Transcript
_tXsAErdmSQ • Pulau harta karun di Samudra Pasifik: Dari Kepulauan Chatham ke Enewetak (2/2) | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0060__tXsAErdmSQ.txt
Kind: captions Language: id Inilah samudra terbesar di dunia. Lebih besar dari gabungan seluruh daratan di muka bumi. Kita akan menghabiskan 8 minggu menjelajahi dunia yang sangat memukau ini. Perjalanan ini dimulai di Hawaii tempat kita mengetahui bahwa masa depan Jerman juga ikut dipertaruhkan di wilayah Pasifik. Di sana kita juga bertemu ilmuwan muda yang memperingatkan bahwa terumbu karang dan kerang menghadapi ancaman di lautan yang kian memanas. dan makin bersifat asam. [Musik] Lalu di Kepulauan Kook, kita berbincang dengan mereka yang percaya penambangan laut dalam dapat menjamin masa depan wilayah mereka dan bertemu makhluk-makhluk yang penuh makna mistis bagi penduduk pulau ini. [Musik] Dari Kepulauan Kuk yang tropis, perjalanan berlanjut ke Kepulauan Chatam di Pasifik Selatan yang berangin kencang. lalu ke utara menuju Tuvalu dan melintasi katulistiwa ke kepulauan Marshall. Kita akan belajar tentang nyali yang dibutuhkan untuk memanen hasil dasar laut Pasifik dan melihat lebih dekat sebuah pulau yang menolak untuk tenggelam. lalu menjelajahi tempat pembuangan limbah nuklir di tengah lautan yang sama sekali tanpa pengaman dan nyaris hancur. Ini adalah dunia yang terhubung oleh kesunyian di hamparan laut yang luas. [Musik] Kita sekarang berada di Kepulauan Chatam, 800 km dari pantai Selandia Baru. Di sinilah Samudra Pasifik bertemu dengan perairan dingin Antartika dari selatan menghasilkan salah satu perairan terbersih di dunia. Kita juga akan bertemu Jonisir Utara. Pria berusia 24 tahun ini akan segera memanen harta karun dan menghasilkan banyak uang. Saya bisa dapat 2.000 dari Pawa. Di sini PAUA dibayar mahal. Hasilnya beragam 2.500 atau 2000 per hari. Iya. Jade dapat menghasilkan lebih dari 200.000o setahun dari menyelam mencari abalon. Dia bekerja untuk Pita Thomas, pemilik salah satu pabrik pengolahan ikan di pulau itu. Saya dulu memancing dan saya rasa harga pasarannya kurang bagus. Jadi, saya memutuskan untuk mengolah ikan. Para pecinta kuliner di seluruh dunia, terutama di Asia dan Cina, rela membayar hingga 200 euro per kg untuk abalon atau yang di sini disebut pawa. Siput laut merupakan sumber pekerjaan berupa tinggi di Samudra Pasifik bagian selatan ini. Sangat sulit mendapatkan pekerja di sini. Jadi mereka dibayar amat sangat layak dan mereka bekerja dengan baik. Bekerja senang, bisnis pun lancar. [Musik] Kami berencana mengikuti Jay Dixon saat dia melakukan pekerjaannya yang tidak biasa. Vita dan sahabat lamanya Clive datang untuk menjaga kami di lokasi terpencil ini. Terutama ketika juru kamera kami Tobi ikut menyelam. Seperti yang mereka peringatkan, ada bahaya mengintai di lautan ini. Hu putih besar. Teman kami Hill kehilangan sebelah lengannya. Untung dia masih hidup. Teman yang lain, Kinner Skoly, juga pernah digigit cukup parah di punggung dan bahu. Kini dia membuat film dokumenter tentang hiu putih besar dan berusaha melindungi mereka. Bagaimana kalau ada hiu? Aku tidak khawatir soal hiu. Kalau datang ya sudah, tapi sepertinya tidak. Lautnya lumayan berombak. Suhu permukaan air di sini pada musim gugur sekitar 12 derajat. Namun menurut Pita dan Clive, suhu ini berubah dalam beberapa dekade terakhir. Airnya semakin hangat. Di awal tahun 90-an suhunya 14 hingga 16 derajat. Tahun