Transcript
3D7xn6YtoK0 • Bagaimana kriket mempersatukan dan memisahkan Afganistan? | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0078_3D7xn6YtoK0.txt
Kind: captions Language: id Afganistan. Sebuah negara yang kerap dilihat dari kacamata konflik selama berabad-abad. Terletak di jantung Asia, Afganistan menyimpan kehangatan yang mencairkan kerasnya masa lalu. Dan di tengah kenestapaan, rakyat Afganistan mampu menemukan kebahagiaan dari hal tidak terduga. Kriket menjadi satu-satunya sumber kegembiraan kami. Kriket telah mempersatukan Afganistan. Rashid Khan melempar bola ke Mark Wood, dan jatuh! Afganistan menang! Afganistan menang mengalahkan juara dunia Inggris. Afganistan mendadak berubah menjadi salah satu tim kriket putra terbaik di dunia. Saat itu Afganistan tidak dianggap sebagai tim bagus atau punya potensi. Sekarang, mereka dianggap tim terbaik. Di negara yang kaya sejarah dan dilanda perpecahan ini, banyak yang percaya kriket dapat menjadi pemersatu. Kriket telah menyatukan semua etnis, membuat kami tersenyum dan menjadi sumber kebahagiaan kami. Namun, di bawah kekuasaan Taliban, kegembiraan ini hanya dapat dirasakan oleh sebagian populasi Afganistan. Tidak ada perdamaian di Afganistan. Tanya saja remaja perempuan di sini, mereka sama sekali tidak punya apa-apa. Kriket telah membantu memulihkan bangsa yang masih tertatih akibat puluhan tahun perang. Dan menjadi alat perlawanan bagi rakyat di pengasingan. Bagi banyak orang Afganistan, kriket memberi secercah harapan. Mentari pagi kembali menerobos kabut di langit Kabul. Saat Ibu Kota Afganistan ini perlahan terbangun, sejumlah warganya sudah mulai beraktivitas. Nama saya Haji Hassan Nanwai. Saya berusia 84 tahun. Saya datang ke sini untuk berolahraga setiap pagi dan sore. Olahraga adalah kegiatan yang selalu dilakukan Haji Hassan seumur hidupnya. Tempat olahraganya, Bukit Wazir Akbar Khan, sudah menjadi saksi banyak perubahan di negara itu. Banyak kerajaan datang silih berganti. Saya sudah melihat banyak pemerintahan. Di era Raja Zahir Shah, keadaan stabil, damai dan bebas. Tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Perempuan dihargai. Mereka juga bersekolah. Kabul modern sangatlah berbeda. Di antara hiruk-pikuk warganya, tersimpan luka dari konflik selama ratusan tahun. Dalam seabad terakhir, Afganistan telah menyaksikan runtuhnya kerajaan, bangkitnya komunisme, perang saudara, serta berkuasanya Taliban. Sejak Perang Soviet-Afganistan di tahun 1979, negara ini terus dilanda ketidakstabilan. Saya masih muda waktu itu. Ketika komunis datang, kami melawan mereka. Satu teman saya meninggal. Selama bertahun-tahun, keberagaman dan kerumitan etnis di Afganistan dimanfaatkan oleh pemimpin milisi dan tokoh politik yang berkuasa. Perpecahan masih terjadi antara etnis Pashtun, Tajik, Uzbek, dan Hazara. Begitu pula antara desa-desa yang pernah berjanji mendukung berbagai faksi yang bertikai. Saat itu, situasi di Kabul sangatlah buruk. Banyak raja kecil berkuasa. Namun, Afganistan sering kali dikaitkan dengan peristiwa setelah 9/11. Amerika Serikat menghabiskan 20 tahun yang berakhir tragis untuk memerangi Taliban, kelompok pemberontak militan Islam. Afganistan telah melewati masa yang sangat berat. Saya bersyukur sekarang sudah aman dan damai. Namun, perdamaian dan keamanan itu harus dibayar mahal. Pada tahun 2021, Taliban kembali berkuasa, dan hak-hak perempuan kembali direpresi. Sanksi internasional dan isolasi politik juga turut melumpuhkan ekonomi Afganistan. Setidaknya 85% penduduk hidup dalam kemiskinan. Di tengah kekacauan ini, secercah harapan muncul. Kriket. Permainan ini menghibur rakyat Afganistan. Dan memberi mereka alasan untuk bergembira. Orang-orang harus bermain kriket. Saat bermain kriket, Afganistan bisa mengalahkan dunia. Afganistan menunjukkan kekuatannya kepada dunia melalui kriket. Dan Hassan yakin, hal itu bisa menjadi inspirasi bagi negara itu untuk membangun masa depan yang lebih baik. Saya berdoa negara ini akan merdeka. Perempuan akan bebas, anak-anak perempuan akan bebas. Rakyat Afganistan akan bersatu, dengan pertolongan Tuhan. Keinginan untuk bersatu inilah yang menjadi alasan betapa permainan sederhana ini telah memukau hati dan benak rakyat Afganistan. Dan membuat bangsa itu kembali berani bermimpi. Di sini saya dibesarkan. Desa Beniga, di Distrik Behsud Do Saraka, adalah tempat saya mulai bermain kriket. Anak-anak mulai bermain kriket dengan bola tenis yang dililit selotip. Mereka bermain bersama di jalanan desa. Semua berkumpul, sangat menyenangkan. Nama saya Jamal