Transcript
v93EdbAd6QY • Senjata perang: Kekerasan seksual terhadap pria | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0071_v93EdbAd6QY.txt
Kind: captions
Language: id
Selama ada perang, kekerasan seksual
sering digunakan sebagai senjata.
Tidak hanya menargetkan perempuan, tapi
juga laki-laki.
Praktik itu dapat menghancurkan musuh
tanpa harus membunuh.
Kekerasan seksual adalah sebuah
kejahatan perang. senjata yang efektif
dan topik yang tabu.
Korban laki-laki pertama yang menuntut
keadilan di pengadilan adalah para
penyintas perang Bosnia.
Di wilayah konflik di Afrika, para
penyintas kekerasan seksual juga mulai
bersuara. Namun, para pelaku belum
dimintai pertanggungjawaban.
[Musik]
Di Ukraina, pasukan Rusia memperkosa
tawanan laki-laki. Di wilayah yang
direbut kembali oleh tentara Ukraina,
para penyelidik menemukan bukti
mengerikan atas kejahatan tersebut.
[Musik]
Mereka memperkosa saya selama 3 hari.
Saya merasa semua orang tahu apa yang
terjadi pada saya.
[Musik]
Mereka bilang kau akan kami kebiri
sekarang.
[Musik]
Dua laki-laki asal Ukraina ini, Oleksi
dan Roman memilih membagikan kisah
mereka.
Itu tidak mudah. Mengingat laki-laki
yang pernah mengalami kekerasan seksual
kerap menghadapi trauma, prasangka, dan
kurangnya pengertian dari masyarakat.
Kota Herson di Ukraina ini masih terasa
seperti kota hantu. Pada November 2022,
pasukan Rusia mundur dari kota ini
setelah pendudukan selama 8 bulan. Dari
280.000 orang penduduknya, hanya sekitar
40.000 orang yang tersisa.
Roman salah satunya. Dia kini bekerja
membantu saudarinya mengelola toko
kelontong kecil di pinggiran kota.
Sebelum perang, dia bekerja sebagai
sopir taksi. Namun aksi perlawanan kecil
yang dilakukannya membuatnya jadi target
pasukan Rusia. Dia melihat dirinya
sebagai penyintas, bukan korban.
Tidak ada alasan bagi saya untuk
bersembunyi atau merasa malu.
Saya tidak malu akan apapun. Kita harus
membicarakannya.
Karena ada banyak orang bahkan di
Ukraina yang tidak mau tahu realita
perang seperti apa.
[Musik]
Teman Roman Oleksi juga ditangkap oleh
militer Rusia.
[Musik]
Dia sebelumnya bekerja sebagai pelaut.
Ketika perang pecah, dia baru saja
kembali dari Odesa. Dia tidak bisa
melarikan diri karena tidak tega
meninggalkan kerabatnya yang sakit dan
anjing peliharaannya.
Kedua laki-laki ini masih menyimpan
bekas luka dari penangkapan Rusia.
[Musik]
Sangat sulit melakukan wawancara ini.
Saya punya keluarga.
Hal terpenting bagi saya adalah keluarga
dan istri saya. Kami telah menikah
selama 20 tahun dan belum punya anak.
Sekarang kami ingin punya anak. Tapi
setelah semua penyiksaan itu, saya tidak
tahu apakah masih mungkin untuk punya
anak atau tidak. Mereka pernah bilang,
"Kau akan kami kebiri sekarang.
У них даже такая была фраза: "Мы вас
сейчас стерилизуем". Ну тебя том
плане.
[Musik]
Kota Herson adalah salah satu target
pertama invasi Rusia. Pertempuran sengit
sebelumnya pecah di daerah sekitarnya.
Herson adalah kota pelabuhan penting di
muara Sungai Niper, 30 km dari laut
hitam.
Hanya beberapa hari setelah menginvasi
Ukraina, tank Rusia memasuki pusat
Herson. Kota itu jatuh ke tangan pasukan
Rusia nyaris tanpa perlawanan pada akhir
Februari 2022.
Saya dan teman-teman melakukan aksi-aksi
kecil. Misalnya kami mencoba memasang
bendera Ukraina di mana-mana.
Itu membuat tentara Rusia marah.
Warga Heron menghadapi tank-tank Rusia
tanpa senjata.
Aksi pembangkangan sipil spontan ini
mendapat respons ekstrem dari pasukan
Rusia.
Unit militer Rusia menyerbu kota itu dan
meneror penduduknya.
Sampai pada satu malam mereka menangkap
Roman.
шортах, футболки.
Saya hanya pakai celana pendek, kaos,
dan sandal. Di dalam mobil mereka
menutup mata saya pakai lakban. Saya
tahu ke mana mereka membawa saya. Karena
saya orang lokal, saya sudah hafal
jalannya.
[Musik]
Teman-teman saya pernah memperingatkan
saya soal tempat itu.
Mereka bilang, "Kalau kamu tidak
berhenti melakukan perlawanan, kamu akan
berakhir di ruang bawah tanah itu.
Hampir tidak ada yang bisa keluar dari
sana."
[Musik]
1 seteng jam setelah Roman ditangkap,
tentara Rusia datang menjemput saya.
