Transcript
DxT74xPCZ0Q • Neanderthal dan manusia modern | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0070_DxT74xPCZ0Q.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Neandertal dan Homo Sapiens. Bagaimana
kehidupan mereka dulu dan bagaimana
mereka bertemu?
Ini menunjukkan terjadinya kanibalisme.
Apa mereka dibunuh Neandertal setempat?
Jika kita urutkan DNA manusia yang hidup
saat ini, bisa dilihat semua orang di
luar Afrika membawa sekitar 2 hingga 5%
fragmen DNA neandertal dalam diri
mereka.
Neandertal, kerabat terdekat manusia
modern. Mereka telah punah selama lebih
dari 30.000 tahun. Apa peran manusia
modern dalam kepnahan mereka?
[Musik]
Beberapa gua di tebing kapur Swebision
Alp di Jerman menunjukkan jejak
kehidupan manusia zaman batu baik Homo
sapiens maupun neandertal.
[Musik]
Peneliti dari University of Tubingen
melakukan penggalian di Gua Holofels
atau batu berongga selama lebih dari 45
tahun. Para arkeolog dan antropolog ini
menemukan sesuatu yang sangat menarik
dari masa puluhan ribu tahun lampau. Not
ag
belum lama ini saya mendapatkan gelar
master di Universitas Gracou Polandia
dan saya paling tertarik dengan
Neandertaal.
Mereka spesies atau subspesies terdekat
dengan kita. Dan saya ingin tahu apa
yang sebenarnya berbeda. Sejauh mana
kita ingin dilihat berbeda dari mereka
dan bagaimana kita mendefinisikan
manusia.
Kami sedang menggali sejarah. Kami
mencoba menemukan artefak manusia modern
awal dan di sana rekan-rekan saya
mencari artefak neandertal. Kami ingin
tahu apa yang terjadi pada Neandertal
dan cara mereka hidup. Katanya
Neandertal hanya memakan daging hewan
buruan besar. Namun di sini kita lihat
mereka juga berburu mamalia kecil dan
mereka juga makan ikan.
Hingga kini perairan yang kayak ikan
masih berada di dekat gua ini. Ikan-ikan
itu tidak mungkin tiba-tiba masuk ke
gua. Tulang-tulang hewan ini pastinya
ditinggalkan manusia dari sisa makanan
mereka.
Ini memberi kita gambaran tentang diet
neandertal lebih dari 40.000 tahun lalu.
Setidaknya di daerah Swedebision Alp.
Kami hanya bisa membuat pernyataan yang
sifatnya regional. Yang kami temukan di
sini sangat berbeda dengan yang
ditemukan di Prancis. di mana ada bukti
terjadinya transisi langsung ke manusia
modern atau bahkan ada lapisan tanah
yang terus berbeda.
Di desa kecil di Prancis ini, sekelompok
arkeolog dari University of Bordeau
sedang menggali sebuah situs penting.
Situs ini dulunya digunakan oleh
Neandertal sebagai tempat tinggal.
Tahun 1979, arkeolog Franois Lefk
menemukan tulang-tulang neendertal di
sini. Sejak saat itu, para arkeolog
terus berupaya mengungkap area yang
lebih luas lagi. Berharap bisa
mempelajari lebih banyak lagi tentang
Neandertal.
Namun mereka belum seberuntung tim
Levec.
Mereka menemukan sisa-sisa neandertal.
Itu adalah salah satu temuan neandertal
terbaru di Prancis dalam kondisi
terawetkan lengkap.
Kita bisa melihat ada tengkorak, tulang
tangan, tulang kaki. Banyak tulang yang
terawetkan. Itu sangat luar biasa.
Dalam kondisi terawetkan seperti ini,
tengkorak tersebut dapat dirangkai dari
fragmen-fragmennya.
[Musik]
Dan berdasarkan bentuk tengkoraknya,
antropolog forensik bahkan mampu
merekonstruksi wajah perempuan
neandertal ini.
[Musik]
Penampilannya mirip dengan manusia yang
hidup saat ini.
[Musik]
Di Maxplang Institute for Evolutionary
Antropology di Leipsei, Philip Guns
meniti kesamaan manusia modern dengan
Neandert.
Nenek moyang manusia modern dan
Neandertal yang paling tidak
diperdebatkan adalah Homo Erectus.
Para pemburu yang beradaptasi dengan
baik di Afrika dan Asia.
