Transcript
gRAi0JxoG04 • Kebun pisang Islandia: Bertani dengan energi panas bumi dari tenaga vulkanik | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0097_gRAi0JxoG04.txt
Kind: captions
Language: id
Menanam sayuran di luar ruangan di Islandia hampir mustahil.
Namun, itulah yang dilakukan
Hildur Arnardóttir dan keluarganya,
di tengah musim panas bersuhu delapan derajat Celcius.
Ada kentang besar sekali, Bu!
Lihat, Bu!
Ini sih sangat kecil.
Bentuknya lucu, ya?
Jika orang bisa tumbuh, sayuran pun bisa.
Islandia ingin mengurangi impor sayuran dari Eropa daratan.
Mata air panas vulkanik di pulau ini membantu mewujudkannya.
Di rumah kaca Tomas Ponzi,
tomat yang ditanamnya sama seperti tomat Italia.
Mampukah orang Islandia melawan iklim dingin?
Bagi saya, menyaksikan tomat tumbuh
dan berdampingan dengan tanaman
serta alam di sini sangat penting.
Rasanya puas sekali melihat buah tomat berkualitas.
Perkebunan Brennholt berjarak 20 menit
dengan mobil dari ibu kota Reykjavik.
Di rumah kaca seluas 100 meter persegi ini,
Tomas menciptakan kebun untuk tomat-tomatnya.
Pada bulan Agustus,
suhu di luar ruangan 12°C,
tetapi di dalam ruangan 20°C.
Kondisi ideal untuk tanamannya.
Saya memotong daunnya agar tomat bisa terkena sinar matahari.
Selain itu, tomat ini tidak butuh banyak perawatan.
Tomas adalah seorang ahli komputer.
Namun, 14 tahun yang lalu,
dia pindah ke sini dari Reykjavik
untuk menanam tomat terbaik di Islandia.
Di sini, saya bisa merawat bumi.
Semakin penting untuk melindungi
dan menjadikan alam bagian dari kehidupan kita!
Istri Tomas dan putranya ikut memanen tomat.
Hari ini, keluarga Tomas menyiapkan hidangan favorit mereka.
Pasta dengan tomat koktail segar.
Kita pakai tomat lunak?
Pilih yang warna-warni.
Iya, banyak warna!
Rasanya sangat beragam.
Saat pertama kali mencobanya, rasanya sangat unik.
Anda pasti tak sabar menunggu panen tahun depan.
Tomas kini menanam lebih dari 30 varietas tomat.
Saat ia kecil, orang tuanya mengajarinya cara menanam sayuran.
Setelah orang tuanya meninggal,
dia memutuskan untuk kembali bertani seperti saat ia kecil.
Dia kini menjadi petani tomat paruh waktu.
Saya ingin menanam tomat seperti saat masa kecil.
Awalnya saya menanam benih yang bisa dibeli di sini,
tapi rasa tomatnya tidak sama dengan yang dulu.
Jadi saya mencari benih di seluruh dunia
dan menemukan varietas ini.
Dari Mei hingga November,
mereka memanfaatkan hasil panen sebaik mungkin.
Sayuran segar hasil kebun sendiri,
satu kemewahan bagi banyak orang Islandia.
Tetapi bagi Tomas dan istrinya,
ini makanan pokok yang sangat disukai.
Saya senang bisa menghidangkan
makanan dari hasil kebun sendiri.
Kami bangga kalau bisa memakai hasil kebun sendiri.
Hidangan ini terdiri dari bawang putih, tomat,
selada, dan basil dari kebun kami.
Semakin banyak warga Islandia
yang membeli sayuran dalam negeri.
Hampir 70% tomat yang mereka konsumsi ditanam di Islandia,
dan timun, hampir 100%.
Hal ini telah mengurangi ketergantungan negara
terhadap impor sayuran dari Spanyol atau Belanda.
Kakek-nenek Tomas berasal dari Italia.
Mungkin karena merekalah,
dia jadi mencintai tomat dan masakan Mediterania!
Salad ini rasanya sama seperti
salad tomat terbaik Italia, bukan?
Enak sekali.
Iya.
Mungkin lebih enak daripada salad nenek moyang saya di Italia.
Mungkin.
Iklim di Islandia dingin dan tidak bisa diprediksi.
Bagaimana cara orang menanam sayuran di sana?
Jawabannya ada di bawah tanah.
Rumah merah kecil ini tidak jauh dari kebun Tomas.
Air panas dipompa dari sumur bor di sini ke rumah kacanya.
Air mengalir melalui pipa-pipa ini,
menciptakan suhu yang sempurna untuk sayuran.
Suhu di luar memang selalu lebih dingin.
Itulah sebabnya Tomas dan istrinya
senang menyalakan api unggun,
bahkan di musim panas.