Stanikzai. Impian saya adalah mengenakan seragam tim kriket nasional Afganistan dan mewakili negara ini di tingkat internasional. Provinsi Nangarhar, di bagian timur Afganistan dekat perbatasan Pakistan, menjadi pusat kriket negara itu. Di sini semua orang bermain kriket. Orang Afganistan itu pekerja keras dan berbakat. Mereka sangat gila kriket. Kalau kita lihat orang-orang di Afganistan, mereka bermain kriket di jalanan yang ramai, dan di pedesaan. Saya rasa, hampir semua pemain kriket mulai bermain dengan bola selotip. Bola tenis dililit selotip, dibuat mirip bola kriket profesional yang mahal, terbuat dari gabus dan kulit. Meski terlihat santai, orang-orang menganggap serius permainan ini. Ada turnamen yang sangat besar dan menarik. Para pemenang akan mendapat hadiah mobil, domba, dan sepeda motor. Jamal adalah pelempar leg-break. Ia menggunakan pergelangan tangan untuk memutar bola agar mengecoh pemukul. Gaya ini umum digunakan di tim nasional. Gaya ini dipraktikkan dengan baik oleh atlet kriket Afganistan, Rashid Khan, salah satu pelempar spin terbaik dunia. Saya terinspirasi oleh Rashid Khan dan ingin menjadi seperti dia. Saya juga ingin meraih prestasi besar bagi Afganistan lewat kriket dan membuat negara ini bangga. Mimpi Jamal bergabung dengan tim nasional semakin kuat seiring dengan membaiknya tim tersebut. Meski sudah tergabung dengan tim pemuda, Jamal yang berusia 22 tahun ini masih menunggu datangnya kesempatan besar. Namun, sebagai pemuda, setidaknya dia boleh bermimpi. Bagi banyak orang, di bawah kekuasaan Taliban, mimpi semacam itu dapat berujung pada hukuman mati. Meninggalkan Afganistan bukanlah pilihan. Dan datang ke Australia juga bukan sebuah pilihan. Ketika Taliban datang, tanpa pikir panjang, saya memutuskan pergi dan meninggalkan segalanya. Dulu di Afganistan, perempuan boleh bermain dan menonton kriket. Firooza Amiri tumbuh besar dengan bermain kriket di Herat, di wilayah barat Afganistan, dan lolos ke tim nasional perempuan yang baru didirikan tahun 2020. Saat masih di Afganistan, saya merasa paling beruntung karena mendapat kesempatan ini. Alasan saya lolos adalah pukulan cover drive saya. Menurut pelatih, pukulan drive saya cukup bagus. Sejak mulai bermain kriket dan memegang tongkat itu, saya selalu ingin mewakili negara saya. Kenyataannya, menurut Firooza, atlet kriket perempuan tidak pernah mendapat dukungan serius di dalam negeri. The Afghan Cricket Board atau ACB, hanya membentuk tim karena tekanan International Cricket Council, yang mengharuskan negara-negara anggotanya mendanai tim perempuan. Menurut saya, ACB tidak pernah mendukung perempuan. Afganistan itu negara yang didominasi laki-laki dan mereka selalu berusaha menekan kami. Dua puluh lima atlet perempuan diberi kontrak. Namun, mereka tidak pernah berlaga di pertandingan resmi internasional. Dan ketika Taliban kembali berkuasa, hidup mereka berubah dalam sekejap. Saya hanya memikirkan keluarga saya. Saya sangat khawatir akan keselamatan mereka. Ketika Taliban datang, tanpa pikir panjang saya langsung membakar semuanya. Peralatan kriket Firooza hancur menjadi abu. Pelarian tim pun dimulai. Tiga aktivis Australia menghubungi mereka dan mengontak lembaga kriket Australia, yang membantu mengurus paspor dan visa. Namun, sebelum bisa ke Australia, mereka harus pergi ke Pakistan, melewati pos pemeriksaan Taliban. Setiap kali mengingat perjalanan itu, rasanya sangat memilukan. Mereka bisa saja tiba-tiba mengenali saya. Saya bersama adik laki-laki yang berumur 9 tahun dan adik perempuan yang berumur 15 tahun. Kami ketakutan sepanjang perjalanan. Saya merasa telah membawa mereka ke dalam bahaya bersama saya. Saya takut hal buruk akan terjadi pada keluarga ini, saya harus bagaimana? Terpaksa meninggalkan rumah di usia 18 tahun, Firooza kini harus menyaksikan Taliban memanfaatkan kriket untuk meraih popularitas. Sembari menyingkirkan para pemain perempuan. Menurut saya, Taliban takut apabila para perempuan muda mengetahui hak-hak mereka. Begitu perempuan mendapatkan pendidikan, mereka akan mendidik masyarakat. Ketika datang ke Australia, kami melihat apa artinya memiliki hak dan kesetaraan. Saya pikir, setiap masyarakat butuh pemimpin perempuan. Dan saya yakin perempuan Afganistan mampu melakukannya. Kriket memasuki Afganistan lewat pegunungan ini. Banyak yang mengatakan bahwa permainan ini berkembang berkat Taj Maluk. Dia adalah salah satu pelopor tim nasional. Sebagai pelatih, manajer, dan penggalang dana. Kini, dia bertani di pinggiran Jalalabad. Dulu tidak ada pemain kriket di Afganistan. Kami