Kisah nelayan penantang maut di Peru, antara padang pasir dan Samudra Pasifik | DW Dokumenter
gvNG5vXsB8M • 2025-10-31
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Nama saya Juan Loo Guimet. Saya berusia 33 tahun dan tinggal di Huarmey, Peru. Teman-teman memanggil saya Purunga. Saya seorang pengumpul kerang. Saya suka padang pasir ini. Suasananya sangat tenang. Di sini saya bisa memulai hari dengan baik. Jiwa pun selalu damai. Di antara lautan pasir dan Samudra Pasifik, di titik tengah, yang kami rasakan ketika menuruni tebing itu 100 persen adrenalin murni. Sangat menegangkan. Saat merasakan tambang di dalam genggaman, dan turun membawa semua peralatan ini, tanpa rasa takut, tanpa melihat ke bawah, hingga sampai ke tujuan. Saat akan turun, pikiran harus tenang, rileks, dan bebas dari kekhawatiran. Ketika tiba waktunya turun, kami tanggalkan segala permasalahan di atas sini, bersama sepatu dan sepeda motor kami. Kita harus menuruni tebing dengan pikiran yang bebas dan rileks. Jika kita turun membawa segala ketegangan dan permasalahan kehidupan, susah rasanya bisa berkonsentrasi dengan layak. Itu pernah beberapa kali terjadi, kepada saya dan semua rekan kerja. Kalau terlalu banyak pikiran, sulit bisa bekerja dengan baik. Berisiko jika kita banyak pikiran. Bahaya mengintai di mana-mana. Apa yang saya pikirkan ketika turun? Saya fokus saja agar bisa turun dengan benar, mengikat tambang dengan benar. Jika harus memasang paku besi, saya pastikan terpasang dengan benar. Kita harus tahu cara mengikat tali. Dan menancapkan paku dengan benar. Yang penting, selalu melakukannya dengan benar. Ini seperti kebiasaan. Pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas selama bertahun-tahun. Kita turunkan tongkat, atau terkadang ransel. Di tebing tertentu, kita bisa langsung lempar tali dan mulai turun. Ini masalah kebiasaan. Ketika seorang pesepeda naik sepeda, dia tidak terlalu banyak berpikir. Kami juga tinggal mengikat tali dan siap turun. Kami tidak khawatir, karena kami yakin dengan yang kami lakukan. Ada jurang setinggi 100 meter di bawah. Jadi saat berada di tebing, kami tidak boleh takut ketinggian. Kami tahu apa yang kami lakukan. Tidak boleh takut. Ada titik-titik strategis di jalur turun, tempat kami memasang tali untuk turun, dan paku-paku besi itu terpasang permanen di sana. Namun, kami selalu memeriksa kondisi paku-paku itu. Terkadang, pakunya terlihat bagus, tetapi sebenarnya sudah berkarat akibat garam dari percikan air laut. Jadi, yang tersisa hanyalah cangkang besi. Di dalamnya hanya ada seutas benang, tidak lebih. Ketika mencari ikan bersama Diego di Tebing Palo Cruzado, kami menuruni sisi selatan. Di sana ombaknya sangat deras. Jadi saya usulkan untuk naik lewat celah tebing, tetapi sisi tebingnya miring ke luar, jadi saya harus mencondongkan badan ke belakang supaya bisa naik. Saya terus berusaha memanjat, tetapi ada paku besi yang tercabut dan patah. Saya pun hanya berpegangan ke tambang. Saya nyaris jatuh ke bebatuan, tetapi saya terus berusaha naik dan melompat ke arah air. Terkadang, memang harus begitu. Tebing-tebing ini tidak memberi ampun. Kami tidak bisa salah sedikit pun. Tapi di saat yang sama, tebing ini ibarat rumah kedua bagi kami. Bukan hanya bagi saya, tapi bagi semua yang bekerja di sini. Kita bisa menemukan yang kita cari di sini. Kalau ada yang ke sini dan ingin mencari kerang, dia tinggal menuruni tebing. Di sana banyak makanan laut dan beberapa chiton. Kalau mau siput laut, tinggal pergi ke tempat tertentu. Kita bisa mendapatkan apa pun yang kita butuhkan di sini. Tapi tidak banyak yang berani menuruni tebing ini. Kita harus tenang dan benar-benar fokus. Tebing adalah gerbang menuju dunia yang berlimpah. Grandaso adalah teman baik saya. Rekan kerja saya selama bertahun-tahun. Saya suka bekerja sendiri, tapi belakangan ini kami sering bekerja bersama. Dia kawan yang