Transcript
2fCbINHCAnk • Bus-Bus Putih – Operasi penyelamatan paling berbahaya saat Perang Dunia Kedua | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0061_2fCbINHCAnk.txt
Kind: captions
Language: id
Beberapa minggu sebelum Perang Dunia
Kedua berakhir, bus-bus putih kecil ini
berangkat dari Denmark menuju Jerman.
Mereka sedang menjalankan misi khusus
menyelamatkan para tahanan dari kem
konsentrasi Jerman tempat nazi membunuh
jutaan orang Yahudi. Sebulan kemudian,
bus-bus itu kembali dari Jerman. Mereka
yang diselamatkan sebagian besar adalah
orang Yahudi dari Skandinavia.
Di Odense Denmark, kepulangan mereka
disambut sorak-sorai selama berjam-jam.
Semua orang merayakan berakhirnya sebuah
mimpi buruk.
[Musik]
Rut, remaja 17 tahun dari Copenhagen ada
di salah satu bus itu. Selama 18 bulan
dia ditahan di Cem Teresian Stad bersama
lebih dari 400 orang Yahudi Denmark
lainnya.
[Musik]
80 tahun berlalu, putri Ruth Mariane
ingin tahu apa yang dialami ibunya. Dia
adalah seorang pakar sejarah Yahudi.
Hari ini dia akan melihat wujud bus-bus
putih yang menyelamatkan ibunya. Hanya
ada sedikit bus yang tersisa. Satu di
Israel dan satu lagi di Denmark. Di
bekas kem penjara Frusle ini, sekitar
20.000 orang diselamatkan dari kem
konsentrasi nazi Jerman dengan bus
seperti ini termasuk Ibu Mariana.
Dulu dia mungkin duduk di dalam, saya
tidak tahu di dalam bus kursinya berapa.
Yang jelas penumpangnya kecil-kecil,
jadi bus bisa mengangkut lebih banyak
orang.
Iya, mereka kecil sekali karena
kelaparan.
Kondisi para penyintas memang
memprihatinkan. Banyak yang nyaris tidak
bisa berdiri apalagi berjalan. Mereka
diselamatkan sebelum semuanya terlambat.
Ketika saya melihat bendera Swedia,
tulisan SIA dan bendera palang merah,
saya jadi bangga. Kami berhasil
melakukannya. Swedia berhasil
melakukannya di akhir perang.
Swedia tidak memihak dalam perang,
tetapi mempertahankan hubungan
ekonominya dengan Jerman.
Kami netral, tapi kami dikritik karena
melakukan beberapa hal seperti
mengizinkan tentara Nat bepergian
melintasi negara ini.
Kami juga menjual biji besi dan bantalan
bola kepada Nazi yang mungkin
memperpanjang perang.
Di dalam bus, bangku untuk dua orang
diisi oleh tiga orang. Iva, 22 tahun
duduk di tengah.
Sementara adiknya Rut duduk di
sampingnya, memegang gelas susu
pertamanya sejak diselamatkan.
Mereka bebas disambut oleh kerumunan
warga Denmark dengan bunga, sorak-sorai,
dan air mata kebahagiaan.
flag Danmark med flag denmark diduduki
Jerman waktu itu. Bendera Denmark
dilarang tapi tidak ada yang menegakkan
aturannya.
Kami tiba di Odense dengan 78 kendaraan
kerumunan yang menyambut ramai sekali
sampai kami tidak bisa lewat. Och det
var också samma sak. Det var tydligen
allt folk visste om att det skulle
komma.
Du bulan sebelum misi penyelamatan itu,
sebuah pertemuan berlangsung di Howen
Lion, sebuah tempat dengan masa lalu
yang kelam. Kompleks sanatorium ini
diubah menjadi pusat perawatan bagi para
atlet Olimpiade 1936 di Berlin dan
tokoh-tokoh terkemuka Natzi.
Selama Perang Dunia Kedua, para dokter
SS melakukan eksperimen mematikan
terhadap para tahanan di sini.