Penangkapan Roman memberi saya waktu.
Saya berhasil menyembunyikan beberapa
barang seperti pita berwarna bendera
Ukraina dan poster.
Saya cepat-cepat pulang untuk
memperingatkan orang yang pernah
berhubungan dengan saya.
Saya minta mereka menghapus semuanya
dari ponsel mereka dan melupakan pernah
mengenal saya.
Ну без разницы сестру там двоюродну, ну
все, чтобы зачищали телефоны вообще про
меня забывали.
Selama 8 bulan pendudukan,
pasukan Rusia mendirikan 11 penjara
sementara
di sekolah-sekolah, gedung administrasi,
dan hanggar pesawat.
Penyelidik Ukraina kemudian menemukan
banyak bukti bahwa tahanan di sana
dianiaya.
Namun, sulit mengidentifikasi korban.
Para penyinta seringkiali tidak mau
melapor karena takut nama mereka akan
dipublikasikan.
Semua saksi yang terdaftar dan yang
membuat pernyataan harus tunduk pada
prosedur tertentu. Kami harus
mempublikasikan semua keputusan
pengadilan di media, jadi dapat diakses
secara umum. Publikasinya dilakukan
melalui surat kabar bernama Kurir dan
situs web kantor Kejaksaan Umum Ukraina.
Namun aturan ini tidak membuat Oleksi
dan Roman gentar. Mereka termasuk
penyintas pertama yang memberikan
kesaksian kepada otoritas Ukraina.
Keduanya ditahan di penjara Rusia yang
sama di Herson.
Mereka dikurung di sel yang penuh sesak
dan disiksa berulang kali untuk
mendapatkan informasi tentang tentara
Ukraina.
[Musik]
Ada yang menginterogasi dan ada yang
memutar dinamo untuk menyalakan struman
listrik.
Dua orang lainnya memukul saya dengan
tangan dan tongkat.
Pada suatu saat selama penyiksaan, kabel
listrik disambungkan ke kemaluan saya.
Saya tidak kuat melihat bekas luka di
punggung tempat elektroda disambungkan.
Saya menjadi sangat kencang, sulit
digambarkan seperti bukan jeritan
manusia.
Это не человеческие крики.
Перші два фіксуємо на стіна також
полосочного кольору відсутні стіл. Прошу
зафіксувати
заставили. Снимай шорты.
[Musik]
Mereka memaksa saya melepas celana dan
memasang elektroda pada skrotum dan
penis saya. Mereka memasang elektroda
itu kepada tawanan lain, tapi saya
disuruh memasang sendiri. Lalu mereka
mulai menyetrum kemaluan saya sambil
menanyakan pertanyaan yang sama
berulang-ulang. Mereka menyetrum dengan
memutar tuas telepon lapangan.
Ada 20 hingga 30 kali setruman,
perputaran.
Rasanya seperti sambaran petir di mata
dan kepala Anda.
Para penyelidik menemukan bukti yang
sesuai dengan pernyataan Roman dan
Oleksi.
Ada tanda-tanda penyiksaan terhadap para
tawanan
seperti telepon lapangan yang digunakan
mengalirkan listrik untuk menyetrum
tubuh mereka.
можливо був елементом тортувались до
полусяч
і
прив'язували
показалось penyiksaan gak sampai di situ
saja
salah satu dari mereka mengambil pisau
menusuk kaki saya dan memutarnya barulah
penyiksaan berakhir.
Mereka kemudian membawa saya ke sel dan
menahan saya selama 51 hari.
Jinjing.
Kedua sahabat itu pada akhirnya
dibebaskan. Namun kembali ke kehidupan
normal tampak mustahil. Luka, trauma,
dan syok yang mereka alami terlalu
parah.
Apa motif di balik munculnya kekerasan
brutal semacam itu?
Itulah pertanyaan sejarawan dari Hamburg
ini.
Dia adalah bagian dari kelompok
internasional yang telah meneliti topik
kekerasan seksual dalam konflik
bersenjata sejak 2008.
Salah satu fokusnya kekerasan terhadap
laki-laki.
[Musik]
Bisa dibilang kekerasan seksual terhadap
laki-laki seringkiali terjadi dalam
penahanan. Misalnya di penjara atau kem
tawanan perang. Kalau di medan perang,
kami belum melihat ada banyak kasus
kekerasan seksual yang terjadi. Pola
yang paling banyak kami lihat adalah
tindakan brutal dengan menargetkan
kemaluan. Dimaksudkan untuk
mempermalukan dan merendahkan laki-laki
dan seksualitas mereka.
Ini artinya tujuan sebenarnya adalah
menghancurkan maskulin dan kelaki-lakian
mereka.
M als M zuerstören.
[Musik]
Pola yang sama juga dapat dilihat dalam
banyak konflik di Afrika.
Ini adalah Kampala, ibu kota Uganda.
Kota ini menjadi rumah bagi banyak
pengungsi dari negara tetangga, termasuk
mereka yang pernah mengalami kekerasan
seksual.
Namun hanya sedikit yang mau
membicarakannya.
[Musik]
Masokolo Lemba datang dari Konggo Timur.
Dia melarikan diri ke Uganda pada tahun
2017.