memulai kriket dari nol. Dulu di Afganistan, tidak ada yang tahu kriket. Seperti banyak warga, Taj menghabiskan sebagian besar masa kecilnya sebagai pengungsi. Lebih dari enam juta orang terpaksa mengungsi dari brutalnya perang antara Uni Soviet dan Mujahidin Afganistan di tahun 1980-an. Sekitar setengahnya tinggal di kamp-kamp pengungsian di Pakistan, negara yang punya hubungan dingin dengan Afganistan. Saat itu kami tidak berjalan kaki, kami dapat menemukan beberapa kuda. Kami menyeberangi pegunungan ini menuju Pakistan. Saat itu, kami tidak punya apa-apa. Terlepas dari segala rintangan, hidup itu indah. Rumah kami terbuat dari lumpur dan tidak ada listrik. Kami hidup miskin, tetapi damai. Karena hiburan terbatas, warga Afganistan menemukan hobi baru di rumah sementara mereka. Kriket sedang trendi di Pakistan. Puncaknya, ketika Pakistan memenangkan Piala Dunia 1992. Antusiasme terhadap permainan asing ini pun menyebar. Saya pertama kali melihat pertandingan India melawan Pakistan di TV. Dan kemudian, di Kamp Pengungsi Kachar Gahri, kami mulai bermain kriket. Kami menemukan tongkat pukul dan bola tenis yang dilapisi selotip. Kami bermain dengan menggambar tunggul-tunggul dengan kapur di dinding rumah. Setelah tinggal selama tujuh sampai delapan tahun di kamp pengungsi, saya dan saudara-saudara saya jadi sangat jago bermain kriket. Namun, ketika kriket berkembang pesat di kamp pengungsian, Taliban sudah menguasai Afganistan pada tahun 1996, dan melarang sebagian besar olahraga. Mustahil untuk bisa membentuk tim kriket nasional. Baik pemerintah, ACC (Asian Cricket Council) maupun ICC (International Cricket Council) tidak memberi kami dana. Saya menghubungi pengusaha besar dan orang-orang kaya di Afganistan, tapi kami ditolak. Nasibnya berubah pada tahun 2001. Setelah Taliban runtuh, ICC memberikan status “keanggotaan afiliasi” bagi Afganistan, yang memungkinkan negara itu bersaing di kancah internasional. Ini menandai dimulainya salah satu kisah terhebat dalam dunia olahraga. Hanya dalam 20 tahun, Afganistan berubah. Mereka naik daun dari tim yang tadinya tidak dikenal. Mengurus pertanian sama seperti membangun tim kriket. Kita membesarkan tim, melatih dan merawat mereka, dan sekarang tim nasional Afganistan telah berkembang ke level ini. Sebagai manusia, kita tidak boleh patah arang. Sukses akan datang seiring kesabaran dan kerja keras. Kita akan bisa memetik hasil kerja keras ini. Lahan pertanian seperti ini sangat penting bagi masa depan Afganistan. Hampir separuh penduduk negara ini bekerja di sektor pertanian. Namun, lebih dari 30% warga dilanda kerawanan pangan yang serius. Taj dan saudara lelakinya memasak makanan setiap hari untuk membantu mereka yang membutuhkan. Rakyat Afganistan itu miskin dan ada banyak masalah ekonomi. Selama Ramadan, kami memasak dan membawa hasilnya ke rumah sakit untuk dibagikan ke sekitar 500-an orang saat berbuka puasa. Kriket mungkin bukan solusi atas kondisi sulit di Afganistan. Namun, kerja keras Taj sepadan. Ia menabur benih untuk generasi mendatang. Dubai, letaknya sangat jauh dari Jalalabad. Kota yang sejahtera dan penuh kemewahan, kebanggaan Uni Emirat Arab. Tim kriket putra terpaksa berlatih dan bermain di wilayah Sharjah di Dubai, selama dekade terakhir. Karena masalah keamanan di Afganistan, Stadion Kriket Sharjah pun menjadi rumah kedua mereka. Gulbadin Naib bergabung dengan tim nasional sejak 2008. Dia telah melalui berbagai suka duka. Kami tidak punya apa-apa. Tidak mendapat gaji, tunjangan, maupun sponsor. Kami bahkan tidak mampu membeli sebuah bola, tongkat, atau sepasang sepatu. Satu-satunya yang kami punya hanya Afganistan. Pemain serbabisa ini dan pemain tim lainnya, seperti Mo Nabi, tumbuh di kamp pengungsi di Pakistan, seperti Taj Maluk. Namun, ini adalah generasi yang melarikan diri dari perang saudara yang berlangsung pada awal tahun 90-an, setelah Soviet hengkang. Kehidupan para pengungsi penuh tekanan dan masalah. Sulit mendapat apa pun di sini. Kami tidak punya hak dan ada banyak masalah. Tidak ada yang mudah. Sulit untuk bisa sampai ke titik ini karena kami harus memperjuangkan segalanya. Kebangkitan tim sejak masa-masa itu sungguh luar biasa. Bersama Taj Maluk sebagai pelatih, Afganistan berhasil tiga kali naik level kompetisi antara tahun 2008 dan 2009. Kesuksesan itu menarik lebih banyak pendanaan, perbaikan fasilitas, dan pelatihan internasional. Tahun 2015, Afganistan pertama kali berkompetisi dalam One-Day-International World Cup. Tak banyak yang bisa menyaksikan kebangkitan luar biasa Afganistan