Baduy dalam Jerat Modernisasi
CAnvf6a-6ds • 2025-05-07
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Di tengah kesunyian pagi Badui, sebuah
pemandangan muncul di hadapan
kita. Kode QR pembayaran digital adalah
simbol modernisasi yang tak
terbendung. Siapa sangka di tanah yang
dikenal dengan kearifan tradisionalnya,
teknologi modern mulai merangkak masuk.
Inilah paradoks yang kini dihadapi
masyarakat Badoi. Sebuah pertarungan
senyap antara warisan leluhur dan godaan
modernisasi.
[Musik]
Di lereng Pegunungan Kendeng, Provinsi
Banten terdapat sebuah komunitas yang
selama berabad-abad hidup dengan prinsip
kesederhanaan dan harmoni dengan alam.
Sejak ratusan tahun, masyarakat Badui
hidup dengan prinsip lojor temenang
dipotong, pondok temenang disambung.
Yang panjang tak boleh dipotong, yang
pendek tak boleh
disambung. Sebuah filosofi yang
mengajarkan untuk menerima kehidupan apa
adanya.
Ekspedisi dokumenter ini menyingkap
realitas terkini masyarakat Badui Luar.
Dengan pendekatan langsung, kami
menyoroti kehidupan sehari-hari
masyarakat Badui khususnya Badui Luar
terhadap perkembangan
[Musik]
zaman. Sistem tradisi sistem-sistem
budaya itu sangat kental. Tapi kan itu
secara dasar, tapi kan secara ee secara
umum kemungkinan ada ada juga perubahan.
Contoh gini ngantisipasinya masalnya kan
sekarang banyak-banyak alat alat-alat
teknologi yang masuk ke Badui itu emang
sih ada-ada juga misalnya kok ee ada
juga misalnya sulit juga untuk
mengantisipasi biar anak-anak muda itu
biar misalnya jiwa-jiwa penus itu ee
gimana ngantisipasinya biar biar tahu
budaya, tradisi, adat istiadat, biar
kita misalnya ee mengacu sama luhur
kita, biar kita menjaga marwah kita.
Jangan kesentuh-sentuh, jangan
keusik-usik gitu.
Badui luar, wilayah penyangga yang
menjadi gerbang utama bagi wisatawan dan
pendatang. Di satu sisi masih terlihat
rumah-rumah tradisional dengan atap ijuk
dan dinding bambu. Di sisi lain, telepon
genggam, transaksi digital, bahkan
konten media sosial telah menjadi bagian
tidak terpisahkan dari kehidupan
sehari-hari mereka.
[Musik]
Aku waktu pertama main TikTok itu tahun
2020.
Heeh. Itu langsung booming atau ee ada
satu konten yang kamu tuh langsung
booming?
Ee awalnya sih ada sering ada yang ke
sini gitu, konten kreator terus e akunya
mungkin di kena wawancara gitu seperti
ini. Terus ee mungkin pas waktu itu pas
diwawancarain aku mungkin lagi
viral. Umang sekarang berapa? 17. 17.
Kamu mulai fase bahasa Indonesia itu
sejak berapa? Sejak tahun 2021.
Oh iya, berarti 2019-2020 itu udah mulai
ee enggak terlalu bisa? Belum terlalu
bisa. Eh karena kan mulai banyaknya tamu
ke sini ee kan sering ada yang mampir ke
sini terus kalau lagi bikin kopi
ngedengar orang pada ngomong gitu bahasa
Indonesia. Jadi kalau di kok bisa gini
jadi diikutin gitu kata-katanya diikutin
terus tiba-tiba nyambung
aja. Waktuku kecil aku enggak tahu
yangi-lumi.
Perkenalkan nama saya Ratna. Biasa
dipanggil kalau di sini itu Ambonia.
Tapi kalau orang luar Ambu Ratna.
Kalau boleh tahu umur ambu berapa? Kalau
umur sekitar 35-an.
Udah berapa tahun sih, Teh? Kenal TikTok
tuh? Kalau kenal TikTok itu udah lama,
udah
sekitar 4 tahun, 5 tahun cuma jarang
digunakan gitu. Jarang. Inilah orangnya
dulu mah kurang PD gitu. Kalau sekarang
kan setiap pagi pasti gitu kan apa
namanya kita walaupun enggak live gitu
kan misalkan upload foto gitu tiktokan
gitu.