Dia juga seorang penyintas kekerasan
seksual.
Meskipun pernah mengalami kejadian
mengerikan, dia memiliki harapan untuk
pulih.
Di kem pengungsian, dia menghubungi
organisasi bantuan refugi Law Project
yang mendukung orang-orang yang
mengalami trauma. Hari ini, seorang
relawan menemaninya ke rumah sakit
terdekat dan membantu menjelaskan
kondisinya kepada dokter.
Tubuhnya tidak baik-baik saja.
[Musik]
Dia juga menderita insomnia dan sakit di
punggung.
dan saat dingin testisnya sakit.
Kadang-kadang dampak mental yang mereka
alami membuat mereka tidak bisa tidur.
Apa yang mereka alami sebenarnya adalah
depresi. Mereka jelas memiliki
tanda-tanda gangguan stres pasca trauma.
stress disorder.
Oke.
Dukungan medis dan konseling bagi para
korban masih minim. Ribuan pengungsi
seringkiali harus menghadapi trauma
kekerasan seksual mereka sendirian.
Dokter Rita dari Rumah Sakit Divine
Mercy ini mengaku telah melihat beberapa
luka ekstrem selama bertugas.
Okay. Keep rising. Keep rising.
Mereka biasanya datang dengan rasa nyeri
di pangkal paha. Beberapa dari mereka
sudah dikastrasi. datang dengan luka
akibat penyiksaan, penis terikat, dan
beberapa bagian tubuh yang sudah
mengalami nekrosis, yaitu kematian dini
pada sel dan jaringan hidup. Itulah
beberapa kasus yang pernah saya tangani
sejauh ini.
Di Konggo Timur, pembantaian rutin
dilakukan terhadap penduduk sipil.
Wilayah ini kaya sumber daya alam yang
langka dan telah diperebutkan oleh
pasukan pemerintah dan kelompok milisi
selama beberapa dekade.
Milisi pemberontak khususnya dituduh
melakukan pemerkosaan massal dengan
puluhan ribu perempuan dan laki-laki
mengalami kekerasan seksual.
Konggo dikenal sebagai tempat di mana
pemerkosaan Marak terjadi.
Ayah Masokolo bekerja untuk pemerintah
di desanya di wilayah utara terpencil
Kifu.
Dia ditugaskan melaporkan serangan
pemberontak kepada militer Konggo. Suatu
hari di tahun 2017, ratusan orang di
wilayah itu melarikan diri dari perang.
Dalam perjalanan ke Desa Tetangga,
Masokolo dan ayahnya dicegat
pemberontak.
Kami berdua menumpang sebuah sepeda
motor. Pengemudinya di depan. Lalu saya
dan ayah saya di belakang.
Kami dihentikan orang-orang bersenjata.
Ayah bilang ke saya, "Sekarang kau bisa
melihat bagaimana ayah bekerja."
Tapi para pemberontak mengawasi kami
dengan sangat ketat.
Ketika pengemudi turun dari sepeda
motor, mereka langsung menembaknya.
Kemudian mereka membawa ayah dan saya ke
lokasi yang saya tidak tahu di mana.
Masokolo sekarang tinggal di Nivale,
Uganda, salah satu kem pengungsian
terbesar di dunia.
Setiap minggu ratusan orang baru datang
ke camp ini melarikan diri dari konflik
di berbagai bagian Afrika. Populasinya
telah mencapai hampir 180.000 orang.
Masokolo mencari nafkah dengan
mengirimkan air.
Cem tersebut dibagi menjadi beberapa
desa. Pengungsi seperti Masokolo dan
keluarganya diberi sebidang tanah kecil.
[Musik]
Sudah 8 tahun berlalu sejak dia diserang
para pemberontak. Saat itu dia berusia
24 tahun.
Para pemberontak menutup mata saya.
Ketika dibuka,
saya melihat ayah sudah tewas. Mereka
menggantungnya.
Dia tergeletak di tanah dan mereka
mengencingi dia.
[Musik]
Tentara pemberontak ingin merekrut
Masokolo. Selain mengancam akan melukai
istrinya yang sudah kembali ke desa
asalnya, mereka punya taktik lain untuk
membuatnya menurut.
Saya harus memakai penutup mata. Mereka
mengatakan saya harus tinggal selama 3
hari lagi karena mereka ingin merekrut
saya dan membuat saya seperti mereka.
Saya harus tinggal selama 3 hari 3 malam
dengan penutup mata. Jadi, saya tidak
bisa membedakan siang dan malam.
Setiap jam saya mendengar seseorang
masuk. Lalu saya diperkosa
selama 3 hari.
Pada akhirnya Masokolo berhasil
melarikan diri.
Seorang pemberontak yang merupakan teman
lama ayahnya tanpa diduga menolongnya.
Namun, dia tidak punya tujuan lagi untuk
pulang. Desanya telah dibakar para
pemberontak. Banyak pengungsi di
kemakivale yang mengalami nasib serupa.
Namun hanya Masokolo yang berani
bercerita tentang pengalaman
traumatisnya.
