Kind: captions Language: id Dokter pria itu bertanya, "Mau periksa apa hari ini?" Saya jawab, "Saya mau mengikat tuba valopi saya." Dan dia kaget. Dia menoleh ke pasangan saya dan berkata, "Kenapa Anda bolehkan itu? Apa Anda setuju? Saya tidak akan membolehkan istri saya melakukan itu. Saya tidak pernah merasa saya butuh anak agar bisa merasa utuh atau merasa ada yang kurang tanpa mereka. Mereka semua lebih tahu dibandingkan saya sendiri. Dan mereka tahu kamu akan menyesal 10 atau 15 tahun lagi. Kamu akan menua dan hidup di panti jompo. Karirmu tidak akan bisa mengunjungimu. Ada reuni keluarga di wilayah Lausits. Adik perempuan Claudia dan anak-anaknya tinggal jauh di Bremen. Claudia senang bisa bertemu lagi dengan mereka saat pulang kampung. [tertawa] Claudia menyayangi keponakannya. Si kecil Camila berusia 5 tahun dan merupakan anak baptisnya. Claudia punya pasangan tetapi ia tidak pernah ingin punya anak sendiri. [tertawa] Bahkan sampai sekarang pun enggak pernah. Saya sudah 40 tahun dan gak pernah ragu sedikit pun kalau nantinya saya harus punya anak. Dan memang selalu begitu mereka tidak bertanya soal pernikahan dan anak atau kamu sudah putuskan ini sejak lama. Betul. Saya masih ingat mainan sandiwara kita sewaktu kecil. Apa kamu ingat waktu itu kita suka berkhayal? Saya membayangkan jadi perempuan karir di kota besar sementara kamu ingin tinggal di pedesaan dengan banyak anak. Iya. Sekitar 20 tahun lalu kan ya? Iya. Kita suka membayangkan begitu dan akhirnya terwujud. Aber deswegen meine ich, ich glaube, ich habe das immer schon gemerkt, das itu sebabnya saya bilang, saya sudah tahu dari dulu kalau kamu memang begitu. Yang penting kamu bahagia dan kalau keputusan itu membuatmu bahagia, itu bagus. Saya selalu ingin punya suami dan anak-anak. Semuanya ada waktunya. Saya bisa dengan mudah membayangkan punya banyak anak. Keluarga adalah segalanya bagi saya dan selalu terasa seperti bagian dari hidup saya. Claudia dan Susan, dua perempuan dengan dua pilihan berbeda. Semua itu bukan tanpa tantangan. [musik] Masyarakat memaksakan ekspektasi yang membatasi perempuan, terutama soal kehamilan. Para perempuan seolah didoktrin harus menjadi seorang ibu. Saya sering ditanya kapan mau punya anak. Dulu saat kami akan menikah, bahkan seorang ginekolog mengatakan, "Saya harus berhenti memakai alat KB setelah di atas 30 tahun dan harus punya anak." Saya ditanyai berbagai hal. Ada yang cuma bertanya, tapi ada juga yang menekan saya lebih lagi. Kata mereka, "Sekarang kamu itu harus punya anak dan memang harus begitu." Tapi memang selalu ada saja hal yang kurang. Dulu waktu saya berusia 27 tahun dan tinggal di Neidersen, lingkungannya berbeda. Saya sering mendengar sekarang secepat ini di usia 27 masih muda sekali. Kenapa tidak tunggu agak lebih lama? Lalu ada orang-orang yang kesal ketika saya menyusui. Selalu ada saja yang mereka kritik. Anika bukan nama sebenarnya. Tinggal di He. Dia juga tidak ingin punya anak. Spesialis komputer berusia 34 tahun ini ingin tuba valupinya diikat. Dia menganggap jalan menuju prosedur itu sangat rumit. Saya menelepon sekitar 20 klinik di Lipesik. Kebanyakan menertawakan saya. Betul. Resepsionisnya tertawa dan berkata, "Kembali lagi kalau sudah 35 tahun dan punya dua anak." Atau