. Masa kecil saya sangat traumatis. Saya masih ingat banyak kejadian di rumah orang tua saya. Saat itu saya berusia tiga tahun dan duduk di tempat tidur, mencabuti kuku kaki. Seluruh seprai berlumuran darah. Saya dibawa ke rumah orang tua asuh. Di sana, saya tidak bisa hidup dengan baik karena semua kekerasan dan paksaan yang saya alami. Dari sana, saya dikirim ke panti asuhan. Saat berusia 18 tahun, saya sedang bersama ibu saya. Dia menjual saya ke muncikari karena dia sendiri adalah pekerja seks dan pecandu berat. Muncikari membawa saya ke kota dan memaksa saya bekerja di sana. Setelah beberapa saat, dia menjual saya lagi. Begitu seterusnya selama bertahun-tahun. Saya bertahan dengan memakai narkoba. Saya kecanduan kokain. Kokain membuat saya mati rasa. Sering berpikir untuk bunuh diri. Sering berpikir saya tidak berharga, dan tidak layak untuk apa pun selain melayani pelanggan sepanjang hari. Selama bertahun-tahun, saya belum pernah lihat pekerja seks yang melakukannya dengan sukarela. Mungkin ada perempuan yang begitu, tetapi tidak di tempat saya. Kian sulit memulai investigasi kejahatan yang berkaitan dengan pekerjaan seks. Alasannya adalah penghapusan ketentuan pidana. Peraturan baru, bersamaan dengan perluasan Uni Eropa ke arah timur dan bergabungnya Rumania dan Bulgaria, menyebabkan ledakan pasar di Jerman. Saya ingat iklan sebuah perusahaan dari AS yang menjelaskan mengapa Jerman adalah tujuan ideal pariwisata seks: Harganya murah, semuanya legal. Kondisi ini tidak ditemukan di negara lain. Saya menjalani dua dunia. Saat itu, saya bekerja sukarela sebagai pekerja sosial selama setahun di tempat perawatan lansia. Setelahnya, di malam hari, saya pergi naik kereta menemui pelanggan. Bangun lagi esok harinya pukul enam pagi dan bekerja lagi merawat lansia. Ingatan saya ketika jadi pekerja seks sangat samar. Namun, saya selalu merasa tidak suka terhadap klien saya. Saya merasa jijik dan tertolak. Pikir saya: “Ngapain saya di sini?" Saya juga pernah ketakutan dan sendirian bersama sejumlah lelaki. Saya tidak tahu saya di mana. Saat itu tengah malam dan saya mengandalkan pria asing untuk mengantar saya pulang. Saya tahu saya harus berhubungan seks dengan pria ini, atau sesuatu bisa terjadi pada saya. Saya kesakitan. Terus-menerus mengalami sakit perut dan infeksi, seperti infeksi vagina, karena tubuh saya sangat menolak melakukan pekerjaan ini. Saya beralih dari perempuan pendamping menjadi dominatriks. Ada yang ingin Anda mengencingi mereka. Ada yang ingin Anda menyakitinya, bahkan sampai berdarah. Ini sangat berisiko, dan menjijikkan. Menurut saya, para pria ini sangat terganggu mentalnya. Mereka butuh terapis, bukan saya. Saya mengalami banyak kekerasan. Beberapa muncikari menyundut rokok ke tubuh saya, melempar saya ke jendela, memukuli dengan tongkat <i>baseball</i>, meninggalkan saya pingsan di jalan, mengunci saya di bagasi mobil dan banyak lagi yang tidak ingin saya bicarakan. Meski saya dibayar, berhubungan dengan pelanggan adalah pemerkosaan psikologis. Secara mental, saya mengalami pemerkosaan setiap hari. Pekerjaan ini pun semakin sulit karena banyaknya perempuan Eropa Timur yang datang ke Jerman dan bekerja secara murah. Menjelang akhir, saya hanya punya uang untuk membayar sewa kamar. Untuk membayar sewa harian sekitar 160 euro (setara Rp3 juta), saya harus melayani enam pelanggan. Saya hanya bisa makan sehari sekali karena harus beli narkoba dan membayar