Transcript
_tXsAErdmSQ • Pulau harta karun di Samudra Pasifik: Dari Kepulauan Chatham ke Enewetak (2/2) | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0060__tXsAErdmSQ.txt
Kind: captions
Language: id
Inilah samudra terbesar di dunia. Lebih
besar dari gabungan seluruh daratan di
muka bumi. Kita akan menghabiskan 8
minggu menjelajahi dunia yang sangat
memukau ini.
Perjalanan ini dimulai di Hawaii tempat
kita mengetahui bahwa masa depan Jerman
juga ikut dipertaruhkan di wilayah
Pasifik. Di sana kita juga bertemu
ilmuwan muda yang memperingatkan bahwa
terumbu karang dan kerang menghadapi
ancaman di lautan yang kian memanas. dan
makin bersifat asam.
[Musik]
Lalu di Kepulauan Kook, kita berbincang
dengan mereka yang percaya penambangan
laut dalam dapat menjamin masa depan
wilayah mereka
dan bertemu makhluk-makhluk yang penuh
makna mistis bagi penduduk pulau ini.
[Musik]
Dari Kepulauan Kuk yang tropis,
perjalanan berlanjut ke Kepulauan Chatam
di Pasifik Selatan yang berangin
kencang. lalu ke utara menuju Tuvalu dan
melintasi katulistiwa ke kepulauan
Marshall.
Kita akan belajar tentang nyali yang
dibutuhkan untuk memanen hasil dasar
laut Pasifik dan melihat lebih dekat
sebuah pulau yang menolak untuk
tenggelam.
lalu menjelajahi tempat pembuangan
limbah nuklir di tengah lautan yang sama
sekali tanpa pengaman dan nyaris hancur.
Ini adalah dunia yang terhubung oleh
kesunyian di hamparan laut yang luas.
[Musik]
Kita sekarang berada di Kepulauan
Chatam, 800 km dari pantai Selandia
Baru. Di sinilah Samudra Pasifik bertemu
dengan perairan dingin Antartika dari
selatan menghasilkan salah satu perairan
terbersih di dunia.
Kita juga akan bertemu Jonisir
Utara. Pria berusia 24 tahun ini akan
segera memanen harta karun dan
menghasilkan banyak uang.
Saya bisa dapat 2.000 dari Pawa. Di sini
PAUA dibayar mahal.
Hasilnya beragam
2.500 atau 2000 per hari.
Iya.
Jade dapat menghasilkan lebih dari
200.000o setahun dari menyelam mencari
abalon.
Dia bekerja untuk Pita Thomas, pemilik
salah satu pabrik pengolahan ikan di
pulau itu.
Saya dulu memancing dan saya rasa harga
pasarannya kurang bagus.
Jadi, saya memutuskan untuk mengolah
ikan.
Para pecinta kuliner di seluruh dunia,
terutama di Asia dan Cina, rela membayar
hingga 200 euro per kg untuk abalon atau
yang di sini disebut pawa.
Siput laut merupakan sumber pekerjaan
berupa tinggi di Samudra Pasifik bagian
selatan ini.
Sangat sulit mendapatkan pekerja di
sini. Jadi mereka dibayar amat sangat
layak dan mereka bekerja dengan baik.
Bekerja senang, bisnis pun lancar.
[Musik]
Kami berencana mengikuti Jay Dixon saat
dia melakukan pekerjaannya yang tidak
biasa. Vita dan sahabat lamanya Clive
datang untuk menjaga kami di lokasi
terpencil ini. Terutama ketika juru
kamera kami Tobi ikut menyelam.
Seperti yang mereka peringatkan, ada
bahaya mengintai di lautan ini. Hu putih
besar.
Teman kami Hill kehilangan sebelah
lengannya. Untung dia masih hidup.
Teman yang lain, Kinner Skoly, juga
pernah digigit cukup parah di punggung
dan bahu.
Kini dia membuat film dokumenter tentang
hiu putih besar dan berusaha melindungi
mereka.
Bagaimana kalau ada hiu?
Aku tidak khawatir soal hiu. Kalau
datang ya sudah, tapi sepertinya tidak.
Lautnya lumayan berombak.
Suhu permukaan air di sini pada musim
gugur sekitar 12 derajat. Namun menurut
Pita dan Clive, suhu ini berubah dalam
beberapa dekade terakhir.
Airnya semakin hangat. Di awal tahun
90-an suhunya 14 hingga 16 derajat.
