Transcript
v93EdbAd6QY • Senjata perang: Kekerasan seksual terhadap pria | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0071_v93EdbAd6QY.txt
Kind: captions Language: id Selama ada perang, kekerasan seksual sering digunakan sebagai senjata. Tidak hanya menargetkan perempuan, tapi juga laki-laki. Praktik itu dapat menghancurkan musuh tanpa harus membunuh. Kekerasan seksual adalah sebuah kejahatan perang. senjata yang efektif dan topik yang tabu. Korban laki-laki pertama yang menuntut keadilan di pengadilan adalah para penyintas perang Bosnia. Di wilayah konflik di Afrika, para penyintas kekerasan seksual juga mulai bersuara. Namun, para pelaku belum dimintai pertanggungjawaban. [Musik] Di Ukraina, pasukan Rusia memperkosa tawanan laki-laki. Di wilayah yang direbut kembali oleh tentara Ukraina, para penyelidik menemukan bukti mengerikan atas kejahatan tersebut. [Musik] Mereka memperkosa saya selama 3 hari. Saya merasa semua orang tahu apa yang terjadi pada saya. [Musik] Mereka bilang kau akan kami kebiri sekarang. [Musik] Dua laki-laki asal Ukraina ini, Oleksi dan Roman memilih membagikan kisah mereka. Itu tidak mudah. Mengingat laki-laki yang pernah mengalami kekerasan seksual kerap menghadapi trauma, prasangka, dan kurangnya pengertian dari masyarakat. Kota Herson di Ukraina ini masih terasa seperti kota hantu. Pada November 2022, pasukan Rusia mundur dari kota ini setelah pendudukan selama 8 bulan. Dari 280.000 orang penduduknya, hanya sekitar 40.000 orang yang tersisa. Roman salah satunya. Dia kini bekerja membantu saudarinya mengelola toko kelontong kecil di pinggiran kota. Sebelum perang, dia bekerja sebagai sopir taksi. Namun aksi perlawanan kecil yang dilakukannya membuatnya jadi target pasukan Rusia. Dia melihat dirinya sebagai penyintas, bukan korban. Tidak ada alasan bagi saya untuk bersembunyi atau merasa malu. Saya tidak malu akan apapun. Kita harus membicarakannya. Karena ada banyak orang bahkan di Ukraina yang tidak mau tahu realita perang seperti apa. [Musik] Teman Roman Oleksi juga ditangkap oleh militer Rusia. [Musik] Dia sebelumnya bekerja sebagai pelaut. Ketika perang pecah, dia baru saja kembali dari Odesa. Dia tidak bisa melarikan diri karena tidak tega meninggalkan kerabatnya yang sakit dan anjing peliharaannya. Kedua laki-laki ini masih menyimpan bekas luka dari penangkapan Rusia. [Musik] Sangat sulit melakukan wawancara ini. Saya punya keluarga. Hal terpenting bagi saya adalah keluarga dan istri saya. Kami telah menikah selama 20 tahun dan belum punya anak. Sekarang kami ingin punya anak. Tapi setelah semua penyiksaan itu, saya tidak tahu apakah masih mungkin untuk punya anak atau tidak. Mereka pernah bilang, "Kau akan kami kebiri sekarang. У них даже такая была фраза: "Мы вас сейчас стерилизуем". Ну тебя том плане. [Musik] Kota Herson adalah salah satu target pertama invasi Rusia. Pertempuran sengit sebelumnya pecah di daerah sekitarnya. Herson adalah kota pelabuhan penting di muara Sungai Niper, 30 km dari laut hitam. Hanya beberapa hari setelah menginvasi Ukraina, tank Rusia memasuki pusat Herson. Kota itu jatuh ke tangan pasukan Rusia nyaris tanpa perlawanan pada akhir Februari 2022. Saya dan teman-teman melakukan aksi-aksi kecil. Misalnya kami mencoba memasang bendera Ukraina di mana-mana. Itu membuat tentara Rusia marah. Warga Heron menghadapi tank-tank Rusia tanpa senjata. Aksi pembangkangan sipil spontan ini mendapat respons ekstrem dari pasukan Rusia. Unit militer Rusia menyerbu kota itu dan meneror penduduknya. Sampai pada satu malam mereka menangkap Roman. шортах, футболки. Saya hanya pakai celana pendek, kaos, dan sandal. Di dalam mobil mereka menutup mata saya pakai lakban. Saya tahu ke mana mereka membawa saya. Karena saya orang lokal, saya sudah hafal jalannya. [Musik] Teman-teman saya pernah memperingatkan saya soal tempat itu. Mereka bilang, "Kalau kamu tidak berhenti melakukan perlawanan, kamu akan berakhir di ruang bawah tanah itu. Hampir tidak ada yang bisa keluar dari sana." [Musik] 1 seteng jam setelah Roman ditangkap, tentara Rusia datang menjemput saya. Penangkapan Roman memberi saya waktu. Saya