memang sudah punya berapa anak? Menurut saya itu mengerikan karena kejadiannya ada di kota besar macam Leipsik. Di tempat asal saya. Iya, mungkin saja. Anika tumbuh besar di sebuah kota kecil di Bayern. Namun semua orang tahu bahwa jalan hidupnya akan berbeda. Masyarakat sekitar menganggap bahwa setiap perempuan akan punya anak. Tidak peduli apakah kamu mau atau tidak. Itu hal yang wajar. Kamu sekolah, lulus, mendapat SIM, kuliah, lalu menikah dan punya anak. [musik] Perempuan harus menjadi ibu. Ini adalah pemikiran yang sudah mengakar dan diwariskan turun-temurun selama berabad-abad. Namun, dari mana asal-usul pemikiran ini? Pernikahan adalah untuk menghasilkan keturunan. untuk memastikan kesuksesan pribadi atau mengamankan pendapatan. Jadi, dulu perempuan dan keluarga bergantung kepada anak-anak. Pada masa itu anak-anak juga bekerja. Jika dulu perempuan tidak dapat memiliki anak atau jika pernikahan tidak menghasilkan anak, biasanya itu karena alasan medis. Dan jika itu terjadi, masyarakat selalu menyalahkan perempuan. Laki-laki tidak pernah salah. Pernikahan yang tidak dikaruniai anak seringki berujung perceraian dan perempuan yang tidak punya anak direndahkan dengan sebutan seperti perawan tua. Hal itu terjadi tiap kali seorang perempuan tidak dapat menjadi ibu. Apapun alasannya. Gagasan ini terus bertahan bahkan setelah perang dunia kedua, terutama di Jerman Barat. Bahkan di tahun 1969 [musik] masih ada pria yang sulit menerima jika istri mereka bekerja. Enggak masalah selama rumah tangga tidak terbengkalai, tapi untuk jangka panjang itu enggak akan berjalan. Kalau ibu rumah tangga bisa mengurus anak-anaknya atau suaminya yang mengizinkan, kenapa enggak boleh? Meski hanya untuk cari uang saku atau bisa beli bajunya? Jika suami bekerja, tentu saja saya akan menyarankan istri tinggal di rumah, apalagi jika ada anak-anak. Saya rasa itu hal yang benar karena ini membantu meningkatkan rasa percaya diri perempuan. Inilah artinya kesetaraan hak. Dulu jika seorang istri ingin bekerja, dia dapat penghasilan tambahan untuk pemasukan keluarga. Pekerjaan yang tersedia [musik] biasanya sederhana, paruh waktu, dan tugas yang diasosiasikan sebagai pekerjaan perempuan. Namun akhir 60-an pekerjaan [musik] paruh waktu ini meningkat secara signifikan. Jauh dari kompor itulah slogannya. Pekerjaan paru waktu dan pekerjaan sampingan bagi perempuan sedang marak. Menurut Institut Invas di Godesberg, sebagian besar laki-laki menolak dan tidak mendukung para ibu rumah tangga muda memanfaatkan kesempatan ini sebagai penghubung antara mengurus rumah tangga dan menyatarakan hak. Anika punya pendapat kuat tentang mengapa citra perempuan sebagai ibu begitu terpatri di benak banyak orang. Ada penekanan kuat pada citra religius seorang ibu Maria dan sebagainya. Jerman adalah negara yang sangat Kristen. Saya juga berasal dari Bayern. Nat juga memakai citra seorang ibu dan citra itu masih berdampak hingga kini. Natsi memandang perempuan hanya sebagai ibu. Mereka ingin perempuan menjadi pusat sistem keluarga. Dalam peran ini, perempuan digambarkan [musik] nyaris secara religius. Perempuan pun disingkirkan dari berbagai profesi, universitas, dan dunia politik sambil menggambarkan citra ibu sebagai orang yang sangat dihormati