Transcript
gaD1wFMJz3Y • Harga pesta pernikahan mewah yang sesungguhnya di India | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0076_gaD1wFMJz3Y.txt
Kind: captions
Language: id
Meriah, megah, terkadang berlebihan.
Inilah kesan tentang pesta pernikahan di India.
Banyak yang dilibatkan.
Sekarang, semua orang seolah harus ikut
menggelar pesta pernikahan seperti itu.
Namun, berapa harga yang harus dibayar?
Dan siapa yang menanggungnya?
Orang tua saya menghabiskan
sekitar 35 hingga 40 lakh.
Menurut saya, ini gila.
Namun, gemerlap kemewahan itu
menyimpan realitas kelam.
Keluarga dari kelas menengah, menengah ke bawah,
atau bahkan orang miskin akhirnya terpaksa berutang.
Akankah keadaan ini berubah?
Kami tidak ingin pernikahan megah.
Ini adalah hari istimewa bagi Kirtishree dan Deepankar.
Mereka akan menggelar pernikahan tradisional Hindu
di New Delhi.
Momen ini telah lama mereka nantikan.
Sebelas bulan lamanya merencanakan pernikahan ini.
Banyak yang dilibatkan.
Pernikahan mereka adalah pernikahan khas India.
Megah, dirancang dengan cermat
untuk membuat orang terkesan.
Dari tarian koreografi hingga ke ritual sakral,
perayaan bisa berlangsung berhari-hari.
Ada serangkaian acara prapernikahan khas India.
Kami mengadakan roka, menggelar pertunangan,
kami mengadakan haldi, mehendi,
koktail, dan pernikahan.
Di hari pernikahan, sanak saudara,
teman dan bahkan kenalan jauh
datang mengenakan pakaian terbaik mereka.
Kehadiran para tamu undangan
merupakan simbol status dan kehormatan.
Ada pertukaran hadiah,
gosip dan drama terungkap,
dan emosi memuncak.
Di India, pernikahan tradisional
adalah pesta pora megah selama berhari-hari.
Sering kali, acara ini juga dijadikan ajang persaingan.
Namun, siapa yang menanggung biayanya?
Sebagian besar generasi milenial dan Gen Z di India
tidak mampu membiayai pernikahan mereka sendiri.
Karena itu, keluarga mereka menanggung ongkos pesta.
Dan biasanya, sebagian besar
ditanggung pihak perempuan.
Laporan terkini menunjukkan,
rata-rata keluarga India menghabiskan uang
dua kali lebih banyak untuk pernikahan
dibandingkan untuk pendidikan anak-anak mereka.
Termasuk juga keluarga Kirtishree dan Deepankar.
Kini saya tahu tentang orang tua saya
dan juga orang tuanya.
Semua yang mereka tabung untuk kami,
mereka telah menghabiskannya.
Di dunia utopis, itu bukanlah hal yang paling bijak.
Tapi saya kasih tahu ya,
itulah gunanya orang tua mencari uang.
Bercanda ya.
Saya bisa melihat kebanggaan di wajah mereka
ketika mereka berdiri di sana,
orang-orang menikmati hidangan,
melihat kami semua berhias,
dengan semua dekorasi indah di rumah pertanian ini.
Dan saya dapat melihat betapa bangganya mereka,
bukan pada kami, tetapi pada diri sendiri.
Jadi seolah-olah,
“kami melakukan ini untuk anak-anak!”
Pesta semacam inilah yang menjadi standar.
Tahun 2024 lalu, Anant Ambani,
putra orang terkaya di Asia,
menikah dalam sebuah pesta
yang telah memukau dunia selama berbulan-bulan.
Biaya pesta yang digadang
sebagai pernikahan terbaik abad ini
diperkirakan melampaui 9 miliar rupiah.
Keluarga Kardashian, keluarga artis Bollywood,
dan tamu VIP lainnya hadir.
Nimit Mehta telah menggeluti bisnis pernikahan
selama 25 tahun terakhir.
Nilai industri pernikahan India saat ini dipatok
sekitar 130 miliar dolar AS (lebih dari Rp2.000 triliun).
Kedua terbesar di dunia.
Pernikahan-pernikahan mewah di India
sudah ada pada dua dekade lalu.
Dua dekade kemudian, ini masih juga berlangsung.
Dan kenapa orang menghabiskan begitu banyak uang?