ini 19 hingga 20 derajat. Apa dampaknya bagi penangkapan ikan? Kami mendapat spesies ikan berbeda yang biasa ada di perairan yang lebih hangat macam King Fisher. Tobi sedang bersiap-siap. Dia butuh tambahan beban 20 kg agar bisa tenggelam. Pakaian selam tebal yang dirancang melindungi tubuh dari hawa dingin ini sangat mudah mengapung. Mereka menyelam 10 hingga 15 me ke dasar laut. Jade sudah mengumpulkan Abalon. di tempat lain. [Musik] Hiu itu datang langsung ke arah saya sekitar 4 atau 5 meter. Saya bisa melihat semuanya. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi cukup gemuk. Hiu itu masih kecil tapi lumayan gemuk. Jadi saya pikir dia tidak lapar. Itu cukup menakutkan. Saya menyelam ke sebuah celah kecil dan hiu itu mengelilingi saya selama 30 detik. Lalu berenang menjauh dan perahu datang. Saya langsung naik ke permukaan, pergi dari sana secepat mungkin. Namun jika ingin mencari nafkah dengan memanen Abalon, para penyelam di Catam tidak boleh takut. Mereka harus berdamai dengan rasa takut mereka. [Musik] yang para penyelam lakukan di Chatams ketika melihat hiu putih, mereka kembali ke air dan pergi ke area lain menghadapi rasa takut itu dan kembali bekerja. [Musik] Hari ini hiu tidak terlihat di air yang berombak dan agak keruh ini. Tapi kita tidak boleh lengah. Mereka di sana dan mereka tahu di mana kita berada. Sensor mereka yang luar biasa mampu mendeteksi pergerakan penyelam bahkan dari jarak yang jauh. Jade dikelilingi oleh ikan cod biru, spesies code yang hanya ditemukan di perairan Pasifik Selatan. Ikan-ikan ini penasaran dan terlihat cinak. Di atas perahu kami juga menikmati hidangan lezat dari laut. Jade menghabiskan waktu berjam-jam sendirian di perairan dingin. Dia bisa memanen 1000 kg atau 1 ton abalon dalam sehari. Di atas perahu, rekan Jade menarik sekeranjang abalon dari dalam air, membersihkan dan mengemasnya. Mesin itu untuk apa? Untuk mengukur tiap tangkapan. Alat ini akan menunjukkan apakah ukuran ikan yang ditangkap bertambah besar atau mengecil. Anda juga menyelam. Apa kalian bergantian? Iya. Ini giliran terakhir Jet. Setelah itu kami ganti baju dan saya menyelam. [Musik] Ada kuota ketat untuk penangkapan hasil laut di sini. Para nelayan sangat mendukungnya. Bahkan nelayan berpengalaman seperti Clive dan Pita, kami bisa melihat penangkapan ikan berlebihan di negara lain dan kami punya anak-anak yang ingin melanjutkan cara hidup ini. Bukan hal remeh. Kalau mau perikanan tetap bertahan, kita harus benar-benar serius soal keberlanjutan, terutama untuk generasi muda. Jade adalah salah satu anak muda generasi penerus itu. Kami bertanya tentang harapan masa depannya. Saya bersemangat. Saya baru saja beli truk dan perahu dan sedang mempersiapkan semuanya. Saya siap menjadi penyelaman diri. Namun pulau ini dan para nelayannya sedang menghadapi masalah mengkhawatirkan, kata Pita. Seluruh bisnisnya berada di ambang kehancuran. Kami hanya punya bahan bakar untuk du hingga 3 minggu lagi. Apa akibatnya bagi bisnis Anda jika tidak ada bensin dan solar? Kami berhenti. Semua selesai. Kami sangat bergantung pada solar untuk menjalankan generator dan listrik. Tanpa solar, freezer tidak akan bekerja dan hasil tangkapan bisa rusak. Kapal penyuplai barang pulau itu telah berbulan-bulan tidak beroperasi. Tanpa solar, tidak ada kapal yang melaut, tidak ada pendapatan, dan tidak ada masa depan di Kepulauan CTA. Kepulauan ini ingin lebih berfokus pada tenaga angin dan mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil. Turbin angin pertama akan segera dibangun di sini. [Musik] Kita akan segera menempuh penerbangan selama 8 jam. terbang kembali melintasi Katulistiwa ke utara menuju Tvalu. Konon Tuvalu akan menjadi negara pertama yang lenyap dari muka bumi jika permukaan laut terus naik seperti sekarang. Kita lihat nanti apa saja penyebabnya dan bagaimana warga mengatasinya. Dirk, pilot kami bertekad mendarat sebelum malam tiba. Kenapa kita harus sampai di TF valalu sebelum malam? Tuvalu tempat yang menarik. Tidak ada lampu di landasan pacunya. Selain itu, Atol Talu hanya sedikit lebih besar dari landasan pacunya. Jadi, di sekitarnya banyak rumah penduduk. Penduduk di sini menggunakan landasan pacu untuk bermain bola, memasak barbeue, dan kumpul-kumpul. Setelah berjam-jam melihat lautan, matahari mulai terbenam di balik cakrawala. Akhirnya daratan muncul di hadapan kami. [Musik] Ini S Alpha Hotel. Kami berjarak 1 seteng mil dari landasan baju. Kopi perhatian ada anjing di landasan. Saya akan mencoba menyingkirkannya. Baiklah, haruskah saya berputar? [Musik] Kami mengitari ibu kota Funa Futi sekali lagi sampai menara memberi izin mendarat. [Musik] Upaya kedua berhasil. Tidak ada anjing berkeliaran di landasan. Kami menjadi tontonan direkam saat mendarat. Jarang ada pengunjung di sini. Dalam setahun hanya ada ribuan wisatawan, beberapa pengusaha dan eksp yang mengunjungi keluarga. Kami menulis dokumen masuk di sayap pesawat. Tempat ini sangat berbeda dengan CTAM. Pesawat kami menarik perhatian warga sekitar. Kami tidak sengaja bertemu orang dari Deldorf di pinggir jalan. 10 tahun lalu saya bertekad suatu saat akan ke sini dan sekarang saya di sini. Kenapa Tuvalu? Waktu umur 11 tahun, saya banyak mencari tahu tentang negara ini. Tapi itu tidak disengaja. Dulu kami membuat presentasi tentang negara di sekolah. Jadi, saya pergi ke peta di kelas dan menunjuk Tuvalu dengan jari saya. Sejak saat itu saya tertarik dengan negara ini. Sami berusia 21 tahun, kuliah di Akademi Kepolisian di Duisburg dan akan memulai perjalanan 3 hari bersama kami menjelajahi pulau ini. Kehidupan di sini cukup sederhana. Orang-orangnya sangat terbuka dan baik," kata Sami dan dia sering membahas topik perubahan iklim dengan warga lokal. Aber gerade gestern abar noch tadi malam saya mengobrol panjang lebar tentang bagaimana Tuvalu melihat masalah ini dan itu bukan masalah besar bagi penduduk sini. Tentu ini sudah banyak dibahas di media dan mungkin karena pulau ini memang sedang tenggelam, tapi mungkin itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Mungkin tidak di masa hidup saya. Setidaknya begitu kata orang-orang di sini. Kami agak sanksi karena berita di seluruh dunia penuh dengan laporan bahwa Tuvalu akan segera tenggelam. Itu sebabnya kami ingin berkunjung ke sini. Kami disarankan untuk bertemu tetua bijak pulau ini. Seseorang yang tahu segalanya dan kenal semua orang dan yang terpenting tidak suka berbasa-basi. Wafuti Faalo menyambut kami di beranda. Cuaca sangat panas, tetapi dia segera mengenakan kemeja untuk wawancara. Dia anggota parlemen dan pendeta di pulau ini. Kami terkejut ketika dia menjelaskan apa yang ia pikir sebagai masalah paling mendesak di pulau itu saat ini. Memang banyak gangguan di bandara, tapi di sini kita menghadapi bahaya di mana penumpang dan pesawat rawan kecelakaan. Crash Wafuti Faalo. Seperti mayoritas warga di sini tinggal di dekat