Meksiko: Perang kartel narkoba | DW Dokumenter
eGZAtT52Jcs • 2025-10-05
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Awal tahun 2025, tim relawan berupaya
mencari orang-orang hilang di Meksiko.
Diduga peternakan terpencil ini dipakai
kartel narkoba sebagai kem latihan dan
lokasi pembunuhan. Mereka menemukan
banyak jenazah dan barang pribadi
korban.
Foto-foto seperti ini terus bermunculan
di berbagai media internasional. Selama
puluhan tahun, kartel narkoba menguasai
Meksiko. Pemerintah tampak tak berdaya
dan terjerat dalam praktik korupsi.
Keluarga korban pun kehilangan
kepercayaan.
Kartel narkoba yang membuat aturan dan
pemerintah hanya membeo.
Geng narkoba Meksiko terhubung dalam
jaringan perdagangan global yang
membentang dari Amerika Selatan ke Asia,
Eropa, Timur Tengah, Afrika hingga
Oseania.
Meksiko jadi pusat operasi. Sementara
Amerika Serikat pasar utamanya.
Keuntungan miliaran dolar dari bisnis
narkoba memicu kekerasan di Meksiko dan
menambah angka kematian akibat narkoba
di Amerika Serikat.
Amerika Serikat mengancam Meksiko dengan
sanksi ekonomi, tetapi mengabaikan
peranannya sendiri dalam peredaran
narkoba. Bagaimana situasi ini bisa
menjadi begitu rumit?
Mexiko sudah puluhan tahun mencoba
menghentikan penyelundupan, kekerasan,
dan korupsi. Namun tak kunjung berhasil.
Kartel berkuasa dengan cara brutal.
Sementara narkoba terus diselundupkan
lewat terowongan, kontainer, dan tubuh
manusia.
Para gembong narkoba digambarkan sebagai
sosok anti pahlawan dalam serial narkos.
Keren dan seolah tak tersentuh. Bagi
warga Meksiko, ini bukan film fiksi,
tapi soal hidup dan mati. Siapa
sebenarnya dalang di balik jaringan
narkoba? Bagaimana mereka bisa
menghancurkan negara ini?
Meksiko adalah negara besar yang
strategis, kaya akan budaya, dan sangat
indah.
Di balik semua itu, Meksiko juga
menghadapi kesenjangan sosial yang
besar. Di wilayah yang paling miskin,
kartel narkoba merekrut anak-anak muda
dengan menjanjikan status dan kehidupan
yang lebih baik.
Penelitian tahun 2023 mencatat sekitar
185.000 orang masuk dalam rantai
perdagangan narkoba.
Jika kartel tersebut dianggap sebagai
perusahaan legal, mereka bisa menjadi
salah satu penyedia lapangan kerja
terbesar di negara itu. Bisnis ini
bahkan bisa menyumbang sekitar 2% dari
ekonomi negara.
Ini ibarat dunia paralel. Pabrik narkoba
bisa ditemukan di tengah kota, di tempat
orang beraktivitas.
Upaya memberantas kartel menelan biaya
sekitar 4,9 triliun peso pada tahun
2023.
Ini hampir 20% dari PDB.
Tijuana diawasi pemerintah dengan ketat.
Kota di perbatasan Meksiko Amerika
Serikat ini menjadi titik lintas
internasional paling sibuk sekaligus
pusat penyelundupan.
Narkoba diselundupkan ke Amerika
sementara senjata masuk ke Meksiko.
Peredaran barang ilegal dan aksi
kekerasan menjadikan Tihuana sebagai
salah satu kota paling berbahaya di
dunia.
Peta ini menunjukkan tingkat pembunuhan
di Meksiko pada tahun 2024. Makin gelap
warna merahnya, makin tinggi jumlah
kasus pembunuhan.
Desa kecil di jalur penyelundupan ini
dianggap sebagai area paling rawan.
Warga Dr. Kos dikejutkan oleh bentrokan
antar kartel narkoba yang beroperasi di
Novoleon. Teror menyebar dengan cepat.
