Transcript
Mo5CBoRUzmA • Yaman dan Houthi: Bajak laut, teroris, atau pejuang kemerdekaan? | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0079_Mo5CBoRUzmA.txt
Kind: captions
Language: id
Pada bulan November 2023,
pemberontak Houthi menyerang kapal kargo
Galaxy Leader di lepas pantai Yaman.
Kapal perniagaan itu dibajak.
Awaknya disandera.
Ini adalah serangan pertama
dari serangkaian serangan serupa.
Serangan datang dari anggota
kelompok pemberontak Houthi,
milisi Islam Syiah yang menguasai
sebagian besar wilayah Yaman.
Mereka bersenjata lengkap dan bersumpah
akan melawan Israel dan sekutunya.
Semua ini menempatkan mereka di pusaran
konflik regional yang kian memanas.
Pada bulan Maret 2025,
Presiden Amerika Serikat Donald Trump
memerintahkan serangan terhadap pasukan Houthi,
memperingatkan mereka:
"KALIAN AKAN DISERANG HABIS-HABISAN!"
Banyak warga Yaman yang mendukung pasukan Houthi,
meski pasukan ini telah menimbulkan konflik
yang menghancurkan kota-kota,
membuat jutaan orang mengungsi,
dan menyebabkan penderitaan berkepanjangan.
Bagaimana pasukan Houthi tetap bisa menyerang
kapal-kapal di Laut Merah?
Dan mengapa kelompok ini terus berkonflik
dengan militer terkuat di dunia?
Ini adalah Laut Merah,
dilihat dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Wilayah ini penuh dengan krisis dan konflik.
Dalam 150 tahun terakhir,
jalur perairan antara Afrika dan Asia
telah menjadi salah satu
rute perdagangan paling penting di dunia,
yaitu jalur kapal kargo.
Sepertiga dari kontainer global melewati jalur kargo ini.
Ini artinya sekitar 1,2 miliar ton kargo per tahun.
Namun, rute superpenting ini juga sangat rentan.
Hal ini disebabkan oleh dua penyempitan rute:
Terusan Suez di utara,
dan Selat Bab el-Mandeb di selatan.
Kapal-kapal yang berlayar di antara Eropa dan Asia
harus melewati kedua jalur tersebut.
Kapal-kapal ini juga harus melewati Yaman,
salah satu negara termiskin di dunia.
Kelompok Houthi saat ini menguasai
sebagian besar wilayah Yaman.
Sejak perang terjadi di Gaza pada Oktober 2023,
mereka telah menyerang kapal-kapal kargo
di lepas pantai Yaman,
mengatakan bahwa aksi ini adalah
untuk mendukung Palestina di Gaza.
Kelompok ini menyebarkan
video propagandanya ke seluruh dunia.
Hari ini, sebuah kapal diserang
oleh pemberontak Houthi yang didukung Iran.
Tim penyelamat mengonfirmasi
bahwa kapal itu telah tenggelam.
Pasukan Houthi Yaman mengatakan akan menargetkan
kapal mana pun yang terkait dengan Israel.
Hebatnya, pasukan Houthi dapat menggambarkan diri
sebagai Daud melawan Goliat.
Banyak negara di belahan Bumi bagian selatan
yang merayakan serangan-serangan ini.
Mereka dipandang sebagai
pihak yang berani melawan Israel,
dan sistem yang dikendalikan Barat.
Pasukan Houthi hanya menargetkan kapal-kapal
yang berhubungan dengan Israel.
Namun, industri pelayaran global
turut menanggung akibatnya.
Lalu lintas pelayaran di Laut Merah turun
hampir 70% pada Desember 2023,
dan banyak perusahaan menganggap
rute ini terlalu berisiko.
Akibatnya, kapal kargo harus memutar
sejauh 5.000 kilometer,
yang menelan biaya ekstra hingga satu juta euro
(hampir sekitar Rp20 miliar)
dan waktu tambahan sekitar 14 hari.
Serangan Houthi telah menaikkan harga minyak,
mengganggu rantai pasokan,
dan menaikkan harga bahan pangan.