muncikari. Sebelum saya kabur di malam hari, muncikari mengancam akan melempar saya keluar jendela, dari lantai tiga. Saya takut dibunuh. Lalu dia memukuli saya tanpa ampun. Ketika dia pergi, saya menghubungi nomor yang diberikan oleh pekerja di lingkungan saya dan meminta bantuan. Saya menyimpan nomor itu selama bertahun-tahun. Tidak pernah menghubunginya karena malu dan takut akan kehidupan normal. Juga karena takut diikuti. Saya kembali karena tidak sanggup menjalani hidup normal. Tidak tahu harus bagaimana, semua emosi muncul setelah mendadak berhenti dan kembali hidup normal. Saya kembali, karena saya merasa bisa jadi diri sendiri. Di kehidupan normal, saya orang yang sangat berbeda. Selama bertahun-tahun, saya tidak kenal diri saya yang seperti itu. Rasanya sangat aneh, dan saya tidak tahan. Jika tidak ada tempat penampungan seperti ini, mungkin saya sudah mati bunuh diri atau dibunuh muncikari. Namun, itu baru sebagian kecil saja. Perempuan takut bersaksi karena takut akan dampaknya. Saya sudah sering melihatnya: Perempuan diserang, atau keluarga mereka diancam di negara asalnya. Itu sebabnya hanya sedikit kasus yang masuk ke persidangan. Dari beberapa kasus yang tercatat, hanya sekitar 20% berujung pada vonis hukum. Sisanya dibatalkan karena sangat sulit membuktikannya. Teman-teman selalu mendukung saya. Mereka mengatakan, “Hei, aku pikir apa yang kau lakukan ini tidak baik untukmu.“ Mereka jujur dan peduli padaku. Awalnya cukup mengesalkan, karena itu saya selalu katakan, saya melakukannya atas kemauan sendiri. “Jangan khawatir. Saya baik-baik saja.” Tapi, saya sangat bersyukur mereka mempertanyakannya. Vivien terlihat pendiam, terutama saat saya mencoba berbicara dengannya lebih dalam lagi. Dia selalu mengabaikannya seolah itu hal biasa. Dia mengatakan, tak terganggu sama sekali. Saya menjalani banyak terapi dan itu mendorong saya meninggalkan pekerjaan ini. Tapi yang terpenting, saya bertemu seseorang yang kini menjadi pasangan saya. Saya ingin meninggalkan semua itu, karena bisnis teman kencan atau dominatriks ini dapat menghancurkan keintiman atau kehidupan seksual saya. Rutinitas di tempat penampungan ini adalah bangun pagi dan mengantar putri saya ke tempat penitipan anak. Saya sangat bersyukur bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga: Memasak atau mencuci. Saya bersyukur bisa berbincang dengan para staf atau sesama perempuan di sini. Saya juga mengikuti konseling dan terapi. Saya sangat bersyukur atas kedamaian dan ketenangan dalam hidup saya. Saya masih ingat betul sewaktu memberi tahu ibu bahwa saya seorang <i>escort</i>. Dia memegang tangan saya, menangis, dan bertanya kenapa sampai begitu. Ibu juga berterima kasih karena saya telah jujur menceritakannya. Pertama kali tahu, saya sedikit merasa bersalah mengingat sulitnya situasi keuangan kami saat itu. Setelah beberapa bulan, saya mulai melihatnya dengan berbeda. Itu keputusan dan pilihannya. Saya menerimanya. Awalnya saya tidak ingin punya anak perempuan. Saat hamil, saya ingin menyerahkannya untuk diadopsi. Saya merasa tidak akan bisa jadi ibu yang baik. Lalu saya dibantu staf. Saya rutin <i>check-up</i> hingga suatu saat harus dirawat karena Keira tidak sehat. Saat itulah naluri keibuan saya muncul. Saya rasa itu terjadi pada akhir bulan ke-7. Sejak itu, saya berjuang untuk Keira dan diri saya. Saya bertekad tidak mau lagi jadi pekerja seks. Saya akan merawatnya dan mencoba mencari tempat agar