Fosil homo erectus tertua berusia
sekitar 2 juta tahun.
Spesies ini berasal dari Afrika dan
membentuk koloni di Eropa.
Manusia purba ini secara bertahap
berubah selama ribuan generasi.
Tengkorak mereka menjadi lebih besar dan
lebih panjang lalu menjadi neandertal.
[Musik]
Namun evolusi homo erectus di Afrika
berbeda. Tengkoraknya jadi lebih bulat.
Dahi dan wajah lebih lurus. Hasilnya
Homo sapiens.
Dengan adanya temuan ini, Neandertal
tidak lagi bisa dianggap nenek moyang
Eropa dan Afrika adalah tempat lahirnya
umat manusia. Hampir tidak ada yang
percaya skenario ini 40 tahun lalu.
Saat itu ilmuwan muda dari Inggris
mendobrak pandangan yang waktu itu
dianggap umum.
Kini ilmuwan bernama Chris Tringer itu
memimpin riset asal-usul manusia di
Natural History Museum di London dan
menjadi salah satu pakar evolusi
manusia.
Saya mulai mengembangkan gagasan bahwa
Niandertal bukanlah nenek moyang kita
sejak menempuh PhD. Ketika mengamati
potongan kecil DNA yang diwariskan dari
ibu ke anak perempuannya. Dan ketika
data modern dari seluruh dunia
digabungkan untuk membentuk pohon
evolusi, semuanya menunjukkan bahwa
keseluruhan DNA mitokondria dapat
ditelusuri kembali ke Afrika. Jadi pada
tahun 1988 saya dan Peter Andrews
menerbitkan makalah yang membahas bukti
genetika dan fosil untuk asal-usul Homo
Sapiens. Jadi itulah penjelasan rinci
pertama dari data genetik dan fosil yang
mendukung asal-usul manusia dari Afrika
dulu itu sangat kontroversial.
Teori stringer ini bersifat
revolusioner.
Para antropolog sebelumnya berasumsi
bahwa manusia berasal dari Eropa atau
Asia.
Riset pun menjadi rumit karena beberapa
jenis manusia juga hidup pada waktu yang
sama.
[Musik]
Ketika Homo sapiens pergi dari Afrika
untuk menjelajahi dunia lebih dari
150.000 tahun lalu mereka bertemu dengan
kerabat yang berbeda.
Ada Niandertal di Eropa,
[Musik]
Denisova di Asia Utara
[Musik]
dan Homo Erectus di Asia Tenggara yang
pertama kali muncul di Afrika sekitar 2
juta tahun silam.
Dan itu belum semuanya. Pulau Flores di
Indonesia dan pulau Luzon di Filipina
adalah tempat berasalnya spesies-spesies
luar biasa. Tinggi spesies dewasa di
Flores hanya 1 m. Semuanya telah lama
punah. Hanya kita Homo sapiens yang
bertahan.
Mengapa
para peneliti berharap menemukan
jawabannya dari artefak dan tulang?
Apakah Homo sapiens dan Neandertal
menjalani hidup yang sangat berbeda? Apa
yang dimakan di area yang kini disebut
Prancis?
[Musik]
Ini adalah gigi kuda. Berkat temuan ini,
kami bisa menemukan koneksi peralatan
batu dengan hewan yang ditemukan dan
menyimpulkan bahwa ini mungkin bagian
dari aktivitas manusia.
Mereka berburu, memproses hasil buruan,
dan mengambil dagingnya untuk dimakan.
to extract the meat, obviously to eat.
Tapi bagaimana para peneliti tahu bahwa
kuda itu hasil buruan? Bisa saja kuda
itu memang mati di dalam gua.
Kami menemukan sejumlah goresan buatan
manusia di tulang-tulang ini
dan ada bekas yang sangat kecil di sini.
goresan alat batu untuk mengambil
dagingnya untuk dimakan.
Hasil rekonstruksi arkeolog
eksperimental Rudy Walter membuktikan
bahwa goresan itu memang berasal dari
peralatan batu.
Dia merekayasa jejak luka yang ditemukan
para arkeolog dan seringkiali berhasil
menunjukkan bahwa jejak dari rekayasanya
sesuai dengan yang dibuat 40.000 tahun
lalu.
Mereka tidak hanya mengambil dagingnya,
tapi benar-benar memanfaatkan semuanya.