Sepanjang tahun 2024 ada 15 pembunuhan
di dokter kos. Pada 2023 jumlahnya lebih
tinggi, 23 kasus. Desa ini menjadi
terkenal di seluruh negeri saat dua
kartel narkoba terlibat bentrokan besar
menggunakan belasan kendaraan lapis
bajarah kitan yang dikenal sebagai
narcoanks. Dr. Kos sudah lama jadi medan
perang antar geng bersenjata. Bangunan
balai kota dipenuhi bekas tembakan.
Meski perang terjadi tanpa lokasi
pertempuran yang pasti, korban jiwa
terus bertambah.
Setiap tahun rata-rata 30.000 orang
tewas atau sekitar 83 orang setiap hari.
Sejak tahun 2006, 400.000 orang telah
terbunuh. Korban jiwa sebanyak ini
biasanya ditemukan di zona perang.
Bagaimana keadaannya bisa seburuk ini?
Salah satu sebabnya adalah akses
terhadap senjata berkekuatan tinggi
seperti AK47, AR15, senjata kaliber 50
hingga granat. Mereka mengimpor senjata
jenis ini dalam jumlah besar. Jadi
mereka bukan cuma punya satu atau dua
senjata, tapi sebenarnya sudah bisa
membentuk milisi kecil.
Marco adalah peneliti di Universitas
Harvard.
yang mempelajari kejahatan terorganisir
di Meksiko.
Karena bisnisnya ilegal, mereka enggak
bisa mengandalkan negara.
Akibatnya, kekerasan atau setidaknya
ancaman dianggap jadi cara untuk menjaga
kesepakatan.
Mexico jadi sarang bagi banyak kartel
dan pedagang narkoba lokal. Jaringan
ilegal ini terdiri dari geng-geng yang
saling bersaing dan terus berubah akibat
perebutan kekuasaan dan munculnya
aliansi baru.
Dominasi didapatkan lewat kemampuan
mengendalikan jalur perdagangan narkoba.
Ini bukan sekedar rute penyelundupan,
tapi juga arena pertumpahan darah dan
kriminalitas.
Kartel mempertahankannya dengan cara
paling kejam.
Awal saya menghadapi situasi berbahaya
adalah saat meliput berita kriminal.
Fia punya podcast investigatif The Red
Note dan bekerja sebagai jurnalis
kriminal di surat kabar lokal di negara
bagian Guerrero. Kini ia hidup dalam
pengasingan di Berlin.
Salah satu cara mereka menunjukkan
kekuatan adalah dengan meninggalkan
potongan tubuh korban di jalanan.
bukan sekedar membunuh dengan satu
tembakan di kepala, tapi mereka punya
kemampuan untuk menghabisi seseorang dan
seolah berkata, "Kami bisa membunuhmu
berkali-kali dan mengirimkan jasadmu
kepada keluargamu sebagai hadiah."
Salah satu momen yang paling mengejutkan
bagi saya adalah ketika kami menemukan
sebuah kantong hitam berisi tubuh
manusia.
dibuang seperti sampah.
Tepat di sebelahnya, seorang ibu penjual
taco tetap berjualan seperti biasa
karena saat itu sudah pukul 10 pagi.
Semua orang tahu bahwa kejadian seperti
ini mempengaruhi cara pandang
masyarakat. Seolah ada ancaman tersirat.
Kalau kamu bergerak sedikit saja, kamu
bisa jadi korban berikutnya.
Menurut Reporters Without Borders,
Mexico sekarang jadi salah satu negara
paling berbahaya di dunia bagi jurnalis.
Meliput soal korupsi, kartil narkoba
atau pelanggaran HAM bisa berujung pada
kematian.
Banyak jurnalis hidup dalam ancaman
setiap hari. Sensor, intimidasi, dan
kekerasan sudah jadi bagian dari
kehidupan mereka.