Tahun ini 19 hingga 20 derajat. Apa
dampaknya bagi penangkapan ikan? Kami
mendapat spesies ikan berbeda yang biasa
ada di perairan yang lebih hangat macam
King Fisher.
Tobi sedang bersiap-siap. Dia butuh
tambahan beban 20 kg agar bisa
tenggelam.
Pakaian selam tebal yang dirancang
melindungi tubuh dari hawa dingin ini
sangat mudah mengapung.
Mereka menyelam 10 hingga 15 me ke dasar
laut.
Jade sudah mengumpulkan Abalon.
di tempat lain.
[Musik]
Hiu itu datang langsung ke arah saya
sekitar 4 atau 5 meter.
Saya bisa melihat semuanya. Ukurannya
tidak terlalu besar, tapi cukup gemuk.
Hiu itu masih kecil tapi lumayan gemuk.
Jadi saya pikir dia tidak lapar.
Itu cukup menakutkan. Saya menyelam ke
sebuah celah kecil dan hiu itu
mengelilingi saya selama 30 detik. Lalu
berenang menjauh dan perahu datang. Saya
langsung naik ke permukaan, pergi dari
sana secepat mungkin.
Namun jika ingin mencari nafkah dengan
memanen Abalon, para penyelam di Catam
tidak boleh takut. Mereka harus berdamai
dengan rasa takut mereka.
[Musik]
yang para penyelam lakukan di Chatams
ketika melihat hiu putih, mereka kembali
ke air dan pergi ke area lain menghadapi
rasa takut itu dan kembali bekerja.
[Musik]
Hari ini hiu tidak terlihat di air yang
berombak dan agak keruh ini. Tapi kita
tidak boleh lengah. Mereka di sana dan
mereka tahu di mana kita berada. Sensor
mereka yang luar biasa mampu mendeteksi
pergerakan penyelam bahkan dari jarak
yang jauh.
Jade dikelilingi oleh ikan cod biru,
spesies code yang hanya ditemukan di
perairan Pasifik Selatan.
Ikan-ikan ini penasaran dan terlihat
cinak.
Di atas perahu kami juga menikmati
hidangan lezat dari laut.
Jade menghabiskan waktu berjam-jam
sendirian di perairan dingin.
Dia bisa memanen 1000 kg atau 1 ton
abalon dalam sehari.
Di atas perahu, rekan Jade menarik
sekeranjang abalon dari dalam air,
membersihkan dan mengemasnya.
Mesin itu untuk apa?
Untuk mengukur tiap tangkapan.
Alat ini akan menunjukkan apakah ukuran
ikan yang ditangkap bertambah besar atau
mengecil.
Anda juga menyelam. Apa kalian
bergantian? Iya. Ini giliran terakhir
Jet.
Setelah itu kami ganti baju dan saya
menyelam.
[Musik]
Ada kuota ketat untuk penangkapan hasil
laut di sini. Para nelayan sangat
mendukungnya. Bahkan nelayan
berpengalaman seperti Clive dan Pita,
kami bisa melihat penangkapan ikan
berlebihan di negara lain dan kami punya
anak-anak yang ingin melanjutkan cara
hidup ini. Bukan hal remeh.
Kalau mau perikanan tetap bertahan, kita
harus benar-benar serius soal
keberlanjutan,
terutama untuk generasi muda.
Jade adalah salah satu anak muda
generasi penerus itu. Kami bertanya
tentang harapan masa depannya.
Saya bersemangat.
Saya baru saja beli truk dan perahu dan
sedang mempersiapkan semuanya. Saya siap
menjadi penyelaman diri.
Namun pulau ini dan para nelayannya
sedang menghadapi masalah
mengkhawatirkan, kata Pita. Seluruh
bisnisnya berada di ambang kehancuran.
Kami hanya punya bahan bakar untuk du
hingga 3 minggu lagi. Apa akibatnya bagi
bisnis Anda jika tidak ada bensin dan
solar?
Kami berhenti. Semua selesai. Kami
sangat bergantung pada solar untuk
menjalankan generator dan listrik. Tanpa
solar, freezer tidak akan bekerja dan
hasil tangkapan bisa rusak.
Kapal penyuplai barang pulau itu telah
berbulan-bulan tidak beroperasi. Tanpa
solar, tidak ada kapal yang melaut,
tidak ada pendapatan, dan tidak ada masa
depan di Kepulauan CTA. Kepulauan ini
ingin lebih berfokus pada tenaga angin
dan mengurangi ketergantungan bahan
bakar fosil. Turbin angin pertama akan
segera dibangun di sini.