hingga perlu diberi medali. Perempuan juga punya medan perjuangannya sendiri. Dia berjuang di medan ini tiap kali ia melahirkan. Dia melahirkan untuk negara. Itulah perjuangannya untuk bangsa. Dan laki-laki juga ada medan juangnya. Laki-laki memberikan diri untuk rakyat. Sebagaimana perempuan membela keluarga, laki-laki membela keseluruhan orang. Seperti perempuan mendukung anak-anak yang ia lahirkan. Ibu dianggap sebagai pejuang. Menurut ideologi natsi, keluarga dan ibu adalah tempat lahirnya peradaban. Meski saya setuju dengan Titke bahwa laki-laki itu pengukir sejarah, tetapi perempuanlah yang membesarkan anak lelaki kita menjadi seorang pria. Nat membatasi peran perempuan hanya seputar melahirkan bayi, mengurus rumah dan keluarga, lalu merayakan peran tersebut. Hari ibu ditetapkan sebagai hari libur nasional dan medali muter kroids diberikan kepada perempuan yang memiliki setidaknya empat anak. Peran ibu berkembang selama pemisahan Jerman setelah perang. [musik] Di Jerman Timur yang komunis, perempuan bekerja untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja. Negara mendukung hal ini dan menjadikan perempuan pekerja sebagai ikon sosialis. Kian banyak perempuan bekerja di bidang produksi memenuhi permintaan pasar, para perempuan ini membuktikan bahwa profesi ini bukan hanya untuk laki-laki, baik sebagai operator bubut, tukang kunci, maupun insinyur desain, mereka dapat mempelajari dan menjadi apun. mereka setara. Hingga kini kami menghargai para aktivis dan saya adalah anggota serikat pekerja. Dulu ketika kami menerima nominasi untuk aktivis, kandidatnya selalu laki-laki. Hanya laki-laki, seolah-olah perempuan tidak berprestasi. Pada rapat umum terakhir, kami memutuskan tidak lagi mendukung aktivis jika tidak ada nominasi perempuan. Namun, pemerintah Jerman Timur juga ingin supaya perempuan memiliki anak. Jadi mereka membangun infrastruktur seperti tempat penitipan anak dan taman kanak-kanak. Di tahun 1970-an, [musik] pemerintah juga memperpanjang cuti hamil dan melahirkan menjadi 1 tahun. [musik] Namun, struktur sosial lama tetap bertahan. Perempuan masih mengurus anak dan rumah sambil bekerja di Jerman Barat. Hingga tahun 1977, istri tidak diperbolehkan menandatangani [musik] kontrak kerja tanpa izin suami. Sementara itu, sekitar 90% perempuan di Jerman [musik] Timur sudah mencari nafkah sendiri. Demikianlah lingkungan tempat Claudia dan adiknya dibesarkan. Ibu mereka Christina selama bertahun-tahun membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga di wilayah Lausit. Menurut sang ibu, itu sebabnya dia sulit memahami keputusan putrinya untuk tidak memiliki anak. Saya kaget ketika ibu bertanya apa kesalahan yang ia buat sampai-sampai saya enggan punya anak. Saya pikir ibu tidak salah apa-apa. Justru ibu membesarkan anak-anak perempuan yang sangat percaya diri. Itu sebabnya saya dan adik saya bisa membuat keputusan sendiri. in Saya rasa semua perempuan ingin punya anak. Jadi kalau dia sampai memutuskan untuk tidak memilikinya, saya pikir itu salah saya. Karena menurut saya, Claudia juga akan menjadi ibu yang baik. Dan tadinya saya pikir ada yang salah jika dia tidak mau punya anak. Tapi sekarang setelah dipikir-pikir, semua orang bertanggung jawab atas diri mereka