Kisah tunawisma di Berlin: Sudah bekerja tetap tak mampu sewa tempat tinggal | DW Dokumenter
kFm9yzIhhc8 • 2025-12-02
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Menjadi tunawisma walaupun punya pekerjaan? Begitulah kehidupan Attila Kokas. Seorang tukang kebun yang hidup gelandangan. Denny Wagner bekerja sebagai juru masak. Ia juga tunawisma. Tidur di gubuk tanpa air ledeng atau listrik. Hidup di jalanan lebih bikin stres, dibandingkan bekerja. Ribuan orang di Jerman mengalami nasib serupa. Meskipun bekerja, mereka tidak dapat menemukan tempat tinggal. Bisakah mereka keluar dari jalanan? Taruh saja barang-barangnya di sana. Pukul 5:30 pagi di Distrik Neukölln, Berlin. Kami bertemu dengan Denny Wagner. Ia naik bus ke tempat kerja. Di sini, lumayan hangat dan nyaman. Denny sudah menjadi tunawisma selama hampir setengah tahun. Ia tidak punya tempat tinggal tetap. Setelah berpisah dari pasangannya, ia datang ke Berlin, dirampok, dan terdampar di jalanan tanpa uang dan dokumen. Beberapa bulan terakhir, juru masak itu bekerja di tempat penampungan tunawisma. Orang yang datang ke sini menghabiskan hari-hari mereka di jalanan. Denny tahu persis apa yang mereka butuhkan saat datang ke sini untuk tidur di malam hari. Jadi saya pastikan, saat mereka datang di malam hari, ada sesuatu yang benar-benar mengenyangkan untuk mengisi perut. Berada di jalanan sepanjang hari itu menguras tenaga. Saya tahu dari pengalaman pribadi. Mereka berpindah sepanjang hari, dari jam enam atau tujuh pagi hingga jam tujuh, delapan, sembilan malam. Sampai menemukan tempat untuk tidur. Mereka kelelahan di malam hari. Kami bertemu Attila juga pagi-pagi sekali. Ia bekerja sebagai tukang kebun untuk sebuah badan amal, serta mengumpulkan dan mengosongkan tempat sampah di kompleks ini. Dia takut ketahuan tidak punya tiket, jadi dia bangun tengah malam untuk berangkat kerja. Tiket kereta harganya mahal. Harus hati-hati agar tidak diperiksa karena saya tidak punya tiket. Pagi-pagi sekali tidak ada yang memeriksa, jadi saya tidak punya masalah datang lebih awal. Tidak seburuk itu. Saya sudah bangun jam tiga pagi karena harus ke toilet. Jadi, bangun jam empat pagi bukan masalah besar. Saya cek ponsel sebentar, lalu mulai bekerja. Sebelumnya, Attila adalah tukang kebun di Hungaria. Ia datang ke Jerman tujuh tahun lalu, berharap bisa memperbaiki hidupnya. Beberapa bulan lalu, ia mendapat pekerjaan di Berlin City Mission. Organisasi ini mengelola binatu, toko pakaian, dan tempat penampungan bagi mereka yang membutuhkan, serta berbagai pusat konsultasi. Attila mengatakan, tempat penampungan itu terlalu berisik dan tidak aman untuk bermalam. Tidak ada privasi. Banyak pecandu narkoba atau orang dengan masalah psikologis. Attila ingin punya apartemennya sendiri, agar bisa tenang dan beristirahat. Supaya saya bisa tidur dengan tenang. Tidak perlu setengah terjaga, mengawasi barang-barang agar tidak dicuri ketika lengah. Saya sudah lama ingin punya apartemen sendiri, tapi birokrasi di Jerman agak beda dengan Hungaria. Dan saya masih harus mencari tahu cara kerjanya. Apa tidak ada sendok sayur? Mana sendok sayurnya? Sudah dicicipi? Nah, tidak suka kubis Brussel? Saya juga