[Musik]
Kita akan segera menempuh penerbangan
selama 8 jam. terbang kembali melintasi
Katulistiwa ke utara menuju Tvalu.
Konon Tuvalu akan menjadi negara pertama
yang lenyap dari muka bumi jika
permukaan laut terus naik seperti
sekarang. Kita lihat nanti apa saja
penyebabnya dan bagaimana warga
mengatasinya.
Dirk, pilot kami bertekad mendarat
sebelum malam tiba.
Kenapa kita harus sampai di TF valalu
sebelum malam?
Tuvalu tempat yang menarik.
Tidak ada lampu di landasan pacunya.
Selain itu, Atol Talu hanya sedikit
lebih besar dari landasan pacunya. Jadi,
di sekitarnya banyak rumah penduduk.
Penduduk di sini menggunakan landasan
pacu untuk bermain bola, memasak
barbeue, dan kumpul-kumpul.
Setelah berjam-jam melihat lautan,
matahari mulai terbenam di balik
cakrawala.
Akhirnya daratan muncul di hadapan kami.
[Musik]
Ini S Alpha Hotel. Kami berjarak 1
seteng mil dari landasan baju.
Kopi perhatian ada anjing di landasan.
Saya akan mencoba menyingkirkannya.
Baiklah, haruskah saya berputar?
[Musik]
Kami mengitari ibu kota Funa Futi sekali
lagi sampai menara memberi izin
mendarat.
[Musik]
Upaya kedua berhasil. Tidak ada anjing
berkeliaran di landasan. Kami menjadi
tontonan direkam saat mendarat. Jarang
ada pengunjung di sini.
Dalam setahun hanya ada ribuan
wisatawan, beberapa pengusaha dan eksp
yang mengunjungi keluarga.
Kami menulis dokumen masuk di sayap
pesawat. Tempat ini sangat berbeda
dengan CTAM. Pesawat kami menarik
perhatian warga sekitar. Kami tidak
sengaja bertemu orang dari Deldorf di
pinggir jalan.
10 tahun lalu saya bertekad suatu saat
akan ke sini dan sekarang saya di sini.
Kenapa Tuvalu? Waktu umur 11 tahun, saya
banyak mencari tahu tentang negara ini.
Tapi itu tidak disengaja.
Dulu kami membuat presentasi tentang
negara di sekolah. Jadi, saya pergi ke
peta di kelas dan menunjuk Tuvalu dengan
jari saya. Sejak saat itu saya tertarik
dengan negara ini.
Sami berusia 21 tahun, kuliah di Akademi
Kepolisian di Duisburg dan akan memulai
perjalanan 3 hari bersama kami
menjelajahi pulau ini. Kehidupan di sini
cukup sederhana. Orang-orangnya sangat
terbuka dan baik," kata Sami dan dia
sering membahas topik perubahan iklim
dengan warga lokal. Aber gerade gestern
abar noch
tadi malam saya mengobrol panjang lebar
tentang bagaimana Tuvalu melihat masalah
ini dan itu bukan masalah besar bagi
penduduk sini.
Tentu ini sudah banyak dibahas di media
dan mungkin karena pulau ini memang
sedang tenggelam, tapi mungkin itu tidak
akan terjadi dalam waktu dekat. Mungkin
tidak di masa hidup saya. Setidaknya
begitu kata orang-orang di sini.
Kami agak sanksi karena berita di
seluruh dunia penuh dengan laporan bahwa
Tuvalu akan segera tenggelam.
Itu sebabnya kami ingin berkunjung ke
sini. Kami disarankan untuk bertemu
tetua bijak pulau ini. Seseorang yang
tahu segalanya dan kenal semua orang dan
yang terpenting tidak suka berbasa-basi.
Wafuti Faalo menyambut kami di beranda.
Cuaca sangat panas, tetapi dia segera
mengenakan kemeja untuk wawancara. Dia
anggota parlemen dan pendeta di pulau
ini. Kami terkejut ketika dia
menjelaskan apa yang ia pikir sebagai
masalah paling mendesak di pulau itu
saat ini.