[Musik]
Kekerasan seksual terhadap perempuan
selama ini dipahami sebagai fenomena
biologis. Sesuatu yang didorong oleh
naluri di mana laki-laki menuruti nafsu
mereka dan memperkosa perempuan. Namun
para perempuan mulai menyuarakan bahwa
sesungguhnya hal ini berkaitan dengan
kekuasaan dan merupakan bentuk kekerasan
politik.
Kekerasan seksual terhadap laki-laki
juga merupakan masalah yang sudah
berlangsung lama, tetapi hanya diakui
sebagai penyiksaan, tidak digolongkan
kekerasan seksual.
Sekarang orang mulai mengatakan bahwa
untuk benar-benar memahami apa yang
terjadi, kita juga harus sadar bahwa
laki-laki pun dilecehkan secara seksual.
Pada Juli 1995, pasukan tentara Republik
Serbska VRS menyerbu kota serebren Niets
di Bosnia Timur.
Konflik di bekas Yugoslavia itu mengubah
cara pandang atas kekerasan seksual
terhadap laki-laki. Mereka yang
mengalaminya sebagian besar adalah warga
sipil muslim Bosnia, baik laki-laki
dewasa maupun anak laki-laki. Sebagian
besar terjadi di kem-kem tentara Serbia,
Bosnia.
Setelah terjadinya pelanggaran hak asasi
manusia yang besar, Dewan Keamanan PBB
membentuk Pengadilan Kriminal
Internasional untuk bekas Yugoslavia
pada tahun 1993. Pengadilan itu berpusat
di Belanda.
Kita akhirnya belajar bahwa kita semua
bertanggung jawab kepada hukum
internasional. Tribunal ini tidak
mencari pemenang. Satu-satunya pemenang
dalam upaya ini adalah kebenaran.
Ini merupakan pengadilan khusus pertama
sejak Tribunal Nurenberg pasca Perang
Dunia Kedua.
161 orang didakwa di Denk termasuk
Presiden, jenderal, dan politisi.
Semuanya sama di hadapan hukum.
Ada harapan besar bahwa pengadilan akan
memberikan keadilan kepada korban dan
menghukum pelaku.
Pria ini telah mempelajari tribunal
Yugoslavia yang untuk pertama kalinya
mengadili kekerasan seksual terhadap
laki-laki dalam konflik bersenjata
sebagai tindak pidana. Tribunal di
Denhak menetapkan standarnya.
Tribunal di Denha adalah peradilan
pidana internasional pertama yang
mencoba mengadili kekerasan seksual
dengan alasan kejahatan perang. Tidak
hanya itu, peradilan ini juga merupakan
yang pertama dalam mendefinisikan
kekerasan seksual bukan hanya sebagai
tindakan perorangan, tetapi juga sebagai
bagian dari kejahatan perang. Ini
pengadilan pertama yang mengadili
tindakan kekerasan seksual terhadap
laki-laki berdasarkan definisi gender.
Upaya serupa dilakukan di Bosnia.
Ini pertama kalinya dalam sejarah.
Ini momen krusial yang bersejarah karena
memberi jaksa dan hakim alat yang kuat
untuk mengadili mereka yang melakukan
hal itu.
Tribunal di Denhak menjadi acuan bagi
proses-proses semacam itu, tidak hanya
di Bosnia, tetapi juga di seluruh dunia.
Zenit adalah kota dengan sekitar 100.000
penduduk selama perang Bosnia. Sejumlah
besar penduduknya melarikan diri ke sini
untuk menghindari pembersihan etnis oleh
orang Serbia Bosnia, terutama warga
muslim Bosnia yang disebut orang Bosnia.
Pria ini pernah bertugas sebagai tentara
di Angkatan darat Bosnia.
Setelah keluar dari angkatan darat, dia
mengelola sebuah peternakan kecil. Dia
adalah warga sipil ketika ditahan polisi
militer Serbia.
Pengalaman itu membekas lama,
sangat menyakitkan
dan membuat saya mengalami banyak
pergulatan batin,
terutama ketika mengingat apa yang saya
alami selama ditawan.
Di sebuah acara saya bertemu dengan
direktur organisasi medika, Zenitah.
Dia mendorong saya untuk berbicara
tentang pengalaman saya untuk menemukan
ketenangan dan kedamaian.
Direkturnya seorang psikolog bernama
Sabia. Dia juga melarikan diri ke Zenit
untuk menghindari kekejaman tersebut. Di
sinilah dia pertama kali bergabung
dengan organisasi bantuan medika Zenit.
Ketika mulai bekerja saat itu, kami
belum terpikir akan membantu para
laki-laki yang selamat dari kekerasan
seksual.
Laki-laki biasanya enggan berbicara
tentang trauma semacam itu. Terlebih
lagi, kami hidup dalam masyarakat yang
sangat patriarki di Bosnia dan
Herzegovina.
Bagi para laki-laki sangat sulit untuk
berbicara tentang kekerasan seksual yang
mereka alami.
[Musik]
Kejahatan yang dilakukan di kem-kem
Serbia Bosnia bertujuan untuk
pembersihan etnis.
Lebih dari 30.000 warga sipil Bosniak
terbunuh.
Pusat penelitian dan dokumentasi di
Sarayevo mengumpulkan berkah setiap
korban.