sedekat Devender Kumar. Komentator dari India ini mengikuti perkembangan tim tersebut selama bertahun-tahun sebelum mereka menjadi sorotan internasional. Dia melihat langsung, apa artinya permainan ini bagi warga Afganistan. Kriket di Afganistan itu ibarat sepak bola di Brasil. Kriket adalah segalanya bagi rakyat Afganistan. Sharjah menjadi tempat tinggal bagi banyak ekspatriat Afganistan. Hari ini, mereka datang untuk menyaksikan pahlawan mereka bertanding melawan Bangladesh. Penonton dan tim yang bermain sangatlah bersemangat. Ini mentalitas pejuang. Mereka bangga bisa berkontribusi kepada negara dan memperkenalkannya ke dunia internasional dengan baik. Itulah motivasi terbesar bagi para pemain. Semangat itu mendorong bakat alami tim, yang telah berkembang selama dekade terakhir. Ditambah strategi yang jelas dan metode pelatihan modern dari pelatih berpengalaman. Afganistan kini memiliki tim pelempar spin kelas dunia, yang dipimpin oleh Rashid Khan. Serta pemukul yang konsisten dan berdisiplin. Para penggemar berharap tim mereka dapat bersaing dengan baik. Dan melawan negara seperti Bangladesh, Afganistan dianggap tim favorit. Kami sudah menantikan momen itu. Orang-orang mengelukan pemain tim nasional. Semua orang melihat dan tersenyum kepada saya. Ini hal terbaik yang saya alami. Devender yakin Afganistan telah sejajar dengan tim lain di dunia. Meski keadaan masih tak menentu, pertandingan di dalam negeri telah berkembang pesat. Jumlah akademi dan turnamen regional juga bertambah, banyak pemain kriket muda mulai mengenal standar permainan yang lebih tinggi. Afganistan kini punya banyak pemain hebat. Jika ada yang berhalangan, ada banyak pemain yang siap menggantikannya. Ada semangat dan hasrat kuat untuk berkembang dan bersaing. Ada juga bakat, keterampilan yang luar biasa. Jika kita lihat kualitas para pemain, terutama para pelempar spin, mereka diakui sebagai pemain berkualitas di tingkat global. Yang terpenting, para pahlawan kriket Afganistan dengan bangga memamerkan bendera lama dan bahkan menyanyikan lagu kebangsaan lama sebelum pertandingan. Keduanya telah dilarang Taliban. Kriket punya status yang tidak tersentuh, karena Taliban sadar betapa pentingnya olahraga ini untuk mendapat dukungan publik. Mereka memahami nilai persatuan negara. Mereka tahu bahwa kriket adalah hal penting di Afganistan dan mereka tidak akan pernah melarang permainan ini. Saat Afganistan menang, inilah kesempatan langka bagi para penggemar untuk menentang perintah Taliban dan merayakannya di tempat umum. Dan perayaan itu kian sering terjadi. Sejak 2023, Afganistan telah mengalahkan sejumlah tim terkuat dunia. Kami membuat target-target kecil dan berhasil mencapainya. Sekarang, Afganistan bukan lagi anak bawang. Kami harus membuat rakyat bangga, jadi kami harus mengalahkan tim-tim besar. Kriket telah menjadi kekuatan nyata yang mempersatukan rakyat Afganistan. Namun, persatuan itu belum mencakup semua orang. Kita berada di Thousand Steps di Melbourne. Biasanya, kami ke sini untuk mendaki dan menjauh dari kesibukan kota. Kami tidak bisa seperti ini di Afganistan. Ketika Taliban berkuasa, mereka melarang anak perempuan melakukan segala hal. Jadi sekarang anak perempuan tidak bisa bersekolah, berolahraga, dan banyak hal lain. Bukan hal mudah meninggalkan semuanya. Saya telah meninggalkan segalanya dan memulai hidup baru di negara baru di usia yang sangat muda. Belajar bahasa Inggris bagi saya ibarat mendaki gunung. Tidak mudah bisa menyesuaikan diri. Dulu saya tidak bisa mengobrol dengan orang lain, apalagi berteman. Itu masa sulit di tahun pertama saya. Dan di sini, saya selalu merasa seperti orang asing. Saya pikir, karena memakai hijab, saya tidak akan bisa punya teman di Australia. Tapi ternyata saya salah. Setelah belajar bahasa Inggris, saya menemukan banyak teman di sini. Ada banyak orang Afganistan di Australia, jadi itu memudahkan saya. Dan komunitas di Melbourne sangat beragam dan multikultural. Ada banyak acara yang kami rayakan bersama di sini. Jadi, sekarang lebih mudah untuk beradaptasi. Jalan-jalan di Dandenong terlihat mirip Kabul. Tim ini sering makan di Sahar, tempat mereka dapat merasakan suasana rumah. Afganistan terkenal dengan keramahan dan kulinernya. Saya suka makanan Afganistan dan saya yakin makanan dapat menyatukan orang. Merasakan kehangatan rumah telah membantu tim ini beradaptasi dengan kehidupan di Australia. Di sini, mereka juga bisa menyuarakan penentangan terhadap Taliban, yang tidak mungkin dilakukan orang-orang di Afganistan. Namun, kebebasan berbicara