Memang banyak gangguan di bandara,
tapi di sini kita menghadapi bahaya di
mana penumpang dan pesawat rawan
kecelakaan. Crash
Wafuti Faalo. Seperti mayoritas warga di
sini tinggal di dekat landasan. Ketika
wawancara, kami mendengar sebuah pesawat
mendekat. Itulah satu-satunya jalur
penghubung ke dunia luar. Pesawat itu
datang dari Fiji lebih dari 1000 km
jauhnya. Sirene memperingatkan warga
untuk mengosongkan landasan tetapi tidak
berhasil. Ada pula anjing sedang
berjalan-jalan. Pesawat harus empat kali
membatalkan pendaratan sebelum bisa
mendarat. Akibatnya, maskapai menanggung
biaya yang sangat besar. Pesawat sangat
boros bahan bakar ketika lepas landas
dan mendarat.
Masyarakat di sini perlu bersikap lebih
praktis.
Jika mereka terus membiarkan
anjing-anjing itu dan maskapai
memutuskan untuk menutup jalur
penerbangan, takkan ada lagi pesawat
ketu
masalah yang jauh lebih besar daripada
sekadar menyingkirkan anjing-anjing itu.
Karena jarangnya kapal kargo yang
datang, Tuvalu terputus dari dunia luar.
Kami ingin tahu pendapat Wafuti Faalu
tentang pengamatan SAMI bahwa perubahan
iklim bukanlah masalah besar bagi
kebanyakan warga di sini. Jawabannya
cukup mengejutkan.
Saya pikir itu tradisi keagamaan.
Mereka percaya Tuhan akan tetap
melindungi mereka
dan itu tidak akan terjadi karena Tuhan
mengasihi
dan melindungi kami
sampai akhirnya betul terjadi.
Setelah kejadian mereka baru percaya.
Kami bernegosiasi dengan perusahaan
rental mobil di sana. Setelah harga
cocok, kami mulai menjelajahi pulau itu
sendiri.
Hanya sekitar 10.000 orang tinggal di
pulau di Tvalalu yang jika digabungkan
luasnya hanya 26 km².
Brian menerbangkan drone dan pulau-pulau
itu tampak seperti hamparan pasir di
lautan yang luas.
Seringkiali lebarnya tidak lebih dari
beberapa meter.
[Tepuk tangan]
Kami berhenti.
Banyak rumah yang hancur.
Kami bertanya kepada seorang pria di
pinggir jalan. Apa yang terjadi?
Siklon dan badai telah menghancurkan dan
menyapu bersih banyak rumah.
Tapi penduduk tidak tahu apa-apa tentang
ini, tidak mengerti apa-apa.
Kami ingin tahu seperti apa kehidupan di
sini. Tetapi banyak yang tidak ingin
diwawancara.
Hingga akhirnya kami bertemu junior
Haulangi yang sedang makan siang di
teras rumahnya.
Dia mengajak kami ke belakang rumahnya
yang berada di tepi pantai.
Waktu melihat badai atau angin seperti
ini, apa Anda takut?
Tidak juga. Ini kondisi biasa bagi kami.
Tapi memang ini semakin memburuk.
Terkadang kami melihat ombak datang
menghantam kami di sekitar sini
dari kedua sisi.
Ini peristiwa yang menakutkan.
Tapi kami sudah terbiasa hidup begini.
Entah sudah berapa lama.
Sedikit was-was dengan air di
sekeliling. Tetapi tidak ada yang aneh.
Kami membayangkan situasi yang jauh
lebih mengkhawatirkan daripada ini.
Kami akan bertemu dengan aktivis iklim
Dr. Ma Talia yang kini menjabat Menteri
Dalam Negeri Perubahan Iklim dan
Lingkungan Hidup Tvalu
selalu menjadi tantangan ketika hidup di
area terisolasi seperti ini.
Baik dalam hal pemasaran maupun tawaran
kerja sama.
sebuah tempat yang jauh dari perhatian
dunia.
Dia memanfaatkan kesempatan berbicara
ini untuk membahas isu perubahan iklim
dengan serius.
Kami terus mendengar dari media bahwa
dalam 10 atau 50 tahun ke depan Tuvalu
akan tenggelam dan lenyap dari muka
bumi.
Menurut saya itu kebohongan yang kreatif
karena kami tidak tenggelam di masa
depan. Kami sedang berjuang melawan
narasi ini. Kami sedang tenggelam saat
ini.
Tuvalu ingin mengumpulkan lebih dari 1
miliar dolar dari donatur internasional.
Tembok pelindung raksasa ini dibangun
untuk menyelamatkan pulau-pulau dari
kehancuran sekaligus pereklamasi lahan.