Fania kini tinggal di Jerman karena
tidak lagi merasa aman di Mexico. Berkat
seorang whis blower dan grupis Guak
Maya, dia jadi tahu kalau alat pengintai
Pegasus diinstal di ponselnya tahun
2014. Fia ternyata sudah diawasi
bertahun-tahun karena liputannya
dianggap membahayakan kepentingan kartel
narkoba dan koruptor.
Saya baru tahu kalau ponsel saya diretas
pada tahun 2017.
Setelah muncul kebocoran data Guakamaya,
saya menyadari bahwa ternyata saya punya
profil khusus lengkap dengan foto, nama
hingga artikel-artikel saya.
Kalau saya saja sebagai jurnalis lokal
sudah masuk dalam catatan pihak
berwenang, bayangkan seberapa banyak
informasi yang mereka kumpulkan dan
siapa saja yang menyuplai data seperti
itu.
Dulu Meksiko dikenal sebagai negara
acuan di bidang ekonomi, budaya, dan
politik di Amerika Latin. Bagaimana
kekerasan bisa mengakar kuat di negara
ini?
Sejarah perang narkoba dimulai dari
pegunungan Sinaloa yang lebih dikenal
sebagai lumbung pangan Meksiko.
Sejak lama wilayah ini terisolasi dan
mengalami kemiskinan ekstrem Sinaloa
jauh dari jangkauan pemerintah. Pada
awal abad ke-20, opiung, terutama heroin
buatan buyer, pernah menjadi obat yang
umum digunakan. Ketika akhirnya
dilarang, jutaan warga Amerika sudah
terlanjur kecanduan.
Melihat peluang ini, para petani di
Sinalo diam-diam mulai menanam bunga
opium. Para bandar kemudian mengolahnya
menjadi heroin untuk diekspor.
Selama festival musik rock, ratusan
orang dilaporkan mengalami overdosis
narkoba dan mabuk berat.
Ganja mulai masuk ke peredaran dan pasar
gelap di Amerika membuat para bandar
narkoba Meksiko makin kaya.
Pada tahun 1960-an, saat ganja mulai
populer, Richard Nixon meluncurkan
kebijakan yang dikenal sebagai perang
terhadap narkoba.
Dibentuklah DEA. Badan Khusus Penegakan
Narkoba yang mulai menekan Meksiko untuk
rutin melakukan operasi pemberantasan
narkoba setiap tahun. Amerika Serikat
punya pengaruh besar
karena jadi mitra dagang utama Meksiko
dan kekuatan itu digunakan untuk
mendorong Meksiko mengikuti kebijakan
yang diinginkan.
Pertengahan tahun 1970-an, peredaran
narkoba makin tak terbendung. Saat itu
muncul jenis narkoba baru.
Kokin diproduksi di pegunungan Andes,
khususnya Colombia. Di sini Pablo
Escobar dan kartel Medein menguasai
seluruh pasar Kokain.
Kokain diselundupkan menggunakan kapal
dan pesawat dari Colombia melewati
wilayah Karibia lalu masuk ke Florida
Selatan, Amerika Serikat.
Namun otoritas anti narkoba membongkar
jalur penyelundupan ini.
Para penyelunduk dari Colombia mencari
rute darat yang baru lewat Meksiko.
Kartel dari kedua negara pun menjalin
kerja sama bisnis dengan sistem bagi
hasil.
Pada tahun 1990-an, kartel narkoba
Colombia mulai runtuh dan Pablo Escobar
tewas ditembak.
Sejumlah kartel baru di Meksiko
mengambil alih kekuasaan yang kosong.
Perang brutal antar kartel pun terjadi
demi menguasai jalur perdagangan
narkoba. Pemenggalan kepala,
pembantaian, dan baku tembak dengan
militer menjadi hal yang biasa terjadi.
Bagi pihak berwenang yang kewalahan
memberantas narkoba, inilah awal dari
perburuan yang tak kunjung berakhir.
Negara tampak tak berdaya.