ini bukannya tanpa risiko, karena banyak yang masih punya keluarga di Afganistan. Menurut saya, olahraga memberi kami wadah dan keberanian untuk menjadi suara bagi banyak orang. Australia mengubah segalanya bagi kami dan kini kami telah menemukan suara kami dan dapat membagikannya dengan orang lain. Kami tidak hanya bersuara untuk diri sendiri, tetapi juga untuk banyak perempuan. Ini memberi mereka harapan untuk terus melangkah dan percaya bahwa keadaan akan berubah. Taliban adalah bentuk penindasan ekstrem di Afganistan. Namun bahkan sebelum mereka berkuasa, banyak elemen masyarakat Afganistan sudah sangat konservatif. Hal ini khususnya terjadi di daerah pedesaan. Sebagian besar tim kriket tumbuh di kota-kota yang berpikiran lebih liberal, seperti Herat dan Kabul. Bahkan di sana, mimpi mereka masih ditentang banyak orang. Mereka menertawakan keluarga saya dan menyebutnya tidak terhormat karena kami bermain kriket. Saya dan kedua saudara perempuan saya bermain kriket. Saya hanya mendapat dukungan dari keluarga. Ibu saya pendukung terbesar saya dan dia mendorong saya untuk terus mengejar impian. Kami tidak didukung warga maupun ACB. Berdasarkan peraturan ICC, Afghan Cricket Board seharusnya mendanai penuh tim perempuan. Namun, mereka sering kali tidak mendapatkan dukungan yang memadai, dan bahkan harus menggunakan peralatan laki-laki. Saya ingat salah satu pelatih datang dan bilang, “Kalian bahkan belum 10% menjadi atlet, kenapa kalian mau lebih banyak fasilitas atau peralatan baru?” Tanpa fasilitas, perlengkapan layak bagi perempuan, dan kesempatan, bagaimana kami bisa bermain dengan baik? Di sinilah Cricket Australia hadir, menyediakan pelatihan dan fasilitas. Pada tahun pertama mereka di Australia, ICC tidak menghiraukan permintaan bantuan dari mereka. Namun, setelah menghadapi tekanan internasional, mereka akhirnya mengumumkan akan mendanai pemain kriket perempuan Afganistan. Ini perkembangan yang baik. Namun, para pemain juga ingin melihat dukungan dari para pria. Rashid Khan didukung jutaan orang. Dan suaranya begitu kuat sehingga jika digunakan, Taliban tidak akan dapat menyentuhnya, atau keluarganya. Kami butuh dukungan mereka, tapi mereka tidak berbuat apa-apa. Kalau dipikir, itu sangat menyedihkan. Dukungan itu justru datang dari negara asing. Komunitas kriket Australia telah mendukung tim tersebut. Namun, selama kriket di Afganistan didominasi laki-laki, harapan dan aspirasi para perempuan di sana akan sulit terwujud. Negara ini sudah mengalami perang selama hampir empat dekade dan rakyatnya miskin. Situasi ekonominya tidak baik. Saya rasa sekitar 80% rakyat Afganistan dilanda masalah ekonomi yang parah. Mayoritas dari 42 juta penduduk bergantung pada bantuan kemanusiaan, yang baru-baru ini dihentikan oleh Amerika Serikat. Kemiskinan lebih kentara di daerah pedesaan seperti di kampung halaman Jamal. Negara ini didominasi pemuda, tetapi angka pengangguran di kalangan pemuda hampir mencapai 17%. Kriket menawarkan kesempatan langka bagi Jamal untuk mengubah nasib. Suatu hari nanti, saya akan meninggalkan rumah dan kembali dengan penuh prestasi. Saya akan mengenakan seragam tim nasional dan mengharumkan nama desa di mata dunia. Jamal sedang bersiap untuk berkompetisi di turnamen regional. Pertandingan ini akan menjadi kesempatan bagi Jamal untuk bisa tampil dan menuju seleksi tim nasional. Kebanyakan pemain berasal dari desa. Mereka pekerja keras dan tangguh. Penduduk desa tidur lebih awal dan bangun lebih pagi. Ini menguntungkan mereka. Jamal meninggalkan rumah saat berusia 16 tahun, tetapi bukan karena kriket. Afganistan adalah salah satu negara dengan diaspora pengungsi terbesar di dunia. Seperti jutaan orang lainnya, Jamal pergi mencari peluang baru. Salah satu sepupu saya tinggal di Jerman, dan saya juga ingin ke sana. Saya berangkat ke Turki, lewat Pakistan dan Baluchistan, lalu menyeberang ke Iran. Perjalanannya sulit. Kami tiba di Turki ketika malam Idul Fitri. Ketika kami menyeberang dari Iran ke Turki, tentara Turki mulai menembak. Tiga atau empat orang tertembak. Namun, setelah tiga bulan di Turki, upaya Jamal untuk masuk ke Eropa terhenti. Ia kehilangan motivasi untuk mencari jalan keluar. Saya depresi. Saya masih muda dan tidak mau ke Eropa. Beberapa teman berhasil sampai ke Austria dan mereka masih tinggal di sana. Tapi saya tidak mau ke sana, dan memberi tahu keluarga kalau saya mau pulang ke Afganistan. Sekarang Jamal hanya berfokus pada kriket. Olahraga ini telah memberinya ambisi baru. Pemain terkenal seperti Rashid Khan, Mohammad Shahzad, dan