Bagi mereka, itu adalah perpanjangan citra mereka.
Sekarang kita berada di rumah Niyati Saxena,
seorang pendiri perusahaan rintisan.
Awalnya, ia dan tunangannya
ingin pernikahan skala kecil yang akrab.
Namun, pihak keluarga mendesak mereka
untuk tidak tanggung-tanggung.
Hari ini adalah upacara mehendi
atau menggambar henna
di lengan Niyati, tradisi prapernikahan.
Para kerabat sudah mulai berdatangan.
Kira-kira habis sekitar 20 hingga 25 lakh
untuk bermacam acara,
untuk keseluruhan acara pernikahan.
Sebentar, ibuku bilang lebih dari itu.
Berapa, Bu?
Tiga?
Ya ampun.
Oke, jadi orang tua saya menghabiskan
uang yang tidak saya tahu.
Sepertinya mereka menghabiskan sekitar
35 hingga 40 lakh (sekitar Rp682-793 juta).
Menurut saya, ini gila.
Namun ibunya Niyati, Neha,
berpendapat lain.
Seperti kebanyakan orang tua di India,
Neha merasa harus memenuhi
tuntutan masyarakat dan tekanan dari lingkungan.
Kami telah menghadiri pernikahan orang lain,
sepupu, teman-teman saya.
Jadi ketika giliran saya,
saya tidak bisa mengadakan pernikahan yang intim
dan tidak mengundang mereka.
Ketika Niyati lahir, saat itu saya mulai berpikir,
ketika anak saya menikah,
saya akan melakukan ini dan ini.
Semuanya sudah dipikirkan, direncanakan.
Itu sudah tertanam dalam diri kami.
Jadi, menggelar pernikahan tradisional itu
sangat penting.
Dan menurut saya,
ini membawa kegembiraan dan koneksi.
Banyak alasan untuk merayakannya!
Namun, tidak semua orang mampu melakukannya.
Di India, 1% orang terkaya menguasai
sekitar 40% dari total kekayaan negara.
Buat banyak orang, perayaan megah
sangatlah tidak mungkin.
Sekarang kita di Agra, kota cinta
yang terkenal dengan Taj Mahal-nya.
Di sini, pemerintah atau organisasi filantropi
sering menjadi sponsor pernikahan massal seperti ini,
sebagai alternatif yang lebih terjangkau.
Banyak keluarga miskin di sini
mendaftar sebagai penerima bantuan.
Vijay Kumar adalah pejabat pemerintah
yang mengawasi acara tersebut.
Ini adalah program nikah massal
untuk para calon pengantin
dari kalangan ekonomi kurang mampu.
Berdasarkan skema ini,
tiap calon pengantin menerima 51 ribu rupee,
atau sekitar 10 juta rupiah.
Dari jumlah itu, 35 ribu rupee
ditransfer langsung ke rekening bank mereka,
10 ribu rupee untuk kebutuhan rumah tangga,
dan 6 ribu rupee untuk penyelenggara acara.
Hadiah dan uang tunai untuk pengantin perempuan
biasanya disimpan oleh pengantin pria atau keluarganya.
Saya ingin menyimpan uang itu untuk masa depan.
Uang ini akan membantu saya di masa depan.
Beberapa calon pengantin mengatakan secara anonim
bahwa keluarga mereka masih merencanakan resepsi yang lebih besar karena tekanan sosial.
Keluarga calon pengantin perempuan diharapkan mengeluarkan banyak uang
untuk memenuhi tuntutan keluarga calon pengantin pria
dan membuat kerabat terkesan.
Jika tidak dilakukan, konsekuensinya serius.
Jadi pilihannya adalah meminjam uang dari rentenir
atau pernikahan berisiko dibatalkan.
Keluarga sering terjebak dalam utang seumur hidup.
Di India, sekitar 10 juta pernikahan
berlangsung setiap tahunnya.
Ada keluarga tertentu dari kelas menengah,
atau kelas menengah ke bawah
atau bahkan keluarga miskin yang akhirnya berutang
dan sangat kesulitan melunasi pinjaman ini.
Pada akhirnya pihak orang tua akan tertekan.
Lalu, ada semacam mahar,
yang sering kali harus dibayarkan keluarga mempelai perempuan kepada mempelai pria dan keluarganya.
Prosesi pernikahan lain dengan alat musik tiup kuningan.