Pengiriman dengan kontainer,
yang biasanya relatif murah,
kini tiba-tiba mahal.
Kerugian yang tercatat tahun 2024
diperkirakan mencapai 200 miliar dolar
(sekitar Rp3,8 kuadriliun).
Bagi Eropa dan Amerika Serikat,
serangan ini juga dilihat sebagai serangan
terhadap tatanan internasional
menurut kaca mata Barat.
Responsnya cepat.
Sebuah operasi internasional langsung dibentuk
untuk melindungi pelayaran,
termasuk serangan udara selama berbulan-bulan
oleh Amerika Serikat dan Inggris.
Namun, hal ini justru semakin
mempersatukan pasukan Houthi.
Serangan di Laut Merah terus berlanjut.
Di balik berita tentang perang dan krisis kemanusiaan,
ada satu hal yang sering terlupakan tentang Yaman.
Ini adalah negara dengan keindahan alam
yang menakjubkan dan kaya akan sejarah.
Banyak tempat menjadi saksi bisu
kelahiran budaya dan keberagaman agama.
Namun, belakangan ini Yaman tampak seperti ini.
Kota-kota di Yaman tercabik pertempuran
selama bertahun-tahun.
Negara ini berada di tengah
perebutan kekuasaan regional.
Akibatnya, sekitar 4,5 juta warga Yaman
terpaksa mengungsi di dalam negeri,
banyak yang tinggal di kamp-kamp seperti ini.
Foto-foto seperti ini jarang muncul di media,
karena merekamnya juga semakin sulit.
Itu saya, yang paling tinggi.
Meliput, merekam, dan melihat
apa yang terjadi di Yaman sangat rumit.
Ini masalah yang sangat serius
dan kita bisa ditangkap.
Saya selalu sedih ketika mewawancarai orang-orang...
karena mereka membahas hal-hal
yang sangat melukai mereka.
Mereka sangat rentan.
Terkadang saya mewawancarai orang-orang
yang kehilangan anggota keluarganya
akibat serangan udara atau karena ditahan.
Dulu, Yousra Ishaq mengelola perusahaan
produksi video miliknya sendiri di Yaman.
Namun, pasukan Houthi
mempersulit jurnalisme independen,
dengan cara menyensor, mengancam,
bahkan melakukan tindakan kekerasan.
Ini sulit bagi semua orang.
Jika kamu mendengar kabar
bahwa seseorang yang tidak begitu kamu kenal
menjadi target partai politik mana pun,
itu artinya kamu kemungkinan
akan menjadi target berikutnya.
Peta ini ditunjukkan dalam laporan kebebasan pers
tahunan Reporters Without Borders.
Yaman adalah salah satu negara
dengan ancaman paling serius terhadap jurnalis.
Menurut organisasi asal Yaman, MARSADAK,
pada tahun 2024,
tercatat 92 kasus serangan terhadap jurnalis,
termasuk satu hukuman mati.
Jadi, bagaimana Yaman bisa sampai separah ini?
Yaman seperti yang kita kenal sekarang
baru ada sejak tahun 1990.
Sebelumnya, Yaman terbagi menjadi dua.
Bagian utara dan barat didominasi
komunitas Syiah Zaidi,
sementara di bagian selatan dan timur,
secara tradisional adalah wilayah Sunni.
Kini, Yaman adalah perpaduan yang rapuh
antara berbagai suku, keyakinan, dan pandangan politik.
Selama ribuan tahun, itu bukanlah masalah.
Berbagai kelompok dapat hidup berdampingan
secara damai di Yaman.
Selama hampir seribu tahun,
wilayah utara diperintah oleh kaum Zaidi,
sebuah komunitas Islam Syiah.
Para pemimpin agama ini mengaku
sebagai keturunan Nabi Muhammad.
Pemberontak Houthi yang saat ini bertempur
juga merupakan bagian dari komunitas ini.
Pada tahun 1869,
sebuah proyek besar mengubah sejarah di wilayah ini.
Dibukanya Terusan Suez memungkinkan kapal-kapal berlayar langsung antara Eropa dan Asia.