sendiri. Jadi sewaktu Claudia bilang, "Aku tidak mau punya anak, ya sudah saya terima saja." Mengapa keputusan ini tidak dianggap sebagai gaya hidup? Kembali ke Hal pasangan Anika Paul punya anak baptis yang bekerja di klub pemuda. Paul mengaku dia merasa tidak mesti punya anak kandungnya sendiri. Saya tidak menentang gagasan memiliki anak. Namun buat saya ada banyak alasan yang tidak cocok. Saya suka anak-anak tetapi saya tidak bisa membayangkan punya anak sendiri. Saya pikir dunia saat ini bukanlah tempat yang baik untuk punya anak. Saya tidak membayangkan masa depan yang baik bagi mereka. sudah cukup banyakan anak. Banyak orang dewasa muda merasakan hal yang sama. Perang dan krisis iklim membawa banyak ketidakpastian. Berdasarkan hasil riset, [musik] semakin banyak anak muda yang memutuskan untuk tidak punya anak. Survei pemuda di Leipzig tahun 2023 membenarkan hal ini. 40% anak perempuan dan 43% anak laki-laki mengatakan suatu saat ingin punya anak. [musik] Namun jumlah ini meningkat dua kali lipat di tahun 2010 [musik] dengan 78% anak perempuan dan lebih banyak lagi anak laki-laki. Anika punya alasan lain kenapa dia memilih untuk tidak punya anak. Saya tidak tahu harus bagaimana dengan anak-anak. Saya sudah berusaha keras untuk berinteraksi juga dengan anak-anak teman saya. Saya bekerja di sekolah dasar selama setengah tahun atau dengan anak baptis pasangan saya. Rasanya tidak cocok. Saat ini. Apa alasan utama perempuan untuk tidak menjadi ibu? Apakah perubahan iklim atau ambisi karir? Kedua ilmuwan sosial ini mencoba mencari tahu. Mereka membuat sebuah studi dan bertanya kepada lebih dari 1000 perempuan [musik] yang sengaja tidak memiliki anak tentang alasan di balik keputusan itu. Kami bertanya kepada para perempuan dan motifnya beragam. Yang paling sering adalah mereka punya lebih banyak waktu luang, lebih banyak atau lebih besar kesempatan mengembangkan potensi diri sepenuhnya. dan pada akhirnya terbebas dari tanggung jawab mengurus orang lain selain diri sendiri. Ketiga motif ini yang paling sering disebutkan dan 70 hingga lebih dari 80% responden setuju. Temuan mereka bertentangan dengan asumsi sebelumnya bahwa karir adalah alasan utama seorang perempuan tidak memiliki anak. Mereka juga sadar bahwa mereka meneliti topik yang tabu. Harus diakui kami sangat terkejut dengan beragamnya pendapat yang kami terima. Di satu sisi, kami mendapat banyak dukungan. Di sisi lain, kami juga mendapatkan komentar negatif. Entah ditujukan kepada kami pribadi atau kepada perempuan yang memutuskan tidak punya anak. Namun komentar yang paling mencolok adalah generasi terakhir tidak akan punah karena perubahan iklim. Perempuan yang tidak ingin menjadi ibulah yang harus disalahkan. Dan orang tersebut mengakhiri pernyataannya dengan menulis orang Jerman makin sedikit. Banyak komentar seperti ini di berbagai postingan hampir bisa disebut fenomena. Di kolom komentar orang-orang juga mempertanyakan siapa yang akan membayar uang pensiun para perempuan yang tidak punya anak. [musik] Pertama, itu argumen yang sangat egois. Saya tidak mau punya dua anak hanya supaya mereka jadi pembayar pajak. Beban macam apa yang kita berikan ke generasi mendatang jika kita tidak bisa mengelolanya sebagai masyarakat, generasi muda yang