landasan. Ketika wawancara, kami mendengar sebuah pesawat mendekat. Itulah satu-satunya jalur penghubung ke dunia luar. Pesawat itu datang dari Fiji lebih dari 1000 km jauhnya. Sirene memperingatkan warga untuk mengosongkan landasan tetapi tidak berhasil. Ada pula anjing sedang berjalan-jalan. Pesawat harus empat kali membatalkan pendaratan sebelum bisa mendarat. Akibatnya, maskapai menanggung biaya yang sangat besar. Pesawat sangat boros bahan bakar ketika lepas landas dan mendarat. Masyarakat di sini perlu bersikap lebih praktis. Jika mereka terus membiarkan anjing-anjing itu dan maskapai memutuskan untuk menutup jalur penerbangan, takkan ada lagi pesawat ketu masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar menyingkirkan anjing-anjing itu. Karena jarangnya kapal kargo yang datang, Tuvalu terputus dari dunia luar. Kami ingin tahu pendapat Wafuti Faalu tentang pengamatan SAMI bahwa perubahan iklim bukanlah masalah besar bagi kebanyakan warga di sini. Jawabannya cukup mengejutkan. Saya pikir itu tradisi keagamaan. Mereka percaya Tuhan akan tetap melindungi mereka dan itu tidak akan terjadi karena Tuhan mengasihi dan melindungi kami sampai akhirnya betul terjadi. Setelah kejadian mereka baru percaya. Kami bernegosiasi dengan perusahaan rental mobil di sana. Setelah harga cocok, kami mulai menjelajahi pulau itu sendiri. Hanya sekitar 10.000 orang tinggal di pulau di Tvalalu yang jika digabungkan luasnya hanya 26 km². Brian menerbangkan drone dan pulau-pulau itu tampak seperti hamparan pasir di lautan yang luas. Seringkiali lebarnya tidak lebih dari beberapa meter. [Tepuk tangan] Kami berhenti. Banyak rumah yang hancur. Kami bertanya kepada seorang pria di pinggir jalan. Apa yang terjadi? Siklon dan badai telah menghancurkan dan menyapu bersih banyak rumah. Tapi penduduk tidak tahu apa-apa tentang ini, tidak mengerti apa-apa. Kami ingin tahu seperti apa kehidupan di sini. Tetapi banyak yang tidak ingin diwawancara. Hingga akhirnya kami bertemu junior Haulangi yang sedang makan siang di teras rumahnya. Dia mengajak kami ke belakang rumahnya yang berada di tepi pantai. Waktu melihat badai atau angin seperti ini, apa Anda takut? Tidak juga. Ini kondisi biasa bagi kami. Tapi memang ini semakin memburuk. Terkadang kami melihat ombak datang menghantam kami di sekitar sini dari kedua sisi. Ini peristiwa yang menakutkan. Tapi kami sudah terbiasa hidup begini. Entah sudah berapa lama. Sedikit was-was dengan air di sekeliling. Tetapi tidak ada yang aneh. Kami membayangkan situasi yang jauh lebih mengkhawatirkan daripada ini. Kami akan bertemu dengan aktivis iklim Dr. Ma Talia yang kini menjabat Menteri Dalam Negeri Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup Tvalu selalu menjadi tantangan ketika hidup di area terisolasi seperti ini. Baik dalam hal pemasaran maupun tawaran kerja sama. sebuah tempat yang jauh dari perhatian dunia. Dia memanfaatkan kesempatan berbicara ini untuk membahas isu perubahan iklim dengan serius. Kami terus mendengar dari media bahwa dalam 10 atau 50 tahun ke depan Tuvalu akan tenggelam dan lenyap dari muka bumi. Menurut saya itu kebohongan yang kreatif karena kami tidak tenggelam di masa depan. Kami sedang berjuang melawan narasi ini. Kami sedang tenggelam saat ini. Tuvalu ingin mengumpulkan lebih dari 1 miliar dolar dari donatur internasional. Tembok pelindung raksasa ini dibangun untuk menyelamatkan pulau-pulau dari kehancuran sekaligus pereklamasi