Tiba-tiba, Yaman dan Selat Bab el-Mandeb
menjadi penting bagi perdagangan global.
Ini adalah kali pertama kepentingan asing
memainkan peran yang sangat signifikan.
Sekitar satu abad kemudian,
di tahun 1962,
sejarah Yaman kembali berubah drastis.
Kekuatan asing dan lokal menggulingkan Monarki Zaidi.
Setelah lebih dari 1.000 tahun,
Zaidi kehilangan kekuasaannya.
Ini merupakan pukulan telak,
termasuk bagi keluarga bernama al-Houthi.
Kemudian, pada tahun 1990,
Yaman bersatu untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Seharusnya hal ini dirayakan.
Namun, alih-alih menyatukan negara,
proses ini justru menabur benih konflik.
Sayangnya, penyatuan ini sangat tergesa-gesa.
Banyak kesalahan yang terjadi.
Yang memimpin Yaman setelah bersatu
adalah Ali Abdullah Saleh.
Saleh adalah seorang politikus licin
yang menerima dukungan
dari Uni Eropa dan Amerika Serikat.
Namun, Salafisme Sunni juga tengah bangkit.
Para ulama Zaidi merasa perlu melindungi budaya Zaidi
dan mendirikan organisasi pemuda
Al-Shabab Al-Mu'min,
yang berarti "Pemuda Beriman",
pada tahun 1992.
Organisasi ini menyelenggarakan berbagai kursus,
seminar, dan perkemahan pemuda.
Lalu muncullah Hussein al-Houthi,
seorang pemimpin agama yang karismatik
dan mantan anggota parlemen.
Dia bergabung dengan gerakan pemuda
dan memanfaatkannya untuk kepentingan politik.
Dia juga menyerukan revolusi Islam
melawan Presiden Saleh yang didukung Barat.
Sejak awal tahun 2000-an,
kelompok ini semakin radikal,
menduduki beberapa wilayah
dan mendirikan pos-pos pemeriksaan.
Inilah awal mula gerakan Houthi,
yang dinamai sesuai nama pemimpinnya,
Hussein al-Houthi.
Pasukan Houthi mengecam intervensi
dan penindasan Barat.
Mereka juga meneriakkan slogan:
"Allah Mahabesar!”,
“Matilah Amerika!”,
"Matilah Israel!",
“Terkutuklah Yahudi!”,
“Jayalah Islam!"
Hussein al-Houthi adalah
pemimpin yang sangat karismatik.
Rezim Ali Abdullah Saleh sempat enam kali
berperang melawan pasukan Houthi
antara tahun 2004 dan 2010.
Perang-perang tersebut berakhir imbang.
Tapi, perang ini telah memperkuat
posisi pasukan Houthi
dan mereka mendapat banyak dukungan di utara.
Pada tahun 2011,
Arab Spring menjadi momen penting
bagi banyak negara Islam.
Gelombang protes besar
melanda Afrika Utara dan Timur Tengah.
Setelah 33 tahun berkuasa di Yaman,
Ali Abdullah Saleh
terpaksa mundur pada tahun 2012.
Wakil Presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi
mengambil alih sebagai penjabat presiden,
didukung oleh aliansi Barat
termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Pemberontak Houthi memanfaatkan ketidakstabilan ini,
dan memperkuat posisi mereka.
Tujuan dan tugas pemerintahan transisi Yaman ini
adalah untuk mewakili seluruh negeri.
Tapi, kelompok Houthi merasa
tidak sepenuhnya terwakili dalam proses ini.
Mereka menuduh pemerintah melindungi
anggota rezim lama yang korup.
Menurut mereka, pemerintahan baru ini
tidak punya legitimasi
untuk melaksanakan tujuan-tujuan revolusi.
Saat itu, Houthi juga mendapat dukungan
dari luar negeri,
terutama dari Iran.
Iran disebut telah memasok senjata
kepada pemberontak,
termasuk rudal balistik dan drone.
Teheran membantahnya.