baik. Saya pernah beberapa kali kecelakaan. Jadi, saya lebih suka tidak sendirian sewaktu menuruni tebing yang lebih menantang. Sewaktu orang mendekati tebing atau lereng, mereka cenderung berhenti. Bahkan tidak berani melongok ke bawah. Mereka merasa pusing dan takut jatuh. Tapi, kami langsung turun. Tebing ini bukan rintangan karena kami tahu jalan. Kami tahu ke mana harus melangkah, di mana bisa beristirahat, dan di mana harus berjalan. Kami tidak selalu bergantungan di tali di tengah tebing. Ada kalanya kami beristirahat dan berjalan sebelum sampai ke bawah. Saat kami turun, orang-orang mengira kami mencari harta karun atau sesuatu yang berharga. Padahal, yang berharga adalah hasil laut tangkapan kami. Itu bagaikan emas bagi kami, karena itu makanan dan hasil pekerjaan kami. Itulah harta dan alasan kami turun. Ini pisau kerang dan itu tongkat. Semua orang punya keahlian masing-masing. Kami punya keahlian masing-masing. Benar. Saya ahli pisau, dia ahli dengan tongkat. Masing-masing tahu kemampuannya. Saya yang tercepat. Saya lebih cepat dari peluru, bahkan cahaya. Saya mungkin lebih cepat dari kilat. Saat kilat terlihat, saya sudah sampai di bawah sana. Ketika berada di sana, kami menyatu dengan lautan. Semua bekerja di titik yang menurut mereka paling baik, tergantung lokasinya. Saya bisa ke mana saja dengan tongkat ini. Dengan ini, saya bisa lebih mudah berpindah tempat dan mengambil kerang-kerangan dari bebatuan. Tongkat-tongkat ini jadi perpanjangan tangan saya. Saya tidak bisa bekerja tanpa benda ini. Di hari-hari seperti ini, ketika cuaca buruk, laut seolah berkata, "Jangan berenang." Bagi mereka yang menangkap seafood dengan pisau logam, dengan besi, perairan ini berbahaya. Tongkat ini sangat membantu dan penting. Saya tidak bisa melakukan semua itu tanpa alat ini. Setelah jaring dan mata pancing terpasang di tongkat, saya bertengger di tepi tebing dan mulai memancing. Saya selalu waspada karena ombak besar bisa tiba-tiba menerpa. Salah melangkah saat berlari, atau salah postur tubuh juga bisa berbahaya, tapi untungnya, tongkat ini bisa menyelesaikan pekerjaan saya. Samudra Pasifik penuh dengan kehidupan. Di sini sungguh menyenangkan, bukan cuma untuk memancing, tetapi juga menikmati suasana. Burung-burung dan keanekaragaman hayati di sekitarnya. Saya sangat menikmati pekerjaan saya setiap hari. Bukan hanya menangkap hasil laut, tetapi juga berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Menangkap hasil laut dengan tongkat itu seperti seni. Rasanya seperti mengerjakan hobi. Sepanjang hari, saya menangkap hasil laut dengan tongkat. Begitu terus. Saat surut, saat pasang, ketika hari cerah, ketika cuaca buruk. Ini seni, tapi tidak buat semua orang. Ada yang pernah coba, tapi cepat bosan, karena butuh lengan yang kuat, ketangkasan, serta akurasi tinggi untuk bisa mengambil kerang-kerangan itu. Jika kita tusuk satu kerang, tapi kerang itu tidak lepas dari batu, kerang itu harus dibiarkan. Karena ketika moluska berada di atas batu dan merasakan sentuhan, dia akan menegang dan menempel lebih erat ke batu. Kalau dicoba lagi, cangkangnya akan lepas, tapi dagingnya akan tetap menempel di batu. Jadi sebaiknya dibiarkan saja, buat lain kali. Kita tidak pernah sendirian di tebing. Sering kali ada singa laut yang tinggal di sini. Mereka seperti teman, mereka selalu ada di dasar tebing. Mereka hidup enak di sini, karena terdapat banyak makanan. Mereka salah satu populasi terbesar di Amerika Selatan. Kalau dari segi akurasi, di mana pun tiang menyentuh batu, di situ ada kerang. Sedangkan untuk chiton, melepaskannya dari batu lebih sulit. Sewaktu disentuh, mereka akan menempel di batu. Limpet juga begitu. Tapi setelah diketuk dua atau tiga kali, mereka akan keluar. Siput laut juga agak tangguh. Mereka biasanya berkumpul seperti anggur. Jadi, kita harus segera ambil yang pertama dan cepat mengambil yang