Kenapa Mengirim Anak Nakal ke Pelatihan Militer Bukan Solusi? | Banyak Alasan – Ep. Anak & Kekuasaan
UgBgmmS2w3Q • 2025-05-09
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Kebijakan mengirimkan anak yang dianggap nakal ke barak militer belakangan banyak terjadi. Ketika anak dianggap nakal, bengal, atau menyimpang, beberapa kepala daerah di Indonesia memilih mengirim mereka ke pelatihan ala prajurit militer. Langkah ini diklaim sebagai pembinaan karakter. Apakah ini benar-benar mengatasi masalah atau salah satu bentuk gagal pahamnya para pejabat? Oke, saya akan kasih empat alasan mengapa program mengirim anak ke pelatihan militer perlu ditolak. Alasan yang pertama ini bertentangan dengan prinsip pendidikan dan perkembangan anak. Pendidikan adalah proses membentuk manusia seutuhnya, bukan sekadar mencetak individu yang patuh. Itu prinsip yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. Prinsipnya, anak-anak harus dididik dalam suasana merdeka agar jiwanya tumbuh dengan wajar. Selengkapnya bisa kamu baca di buku ini, Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, dan Sikap Merdeka. Pelatihan militer yang kaku dan penuh tekanan jelas bertolak belakang dengan konsep pendidikan yang memerdekakan. Ki Hajar juga mengingatkan bahwa pendidik harus menuntun hidup tumbuhnya anak-anak, bukan menaklukkan mereka dengan cara-cara keras. Anak bukan objek indoktrinasi, apalagi objek hukuman. Jadi ketika anak diserahkan ke sistem pelatihan militer, sesungguhnya kita sedang menjauh dari akar nilai pendidikan nasional. Alasan yang kedua, mengabaikan akar masalah sosial. Ketika seorang anak dianggap nakal atau menyimpang, yang tidak kita tanyakan adalah lingkungan seperti apa yang membentuk mereka. Dalam teori social learning, Albert Bandura menyebut bahwa anak-anak dapat belajar melalui pengamatan dan peniruan terhadap orang lain, termasuk dari orang tua atau orang dewasa di sekitar mereka. Artinya ketika anak-anak melihat pejabat korup, politisi yang memanipulasi hukum atau aparat yang menyalahgunakan wewenang, mereka belajar bahwa melanggar aturan adalah hal biasa selama punya puasa. Wah, kaget kaget. Jadi, jika perilaku anak terlihat menyimpang, kita seharusnya melihat gambaran yang lebih besar lalu mengoreksi apa yang sedang terjadi. Bukan justru menghukum anak. tanpa melihat persoalan besar di belakangnya. Pelatihan alam militer mungkin bisa membuat anak terpaksa patuh untuk sesaat. Tapi bagaimana dengan akar masalahnya? Alasan yang ketiga, melanggar konvensi internasional. Kalau pakai ungkapan generasi sekarang nih, anak-anak yang dikirim ke pelatihan militer pasti kena mental. Dalam konvensi hak-hak anak pasal 19, intinya bilang, "Setiap anak berhak mendapat perlindungan dari segala bentuk kekerasan fisik atau mental oleh siapapun termasuk negara. Jadi jelas enggak boleh yang namanya pendidikan itu bikin anak kena mental." Pelatihan militer seringki melibatkan kekerasan verbal, hukuman fisik, atau tekanan psikologis yang tentu saja bertentangan dengan konvensi hak-hak anak. Alasan yang terakhir, alasan keempat. TNI bukan lembaga pendidikan sipil. TNI adalah alat pertahanan negara. itu tertulis jelas dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI. Tugas pokoknya ada tiga, menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah, dan melindungi segenap bangsa dari berbagai ancaman. Tidak ada satu pasal pun dalam undang-undang itu memberikan mandat kepada TNI untuk melakukan pendidikan atau pembinaan kepada warga sipil, apalagi anak-anak. Mengirim anak-anak ke pelatihan militer berarti menugaskan institusi yang tidak memiliki kapasitas pedagogis dan bahkan menyimpan rekam jejak kekerasan. TNI tidak luput dari sorotan publik dalam keterlibatannya di berbagai kasus kekerasan atau kasus-kasus pelanggaran HAM berat. Pertanyaannya, apakah lembaga dengan catatan kekerasan seperti ini tepat dijadikan sebagai tempat pembinaan anak-anak yang sedang bermasalah? Oke, empat alasan dari saya tadi tentu bukan kesimpulan, melainkan ajakan untuk berpikir lebih dalam. Kamu punya alasan yang lain? Tulis di kolom komentar, ya.
Resume
Categories