Bahkan kuku hewan itu. Terkadang ada
bekas sayatan pada tulang. Tulang ini
bisa dibuat kerincingan atau perhiasan.
Mereka juga memanfaatkan kulit dan bulu
hewan untuk pakaian, tenda, dan panci
masak.
Kulitnya juga bisa untuk memasak. Tendon
yang menempel di tulang dikeringkan lalu
dijadikan serat.
Tendon-tendon ini bisa dijadikan benang
yang sangat kuat dan tidak mudah sobek.
Penelitian ini terus menghasilkan
penemuan, hipotesis, dan uji coba
praktis.
Para peneliti dari berbagai daerah juga
saling membantu dengan berbagi
pengetahuan yang mereka pelajari dari
konvensi seperti di Ohus Denmark.
Martina Leh dari University of Tubingen
menyampaikan penemuan menakjubkannya
dari Holofels.
Temuan ini berasal dari sekitar 60.000
tahun lalu, sekitar 20.000 tahun lebih
tua dari yang kami perkirakan. Sehingga
menunjukkan bahwa hal ini berkaitan
dengan Neandertal.
Jadi pandangan bahwa Neandertal tidak
mampu menciptakan alat semacam ini tanpa
pengaruh Homo sapiens harus ditinggalkan
karena itu menunjukkan bahwa kita tidak
memahami neandertal.
Mereka bisa jadi lebih kompleks daripada
yang diperkirakan.
Jika bukan dari Homo Sapiens, lalu alat
apa yang saat itu mereka pakai?
Petunjuknya ada di Gua Sibudu, Afrika
Selatan.
Tim dari University of Cubingen sedang
menuju lokasi ekskavasi. Namun
perjalanannya tidak mudah.
[Musik]
Para peneliti harus melewati sungai
tanpa jembatan
lalu mendaki setelah menyeberangi sungai
itu.
[Musik]
Namun upaya ini sepadan.
Manusia telah menetap di bawah tebing
batu ini selama 45.000 tahun terakhir.
Mereka meninggalkan segudang harta karun
bagi para arkeolog.
[Musik]
Banyak yang bisa digali di Sibodo. Kami
punya ember-ember sedimen kurang dari 10
liter yang berisi 2000 artefak batu.
Temuan di sini sangat banyak.
[Musik]
Banyak dari temuan ini berupa potongan
batu yang diruncingkan.
Beberapa bahkan menunjukkan
potongan-potongan ini pernah ditempelkan
pada anak panah dan tombak.
Ini adalah benda yang kemungkinan besar
ditempelkan dengan menggunakan lemer.
Erer.
Pembuatan lem ini butuh perencanaan dan
sejumlah tahapan pasti.
Mengetahui resep tepat dari lem-lemat
penting.
Menguji resep semacam itu adalah
spesialisasi Rudy Walter. Dia hanya
menggunakan bahan-bahan yang ditemukan
pada batu runcing untuk menciptakan
kembali lem itu.
Di Afrika Selatan di Sibudu, kami
menemukan sisa material merah di
bebatuan runcing.
Ternyata itu campuran lilin lebah, resin
pohon, dan kapur merah.
Semua itu dipanaskan di atas api dan
menghasilkan campuran kental dan lengket
yang mengeras saat mendingin. Cocok
untuk menempelkan batu runcing ke batang
kayu.
[Musik]
Walter mengikat tombak itu dengan tali
agar lebih kokoh.
[Musik]
Tombak mungkin merupakan senjata berburu
terpenting zaman batu.
Tombak mengalami kemajuan penting
sekitar 18.000 tahun lalu dengan
tambahan alat yang disebut atlat. Dengan
tambahan mirip tuas ini, tombak dapat
dilempar lebih cepat dan lebih jauh.
[Musik]
Perbandingan ini menunjukkan perbedaan
antara tombak yang dilempar dengan
tangan kosong dan tombak yang dilempar
dengan atlat.
[Musik]
Jaraknya lebih jauh dua kali lipat.
Apakah Homo Sapiens mengalahkan
Neendertal saat berburu berkat senjata
yang lebih canggih?
atau justru mereka menyerang langsung
Neandertal.
Temuan dari Belgia menunjukkan memang
pernah terjadi konflik mematikan antara
berbagai jenis manusia di zaman batu.
Kami menemukan tulang-tulang neandertal
dengan tanda-tanda itu.