Pada 19 Februari 1945, kepala SS Hinry
Himler bertemu dengan Pangeran Volke
Bernadot dari Palang Merah Swedia di
sini. Bernadot adalah keponakan raja
Swedia dan dia datang untuk sebuah misi
rahasia.
Dia berharap dapat membebaskan tahanan
asal Skandinavia dari kem-kem Jerman.
Bernadot membawa sebuah buku Swedia abad
ke-17 berisi aksara run sebagai hadiah.
Himler melihat peluang dalam pertemuan
itu.
Himler berusaha menyelamatkan diri
ketika tahu mereka akan kalah perang.
Jadi dia setuju untuk membiarkan Palang
Merah dan Folke Bernadot membawa tahanan
dari kem. Namun yang ada di pikiran
Bernadot bukan orang Yahudi, melainkan
tahanan dari Skandinavia.
Makanya komunitas Yahudi mendesak dan
bilang, "Kalian harus membawa orang
Yahudi juga karena kondisi mereka sangat
buruk."
Ada juga sejumlah nazi yang merasa sudah
waktunya membangun hubungan baik dengan
sekutu dan membantu Bernadot.
Pemerintah Swedia akhirnya menugaskan
palang merah dan militer untuk
menyiapkan 78 bus dan truk. Bernardot
merekrut para muda-mudi untuk membantu
misi. Mereka hanya diberitahu bahwa
tujuan misi adalah menyelamatkan para
kompatriot dari tawanan Jerman.
Bernadot memilih Axel Molin yang dia
kenal dari militer sebagai pemimpin
misi. Pada tahun 2003, Molin memberikan
wawancara panjang tentang misi itu untuk
Noen Game Memorial. Di samping foto
Bernadot di ruang kerjanya terpampang
izin transit untuk bus-bus putih yang
dikeluarkan oleh SS atas namanya. Saat
itu, satu prajurit SS harus ikut di
dalam setiap bus.
Hanya 250 orang yang diizinkan untuk
ikut misi. Kami diminta mengumpulkan
warga sipil Swedia disatukan. Semua
biaya ditanggung Swedia dan tidak boleh
ada informasi sedikit pun ke media.
Peta jalan asli yang digunakan untuk
misi juga tergantung di dinding
rumahnya. Cem-kcem tujuan mereka saat
itu ditandai dengan lingkaran. Noeneng
Gama, Ravensbrook, Brown White, Dahao,
Teresian Stad.
Rombongan kendaraan dari Swedia
berangkat bersama-sama.
Dengan memakai kapal, 350.000 liter
bahan bakar juga ikut serta dikirim.
Saat kami duduk di bus di atas feri,
hampir semua bus sudah dicat putih.
Sekutu bilang mereka tidak bisa menjamin
keselamatan kami jika bus tidak dicat
putih. Jadi seluruh pengecat dari Malmo
membantu dan beberapa dari mereka masih
mengecat selama perjalanan feri dari
Malmuh ke Kopenhagen.
[Musik]
Hanya cat putih biasa dan tidak tahan
hujan.
Jadi kami membawa kuas dan cat dan
terus-menerus mengecat ulang sepanjang
perjalanan.
Itu adalah jaminan Jawa kami.
Perjalanan Mariane ke masa lalu
berlanjut.
Kali ini ia mencari jejak Cem Teresian
Stad ibunya ditahan.
Camp konsentrasi dan Get Teresian Stat
digambarkan sebagai model camp dalam
propaganda nazi. Ditampilkan bak dunia
yang sempurna di mata internasional dan
para pemeriksa dari Palang Merah.
Kenyataannya, Kemteresian Stad hanyalah
tempat transit menuju Kamar gas. Untuk
mendukung pencarian Mariana, arsip
nasional di Praha telah mengeluarkan
berkas ibunya saat menjadi tahanan.
Ini adalah daftar semua alamat geto yang
ibu saya tempati. Tercantum persis di
mana dan kapan beliau pindah tempat. Di
sini tertulis tahun 1945 tanggal 3
Februari beliau pindah ke Park Strase 12
dan itu alamat rumah sakit ini. Lalu
beliau tinggal di sini sampai tanggal 8
April lebih dari 2 bulan.