lain-lainnya. Jika terlalu lama, siput laut lainnya berlompatan ke air. Mereka bisa merasakan keberadaan kita. Kadang-kadang tidak ada apa-apa. Hari ini Grandaso tidak dapat apa-apa. Itu karena airnya sangat deras. Kalau airnya deras, rasanya seperti menjala ikan. Mereka suka menangkap ikan silverside, tapi ikan ini tidak bisa ditangkap sepanjang tahun. Ada musim dan periode larangan memancing yang diberlakukan pemerintah agar ikan dapat tumbuh dan berkembang biak. Bagi kami, larangan semacam ini tidak ada. Tetapi jika laut selalu tenang, lama-lama kerang akan habis. Jadi periode larangan buat kami adalah ketika laut sedang tidak ramah. Seolah-olah laut berkata, “Sudah cukup. Bersabarlah.“ Supaya hasil laut bisa bertumbuh. Siput laut, kerang-kerangan, semuanya. Laut memungkinkan kami bekerja dengan tongkat. Omong-omong soal tongkat, kita tidak bisa lepas dari José Mallqui, yang dikenal sebagai El Zorro atau "si rubah". Dia salah satu pelopor teknik tongkat. Dia disebut bapak tebing. Dia mengajari kami dasar-dasar pekerjaan ini. Terutama saya. Dia mengajari saya ketangkasan dalam menggunakan tongkat. Dunia sekitar kita itu keras, bukan hanya bagi manusia. Lihat singa laut jantan besar di bawah itu, terlihat jelas persaingan sengit di antara mereka untuk melindungi kumpulannya. Tujuannya selalu sama: Kawin dan berkembang biak. Jika tangkapan kerang-kerangan sedang bagus, saya selalu menyempatkan diri pergi ke tempat yang bagus untuk memancing. Tidak banyak nelayan datang ke sini. Perahu-perahu mereka tidak berani mendekati tebing, karena sangat berbahaya. Satu, dua, tiga, empat. Tangkapan yang bagus. Ada tempat-tempat dengan hasil tangkapan yang bagus. Tapi ketika pasang, ikan-ikan ikut terbawa arus dan terkadang jumlahnya tidak banyak. Kita perlu sangat fokus. Tapi saya suka menangkap ikan. Kita tidak pernah tahu akan dapat apa. Ada banyak hal di sekitar tebing ini. Bukan cuma kerang, tapi juga bermacam ikan. Pertama, kita kupas umpannya, ini kepiting kecil. Menangkap ikan butuh kesabaran. Terkadang perlu berpindah dari satu teluk ke teluk lain, tetapi tetap tidak dapat ikan. Tapi dengan kesabaran dan intuisi, kita bisa berhasil. Saya sudah lama mengenal Cenizo. Saya percaya kepadanya karena dia punya keterampilan dan ketangkasan untuk mengendalikan perahu di dekat tebing dan menuju tempat-tempat ini. Ada tempat-tempat yang terlalu berbahaya untuk dikunjungi. Jadi harus mencari jalan lain. Kalau sudah begini, saya akan menghubungi Cenizo. Dia punya perahu yang bisa membawa saya ke tempat-tempat itu. Saya percaya dia bisa membantu. Jika saya tidak bisa memanjat atau tempatnya terlalu sulit dijangkau, saya tahu saya bisa kembali ke kapal, dan dia akan membantu. Kami memakai ban dalam sebagai pelampung untuk mengangkut peralatan kerja kami di tebing. Ini supaya saya tidak lelah berenang bolak-balik. Terkadang saat menuju tebing, kami mengobrol tentang banyak hal. Biasanya saya di depan perahu, dan dia di belakang. Sering kali, karena suara mesin dan angin, saat dia bicara, saya hanya jawab, "Iya, iya," tetapi saya tidak mengerti apa pun. Laut penuh dengan bahaya. Salah satunya singa laut. Teman saya pernah melompat ke laut dan pahanya digigit oleh singa laut. Rahang mereka sangat kuat. Lebih kuat dari gigitan anjing. Teman saya dilarikan ke rumah sakit dan harus dioperasi. Itulah sebabnya kami selalu bertindak waspada untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Setelah perjalanan panjang, kami akhirnya sampai. Begitu berada di air, kami harus memerhatikan ombak dengan cermat dan mengikuti ombak yang akan membawa kami ke bebatuan. Setelah itu, kami harus menuju titik tujuan. Saat memulai bekerja di laut, saya teringat kata-kata para pelaut yang berpengalaman. “Laut bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dihormati.” Salah satu hal yang selalu saya katakan ke rekan-rekan adalah, "Kita tidak