Tahun 2014,
Houthi merebut Ibu Kota Sanaa,
dan maju ke Laut Merah hampir tanpa perlawanan.
Peristiwa ini menandai dimulainya perang saudara.
Pemerintahan Hadi yang diakui internasional
menjadi sangat lemah.
Mereka kemudian melarikan diri.
Pertama ke selatan, lalu ke Arab Saudi.
Inilah yang disebut "pemerintahan hotel".
Pemerintahan ini bekerja
di hotel-hotel mewah di luar negeri,
dan menjalankan pemerintahan dari sana.
Karena memerintah secara in absentia,
pemerintah ini kehilangan legitimasinya di Yaman.
Perang saudara di Yaman juga telah menjadi perebutan proksi yang berlarut-larut antara Syiah dan Sunni.
Di satu sisi, terdapat pemerintah
yang diakui internasional,
didukung oleh koalisi pro-Barat
yang dipimpin Arab Saudi,
negara muslim Sunni.
Pemerintah ini dengan brutal
melancarkan serangan udara dan blokade laut.
Di sisi lain, ada kelompok Houthi,
yang didukung oleh Iran Syiah
dan jaringan militer informal,
yang memproklamirkan diri sebagai Poros Perlawanan.
Dan di sinilah konflik menjadi bertambah rumit.
Organisasi teroris lainnya seperti al-Qaeda dan ISIS
berusaha memanfaatkan ketidakstabilan ini
dan membangun kekuatan di kawasan tersebut.
Tak lama kemudian, Amerika Serikat
mulai melancarkan serangan udara
yang menargetkan kelompok-kelompok ini.
Mulai tahun 2018,
Uni Emirat Arab menarik pasukannya dari Yaman,
salah satunya karena kepentingan strategis
Saudi dan Emirat kian berbeda.
Emirat lalu mendukung separatis selatan
yang ingin kembali memecah Yaman
menjadi dua negara.
Kita melihat andil dari banyak pihak
dan kepentingan yang berbeda.
Seiring waktu, kepentingan-kepentingan ini saling terkait,
tetapi mereka juga telah membentuk kubu.
Perang selama bertahun-tahun
telah menghancurkan Yaman.
Contohnya di Taiz,
yang terletak di antara wilayah yang bertikai.
Wilayah ini diperebutkan dengan sengit.
Daerah ini tidak punya sistem pengairan,
pembuangan limbah,
sistem pengumpulan sampah, dan sistem perbankan.
Hampir tidak ada infrastruktur sama sekali.
Tenaga kerja di sekolah dan rumah sakit
tidak lagi digaji.
Setelah perang selama lebih dari satu dekade,
sekitar 400.000 warga Yaman tewas,
baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sebanyak 21,6 juta orang
membutuhkan bantuan kemanusiaan,
ini lebih dari separuh populasi Yaman.
Mereka yang rumahnya hancur terpaksa tinggal
di kamp-kamp pengungsian.
Gambar ini diambil di wilayah selatan,
karena di wilayah utara,
pasukan Houthi melarang pengambilan dokumentasi.
Di kamp ini, kebutuhan sehari-hari sangat minim.
Air adalah komoditas yang berharga
dan nyaris tidak ada.
Anak-anak adalah kelompok
yang paling rentan dalam konflik ini.
Meski terkadang mereka memiliki akses pendidikan,
tapi tidak sebaik itu.
Mereka tidak punya akses kesehatan yang baik.
Mereka mengalami trauma, masalah ekonomi,
masalah keluarga, kekerasan,
dan banyak hal lainnya.
Jadi, merekalah yang menanggung akibatnya.
Organisasi milik Maged al-Kholidy
peduli terhadap anak-anak di Yaman.
Dia berharap dapat mendorong kaum muda
untuk berperan aktif dalam proses perdamaian.
Houthi mengawasi organisasinya dengan ketat.
Dan ada alasan lain
yang membuat pekerjaannya kian sulit…
Terjadi korupsi,
baik dari masyarakat maupun pejabat
yang mengawasi pendanaan dan bantuan kemanusiaan.
Artinya, tidak akan ada bantuan yang tersalurkan
kepada mereka yang membutuhkan.