berhasil menyembunyikan beberapa barang seperti pita berwarna bendera Ukraina dan poster. Saya cepat-cepat pulang untuk memperingatkan orang yang pernah berhubungan dengan saya. Saya minta mereka menghapus semuanya dari ponsel mereka dan melupakan pernah mengenal saya. Ну без разницы сестру там двоюродну, ну все, чтобы зачищали телефоны вообще про меня забывали. Selama 8 bulan pendudukan, pasukan Rusia mendirikan 11 penjara sementara di sekolah-sekolah, gedung administrasi, dan hanggar pesawat. Penyelidik Ukraina kemudian menemukan banyak bukti bahwa tahanan di sana dianiaya. Namun, sulit mengidentifikasi korban. Para penyinta seringkiali tidak mau melapor karena takut nama mereka akan dipublikasikan. Semua saksi yang terdaftar dan yang membuat pernyataan harus tunduk pada prosedur tertentu. Kami harus mempublikasikan semua keputusan pengadilan di media, jadi dapat diakses secara umum. Publikasinya dilakukan melalui surat kabar bernama Kurir dan situs web kantor Kejaksaan Umum Ukraina. Namun aturan ini tidak membuat Oleksi dan Roman gentar. Mereka termasuk penyintas pertama yang memberikan kesaksian kepada otoritas Ukraina. Keduanya ditahan di penjara Rusia yang sama di Herson. Mereka dikurung di sel yang penuh sesak dan disiksa berulang kali untuk mendapatkan informasi tentang tentara Ukraina. [Musik] Ada yang menginterogasi dan ada yang memutar dinamo untuk menyalakan struman listrik. Dua orang lainnya memukul saya dengan tangan dan tongkat. Pada suatu saat selama penyiksaan, kabel listrik disambungkan ke kemaluan saya. Saya tidak kuat melihat bekas luka di punggung tempat elektroda disambungkan. Saya menjadi sangat kencang, sulit digambarkan seperti bukan jeritan manusia. Это не человеческие крики. Перші два фіксуємо на стіна також полосочного кольору відсутні стіл. Прошу зафіксувати заставили. Снимай шорты. [Musik] Mereka memaksa saya melepas celana dan memasang elektroda pada skrotum dan penis saya. Mereka memasang elektroda itu kepada tawanan lain, tapi saya disuruh memasang sendiri. Lalu mereka mulai menyetrum kemaluan saya sambil menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang. Mereka menyetrum dengan memutar tuas telepon lapangan. Ada 20 hingga 30 kali setruman, perputaran. Rasanya seperti sambaran petir di mata dan kepala Anda. Para penyelidik menemukan bukti yang sesuai dengan pernyataan Roman dan Oleksi. Ada tanda-tanda penyiksaan terhadap para tawanan seperti telepon lapangan yang digunakan mengalirkan listrik untuk menyetrum tubuh mereka. можливо був елементом тортувались до полусяч і прив'язували показалось penyiksaan gak sampai di situ saja salah satu dari mereka mengambil pisau menusuk kaki saya dan memutarnya barulah penyiksaan berakhir. Mereka kemudian membawa saya ke sel dan menahan saya selama 51 hari. Jinjing. Kedua sahabat itu pada akhirnya dibebaskan. Namun kembali ke kehidupan normal tampak mustahil. Luka, trauma, dan syok yang mereka alami terlalu parah. Apa motif di balik munculnya kekerasan brutal semacam itu? Itulah pertanyaan sejarawan dari Hamburg ini. Dia adalah bagian dari kelompok internasional yang telah meneliti topik kekerasan seksual dalam konflik bersenjata sejak 2008. Salah satu fokusnya kekerasan terhadap laki-laki. [Musik] Bisa dibilang kekerasan seksual terhadap laki-laki seringkiali terjadi dalam penahanan. Misalnya di penjara atau kem tawanan perang. Kalau di medan perang, kami belum melihat ada banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi. Pola yang paling banyak kami lihat adalah tindakan brutal dengan menargetkan kemaluan. Dimaksudkan untuk mempermalukan dan merendahkan laki-laki dan seksualitas mereka. Ini artinya tujuan sebenarnya adalah menghancurkan maskulin dan kelaki-lakian mereka. M als M zuerstören. [Musik] Pola yang sama juga dapat dilihat dalam banyak konflik di Afrika. Ini adalah Kampala, ibu kota Uganda. Kota ini menjadi rumah bagi banyak pengungsi dari negara tetangga, termasuk mereka yang pernah mengalami kekerasan seksual. Namun hanya sedikit yang mau membicarakannya. [Musik] Masokolo Lemba datang dari Konggo Timur. Dia melarikan diri ke Uganda pada tahun 