Tulang-tulang itu telah dikelupas
dagingnya dan dipatahkan untuk diambil
sumsumnya.
Kami membandingkan jejak di
tulang-tulang ini dengan jejak di tulang
hewan dan melihat kesamaannya.
Jadi, kami tahu bahwa tulang neandertal
melewati proses sama seperti hewan yang
mereka makan di tempat-tempat ini.
Ini adalah pertanda kanibalisme.
Tulang-tulang ini ditemukan di Gua Goye
di Belgia. tempat ditemukannya tulang
neandertal.
Tidak semuanya menunjukkan tanda-tanda
pembunuhan. Para peneliti kemudian
mengamati isotop dari tulang itu untuk
menentukan perbedaannya.
Isotop membantu Sarah Pederzani
menentukan asal bebatuan atau tulang
tertentu.
Isotop hanyalah dua versi dari unsur
kimia yang sama.
Contohnya karbon. Unsur kimianya
memiliki semacam kakak dan adik dan bisa
ditemukan di mana-mana. Ada isotop
berbeda dalam diri saya dan ada isotop
berbeda di batu yang saya duduki.
Ini juga berlaku untuk unsur lain
seperti strontium atau belerang yang
rasio isotopnya berbeda di tiap tempat.
Setiap orang menyerap isotop dari air
minum dan makanan. Selama tulang dan
gigi tumbuh, isotop ikut terserap dan
terlarut di dalamnya. Jadi kita bisa
tahu tempat seseorang tumbuh besar dari
isotopnya. Tidak masalah sejauh apa ia
kemudian pindah. Tulang dapat digunakan
untuk merekonstruksi apakah manusia
tumbuh dan meninggal di tempat yang sama
atau tidak.
Isotop mencerminkan geologi suatu
wilayah. Unsur-unsur ini larut dari
batuan ke dalam air minum dan terserap
ke tulang meninggalkan semacam penanda
khas suatu wilayah.
[Musik]
Analisis isotop dapat mengidentifikasi
asal-usul neandertal Guagoye.
Banyak yang berasal dari wilayah Belgia
saat ini, namun tidak semuanya.
Menariknya ini adalah fosil dengan
bekas-bekas sayatan di tulangnya.
Dari situ bisa dilihat bahwa telah
terjadi suatu bentuk kanibalisme pada
individu yang berasal dari tempat lain.
[Musik]
Analisis isotop memang membantu kita
dalam melengkapi silsilah keluarga.
Namun, analisis genetika dapat
memberikan informasi yang lebih akurat.
Kita sekarang punya genom utuh dan
berkualitas tinggi dari beberapa neanal.
Itu memperkuat bukti hubungan dekat kita
dengan mereka. Ini menunjukkan bahwa
kita punya nenek moyang yang sama dengan
mereka sekitar 600.000 tahun lalu.
Hebatnya, meski berpisah jalan 600.000
tahun lalu, kita selalu bertemu dengan
mereka dari waktu ke waktu lewat
perkawinan silang. Jadi setiap orang di
sekitar kita saat ini punya sedikit DNA
tertal dalam diri mereka.
Tapi bagaimana cara mendapatkan DNA
neandertal? Proses ini kian sulit
seiring bertambahnya usia tulang.
[Musik]
Di dalam tulang-tulang keras ini, DNA
terlindungi dari efek bakteri atau
kontaminan lainnya.
Beberapa materi organik masih ada.
Fosil yang sudah membatu sepenuhnya yang
berusia 1 sampai 2 juta tahun. sayangnya
tidak lagi mengandung DNA.
Namun tulang yang berusia 200.000 tahun
dan berada di dalam gua ini seperti
lemari es alami terkadang masih
mengandung cukup DNA untuk diekstraksi.
Untuk mengekstrak DNA, sebuah lubang
kecil dibor ke dalam tulang.
Serbuk tulang halus yang dihasilkan lalu
dicampur dengan bermacam larutan kimia.
Tujuannya agar hanya tersisa DNA murni.
[Musik]
Analisis DNA sebagian besar dilakukan
secara otomatis. Mesin PCR memperbanyak
DNA di dalam sampel agar tersedia cukup
bahan genetik untuk dianalisis.
[Musik]
Pelat kaca ini dilapisi molekul yang
dapat mengikat fragmen DNA.
