Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Di tengah kesunyian pagi Badui, sebuah pemandangan muncul di hadapan kita. Kode QR pembayaran digital adalah simbol modernisasi yang tak terbendung. Siapa sangka di tanah yang dikenal dengan kearifan tradisionalnya, teknologi modern mulai merangkak masuk. Inilah paradoks yang kini dihadapi masyarakat Badoi. Sebuah pertarungan senyap antara warisan leluhur dan godaan modernisasi. [Musik] Di lereng Pegunungan Kendeng, Provinsi Banten terdapat sebuah komunitas yang selama berabad-abad hidup dengan prinsip kesederhanaan dan harmoni dengan alam. Sejak ratusan tahun, masyarakat Badui hidup dengan prinsip lojor temenang dipotong, pondok temenang disambung. Yang panjang tak boleh dipotong, yang pendek tak boleh disambung. Sebuah filosofi yang mengajarkan untuk menerima kehidupan apa adanya. Ekspedisi dokumenter ini menyingkap realitas terkini masyarakat Badui Luar. Dengan pendekatan langsung, kami menyoroti kehidupan sehari-hari masyarakat Badui khususnya Badui Luar terhadap perkembangan [Musik] zaman. Sistem tradisi sistem-sistem budaya itu sangat kental. Tapi kan itu secara dasar, tapi kan secara ee secara umum kemungkinan ada ada juga perubahan. Contoh gini ngantisipasinya masalnya kan sekarang banyak-banyak alat alat-alat teknologi yang masuk ke Badui itu emang sih ada-ada juga misalnya kok ee ada juga misalnya sulit juga untuk mengantisipasi biar anak-anak muda itu biar misalnya jiwa-jiwa penus itu ee gimana ngantisipasinya biar biar tahu budaya, tradisi, adat istiadat, biar kita misalnya ee mengacu sama luhur kita, biar kita menjaga marwah kita. Jangan kesentuh-sentuh, jangan keusik-usik gitu. Badui luar, wilayah penyangga yang menjadi gerbang utama bagi wisatawan dan pendatang. Di satu sisi masih terlihat rumah-rumah tradisional dengan atap ijuk dan dinding bambu. Di sisi lain, telepon genggam, transaksi digital, bahkan konten media sosial telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka. [Musik] Aku waktu pertama main TikTok itu tahun 2020. Heeh. Itu langsung booming atau ee ada satu konten yang kamu tuh langsung booming? Ee awalnya sih ada sering ada yang ke sini gitu, konten kreator terus e akunya mungkin di kena wawancara gitu seperti ini. Terus ee mungkin pas waktu itu pas diwawancarain aku mungkin lagi viral. Umang sekarang berapa? 17. 17. Kamu mulai fase bahasa Indonesia itu sejak berapa? Sejak tahun 2021. Oh iya, berarti 2019-2020 itu udah mulai ee enggak terlalu bisa? Belum terlalu bisa. Eh karena kan mulai banyaknya tamu ke sini ee kan sering ada yang mampir ke sini terus kalau lagi bikin kopi ngedengar orang pada ngomong gitu bahasa Indonesia. Jadi kalau di kok bisa gini jadi diikutin gitu kata-katanya diikutin terus tiba-tiba nyambung aja. Waktuku kecil aku enggak tahu yangi-lumi. Perkenalkan nama saya Ratna. Biasa dipanggil kalau di sini itu Ambonia. Tapi kalau orang luar Ambu Ratna. Kalau boleh tahu umur ambu berapa? Kalau umur sekitar 35-an. Udah berapa tahun sih, Teh? Kenal TikTok tuh? Kalau kenal TikTok itu udah lama, udah sekitar 4 tahun, 5 tahun cuma jarang digunakan gitu. Jarang. Inilah orangnya dulu mah kurang PD gitu. Kalau sekarang kan setiap pagi pasti gitu kan apa namanya kita walaupun enggak live gitu kan misalkan upload foto gitu tiktokan gitu. Dalam hasil wawancara, kedua contonent kreator yang memiliki umur yang sangat jauh berbeda mengungkapkan bahwa ketertarikan mereka akan media sosial dan membuat konten maupun