2017. Dia juga seorang penyintas kekerasan seksual. Meskipun pernah mengalami kejadian mengerikan, dia memiliki harapan untuk pulih. Di kem pengungsian, dia menghubungi organisasi bantuan refugi Law Project yang mendukung orang-orang yang mengalami trauma. Hari ini, seorang relawan menemaninya ke rumah sakit terdekat dan membantu menjelaskan kondisinya kepada dokter. Tubuhnya tidak baik-baik saja. [Musik] Dia juga menderita insomnia dan sakit di punggung. dan saat dingin testisnya sakit. Kadang-kadang dampak mental yang mereka alami membuat mereka tidak bisa tidur. Apa yang mereka alami sebenarnya adalah depresi. Mereka jelas memiliki tanda-tanda gangguan stres pasca trauma. stress disorder. Oke. Dukungan medis dan konseling bagi para korban masih minim. Ribuan pengungsi seringkiali harus menghadapi trauma kekerasan seksual mereka sendirian. Dokter Rita dari Rumah Sakit Divine Mercy ini mengaku telah melihat beberapa luka ekstrem selama bertugas. Okay. Keep rising. Keep rising. Mereka biasanya datang dengan rasa nyeri di pangkal paha. Beberapa dari mereka sudah dikastrasi. datang dengan luka akibat penyiksaan, penis terikat, dan beberapa bagian tubuh yang sudah mengalami nekrosis, yaitu kematian dini pada sel dan jaringan hidup. Itulah beberapa kasus yang pernah saya tangani sejauh ini. Di Konggo Timur, pembantaian rutin dilakukan terhadap penduduk sipil. Wilayah ini kaya sumber daya alam yang langka dan telah diperebutkan oleh pasukan pemerintah dan kelompok milisi selama beberapa dekade. Milisi pemberontak khususnya dituduh melakukan pemerkosaan massal dengan puluhan ribu perempuan dan laki-laki mengalami kekerasan seksual. Konggo dikenal sebagai tempat di mana pemerkosaan Marak terjadi. Ayah Masokolo bekerja untuk pemerintah di desanya di wilayah utara terpencil Kifu. Dia ditugaskan melaporkan serangan pemberontak kepada militer Konggo. Suatu hari di tahun 2017, ratusan orang di wilayah itu melarikan diri dari perang. Dalam perjalanan ke Desa Tetangga, Masokolo dan ayahnya dicegat pemberontak. Kami berdua menumpang sebuah sepeda motor. Pengemudinya di depan. Lalu saya dan ayah saya di belakang. Kami dihentikan orang-orang bersenjata. Ayah bilang ke saya, "Sekarang kau bisa melihat bagaimana ayah bekerja." Tapi para pemberontak mengawasi kami dengan sangat ketat. Ketika pengemudi turun dari sepeda motor, mereka langsung menembaknya. Kemudian mereka membawa ayah dan saya ke lokasi yang saya tidak tahu di mana. Masokolo sekarang tinggal di Nivale, Uganda, salah satu kem pengungsian terbesar di dunia. Setiap minggu ratusan orang baru datang ke camp ini melarikan diri dari konflik di berbagai bagian Afrika. Populasinya telah mencapai hampir 180.000 orang. Masokolo mencari nafkah dengan mengirimkan air. Cem tersebut dibagi menjadi beberapa desa. Pengungsi seperti Masokolo dan keluarganya diberi sebidang tanah kecil. [Musik] Sudah 8 tahun berlalu sejak dia diserang para pemberontak. Saat itu dia berusia 24 tahun. Para pemberontak menutup mata saya. Ketika dibuka, saya melihat ayah sudah tewas. Mereka menggantungnya. Dia tergeletak di tanah dan mereka mengencingi dia. [Musik] Tentara pemberontak ingin merekrut Masokolo. Selain mengancam akan melukai istrinya yang sudah kembali ke desa asalnya, mereka punya taktik lain untuk membuatnya menurut. Saya harus memakai penutup mata. Mereka mengatakan saya harus tinggal selama 3 hari lagi karena mereka ingin merekrut saya dan membuat saya seperti mereka. Saya harus tinggal selama 3 hari 3 malam dengan penutup mata. Jadi, saya tidak bisa membedakan siang dan malam. Setiap jam saya mendengar seseorang masuk. Lalu saya diperkosa selama 3 hari. Pada akhirnya Masokolo berhasil melarikan diri. Seorang pemberontak yang merupakan teman lama ayahnya tanpa diduga menolongnya. Namun, dia tidak punya tujuan lagi untuk pulang. Desanya telah dibakar para pemberontak. Banyak pengungsi di kemakivale yang mengalami nasib serupa. Namun hanya Masokolo yang berani bercerita tentang pengalaman traumatisnya. [Musik] Kekerasan seksual terhadap perempuan selama ini dipahami sebagai fenomena biologis. Sesuatu yang didorong oleh naluri