Proyek pertama semacam tempat parkir
kontainer berisi barang dagangan yang
disimpan di bawah terik matahari.
Namun tampaknya proyek ini tidak akan
cepat selesai. Tidak semua yang datang
ke sini benar-benar peduli dengan
Tuvalu. Mereka punya tujuan lain, kata
Wafutialo.
Orang-orang luar datang karena melihat
peluang dalam isu ini. Mereka datang dan
berkata ingin membantu banyak hal di
sini.
Semua itu menarik para donatur untuk
memberi mereka uang. agar dapat
melanjutkan bisnis dan terus bekerja.
Jutaan dolar bantuan yang mengalir ke
Tvalu adalah berkah sekaligus kutukan.
Bagi sebagian orang
enak sekali rasanya langsung menerima
uang dari orang lain.
Yang menakutkan adalah ketika bantuan
terhenti,
bagaimana mereka bertahan hidup.
Tidak ada yang tahu kapan atau apakah
atol itu akan tenggelam.
Namun satu hal yang jelas bagi kami,
narasi tentang pulau-pulau yang akan
tenggelam ini adalah harta bagi negara
terpencil ini.
Dana besar dari donatur internasional
mengalir deras ke dalam anggaran dan
proyek-proyek yang bertujuan membuka
lapangan kerja serta mengamankan masa
depan.
Namun saat ini warga sedang menggelar
pertemuan untuk mencari solusi masalah
yang lebih mendesak di pulau ini. Dalam
perjalanan ke sana, kami kembali bertemu
menteri.
Ada banyak sekali anjing liar yang
berkeliaran dan ini menjadi masalah
besar bagi layanan penerbangan kita.
Ini perlu ditangani. Apa yang akan
dilakukan? Apa Anda sudah punya rencana?
Iya.
Thank you.
Dia tertawa dan pergi tanpa memberitahu
kami solusinya.
Ketika kami berkunjung lagi ke Tvalu 2
minggu kemudian dalam perjalanan pulang
mengisi bahan bakar semua anjing itu
telah menghilang.
Tak ada yang mau memberitahu ke mana
mereka.
[Musik]
Kami melanjutkan perjalanan melintasi
atol-atol kecil tidak berpenghuni menuju
Anywek, sebuah atol di kepulauan
Marshall.
Lokasinya sekitar 3.000 km di utara
Tvalu.
[Musik]
Selama penerbangan, Dirk menerima
peringatan bahwa seluruh wilayah udara
di atas permukaan laut di sebelah timur
kami akan ditutup. selama 15 menit ke
depan.
Kemungkinan untuk uji terbang rudal
antar benua oleh Amerika ditembakkan
dari pantai barat Amerika Serikat ke
tengah samudra Pasifik.
Padahal kami harus mengisi bahan bakar
di Majuro, pulau utama di Kepulauan
Marshall.
Jadi saat ini kami manfaatkan untuk
bertemu Hero Ueda. Hero ingin
menunjukkan salah satu harta karun
terbesar Pasifik dan kerusakan yang
dihadapinya.
[Musik]
Dia membawa kami ke laguna.
Akan lihat apa kita hari ini?
Terumbu karang yang sehat dan ikan
berwarna-warni di lagu Namajuro.
Tidak ada perubahan ataupun kerusakan.
Kita bisa bandingkan bagian dalam laguna
dengan pesisir laut. Sangat berbeda.
[Musik]
Ini adalah dunia yang penuh keajaiban.
[Musik]
Ada pegunungan bawah laut di tengah
laguna menurun 80 sampai 90 m di
kedalaman yang gelap.
Di tempat yang terpapar cahaya, hamparan
karang tampak memukau.
Rumbu karang yang indah dan damai dengan
ikan-ikan kecil berenang di sekitarnya
sungguh menakjubkan. Mungkin ini Karang
terindah yang pernah saya lihat.
[Musik]
Dunia ajaib ini yang berusia jutaan
tahun mulai menghilang dan dengan laju
kerusakan yang kian cepat.
Kami menyeberangi Laguna dan menuju ke
sisi laut Terumbu karang.
Selanjutnya di seberang kanan.
Dulu ini lokasi menyelam favorit saya
karena ada terumbu karang besar di
sepanjang jalan.
Tapi sekarang semuanya hilang.
Apakah penyebabnya suhu air?
Banyak sekali alasannya.
suhu air, stres,
arus,
kualitas air, salinitas.
Sekarang semuanya sudah berubah.
