Transcript
1oQi65uXHWg • Amunisi berbahaya dari Laut Utara - Berburu harta bekas Perang Dunia Kedua | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0039_1oQi65uXHWg.txt
Kind: captions
Language: id
Terdampar di pesisir pantai di Pulau
Wanger Uge, Jerman bagian utara. Kami
tidak sengaja menemukannya. Amunisi dari
Perang Dunia Kedua tersembunyi di pasir.
Anda harus menganggap semuanya temuan
penting. Walaupun apa yang Anda gali
ternyata 80 atau 90%
sampah. Siap.
Sepertinya ada granat berukuran 8,8 cm
di sana.
Jam kerja bagi pencari amunisi di Wanger
Uge baru saja dimulai.
Hari ini Patrick dan Andre Varsman
berkendara ke ujung timur pulau untuk
mencari amunisi di lahan seluas 3
hektar. Daerah itu harus bebas dari
amunisi. Andre di sekitar sini.
Kedua kakak adik ini memiliki tugas
masing-masing. Patrick mendeteksi dengan
alatnya
lebih dalam di sini.
Sementara Andre bertugas untuk menggali.
Ternyata batu mungkin bagian dari sebuah
struktur hidraulik. Batu ini kebanyakan
adalah basalt sehingga terdeteksi dengan
jelas. Alat ini memang tidak bisa
membedakan basalt dengan granat
berukuran 2
cm. Meski begitu, kami tetap harus
memeriksa dan menyingkirkan batu ini
agar tidak terdeteksi lagi di area ini
tahun depan.
Steine sebelum digali area ini
dianalisis terlebih dahulu. Itulah tugas
Selin. Dia menyusuri setiap meter pantai
dengan sebuah sistem GPS yang mampu
mendeteksi anomali logam di tanah.
Kami punya lima alat masing-masing
dengan dua sensor yang dipasang
bertumpuk. Yang kami ukur adalah selisih
antara sensor bawah dan atas dan deviasi
pada medan magnet
bumi. Secara keseluruhan ada area seluas
3 hektar yang harus kami selidiki.
Sampai kemarin kami sudah berhasil
menganalisis 2 hektar. Jadi hari ini
kami akan menyelesaikan 10.000
lagi.
Ini adalah area yang dianalisis Selin
kemarin. Ada 250 anomali yang ditemukan.
Beberapa di antaranya memang benar
amunisi. Meski begitu, tim harus
memeriksa semuanya. Kevin pun menandai
setiap titik.
Patrick menggunakan suara dari alatnya
untuk mengetahui lokasi benda dan
kedalamannya.
Benda ini berbentuk silinder, bukan
batu.
Sekarang akan kami singkap dengan
hati-hati. Lalu kami
lihat seperti tutup detonator bom Jerman
yang sudah
berkarat. Benda ini terbuat dari
aluminium yang kini sudah teroksidasi
sepenuhnya.
Biasanya ada resin epoki dan alat
elektronik di dalamnya yang tidak
memiliki daya
ledak. Begini kondisinya
sekarang. Menurut ahli, sekitar 1,3 juta
ton amunisi yang dibuang setelah perang
dunia kedua ada di dasar
laut. Dibutuhkan enam kapal kontainer
besar untuk memindahkannya.
Masalahnya air laut membuat amunisi
berkarat sehingga membocorkan polutan
berbahaya ke lingkungan
laut. Patrick menyaksikannya secara
langsung.
Kami konsisten menemukan artileri
peledak yang tebal sekalipun juga
terpengaruh. Beberapa isi peledaknya
sudah
keluar dalam beberapa kasus. Kami hanya
menemukan selongsongnya
saja. Ke mana isinya? Itu pertanyaan
bagus dan kita belum tahu pasti
konsekuensi jangka panjangnya.
Mereka punya waktu 1 minggu untuk
memastikan area ini bebas dari amunisi.
Setelah itu, warga akan memindahkan
sekitar 1eng meter lapisan pasir teratas
dari area tersebut ke pantai utama yang
pasirnya menyusut akibat badai hebat
selama musim
dingin. Para pencari amunisi ini
bermarkas di Oldenburg. Mereka datang ke
pulau itu secara reguler sepanjang
tahun.
Saat kedua saudaranya mengurus area
berpasir di wilayah timur, Marcel Vsman
memeriksa Groin, struktur batuan panjang
yang berfungsi melindungi pulau.
Ini sesuatu yang menarik.
Ada nodul yang bisa jadi merupakan
granat berukuran 3,7
cm. Itu ukuran yang sering ditemukan di
sini.
Kita akan tahu pasti setelah
membersihkannya. Temuan ini akan kita
bawa. Mereka selalu muncul ke permukaan
saat air surut. Makanya kita melakukan
pencarian di setiap groing. Hai Arns,
kita menemukan
sesuatu. Ini tidak
berbahaya. Mungkin ini granat berukuran
3,7 cm yang tidak ditembakkan, tidak
aktif, tapi bisa diangkut.