di mana laki-laki menuruti nafsu mereka dan memperkosa perempuan. Namun para perempuan mulai menyuarakan bahwa sesungguhnya hal ini berkaitan dengan kekuasaan dan merupakan bentuk kekerasan politik. Kekerasan seksual terhadap laki-laki juga merupakan masalah yang sudah berlangsung lama, tetapi hanya diakui sebagai penyiksaan, tidak digolongkan kekerasan seksual. Sekarang orang mulai mengatakan bahwa untuk benar-benar memahami apa yang terjadi, kita juga harus sadar bahwa laki-laki pun dilecehkan secara seksual. Pada Juli 1995, pasukan tentara Republik Serbska VRS menyerbu kota serebren Niets di Bosnia Timur. Konflik di bekas Yugoslavia itu mengubah cara pandang atas kekerasan seksual terhadap laki-laki. Mereka yang mengalaminya sebagian besar adalah warga sipil muslim Bosnia, baik laki-laki dewasa maupun anak laki-laki. Sebagian besar terjadi di kem-kem tentara Serbia, Bosnia. Setelah terjadinya pelanggaran hak asasi manusia yang besar, Dewan Keamanan PBB membentuk Pengadilan Kriminal Internasional untuk bekas Yugoslavia pada tahun 1993. Pengadilan itu berpusat di Belanda. Kita akhirnya belajar bahwa kita semua bertanggung jawab kepada hukum internasional. Tribunal ini tidak mencari pemenang. Satu-satunya pemenang dalam upaya ini adalah kebenaran. Ini merupakan pengadilan khusus pertama sejak Tribunal Nurenberg pasca Perang Dunia Kedua. 161 orang didakwa di Denk termasuk Presiden, jenderal, dan politisi. Semuanya sama di hadapan hukum. Ada harapan besar bahwa pengadilan akan memberikan keadilan kepada korban dan menghukum pelaku. Pria ini telah mempelajari tribunal Yugoslavia yang untuk pertama kalinya mengadili kekerasan seksual terhadap laki-laki dalam konflik bersenjata sebagai tindak pidana. Tribunal di Denhak menetapkan standarnya. Tribunal di Denha adalah peradilan pidana internasional pertama yang mencoba mengadili kekerasan seksual dengan alasan kejahatan perang. Tidak hanya itu, peradilan ini juga merupakan yang pertama dalam mendefinisikan kekerasan seksual bukan hanya sebagai tindakan perorangan, tetapi juga sebagai bagian dari kejahatan perang. Ini pengadilan pertama yang mengadili tindakan kekerasan seksual terhadap laki-laki berdasarkan definisi gender. Upaya serupa dilakukan di Bosnia. Ini pertama kalinya dalam sejarah. Ini momen krusial yang bersejarah karena memberi jaksa dan hakim alat yang kuat untuk mengadili mereka yang melakukan hal itu. Tribunal di Denhak menjadi acuan bagi proses-proses semacam itu, tidak hanya di Bosnia, tetapi juga di seluruh dunia. Zenit adalah kota dengan sekitar 100.000 penduduk selama perang Bosnia. Sejumlah besar penduduknya melarikan diri ke sini untuk menghindari pembersihan etnis oleh orang Serbia Bosnia, terutama warga muslim Bosnia yang disebut orang Bosnia. Pria ini pernah bertugas sebagai tentara di Angkatan darat Bosnia. Setelah keluar dari angkatan darat, dia mengelola sebuah peternakan kecil. Dia adalah warga sipil ketika ditahan polisi militer Serbia. Pengalaman itu membekas lama, sangat menyakitkan dan membuat saya mengalami banyak pergulatan batin, terutama ketika mengingat apa yang saya alami selama ditawan. Di sebuah acara saya bertemu dengan direktur organisasi medika, Zenitah. Dia mendorong saya untuk berbicara tentang pengalaman saya untuk menemukan ketenangan dan kedamaian. Direkturnya seorang psikolog bernama Sabia. Dia juga melarikan diri ke Zenit untuk menghindari kekejaman tersebut. Di sinilah dia pertama kali bergabung dengan organisasi bantuan medika Zenit. Ketika mulai bekerja saat itu, kami belum terpikir akan membantu para laki-laki yang selamat dari kekerasan seksual. Laki-laki biasanya enggan berbicara tentang trauma semacam itu. Terlebih lagi, kami hidup dalam masyarakat yang sangat patriarki di Bosnia dan Herzegovina. Bagi para laki-laki sangat sulit untuk berbicara tentang kekerasan seksual yang mereka alami. [Musik] Kejahatan yang dilakukan di kem-kem Serbia Bosnia bertujuan untuk pembersihan etnis. Lebih dari 30.000 warga sipil Bosniak terbunuh. Pusat penelitian dan dokumentasi di Sarayevo mengumpulkan berkah setiap korban. Beberapa kem berukuran besar seperti kem