lahan. Proyek pertama semacam tempat parkir kontainer berisi barang dagangan yang disimpan di bawah terik matahari. Namun tampaknya proyek ini tidak akan cepat selesai. Tidak semua yang datang ke sini benar-benar peduli dengan Tuvalu. Mereka punya tujuan lain, kata Wafutialo. Orang-orang luar datang karena melihat peluang dalam isu ini. Mereka datang dan berkata ingin membantu banyak hal di sini. Semua itu menarik para donatur untuk memberi mereka uang. agar dapat melanjutkan bisnis dan terus bekerja. Jutaan dolar bantuan yang mengalir ke Tvalu adalah berkah sekaligus kutukan. Bagi sebagian orang enak sekali rasanya langsung menerima uang dari orang lain. Yang menakutkan adalah ketika bantuan terhenti, bagaimana mereka bertahan hidup. Tidak ada yang tahu kapan atau apakah atol itu akan tenggelam. Namun satu hal yang jelas bagi kami, narasi tentang pulau-pulau yang akan tenggelam ini adalah harta bagi negara terpencil ini. Dana besar dari donatur internasional mengalir deras ke dalam anggaran dan proyek-proyek yang bertujuan membuka lapangan kerja serta mengamankan masa depan. Namun saat ini warga sedang menggelar pertemuan untuk mencari solusi masalah yang lebih mendesak di pulau ini. Dalam perjalanan ke sana, kami kembali bertemu menteri. Ada banyak sekali anjing liar yang berkeliaran dan ini menjadi masalah besar bagi layanan penerbangan kita. Ini perlu ditangani. Apa yang akan dilakukan? Apa Anda sudah punya rencana? Iya. Thank you. Dia tertawa dan pergi tanpa memberitahu kami solusinya. Ketika kami berkunjung lagi ke Tvalu 2 minggu kemudian dalam perjalanan pulang mengisi bahan bakar semua anjing itu telah menghilang. Tak ada yang mau memberitahu ke mana mereka. [Musik] Kami melanjutkan perjalanan melintasi atol-atol kecil tidak berpenghuni menuju Anywek, sebuah atol di kepulauan Marshall. Lokasinya sekitar 3.000 km di utara Tvalu. [Musik] Selama penerbangan, Dirk menerima peringatan bahwa seluruh wilayah udara di atas permukaan laut di sebelah timur kami akan ditutup. selama 15 menit ke depan. Kemungkinan untuk uji terbang rudal antar benua oleh Amerika ditembakkan dari pantai barat Amerika Serikat ke tengah samudra Pasifik. Padahal kami harus mengisi bahan bakar di Majuro, pulau utama di Kepulauan Marshall. Jadi saat ini kami manfaatkan untuk bertemu Hero Ueda. Hero ingin menunjukkan salah satu harta karun terbesar Pasifik dan kerusakan yang dihadapinya. [Musik] Dia membawa kami ke laguna. Akan lihat apa kita hari ini? Terumbu karang yang sehat dan ikan berwarna-warni di lagu Namajuro. Tidak ada perubahan ataupun kerusakan. Kita bisa bandingkan bagian dalam laguna dengan pesisir laut. Sangat berbeda. [Musik] Ini adalah dunia yang penuh keajaiban. [Musik] Ada pegunungan bawah laut di tengah laguna menurun 80 sampai 90 m di kedalaman yang gelap. Di tempat yang terpapar cahaya, hamparan karang tampak memukau. Rumbu karang yang indah dan damai dengan ikan-ikan kecil berenang di sekitarnya sungguh menakjubkan. Mungkin ini Karang terindah yang pernah saya lihat. [Musik] Dunia ajaib ini yang berusia jutaan tahun mulai menghilang dan dengan laju kerusakan yang kian cepat. Kami menyeberangi Laguna dan menuju ke sisi laut Terumbu karang. Selanjutnya di seberang kanan. Dulu ini lokasi menyelam favorit saya karena ada terumbu karang besar di sepanjang jalan. Tapi sekarang semuanya hilang. Apakah penyebabnya suhu air? Banyak sekali alasannya. suhu air, stres, arus, kualitas air, salinitas. Sekarang