Beberapa kem berukuran besar seperti kem
di Manjaka ini. Namun ada juga ratusan
kemil yang tersebar di seluruh Bosnia.
Pada Desember 1995, Jinia diculik oleh
polisi militer Serbia dan dibawa ke
penjara di pinggiran Sarajevo.
To je bilo
u fazi kad su nas udarali i kad smo bili
bukvalno bez odče
kad su naselah
penangkapan
mereka memukuli kami dan mengambil semua
pakaian kami
[Musik]
menelanjangi saya
setelah pemukulan saya kehilangan
kesadaran
Setiap kali saya sadar, saya merasa
sakit di area anus.
Saya menjerit kesakitan.
Di momen itu saya dapat merasakan benda
tumpul memasuki tubuh saya
dan benda itu tinggal di sana.
itu semacam skop militer kecil.
Saya tidak bisa bergerak.
Setiap kali mencoba bergerak rasa
sakitnya makin hebat.
[Musik]
Bangunan tempat jinia disiksa terletak
di alun-alun di lingkungan kelas
menengah ini.
Ada restoran dan bar di sana.
Namun di balik tembok-tembok ini dulu
Jinia dirantai telanjang ke radiator
selama 3 hari. Dia diperkosa beberapa
kali.
Setelah dibebaskan, dia tidak bisa
berbicara tentang apa yang dia alami.
Momen yang paling mengharukan adalah
ketika anak saya
yang saat itu berusia 5 atau 6 tahun
bertanya,
"Ayah, mereka memukulimu, ya?" Saya
menjawab, "Tidak, Nak.
Lalu dia bilang, "Walaupun mereka
memukuli ayah, itu tidak penting. Yang
penting ayah sudah pulang ke rumah.
Saya akan mengingat kata-kata itu
selamanya.
Bersama psikolog sabia, Jinia memutuskan
untuk melihat lagi tempat dia disiksa.
Dia masih merasa sulit untuk berdiri di
depan gedung tanpa merasa takut atau
malu. Bahkan setelah 30 tahun,
dia belum bisa melupakan apa yang
terjadi. Bahkan sekarang pun dia merasa
cemas di depan gedung karena pengalaman
traumatisnya muncul lagi.
Kehidupan setelahnya benar-benar sulit
dan traumatis.
Saya merasa semua orang tahu apa yang
terjadi pada saya.
Tapi waktu berlalu dan hidup harus terus
berjalan.
Saya harus terbiasa dengan kehidupan
seperti ini meskipun jiwa saya tersiksa.
Luka fisik telah sembuh, tetapi luka di
jiwa saya tidak akan pernah sembuh.
Rincian kekerasan seksual terhadap
laki-laki terungkap di Denhak.
Dimulai dengan peradilan kasus Dusco
Tadic, seorang politikus lokal Bosnia
Serbia. Dia terdakwa pertama yang
diadili di Tribunal Yugoslavia.
Kejahatannya meliputi penyiksaan,
pembunuhan, dan pemerkosaan.
Pada 1997 dia divonis 20 tahun penjara.
Tujuan penyiksaan itu adalah untuk
menghancurkan korban.
Sungguh menyedihkan dan memalukan
berbicara tentang apa yang saya lihat.
Para tawanan dipaksa melakukan sesuatu
dengan kemaluan mereka.
Sesuatu yang tidak dilakukan manusia
normal. Apa yang mereka alami sungguh
mengerikan.
Mereka orang-orang yang tidak bersalah
dan mereka disiksa tanpa alasan.
Ketika digunakan sebagai senjata perang,
kekerasan seksual dirancang untuk
merendahkan martabat perempuan dan
laki-laki untuk menghancurkan keluarga
dan bahkan seluruh komunitas.
Ini masyarakat patriarki di mana
laki-laki selalu menjadi kepala keluarga
yang kuat, pemimpin institusi dan
seterusnya. Mereka sebenarnya tidak
boleh menjadi korban kejahatan semacam
itu. Masyarakat tidak dapat memahami
situasi di mana hal itu terjadi.
Khususnya ketika kita berbicara tentang
penghinaan dalam keluarga. Tak mudah
bagi laki-laki melakukan tindakan
seksual dengan saudara perempuan, dengan
ibu mereka. Tetapi mereka dipaksa
melakukan itu.
Ada berbagai bentuk pelecehan seksual
dalam konflik, tapi tujuannya selalu
untuk mempermalukan musuh.
Die werden vergewaltigt und der Körper
ist ja eben auch erregorban
diperkosa, tubuh bisa terangsang.
Maksudnya seringkiali korban baik
perempuan maupun lelaki mengalami
rangsangan secara fisik yang sangat
memalukan.
Hilangnya kendali atas tubuh sendiri itu
sangat memalukan karena rangsangan fisik
oleh masyarakat disalah pahami dan
diartikan sebagai kesenangan.
Lalu korban diberitahu bahwa sebenarnya
mereka menikmatinya,
bahwa mereka menginginkannya, setidaknya
secara pasif.
Jadi korban dituduh bertanggung jawab
atas perilaku para pelaku dan mereka
juga menyalahkan diri mereka sendiri.
Dan efeknya adalah korban menganggap
dirinya sebagai homoseksual.