Larutan yang mengandung sampel DNA
melewatinya dan DNA akan terikat di atas
kaca.
Semacam pola bergaris akan terbentuk
pada plat kaca karena fragmen DNA
tertentu hanya menempel di tempat
tertentu.
Mesin dapat mengenali pola ini pada plat
kaca.
Lalu, mesin ini mencari letak keempat
zat kimia dasar DNA yang memungkinkan
komputer untuk menguraikan dan
menampilkan sekuens DNA sebagai
rangkaian huruf.
[Musik]
Penemuan fragmen DNA yang kini dapat
diekstraksi dari tulang neandertal yang
berusia lebih dari 50.000 tahun adalah
sebuah terobosan.
Ini pencapaian besar bagi rekan-rekan
saya di Max Plank Institute. Karena
temuan ini menerima hadiah Nobel. Temuan
ini antara lain memungkinkan kita
memahami lebih baik hubungan antara
berbagai jenis manusia.
Berkat temuan inovatif di Maxplang
Institute di Leipsei, perbedaan dalam
urutan DNA neandertal dan manusia modern
benar-benar dapat ditentukan dengan
tepat.
[Musik]
Jika kita urutkan DNA manusia yang hidup
saat ini, neandertal dan manusia modern
memiliki genom yang sangat berbeda,
tetapi kita berkerabat dekat. Begitu
dekatnya hingga rekan-rekan saya mampu
menunjukkan bahwa manusia modern dan
neandertal dapat melakukan perkawinan
silang.
Pertemuan-pertemuan awal manusia modern
dan neandertal tidak selalu penuh
kekerasan.
Kedua spesies ini juga pernah kawin dan
meninggalkan jejak genetika yang masih
ditemukan dalam DNA orang Eropa modern.
Namun tidak demikian dengan DNA
mayoritas orang Afrika.
Alasan tidak lagi atau hampir tidak
ditemukan fragmen neandertal pada orang
di Afrika saat ini, yaitu karena
percampuran ini terjadi di luar Afrika.
Wilayah Israel dulunya adalah tempat
percampuran. Di sana terdapat bukti
fosil neandertal dan homo sapiens
juga di sejumlah wilayah Asia dan bahkan
mungkin Eropa Tengah.
Namun saat ini belum diketahui ada
Neandertal yang pernah hidup di Afrika
dan melakukan kawin silang.
Kanan.
Manusia modern pertama yang tiba di
Eropa dari Afrika sekitar 50.000 tahun
lalu berulang kali kawin dengan
Neandertal dan mewariskan gen mereka ke
generasi berikutnya.
Namun semakin jauh Homo Sapiens
menyebar, semakin cepat pula Neandertal
punah hanya menyisakan kita. Apakah kita
bertanggung jawab atas punahnya mereka?
Homo sapiens kemudian tiba di Eropa dan
Neandertal punah beberapa ribu tahun
kemudian.
Untuk waktu yang lama diyakini bahwa ini
terjadi karena konflik mirip perang.
Namun ini sangat tidak mungkin
menyebabkan punahnya niantal.
Padatan populasi di Eropa pada zaman
Esat rendah. Mungkin sekitar 100.000
orang yang tersebar di seluruh Eropa.
Sulit membayangkan mereka saling
membunuh baik lewat pertempuran,
penyakit menular, maupun perebutan
sumber makanan.
Genetika mereka memberitahu kita bahwa
neandertal berkontribusi bagi manusia
yang hidup saat ini.
Dan ini berarti Neandertal terserap ke
dalam populasi Homo sapiens.
Dengan kata lain, jumlah neandertal
secara signifikan lebih sedikit sehingga
melebur ke populasi homo sapiens yang
jauh lebih banyak.
Kita tidak berevolusi dari Neandertal.
Mereka tidak berubah menjadi kita, tapi
mereka adalah bagian nenek moyang kita.
Jadi ini semacam paradoks. Kita tidak
berevolusi dari mereka, tapi mereka
nenek moyang kita.
Mengetahui bahwa neertal punah bukan
karena kekerasan. Itu cukup melegakan.
Mereka melebur jadi bagian dari gen
kita. Neal bukannya punah. Gen mereka
tercampur dengan banyaknya jumlah Homo
sapiens.
Begitulah teorinya.
Banyak pertanyaan yang masih belum
terjawab. Sejarah awal umat manusia
memang selalu menarik untuk dibahas.
[Musik]