Ibu Mariane Ruth tercatat sebagai
penjahit dan perancang busana. Dia
bekerja di binatu dan mengurus
anak-anak. Kemampuannya menyesuaikan
diri itulah yang kemungkinan besar
menyelamatkan hidupnya.
Rut tinggal bersama 70 perempuan lainnya
dalam satu kamar.
Sangat menyedihkan membayangkan begitu
padatnya kamar itu dan tidak adanya
privasi sama sekali. Jika standar
kamarnya seperti ini, sungguh
mengerikan.
Mariane juga menemukan bahwa orang
Yahudi harus mengenakan tanda bintang
Daud ini di dalam camp.
Mereka sebenarnya tidak diwajibkan
memakai tanda bintang ini. Raja Swedia
pernah bilang, "Kalau orang Yahudi
memakai bintangnya, maka saya juga akan
pakai. Tapi ketika mereka ditahan di
sini, mereka harus memakainya."
Jadi itu sesuatu yang aneh, baru, dan
memalukan.
Suhu di kamar dingin, hanya ada satu
tungku kayu sebagai penghangat. Makanan
juga sedikit, hanya secangkir kopi
Sikori. Mereka bertahan hidup dengan
paket-paket bantuan dari palang merah.
Sama seperti perempuan lain, kepala Rut
dicukur untuk mempermalukannya.
[Musik]
Rambut ibu saya dan kakaknya rusak.
sangat tipis karena kekurangan gizi di
camp. Jadi, kakaknya selalu memakai wig.
Tapi, ibu saya tidak.
Sebuah sinagog tersembunyi di satu sudut
camp.
tulisannya Zion itu Zion.
Kasihanilah Zion.
Apakah ini mengejutkan? Ternyata orang
Yahudi bisa beribadah
tidak. Karena mereka berusaha menemukan
semacam kenormalan. Bahkan dalam situasi
seperti ini. Mereka tetap melakukannya
dalam situasi terburuk. Mereka selalu
berupaya merayakan hari raya mereka atau
Sabat. Bagaimanapun caranya,
sejak tahun 1943, para tahanan Yahudi
terus dibawa dari gedung ini menuju
kem-kem kematian. Di sinilah Ruth dan
orang-orang Yahudi Denmark lainnya
menunggu kedatangan bus-bus putih itu
pada bulan April 1945, namun bus tak
kunjung tiba.
Ada begitu banyak rumor saat itu. Mereka
juga mendengar ada kemungkinan mereka
akan dibawa ke Swedia sebulan
sebelumnya. Tapi kemudian tidak ada
apa-apa.
Para pengemudi bus-bus putih tidak
diizinkan masuk ke kem. Namun, mereka
memiliki daftar nama tahanan yang
pembebasannya telah disetujui Himler,
termasuk orang-orang Yahudi Denmark yang
ditahan di Cem Teresien Stad. Pada
pertengahan April 1945, misi
penyelamatan pun dilakukan.
Mereka akhirnya melihat bus-bus putih
dengan bendera Swedia datang. Itu
sungguh menakjubkan.
[Musik]
Dari pertengahan Maret hingga akhir
April 1945, konvoi panjang ini melintasi
jalan-jalan pedesaan menuju berbagai
kem-kem konsentrasi di Jerman. Pada
bulan April 1945, lebih dari 100 bus
putih dari Denmark ikut bergabung dalam
misi menyelamatkan ribuan tahanan dari
kematian. Namun dalam perjalanan pulang,
Natsi memerintahkan bus-bus itu untuk
berhenti di Cem No Neyengam, sebuah
mimpi buruk bagi mereka yang baru saja
dibebaskan. Hanya sedikit bus yang
berhasil menghindari perintah tersebut.
[Musik]
Kemenengame terkenal mengerikan.