Sami Shinwari juga berasal dari wilayah ini. Jamal bertekad mengikuti jejak mereka. Kembali ke Kabul, jalanan mulai ramai. Ada pertandingan tim kriket nasional putra hari ini. Artinya, toko-toko roti di kota akan lebih ramai. Roti dianggap spesial dalam budaya Afganistan. Salah satu dari sedikit pangan yang mampu dibeli sebagian orang Afganistan. Dan sering menjadi tolok ukur kondisi ekonomi. Hassan sudah menjadi tukang roti hampir sepanjang hidupnya. Toko roti saya sudah ada di sini selama 57 tahun. Dulu, di era Zahir Shah, kami menjual roti seharga satu Afgani (sekitar Rp250). Sekarang, roti yang sama harganya 10 Afgani (sekitar Rp2.500). Keadaan ekonomi rakyat Afganistan sangat buruk karena tidak ada pekerjaan. Kesulitan ekonomi melanda seluruh negeri. Meskipun di bawah Taliban keadaan relatif stabil, beban ekonomi tetaplah terasa. Pemerintah tidak tahu kondisi sebenarnya. Ada banyak orang miskin di sini karena tidak ada pekerjaan atau sumber penghasilan. Lihat, mereka semua ingin membeli roti. Ayo, beli roti. Hei, Nak... beri mereka masing-masing lima roti. Kian banyak orang kesulitan membeli kebutuhan pokok seperti roti. Ini menjadi pengingat pentingnya peran kriket dalam memberikan jeda menyenangkan dari sengitnya kehidupan. Saya sudah menontonnya. Afganistan bermain kriket dengan baik. Berkat bantuan Tuhan, kami mengalahkan banyak negara seperti Pakistan dan Inggris. Anak muda harus berolahraga. Olahraga itu baik untuk mereka. Pertandingan mendatang adalah kesempatan bagi rakyat Afganistan untuk meraih kemenangan melawan tim besar. Dengan kondisi ekonomi saat ini, daging adalah barang mewah yang hanya bisa dibeli orang kaya. Restoran Super Shinwary juga sedang bersiap untuk pertandingan mendatang. Afganistan bermain di Champions Trophy, turnamen bagi 8 tim terbaik di dunia. Manajer restoran, Guloon, dan timnya mengikuti pertandingan itu. Setelah kalah dari Afrika Selatan, Afganistan kemudian mengalahkan Inggris dan lolos ke semifinal. Pertandingan melawan Inggris sangat menegangkan. Kami bersaing keras. Banyak orang menontonnya bersama-sama di sini. Penuh sekali, dan tidak ada ruang untuk berjalan. Sangat luar biasa. Afganistan akan melawan Australia. Ini salah satu duel terpanas dalam dunia kriket. Akibat kebijakan Taliban terhadap perempuan, Australia menolak bermain melawan Afganistan di luar turnamen ICC. Dan ada seruan kuat untuk memboikot tim tersebut dari Champions Trophy. Mereka memboikot kami, seharusnya tidak begini. Olahraga dan politik harus dipisahkan. Jika pertandingan diboikot, yang rugi justru rakyat Afganistan. Jika diboikot lagi, orang bisa salah jalan dan melakukan hal-hal buruk. Kriket satu-satunya olahraga yang menggembirakan dan mempersatukan kami. Di luar, pertandingan lain sedang berlangsung. Banyak warga, seperti anak-anak ini, tidak punya televisi untuk menyaksikan pahlawan mereka bertanding hari ini. Namun, itu tidak menyurutkan semangat mereka. Kami suka kriket, kriket baik untuk kesehatan dan hobi yang bagus untuk anak-anak. Daripada melakukan hal buruk, lebih baik bermain kriket. Afganistan akan bertanding melawan Australia hari ini. Insyaallah Afganistan akan menang. Masa depan kriket Afganistan bagus karena terus berkembang setiap hari. Fasilitas kriket juga bertambah. Anak-anak yang berlatih kriket juga akan bergabung dengan tim dan punya masa depan yang cerah, insyaallah. Saat matahari terbenam di Kabul, pertandingan Afganistan melawan Australia mencapai titik menegangkan. Kembali di Super Shinwary, pelayanan berjalan lancar. Para tamu menikmati makanan tanpa gangguan. Hidangan ini menjadi puncak kegembiraan malam itu. Karena, sayangnya, kriket tidak membahagiakan mereka. Pertandingan dibatalkan karena hujan, mengakhiri peluang Afganistan untuk lolos semifinal. Sedih rasanya pertandingan harus batal, padahal kami punya peluang menang dan lolos ke semifinal. Tetapi, hujan deras turun dan pertandingan berakhir seri. Namun bagi para penggemar, masih ada rasa bangga yang besar terhadap tim ini. Termasuk bagi Amanullah Niazai, yang pernah bermain untuk tim muda Afganistan pada awal tahun 2000-an. Ini momen yang membanggakan bagi Afganistan bisa berpartisipasi dalam Champions Trophy, apalagi mengalahkan Inggris dan bermain seri melawan Australia. Dan insyaallah suatu hari nanti, tim kami akan membawa pulang Piala Dunia ke Afganistan. Walaupun terasa jauh, mimpi itu makin hari makin terasa nyata. Dan mimpi ini cukup menyemangati warga Afganistan lintas generasi yang ingin lepas dari masa-masa sulit. Migrasi warga Afganistan ke Australia