tidak. Kalau begitu, jangan dimakan. Saya juga baru coba kuahnya. Tempat kerja adalah pusat kehidupan bagi Denny dan Attila. Tempat berlindung dari hiruk-pikuk jalanan. Hidup saya di sini. Saya biasanya hanya pergi dari sini untuk tidur. Kadang ada hal-hal yang harus saya urus, dan sewaktu kembali, sudah pukul empat, setengah lima, dan sudah mulai gelap. Lalu waktunya makan. Menurutnya, tunawisma itu membuatnya stres karena terus-menerus mencari uang dan makanan. Tidak benar kalau dibilang tunawisma tidur sampai jam sepuluh. Saya sudah membereskan tempat saya paling lambat jam enam pagi dan baru kembali sekitar jam sembilan atau sepuluh malam. Kau harus membatasi kebutuhanmu. Enggak bisa hanya tiduran di sofa malam hari dengan dua bungkus keripik dan minuman bersoda. Berdasarkan riset kami, tidak semua pemberi kerja mau mempekerjakan tunawisma. Jadi, bukan kebetulan Attila dan Denny bekerja untuk lembaga amal. Tempat kerja Denny sangat mendukungnya. Di sana, ia bisa mandi dan mencuci pakaian. Kepala tempat penampungan, Thomas, mendiskusikan bahan makanan yang akan dibeli dengan Denny. Ia yakin hanya masalah waktu sampai Denny keluar dari jalanan. Daging babi seharga 4,99 euro (sekitar Rp70.000) itu sudah sangat murah. Dia tahu bagaimana caranya keluar dari masalah ini. Orang lain juga melakukannya sedikit demi sedikit selama beberapa waktu. Namun, mereka memakai narkoba, atau minum alkohol dan sebagainya. Denny tidak melakukan semua itu. Dia masih punya fokus hidup. Kembali ke Attila. Pekerja sosial, Pauline, membantunya mencari apartemen. Pauline punya kabar baik. Oh, itu mungkin rumah transisi. “Berlin City Mission, tempat penampungan darurat, di sini Pauline.” Halo. Halo, Pak Kokas. Saya hanya ingin menginfokan, Anda sudah bisa pindah sekarang. Kamu bisa pindah. Ada tempat kosong. Attila mendapat kamar di asrama untuk para tunawisma. Toilet dan dapurnya digunakan bersama. Ia tampak kecewa, karena setelah bertahun-tahun hidup di jalanan, ia ingin menempati rumah sendiri. Iya, tapi kamar mandi dan toiletnya untuk bersama. Tapi setidaknya ada tempat tinggal hangat. Iya, benar. Tempatnya hangat dan kamu akan punya privasi juga. Kenapa hanya ada sedikit apartemen yang terjangkau bagi orang seperti Attila dan Denny? Harga apartemen hampir tidak terjangkau, terutama di kota-kota besar macam Berlin. Hal ini membuat para pekerja bergaji rendah sulit mendapatkan rumah. Diperkirakan, lebih dari setengah juta orang di Jerman tidak punya rumah. Dari jumlah itu, 50 ribu orang tinggal di jalanan atau di penampungan. Alasannya sering kali berupa pengangguran, utang, kecanduan, atau keluarga yang berantakan. Barbara dari Berlin City Mission mengatakan kesehatan seseorang juga berpengaruh. Mereka yang sehat secara psikologis dan tidak punya masalah kecanduan, dapat dengan relatif cepat keluar dari jalanan. Attila adalah contoh yang baik. Dia sangat gigih mencari pekerjaan. Dia tidak mengonsumsi narkoba, tidak minum alkohol, dan fokus mengejar tujuannya. Cuaca di luar sangatlah dingin. Namun, sebelum Attila dapat pindah ke kamarnya, ia harus menghabiskan satu akhir pekan lagi di jalan. Ia tidak ingin menunjukkan tempatnya bermalam, untuk