semuanya sudah berubah. [Musik] [Tepuk tangan] Tobi dan Hero kembali menyelam ke dunia yang kelabu dan gelap. Hampir semua karang di sini mati. ditumbuhi alga. Karang-ang lempeng yang besar pecah seperti piring yang dilempar ke dinding. [Musik] [Tertawa] [Musik] Ketika Tobi kembali ke perahu, dia syok. Tidak percaya apa yang baru saja ia rekam. [Musik] Rasanya seperti berenang di kuburan. Sedih sekali melihat rumbu karang hancur dan membandingkan bentuknya beberapa tahun lalu dengan sekarang. [Musik] Sekarang kita meninggalkan Majuro dan masih harus menempuh lebih dari 1000 km lagi menuju Anywtech, sebuah atol di tepi terluar Kepulauan Marshall. Anywaych seperti ujung dunia lalu lintas udaranya sangat sepi. Bandara terdekat berjarak beberapa ratus mil dan menurut saya sepertinya tidak ada lalu lintas udaranya. Setelah 2 jam berlalu, Anytech mulai terlihat. Kami terbang rendah mencari tempat yang bersejarah di dunia. Lalu dua kawa besar berwarna biru tua muncul di sana. Tanggal 1 November 1952, Amerika Serikat meledakkan bom hidrogen pertama di dunia di atol Anytech sebagai bagian dari operasi IV. Daya ledaknya hampir 700 kali lebih kuat. Dibandingkan bom Hiroshima, awan jamur terbentuk sekitar 40 km ke udara dengan diameter sekitar 150 km. Pulau Eluklap hancur lebur. Debu radioaktif mengendap di lautan dan pulau-pulau di sekitarnya hancur akibat hantaman gelombang. Kami akan bertemu dengan seorang penduduk atol ini. Saat hendak mendarat, kami melihat kawah bekas bom atom dan kuba beton besar yang tampak gacil. Kubah Runit, tempat penyimpanan limbah nuklir yang dikabarkan bocor. Kita akan menjelajahi kubah runit nanti. [Musik] Tapi sebelumnya kita akan menuju pulau utama 25 km ke selatan. panjang landasan pacunya sekitar dua kali lipat dari yang diperlukan. Jadi, jika ada lubang besar atau semacamnya, kita bisa pilih bagian yang lebih sesuai. Pendaratan berjalan lancar. Landasan pacu dalam kondisi baik meski pesawat hanya mendarat di sini satu atau dua kali setahun. Sambutan ini mengejutkan kami. Ada kalungan bunga sebagai tanda persahabatan untuk tamu dari jauh. Sekitar 290 orang tinggal di pulau terpencil ini, tempat yang jarang dikunjungi. Harapan mereka terhadap kami semakin besar. [Musik] Kami masyarakat pulau ini selalu berdoa agar terjadi hal-hal baik. Sejak dulu bahkan para tetua kami selalu mendoakan itu dan hingga kini kami masih berdoa agar sesuatu yang baik dapat terjadi. Sulut, kepala administrasi di Anywek. Dia berharap kami dapat membuat pulau ini dan kisahnya diketahui oleh seluruh dunia. Suhu mengajak kami masuk ke gudang untuk menunjukkan seperti apa hidup di sini. Ini gudang kami kosong. Hanya ada sedikit kedelai dan beras. [Musik] Apa saja yang biasanya tersedia di gudang ini? Berbagai jenis makanan kaleng. yang biasa mereka bawakan seperti spam, cornet sapi, cornet sapi merek Oxford, makarel, tuna, sosis, sosis wina kecil juga sayuran. Meski ada banyak buah dan ikan segar dari pulau-pulau di Atol dan lautan di sekitarnya, di Anywtech, mereka bergantung pada makanan kaleng dari Amerika Serikat. Kami tidak bisa makan hasil pertanian kami karena orang Amerika bilang pulau ini masih mengandung radiasi. Tapi apa boleh buat? Tempat ini sangat terpencil. Pulau kecil di Pasifik ini berjasa dalam menjadikan Amerika Serikat kekuatan nuklir dunia dan masih menanggung akibatnya. Hingga kini bencana baru mungkin akan menimpa Niv Vtech. Su yakin bahwa orang di seluruh