[Musik]
Di Uganda menjadi homoseksual atau
dituduh sebagai homoseksual sangat
berbahaya karena ada undang-undang yang
diberlakukan tahun 2023 yang menargetkan
kaum homoseksual. Mereka bisa terancam
hukuman penjara seumur hidup atau dalam
beberapa kasus hukuman mati. Jadi korban
pemerkosaan yang berbicara secara
terbuka tentang pengalamannya menghadapi
risiko besar. Awalnya Masokolo hanya
menceritakannya kepada sang istri.
Istri saya bertanya apa yang terjadi
pada saya di sana.
Saya ceritakan semuanya.
Saya tidak ingin menyembunyikan apapun
dari dia. Ketika saya selesai, dia mulai
menangis.
Tapi dia menghibur saya. Bagaimanapun
saya yang menderita, bukan dia.
Masokolo dikuatkan oleh dukungan refugi
law project.
Organisasi itu peduli terhadap para
laki-laki penyintas kekerasan seksual.
Mereka tidak hanya menderita dampak
fisik, tapi juga merasa terpaksa
menyembunyikan pengalaman mereka.
Diskusi kelompok dengan para penyintas
lainnya menjadi ruang aman bagi mereka
untuk bercerita.
Saya ingin kita semua duduk seperti ini.
Mari letakkan tangan di lutut dan
menarik napas.
itu bisa membantu kita merasa tenang.
[Musik]
Okay.
Let's starting
zote nikilamka vizuri setiap kali saya
bangun saya merasa tidak baik.
[Musik]
Karena mereka menyebut saya homoseksual.
[Musik]
Masyarakat setempat ke mana pun kami
pergi saat mencoba mengatasi dan
berjuang untuk hidup, mereka tidak mau
berhubungan dengan kami. Mereka bahkan
tidak mau mengambil air dari keran yang
sama. Bekerja bersama mereka juga sangat
sulit. Bahkan mendekati mereka sangat
sulit
karena mereka yakin kami homoseksual.
Kami telah mengalami hal-hal buruk. Kami
tidak perlu disakiti lagi karena kami
sudah cukup mengalami itu.
Refugee Law Project berpusat di ibu kota
Uganda, Kampala.
Undang-undang baru itu membuat tugas
organisasi ini makin sulit. Beberapa
rumah sakit menolak para penyintas
karena takut jadi target kekerasan.
Banyak penyintas bahkan tidak berani
pergi ke rumah sakit. Organisasi ini
memperkirakan ada ribuan korban
kekerasan seksual di Uganda. Dengan
konflik yang masih berlangsung di
negara-negara tetangga, korban bertambah
setiap hari.
Mereka
dikucilkan oleh masyarakat atau dicap
tidak bisa lagi menjadi laki-laki.
Jadi ada stigma,
ada kecenderungan untuk tidak
memvalidasi pengalaman mereka.
Mereka merasa ditolak.
Banyak dari orang-orang yang kami temui
pindah ke pusat-pusat perkotaan atau ke
kawasan urban yang lebih anonim agar
mereka bisa hidup dan berbicara tentang
pengalaman mereka.
Jika yang terkena sanksi adalah para
korban bukan para pelaku, maka peluang
untuk keadilan ditegakkan terhadap
pelaku hampir tidak ada. Pertanyaannya
apa pelaku tidak takut mendapat stigma?
terutama di tempat-tempat yang
menstigmatisasi homoseksualitas.
[Musik]
Tentu para pelaku takut bahwa mereka
juga akan dicap homoseksual.
Tapi dalam konteks tertentu hal itu
tidak terjadi.
Misalnya di militer cukup umum bagi
tentara untuk memperkosa tentara
lainnya.
Contohnya di Marinir Amerika Serikat di
mana itu dipandang sebagai semacam uji
ketahanan.
menanggung kekerasan seksual ini
dipandang sebagai bukti ketahanan
mengatasi penderitaan.
Pada tahun 2004, gambar-gambar dari
penjara Abu Ghaib di Irak ini
menggemparkan dunia.
Gambar-gambar tersebut memperlihatkan
personel militer Amerika sebagai
penyiksa yang juga menggunakan kekerasan
seksual terhadap korbannya.
Itulah makanya pemerkosaan di situasi
seperti itu mungkin terjadi karena tidak
ada stigma homoseksualitas pada
pelakunya.
Penyintas lain yang tidak ingin
disebutkan namanya hampir meninggal
karena kekerasan ini. Dia tinggal dekat
kota Herson di Ukraina. Sebagai mantan
tentara, dia jadi target pasukan
pendudukan Rusia.
[Musik]
Seorang penduduk lokal yang bekerja sama
dengan Rusia mengkhianati saya.
membocorkan alamat tempat tinggal kami.
Kemudian mereka membawa saya. Mereka
memukuli saya dari pagi hingga malam.
Mereka menanyakan pertanyaan yang sama
berulang kali.
Dan kalau saya bilang tidak tahu
apa-apa, mereka terus memukuli saya. Ini
berlangsung setiap hari selama seminggu.
Mereka memukuli saya dengan pangkal
senapan dan dengan papan. Menutup muka
saya dengan plastik pembungkus.
dan menggunakan alat strum pada saya.
