Siapa yang Diuntungkan dari Penulisan Ulang Sejarah? | BANYAK ALASAN
wDvgF7WxsdA • 2025-07-14
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Penulisan sejarah bukan sekadar menyusun
kronologi masa lalu, tetapi juga proses
penafsiran yang syarat perspektif dan
kepentingan. Ketika negara secara
sepihak membuat proyek penulisan ulang
sejarah dan menetapkannya sebagai
sejarah resmi, maka publik perlu
bersikap kritis dan waspada. Berikut
adalah alasan mengapa proyek ini patut
kita kritisi.
Alasan pertama, mengabaikan keragaman
perspektif.
Sejarah adalah ruang tafsir yang
terbuka.
Setiap peristiwa dapat dimaknai dari
berbagai sudut pandang tergantung pada
siapa yang mengalami, menulis, dan
membacanya.
Ketika negara melabeli satu versi
sejarah sebagai resmi, maka versi
lainnya secara otomatis dianggap tidak
sah. Ini menciptakan dominasi tafsir
tunggal yang menindas keragaman
pemahaman sejarah. Model seperti ini
mengingatkan kita pada praktik era Orde
Baru di mana sejarah ditulis secara
selektif untuk menopang legitimasi
kekuasaan.
Hanya versi yang menguntungkan penguasa
yang diakui dan diajarkan secara luas.
Sementara narasi lain yang dianggap
mengganggu akan dikubur atau
dihilangkan.
Bagaimana pendapat Pak Harto?
Saya percaya dan yakin Tuhan selalu
bersama kita.
Akibatnya selama puluhan tahun banyak
orang hanya mengenal sejarah dari sudut
pandang penguasa, bukan dari keragaman
pengalaman. rakyat. Mengulang pola ini
berarti menghidupkan kembali warisan
otoriter dalam pengelolaan ingatan
kolektif bangsa. Alasan kedua,
berpotensi menjadi alat kekuasaan yang
otoriter.
Dalam banyak contoh, rezim otoriter
kerap menggunakan sejarah sebagai alat
pembenaran kekuasaan.
Pemerintah Nazi Jerman misalnya, sejarah
ditulis ulang untuk membangun mitos ras
Arya sebagai ras paling unggul, lalu
menjustifikasi kebijakan diskriminatif
hingga praktik genosida.
Di Uni Soviet era Stalin, sejarah
dimanipulasi menghapus tokoh-tokoh yang
dianggap berseberangan dan hanya
menonjolkan narasi kejayaan Partai
Komunis.
Dalam banyak kasus, sejarah dijadikan
alat indoktrinasi dan pembentukan
loyalitas semu terhadap negara dan bukan
sebagai ruang refleksi yang jujur
terhadap masa lalu. Jika sejarah disusun
untuk melayani kekuasaan, maka yang
dihasilkan bukan pengetahuan yang
memerdekakan, melainkan propaganda yang
membungkang. Itulah bahaya besar ketika
negara mengambil alih penulisan sejarah
secara sepihak dan menegaskan satu versi
resmi. Ia membuka jalan menuju pola
pikir otoriter yang mengancam demokrasi
dan kebebasan berpikir. Alasan yang
ketiga, membahayakan upaya pengungkapan
kebenaran.
Ketika sejarah kelam seperti pelanggaran
hak asasi manusia dihilangkan dari
narasi resmi, maka yang terjadi adalah
pemutihan sejarah.
Penghapusan peristiwa kelam atau tragedi
demi ton yang dianggap positif hanya
akan melukai korban dan keluarga mereka
sekaligus menggagalkan proses keadilan
dan rekonsiliasi.
Dan ton yang akan kita harapkan juga
tonnya lebih netral dan lebih positif.
Polemik mencuat ketika Menteri
Kebudayaan menyebut bahwa perkosaan
massal dalam kerusuhan Mei 1998
hanyalah rumor.
Pernyataan tersebut bukan hanya
meremehkan bukti-bukti yang telah
dikumpulkan oleh lembaga resmi dan tim
pencari fakta independen, tetapi juga
menunjukkan kecenderungan untuk
menyingkirkan bagian kelam sejarah dari
ingatan kolektif. Ini menandai
kecenderungan negara untuk mengontrol
memori kolektif dengan cara menyangkal
fakta-fakta yang tidak sesuai dengan
narasi yang ingin dibangun. Padahal
sejarah seharusnya menjadi ruang untuk
mengakui, memulihkan, dan belajar dari
luka masa lalu, bukannya menyapu dan
menyembunyikannya di bawah karpet.
Sekali lagi, sejarah bukan milik
segelintir elit, apalagi milik
kekuasaan.
Sejarah tidak boleh dimonopoli oleh satu
versi tunggal yang diresmikan negara. Ia
harus tetap terbuka, diperdebatkan, dan
ditulis dari berbagai sudut pandang.
Upaya menuliskan ulang sejarah dengan
versi resmi yang disahkan negara justru
berpotensi mengubur kebenaran,
memperkuat narasi manipulatif, dan
paling parah adalah mengulangi kesalahan
masa lalu. Itu tadi alasan dari saya
mengkritik penulisan ulang sejarah
nasional. Kamu pasti punya alasan
berbeda. Tulis di kolom komentar, ya.
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:21:35 UTC
Categories
Manage