Orang-orang Yahudi dari kem Teresian
Stad tidak mau berhenti di situ. Jadi
kami langsung pergi menuju Denmark.
Cem Noyan dekat Hamburg saat itu
berfungsi sebagai lokasi pengumpulan.
Namun kem itu sudah penuh sesak sehingga
pasukan SS menawarkan sebuah kesepakatan
keji.
Para pengemudi diminta memindahkan
beberapa tahanan dari Noengame untuk
memberi ruang bagi orang-orang
Skandinavia termasuk orang-orang yang
sakit parah dan rentan dari Belanda,
Belgia dan lainnya.
Orang-orang Swedia diberitahu bahwa jika
mereka ingin orang-orang Skandinavia ada
di sana, mereka harus membantu
menyingkirkan orang lain.
Selama 3 hari, para pengemudi menolak
tawaran itu. Namun, pemerintah Swedia di
Stockholm akhirnya memerintahkan mereka
menjalankannya.
Sejumlah pengemudi bus putih yang
terlibat dalam operasi ini menggambarkan
situasinya mengerikan.
Namun mereka tetap menjalankannya.
Mereka secara tidak langsung bertanggung
jawab atas kematian para tahanan selama
pemindahan.
Itulah sisi gelap dari misi bus ini
saya belum pernah melihat hal
mengengerikan itu seumur hidup saya.
Para tahanan berada dalam kondisi yang
sangat buruk.
Mereka menderita difteri, tifus, dan
penyakit lainnya.
Mereka sangat kelaparan.
Mereka hampir tidak bisa berjalan.
Kami harus menuntun mereka masuk ke
dalam bus.
Tentara Jerman terus menekan dan mencaci
mereka.
[Musik]
Kembali ke Copenhagen. Di jalan ini,
sebuah sinagog berada di bawah
pengawasan ketat polisi. Sejak serangan
teror tahun 2015,
Mariane bertemu sepupunya Carston di
sini. Sama seperti Mariane, ibu Carston
Iva juga ditahan di Cem Teresian Star.
Pada tahun 1943, penyisiran oleh Nazi di
Denmark sering terjadi. Banyak anggota
keluarga Rut dan Iva yang berhasil
menyelamatkan diri ke luar negeri,
tetapi mereka berdua gagal melarikan
diri.
Mereka lari ke Helsingor.
Jarak antara Helsingor dan Helsingborg
hanya 20 menit dengan perahu. Swedia
bisa terlihat dari sana. Ibu saya kenal
seseorang di Helsing War yang tinggal
bersama mereka. Mereka merasa sangat
aman.
Tapi ternyata ada seorang tentara Nazi
Denmark di sana.
Saat mereka pulang usianya mungkin 17
dan 22 tahun ya kalau tidak salah.
Pokoknya mereka ada di camp selama 1
seteng tahun.
Jadi mereka bisa saja sampai ke Swedia
lebih cepat ya, tapi jadinya 1 seteng
tahun lebih lama ya. 1 seteng tahun dan
itu menghancurkan hidup mereka.
Awalnya Rut dan Iva pergi berdansa di
sebuah kedai di kota pelabuhan
Helsinger.
Tiba-tiba seorang pria berseragam SS
keluar dari pintu. Seorang pria Denmark
bernama Paul Figer dengan imbalan 50
corona Denmark per kepala. Dia
melaporkan keduanya ke Gestapo setempat.
Setelah diinterogasi pada 13 Oktober
1943, mereka kemudian diangkut dalam
gerbong kereta ternak ke Cem Teresian
Stad bersama sekitar 450 orang Yahudi
Denmark lainnya.
Mereka tidak berhati-hati. Mereka tidak
menyadari bahwa mereka harus sangat
berhati-hati sehingga mereka pergi
keluar untuk sekedar bersenang-senang.
Mereka gadis-gadis yang sangat cantik,
bukan?
Nasib keluarga sahabat Mariane Charlote
Talmai mungkin sedikit lebih baik.
Sama seperti Mariane yang melakukan
napak tilas perjalanan ibunya, Charlote
juga melakukannya di kota Tragower di
Uun.