Karena sangat sedikit bantuan
yang benar-benar tersalurkan ke pengungsi,
mereka terpaksa berjuang sendiri untuk bertahan hidup.
Saya dan anak-anak saya mengumpulkan botol.
Kami hanya makan sekali sehari.
Di kamp, ​​tidak ada bantuan kemanusiaan.
Kami tidak tahu ke mana larinya bantuan itu.
Bantuan disediakan oleh organisasi internasional,
tetapi distribusinya terhambat oleh blokade
dan masalah keamanan.
Alih-alih tersalurkan kepada yang membutuhkan,
bantuan ini sering kali dijual di pasar gelap
atau disita kelompok bersenjata.
Yaman kini berada di peringkat kedua terbawah
dalam Indeks Kelaparan Global.
Situasi ketahanan pangan negara itu "mengkhawatirkan".
Selama pertempuran terus berlanjut,
krisis kemanusiaan akan sulit berakhir.
Sebelumnya, pernah ada indikasi
bahwa perdamaian dapat dicapai…
Arab Saudi tampaknya ingin berdialog
dengan kelompok Houthi saat itu.
Sempat terjadi gencatan senjata.
Gencatan senjata hanya berlangsung beberapa bulan.
Namun, jeda itu cukup memberi
rakyat Yaman sedikit kelegaan.
Harapan untuk perdamaian pun muncul.
Cina bertindak sebagai mediator
antara dua kekuatan regional utama,
Arab Saudi dan Iran.
Oman juga terlibat.
Dan Arab Saudi tampaknya siap
mengubah arah kebijakan.
Bagi Arab Saudi,
hubungannya dengan Yaman mirip hubungan
Afganistan dengan Amerika Serikat.
Perang telah dimulai,
tapi tidak ada lagi yang tahu alasannya.
Mereka ingin perang selesai.
Namun, belum tahu bagaimana caranya
agar bisa juga menyelamatkan muka mereka.
Namun, di saat perjalanan menuju perdamaian
di Yaman mulai terlihat,
situasi kembali berubah.
Israel diserang pada 7 Oktober 2023.
Peringatan Fox News:
Setidaknya 250 warga Israel tewas…
Israel secara resmi menyatakan perang…
Serangan udara Israel terhadap Gaza semakin intensif
dan penduduk yang ketakutan
diperintahkan mengungsi ke selatan…
Selama 20 tahun,
mereka menyebarkan slogan
"Hancurkan Israel",
"Hancurkan Amerika",
"Jayalah Islam".
Dan kira-kira pada musim gugur 2023,
mereka harus berpegang teguh pada slogan itu.
Beberapa hari setelah pecahnya perang Gaza,
pasukan Houthi menembakkan roket ke Tel Aviv, Israel,
dengan jarak sekitar 2.000 kilometer.
Konflik Israel-Palestina dengan cepat
memengaruhi wilayah sekitar.
Kelompok Poros Perlawanan,
organisasi Hamas di Gaza,
dan milisi Hizbullah mulai beraksi dengan menyerang Israel dari utara.
Iran dituduh mendukung kelompok-kelompok ini
dengan pasokan senjata.
Ini membuat situasi semakin rumit.
Orang-orang sangat putus asa.
Sebelumnya, hanya ada konflik di Yaman
yang mungkin bisa dikendalikan.
Tapi, sekarang situasinya rumit.
Harus berpihak ke mana,
siapa yang akan menyelesaikannya?
Rekaman ini menunjukkan hari Jumat
di ibu kota Yaman, Sanaa.
Video ini direkam diam-diam untuk kami,
oleh seorang pegawai televisi pemerintah.
Seperti banyak orang lainnya,
dia juga belum digaji selama berbulan-bulan.
Para demonstran berkumpul di jalan-jalan,
memegang spanduk-spanduk Houthi.
Sejak perang di Gaza pecah,
demonstrasi seperti ini digelar setiap Jumat.
Puluhan ribu remaja dan pria dewasa
mengecam Barat, Israel, dan orang-orang Yahudi.