Satu pihak yang sangat diuntungkan dari
situasi ini adalah Kartel Sinaloa
yang beroperasi di lebih dari 20 negara
bagian dan menguasai jalur penyelundupan
utama menuju Amerika Serikat.
Strukturnya yang terdesentralisasi
membuat aparat kesulitan untuk melacak.
Saat itu bosnya adalah El Chapo,
gembong narkoba paling berkuasa di
Meksiko dan ikon kejayaan sekaligus
kejatuhan kartel.
Ini adalah rekaman penangkapan
pertamanya pada tahun 1993.
Beberapa tahun kemudian, ia kabur dari
penjara dengan bersembunyi di keranjang
cucian.
Pelanggaran hukum makin meraja lela.
Pemerintah pun bertindak tegas.
Pada Desember 2006, Presiden Calderon
memulai perang melawan narkoba dengan
mengerahkan militer ke berbagai penjuru
negeri. Upaya melemahkan kartel
berhasil, tetapi gelombang kekerasan
justru meluas.
Meski pemerintah sudah berusaha
menghentikannya,
narkoba tetap bisa masuk ke Amerika
Serikat. Komplotan kriminal pun tetap
ada.
Mereka selalu menemukan cara untuk
mengakali kebijakan pemerintah yang
baru.
Saat pemerintah sibuk memerangi narkoba,
El Chapo justru menjalankan strategi
baru. Bermodal pengetahuan dari kampung
halamannya, Sinaloa yang merupakan
wilayah pertambangan tradisional, ia
menggali beberapa kilometer terowongan
yang menembus perbatasan Amerika
Serikat.
Terowongan itu membuat pengawasan di
perbatasan jadi tidak efektif.
Bahkan setelah El Chapo ditangkap
kembali pada tahun 2014, anak buahnya
menggali terowongan dari luar penjara
menuju selnya.
Pada 11 Juli 2015 malam, El Chapo
berhasil kabur.
Inilah saat Hoakin Elchapo Guzman
mempermalukan pemerintah Meksiko.
Gembong narkoba paling berkuasa di dunia
menghilang tanpa jejak di bawah
pengawasan pemerintah. Satu-satunya
bukti yang tersisa hanyalah rekaman TV
ini. Semuanya bungkam.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Catatan pengadilan mengungkap kartel
seperti Sinaloa punya anggaran jutaan
dolar per bulan khusus untuk menyuap
lembaga pemerintah.
Beginilah cara kerja sistem Elchapo.
Pejabat di level bawah disuap untuk
membuka jalan bagi penyelundupan
narkoba.
Sementara penyelidikan di tingkat atas
dihalangi.
Uang dalam jumlah besar juga mengalir ke
politisi, hakim, dan aparat militer
untuk melindungi kartel.
Suap juga diberikan kepada bank, media,
dan pelaku bisnis untuk memperluas
pengaruh kartel di masyarakat.
Jaringan seperti ini mengamankan
dominasi kartel Sinaloa selama
bertahun-tahun.
Baru pada 2014, jejaring korupsi ini
terbongkar ke publik.
Momen terakhir mahasiswa keguruan dari
Desa Ayot Sinapa terekam dalam video
ini.
Pada 26 September 2014, mereka diculik
oleh polisi saat dalam perjalanan menuju
aksi unjuk rasa di Mexico City.
Tak lama berselang, mereka diserahkan
kepada kelompok kartel.
43 mahasiswa dinyatakan hilang.
Tak butuh waktu lama. Bukti menunjukkan
keterlibatan mantan walikota dan
istrinya yang kini menjabat sebagai
walikota.
Satuan militer dan kepolisian setempat
juga terlibat.
Bagi sebagian besar masyarakat Meksiko,
ini adalah momen yang menggugah
kesadaran.
Orang-orang mulai berunjuk rasa. Mereka
berempati karena yang jadi korban adalah
mahasiswa.