di Manjaka ini. Namun ada juga ratusan kemil yang tersebar di seluruh Bosnia. Pada Desember 1995, Jinia diculik oleh polisi militer Serbia dan dibawa ke penjara di pinggiran Sarajevo. To je bilo u fazi kad su nas udarali i kad smo bili bukvalno bez odče kad su naselah penangkapan mereka memukuli kami dan mengambil semua pakaian kami [Musik] menelanjangi saya setelah pemukulan saya kehilangan kesadaran Setiap kali saya sadar, saya merasa sakit di area anus. Saya menjerit kesakitan. Di momen itu saya dapat merasakan benda tumpul memasuki tubuh saya dan benda itu tinggal di sana. itu semacam skop militer kecil. Saya tidak bisa bergerak. Setiap kali mencoba bergerak rasa sakitnya makin hebat. [Musik] Bangunan tempat jinia disiksa terletak di alun-alun di lingkungan kelas menengah ini. Ada restoran dan bar di sana. Namun di balik tembok-tembok ini dulu Jinia dirantai telanjang ke radiator selama 3 hari. Dia diperkosa beberapa kali. Setelah dibebaskan, dia tidak bisa berbicara tentang apa yang dia alami. Momen yang paling mengharukan adalah ketika anak saya yang saat itu berusia 5 atau 6 tahun bertanya, "Ayah, mereka memukulimu, ya?" Saya menjawab, "Tidak, Nak. Lalu dia bilang, "Walaupun mereka memukuli ayah, itu tidak penting. Yang penting ayah sudah pulang ke rumah. Saya akan mengingat kata-kata itu selamanya. Bersama psikolog sabia, Jinia memutuskan untuk melihat lagi tempat dia disiksa. Dia masih merasa sulit untuk berdiri di depan gedung tanpa merasa takut atau malu. Bahkan setelah 30 tahun, dia belum bisa melupakan apa yang terjadi. Bahkan sekarang pun dia merasa cemas di depan gedung karena pengalaman traumatisnya muncul lagi. Kehidupan setelahnya benar-benar sulit dan traumatis. Saya merasa semua orang tahu apa yang terjadi pada saya. Tapi waktu berlalu dan hidup harus terus berjalan. Saya harus terbiasa dengan kehidupan seperti ini meskipun jiwa saya tersiksa. Luka fisik telah sembuh, tetapi luka di jiwa saya tidak akan pernah sembuh. Rincian kekerasan seksual terhadap laki-laki terungkap di Denhak. Dimulai dengan peradilan kasus Dusco Tadic, seorang politikus lokal Bosnia Serbia. Dia terdakwa pertama yang diadili di Tribunal Yugoslavia. Kejahatannya meliputi penyiksaan, pembunuhan, dan pemerkosaan. Pada 1997 dia divonis 20 tahun penjara. Tujuan penyiksaan itu adalah untuk menghancurkan korban. Sungguh menyedihkan dan memalukan berbicara tentang apa yang saya lihat. Para tawanan dipaksa melakukan sesuatu dengan kemaluan mereka. Sesuatu yang tidak dilakukan manusia normal. Apa yang mereka alami sungguh mengerikan. Mereka orang-orang yang tidak bersalah dan mereka disiksa tanpa alasan. Ketika digunakan sebagai senjata perang, kekerasan seksual dirancang untuk merendahkan martabat perempuan dan laki-laki untuk menghancurkan keluarga dan bahkan seluruh komunitas. Ini masyarakat patriarki di mana laki-laki selalu menjadi kepala keluarga yang kuat, pemimpin institusi dan seterusnya. Mereka sebenarnya tidak boleh menjadi korban kejahatan semacam itu. Masyarakat tidak dapat memahami situasi di mana hal itu terjadi. Khususnya ketika kita berbicara tentang penghinaan dalam keluarga. Tak mudah bagi laki-laki melakukan tindakan seksual dengan saudara perempuan, dengan ibu mereka. Tetapi mereka dipaksa melakukan itu. Ada berbagai bentuk pelecehan seksual dalam konflik, tapi tujuannya selalu untuk mempermalukan musuh. Die werden vergewaltigt und der Körper ist ja eben auch erregorban diperkosa, tubuh bisa terangsang. Maksudnya seringkiali korban baik perempuan maupun lelaki mengalami rangsangan secara fisik yang sangat memalukan. Hilangnya kendali atas tubuh sendiri itu sangat memalukan karena rangsangan fisik oleh masyarakat disalah pahami dan diartikan sebagai kesenangan. Lalu korban diberitahu bahwa sebenarnya mereka menikmatinya, bahwa mereka menginginkannya, setidaknya secara pasif. Jadi korban dituduh bertanggung jawab atas perilaku para pelaku dan mereka juga menyalahkan diri mereka sendiri. Dan efeknya adalah korban menganggap dirinya sebagai homoseksual. [Musik] Di Uganda menjadi homoseksual atau dituduh sebagai homoseksual sangat berbahaya karena