dunia harus mengetahuinya. Mereka harus tahu bahwa ada yang sangat mengkhawatirkan dan berbahaya di sini yang perlu diketahui dunia. Dan ada orang-orang yang harus hidup berdampingan dengan bahaya ini. Sungguh berbahaya. And it's really dangerous. Keesokan harinya kami berangkat pagi-pagi sekali ke tempat yang ditakuti itu. Kami ditemani tim ekspedisi kecil yang telah mereka bentuk khusus untuk kami di Enwtech untuk berjaga-jaga. Walikota dan beberapa pejabat datang untuk berdoa memohon agar Tuhan melindungi dan menjaga kami. Ternyata doa itu sangat kami butuhkan. Kami menyeberangi lautan selama hampir 2 jam melewati tempat bersejarah itu. Di atas kapal ada Nelio Palmenko, ekonom pertanian dari Filipina yang tinggal di Anvtch selama hampir 15 tahun. Dia hadir untuk membantu menanam tanaman yang mampu bertahan di iklim yang sulit. Ia menjadi penghubung antara penduduk lokal dan dunia luar. Saat mendekati kubah runit dari selatan, yang pertama kali kami lihat adalah struktur beton besar. 37 langkah sebelum mencapai bangker di sana. 37 langkah, tapi bangker itu sudah di tepi laut. Apa penyebabnya perubahan iklim? Menurut saya karena perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut. Lalu Nelio menceritakan sebuah kisah yang terdengar fiktif. Namun kisah ini menunjukkan betapa tidak amannya masyarakat di sini. Tampaknya mereka percaya Amerika Serikat mampu melakukan apa saja. Saya baru saja mengetahuinya dari salah satu ilmuwan dan pengunjung yang datang. Salah satu dari mereka bilang bahwa mereka sedang mencari tempat dikuburnya bom nuklir yang belum meledak. Saya bilang, "Saya belum pernah dengar." Lalu mereka bilang ada satu tempat di runit yang atasnya ditutup semen dan bom nuklir ada di bawahnya. Nuclear bomb [Musik] sebuah bom atom yang belum meledak terkubur di sebuah pulau terpencil di tengah Samudera Pasifik. Bagi kami itu terdengar seperti mitos yang diwariskan oleh orang-orang yang ketakutan. Kami mengajukan permohonan tertulis kepada pemerintah Amerika Serikat dan belum menerima tanggapan. Kami membawa pencacah Geiger untuk memastikan kami tidak terlalu lama terpapar radiasi radioaktif yang mungkin ada. Jadi saat ini radioaktivitas di sini masih normal. Kami berjarak sekitar 20 met dari pantai. Tetapi semuanya masih normal. Sebelum berlabuh, kami ingin melihat keadaan sekitar pantai. Dirk menyiapkan drone-nya. [Musik] Angin kencang mengguncang drone itu. Reruntuhan beton dari tahun 1970-an ada di mana-mana. Peninggalan Amerika Serikat ketika mendekontaminasi pulau-pulau yang terpapar radioaktif. Sama sekali tanpa pembatas, semuanya bisa bebas diakses. Sekitar 2 km berjalan, kami tiba di tempat yang ditakuti semua orang di sini. Kami berjalan melewati semak pelukar. Lalu tiba-tiba terlihat di depan kami kubah beton yang menyimpan salah satu limbah nuklir di dunia. Sebuah penutup beton setebal sekitar 50 cm dengan diameter sekitar 114 m. Selama pembersihan mereka mengumpulkan tanah lapisan atas dari Anywtech, Batw dan STAN. dan semuanya ditimbun di sini. Semua peralatan dan bahan yang mereka gunakan saat itu juga ada di sini. [Musik] Lebih dari 100.000 m³ limbah nuklir tersimpan di kawah bom atom ini. Plutonium, sesium, dan isotop radioaktif lainnya dengan masa peluruhan hingga 25.000 tahun. Kenaikan permukaan air laut menjadi masalah, kata Nelio. Kemungkinan kubah itu akan sepenuhnya terpapar air laut dan tentu saja material radioaktif dari Anywtech akan tersebar di seluruh kepulauan Pasifik. Pacific. Saat terjadi badai, air dapat terdorong masuk ke kawah. Meski begitu, radiasi radioaktif pada lempengan beton ini masih dalam batas wajar. Setidaknya radiasi gamma yang diukur oleh perangkat kami. Jadi, radiasinya sama sekali tidak berbahaya. 