[Musik]
[Tepuk tangan]
Tobi dan Hero kembali menyelam ke dunia
yang kelabu dan gelap.
Hampir semua karang di sini mati.
ditumbuhi alga.
Karang-ang lempeng yang besar pecah
seperti piring yang dilempar ke dinding.
[Musik]
[Tertawa]
[Musik]
Ketika Tobi kembali ke perahu, dia syok.
Tidak percaya apa yang baru saja ia
rekam.
[Musik]
Rasanya seperti berenang di kuburan.
Sedih sekali melihat rumbu karang hancur
dan membandingkan bentuknya beberapa
tahun lalu dengan sekarang.
[Musik]
Sekarang kita meninggalkan Majuro
dan masih harus menempuh lebih dari 1000
km lagi menuju Anywtech, sebuah atol di
tepi terluar Kepulauan Marshall.
Anywaych seperti ujung dunia lalu lintas
udaranya sangat sepi. Bandara terdekat
berjarak beberapa ratus mil dan menurut
saya sepertinya tidak ada lalu lintas
udaranya.
Setelah 2 jam berlalu, Anytech mulai
terlihat. Kami terbang rendah mencari
tempat yang bersejarah di dunia.
Lalu dua kawa besar berwarna biru tua
muncul di sana.
Tanggal 1 November 1952, Amerika Serikat
meledakkan bom hidrogen pertama di dunia
di atol Anytech sebagai bagian dari
operasi IV.
Daya ledaknya hampir 700 kali lebih
kuat. Dibandingkan bom Hiroshima,
awan jamur terbentuk sekitar 40 km ke
udara dengan diameter sekitar 150 km.
Pulau Eluklap hancur lebur. Debu
radioaktif mengendap di lautan dan
pulau-pulau di sekitarnya hancur akibat
hantaman gelombang.
Kami akan bertemu dengan seorang
penduduk atol ini. Saat hendak mendarat,
kami melihat kawah bekas bom atom dan
kuba beton besar yang tampak gacil.
Kubah Runit,
tempat penyimpanan limbah nuklir yang
dikabarkan bocor.
Kita akan menjelajahi kubah runit nanti.
[Musik]
Tapi sebelumnya kita akan menuju pulau
utama 25 km ke selatan.
panjang landasan pacunya sekitar dua
kali lipat dari yang diperlukan.
Jadi, jika ada lubang besar atau
semacamnya, kita bisa pilih bagian yang
lebih sesuai.
Pendaratan berjalan lancar. Landasan
pacu dalam kondisi baik meski pesawat
hanya mendarat di sini satu atau dua
kali setahun.
Sambutan ini mengejutkan kami. Ada
kalungan bunga sebagai tanda
persahabatan untuk tamu dari jauh.
Sekitar 290 orang tinggal di pulau
terpencil ini, tempat yang jarang
dikunjungi.
Harapan mereka terhadap kami semakin
besar.
[Musik]
Kami masyarakat pulau ini selalu berdoa
agar terjadi hal-hal baik.
Sejak dulu bahkan para tetua kami selalu
mendoakan itu dan hingga kini kami masih
berdoa agar sesuatu yang baik dapat
terjadi.
Sulut, kepala administrasi di Anywek.
Dia berharap kami dapat membuat pulau
ini dan kisahnya diketahui oleh seluruh
dunia.
Suhu mengajak kami masuk ke gudang untuk
menunjukkan seperti apa hidup di sini.
Ini gudang kami
kosong. Hanya ada sedikit kedelai dan
beras.
[Musik]
Apa saja yang biasanya tersedia di
gudang ini?
Berbagai jenis makanan kaleng.
yang biasa mereka bawakan seperti spam,
cornet sapi, cornet sapi merek Oxford,
makarel, tuna, sosis, sosis wina kecil
juga sayuran.
Meski ada banyak buah dan ikan segar
dari pulau-pulau di Atol dan lautan di
sekitarnya, di Anywtech, mereka
bergantung pada makanan kaleng dari
Amerika Serikat.
Kami tidak bisa makan hasil pertanian
kami karena orang Amerika bilang pulau
ini masih mengandung radiasi.
Tapi apa boleh buat? Tempat ini sangat
terpencil.
Pulau kecil di Pasifik ini berjasa dalam
menjadikan Amerika Serikat kekuatan
nuklir dunia dan masih menanggung
akibatnya. Hingga kini
bencana baru mungkin akan menimpa Niv
Vtech.