Jadi kita bisa membawanya ke bankker dan
layanan pembuangan bahan peledak bisa
mengambilnya
nanti. Marcel dan Erons menyisir pantai
ini setiap 2 minggu. Saat air surut,
amunisi hampir selalu terlihat. Itulah
waktu terbaik untuk melihat apakah ada
amunis yang terselip di antara bebatuan.
Itulah yang kami cari sekarang. Mungkin
seperti bongkahan logam kecil atau
tumpukan karat. Lalu Anda bisa
memeriksanya seperti ini
misalnya. Saya belum tahu pasti, tapi
bisa jadi ada granat berukuran 2 cm
tersembunyi di dalam.
Kami akan
membawanya. Wisatawan juga jadi alasan
pembersihan
dilakukan. Betul. Kami
membersihkannya. Sebenarnya tidak
berbahaya bagi
wisatawan. Warga sekitar selalu ingin
daerah ini
bersih. Marcel mencintai pekerjaannya.
Selain karena sensasinya, ia juga senang
berada di dekat laut.
Saya sebenarnya seorang perawat
terlatih. Tadinya hanya mau coba
pekerjaan lain untuk sementara, tetapi
ternyata keterusan karena
menyenangkan. Setelah saya menemukan bom
pertama, saya jadi yakin ingin
melanjutkannya. Kembali ke area
berpasir, Andre menggali dengan
hati-hati. Jika pasir berwarna gelap,
itu bisa jadi
amunisi. Saya taruh agak jauh saja di
samping supaya aman.
Sama seperti saudara-saudaranya, Andre
terinspirasi bekerja di bidang
pengamanan amunisi karena ayahnya. Dia
senang sensasinya karena tidak pernah
tahu apa yang akan ia
temukan. Jika berbentuk silinder di
bagian bawahnya, maka benda itu harus
diperhatikan. Dengan begini, saya dapat
mengambilnya dengan
hati-hati. Ya, seperti inilah wujudnya.
pipi dengan banyak korosi dan
lumpur. Benda ini terlalu pipih untuk
amunisi. Mungkin hanya semacam pecahan
bom atau
peluru. Agar aman, mari tutup lubang
ini.
Saya tidak takut, tapi harus paham kalau
ini serius.
Jadi saya kira tidak ada rasa takut
ketika menemukan dan menggali benda ini.
25 April 1945, sekitar 6000 bom meluluh
lantakan Wanger Uge. Lokasinya yang
strategis secara militer membantu
melindungi pelabuhan Wilhams Haven di
masa perang. Banyak amunisi disimpan di
sini dan dibuang ke laut setelah perang.
Salah satu saksi sejarahnya adalah pria
yang kini berusia 98 tahun ini.
Hari ini ia akan memberikan turker yang
diadakan rutin di Wanger Uge.
Saya harus mengikuti scrip jadi asosiasi
warga Vanger Uge yang bertanggung jawab
di sini. Dan poin pertama saya harus
menyambut kalian dan itu sudah saya
lakukan. Poin kedua saya sambut lagi
secara pribadi dengan bilang Moin.
Hans Jurgen Jurgens lahir di sini. Dia
adalah seorang penulis sejarah pulau ini
dan salah satu orang terakhir yang dapat
bercerita tentang masa itu. Selama
perang dunia Kedua dari tahun 1939
hingga 1945, Meriam dipasang untuk
melindungi Wilhelm Haven.
Di mana ada meriam, di situ ada
bangkai. Kalian akan berjalan
melewatinya
sekarang. Lihat juga
foto-fotonya. Ini adalah bangker rumah
sakit militer. Dari sini ada jalur bawah
tanah ke bangker lainnya.
Ada hampir 100 bangker di pulau itu.
Sebagian besar diledakkan setelah perang
berakhir. Mereka menggunakan banyak
amunisi saat meledakkan
bank. Namun banyak amunisi juga diangkut
ke dermaga barat dengan kereta.
Para prajurit pada paru pertama tahun
1945 dikirim ke dermbaga
barat. Saya salah
satunya. Kami mengangkat semua amunisi
ke kapal, memasukkannya ke palka, kotak
demi
kotak. Mereka kemudian membuangnya ke
laut.
80 tahun lalu, kapal-kapal yang membawa
amunisi berlayar dari berbagai
pelabuhan. Amunisi-amunisi itu kemudian
dibuang, salah satunya di timur laut
Vanger Uge. Dan arus laut membuat
amunisi-amunisi itu terdampar hingga
sekarang di
pantai. Ketiga varsman bersaudara inilah
yang dengan susah payah melacak dan
menggalinya. Mereka adalah pakar di
bidang bahan peledak dan bekerja di
Norwegia. Polandia dan Belanda.