punya sejarah panjang. Semua dimulai pada pertengahan abad ke-19, ketika para penunggang unta membangun jalur kereta api di Australia. Sejak saat itu, beberapa gelombang migrasi terjadi, dan kini populasi Afgan di sana mencapai hampir 80.000 jiwa. Banyak yang tinggal di timur Melbourne. Shugoofa Bakhtary meninggalkan Afganistan bersama keluarganya pada tahun 2003. Dan dia bangga menunjukkan keramahan khas negaranya. Meski demikian, dia tak ragu meninggalkan sisi budaya Afganistan yang lain. Afganistan sangat konservatif, apalagi bagi perempuan, karena perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa izin, dan mereka tidak boleh mengemudi. Dukungan keluarga tidak penting karena masyarakat tidak menerimanya, terutama di desa. Sejak Taliban kembali, hak-hak perempuan mencapai titik terendah. Shugoofa yakin mereka salah menafsirkan Islam untuk menghukum perempuan. Mereka menggunakan agama untuk hal yang salah. Agama kami tidak pernah melarang perempuan tertawa dan berbicara. Saya tidak bisa menerima mereka sebagai seorang muslim. Menurut saya, mereka ingin mengubah pola pikir orang tentang Islam. Shugoofa beranggapan bahwa kriket adalah paradoks lain bagi Taliban. Rezim Taliban pada tahun 1990-an melarang semua olahraga sesuai interpretasinya terhadap Islam. Namun kali ini, kriket berhasil lolos dari larangan itu. Taliban bahkan melarang permainan catur di Afganistan. Jadi, bagaimana bisa mereka mendukung kriket? Entahlah. Mereka menggunakan tim kriket untuk menunjukkan bahwa mereka orang baik, padahal bukan. Taliban memanfaatkan popularitas kriket untuk memperkuat citra mereka. Taliban juga bertemu tim setiap kali mereka meraih kemenangan besar. Kebijakan kami adalah memisahkan olahraga dari politik. Kemenangan kalian membawa kebahagiaan bagi semua orang. Atas nama semua pemain, terima kasih atas dukungan Anda. Tim nasional tidak menggunakan bendera Taliban. Tapi ketika kembali ke Afganistan, mereka merayakannya bersama Taliban. Rasanya ada yang salah. Dengan mempromosikan kriket putra, Taliban tanpa sengaja telah membuat tim perempuan lebih disorot. Shugoofa mengagumi perjuangan Firooza dan timnya untuk mendapatkan pengakuan dari kejauhan. Saya yakin akan bakat dan kekuatan mereka. Sekarang semua orang kenal tim ini. Mereka menjadi harapan yang sangat kuat bagi perempuan di Afganistan. Tim tersebut percaya bahwa sekelompok perempuan yang punya tekad dan keberanian, dengan platform yang tepat, dapat menjadi mimpi buruk bagi Taliban. Saya pikir Taliban takut apabila perempuan di Afganistan tahu hak-hak mereka dan negara ini keluar dari budaya patriarki. Mereka hanya ingin mengendalikan perempuan. Dan begitu perempuan bisa berolahraga, mengenyam pendidikan, dan sebagainya, mereka tidak lagi bisa semena-mena. Mereka hanya punya senjata, tanpanya mereka bukan apa-apa. Di Jalalabad, hanya sedikit perempuan yang terlihat di depan umum. Gadis-gadis remaja bahkan sering kali tidak keluar rumah. Hanya 17% anak perempuan berusia antara 7 dan 12 tahun bersekolah di provinsi timur, dibandingkan dengan 45% di wilayah perkotaan. Sikap ini dibentuk oleh tradisi dan budaya, dan lebih konservatif dibandingkan wilayah lain di negara ini. Secara budaya, kami orang Pashtun. Perempuan kami mengenakan jilbab. Mereka tidak suka kebebasan, jadi ketika keluar rumah, mereka mengenakan jilbab. Mereka tidak suka duduk dan berbicara dengan pria asing. Jadi, olahraga dan bekerja juga tidaklah mungkin. Kriket tidak diperuntukkan bagi perempuan. Ini permainan laki-laki. Turnamen kriket regional seperti ini hanya untuk laki-laki. Taj Maluk menghadiri hampir setiap pertandingan. Dia terkenal di daerah ini. Dan dia punya beberapa nasihat untuk Jamal sebelum pertandingan besar berikutnya. Jamal Stanikzai itu pemain yang bagus. Ketika membahas kriket, saya memberi tahu semua orang tentang kemampuannya. Dia bermain seperti Rashid Khan. Dia adalah prospek dan pemain yang bagus Dia akan maju dan suatu hari nanti bermain untuk Afganistan. Jamal berharap dapat menggunakan kesempatan ini untuk memukau penonton. Dia akan melawan para pemain yang terlibat dalam persiapan tim nasional. Para pejabat Afghan Cricket Board juga akan hadir. Saya berharap bisa mengalahkan tiga hingga empat pemain hari ini. Saat pertandingan dimulai, jelas terlihat Afghanistan memiliki banyak bakat. Yang membuat Jamal lebih sulit untuk dapat dikenali. Mengabdikan hidup untuk kriket butuh pengorbanan, karena para pemain masih belum bisa mendapatkan penghidupan yang layak di tingkat ini. Jamal mengalahkan pemain penting, yang membawa