Su yakin bahwa orang di seluruh dunia
harus mengetahuinya.
Mereka harus tahu bahwa ada yang sangat
mengkhawatirkan dan berbahaya di sini
yang perlu diketahui dunia.
Dan ada orang-orang yang harus hidup
berdampingan dengan bahaya ini. Sungguh
berbahaya.
And it's really dangerous.
Keesokan harinya kami berangkat
pagi-pagi sekali ke tempat yang ditakuti
itu. Kami ditemani tim ekspedisi kecil
yang telah mereka bentuk khusus untuk
kami di Enwtech untuk berjaga-jaga.
Walikota dan beberapa pejabat datang
untuk berdoa memohon agar Tuhan
melindungi dan menjaga kami.
Ternyata
doa itu sangat kami butuhkan.
Kami menyeberangi lautan selama hampir 2
jam melewati tempat bersejarah itu.
Di atas kapal ada Nelio Palmenko, ekonom
pertanian dari Filipina yang tinggal di
Anvtch selama hampir 15 tahun.
Dia hadir untuk membantu menanam tanaman
yang mampu bertahan di iklim yang sulit.
Ia menjadi penghubung antara penduduk
lokal dan dunia luar. Saat mendekati
kubah runit dari selatan, yang pertama
kali kami lihat adalah struktur beton
besar.
37 langkah sebelum mencapai bangker di
sana. 37 langkah, tapi bangker itu sudah
di tepi laut. Apa penyebabnya perubahan
iklim? Menurut saya karena perubahan
iklim dan naiknya permukaan air laut.
Lalu Nelio menceritakan sebuah kisah
yang terdengar fiktif. Namun kisah ini
menunjukkan betapa tidak amannya
masyarakat di sini. Tampaknya mereka
percaya Amerika Serikat mampu melakukan
apa saja.
Saya baru saja mengetahuinya dari salah
satu ilmuwan dan pengunjung yang datang.
Salah satu dari mereka bilang bahwa
mereka sedang mencari tempat dikuburnya
bom nuklir yang belum meledak. Saya
bilang, "Saya belum pernah dengar."
Lalu mereka bilang ada satu tempat di
runit yang atasnya ditutup semen dan bom
nuklir ada di bawahnya. Nuclear bomb
[Musik]
sebuah bom atom yang belum meledak
terkubur di sebuah pulau terpencil di
tengah Samudera Pasifik. Bagi kami itu
terdengar seperti mitos yang diwariskan
oleh orang-orang yang ketakutan. Kami
mengajukan permohonan tertulis kepada
pemerintah Amerika Serikat dan belum
menerima tanggapan.
Kami membawa pencacah Geiger untuk
memastikan kami tidak terlalu lama
terpapar radiasi radioaktif yang mungkin
ada.
Jadi saat ini radioaktivitas di sini
masih normal. Kami berjarak sekitar 20
met dari pantai. Tetapi semuanya masih
normal.
Sebelum berlabuh, kami ingin melihat
keadaan sekitar pantai.
Dirk menyiapkan drone-nya.
[Musik]
Angin kencang mengguncang drone itu.
Reruntuhan beton dari tahun 1970-an ada
di mana-mana. Peninggalan Amerika
Serikat ketika mendekontaminasi
pulau-pulau yang terpapar radioaktif.
Sama sekali tanpa pembatas, semuanya
bisa bebas diakses.
Sekitar 2 km berjalan, kami tiba di
tempat yang ditakuti semua orang di
sini.
Kami berjalan melewati semak pelukar.
Lalu tiba-tiba terlihat di depan kami
kubah beton yang menyimpan salah satu
limbah nuklir di dunia.
Sebuah penutup beton setebal sekitar 50
cm dengan diameter sekitar 114 m.
Selama pembersihan mereka mengumpulkan
tanah lapisan atas dari Anywtech, Batw
dan STAN.
dan semuanya ditimbun di sini.
Semua peralatan dan bahan yang mereka
gunakan saat itu juga ada di sini.
[Musik]
Lebih dari 100.000 m³ limbah nuklir
tersimpan di kawah bom atom ini.
Plutonium, sesium, dan isotop radioaktif
lainnya dengan masa peluruhan hingga
25.000 tahun.
Kenaikan permukaan air laut menjadi
masalah, kata Nelio.
Kemungkinan kubah itu akan sepenuhnya
terpapar air laut
dan tentu saja material radioaktif dari
Anywtech akan tersebar di seluruh
kepulauan Pasifik.