Menurut Tomas, energi panas bumi adalah anugerah alam
yang memungkinkan budi daya sayuran di Islandia.
Kami tidak kaya, tapi kami punya makanan sendiri.
Saya dapat manfaat dari apa yang saya pelajari saat kecil.
Dulu kami tidak punya listrik atau telepon.
Waktu kecil, energi panas bumi
adalah satu-satunya kemewahan yang kami punya.
Air panas adalah sumber daya luar biasa
yang harus digunakan dengan berkelanjutan.
Jangan dibuang-buang!
Saat ini,
90% rumah tangga di Islandia
terhubung ke jaringan pemanas wilayah.
Energi panas bumi juga disalurkan ke rumah kaca.
Sebagian besar rumah kaca ini
terletak di wilayah barat daya
yang dekat dengan area panas bumi aktif.
Di salah satu universitas pertanian di Islandia,
beragam potensi energi panas bumi sedang diteliti.
Di sinilah letak perkebunan pisang paling utara di dunia.
Buah-buahan tropis ini sudah dibudidayakan selama 70 tahun.
Elias Oskarsson menggunakan pipa pemanas ini
untuk menciptakan kondisi tropis
di dalam rumah kaca eksperimental.
Sangat gila menanam pisang jauh di utara.
Tapi sejauh ini hasilnya cukup baik,
karena terdapat cukup panas alami di sini
untuk menanam pisang.
Suhunya 20°C sepanjang tahun,
persis seperti yang dibutuhkan tanaman.
Rekannya, Gudríður Helgadóttir,
dalah seorang peneliti pertanian
dan kepala program hortikultura.
Ia menunjukkan kepada para mahasiswa
bagaimana pisang dan buah-buahan tropis lainnya
dapat tumbuh subur di Islandia.
Ini bunga betina.
Bisa dilihat dari ujung bunga hijaunya
yang muncul di bagian bawah.
Pisang akan tumbuh dari sini.
Dan pisang-pisang kecil ini perlahan akan membesar.
Pisang buatan Islandia.
Namun, pisang ini tidak dijual di supermarket.
Enak sekali, terlebih kalau sudah matang.
Gudríður dan Elias ingin tahu buah-buahan eksotis
apa lagi yang bisa tumbuh di Islandia.
Mereka sangat bangga dengan tanaman kakao ini.
Setelah lebih dari 10 tahun meneliti,
kini mereka dapat menikmati hasilnya.
Ini buah kakao kedua yang dipanen di Islandia.
Buah kakao pertama tahun 2024 menghasilkan 13 biji.
Itu cukup untuk membuat sebatang cokelat!
Tahun 2025 sudah ada lebih dari 20 biji.
Saya suka cokelat.
Siapa yang tidak ingin menanam kakao sendiri?
Semenanjung terpencil di barat laut Islandia ini
adalah rumah Hildur Arnardóttir.
Perempuan berusia 37 tahun ini juga menanam sayuran.
Namun, dia lebih unik.
Rumah kacanya tidak dipanaskan.
Meskipun di sini lebih dingin daripada di wilayah selatan,
dia sepenuhnya bergantung pada sinar matahari
dan keahliannya sendiri.
Butuh semangat dan komitmen
untuk bercocok tanam di Islandia.
Menanam sayuran di sini perlu tanggung jawab yang besar.
Kita harus terus memerhatikan kondisi tanaman tanpa henti.
Tapi saya suka beristirahat sejenak di musim dingin.
Hildur seorang arsitek.
Dia tidak ingin bergantung pada sayuran dari supermarket.
Baginya, yang terpenting adalah
kemandirian dalam menghadapi kesulitan,
karena di wilayah ini tidak ada akses ke energi panas bumi.
Memanaskan rumah kaca itu membuang energi
karena mereka cepat kehilangan panas.
Dan butuh banyak energi untuk memanaskan rumah kaca,
melindunginya dari embun beku,
dan menjaganya tetap hangat.
Jadi, lebih baik membiarkan tanaman tumbuh mengikuti musim.
Kalaupun bisa,
dia tidak mau menggunakan energi panas bumi
karena alasan keberlanjutan.
Dia menghangatkan tanamannya dengan bulu domba.
Dengan metode itu,
Hildur berhasil menanam bit, labu, dan zucchini.
Tidak ada yang menyangka sayuran
bisa ditanam di rumah kaca dingin.
Saya tidak banyak membahasnya,
saya langsung melakukannya saja.
Hildur tinggal di sebuah kota kecil berpenduduk 3.000 jiwa.
Namun, selama musim panas,
dia pindah ke lereng sebuah fyord
bersama suami dan keempat anaknya,
di sebuah rumah kubah yang berfungsi
sebagai rumah sekaligus rumah kaca.
Aku akan bersihkan ini!
Petik daunnya juga.
Biar aku yang mencucinya.
