Berkereta menelusuri Thailand bagian barat | DW Dokumenter
XBn4wWhY4dU • 2025-08-23
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Khlong. Demikian sebutan untuk kanal-kanal yang mengular sepanjang Thailand. Di sini, air yang merupakan elemen penting kehidupan, sangatlah mudah dijumpai. Di sini, jalur kereta juga mengikuti jalur air. Terkadang, melintasinya. Seperti di Jembatan Sungai Kwai yang terkenal itu. Kita akan melakukan perjalanan menelusuri sungai-sungai, dari Mae Klong ke Tha Chin. Lalu ke Chao Phraya di Bangkok. Dari Distrik Thonburi, kita melanjutkan perjalanan melewati Nakhon Pathom ke Kanchanaburi. Dari sana, kita akan menyeberangi Sungai Kwai besar, menelusuri anak sungainya yang lebih kecil hingga ke Nam Tok. Lalu di Hellfire Pass, kita akan menyusuri jejak Jalur Kereta Api Maut, yang dulunya membentang hingga ke Myanmar. Pagi hari di tepi laut. Di sini, Sungai Mae Klong mengalir ke Teluk Thailand. Hulunya berada di taman nasional, di sebelah barat laut. Sungai ini salah satu dari tiga jalur utama yang melintasi area tropis yang subur ini. Kita akan menjumpainya lagi sepanjang perjalanan. Di pasar Mae Klong. Beragam palawija didatangkan dari luar kota. Jintana berjualan air kelapa di pinggir rel kereta. Stasiun kereta terletak di antara sungai dan pasar. Kami bersama dengan Charu, yang akan segera menjalankan kereta. Semua orang yang bekerja di sini bisa sedikit bahasa Inggris dan Mandarin. 'Pasar payung tutup' ini menarik pengunjung dari seluruh dunia. Jika sampai tersangkut payung, kereta akan melambat, atau bahkan ikut menyeret kios-kios itu. Para pedagang akan mengetuk kereta untuk memberitahu masinis karena dia tidak bisa melihatnya. Kami seperti teman, saling membantu. Itu sebabnya tidak ada konflik. Saya suka itu. Yang penting saya punya tempat berjualan. Balik ke sini! Di sini aman. Minggir, ada kereta. Anda dari mana? Italia! Di sini berbahaya karena orang-orang sering melewati batas dan mengambil foto. Yang paling berbahaya itu ketika mereka mengambil <i>selfie.</i> Kecepatan kami hanya tiga kilometer per jam, jadi bisa berhenti kapan saja. Ibu, jangan berdiri di sini. Sebagai masinis, saya menyaksikan perkembangan pasar ini. Dan saya menyukainya. Hati-hati. Pegangan erat-erat! Untuk memperingatkan orang-orang, terkadang saya mengajak mereka untuk tos. Alih-alih mengusir mereka. Dengan begini, mereka merasa senang. Oke, kita berhasil. Saya merasa dekat dengan tempat ini. Dari umur lima tahun, sekarang saya 45 tahun. Kalau tidak ke sini, saya kesepian dan rasanya sangat kangen. Begitu kami keluar kota, perairan kembali mendominasi pemandangan. Di sini, garam adalah komoditas penting. Sistem kanal ini sudah ada selama berabad-abad. Saat gelombang pasang, air laut akan masuk ke daratan. Mengalir dari cekungan ke cekungan. Pada suhu 23 derajat Celsius, air garam akan semakin pekat, meskipun laut berjarak sekitar tiga kilometer dari sini. Udara di sini terasa berbeda. Di sini terasa lebih asin. Setelah selesai mandi, anginnya akan membuat badan terasa lengket lagi. Saat matahari bersinar, bunga garam akan terbentuk dengan baik. Semakin banyak air yang ditambahkan, semakin baik. Angin juga berperan dalam pembentukan bunga garam ini. Sejak kecil, saya suka bekerja di bawah matahari saat angin bertiup. Ini juga pekerjaan orang tua saya. Karena itu, pekerjaan ini sangat berarti bagi saya. Rasanya seperti warisan turun-temurun. Dari ayah, ke anak dan cucu. Saya merasa bangga dengan pekerjaan saya. Pemandangan ladang garam pun berganti menjadi vegetasi tropis nan hijau, tempat bermain bagi monyet. Yang paling banyak adalah makaka, sejenis