Dalam hasil wawancara, kedua contonent
kreator yang memiliki umur yang sangat
jauh berbeda mengungkapkan bahwa
ketertarikan mereka akan media sosial
dan membuat konten maupun menghasilkan
uang sangat tinggi dan juga hal tersebut
dapat meningkatkan pendapatan komunitas.
[Musik]
Selain Sarti dan Ratna, setidaknya
terdapat 15 lebih konten kreator lain
dari Badui Luar yang aktif di berbagai
platform media sosial.
Menurut data yang dihimpun, 68% dari
konten yang mereka hasilkan berfokus
pada aspek tradisional kehidupan Badui.
Meski di balik layar kehidupan mereka
sendiri telah sangat dipengaruhi oleh
modernitas.
Tidak hanya konten digital, ekonomi
badui luar telah bertransformasi dari
yang semula berbasis pertanian dan
kerajinan tangan kini semakin
berorientasi pada pariwisata dan
perdagangan.
Kenapa akhirnya Ibu memilih pakai kiris?
Mungkin karena banyak yang apa atau
gimana?
Kalau untuk kiris ee karena kan ee
kampung kita ini kan tempat wisata gitu
ya. Eh, jadi ee kebanyakan si pengunjung
itu enggak bawa uang cash gitu. Jadi
kita mengadakan kuris biar mereka
belanjanya lebih praktis bisa tinggal
scan aja gitu. Tapi Ibu awalnya tahu
dari siapa? Mungkin belajar dari siapa
cara menggunakan kiris ini atau cara
pembuatan kirisnya? Kalau untuk
pembuatan kirisnya kita kan kebetulan
lagi
ada apa ya? lagi ada program dari BI.
Jadi si orang BI-nya ke sini gitu. Jadi
ee ngebantu gitu ngebantu masyarakat
Badui untuk
ee apa ya untuk membantu bikin quiris
agar si pengunjung bisaembayarnya dengan
praktis gitu tanpa ada uang cash gitu.
Tapi
sebenarnya Kiris ini bukan salah satu
yang melanggar tradisi atau bagaimana?
Enggak, enggak sama sekali tidak
melanggar karena kan ini ee
dikasarkannya kan ee apa ya mata
pencarian
kita untuk mempermudah ekonomi gitu.
[Musik]
Transformasi digital ini menimbulkan
pertanyaan, apakah teknologi merupakan
ancaman bagi kelestarian budaya Badui
atau justru menjadi alat untuk
mempertahankan relevansi mereka di era
modern?
nya mengenai bagaimana mereka ee bisa
menerima adanya teknologi atau
modernisasi ee di era digital saat ini.
Ee tentu ee kita ee melihat konteks tadi
ya. Ketika mereka terpisahkan antara
badui dalam dan badui luar, maka badui
luar punya kesempatan untuk menerima
modernisasi atau menerima
teknologi. Ee dan itu menurut saya tidak
merusak tatanan budaya Badui secara umum
karena memang mereka sudah menerima ee
konsekuensi tersebut ketika mereka
memisahkan diri dari masyarakat Badui
Dalam. Nah, apakah itu kemudian merusak
nilai-nilai budaya mereka? ee tentu saja
ee mereka yang sudah menerima ee
perubahan ee nilai-nilai atau
kepercayaan ee Badwi secara leluhur ya
ee dari satu generasi ke generasi mereka
tidak lagi harus terikat dengan
nilai-nilai tersebut. Nah, mereka bisa
beradaptasi dan kemudian ee mengikuti ee
perubahan lingkungan yang mereka hadapi
sehari-hari saat
[Musik]
itu. Ee, nah, gimana ee HP itu tadi
mempengaruhi kamu? Apa dampak yang kamu
rasain?
banyak banget dampaknya kayak yang aku
enggak tahu jadi tahu. Terus kan kalau
di TikTok itu kan ee kalau sebelum punya
HP ya aku enggak tahu apa-apa sama
sekali. Tapi setelah ee punya
HP banyak banget hal yang aku
tahu. Kalau kita kan semakin ee apa ya
menggunakan TikTok itu kan kalau ke sini
gitu ya. Kalau kita benar-benar itu kan
lumayan juga ada pemasukan juga gitu. Ee
jadi dampak penggunaan tiris ini di
usaha Ibu berpengaruh seperti apa? Kalau
di kalau saya pribadi sih pengaruhnya
sangat bagus gitu. Soalnya kalau
misalnya ada kan ee si pengunjung gitu
misalnya dia pengin belanja-belanja tapi
dia enggak bawa uang cash gitu terus ada
deh kiris gitu. Jadi, jadi belanja gitu.