Pacific. Saat terjadi badai, air dapat
terdorong masuk ke kawah. Meski begitu,
radiasi radioaktif pada lempengan beton
ini masih dalam batas wajar. Setidaknya
radiasi gamma yang diukur oleh perangkat
kami. Jadi, radiasinya sama sekali tidak
berbahaya. 0,05 mikrofer masih dalam
kisaran normal. Namun warga khawatir ini
bisa berubah karena banyaknya retakan di
sejumlah bagian di kubah beton ini. Ada
yang sudah ditambal semen. Mereka takut
kubah ini akan kolapse. Panas ekstrem
dan hujan tropis mulai merusak kubah.
Para ahli dari Amerika Serikat sesekali
datang untuk menambal dan memperbaiki
retakan ini. Namun mereka jelas tidak
rutin datang. Nelio menemukan lubang
sedalam sekitar 20 cm.
Di sini kami memang tidak mendeteksi
tingkat radioaktivitas yang luar biasa
tinggi.
Namun kami tetap merasa takut
apa yang dilakukan Amerika Serikat di
tempat ini. Mereka telah menghancurkan
surga ini selamanya.
Tidak seorang pun akan bisa tinggal di
sini karena waktu peluruhan plutonium
mencapai 25.000 tahun.
Itu sangat lama.
Amerika Serikat meledakkan 67 bom atom
dan bom hidrogen di Kepulauan Marshall.
43 di antaranya di Any Wtech. Tepat di
sini tempat kami berdiri.
Amerika Serikat mampu menyembunyikan
sisa-sisa nuklir jauh dari benuanya
sendiri di tengah luasnya Samudra
Pasifik.
Terpencilnya pulau ini memegang peran
penting bagi kebangkitan Amerika Serikat
sebagai kekuatan nuklir dunia.
Pertanyaannya, apakah rakyat Amerika
akan mengizinkan pendirian bangunan
tanpa perlindungan seperti ini di
negaranya sendiri?
Dalam perjalanan pulang kami tertimpa
masalah. Dua motor perahu kami bocor.
Perahu tiba-tiba miring.
Haluan kapal semakin tinggi di atas air.
Semua orang bergegas pindah ke depan.
Semua ikut membantu mereka. membuang air
dari kapal. Ada kebocoran.
Dirk memeriksanya. Kelihatannya tidak
bagus.
Ada retakan cukup besar di belakang
kapal. Mungkin di sekitar garis air di
sebelah motor perahu dan airnya mengalir
deras ke sana.
Kita akan selamat. Tapi mereka membuang
air dengan kecepatan yang sama dengan
jumlah air yang masuk. Jadi entahlah.
[Musik]
Tidak ada pelampung di kapal ini. Jika
kapal tenggelam, kami tidak akan
selamat. Kami memeriksa GPS, berenang ke
darat mustahil.
1 seteng jam terasa sangat lama. Banyak
hal terlintas di benah kami.
Lalu semuanya beres. Untuk saat ini
kebocoran bisa diatasi. Mungkin doa
sebelum berangkat ikut membantu kami.
Karena kelelahan, kami baru meninggalkan
Any Wek keesokan paginya. Perjalanan
kita pun akan segera berakhir.
Saat singgah sekitar 1000 km ke selatan,
ada kapal kargo yang tampaknya menarik
untuk dilihat.
Berkat kerja sama berbagai mitra
internasional, Kepulauan Marshall mulai
bisa didatangi kapal pengangkut barang
yang dapat mengubah masa depan
negara-negara kepulauan di Pasifik.
Dilepas pantai Atol Arno, mereka sedang
memuat kelapa kering ke kapal Juren Eye.
Sekilas ini tampak seperti kapal cargo
biasa, tetapi ternyata tidak. Juren Eye
adalah prototipe yang dikembangkan di
Universitas Amden, Jerman dan dibangun
di Korea Selatan. Ini adalah kapal
pengangkut barang dengan layar.
Kapal-kapal ini dirancang untuk
menyediakan koneksi berkelanjutan dan
ekonomis untuk semua pulau yang tersebat
di Samudra Pasifik.
[Musik]
Film ini seharusnya berakhir di sini,
tetapi kemudian kami menerima berita
dukacita.
J. Dixon. Pemuda periang itu terbunuh
oleh hiu putih besar saat tengah
menyelam mencari nafkah mengumpulkan
abalon-abalonnya.
[Musik]