monyet. Mereka tidak takut pada manusia atau kereta api. Ban Laem terletak di tikungan Sungai Tha Chin. Di sinilah akhir perjalanan bagi kereta ini. Namun bagi kita, setelah satu jam di kereta, ini baru sepertiga dari perjalanan. Untuk melanjutkan perjalanan, kita harus naik feri. Yang melintasi Tha Chin dan menghubungkan Ban Laem dengan Maha Chai. Kereta berikutnya siap berangkat. Kereta ini juga melewati sebuah pasar. Dengan sekitar 17 kereta yang melaju dari berbagai arah setiap harinya, pasar ini tidak begitu dekat dengan rel seperti pasar di Mae Klong, yang hanya dilewati empat kereta api dalam sehari. Kita menuju Bangkok. Melewati dan melintasi kanal. Kanal-kanal ini tidak hanya berfungsi untuk mengalirkan air saat musim hujan, tetapi juga menjadi area tinggal, dengan sistem transportasi yang sangat baik ke Bangkok. Masyarakat yang tinggal di rumah panggung di sepanjang kanal bepergian dengan perahu. Di rumahnya, Nang menyiapkan jajanan manis khas Thailand untuk dijual di pasar, seperti Tabtim Krob, makanan khas dari umbi kacang air. Tanaman ini tumbuh di air. Untuk memanennya, kita perlu mencabutnya dalam jumlah banyak. Tanaman ini dipenuhi kacang-kacangan yang harus dikupas. Sirup buah delima memberi rasa manis dan warna pada umbi kacang air. Ini adalah seni rakyat Thailand yang perlu dilestarikan. Saat ini, hampir tidak ada yang membuatnya lagi. Makanan Thailand tidak semanis dulu. Sekarang, kami mengurangi gula. Adonan juga harus dijaga supaya tidak terlalu kental. Rasanya lezat, aromanya harum, dan teksturnya enak. Saya suka. Dia mengangkut jajanan manisnya ke pasar dengan perahu. Seekor biawak air Asia ikut mengawasinya. Reptil air betah tinggal di kanal-kanal di Bangkok. Kami mengikuti Nang melewati Thonburi, sebuah distrik di bagian barat Bangkok. Di sini, rasanya seperti tidak lagi berada di kota besar. Kiosnya di pasar apung didirikan tepat di bawah jembatan kereta. Dia suka suara kereta yang melintas di atas. Atapnya ada dua lapis, jadi tidak panas. Saya sudah berjualan di sini lebih dari 30 tahun. Dulu masih banyak perahu, tapi orang-orang beranjak tua dan meninggal. Mau Tabtim Krob juga? Enggak pakai nasi, ya. Saya suka di sini. Dagangan saya laku. Kalau mau makan manis yang enak, kalian harus ke sini. Cuma saya yang jual ini. Jika kita bepergian melalui Distrik Thonburi di Bangkok tanpa perahu, transportasi terbaik adalah kereta. Karena jalanan selalu macet. Setelah nyaris sejam, kita tiba di pemberhentian terakhir: Wongwian Yai. Nama itu diambil dari bundaran besar di Thonburi, tempat berdirinya Monumen Taksin Agung. Pada abad ke-18, dia mengusir penjajah Burma dan menjadikan Thonburi ibu kota kerajaannya. Penggantinya memindahkan pusat pemerintahan ke seberang Sungai Chao Phraya, yang kini menjadi Bangkok. Kata 'Bang' berarti 'di tepi sungai.' Keesokan paginya. Kami berada di tepi sungai sebelah barat, siap untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta. Saya masih harus tunggu sampai tuas pengalih jalurnya diatur, benar? Mohon tunggu. Jalur sudah dipindah. Di Stasiun Thonburi, mereka sedang menghubungkan kereta yang akan membawa kita ke pegunungan di barat laut. Ini perjalanan paruh ketiga, terpanjang, dan paling seru. Silakan jalan. Tolong pindah jalurnya. Sudah. Terima kasih. Kami akan mundur. Dua meter lagi. Satu meter lagi. Oke, bagus. Berhenti. Kita bertemu kembali dengan Sungai Tha Chin. Kali ini, kita akan menyeberanginya tanpa feri. Selain kelas satu dan dua, setiap kereta di Thailand memiliki kelas tiga. Jadi, orang dengan uang pas-pasan masih tetap bisa bepergian. Bahkan ada bagian khusus untuk para biksu, yang