menghasilkan uang sangat tinggi dan juga hal tersebut dapat meningkatkan pendapatan komunitas. [Musik] Selain Sarti dan Ratna, setidaknya terdapat 15 lebih konten kreator lain dari Badui Luar yang aktif di berbagai platform media sosial. Menurut data yang dihimpun, 68% dari konten yang mereka hasilkan berfokus pada aspek tradisional kehidupan Badui. Meski di balik layar kehidupan mereka sendiri telah sangat dipengaruhi oleh modernitas. Tidak hanya konten digital, ekonomi badui luar telah bertransformasi dari yang semula berbasis pertanian dan kerajinan tangan kini semakin berorientasi pada pariwisata dan perdagangan. Kenapa akhirnya Ibu memilih pakai kiris? Mungkin karena banyak yang apa atau gimana? Kalau untuk kiris ee karena kan ee kampung kita ini kan tempat wisata gitu ya. Eh, jadi ee kebanyakan si pengunjung itu enggak bawa uang cash gitu. Jadi kita mengadakan kuris biar mereka belanjanya lebih praktis bisa tinggal scan aja gitu. Tapi Ibu awalnya tahu dari siapa? Mungkin belajar dari siapa cara menggunakan kiris ini atau cara pembuatan kirisnya? Kalau untuk pembuatan kirisnya kita kan kebetulan lagi ada apa ya? lagi ada program dari BI. Jadi si orang BI-nya ke sini gitu. Jadi ee ngebantu gitu ngebantu masyarakat Badui untuk ee apa ya untuk membantu bikin quiris agar si pengunjung bisaembayarnya dengan praktis gitu tanpa ada uang cash gitu. Tapi sebenarnya Kiris ini bukan salah satu yang melanggar tradisi atau bagaimana? Enggak, enggak sama sekali tidak melanggar karena kan ini ee dikasarkannya kan ee apa ya mata pencarian kita untuk mempermudah ekonomi gitu. [Musik] Transformasi digital ini menimbulkan pertanyaan, apakah teknologi merupakan ancaman bagi kelestarian budaya Badui atau justru menjadi alat untuk mempertahankan relevansi mereka di era modern? nya mengenai bagaimana mereka ee bisa menerima adanya teknologi atau modernisasi ee di era digital saat ini. Ee tentu ee kita ee melihat konteks tadi ya. Ketika mereka terpisahkan antara badui dalam dan badui luar, maka badui luar punya kesempatan untuk menerima modernisasi atau menerima teknologi. Ee dan itu menurut saya tidak merusak tatanan budaya Badui secara umum karena memang mereka sudah menerima ee konsekuensi tersebut ketika mereka memisahkan diri dari masyarakat Badui Dalam. Nah, apakah itu kemudian merusak nilai-nilai budaya mereka? ee tentu saja ee mereka yang sudah menerima ee perubahan ee nilai-nilai atau kepercayaan ee Badwi secara leluhur ya ee dari satu generasi ke generasi mereka tidak lagi harus terikat dengan nilai-nilai tersebut. Nah, mereka bisa beradaptasi dan kemudian ee mengikuti ee perubahan lingkungan yang mereka hadapi sehari-hari saat [Musik] itu. Ee, nah, gimana ee HP itu tadi mempengaruhi kamu? Apa dampak yang kamu rasain? banyak banget dampaknya kayak yang aku enggak tahu jadi tahu. Terus kan kalau di TikTok itu kan ee kalau sebelum punya HP ya aku enggak tahu apa-apa sama sekali. Tapi setelah ee punya HP banyak banget hal yang aku tahu. Kalau kita kan semakin ee apa ya menggunakan TikTok itu kan kalau ke sini gitu ya. Kalau kita benar-benar itu kan lumayan juga ada pemasukan juga gitu. Ee jadi dampak penggunaan tiris ini di usaha Ibu berpengaruh seperti apa? Kalau di kalau saya pribadi sih pengaruhnya sangat bagus gitu. Soalnya kalau misalnya ada kan ee si pengunjung gitu misalnya dia pengin belanja-belanja tapi dia enggak bawa uang cash gitu terus ada deh kiris gitu. Jadi, jadi belanja gitu. Yang tadinya enggak mau belanja