Di sepanjang pantai ini, hampir semua
orang Yahudi Denmark berhasil lari dari
pendudukan Jerman.
Mereka melarikan diri dengan
perahu-perahu yang meskipun kecil tapi
punya peran yang sangat penting.
Pada Oktober 1943, truk-truk penuh
pasukan Wermacht dan SS menyerbuk kota
pada malam hari.
Mereka diperintah untuk mengetuk sekali.
Namun seluruh penghuni permukiman Yahudi
di Kopenhagen telah pergi. Lampu-lampu
rumah masih menyala. Namun para
penghuninya telah melarikan diri ke
Swedia.
Pada musim gugur tahun 1943, tepatnya di
bulan Oktober, seorang pejabat Jerman
membocorkan informasi tentang deportasi
orang Yahudi Denmark ini.
Jadi, Rabiagog saat hari raya agung
mengimbau warga untuk bersembunyi dan
mencari transportasi.
Pemerintah Swedia bilang mereka bersedia
menampung semua orang Yahudi jika mereka
bisa sampai ke Swedia.
Orang-orang Yahudi Denmark mendapat
banyak bantuan saat itu, termasuk dari
para nelayan yang bertaruh nyawa demi
membantu mereka. Di atas kapal kecil
bernama Elisabeth ini, 70 pengungsi
mencapai Swedia dengan bersembunyi di
bawah ikan-ikan.
Di antara mereka adalah ayah Charlotte
Bentalm dan ibunya Yohan.
Ayah saya memakai semua bajunya. Karena
mereka tidak boleh membawa apapun.
Mereka harus meninggalkan semuanya. Jadi
mereka hanya bisa membawa barang yang
bisa dibawa di badan saja. Beberapa baju
mereka punya kantong yang diisi. Mungkin
dengan perhiasan dan peralatan makan.
Ayah saya memakai empat celana panjang
dan lima sweater. Dengan semua baju itu,
dia bilang jalannya jadi kayak
astronaut.
Ini adalah foto band bersama ayahnya
saat berusia 8 tahun. Kakek Sharlote itu
tetap tinggal di Denmark dan
bersembunyi.
Perjalanan mereka ke Swedia itu di awal
bulan Oktober yang sangat berangin. Ada
badai dan ombak tinggi. Jadi mereka
kedinginan dan di dalam kapal ini ada
ikan busuk dan belut yang masih hidup.
Setelah beberapa malam, sebagian besar
dari sekitar 8000 orang Yahudi yang
tinggal di Denmark berhasil
diselamatkan.
[Musik]
Ayah saya bilang udara di dalam sini
pengap. Semua orang takut dan sangat
tegang. Yang bikin saya sedih, dia
bercerita kalau waktu itu dia berusaha
mendapatkan perhatian ibunya agar merasa
tenang. Tapi tidak tega melakukannya
karena melihat ibunya juga takut dan
cemas.
Jadi, ayah saya hanya bisa duduk
sendiri, merasa benar-benar sendirian.
Ketika sampai di perairan internasional,
tepatnya di perairan antara Denmark dan
Swedia, terdengar suara yang bilang
uresun. Barulah semua orang tenang.
Orang-orang naik ke atas dan menyalakan
rokok. Itulah kebebasan. Bebas dari
ancaman kematian hanya karena menjadi
seorang Yahudi ke sebuah tempat yang
aman, Swedia.
Sweden.
Ayah Sarlote Bentalm dan ibunya
beruntung karena nakoda mereka.
Bahkan dalam gelap sekalipun, sang
nakoda berhasil menemukan arah.
Ketika mencapai perairan Swedia, sebuah
kapal perang kecil Swedia sudah
menunggu. Orang-orang dari kapal
kemudian dinaikkan ke kapal perang itu
lalu dibawa dengan selamat ke daratan.