Mengolah hasil panen.
Semuanya boleh membantu.
Hildur ingin anak-anaknya paham
cara menanam sayuran sendiri di Islandia
dan menjalani pola makan sehat tanpa energi panas bumi.
Berapa daun basil?
Kamu butuh berapa?
Aku tidak mau cabut semuanya.
Anak-anak saya tahu betapa berharganya
makanan yang ditanam sendiri.
Lebih menyenangkan untuk makan sesuatu
yang kita tanam dan panen bersama.
Sungguh luar biasa.
Sejak kecil, mereka sudah mencoba
begitu banyak sayuran yang berbeda.
Makanan baru untuk keluarga.
Mereka membuat garam herbal dari sayuran hijau
dan sauerkraut dari bit.
Pelajaran yang sangat penting untuk anak-anak Hildur.
Kembali ke Tomas Ponzi.
Dia tak pernah menyangka,
orang-orang datang untuk mencicipi tomatnya.
Dia tidak ingin membangun bisnis besar.
Dia lebih tertarik berbagi pengalaman kepada pengunjungnya.
Banyak yang bilang ini mengubah mereka.
Setelah coba tomat di sini,
mereka tidak bisa makan tomat supermarket lagi.
Saya sudah mengubah mereka!
Itu bagus kalau orang-orang lebih cermat
dan kritis terhadap industri sayuran.
Kabar tentang kualitas tomatnya
menyebar ke restoran-restoran ternama.
Seorang koki dari Reykjavik
datang ke kebun Tomas untuk memilih tomat.
Ini tomat Yusupovski dari Rusia.
Bagaimana?
Anda mau mencobanya?
Boleh.
Kalau tidak, saya akan memakannya sendiri.
Anda mau?
Mau,
saya akan ambil untuk kaldu.
Sang koki belajar banyak hal tentang tomat dari Tomas.
Cobalah.
Manis sekali.
Enak!
Budi dayanya, manisnya, kematangannya, dan teksturnya.
Semuanya unik.
Tidak ada tomat seperti ini di Islandia,
dan saya belum menemukannya di mana pun.
Restorannya, ÓX, terletak di pusat Reykjavik.
Dia menyiapkan hidangan di hadapan para tamu.
Di sini, tomat dari Tomas diolah menjadi hidangan mewah.
Saya suka menggunakan tomat yang sudah matang.
Tomat ini dipetik pagi ini
dan akan saya sajikan enam jam kemudian.
Dulu, sulit menemukan sayuran segar di Islandia.
Ikan, daging, dan makanan fermentasi
menjadi pola makan orang Islandia.
Namun, naiknya popularitas sayuran
mengubah cara masak sang koki.
Kembali ke keluarga Hildur.
Ia punya rencana besar
dan ingin mengubah rumah kubahnya
menjadi kebun apel dan pir.
Untungnya, suaminya, Magnason adalah tukang kayu.
Pindah ke sini adalah ide Hildur.
Yang pertama kali terlintas di benak saya
saat melihat rumah ini
adalah semua pekerjaan yang harus kami lakukan.
Tapi Hildur bilang tidak masalah,
itu bagian dari karakter rumah ini.
Lalu itu berubah menjadi proyek
yang terus berlanjut setiap musim panas.
Tapi itu selalu jadi visi Hildur,
dan saya mendengarkan istri saya.
Hildur ingin mempertahankan
gaya hidup yang peduli lingkungan ini.
Dia masih bekerja sebagai arsitek,
tetapi berkebun sayur semakin menyibukkannya.
Dia sadar bahwa dia bisa hidup sederhana,
terutama karena dia menanam sayuran sendiri.
Gaya hidup berkelanjutan tidak membatasi kualitas hidup.
Saya justru merasa kualitas hidup saya tinggi.
Ini bukan soal uang,
ini soal kepuasan.
Hildur tidak hanya menanam di rumah kaca tanpa pemanas,
tetapi juga di luar ruangan.
Delapan tahun yang lalu,
dia membuat kebun terasering di pinggiran kota.
Dia bahkan menanam stroberi,
yang mungkin tidak berwarna merah,
tetapi tetap bisa dimakan!
Asam sekali!
Tapi rasanya tetap enak.
Namun, musim panas tahun ini tidak bersahabat.
Tahun 2024 ini cuacanya sangat dingin dan berawan.
Jadi, beberapa buah belum matang, seperti stroberi.
Ada banyak, tapi semuanya hijau!
Meskipun dingin, Hildur masih bisa memanen beberapa sayuran.
Di antaranya, varietas bit dan kubis yang tahan dingin.
Bagi Hildur, bercocok tanam di luar ruangan di Islandia
adalah bentuk kehidupan yang sederhana dan menyenangkan.
Ini bukan hal yang gila.
Dulu, kebun sayur ada di mana-mana.