Sepertinya yang ini lebih
besar ya. Sedikit
lagi kita tidak punya banyak waktu.
Oke. Ah, siap.
Kelihatannya seperti amunisi, tapi kali
ini masih
utuh. Terlihat seperti
granat. Proyektil ini lengkap dengan
selongsong peluru dan granat.
Kami akan melonggarkannya dan
mengangkatnya sedikit supaya bisa
dikeluarkan.
Kamu bisa meraih bawahnya.
itu dia.
Ayo kita letakkan di atas pasir
kering. Proyektil ini masih dalam
kemasan
aslinya. Beginilah cara proyektil
tersebut dikirim selama perang. Ciri
khas amunisi yang dibuang.
Yang kita lihat di sini adalah tabung
logam dengan penutup di atas dan
bawah. Di dalamnya terdapat
selongsong, wadah pengisi propelan, dan
granat di
ujung. Seluruh benda ini tidak
diledakkan, tetapi berisi propelan dan
granatnya berisi bahan
peledak. Patrick telah bekerja di bidang
pengamanan amunisi selama 15 tahun.
Selama itu kondisi amunisi yang
terdampar telah memburuk secara
signifikan.
Ya, bisa dibilang amunisi sekarang akan
terurai dengan cepat.
dapat dilihat pada bom yang tidak
meledak dan pada sumbu yang seharusnya
dapat dijinakan beberapa tahun yang
lalu. Namun sekarang benda itu membusuk
begitu saja sehingga sistem peledakannya
menjadi tidak stabil. Jadi semakin
banyak peledakan atau metode penjinakan
lainnya yang harus digunakan.
Selama 12 bulan terakhir, 69 amunisi
kecil dan besar telah ditemukan di
Vanger Uge.
Ini adalah salah satu jenis amunisi
standar. Di dalamnya mungkin ada granat
berukuran 8,8
cm. Salah satu amunisi Jerman yang
paling umum digunakan selama perang
dunia kedua.
Mereka sekarang membawa granat itu ke
bankker bersama dengan temuan lainnya.
Penulis sejarah Pulau Hans Jurgen
Jurgans telah mengumpulkan lebih dari
200 map penuh dokumen tentang Wanger
Uge. Dia satu-satunya penduduk pulau
yang masih hidup yang dapat menceritakan
kisah pembuangan amunisi sebagai seorang
prajurit. Saat itu dia berusia 19 tahun.
Karena cedera perang, dia pulang dari
front
timur. Dulu ada chalk, kapal layar
dengan
motor. Dan ada orang Kanada di sana yang
mengawasinya. Waktu itu kami harus
membuang granat-ganat besar. Jadi kami
biarkan menggelinding di atas kayu.
Alhasil, mereka saling berbenturan di
bawah kapal. Anda takut lagi?
Dulu kami tidak takut.
Ketika perang berakhir, semua amunisi di
Wanger Uge harus
dimusnahkan. Kami berlayar selama
sekitar setengah jam lalu diberitahu
bahwa jangkar belum dijatuhkan. Baru
kemudian kami disuruh membuang amunisi
ke laut. Area itu adalah area yang
ditandai pada peta laut saat ini sebagai
lokasi yang ada amunisinya.
Kembali ke Pelabuhan Wanger,
Uge. Petugas dari Dinas Pembuangan Bahan
Peledak Nidersaksen datang ke pulau
untuk mengambil semua temuan dari para
pencari
amunisi. Namun, sebuah amunisi besar
dilaporkan ikut terdampar saat badai
besar. Sehingga untuk pertama kalinya
mereka membawa kendaraan khusus bernama
Unimok.
Mereka belum pernah mengangkut temuan
sebesar ini dari sini
sebelumnya. Para pencari amunisi juga
ikut membantu pengambilan hari ini. Ahli
pembongkaran Yan Kner yang memimpin
operasi. Kita harus mengambil amunisi
besar hari ini. Ada hulu ledak torpedo
di bagian timur pulau. Kita harus
mengambilnya memakai
ekskavator. Kemudian dengan bantuan
Hanes dan Unimok, kita akan
mengangkutnya ke pelabuhan. Ada juga
berbagai temuan lain di pulau ini.
Marcel akan membawanya ke
pelabuhan. Yan Kner telah lama
merencanakan misi ini. Ketinggian ombak
harus sesuai agar Unimok dapat dibawa
menyeberang. Cuaca juga harus diawasi
karena ombak besar dapat membuat
pengangkutan amunisi dengan perahu
menjadi terlalu berbahaya. Saya rasa
benda itu terlalu berat untuk daratan,
tetapi kami usahakan sebaik mungkin.
Unimok terjebak di pasir. Tanpanya hulu
ledak torpedo tidak akan bisa
dikeluarkan.
