4 Alasan Kritik Kemitraan Ojol: Siapa Sebenarnya Diuntungkan?
iEIp6fV7a44 • 2025-05-22
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] Dalam satu dekade terakhir kita menyaksikan lahirnya apa yang disebut sebagai ekonomi geeks. Sebuah bentuk ekonomi baru yang mengandalkan teknologi digital untuk menghubungkan penyedia jasa dan konsumen secara instan. Aplikasi ojek online menjadi wajah paling nyata dari transformasi ini. Cepat, praktis, dan efisien. Begitulah ekonomi geigs dijual kepada publik. Namun di balik layar ada masalah besar yang terjadi. Model kerja berbasis aplikasi ini membungkus dirinya dalam istilah yang tampak ideal. Kemitraan. Pengemudi disebut sebagai mitra, bukan pekerja atau karyawan. Relasi ini diklaim setara dan menguntungkan. Tapi bagaimana kenyataan di lapangan? Inilah empat alasan yang menunjukkan bahwa konsep kemitraan perlu kita kritisi. Alasan yang pertama, praktik tidak setara dalam kemitraan. Perusahaan menyebut mereka mitra, tapi dalam praktiknya para pengemudi tak punya suara dalam menentukan tarif, insentif, atau aturan kerja lainnya. Mereka bukan karyawan, tapi juga tidak bisa dianggap sebagai rekan bisnis. Status mitra membuat mereka tak punya jaminan sosial, tak punya upah minimum, dan bahkan tanpa perlindungan saat mereka sakit. Alasan yang kedua, pendapatan tidak layak dan tarif yang rendah. Setiap hari para mitra harus mengejar target, tapi tarif dasar bisa turun sewaktu-waktu dan tanpa transparansi. Untuk bisa mencukupi kebutuhan, banyak yang harus kerja 12 bahkan 14 jam sehari. Penghasilan yang didapat seringki habis untuk biaya bensin, servis, atau cicilan motor. Alasan ketiga, ketergantungan pada algoritma. Siapa yang dapat, siapa yang tidak, semua ditentukan oleh algoritma. Sistem ini banyak dikeluhkan karena tidak transparan dan tidak bisa diprotes. Seringkiali akun driver tiba-tiba order tanpa alasan. Mereka menyebutnya akun gagu. Alasan yang keempat, suspen dan pemutusan hubungan kerja secara sepihak. Dalam sistem kerja yang formal, pemutusan hubungan kerja harus melalui proses hukum. Tapi di dunia ojek online, satu notifikasi saja bisa memutus hubungan kerja dan membuat driver kehilangan penghasilan. Suspen, band, atau nonaktif bisa terjadi sewaktu-waktu. Driver tak punya kesempatan melawan dan tentu saja tak ada kompensasi. Buka buka pintunya, buka pintunya sekarang juga. Bismillahirrahmanirrahim. Masalah-masalah yang saya sebut tadi bukan muncul gitu saja. Masalah lahir akibat ketiadaan perlindungan dari pemerintah. Hingga hari ini, negara belum berhasil menciptakan aturan yang adil bagi jutaan pekerja ojek online. Pemerintah seolah membiarkan perusahaan aplikasi menentukan sendiri standar kerja, tarif, dan berbagai aturan lainnya sesuai kepentingan perusahaan. Itu tadi empat alasan dari saya. Kamu punya alasan lain untuk mengkritisi konsep kemitraan ini? Silakan tulis di kolom komentar, ya. [Musik] Yeah.
Resume
Categories