Jurnalis dan aktivis yang mencoba
mengungkap kasus ini mendapat ancaman
sementara pihak berwenang menyebarkan
informasi palsu. Masyarakat
berdemonstrasi menyerukan Fue El Estado
ini ulah negara.
El Chapo kembali ditangkap pada tahun
2016. Kali ini ia diekstradisi ke
Amerika Serikat demi alasan keamanan.
Namun kartel Sinaloa sudah lama tidak
lagi dikendalikan dari satu titik.
Sindikat ini bertambah kuat karena
dipimpin orang-orang dan modus operandi
baru serta area bisnis yang lebih luas.
Setelah El Chapo tidak lagi berkuasa,
estafet kepemimpinan diambil alih
putranya, Ovidio Gusman Lopez. Dalam
video ini, Ovideo ditangkap setelah
polisi menemukannya secara tidak sengaja
pada 2019.
Penangkapan itu langsung memicu
kekacauan besar. Rekaman ini menunjukkan
ibu kota Sinaloa kuliahkan berubah jadi
medan perang. Pasukan kartel melancarkan
serangan di berbagai daerah dan memaksa
pembebasan Ovidio.
Pada akhirnya pemerintah terpaksa
mengalah. Presiden Meksiko secara
langsung memerintahkan agar Ovideo
dibebaskan.
Jelas bahwa kartel mampu menggunakan
kekerasan sebagai alat tawar yang sangat
kuat.
Peristiwa ini juga secara gamblang
memperlihatkan lemahnya kebijakan
pemerintah serta besarnya kekuatan
kartel baik dari segi senjata maupun
jumlah orang yang mereka kerahkan.
Perebutan kekuasaan yang sengit dan
tanpa ampun.
Bagi banyak warga Meksiko, kekerasan
sudah jadi hal biasa.
Baku tembak bisa terjadi kapan saja dan
siapapun bisa jadi korban.
Dulu kami hidup tenang, tidak ada
kejahatan saat itu.
Selama bertahun-tahun, Maria dan Haier
Barhaspinya terus memperjuangkan
keadilan untuk dua anak mereka yang
dibunuh.
Pagi itu, 29 Februari 2020, mereka
sedang beribadah di gereja. Sementara
putri mereka Lupita pergi berbelanja di
pusat kota Salvetiara.
Saat itu pukul 10.30 lalu pukul 11 saya
mulai menelepon tapi dia tidak angkat
telepon atau balas pesan saya.
Mereka melaporkan putrinya yang berusia
32 tahun hilang, tapi polisi lambat
menyelidiki.
Keluarga pun memutuskan untuk mencari
Lupita sendiri.
Kasus seperti ini terus berulang.
Lebih dari 125.000 orang hilang akibat
direkrut paksa, perdagangan manusia,
korban salah sasaran.
Mereka yang hilang seringnya hanyalah
orang yang kebetulan berada di tempat
dan waktu yang salah.
Orang-orang ini punya trauma yang sama,
kehilangan anak, suami, atau teman.
Mereka menusukkan batang logam ke tanah
dan mengendus bau jasad yang terkubur.
Keluarga Barahas Haspinya akhirnya
menemukan putri mereka. Pada Oktober
2020, sebuah kuburan massal ditemukan di
tengah kota Salvetiera. Salah satu
jenazah yang ditemukan adalah Lupita.
Saya tidak pernah menyangka begitu
banyak orang yang hilang. Di kuburan itu
saja ada 80 orang dan masih banyak yang
belum ditemukan. Tidak ada yang berani
bicara karena semua orang takut.
Namun cobaan belum berhenti di situ.
Putra mereka Fransisco, seorang
pengacara mulai menyelidiki sendiri dan
akhirnya tewas.
Ia dibunuh secara brutal di pusat kota
Salvetiera. Tempat adiknya Lupita dulu
menghilang.
Kami sudah seperti mayat hidup.
Kami kehilangan segalanya sejak anak
kami dibunuh.
Kami terus mencari kebenaran dan
keadilan hingga ke penjuru negeri.
Karena yang berkuasa bukan pemerintah,
melainkan para penjahat.