sangat dihormati. Naik kereta adalah kesempatan baik untuk bermeditasi. Nyaman, hemat uang. Sebagai biksu, saya selayaknya hanya melakukan hal yang bermanfaat bagi masyarakat. Bermeditasi. Di beberapa rute, waktu memang seolah terhenti. Pemandangannya tidak berubah sedikit pun. Meskipun Thailand tidak pernah dijajah, pengaruh Inggris pada awal abad ke-20 sangat terasa. Di sini, kendaraan melaju di sebelah kiri. Kereta melaju dengan tenang. Saya bisa melihat apa yang telah berubah dan apa yang belum. Semuanya terhubung. Namun, tetap punya ciri khas. Di sana, semakin banyak gedung. Semuanya berubah. Saya bisa menggunakan pemandangan ini untuk refleksi dan meditasi. Bagaimana kita hidup berdampingan dengan alam di sini dan saat ini, atau di masa depan, tanpa saling mengganggu. Kita tiba di Nakhon Pathom. Kuil ini tingginya 127 meter. Dan kemungkinan ini adalah kuil Buddha tertinggi di dunia. Phra Pathom Chedi adalah tempat ziarah populer bagi umat Buddha dari seluruh Thailand. [Suara gong] Ada banyak wihara di Nakhon Pathom, tapi hanya satu kuil yang ditinggali biksu perempuan. Kepala biara dan putrinya, yang saat ini menjabat sebagai kepala wihara, termasuk di antara biksuni pertama di Thailand. Dalam keyakinan mereka, ada aturan yang melarang perempuan di wihara untuk menjadi setara dengan biksu. Namun, itu bisa diakali. Tepat lima tahun lalu, saya bersama banyak orang lainnya, ditahbiskan di Wihara Bodh Gaya di India. Saya berhasil mewujudkan impian, dan saya bangga menjadi biksuni. Sampah plastik kemasan sangat bernilai bagi para biarawati. Ketika orang bersedekah, terkadang mereka juga membawa sampah. Walau mereka tidak memberi uang, itu tidak masalah bagi kami. Sampah itu lalu saya pilah untuk didaur ulang. Botol-botol ini, misalnya, bisa dijual. Uangnya dapat dipakai untuk membiayai kuil. Mereka bahkan mengumpulkan kantong plastik. Biasanya kami dapat lebih banyak lagi. Kami keringkan, lalu lipat. Kami membiarkan orang-orang melihatnya, agar nantinya sampah tidak lagi dibuang sembarangan. Ini hal yang baik, mereka meniru ini. Kami bangga dengan cara ini. Mereka juga berharap akan tersedianya air yang lebih bersih. Air keran cukup bersih untuk tanaman, tetapi di Thailand, air minum dijual dalam botol plastik. Manusia hidup dari empat elemen. Tanah, air, udara, dan api. Tanpa air dalam hidup kita, kita akan mati. Darah adalah air. Air liur itu air. Air mata itu air. Air seni adalah air. [Melantunkan doa] Kepala wihara kami yang punya ide meletakkan botol-botol air itu di tempat kami berdoa, baik pagi maupun sore. Vibrasi doa dapat mengubah air minum menjadi air suci. [Melantunkan doa] [Suara mesin, diikuti musik] Cakram kecil ini membuka jalur perjalanan kita berikutnya. Setelah Nakhon Pathom, kereta menggunakan sistem token. Setiap jalur hanya punya satu token. Hanya kereta yang memiliki tokenlah yang dapat melanjutkan perjalanan. Dengan begitu, di jalur tersebut hanya akan ada satu kereta dalam satu waktu. Kereta Thailand sedang menuju modernisasi, sedikit demi sedikit. [Suara peluit kereta api] Saat ini, pekerja kereta masih harus hadir langsung di lokasi untuk mengoperasikan tuas terpenting dalam perjalanan kita. Tuas satu siap. Arahkan ke Kanchanaburi. Jalur satu sudah aman. Tiga jalur kereta api bercabang di Persimpangan Nong Pladuk. Satu jalur menuju utara, satu lagi ke selatan, dan satu lagi ke barat laut. Ke pegunungan yang kita tuju. Jalur ini menandai awal mula dari Jalur Kereta Thailand-Burma. Jalur yang diwarnai tragedi sejarah Perang Dunia II. Kita akan segera menuju Jalur Kereta Api Maut yang terkenal itu. Namun sebelum itu, kita sekali lagi