Sebagian besar demonstran punya niat yang tulus
untuk mendukung kepentingan Palestina,
terlepas dari siapa sebenarnya penggerak aksi tersebut.
Alih-alih berusaha mengakhiri perang,
pasukan Houthi justru mencoba memperpanjangnya.
Karena kelangsungan hidup mereka bergantung perang.
Pertama, karena perang
mendorong perekonomian mereka.
Kedua, karena perang memungkinkan mereka
untuk terus menampilkan diri
sebagai gerakan perlawanan rakyat Yaman.
Pada akhir tahun 2023,
pasukan Houthi mulai menyerang
kapal-kapal komersial di Laut Merah.
Ketika pasukan Barat membalas,
rakyat Yaman terkena dampaknya.
Houthi tampaknya punya sebuah rencana.
Kelompok Houthi perlu perang ini
untuk mendapat legitimasi dari rakyat Yaman.
Hal itu mereka tampilkan
lewat gerakan yang urutannya persis
mulai dari anti-Saudi, anti-Israel, dan anti-Amerika.
Pada akhirnya,
perang di Gaza menguntungkan mereka
karena dapat mengalihkan perhatian
dari masalah mereka sendiri.
Dan itu berhasil.
Pasukan Houthi meraih reputasi yang sangat besar.
Hal ini karena mereka tahu
caranya memanfaatkan media.
Baik melalui pernyataan pers yang dramatis…
Kami hanya akan berhenti jika agresi berakhir
dan blokade di Jalur Gaza dicabut.
Video propaganda licik…
Yang membedakan kami dari Amerika
adalah kekuatan militer mereka.
Atau film dokumenter palsu yang menampilkan
para sandera dari kapal Galaxy Leader…
Saya mendengar suara dor-dor-dor-dor.
Dan tentu saja,
di media sosial…
Pernah dengar tentang Bajak Laut Houthi
yang Seksi dari Yaman?
Pengguna media sosial terobsesi
dengan pemuda dari Yaman ini.
Faktanya, pria itu hanyalah pendukung Houthi
berusia 19 tahun yang pergi melihat kapal yang dibajak,
kontennya lalu menjadi viral.
Yaman sungguh porak-poranda.
Pemberontak yang didukung Iran
menguras habis sumber daya negara itu.
Rakyat di wilayah yang dikuasai pasukan Houthi
hidup di bawah pemerintahan otoriter,
dan kritikus dibungkam.
Namun, Houthi memanfaatkan krisis kemanusiaan ini
untuk meraih dukungan lewat agama,
kekuatan militer, dan narasi perlawanan.
Sementara lawan-lawan mereka
tampak lemah dan tidak teratur.
Sejak 2014,
baik pemerintah yang diakui internasional,
maupun koalisi pimpinan Saudi,
belum berhasil menghentikan milisi Houthi tanpa
adanya risiko pertumpahan darah yang lebih besar.
Lalu, bagaimana masa depan Yaman?
Menegosiasikan ulang gencatan senjata
sangatlah penting.
Strategi politik untuk Yaman juga harus dikembangkan.
Hal itu juga membutuhkan
keterlibatan pihak-pihak tertentu
yang belum punya dukungan universal.
Saat ini,
Houthi adalah satu-satunya kekuatan dengan
wilayah dan struktur administratif yang memadai
untuk memerintah negara secara nasional.
Ini mungkin bukan yang diinginkan
seluruh rakyat Yaman atau komunitas internasional.
Namun, untuk saat ini, aktor lain,
seperti pemerintah yang diakui internasional,
yang juga diakui PBB sebagai pemerintah resmi,
tidak memiliki kapasitas yang sebanding.
Terkadang, saya muak memikirkan
apa yang akan terjadi besok.
Saya merasa muak.
Merasa tidak ada harapan untuk esok hari.
Saya merasa semakin hari malah jadi semakin buruk.
Situasinya semakin hari semakin buruk.
Sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata,
tapi kalau kamu tinggal di sana,
kamu akan paham betapa sulitnya membandingkan
kondisi hari ini dengan hari sebelumnya.