Yang tadinya enggak mau belanja jadi mau
belanja gitu.
Pariwisata telah menjadi pedang bermata
dua bagi masyarakat Badui Luar. Di satu
sisi membuka peluang ekonomi baru. Namun
di sisi lain banyak hal-hal dari luar
yang semakin masuk ke badui luar.
[Musik]
yang kalian ekspektasiin sama setelah
kalian datang itu sama atau beda?
Kayaknya lebih lebih bagus. Lebih bagus
atau mungkin karena ee belum terlalu
menjajaki banget ya. Ben pertama kali
juga ma tadi lihat ada yang pegang
handphone juga sih ya. Udah lumayan.
Heeh. Udah lumayan.
Nah, ee kalau dari kalian pandangan yang
kayak gitu tuh gimana
sih? Sebagai kalian yang emang udah
tinggal di kota biasanya dan kalian
masih berekspektasi badu itu masih
dengan kekentalan adab misal. Mm. Kalau
aku pribadi ya itu suatu kemajuan sih
berarti artinya gitu loh. Walaupun belum
seberapa gitu, tapi untuk mempertahankan
adat mereka di sini gitu udah bagus
banget gitu. Mereka tetap ngejaga itu
walaupun ada apa ya pengaruh dari luar
masuk gitu, tapi mereka tetap tetap
menjaga Heeh. ngejaga adatnya gitu.
Ngejaga apa yang udah dulu ditanamin di
sini gitu.
Apakah enggak apa-apa kalau misalnya
buat di luar itu dari modernisasi,
tapi jangan 100% sih ya. Harus tetap
mempertahankan yang udah dulu ditanamin
sama buyutnya sesepuhnya. Ya,
ternyata kalau kita mau jujur ya ee
Badui Luar itu sebenarnya salah satu ee
tujuan wisata atau target
ee wilayah apa destinasi pariwisata di
wilayah
ee Banten ya yang cukup tinggi
peminatnya ya. Jadi itu ironi kan ee di
satu sisi masyarakat Badui punya
nilai-nilai yang enggak mau mereka
perlihatkan kepada dunia luar, tetapi
justru nilai-nilai itu menjadi ee sebuah
jualan ya kepada masyarakat yang ingin
tahu seperti apa sih orang Badui gitu
ya. Nah, jadi
ee prinsipnya menurut saya ee sepanjang
ee masyarakat Badui luar bisa menahan
ee arus ee keingintahuan budaya dari
wisatawan ya sampai pada level badui
luar saja sampai tidak harus ke badui
dalam itu fine, it's OK gitu ya. Ee jadi
yang harus tetap dijaga untuk
mempertahankan nilai, identitas dan
cara-cara ee hidup mereka sesuai dengan
apa yang mereka yakini itu tetap ada
pada wilayah masyarakat Madui
Dalam. Di balik narasi tentang perubahan
dan modernisasi, bagaimana sesungguhnya
pandangan masyarakat Badui Luar sendiri?
Apakah mereka melihat modernisasi
sebagai ancaman atau justru sebagai
kesempatan? Mengenai alat teknologi itu
contoh mengenai sejenis HP itu kan
ee untuk kebijakannya untuk
ee untuk komunikasi sama luar Badui.
Masalnya kan Badui Badui dalam itu
bahkan kepala ee kepala suku itu sama
jarot tangtunya sama sistem lembaga yang
lainnya. termasuk B luar juga itu kan
ee butuh butuh diakui, butuh diakui,
butuh dilindungi sama orang pemerintah,
bahkan ee butuh penyampaian juga gitu.
[Musik]
Jadi menurut kamu tuh penting enggak sih
kalau misalnya warga Badui ini tuh ee
bisa untuk membaca atau mengetahui hal
sejenis pendidikan atau gimana?
Kalau menurut aku itu harus banget.
Karena kenapa? Karena kan e seringnya
waktu ke sini kan ee kayak orang luar
juga makin banyak ke sini. Kita kan juga
enggak tahu ke depannya kayak bakal
gimana. Jadi kita harus juga bisa bahasa
Indonesia bisa membaca. Karena kenapa
pentingnya bisa membaca? Karena kita
takutnya ee misalnya ada orang-orang
tamu yang datang ke sini kita enggak
tahu cara sopan santun kayak gitu. Tapi
kan ee ada peraturan badu yang
mengatakan kayak yang ada jangan
dikurang, yang kurang jangan ditambah
gitu kan. Nah, ee itu gimana kamu
menanggapinya? Sedangkan tadi kamu
setuju kalau misalnya membaca itu harus
kan kalau membaca berarti orang tuh
harus belajar yang entah itu secara sah
atau enggak berarti harus ada
pendidikan.