Kapal penyapu ranjau M20 inilah yang
dioperasikan siang dan malam untuk
menyelamatkan orang-orang yang melarikan
diri. Meski operasi penyelamatan itu
sudah lama berakhir, kapalnya masih
digunakan hingga saat ini. Di Swedia,
hanya sedikit yang tahu tentang kiprah
kapal dari tahun 1943 itu.
Kapten kapal ingin mengubah hal itu.
Para penumpang kedinginan dan ketakutan
waktu itu. Sebagian besar naik ke kapal
saat tengah malam. Mereka bersyukur
diselamatkan.
Mereka diberi minuman hangat dan
selimut.
Para penumpang dirawat di bawah dek.
Beberapa berbaring di atas rakit, kano
atau kasur angin.
Mereka sangat membutuhkan bantuan.
pemerintah Swedia yang mengerahkan kami.
Tidak ada perintah resmi. Tetapi kami
paham
bukan karena kami diwajibkan
menyelamatkan mereka, tapi karena kami
memang bisa. Dan itulah yang kami
lakukan.
Itu adalah tugas kami.
Di Swedia, orang-orang masih
bertanya-tanya mengapa Denmark
menyelamatkan begitu banyak orang Yahudi
dari Nazi.
Kami tahu bahwa banyak prajurit Jerman
senang ditugaskan ke Denmark karena
dianggap sebagai front yang lebih nyaman
dibanding Rusia. Di mana mereka bisa
saling menembak di tengah salju.
Di sini setidaknya selama 3 tahun
pertama situasinya dimulai dengan
kesepakatan antara pemerintah Denmark
dan Nazi jadi mereka bisa bebas
berjalan-jalan dan menikmati tempat ini
lebih dulu.
Namun ketika mereka diperintah
menjadikan tempat ini Yuden Rine atau
bebas dari Yahudi, hal itu sudah
terwujud. Sudah ada yang melakukannya,
yaitu gerakan perlawanan dan para
nelayan. Orang Yahudi sudah keluar dari
Denmark, jadi tugasnya sudah selesai.
Mereka tidak perlu repot-repot
melakukannya. Begitulah salah satu cara
melihatnya.
Sudut pandang lain muncul dari
interogasi terhadap Ia dan Ruth, ibu dan
tante Mariana. Ada satu detail yang
terlupakan oleh keluarga sampai kemudian
Kakak Mariana mengingatnya di akhir
pembuatan film.
Ini kira-kira saat ibu saya dan kakaknya
ditangkap dan dibawa pergi dari
Helsingor.
Ada seorang polisi yang datang dan
membawa mereka. Seperti yang Anda lihat
di gambar ini, ibu saya Rut berambut
pirang dan kakaknya Eva berambut gelap.
Polisi itu bilang kepada ibu saya, "Kau
berambut pirang. Kau tidak terlihat
seperti orang Yahudi. Kau yakin seorang
Yahudi. Kau mungkin diadopsi. berasal
dari keluarga lain karena kakakmu
rambutnya gelap. Ibu saya menjawab,
"Tidak. Saya berasal dari keluarga yang
sama. Saya bukan anak adopsi. Saya
Yahudi."
Akhirnya ibu saya ikut kakaknya ke camp.
Intinya polisi itu tampaknya ingin
memberinya kesempatan untuk melarikan
diri.
[Musik]
Namun tawaran itu bagaikan tipuan.
Kakaknya yang berambut gelap pasti akan
dikirim ke kem. Pada akhirnya Iva dan
Rut tetap dekat seumur hidup mereka.
Keduanya menikah hampir bersamaan. Yang
satu tinggal di Swedia dan memiliki tiga
putri. Sementara yang lain kembali ke
Kopenhagen dan memiliki empat putra.
Meski keduanya meninggal dalam usia
muda, kisah mereka tetap hidup sebagai
bagian dari salah satu aksi penyelamatan
terbesar dalam sejarah. Hampir 20.000
orang, sebagian besar Yahudi berhasil
diselamatkan.
Banyak yang tetap tinggal di Swedia atau
Denmark. Sementara yang lain melanjutkan
hidup di Amerika Serikat atau Israel.
[Musik]