Mereka mengancam, membakar, dan
menyiramkan solar ke tubuh saya. Ada
juga kekerasan seksual yang bikin saya
cedera parah. Sampai-sampai saya harus
diberi stoma anus buatan.
Dia mengaku harus menjalani beberapa
operasi. Sejak itu dia kembali ke
pekerjaan lamanya sebagai petani. Tidak
ada yang membantunya keluar dari trauma
masa lalunya.
Di hari ketujuh atau ke-elapan saya
tidak bisa jalan lagi. Saya tidak bisa
berdiri selama 3 hari dan mereka pikir
waktu saya sudah selesai. Mereka membawa
saya keluar dari desa dan melempar saya
ke kuburan mengira saya akan mati.
Tapi setelah beberapa saat saya bangun
dan merangkak pulang.
Sebulan kemudian mereka datang ke desa
dan bertanya, "Apakah saya sudah
dikuburkan?"
Perang bukanlah sebuah pengecualian.
Kita melihat bagaimana hubungan gender,
seksualitas, dan kekerasan juga
dilakukan dan terjadi sebelum perang dan
bagaimana hal itu kemudian diterapkan
dalam kondisi perang.
Kalau melihat periode sebelum perang,
Anda menyadari bahwa sudah ada banyak
praktik kekerasan seksual terhadap
laki-laki.
Misalnya di sekolah asrama, di
ketentaraan, dan pelatihan militer
sebagai cara untuk menunjukkan hierarki
militer. Kita sering menemukan contoh
kekerasan seksual di tempat-tempat ini.
Pelecehan yang dilakukan di bawah
pendudukan Rusia di Ukraina merupakan
bagian dari budaya kekerasan. Selama
bertahun-tahun, aktivis hak asasi
manusia telah menyoroti sistem pidana di
Rusia di mana para tahanan mengalami
penyiksaan dan pemerkosaan. Video-video
ini dibocorkan dari penjara Rusia.
Jaksa Ana Sosonska telah menyelidiki
kasus-kasus yang melibatkan
penjara-penjara Rusia karena tampaknya
juga terjadi pada tahanan Ukraina.
Kami sedang menyelidiki kasus-kasus
warga sipil yang ditahan secara ilegal
oleh Rusia serta tahanan perang Ukraina.
Ada pola yang jelas dan sistematis yang
muncul khususnya terkait penyiksaan
seksual. Ini termasuk tindakan seperti
sengatan listrik dan pemukulan terhadap
kemaluan, ancaman kastrasi dan
pemerkosaan.
Ada kebijakan yang berlaku sejak
pusat-pusat penahanan ini didirikan.
Sehingga ketika para tahanan Ukraina
tiba di sana, mereka menjadi target
penyiksaan termasuk kekerasan seksual.
нього застосовуються певні видикатування
сексуального насильства.
Video yang diambil dari berbagai penjara
Rusia ini menunjukkan bagaimana
kekerasan seksual dilakukan.
Kebijaksanaan penonton sangat
disarankan. Video ini direkam sebelum
invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.
Там власне вибудована кастова система.
kasta yang terdiri dari tuan dan
pembantu.
Jika Anda pembantu, Anda tidak dianggap
sebagai manusia. Mereka menerapkan
budaya ini di penjara, kemudian
menggunakan pengetahuan dan keterampilan
yang mereka peroleh pada musuh mereka.
Kekerasan berakar kuat dalam sistem
pidana Rusia.
Penjara telah menjadi tempat
berkembangnya budaya tidak manusiawi
ini.
Di kalangan militer, kekerasan juga
ditujukan kepada prajurit sendiri. Ini
merupakan bagian dari norma, baik di
masa perang atau tidak.
[Musik]
Orang-orang harus tahu tentang hal ini.
Anda bisa membandingkannya dengan
kekerasan rumah tangga. Keduanya hampir
sama. Anda harus membicarakannya.
Jika tidak, itu akan terus berlanjut dan
berkembang. Skalanya akan semakin besar.
Saat mencari bantuan, penyintas
kekerasan seksual menghadapi tantangan
yang sangat besar. Birokrasi seringkiali
menjadi penghambat, terutama bagi
laki-laki yang biasanya dibiarkan
menjalani proses itu sendirian.
Awalnya saya mengira hanya saya yang
tidak bisa mendapatkan bantuan. Tapi
saya kemudian tahu banyak laki-laki lain
juga mengalami hal yang sama. Sekarang
kami saling membantu seperti saat di
dalam sel. Di sana Anda hanya bisa
mengandalkan sesama tahanan. Tidak ada
yang merawat luka Anda, membantu Anda
berdiri atau membawakan Anda makanan.
Satu-satunya dukungan psikologis datang
dari teman satu sel.
Tahun 2024, Oleksi mendirikan jaringan
untuk para laki-laki penyintas di
Ukraina.
bersama-sama mereka berkampanye untuk
pembebasan semua orang yang masih
ditahan di penjara Rusia.
Saya yakin bahwa saat ini ratusan orang
sedang disiksa termasuk secara seksual.