harus kena getahnya itu tidak adil. Mungkin kita harus memperbaiki keadaan dan mempermudah hidup orang-orang. Anika tengah berkuliah di Leipsik. Dia melepaskan diri dari ekspektasi lingkungan Katoliknya dan memutuskan mengikat tuba valopinya. Saya berbicara dengan dokter kandungan di Leesik tentang hal itu dan dia bilang, "Tidak boleh. Dari mana dapat ide itu?" "Itu tidak boleh. Anda tidak mau melakukannya." Dan saya bilang, "Tapi ini tubuh saya. Saya yang memutuskan. Itu tidak adil." Dan dia bilang, "Bukannya tidak adil, itu pengalaman. Semua perempuan nantinya ingin punya anak." Anika tidak kunjung berhasil. Sedangkan pasangannya Paul mulai mencari tahu tentang fasektomi. Dia berkonsultasi dengan ahli urologi. Saya bertanya, "Apakah itu mungkin?" Dia bertanya, "Apa Anda punya anak?" Saya jawab, "Tidak." Dia bertanya lagi, "Anda yakin itu yang Anda mau?" Saya jawab, "Iya. Kalau begitu, kita akan membuat janji." Demikianlah percakapan kami tidak lebih dari itu. Namun, Anika bertekad mengikat Tuba valopinya. sebuah tempat yang dia temukan di internet mungkin bisa menjadi solusi. Dua orang perempuan di Leipsik mengumpulkan daftar dokter di Jerman yang bersedia melakukan prosedur ini bagi perempuan. Prosedurnya seharusnya sangat mudah. Saya menghubungi dua dokter dan berhasil setelah dua kali mencoba, saya menjalani prosedurnya. Semuanya berjalan lancar. Menurut teman-teman, seorang perempuan di Inggolstad juga mengalami hal ini. Dia juga berusia 30-an, tidak punya anak dan dokter kandungannya berkata, "Tidak masalah. Saya akan merujuk Anda." Lalu tuh Bapak Lopinya diikat. Tapi di forum online saya baca betapa banyaknya kesulitan yang dialami perempuan lainnya untuk mendapat jadwal ke dokter dan berbagai kegagalan mereka. Lalu saya pikir, kok bisa saya begitu beruntung? Susann menghubungi para dokter dan menyimpan alamat mereka. Pada tahun 2019, mereka mendirikan asosiasi bernama SSB Steam Steril atau Steril atas Kehendak sendiri. Tujuannya untuk mempersempit kesenjangan perawatan. Sejauh ini web mereka menunjukkan 66 titik layanan di seluruh Jerman. Susanne dan rekan-rekannya memberikan ratusan tips. Kegiatan ini berfokus pada hak perempuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Ada dua syarat sebelum perempuan bisa terbebas dari anggapan bahwa menjadi perempuan sama dengan menjadi ibu. Pertama, perempuan harus mandiri secara ekonomi dan bisa menghidupi diri sendiri. Kedua, keputusan untuk tidak hamil harus datang dari diri sendiri. Kontrasepsi adalah kunci penentuan nasib sendiri. Lebih dari seabad lalu, Dr. Yulius Moses mengatakan hal yang sama. Dia merekomendasikan metode kontrasepsi kepada [musik] perempuan dan menekankan pentingnya otonomi tubuh perempuan. Dia mengatakan bahwa perempuan harus dibebaskan dari perbudakan atas rahim mereka. Tahun 1913 buruknya kondisi sosial dan kehidupan mendorong Moses menyerukan gerakan mogok melahirkan untuk mendukung perbaikan perlindungan ibu dan bayi. Kaum sosial demokrat memperdebatkan seruan ini. [musik] Clara Zkin dan Rosa Luksembur tidak begitu mendukungnya. Revolusi membutuhkan sebanyak mungkin anak untuk menciptakan kelas pekerja. Lebih dari 100 tahun kemudian masih ada penentangan besar terhadap perempuan yang memilih tidak menjadi