Selama puluhan tahun, konflik di Meksiko
terus memburuk. Kini situasinya semakin
mengkhawatirkan.
Ventanil, narkoba sintetis yang
mematikan sudah mendominasi pasar sejak
awal 2010-an.
Biaya produksinya sangat murah,
untungnya besar, tapi dampaknya sangat
mematikan.
Bahan kimia untuk membuat fentanil masuk
ke Meksiko dengan label palsu atau
disamarkan diimpor melalui perusahaan
fiktif, terutama dari Cina.
Bahan baku tersebut ada juga yang
dipindahkan di luar pelabuhan di
perairan dangkal yang tidak bisa
dijangkau kapal penjaga pantai.
Banyak kartel merasa aman bahkan sampai
berani memamerkannya di televisi.
Mereka memproduksi fentanil dengan cara
yang sederhana tapi hasilnya sangat
mematikan. Sekali produksi cukup untuk
membunuh ribuan orang.
Kalau pengiriman ventanil gagal, mereka
rugi besar. Bahkan mereka bisa berhutang
jutaan dolar ke pihak lain.
Karena itulah mereka mulai memberi
insentif kepada kelompok kriminal untuk
menggunakan kekerasan yang makin brutal.
Makin kuat jenis narkobanya, makin besar
keuntungannya.
Namun kekerasan makin tak terkendali.
Saatnya Meksiko melakukan perubahan
besar.
Pada 2018, Presiden Lopez Obrador
mencetuskan slogan Abrazos Nobalazos
yang artinya pelukan bukan peluru.
Prioritasnya adalah pendidikan dan
penciptaan lapangan kerja, bukan operasi
militer.
Namun perdamaian sulit tercapai karena
bertentangan dengan kepentingan kartel
yang sudah lama menguasai segalanya.
Dengan mengatakan kami memilih untuk
tidak menindak mereka secara langsung,
itu justru memberi ruang bagi kartel
untuk makin bebas menindas siapa saja
karena mereka tidak ditangkap.
Sementara strategi keamanan jangka
panjang Mexiko belum efektif, tekanan
dari Amerika Serikat terus meningkat.
Meksiko disalahkan atas lonjakan
peredaran Ventanil.
Pemerintahan Trump sedang
mempertimbangkan penggunaan serangan
drone terhadap kartel yang mengimpor
Ventanil.
Saat Donald Trump kembali jadi presiden
tahun 2025, ia langsung menetapkan enam
kartel narkoba sebagai kelompok teroris
asing.
Langkah ini memungkinkan Amerika Serikat
untuk mengirim pasukan ke Meksiko.
Intervensi mungkin bisa terjadi, tapi
itu bisa menimbulkan pertanyaan besar
soal kedaulatan suatu negara.
Presiden perempuan pertama Meksiko ini
berusaha menghindari konflik terbuka
dengan Amerika Serikat.
Pada Februari 2025, ia mengirimkan
isyarat perdamaian.
Claudia menyerahkan karo Quintero, salah
satu gembong narkoba paling dicari
selama 40 tahun kepada Amerika Serikat.
Karo tidak sendiri. Meksiko
mengekstradisi total 29 bos kartel ke
Amerika Serikat.
Apakah ini akhir dari kekerasan?
Kris narkoba di Meksiko hanya bisa
dihentikan kalau Amerika Serikat dan
negara-negara lain yang jadi konsumen
ikut bertanggung jawab.
Masyarakat sudah lelah. Mereka ingin
hidup tenang dan aman.
Harus ada keadilan di negeri ini. Selama
hukum belum ditegakkan.
Kita tidak akan bisa hidup aman dan
damai di manaun.
Mexiko butuh reformasi besar-besaran,
butuh kerja sama internasional untuk
memberantas pasar gelap dan aliran uang
ilegal. Hanya dengan cara itu, siklus
kekerasan dan perang narkoba bisa
diputus.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:12:57 UTC
Categories
Manage