Ee kalau soal pendidikan juga orang sini
kan emang enggak boleh ya. Jadi mungkin
itu ee tergantung pola pikir kita juga.
Kalau misalnya kita pengin ngebaca atau
pengin ee apa namanya? ee bisa
menghargai percakapan orang lain. Kita
juga harus berjuang sendiri aja tanpa
melibatkan orang
[Musik]
lain. kamu ada kepikiran enggak ya kalau
misalnya ee apa ya tradisi yang ada di
sini mungkin terlalu mengikat kamu atau
ah ee terlalu monoton atau mungkin udah
kayaknya udah enggak sesuai zamannya
kita
deh gitu.
Kalau menurut aku, kalau mang kan enggak
ya adatnya cuman karena aku tinggalnya
di sini ya aku orang sini jadi untuk
adat-adat kayak gitu aku menghormati
banget. He. Jadi kalau misalnya ee ada
apapun yang mau ee ada job gitu dari
luar ngajakin aku, tapi kalau akunya ada
acara adat, aku bakalan nolak juga
karena aku sangat ee menghormati adat
aku juga gitu.
E dalam pandangan saya ee dalam
perspektif ee komunikasi antar budaya ee
sebaiknya ee tidak terlalu dipaksakan e
setiap ee masyarakat terutama masyarakat
adat untuk menggunakan ee media-media
digital ya. ee biarkan saja ee setiap ee
kelompok masyarakat mereka berkomunikasi
dengan cara mereka ya. Ee karena ee
setiap individu dan kelompok yang
terkait dengan sebuah cara pandang atau
suatu budaya tentu mereka punya
kebiasaan, punya hal-hal yang dianggap
ee lebih baik untuk mereka lakukan
ketika mereka menyampaikan atau menerima
pesan gitu ya.
Dalam penelusuran kami terlihat memang
sudah banyak yang mulai menerapkan
kehadiran teknologi. Mulai dari generasi
alpa sampai generasi milenial memiliki
ketertarikan yang cenderung terbuka.
Walaupun pada nyatanya juga bahwa orang
tua yang tidak terlalu mengerti tentang
penggunaan semacam smartphone dan
alat-alat elektronik lainnya menolak.
Bahkan dari mereka banyak yang menolak
untuk diwawancarai dan lebih tertutup
terhadap wisatawan yang
[Musik]
datang. Fenomena ini semakin kompleks
dengan adanya ekspektasi dari luar.
Wisatawan, pemerintah, dan masyarakat
umum seringki memiliki pandangan
tersendiri tentang bagaimana seharusnya
masyarakat Badui hidup dan berperilaku.
Pandangan yang tidak selalu sejalan
dengan keinginan masyarakat Badui
[Musik]
sendiri. Misalnya bisa jadi model, aku
maunya itu kayak ee ee ngenalin budaya
aku juga. kayak aku jadi model tapi ee
dengan hasil hasil karya aku loh kayak
kain kain tenun kayak gitu dijadiin baju
terus jadiin modelnya aku sendiri gitu.
[Musik]
Di tengah tarik menarik antara tradisi
dan modernitas, Badui luar terus
berevolusi. Apa yang kita saksikan
bukanlah sekedar konflik sederhana
antara yang lama dan yang baru,
melainkan negosiasi kompleks tentang
identitas, kelangsungan hidup, dan
otonomi budaya.
Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah
Badui Luar memilih modernisasi atau
tradisi karena faktanya mereka telah
memilih keduanya dalam proporsi yang
terus berubah. Yang lebih relevan adalah
sejauh mana mereka memiliki kendali atas
narasi tentang diri mereka sendiri.
Karena pada akhirnya budaya yang hidup
selalu berevolusi. Yang tersisa hanyalah
pertanyaan sampai di mana batas
perubahan sebelum sebuah identitas
kultural benar-benar
menghilang. Di balik jerat modernisasi,
mungkin itulah esensi perjuangan Badui
Luar saat ini. Menemukan cara untuk
tetap menjadi diri sendiri dalam dunia
yang tidak lagi sama.
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:22:00 UTC
Categories
Manage