Namun di daerah ini, saya bertemu
dengan seorang ibu yang sedang berduka.
Dia menunjukkan foto-foto pernikahan putri bungsunya, setahun yang lalu.
Namun kini, putrinya telah tiada.
Dia ditemukan tewas, diduga bunuh diri,
setelah mengalami penganiayaan
dari suami dan mertuanya,
kata sang ibu.
Kami tidak tahu ini akan terjadi.
Dia kesepian.
Dia menanggung semuanya,
dan hanya cerita satu atau dua kali.
Ibu ini seorang janda,
dan mas kawin yang diminta keluarga pria
di luar kemampuannya.
Kulkas, mesin pendingin, mesin cuci,
tempat tidur dobel, TV ukuran besar.
Mereka juga meminta mobil.
Jadi, saya juga memberi kalung dan cincin emas.
Dan mereka masih begini kepada putri saya.
Putrinya mengunggah video di Instagram
tentang rasa kesalnya atas tuntutan mas kawin itu.
Jika orang lebih mementingkan mas kawin
dibandingkan apa pun,
bagaimana saya bisa hidup?
Sang ibu yakin itu pembunuhan, bukan bunuh diri.
Polisi ikut dilibatkan.
Sang suami kini berada di balik jeruji besi,
tetapi belum menghadapi tuntutan hukum.
Sementara sang ibu,
berjuang untuk membayar utang dari pernikahan itu.
Mahar sebenarnya ilegal,
tetapi di 95% pernikahan di India,
ini masih diberikan.
Yang menarik tentang mahar adalah ini terjadi
di tiap komunitas dan kasta di India.
Aktivis dan peneliti sosial Ranjana Kumari
berjuang selama puluhan tahun melawan kekerasan
akibat uang mahar.
Bahkan di tahun 2022,
data yang disajikan di Parlemen menunjukkan
6.000 kasus kematian akibat mahar
dan melaporkan 13.500 kasus pelecehan.
Jika ada satu orang yang memberanikan diri
membawa kasus ini ke pengadilan, ke kantor polisi,
berarti ada 10 kasus yang terjadi di baliknya.
Orang-orang hanya diam saja tentang hal itu.
Kasus pelecehan karena mahar, bunuh diri karena mahar,
pembunuhan karena mahar meningkat.
Gengsi pernikahan benar-benar
menciptakan lebih banyak masalah
bagi pihak perempuan dan keluarganya.
Bagaimana cara pasangan dan keluarganya
menghindari tekanan ini?
Kami bertemu Chetan dan Vishakha di Delhi.
Mereka adalah fotografer pernikahan
dan sudah menikah.
Hari ini, mereka sedang melakukan
pemotretan prapernikahan.
Bekerja di banyak acara besar
membuat mereka enggan mengambil jalan ini.
Kami telah banyak melihat pesta pernikahan
di mana orang-orang seolah bermain sandiwara.
Ada 50 penari, mereka hanya duduk di kursi besar,
ada karavan, para tamu berdatangan,
ribuan petasan dinyalakan,
ratusan pemuka agama berdoa,
lalu mereka bertukar karangan bunga.
Rasanya sangat tidak wajar.
Saat merencanakan pernikahan pada dua tahun lalu,
mereka berdua memilih perayaan yang kecil dan pribadi.
Kami sudah melihat sangat banyak pernikahan.
Kami tidak ingin pernikahan yang megah.
Tidak ada seorang pun di pesta pernikahan
yang tidak saya kenal.
Saya tidak perlu berpura-pura bersikap anggun.
Bagaimana rasanya melawan tekanan masyarakat?
Di sini, siapa pun yang ingin menggelar
pernikahan kecil perlu keberanian.
Karena Anda harus melawan keluarga
dan ya, orang akan membicarakannya.
Ini adalah video dari hari besar mereka.
Biayanya kurang dari separuh biaya pernikahan
tradisional pada umumnya.
Hanya 20 teman dekat dan kerabat yang diundang.
Keluarga pun akhirnya menerima.
Semua orang bilang, seharusnya pernikahan itu begini.
Di pesta pernikahan,
semua yang hadir merasa sedang
merayakan kedua pengantin.
Namun, tradisi dan tekanan sosial sangatlah kuat.
Meskipun mahal dan menguras emosi,
mayoritas pernikahan di India
tetap merupakan acara mewah.
Pernikahan kedua mempelai ini
masih sebuah pengecualian.