bisa hanya fokus mencari kerang. Kita juga harus memperhatikan laut. Itu sebabnya kita punya dua mata. Satu untuk laut dan satu lagi untuk moluska.” Saya bisa saja memilih pekerjaan yang lebih santai dan tidak terlalu berisiko. Tapi inilah yang saya sukai. Saya bahagia di sini, dikelilingi alam dan kehidupan di dalamnya. Lautnya sungguh menakjubkan. Di antara pecahan ombak, kita belajar menentukan kapan waktu terbaik untuk keluar dari zona bahaya, atau untuk menangkap kerang. Burung laut adalah hewan yang menakjubkan di tebing-tebing ini. Burung gannet utara bersarang di tepian tebing. Kau tidak menyangka mereka bisa bertahan hidup di sini, tapi mereka bisa. Hasil laut yang kami kumpulkan di Huarmey, tidak bisa ditemukan di tempat lain. Orang-orang yang suka dengan rasanya sering bilang bahwa rasanya unik. Itulah sebabnya kerang dari Huarmey dikirim ke daerah lain, dan disajikan di restoran. Begitu pula ikannya. Ikan kami rasanya berbeda dengan ikan lain. Semua ini dikirim ke pasar dan ke picanteria. Setiap hari kami kembali ke kota. Hari ini, kami tidak tidur di sini. Mungkin lain kali. Ketika saya mulai bekerja di sini, ayah saya sudah tahu tempat-tempat ini. Tapi ibu dan saudara perempuan saya tidak tahu seperti apa tebing-tebing ini. Kalau mereka datang dan melihat sendiri, saya rasa mereka akan mengikat saya supaya tidak bisa kembali bekerja di sini, karena mereka takut saya akan mati akibat risiko yang kami hadapi di tebing ini. Saat kami ke sini, kami pakai tuas ini. Dengan tuas ini, jika yang satu naik, yang satu lagi akan tertarik ke bawah. Kecelakaan itu terjadi pukul 10 pagi. Ketika jatuh, saya merentangkan lengan dan salah satu lengan saya membentur tepi tebing. Saya pun mengalami patah tulang terbuka. Luka itu juga merobek baju saya, termasuk wetsuit yang saya pakai. Diego juga meninggal di sini. Saya memanjat tanpa henti. Saya baru kembali dari tebing lain dan saya kelelahan. Saya ingin memanjat sampai atas, tapi lengan saya kelelahan. Pada titik tertentu, tangan saya terasa hangat. Saya dilema antara ingin terus memanjat atau berhenti di tempat. Tangan saya tidak lagi mampu memegang tali. Saya kira saya akan mati. Seluruh hidup saya berkelebat di mata saya. Suatu hari, saya mendapat telepon bahwa Diego telah tiada. Laut telah mengambilnya. Mereka tidak pernah menemukan jasadnya. Itu sungguh mengejutkan… Itulah sebabnya, sekarang saya lebih suka turun tebing bersama orang lain. Dulu saya suka berolahraga, tapi sekarang tidak bisa. Saya hanya bisa joging sebentar. Mungkin nanti saya akan bisa berlari lagi. Perlahan saya akan pulih. Saya menghabiskan enam bulan di Lima, Peru, untuk rehabilitasi, menjalani terapi fisik setiap hari, dan minum obat, agar bisa pulih lebih cepat. Lagi-lagi orang bilang, "Purunga sudah mati. Dia jatuh dari tebing." Memang mengerikan, tapi begitulah hidup bagi orang-orang yang bekerja di tebing. Hidup tidak mudah. Setiap hari penuh tantangan. Kami tidak pernah tahu apakah nanti malam akan bisa pulang. Tapi inilah hidup yang ingin kami jalani dan cintai. Teman-teman kami ada yang sudah meninggal, tetapi kami kembali bersama mereka setiap hari. Mereka bersama kami di tebing, dan setiap hari mereka berbisik agar kami berhati-hati. Alam itu kuat dan kau tidak bisa melawannya. Kami naik sepeda motor dan kembali ke kota. Meninggalkan tebing-tebing itu sambil bersyukur kepada Tuhan. Kami bisa pulang dengan selamat. Sekarang kami tinggal mengantarkan harta karun dari tebing-tebing itu ke pasar. Kami pulang dengan gembira karena telah dapat banyak di sini. Bahkan lebih senang lagi karena bisa pulang ke rumah dan bertemu keluarga. Hasil laut ditata di meja dan dijual per lusin. Ada juga perempuan yang mengolah hasil laut di pasar. Misalnya, chiton dan siput laut, agar bisa langsung dinikmati pembeli. Dan setiap pagi, kami mengulang segalanya, dari awal lagi.
Resume
Categories