Apakah fitur di vlognya sudah menyala
semuanya?
Kendaraan khusus ini beratnya 13 hingga
14 ton.
[Musik]
Mungkin kamu bisa jalan dulu membuat
jalur menuju tiang biar Unimok bisa
mundur perlahan mencoba mengikuti
jalurnya. Hai
Yohan, Hanas akan memandu kamu ke arah
tiang. Lalu kamu coba jalan mundur ke
arah tiang.
Oke, ya. Baik. Dia akan membuat jalur
dan saya akan mengikuti jalur itu.
Betul. Menurut saya, kamu lebih baik
mundur daripada maju untuk sampai ke
sana.
Baiklah.
Cara ini harus berhasil. Kalau tidak,
seluruh operasi akan
gagal. Hulu ledak torpedo berada tepat
di bawah tiang pancang.
[Musik]
Terus, terus, terus. Bagus. Ketika
amunisi besar itu terdampar di pantai,
Yan Kirner datang dan memutuskan amunisi
itu harus tetap terkubur. Jika
berbahaya, dia harus segera
meledakkannya. Di mana kita
meletakkannya? di area ini.
Torpedo adalah senjata angkatan laut
yang ditembakkan dari kapal
selam di sebelah kirimu mulai dari
batang kemudian pada kedalaman 1 m ke
arah
saya. Ini sebenarnya penemuan yang tidak
disengaja. Kami menemukannya bukan
dengan proses pencarian biasa, tetapi
terlihat di dekat pantai dan kemudian
dilaporkan.
Amunisi seberat ini dapat terdampar di
pantai, terutama saat badai kuat.
Tarik ke atas.
Terusit,
terus terus.
Saya berasumsi kepala torpedo itu
dibuang di lepas pantai Panger Uge
setelah
perang. Dan suatu saat seorang nelayan
menangkapnya dan membuangnya kembali ke
laut.
Anda bisa melihat amunisinya di bawah
jaring
itu. Dia sekarang mencoba untuk meraih
jarinya.
Ayo mundur sedikit.
Hulu ledak torpedo tanpa mekanisme
pendorong. Kalau utuh ukurannya sekitar
8 m.
Jangan terlalu tinggi.
Ayo
letakkan. Meski semua orang di sini
kerap berurusan dengan amunisi, tetap
saja penemuan ini istimewa.
Hati-hati jarimu.
Anda dapat melihat penghubung untuk unit
penggerak yang akan dipasang saat siap
bertempur.
dari soket tempat torpedo
diledakkan setelah dimuat ke dalam kapal
selam. Ada bagian besar lain yang
panjangnya kira-kira
segini. Saya memeriksanya seperti ini.
Bisakah saya memasukkan seluruh lengan
saya? Kalau bisa saya tahu tidak ada
bahan yang mudah terbakar di dalamnya
dan kami dapat
membawanya. Hulu ledak torpedo berisi
sekitar 380 hingga 420 kg bahan
peledak. Meski begitu, torpedo ini aman
untuk
dibawa.
Oke, kita bertemu lagi di pelabuhan ya.
Kami masih butuh waktu. Saya masih harus
membantu Andre dengan GPS. Sampai jumpa
nanti. Terima
kasih. Sebagian besar yang terdampar di
sini adalah amunisi buangan yang dapat
dengan mudah dibawa ke
daratan. Namun, ada pengecualian.
Misalnya ketika peledak batangan
terdampar di pantai. Peledak ini
memiliki beberapa detonator dan dapat
meledak dengan gerakan kecil. Karena
itu, petugas harus meledakkannya di
lokasi tempat ranjau itu
ditemukan. Ledakan amunisi seperti itu
terjadi berulang kali, rata-rata dua
kali setahun.
Marcel Warsman telah membawa semua
amunisi yang mereka temukan ke
pelabuhan.
Kita tinggal menggesernya saja.
Di daratan mereka akan dimusnahkan oleh
perusahaan khusus.
Sekarang semua orang dapat melaporkan
temuan dan lokasinya melalui ponsel
mereka. Namun tidak ada yang boleh
mengambilnya dari pantai meskipun mereka
bermaksud
baik. Harap selalu tinggalkan amunisi
atau benda yang mirip amunisi di tempat
yang Anda lihat.
Kotak terakhir. Marcel selalu senang
saat mereka berhasil menyingkirkan
amunisi. Kami akan terus kasih kabar
perkembangan pencariannya. Ya, Marcel.
Kita akan terus kontak ya. Tentu saja.
Selamat kembali beraktivitas. Terima
kasih banyak.
Tugas selesai. Setidaknya untuk hari
ini, amunisi-amunisi baru yang terdampar
menanti untuk dikumpulkan setiap pasang
surut terjadi.
[Musik]