melindungi privasinya. Dan agar tidak ada yang mencuri tempatnya. Ia tidak mau ada pengunjung. Namun, ia menunjukkan cara agar tetap hangat dan aman tidur di jalan. Saya perlu matras termal, selimut, kantung tidur, dan selimut lain dengan kantung di atasnya. Dan harus selalu ada dinding di sekitar kepala. Dan lebih baik kalau ada juga dinding di sini dan di sini, jadi kalau ada yang berniat jahat, hanya bisa menyerang dari satu sisi. Kami juga tidak bisa memberitahu lokasi Denny bermalam. Setelah berminggu-minggu di jalanan, ia tinggal di gubuk kayu sederhana yang dibiayai pemerintah kota. Ia memakai kompor gas kecil untuk menghangatkan diri. Ini cara saya memanaskan ruangan, dengan tabung gas seperti ini. Satu tabung bisa untuk tiga sampai lima jam, tergantung sepanas apa menyetelnya. Lalu, ruangan di rumah mungil berukuran empat meter persegi jadi sangat hangat dan nyaman. Kamu bisa berbaring di tempat tidur dengan celana pendek bermuda. Sehangat itu. Sedikit kemewahan? Iya, sedikit kemewahan. Jadi, ada tempat tidur, ukurannya 90 centimeter kali dua meter. Ada tempat penyimpanan, rak, dan lemari. Tapi bukan benar-benar seperti rumah. Tidak ada listrik atau fasilitas lain. Listrik hanya didapat dari powerbank. Dan karena saya sekarang bekerja, setiap hari saya dapat mengisi daya ponsel di tempat kerja. Kami bertanya kepada Denny, seperti apa kehidupannya dulu, sebelum hidup di jalanan. Seperti apa hidupmu dulu? Hidup saya baik. Punya keluarga, pekerjaan yang bergaji tinggi, tempat saya tinggal selama dua belas tahun. Saya hanya ingin keluar dari zona nyaman. Saya hanya ingin pergi. Saya tidak ingin berurusan lagi dengan semua itu. Perusahaan lama saya sudah tutup. Dan saya pikir, sudah waktunya pergi. Denny telah melihat dampak dari kecanduan narkoba. Ia menjauhkan diri dari hal itu dan berjanji, tidak akan mengambil jalan itu. Menurut saya, semuanya seakan lepas kendali. Kau pakai narkoba untuk menekan semuanya. Itu tidak menyelesaikan masalah apa pun. Dan di satu titik, semua itu membuatmu terpuruk begitu dalam, hancur, bahkan tidak mampu mengurus diri sendiri. Dan itu masalah yang sangat besar, terutama di sini, di Berlin. Saya sudah lihat lebih dari cukup banyak hal seperti itu, dan saya selalu bertanya-tanya, “Bagaimana bisa sampai separah itu?” Saya tidak seperti itu. Keesokan harinya, Attila mendapatkan kunci kamarnya. Ia masih kecewa karena belum menemukan apartemen untuknya sendiri. Ia harus berbagi dapur dan kamar mandi dengan penghuni lain dan hanya berharap semuanya bersih. Ini dapat dimengerti, mengingat betapa stresnya hidup tanpa rumah, dan betapa mendesaknya kebutuhan akan tempat beristirahat. Senang bertemu Anda. Saya akan memberikan kuncinya dan Anda bisa menaruh barang-barang. Jadi, beberapa ruangan agak lebih kecil, atau beda pembagiannya. Ah, ini bagus, bagus sekali. Saya bisa menaruh jaket di sana. Betul sekali. Ada juga lemari es di sudut belakang itu. Denny juga tengah berusaha keras untuk masa depan. Ia mengatakan, tidak butuh banyak hal untuk bisa bahagia. Cukup temukan tempat tinggal yang terjangkau. Itu sudah cukup bagi saya. Lagi pula, penghasilan saya bagus. Jadi, tidak perlu ngotot.
Resume
Categories