saya bisa tinggal bersamanya. Saya sering membandingkan diri dengan ibu saya. Namun, kami justru bertolak belakang. Dia meninggalkan anak-anaknya sendirian di apartemen selama berhari-hari. Kami mengurus diri sendiri. Saya tidak pernah memiliki ibu yang sesungguhnya, ibu yang mengurus anaknya, membangunkan atau menyiapkan makanan setiap hari. Ketika di rumah, kami hanya melihat dia berbaring di sofa dan memakai narkoba. Atau berkelahi dengan ayah di rumah. Saya terus teringat semua itu hingga hari ini. Saya tidak berkontak dengan ibu saya. Kontak terakhir adalah saat dia menjual saya. Saya ingin tahu apa yang salah dalam hidupnya sampai tega menjual putrinya sendiri. Saya hanya ingin dia sembuh, hidup normal. Saya ingin memberi tahu ibu, saya mencintainya terlepas dari apa yang ia lakukan dan sudah memaafkannya. Saya akan pergi ke area prostitusi bersama teman-teman dari asosiasi The Sisters untuk berbincang dengan para perempuan. Kami selalu bawa camilan dan bunga, jadi kita dapat memulai percakapan dan mencoba menggali situasi mereka. Saya terlibat dengan asosiasi tersebut karena masalah ini penting bagi saya. Menurut saya, mengubah undang-undang di Jerman sangatlah penting. Saya tidak ingin perempuan di Jerman terus bekerja dalam kondisi seperti ini. Yang terpenting, saya tidak ingin perempuan terus dianggap komoditas. Anggapan tentang pekerja seks menentukan nasib sendiri, itu tidaklah benar. Bagi 95% yang terlibat, kenyataannya tidaklah begitu. Ada yang tidak bisa berbahasa Jerman. Kami berbicara dengan dua orang pertama dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris mereka sangat bagus. Sering kali kami sama sekali tidak paham, lalu kami berkomunikasi dengan isyarat. Atau Google Translate dan sejenisnya, untuk menerjemahkan bahasa Rumania, Bulgaria ke bahasa Jerman. Tahun 2023 lalu, Parlemen Eropa menyatakan bahwa prostitusi bukan kegiatan normal dan itu melanggar martabat manusia. Parlemen menyatakan, permintaan layanan seks harus dibatasi. Kita harus bertanya, di dunia seperti sekarang, masih pantaskah membeli orang lain demi kepuasan seksual. Masyarakat modern punya standar etika tinggi. Dan menurut saya, prostitusi bertentangan dengan itu. Saya ingin mendorong para perempuan muda yang mempertimbangkan untuk menjadi pekerja seks atau mendaftar di OnlyFans: Tolong, jangan lakukan itu. Tanyakan ke diri sendiri: Apa dampaknya untukmu? Dan yang terpenting, diskusikan hal itu dengan orang lain. Dan tolong jangan percaya omongan bahwa prostitusi itu berhubungan dengan penentuan nasib sendiri atau emansipasi seksual. Karena kamu menjual bagian tubuhmu dan itu semua demi kepuasan nafsu para pria. Saya senang, sekarang hidup sudah stabil. Sudah lama tidak merasa seperti ini. Masih banyak yang perlu saya kerjakan. Namun, saya merasa optimistis. Saya tahu persis apa yang saya inginkan dan yang tidak. Saya semangat menatap masa depan dan sedang berusaha meraih gelar. Setelah lulus, saya ingin melakukan sesuatu untuk orang lain. Saya ingin bekerja di panti jompo atau bersama remaja. Itu akan menjadi pekerjaan yang baik, dan saya bisa membayangkan melakukan pekerjaan itu sampai akhir hidupku. Saya akan membesarkan Keira hingga dia bisa membela diri sendiri. Saya bangga dengan yang saya capai. Bersyukur karena dapat menemukan kembali hal-hal yang baik yang dapat saya lakukan. Saya selalu berani dan tabah. Saya selalu bertahan. Saya tahu, saya akan berhasil.
Resume
Categories