ada undang-undang yang diberlakukan tahun 2023 yang menargetkan kaum homoseksual. Mereka bisa terancam hukuman penjara seumur hidup atau dalam beberapa kasus hukuman mati. Jadi korban pemerkosaan yang berbicara secara terbuka tentang pengalamannya menghadapi risiko besar. Awalnya Masokolo hanya menceritakannya kepada sang istri. Istri saya bertanya apa yang terjadi pada saya di sana. Saya ceritakan semuanya. Saya tidak ingin menyembunyikan apapun dari dia. Ketika saya selesai, dia mulai menangis. Tapi dia menghibur saya. Bagaimanapun saya yang menderita, bukan dia. Masokolo dikuatkan oleh dukungan refugi law project. Organisasi itu peduli terhadap para laki-laki penyintas kekerasan seksual. Mereka tidak hanya menderita dampak fisik, tapi juga merasa terpaksa menyembunyikan pengalaman mereka. Diskusi kelompok dengan para penyintas lainnya menjadi ruang aman bagi mereka untuk bercerita. Saya ingin kita semua duduk seperti ini. Mari letakkan tangan di lutut dan menarik napas. itu bisa membantu kita merasa tenang. [Musik] Okay. Let's starting zote nikilamka vizuri setiap kali saya bangun saya merasa tidak baik. [Musik] Karena mereka menyebut saya homoseksual. [Musik] Masyarakat setempat ke mana pun kami pergi saat mencoba mengatasi dan berjuang untuk hidup, mereka tidak mau berhubungan dengan kami. Mereka bahkan tidak mau mengambil air dari keran yang sama. Bekerja bersama mereka juga sangat sulit. Bahkan mendekati mereka sangat sulit karena mereka yakin kami homoseksual. Kami telah mengalami hal-hal buruk. Kami tidak perlu disakiti lagi karena kami sudah cukup mengalami itu. Refugee Law Project berpusat di ibu kota Uganda, Kampala. Undang-undang baru itu membuat tugas organisasi ini makin sulit. Beberapa rumah sakit menolak para penyintas karena takut jadi target kekerasan. Banyak penyintas bahkan tidak berani pergi ke rumah sakit. Organisasi ini memperkirakan ada ribuan korban kekerasan seksual di Uganda. Dengan konflik yang masih berlangsung di negara-negara tetangga, korban bertambah setiap hari. Mereka dikucilkan oleh masyarakat atau dicap tidak bisa lagi menjadi laki-laki. Jadi ada stigma, ada kecenderungan untuk tidak memvalidasi pengalaman mereka. Mereka merasa ditolak. Banyak dari orang-orang yang kami temui pindah ke pusat-pusat perkotaan atau ke kawasan urban yang lebih anonim agar mereka bisa hidup dan berbicara tentang pengalaman mereka. Jika yang terkena sanksi adalah para korban bukan para pelaku, maka peluang untuk keadilan ditegakkan terhadap pelaku hampir tidak ada. Pertanyaannya apa pelaku tidak takut mendapat stigma? terutama di tempat-tempat yang menstigmatisasi homoseksualitas. [Musik] Tentu para pelaku takut bahwa mereka juga akan dicap homoseksual. Tapi dalam konteks tertentu hal itu tidak terjadi. Misalnya di militer cukup umum bagi tentara untuk memperkosa tentara lainnya. Contohnya di Marinir Amerika Serikat di mana itu dipandang sebagai semacam uji ketahanan. menanggung kekerasan seksual ini dipandang sebagai bukti ketahanan mengatasi penderitaan. Pada tahun 2004, gambar-gambar dari penjara Abu Ghaib di Irak ini menggemparkan dunia. Gambar-gambar tersebut memperlihatkan personel militer Amerika sebagai penyiksa yang juga menggunakan kekerasan seksual terhadap korbannya. Itulah makanya pemerkosaan di situasi seperti itu mungkin terjadi karena tidak ada stigma homoseksualitas pada pelakunya. Penyintas lain yang tidak ingin disebutkan namanya hampir meninggal karena kekerasan ini. Dia tinggal dekat kota Herson di Ukraina. Sebagai mantan tentara, dia jadi target pasukan pendudukan Rusia. [Musik] Seorang penduduk lokal yang bekerja sama dengan Rusia mengkhianati saya. membocorkan alamat tempat tinggal kami. Kemudian mereka membawa saya. Mereka memukuli saya dari pagi hingga malam. Mereka menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali. Dan kalau saya bilang tidak tahu apa-apa, mereka terus memukuli saya. Ini berlangsung setiap hari selama seminggu. Mereka memukuli saya dengan pangkal senapan dan dengan papan. Menutup muka saya dengan plastik pembungkus. dan menggunakan alat strum pada saya. Mereka mengancam, membakar, dan