0,05 mikrofer masih dalam kisaran normal. Namun warga khawatir ini bisa berubah karena banyaknya retakan di sejumlah bagian di kubah beton ini. Ada yang sudah ditambal semen. Mereka takut kubah ini akan kolapse. Panas ekstrem dan hujan tropis mulai merusak kubah. Para ahli dari Amerika Serikat sesekali datang untuk menambal dan memperbaiki retakan ini. Namun mereka jelas tidak rutin datang. Nelio menemukan lubang sedalam sekitar 20 cm. Di sini kami memang tidak mendeteksi tingkat radioaktivitas yang luar biasa tinggi. Namun kami tetap merasa takut apa yang dilakukan Amerika Serikat di tempat ini. Mereka telah menghancurkan surga ini selamanya. Tidak seorang pun akan bisa tinggal di sini karena waktu peluruhan plutonium mencapai 25.000 tahun. Itu sangat lama. Amerika Serikat meledakkan 67 bom atom dan bom hidrogen di Kepulauan Marshall. 43 di antaranya di Any Wtech. Tepat di sini tempat kami berdiri. Amerika Serikat mampu menyembunyikan sisa-sisa nuklir jauh dari benuanya sendiri di tengah luasnya Samudra Pasifik. Terpencilnya pulau ini memegang peran penting bagi kebangkitan Amerika Serikat sebagai kekuatan nuklir dunia. Pertanyaannya, apakah rakyat Amerika akan mengizinkan pendirian bangunan tanpa perlindungan seperti ini di negaranya sendiri? Dalam perjalanan pulang kami tertimpa masalah. Dua motor perahu kami bocor. Perahu tiba-tiba miring. Haluan kapal semakin tinggi di atas air. Semua orang bergegas pindah ke depan. Semua ikut membantu mereka. membuang air dari kapal. Ada kebocoran. Dirk memeriksanya. Kelihatannya tidak bagus. Ada retakan cukup besar di belakang kapal. Mungkin di sekitar garis air di sebelah motor perahu dan airnya mengalir deras ke sana. Kita akan selamat. Tapi mereka membuang air dengan kecepatan yang sama dengan jumlah air yang masuk. Jadi entahlah. [Musik] Tidak ada pelampung di kapal ini. Jika kapal tenggelam, kami tidak akan selamat. Kami memeriksa GPS, berenang ke darat mustahil. 1 seteng jam terasa sangat lama. Banyak hal terlintas di benah kami. Lalu semuanya beres. Untuk saat ini kebocoran bisa diatasi. Mungkin doa sebelum berangkat ikut membantu kami. Karena kelelahan, kami baru meninggalkan Any Wek keesokan paginya. Perjalanan kita pun akan segera berakhir. Saat singgah sekitar 1000 km ke selatan, ada kapal kargo yang tampaknya menarik untuk dilihat. Berkat kerja sama berbagai mitra internasional, Kepulauan Marshall mulai bisa didatangi kapal pengangkut barang yang dapat mengubah masa depan negara-negara kepulauan di Pasifik. Dilepas pantai Atol Arno, mereka sedang memuat kelapa kering ke kapal Juren Eye. Sekilas ini tampak seperti kapal cargo biasa, tetapi ternyata tidak. Juren Eye adalah prototipe yang dikembangkan di Universitas Amden, Jerman dan dibangun di Korea Selatan. Ini adalah kapal pengangkut barang dengan layar. Kapal-kapal ini dirancang untuk menyediakan koneksi berkelanjutan dan ekonomis untuk semua pulau yang tersebat di Samudra Pasifik. [Musik] Film ini seharusnya berakhir di sini, tetapi kemudian kami menerima berita dukacita. J. Dixon. Pemuda periang itu terbunuh oleh hiu putih besar saat tengah menyelam mencari nafkah mengumpulkan abalon-abalonnya. [Musik]