jadi mau belanja gitu. Pariwisata telah menjadi pedang bermata dua bagi masyarakat Badui Luar. Di satu sisi membuka peluang ekonomi baru. Namun di sisi lain banyak hal-hal dari luar yang semakin masuk ke badui luar. [Musik] yang kalian ekspektasiin sama setelah kalian datang itu sama atau beda? Kayaknya lebih lebih bagus. Lebih bagus atau mungkin karena ee belum terlalu menjajaki banget ya. Ben pertama kali juga ma tadi lihat ada yang pegang handphone juga sih ya. Udah lumayan. Heeh. Udah lumayan. Nah, ee kalau dari kalian pandangan yang kayak gitu tuh gimana sih? Sebagai kalian yang emang udah tinggal di kota biasanya dan kalian masih berekspektasi badu itu masih dengan kekentalan adab misal. Mm. Kalau aku pribadi ya itu suatu kemajuan sih berarti artinya gitu loh. Walaupun belum seberapa gitu, tapi untuk mempertahankan adat mereka di sini gitu udah bagus banget gitu. Mereka tetap ngejaga itu walaupun ada apa ya pengaruh dari luar masuk gitu, tapi mereka tetap tetap menjaga Heeh. ngejaga adatnya gitu. Ngejaga apa yang udah dulu ditanamin di sini gitu. Apakah enggak apa-apa kalau misalnya buat di luar itu dari modernisasi, tapi jangan 100% sih ya. Harus tetap mempertahankan yang udah dulu ditanamin sama buyutnya sesepuhnya. Ya, ternyata kalau kita mau jujur ya ee Badui Luar itu sebenarnya salah satu ee tujuan wisata atau target ee wilayah apa destinasi pariwisata di wilayah ee Banten ya yang cukup tinggi peminatnya ya. Jadi itu ironi kan ee di satu sisi masyarakat Badui punya nilai-nilai yang enggak mau mereka perlihatkan kepada dunia luar, tetapi justru nilai-nilai itu menjadi ee sebuah jualan ya kepada masyarakat yang ingin tahu seperti apa sih orang Badui gitu ya. Nah, jadi ee prinsipnya menurut saya ee sepanjang ee masyarakat Badui luar bisa menahan ee arus ee keingintahuan budaya dari wisatawan ya sampai pada level badui luar saja sampai tidak harus ke badui dalam itu fine, it's OK gitu ya. Ee jadi yang harus tetap dijaga untuk mempertahankan nilai, identitas dan cara-cara ee hidup mereka sesuai dengan apa yang mereka yakini itu tetap ada pada wilayah masyarakat Madui Dalam. Di balik narasi tentang perubahan dan modernisasi, bagaimana sesungguhnya pandangan masyarakat Badui Luar sendiri? Apakah mereka melihat modernisasi sebagai ancaman atau justru sebagai kesempatan? Mengenai alat teknologi itu contoh mengenai sejenis HP itu kan ee untuk kebijakannya untuk ee untuk komunikasi sama luar Badui. Masalnya kan Badui Badui dalam itu bahkan kepala ee kepala suku itu sama jarot tangtunya sama sistem lembaga yang lainnya. termasuk B luar juga itu kan ee butuh butuh diakui, butuh diakui, butuh dilindungi sama orang pemerintah, bahkan ee butuh penyampaian juga gitu. [Musik] Jadi menurut kamu tuh penting enggak sih kalau misalnya warga Badui ini tuh ee bisa untuk membaca atau mengetahui hal sejenis pendidikan atau gimana? Kalau menurut aku itu harus banget. Karena kenapa? Karena kan e seringnya waktu ke sini kan ee kayak orang luar juga makin banyak ke sini. Kita kan juga enggak tahu ke depannya kayak bakal gimana. Jadi kita harus juga bisa bahasa Indonesia bisa membaca. Karena kenapa pentingnya bisa membaca? Karena kita takutnya ee misalnya ada orang-orang tamu yang datang ke sini kita enggak tahu cara sopan santun kayak gitu. Tapi kan ee ada peraturan badu yang mengatakan kayak yang ada jangan dikurang, yang kurang jangan ditambah gitu kan. Nah, ee itu gimana kamu menanggapinya? Sedangkan tadi kamu setuju kalau