menyiramkan solar ke tubuh saya. Ada juga kekerasan seksual yang bikin saya cedera parah. Sampai-sampai saya harus diberi stoma anus buatan. Dia mengaku harus menjalani beberapa operasi. Sejak itu dia kembali ke pekerjaan lamanya sebagai petani. Tidak ada yang membantunya keluar dari trauma masa lalunya. Di hari ketujuh atau ke-elapan saya tidak bisa jalan lagi. Saya tidak bisa berdiri selama 3 hari dan mereka pikir waktu saya sudah selesai. Mereka membawa saya keluar dari desa dan melempar saya ke kuburan mengira saya akan mati. Tapi setelah beberapa saat saya bangun dan merangkak pulang. Sebulan kemudian mereka datang ke desa dan bertanya, "Apakah saya sudah dikuburkan?" Perang bukanlah sebuah pengecualian. Kita melihat bagaimana hubungan gender, seksualitas, dan kekerasan juga dilakukan dan terjadi sebelum perang dan bagaimana hal itu kemudian diterapkan dalam kondisi perang. Kalau melihat periode sebelum perang, Anda menyadari bahwa sudah ada banyak praktik kekerasan seksual terhadap laki-laki. Misalnya di sekolah asrama, di ketentaraan, dan pelatihan militer sebagai cara untuk menunjukkan hierarki militer. Kita sering menemukan contoh kekerasan seksual di tempat-tempat ini. Pelecehan yang dilakukan di bawah pendudukan Rusia di Ukraina merupakan bagian dari budaya kekerasan. Selama bertahun-tahun, aktivis hak asasi manusia telah menyoroti sistem pidana di Rusia di mana para tahanan mengalami penyiksaan dan pemerkosaan. Video-video ini dibocorkan dari penjara Rusia. Jaksa Ana Sosonska telah menyelidiki kasus-kasus yang melibatkan penjara-penjara Rusia karena tampaknya juga terjadi pada tahanan Ukraina. Kami sedang menyelidiki kasus-kasus warga sipil yang ditahan secara ilegal oleh Rusia serta tahanan perang Ukraina. Ada pola yang jelas dan sistematis yang muncul khususnya terkait penyiksaan seksual. Ini termasuk tindakan seperti sengatan listrik dan pemukulan terhadap kemaluan, ancaman kastrasi dan pemerkosaan. Ada kebijakan yang berlaku sejak pusat-pusat penahanan ini didirikan. Sehingga ketika para tahanan Ukraina tiba di sana, mereka menjadi target penyiksaan termasuk kekerasan seksual. нього застосовуються певні видикатування сексуального насильства. Video yang diambil dari berbagai penjara Rusia ini menunjukkan bagaimana kekerasan seksual dilakukan. Kebijaksanaan penonton sangat disarankan. Video ini direkam sebelum invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina. Там власне вибудована кастова система. kasta yang terdiri dari tuan dan pembantu. Jika Anda pembantu, Anda tidak dianggap sebagai manusia. Mereka menerapkan budaya ini di penjara, kemudian menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh pada musuh mereka. Kekerasan berakar kuat dalam sistem pidana Rusia. Penjara telah menjadi tempat berkembangnya budaya tidak manusiawi ini. Di kalangan militer, kekerasan juga ditujukan kepada prajurit sendiri. Ini merupakan bagian dari norma, baik di masa perang atau tidak. [Musik] Orang-orang harus tahu tentang hal ini. Anda bisa membandingkannya dengan kekerasan rumah tangga. Keduanya hampir sama. Anda harus membicarakannya. Jika tidak, itu akan terus berlanjut dan berkembang. Skalanya akan semakin besar. Saat mencari bantuan, penyintas kekerasan seksual menghadapi tantangan yang sangat besar. Birokrasi seringkiali menjadi penghambat, terutama bagi laki-laki yang biasanya dibiarkan menjalani proses itu sendirian. Awalnya saya mengira hanya saya yang tidak bisa mendapatkan bantuan. Tapi saya kemudian tahu banyak laki-laki lain juga mengalami hal yang sama. Sekarang kami saling membantu seperti saat di dalam sel. Di sana Anda hanya bisa mengandalkan sesama tahanan. Tidak ada yang merawat luka Anda, membantu Anda berdiri atau membawakan Anda makanan. Satu-satunya dukungan psikologis datang dari teman satu sel. Tahun 2024, Oleksi mendirikan jaringan untuk para laki-laki penyintas di Ukraina. bersama-sama mereka berkampanye untuk pembebasan semua orang yang masih ditahan di penjara Rusia. Saya yakin bahwa saat ini ratusan orang sedang disiksa termasuk secara seksual. Bagi saya keadilan artinya membebaskan dan mengembalikan