Bagi saya keadilan artinya membebaskan
dan mengembalikan orang-orang ini ke
keluarga mereka.
[Musik]
Mereka rutin bertemu untuk berbincang
dan belajar menerima pengalaman mereka.
Saya tidak ingin melihat balas dendam
dan eksekusi publik di Rusia.
Yang saya inginkan adalah agar mereka
yang menyiksa saya diadili dan
dimasukkan ke penjara.
Saya tidak ingin balas dendam pribadi.
Penyiksaan terhadap tawanan perang
terjadi pada kedua belah pihak. Namun
menurut laporan PBB tahun 2024, tingkat
penyiksaan di Ukraina sangat berbeda
dengan di Rusia. Sejauh ini tidak ada
bukti konkret tentang penyiksaan
sistematis terhadap tawanan Rusia di
penjara Ukraina. Sementara otoritas
Rusia secara sistematis telah
menggunakan kekerasan seksual.
Laporan dan gambar dari perang Ukraina
membawa kembali kenangan bagi mereka
yang ada di Bosnia.
[Musik]
Mereka menelepon saya dan bilang,
"Sangat sulit melihat semua kejadian
ini. Semuanya terjadi seperti di Bosnia
dan Herzegovina.
Penting bagi kami untuk berbagi
pengalaman dan juga belajar dari satu
sama lain. Bagaimanapun kekerasan
seksual adalah kekerasan seksual. Di
manapun itu terjadi, para penyintas
dipenuhi dengan rasa sakit, rasa malu.
Sebagian besar dari mereka yang ada di
Bosnia, Kosovo, atau di komunitas Yazidi
di Kurdistan, mereka merasakan
stigmatisasi dari komunitas mereka.
di Bosnia butuh waktu lama hingga mereka
diakui sebagai korban perang.
Medika Zenit menginisiasi seluruh
proses.
Saat itu kondisi mental saya masih belum
stabil. Mereka berjuang demi saya.
Prosesnya berlangsung sangat lama.
Tetapi kemudian saya diakui sebagai
korban perang.
Sistem birokrasi kami sangat
membingungkan sehingga sangat sulit
untuk melakukannya sendiri.
Prosesnya makan waktu 3 tahun. Dengan
bantuan Sabia saya bisa melewatinya.
Yasan.
Hanya sedikit penyintas di Bosnia yang
mendapatkan kompensasi. Dana kompensasi
yang dijanjikan belum terwujud. Namun
menyelesaikan proses hukum merupakan
langkah awal.
Tidak ada lagi impunitas bagi pelaku.
Setelah peradilan Yugoslavia selesai,
pengadilan kejahatan perang dibentuk di
masing-masing negara, terutama di
Bosnia. di mana pengadilan pidana
memiliki divisi khusus kejahatan perang.
Unit kejaksaan dan pengadilan khusus
juga dibentuk di Serbia untuk mengadili
kejahatan perang.
Namun upaya itu mengalami kemunduran.
Kejahatan perang seperti di serebrenica
disangkal oleh kaum nasionalis Serbia.
Padahal ada bukti ribuan halaman dari
Denhak. Situasi ini berarti korban
kekerasan seksual baik laki-laki maupun
perempuan kembali terpinggirkan.
Sayangnya proses hukum dan peradilan
serta penilaian terhadap jutaan bukti
hanya memiliki dampak sosial politik
yang sangat kecil.
Dengan kata lain, proses hukum dan
peradilan lebih banyak mencapai hasil di
dalam ruang pengadilan daripada
memberikan dampak sosial atau politik
yang lebih luas.
Sementara itu, negara-negara yang
dilanda perang di Afrika seringki tidak
memiliki mekanisme hukum untuk menindak
pelaku. Sistem peradilan di Republik
Demokratik Konggo dianggap terlalu
lemah. Di Uganda, pemerintah daerah
tidak dapat mengusut kekerasan seksual
terhadap laki-laki karena undang-undang
yang diskriminatif.
Saya pikir di Uganda, sebagian besar
perangkat hukum hanya membahas
pemerkosaan yang berkaitan dengan
perempuan.
Hukum perlu mengakui adanya pemerkosaan
terhadap laki-laki. Pemerkosaan
laki-laki saat ini tidak ada dalam
definisi hukum.
Jadi pembahasannya perlu diperluas.
Pejuang kemanusiaan dan pembangunan
harus mulai menyediakan sumber daya
untuk menanggapi laki-laki dan anak
laki-laki yang menjadi korban kekerasan
seksual dalam konflik. Mereka
benar-benar ada.
Meskipun ada ketakutan akan stigmatisasi
dan diskriminasi, para penyintas
kekerasan seksual dari Bosnia, Konggo,
dan Ukraina ini telah berani berbagi
kisah untuk film ini.
Kekerasan seksual terhadap laki-laki
terjadi hampir di setiap ada perang.
Ada laporan terbaru yang datang dari
penjara-penjara bekas rezim Suriah.
Tuduhan kejahatan serupa selama perang
di Gaza pasca serangan 7 Oktober juga
tengah diselidiki.
Kekerasan seksual memang meninggalkan
luka fisik dan psikologis,
tapi tidak akan mampu merenggut
keberanian korban untuk bersuara.
[Musik]