misalnya membaca itu harus kan kalau membaca berarti orang tuh harus belajar yang entah itu secara sah atau enggak berarti harus ada pendidikan. Ee kalau soal pendidikan juga orang sini kan emang enggak boleh ya. Jadi mungkin itu ee tergantung pola pikir kita juga. Kalau misalnya kita pengin ngebaca atau pengin ee apa namanya? ee bisa menghargai percakapan orang lain. Kita juga harus berjuang sendiri aja tanpa melibatkan orang [Musik] lain. kamu ada kepikiran enggak ya kalau misalnya ee apa ya tradisi yang ada di sini mungkin terlalu mengikat kamu atau ah ee terlalu monoton atau mungkin udah kayaknya udah enggak sesuai zamannya kita deh gitu. Kalau menurut aku, kalau mang kan enggak ya adatnya cuman karena aku tinggalnya di sini ya aku orang sini jadi untuk adat-adat kayak gitu aku menghormati banget. He. Jadi kalau misalnya ee ada apapun yang mau ee ada job gitu dari luar ngajakin aku, tapi kalau akunya ada acara adat, aku bakalan nolak juga karena aku sangat ee menghormati adat aku juga gitu. E dalam pandangan saya ee dalam perspektif ee komunikasi antar budaya ee sebaiknya ee tidak terlalu dipaksakan e setiap ee masyarakat terutama masyarakat adat untuk menggunakan ee media-media digital ya. ee biarkan saja ee setiap ee kelompok masyarakat mereka berkomunikasi dengan cara mereka ya. Ee karena ee setiap individu dan kelompok yang terkait dengan sebuah cara pandang atau suatu budaya tentu mereka punya kebiasaan, punya hal-hal yang dianggap ee lebih baik untuk mereka lakukan ketika mereka menyampaikan atau menerima pesan gitu ya. Dalam penelusuran kami terlihat memang sudah banyak yang mulai menerapkan kehadiran teknologi. Mulai dari generasi alpa sampai generasi milenial memiliki ketertarikan yang cenderung terbuka. Walaupun pada nyatanya juga bahwa orang tua yang tidak terlalu mengerti tentang penggunaan semacam smartphone dan alat-alat elektronik lainnya menolak. Bahkan dari mereka banyak yang menolak untuk diwawancarai dan lebih tertutup terhadap wisatawan yang [Musik] datang. Fenomena ini semakin kompleks dengan adanya ekspektasi dari luar. Wisatawan, pemerintah, dan masyarakat umum seringki memiliki pandangan tersendiri tentang bagaimana seharusnya masyarakat Badui hidup dan berperilaku. Pandangan yang tidak selalu sejalan dengan keinginan masyarakat Badui [Musik] sendiri. Misalnya bisa jadi model, aku maunya itu kayak ee ee ngenalin budaya aku juga. kayak aku jadi model tapi ee dengan hasil hasil karya aku loh kayak kain kain tenun kayak gitu dijadiin baju terus jadiin modelnya aku sendiri gitu. [Musik] Di tengah tarik menarik antara tradisi dan modernitas, Badui luar terus berevolusi. Apa yang kita saksikan bukanlah sekedar konflik sederhana antara yang lama dan yang baru, melainkan negosiasi kompleks tentang identitas, kelangsungan hidup, dan otonomi budaya. Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah Badui Luar memilih modernisasi atau tradisi karena faktanya mereka telah memilih keduanya dalam proporsi yang terus berubah. Yang lebih relevan adalah sejauh mana mereka memiliki kendali atas narasi tentang diri mereka sendiri. Karena pada akhirnya budaya yang hidup selalu berevolusi. Yang tersisa hanyalah pertanyaan sampai di mana batas perubahan sebelum sebuah identitas kultural benar-benar menghilang. Di balik jerat modernisasi, mungkin itulah esensi perjuangan Badui Luar saat ini. Menemukan cara untuk tetap menjadi diri sendiri dalam dunia yang tidak lagi sama. [Musik]
Resume
Categories