orang-orang ini ke keluarga mereka. [Musik] Mereka rutin bertemu untuk berbincang dan belajar menerima pengalaman mereka. Saya tidak ingin melihat balas dendam dan eksekusi publik di Rusia. Yang saya inginkan adalah agar mereka yang menyiksa saya diadili dan dimasukkan ke penjara. Saya tidak ingin balas dendam pribadi. Penyiksaan terhadap tawanan perang terjadi pada kedua belah pihak. Namun menurut laporan PBB tahun 2024, tingkat penyiksaan di Ukraina sangat berbeda dengan di Rusia. Sejauh ini tidak ada bukti konkret tentang penyiksaan sistematis terhadap tawanan Rusia di penjara Ukraina. Sementara otoritas Rusia secara sistematis telah menggunakan kekerasan seksual. Laporan dan gambar dari perang Ukraina membawa kembali kenangan bagi mereka yang ada di Bosnia. [Musik] Mereka menelepon saya dan bilang, "Sangat sulit melihat semua kejadian ini. Semuanya terjadi seperti di Bosnia dan Herzegovina. Penting bagi kami untuk berbagi pengalaman dan juga belajar dari satu sama lain. Bagaimanapun kekerasan seksual adalah kekerasan seksual. Di manapun itu terjadi, para penyintas dipenuhi dengan rasa sakit, rasa malu. Sebagian besar dari mereka yang ada di Bosnia, Kosovo, atau di komunitas Yazidi di Kurdistan, mereka merasakan stigmatisasi dari komunitas mereka. di Bosnia butuh waktu lama hingga mereka diakui sebagai korban perang. Medika Zenit menginisiasi seluruh proses. Saat itu kondisi mental saya masih belum stabil. Mereka berjuang demi saya. Prosesnya berlangsung sangat lama. Tetapi kemudian saya diakui sebagai korban perang. Sistem birokrasi kami sangat membingungkan sehingga sangat sulit untuk melakukannya sendiri. Prosesnya makan waktu 3 tahun. Dengan bantuan Sabia saya bisa melewatinya. Yasan. Hanya sedikit penyintas di Bosnia yang mendapatkan kompensasi. Dana kompensasi yang dijanjikan belum terwujud. Namun menyelesaikan proses hukum merupakan langkah awal. Tidak ada lagi impunitas bagi pelaku. Setelah peradilan Yugoslavia selesai, pengadilan kejahatan perang dibentuk di masing-masing negara, terutama di Bosnia. di mana pengadilan pidana memiliki divisi khusus kejahatan perang. Unit kejaksaan dan pengadilan khusus juga dibentuk di Serbia untuk mengadili kejahatan perang. Namun upaya itu mengalami kemunduran. Kejahatan perang seperti di serebrenica disangkal oleh kaum nasionalis Serbia. Padahal ada bukti ribuan halaman dari Denhak. Situasi ini berarti korban kekerasan seksual baik laki-laki maupun perempuan kembali terpinggirkan. Sayangnya proses hukum dan peradilan serta penilaian terhadap jutaan bukti hanya memiliki dampak sosial politik yang sangat kecil. Dengan kata lain, proses hukum dan peradilan lebih banyak mencapai hasil di dalam ruang pengadilan daripada memberikan dampak sosial atau politik yang lebih luas. Sementara itu, negara-negara yang dilanda perang di Afrika seringki tidak memiliki mekanisme hukum untuk menindak pelaku. Sistem peradilan di Republik Demokratik Konggo dianggap terlalu lemah. Di Uganda, pemerintah daerah tidak dapat mengusut kekerasan seksual terhadap laki-laki karena undang-undang yang diskriminatif. Saya pikir di Uganda, sebagian besar perangkat hukum hanya membahas pemerkosaan yang berkaitan dengan perempuan. Hukum perlu mengakui adanya pemerkosaan terhadap laki-laki. Pemerkosaan laki-laki saat ini tidak ada dalam definisi hukum. Jadi pembahasannya perlu diperluas. Pejuang kemanusiaan dan pembangunan harus mulai menyediakan sumber daya untuk menanggapi laki-laki dan anak laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual dalam konflik. Mereka benar-benar ada. Meskipun ada ketakutan akan stigmatisasi dan diskriminasi, para penyintas kekerasan seksual dari Bosnia, Konggo, dan Ukraina ini telah berani berbagi kisah untuk film ini. Kekerasan seksual terhadap laki-laki terjadi hampir di setiap ada perang. Ada laporan terbaru yang datang dari penjara-penjara bekas rezim Suriah. Tuduhan kejahatan serupa selama perang di Gaza pasca serangan 7 Oktober juga tengah diselidiki. Kekerasan seksual memang meninggalkan luka fisik dan psikologis, tapi tidak akan mampu merenggut keberanian korban untuk bersuara. [Musik]