ibu. Susne mengumpulkan pernyataan-pernyataan terburuk. Hanya perempuan yang terlalu bodoh untuk memakai alat kontrasepsi yang mengikat tubah valopinya. Apakah ayahnya setuju dengan prosedur ini? Anda harus melanjutkan gen keluarga karena itulah alasan Anda untuk hidup. Begitulah kata orang-orang, teman, keluarga, orang tua, dan dokter juga. Mereka semua berpikir bisa membujukmu untuk tidak diserilisasi. Mereka semua lebih tahu dibandingkan saya sendiri. Dan mereka tahu saya akan menyesal 10 atau 15 tahun lagi. Mereka bilang kamu akan menua dan hidup di panti jompo. Karirmu tidak akan bisa mengunjungimu. Para perempuan yang diwawancarai untuk studi Gera sering mendapat celaan dan tekanan untuk menjelaskan keputusan mereka. Namun penelitian ini telah menghapus anggapan bahwa perempuan akan menyesali keputusan untuk tidak punya anak. Dua per3a dari perempuan yang mengikuti survei memutuskan untuk tidak menjadi seorang ibu sebelum berusia 25 tahun. Bahkan lebih banyak lagi yang memilih keputusan itu sebelum berusia 18 tahun. Itu adalah bagian data yang paling mengejutkan yaitu ketika perempuan membuat keputusan itu. Artinya perempuan yang tidak ingin punya anak sudah tahu sejak dini mereka memang tidak ingin punya anak dan kami tidak bisa memastikan bahwa mereka akan menyesalinya 10 atau 20 tahun lagi. [musik] Setelah bertahun-tahun mencari, Anika menemukan seorang dokter di Hale yang bersedia mengikat tubah valopinya. [musik] Meskipun kami sudah di sana dan tahu mereka bisa melakukan prosedurnya, saya tetap harus mendiskusikannya selama setengah jam. Pasangan saya juga ditanya. Mereka tetap bertanya, "Apa pendapat pasangan Anda?" Lalu dia setuju. Tapi saya tetap harus menuliskan semua alasan saya agar tidak bisa kembali 10 tahun kemudian dan mengajukan komplain. Setelah prosedur yang dibiayai sendiri oleh Anika dijadwalkan, [musik] keputusannya masih dipertanyakan dan dikritik juga pada hari operasi akan dilakukan. Jadi kami duduk bersama ahli anestesi. Dia menyiapkan dan memeriksa semuanya. Dia tanya, "Apa yang kita lakukan hari ini?" Saya jawab, "Saya mau mengikat Buffalopi saya." Dan dia kaget. Dia menoleh ke pasangan saya dan berkata, "Kenapa Anda izinkan? Apa Anda setuju? Saya tidak akan membolehkan istri saya melakukan itu." Ini sungguh tidak adil. Meskipun laki-laki dan perempuan dianggap setara, masih banyak hal yang perlu dibenahi. Dan salah satu masalah terbesarnya yaitu kemampuan mengambil keputusan atas tubuh kita sendiri. Itu masih menjadi tantangan bagi perempuan. Entah ketika mereka ingin diserilkan atau mencoba melakukan aborsi yang sebagian besar ilegal tetapi tidak dapat dihukum. Ketika terbangun dari anestesi, saya memegang boneka saya dan saya merasa bahagia. Saya menangis. Saya bertanya kepada perawat, "Apakah prosedurnya lancar?" Dia berkata, "Semuanya lancar. Saya menangis bahagia. Saya berpikir akhirnya berhasil. Tidak akan pernah terjadi apa-apa lagi pada saya. Apapun situasinya, saya tidak akan pernah bisa hamil sempurna. Saya tidak menyesali apapun sejak saat itu. Tahun ini akan sama seperti 6 tahun lalu dan saat ini saya sama bahagianya seperti sebelumnya. Studi Universitas Gera juga menunjukkan hal yang sama. 95% perempuan yang disurvei tidak menyesali keputusan mereka.