melintasi Mae Klong, sungai tempat perjalanan kita dimulai, dan akan terus mengikuti hingga ke utara. Di Kanchanaburi, dua aliran sungai bergabung. Sungai Khwae Yai dan Khwae Noi, atau Kwai besar dan Kwai kecil. Ayo, cepat. Berbaring. Sedikit lagi. Kemari. Gajah Gai Na tinggal di dekat Sungai Kwai besar bersama penjaganya, Che Kwan. Duduk. Ayo, duduk. Kenapa enggak nurut? Duduk. Kan sudah pernah diajarkan? Duduk. Duduk sekarang. Dia seharusnya tidak ke sana. Lebih baik bermain di sini. Sini. Bagus sekali. Kemarilah. Dia suka bermain di air. Gajah lain minum dengan mulut, tetapi Gai Na memakai belalainya. Gajah memahami tubuhnya sendiri. Mereka tahu air mana yang bisa diminum dan yang tidak. Ada gajah yang suka bermain air lalu keluar lagi. Kamu suka? Mandi itu enak, ya? Mari. Gai Na tinggal di semacam rumah pensiun untuk gajah. Tujuannya agar spesies mereka bisa menikmati masa tua dengan tenang. Setiap gajah punya semacam pawang sendiri. Nama Gai Na berarti ayam liar, tapi dia bukan gajah liar. Gai Na berusia 67 tahun. Dulunya adalah seekor gajah pekerja yang mengangkut kayu di perbatasan antara Thailand dan Myanmar. Kemari! Cepat. Kemari. Ayo. Dia istirahat lagi. Sini. Hanya karena berukuran besar, bukan berarti mereka bisa seenaknya. Saya harus tegas. Waktu saya panggil, “Kemari,” dia harus dengar. Sini. Che berbicara dalam bahasa Karen, bahasa suku pegunungan. Gajah itu tumbuh besar dengan bahasa itu. Patahkan. Ayo! Patahkan kayunya. Enggak bisa? Ya sudah. Kamu mau pulang ya? Enggak mau di sini dulu? Bagaimana ya menjelaskannya? Tapi kami sudah lama bersama. Sudah seperti keluarga. Kembali ke Sungai Kwai besar. The Bridge on the River Kwai adalah judul film terkenal. Kisah dalam film ini dikenal di seluruh dunia. Selama Perang Dunia II, tawanan perang dipaksa membangun jembatan dalam kondisi mengerikan. Saat itu, Jepang telah menduduki Thailand dan tengah membangun jalur kereta api Thailand-Burma. Jalur pasokan militer darat untuk menginvasi India. Film tahun 1957 itu menggambarkan peristiwa 80 tahun lalu dan telah ditonton seluruh dunia. Tentu saja penggemar kereta lokal punya pandangan sendiri tentang film ini. Jembatan di film itu tidak akurat. Di dunia nyata, jembatan itu terbuat dari beton dan baja. Di film, semuanya dari kayu. Dan jembatannya tidak hanya satu, sebenarnya ada dua. Ini paku persegi. Paku-paku ini berasal dari periode tersebut. Kini, sisa-sisa jembatan kedua yang lebih tua telah diperbaiki menjadi bagian dari museum. Jembatan kayu ini bersebelahan dengan jembatan baja. Anda dapat melihatnya di peta. Mereka membangun jembatan kayu terlebih dulu untuk mempercepat konstruksi. Jembatan ini memungkinkan pengangkutan peralatan militer dan material konstruksi. Dahulu terdapat banyak jembatan di pegunungan di sepanjang Sungai Kwai kecil, tempat Jepang memperpanjang jalur kereta ke Myanmar, yang dulunya bernama Burma. Para penggemar jembatan ini telah membentuk sebuah kelompok riset. Dengan menggunakan foto-foto lama, kita bersama-sama menelusuri rel kereta yang kini ditumbuhi semak, mencari tanda-tanda bekas struktur jembatan. Ada gunung di sana. Gunung itu. Jembatannya mungkin ada di depan. Lihatlah cara pembuatannya. Mereka mengangkut semuanya ke sini dengan tangan. Jembatannya sangat kokoh, jadi kondisinya masih bagus. Tidak ada pagar pembatas di belokan ini. Jembatannya pasti melengkung. [Detektor berbunyi] Ada banyak logam di sini? Mungkin material lama. Bisa jadi, dulu ada jembatan di sini. Mereka menggunakan banyak paku dan baut. Ayo ke sana. Mari, kita lihat. Ini terlalu dalam. Berarti jembatannya besar. Iya, ketemu. Ini adalah material