kemenangan bagi timnya. Kriket adalah satu-satunya sumber kebahagiaan dan kegembiraan bagi rakyat Afganistan. Sangat membanggakan Afganistan berada di antara tim terbaik di dunia. Kami sekarang berada di delapan besar. Terlepas dari kemajuan ini, Afganistan masih tertinggal dari negara-negara kriket papan atas dalam hal fasilitas pelatihan. Meskipun fasilitasnya sudah lebih baik, para pemain masih membutuhkan fasilitas lain. Namun, prosesnya perlahan membaik dan berbagai hal terus berkembang. Mimpi Jamal juga tidak lagi terfokus pada olahraga, melainkan pada masa depan Afganistan yang sejahtera dan merangkul semua orang. Selain olahraga, pendidikan juga sangat penting. Kami berhak punya akses kepada pendidikan. Dan saudara perempuan kami harus diizinkan mengenyam pendidikan. Terlepas dari apakah Jamal suatu hari nanti akan masuk tim nasional, kriket telah memberinya dan jutaan orang lain di Afganistan, tujuan hidup. Firooza mungkin lebih senang bermain kriket dibandingkan memasak. Namun, hari ini dia akan ikut memasak dan makan siang bersama keluarga dan rekan satu timnya, Friba. Dalam budaya Afganistan, memasak memberi ruang untuk menjalin hubungan, kegiatan yang sangat dihargai Firooza dan ibunya. Saya selalu menuruti ibu. Kami memanggilnya bos. Dia sudah melakukan begitu banyak dan berkorban untuk kami. Dia juga banyak berjuang bersama ayah, keluarga, dan masyarakat. Dia luar biasa. Sekarang giliran Firooza yang berjuang. Kriket, olahraga kebanggaan Afganistan, telah direnggut dari sebagian besar perempuan di negara itu. Firooza bangga melihat Afganistan bertanding dengan tim terbaik di dunia. Namun, dia merasa kesulitan mendukung tim putra. Olahraga ini membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi masyarakat. Tapi sejak Taliban berkuasa dan perempuan dilarang bermain kriket, saya rasa kriket tidak lagi ada artinya bagi perempuan di Afganistan. Firooza dan rekan-rekannya terpaksa memulai dari nol, seperti para pengungsi sebelumnya yang membangun tim kriket putra dari nol. Ini baru permulaan, rencana kami sangat besar. Dalam 20 tahun, saya yakin Afganistan akan berkompetisi di tingkat tertinggi. Menurut saya kriket punya kekuatan untuk mengubah segalanya. Untuk Piala Dunia Perempuan 2025, Afganistan adalah satu-satunya anggota asosiasi yang tidak terlibat dalam kualifikasi. Para pemain perempuan tidak dapat mewakili Afganistan selama Taliban berkuasa, dan mereka juga masih harus mengejar ketertinggalan. Kini, setelah menetap di Australia, Firooza ingin fokus pada kriket. Namun, kriket juga dapat membuka peluangnya di bidang lain. Saya tadinya ingin kuliah hukum di Afganistan karena saya selalu ingin menjadi duta besar perempuan termuda di PBB. Saya tidak tahu apakah masih bisa, tetapi waktu masih di Afganistan, saya bercita-cita menjadi suara bagi para perempuan dan orang-orang yang dibungkam. Jangan bungkam saya, saya ditakdirkan untuk terbang. Saya bersuara untuk bangsa saya. Saya adalah elang yang bebas. Membawa harapan ratusan orang, sama seperti saya. Selama puluhan tahun, Afganistan ibarat burung dengan sayap patah. Namun, kriket telah memberi panggung bagi negara ini untuk menunjukkan bakat mereka kepada dunia. Seluruh dunia kini menggemari pemain Afganistan. Mereka senang menonton Rashid Khan, Mujeeb Zadran, Mohammad Nabi, dan pemain lain dari Afganistan. Dulu, harapan itu tidak begitu terlihat. Kini semua orang berharap besar kepada kami. Sekarang, giliran kami berjuang. Meski tidak dapat menyembuhkan luka akibat perang dan pengasingan, atau menjembatani kesenjangan etnis dan budaya, kriket telah menyatukan banyak orang. Ketika Afganistan menang, kita tidak mengatakan bahwa Pashtun, Tajik, atau Hazara yang menang, tapi Afganistan yang menang. Ketika Afganistan menang, semua orang senang. Kriket itu milik rakyat. Ini olahraga rakyat, tetapi rentan eksploitasi. Taliban akan terus berupaya memanfaatkan popularitas kriket. Sementara itu, banyak warga Afganistan berharap negara dapat meniru kesuksesan tim tersebut. Insyaallah, masa depan Afganistan akan cerah dan kita akan menyaksikan kemajuan besar di tiap sektor. Dan bagi mereka yang dalam pengasingan, kriket terbukti menyediakan ruang bagi perlawanan. Kami ingin memberikan harapan kepada para perempuan, bahwa ada seseorang yang berjuang untuk mereka. Kami di sini. Mewakili bangsa, kami ingin melakukan perubahan. Berkat kriket, rakyat Afganistan di mana pun dapat menyaksikan impian mereka berlahan terwujud. Ini menjadi bukti bahwa masa depan yang lebih cerah dapat diperjuangkan dan dimenangkan.