Orang-orang menanam kale, bit, dan kentang di lahan mereka.
Tetapi pengetahuan ini hilang.
Kini orang mengira bahwa menanam sayuran itu mustahil.
Padahal sebenarnya, orang sudah melakukannya
sejak zaman Viking.
Hildur menggunakan metode permakultur,
menanam biji dan membuat kompos sendiri.
Dia menghindari pupuk buatan
dan memanfaatkan apa yang disediakan alam.
Pendekatannya alami dan holistik.
Permakultur adalah sebuah alat dan sebuah filosofi
yang dapat mengubah hidup Anda.
Itu sudah mengubah hidup saya secara drastis.
Antusiasme Hildur menular.
Namun di universitas,
antusiasme terhadap budi daya pisang Islandia rendah.
Meskipun pohon pisang tumbuh di rumah kaca yang dipanaskan,
eksperimen tersebut gagal.
Kami sudah mencobanya selama bertahun-tahun
dan menyimpulkan bahwa memproduksi pisang
secara komersial tidak menguntungkan.
Pisang membutuhkan waktu terlalu lama untuk tumbuh.
Karena tidak ada cahaya buatan di rumah kaca,
pisang berhenti tumbuh setelah musim panas.
Buahnya hanya bisa dipanen antara bulan April dan Oktober.
Dari semua pohon yang ditanam,
50 batang menghasilkan pisang.
Cukup untuk penghuni universitas.
Rasanya enak.
Di tempat lain di Islandia,
eksperimen sayuran masih jauh dari selesai.
Rumah kaca industrial tidak hanya
mengandalkan energi panas bumi,
tetapi juga cahaya buatan selama bulan-bulan gelap,
dan pupuk kimia.
Hanya dengan cara seperti itulah,
menanam sayur bisa dilakukan sepanjang tahun.
Bagi Tomas dan istrinya, hal itu mustahil.
Mereka hanya mengandalkan sumber daya alam
dan tidak menanam tomat di musim dingin.
Saya suka memanfaatkan sumber daya alam
di Islandia seperti matahari,
bukan energi yang dibeli.
Itulah mengapa saya tidak menggunakan lampu.
Jika Anda ingin menanam sayuran sepanjang tahun,
seperti selada,
Anda butuh cahaya buatan di musim dingin,
dan itu membutuhkan banyak energi.
Saya tidak suka itu.
Di keempat rumah kaca ini,
Tomas menghindari penggunaan energi panas bumi.
Selama 10 tahun,
dia bereksperimen dengan kondisi iklim Islandia
dan menanam tomat yang tahan terhadap iklim yang keras.
Untuk ini, dia melakukan persilangan
antara varietas tahan dingin dari Siberia atau Kanada
dengan varietas terbaik miliknya yang tahan panas.
Saya sangat bangga dengan varietas ini.
Tanaman ini menghasilkan tomat
yang luar biasa dan rasanya enak.
Saya sudah berhasil mengembangkan varietas saya sendiri.
Saya bisa memanen benihnya
dan menanam tomat baru tahun depan.
Tomas berharap agar semua orang Islandia
dapat menanam sayuran mereka sendiri
dengan metode sederhana.
Dia membudidayakan benih varietas tahan bantingnya
dan menjualnya kepada petani sayuran.
Jika semua orang menanam makanannya sendiri,
mungkin masalah pangan dunia akan teratasi
dan kita akan lebih menghormati alam.
Kita mungkin juga akan lebih sadar untuk melindunginya.
Kita akan memiliki hubungan
yang lebih erat dengan bumi
dan menghargai sumber dayanya.
Hildur punya cara untuk mewujudkannya.
Di kebunnya, ia menyelenggarakan lokakarya.
Baginya sangat penting
untuk tidak hanya bercocok tanam sendirian.
Itulah sebabnya,
ia juga membuka kebunnya untuk komunitas
agar mereka dapat berkebun bersama.
Saya merasakan semangat mereka.
Mereka memahami cara makanan tumbuh
dan membangun hubungan erat dengan alam.
Saya selalu termotivasi karena ini.
Berbagi pengetahuan dan mempelajari
cara mengolah hasil bumi.
Itulah inti dari kegiatan ini.
Mereka memanen kentang, umbi-umbian,
kubis, selada, dan rempah segar.
Hildur berharap Islandia menjadi
negara yang mandiri dalam pangan sayur.
Impian terbesar saya
adalah agar setiap kota kecil di Islandia
memiliki kebun komunitas,
supaya setiap orang dapat
membawa pulang sayuran segar lokal.
Sangat bagus jika orang-orang
dapat memanen sayuran mereka sendiri
dan yang bisa segera dikonsumsi.
Berkat tekad yang begitu kuat dan inovasi berkelanjutan,
revolusi sayuran di Islandia sudah dimulai.