logam yang digunakan pada jembatan kayu. Ada dua bagian. Yang ini dijepit dari atas dan bawah, untuk menyatukan dua balok. Setelah melewati jembatan Sungai Kwai besar, kereta menelusuri Sungai Kwai kecil. Tidak banyak penduduk Khwae Noi yang tahu tentang sejarah dunia di sekitar mereka. Mereka terikat erat dengan budayanya sendiri. Dari sepanjang 415 kilometer, jalur kereta asli Thailand-Burma hanya tersisa sekitar 130 kilometer. Warga yang tinggal di hulu jarang bepergian dengan kereta. Air yang melimpah. Di wilayah yang hampir tidak pernah kekurangan. Orang Thailand memiliki tarian yang didedikasikan untuk ular air, dan menyembahnya sebagai dewa. Mereka menyebutnya Naga, yang juga melindungi kuil Buddha. Setelah selesai bermain air, para remaja ini pergi menemui Kepala Wihara Phrakru. Dulu, di belakang kuil pernah ada rel kereta. Dia merekonstruksi sebagian kecil rel ini. Biksu ini juga mengumpulkan relik yang menjadi bukti keberadaan sekitar 260.000 orang yang membangun rel kereta dalam waktu kurang dari satu setengah tahun. Sekitar 12 ribu tawanan perang dan 90 ribu pekerja paksa dari Asia kehilangan nyawa dalam waktu singkat itu. Ini adalah Jalur Kereta Api Maut. Coba saling membantu dan temukan sesuatu dari masa Perang Dunia II. Seperti ini? Apa itu? Paku. Lalu? Ada cerita apa di balik paku itu? Coba berpikir seperti detektif. Ketemu sesuatu? Ada angkanya. Berapa? 1-9-2003 1-9-3-5. Apa artinya? Tahun Buddha? Tahun Masehi. 1935 Masehi. Itu tahun pembuatan paku. Dan paku-paku ini diproduksi di Eropa, mungkin di Inggris atau Jerman? Tarik napas dalam-dalam, hembuskan perlahan. Ambil sebuah batu. Bebatuan ini pernah digunakan untuk membangun rel kereta. Tepian batu-batu ini mungkin menyimpan kisah. Banyak nyawa yang hilang saat pembangunan rel kereta. Ada pepatah yang berbunyi, “Setiap bantalan rel kereta mewakili satu tawanan perang.” Orang-orang meninggal di sini. Demi membangun rel ini. Itulah makna “satu bantalan, satu nyawa,” meskipun kini yang terlihat hanya peninggalannya. Teruskan. Kita bertemu dengan para pekerja kereta api masa kini. Mereka akan mengganti sebagian besar fondasi di sepanjang Jembatan Layang Wang Pho. Tanpa adanya pagar pembatas, pekerjaan ini sangat berbahaya. Ayo buka bautnya. Kita akan angkat bloknya. Hati-hati. Bantalannya sudah rusak. Setiap tahun, kami harus mengganti sekitar 10 dari 100 bantalan jembatan ini. Makin banyak yang rusak. Seharusnya seluruh jembatan ini dibangun ulang. Kayu dan kelembapan itu kombinasi yang buruk. Jika ada retakan sekecil apapun pada kayu, air akan meresap. Lalu kayu jadi lembab dan mulai lapuk. Hati-hati, pelan-pelan. Ini bahaya. Jangan jatuh sewaktu berjalan. Tarik! Talinya habis. Turunkan. Ketinggiannya sungguh mengerikan. Mereka bilang, “Satu bantalan, satu nyawa.” Kesalahan sekecil apapun dapat memicu kecelakaan serius. Kita harus sangat hati-hati dan tahu apa yang kita lakukan. Ke belakang sedikit. Cukup. Turunkan pelan-pelan. Sekarang putar. Pekerjaan di bidang kereta sudah menjadi bagian keluarga saya turun-temurun. Kakek, paman, dan abang-abang saya. Karena itu saya menyukainya. Saya selalu ingin berada di sini, tepat di tempat saya bekerja sekarang. Satu, dua... Pindahkan! Memang berbahaya, tapi saya tidak takut. Kalau takut, saya tidak akan ada di sini. Pekerjaan ini harus dilakukan. Jika tidak, bisa membahayakan kereta dan penumpangnya. Jepang membangun Jembatan Layang Wang Pho hanya dalam waktu 17 hari 17 malam. Dibangun oleh 700 orang Inggris, 600 orang Australia, 450 orang Belanda, dan 450 orang Belanda, dan 100 orang Thailand. [Peluit kereta api] Satu bantalan, satu nyawa. Mereka yang tidak tewas dalam kecelakaan konstruksi bisa saja meninggal karena kolera atau disentri. Syukurlah, semua itu sudah berlalu. Kembali ke pegunungan, di sepanjang rel kereta yang terbengkalai. Dengan dukungan pemerintah mereka, tawanan perang Australia yang selamat mendirikan sebuah situs peringatan. Di Hellfire Pass, para tawanan yang disiksa dan kelelahan harus membobol lorong batu ini dengan bor manual dan cangkul batu. Lihatlah betapa dalamnya lorong ini. Ini semua digali oleh tangan manusia. Tidak heran jika tempat ini diibaratkan sebagai neraka. Mereka bekerja siang dan malam, itu sebabnya tempat ini disebut Hellfire Pass. Para remaja ini sedang berusaha memahami dan menyikapi sejarah yang mengerikan ini. Dapat fotonya? Bagus. Terlalu gelap. Kalau begitu, ambil lagi. Coba lihat. Bagus. Kita harus memahami sejarah ini dan menyampaikan pesan bahwa kedamaian itu penting. Bukan hanya untuk dunia, kedamaian batin juga penting. Semoga mereka bisa mempelajarinya. Remaja berusia 15 tahun ini mengungkapkan dengan kata-katanya sendiri. Kita merasakan kehilangan, penderitaan, dan duka orang-orang ini. Masukkan semua itu ke dalam refleksi batin yang penuh kasih dan berdoalah. Biarkan air mengalir untuk mereka yang telah tiada. Dan saat menuangkannya, pikirkan setiap jiwa yang gugur dalam pembangunan rel itu. [Bunyi gong] Seperti air yang ditakdirkan memenuhi lautan, begitu pula karma yang kalian kirimkan kepada mereka yang telah tiada, harus menemukan jalannya. [Bunyi gong] Air melambangkan anugerah. Kami percaya bahwa air dapat menciptakan hubungan antara doa dan karma baik. Dalam banyak ritual Buddha, air punya peranan penting. [Bunyi gong] Kami... ...ingin memberikan karma baik. Kepada semua makhluk hidup. Kami hanya menginginkan kebaikan. Tuangkan airnya, semoga karma kita menyebar luas. Kereta yang kita naiki pun kembali melaju di sepanjang Sungai Kwai kecil. Sisa-sisa jalur kereta Thailand-Burma akan berakhir di Nam Tok. [Bunyi bel] Begitu pula sepertiga terakhir perjalanan kereta ini. Namun, kita belum sampai di tujuan. Kami menelusuri Khwae Noi lebih dalam ke pegunungan. Kepala Wihara Phrakru mengizinkan kami ikut ke tempat sucinya. Perjalanan ini melintasi perairan yang terkadang berombak. Seperti pikiran manusia, permukaan sungai mungkin terlihat tenang, tetapi di bawahnya ada arus yang berkecamuk. Air terjun mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Tidak beda dengan pikiran kita, yang dengan mudahnya menyerah pada kuatnya godaan. Tidak masalah dari mana air berasal, semuanya mengalir bersama. Sungai-sungai kecil menyatu menjadi sungai besar, dan pada akhirnya semuanya mengalir ke lautan. Begitulah kehidupan manusia. Semua setara. Anda juga akan mengalir ke lautan. [Suara peluit kereta] Kereta juga kembali melaju ke arah laut. Dalam kesunyian dan keheningan pikiran, perjalanan melintasi Thailand bagian barat ini nyaris berakhir. Di dalam gua batu kapur, yang dipahat oleh kekuatan air tanpa henti. Kita memulai sebuah perjalanan, tetapi sesungguhnya kehidupan ini adalah perjalanan. Ada banyak pemberhentian. Kita yang memutuskan di mana kita mau berhenti dan apa yang ingin dilihat. Sejauh apa pun kita berjalan, pada akhirnya, semua orang mengarah ke tujuan yang sama. [Bunyi gong] Satu-satunya yang tersisa adalah amal baik dan buruk yang kita perbuat selama ini. Siapa pun yang memahami hal itu, seharusnya bertanya pada diri sendiri. Bagaimana saya bisa membuat hidup ini berarti, bagi diri sendiri, dan bagi orang lain? Lalu, saat meninggalkan dunia ini, paling tidak kita akan menjadi kenangan indah bagi generasi berikutnya.
Resume
Categories