BETWEEN THE WORDS
WLVtV1gaELY • 2025-09-19
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[Musik]
[Tertawa]
Ngopo to nadak sinau aksara jao?
Kemajuan zaman itu layaknya sebuah
pohon.
Pohon yang besar menghasilkan buah yang
manis.
Buah itu adalah peradaban baru.
[Musik]
Ini namanya
pohon gluga di Jawa. Kalau di
bahasa latinnya brosunesia papirivera
fan. Nah, Inggrisnya bisa disebut paper
mulberry. Jadi ini budaya kuno kawasan
Asia yang sudah ada bahkan ribuan tahun
sebelum Masehi. Nah, seperti pada aksara
yang sekarang menjadi digitalisasi
aksara di media handphone, media laptop
itu seperti buah yang manis rasanya.
Tapi kita tidak bisa melupakan pohon
raksasa itu. Kita tidak bisa melupakan
cabangnya, rantingnya, kemudian tubuh
sang pohon dan akhirnya pada akarnya
yang kuat. Ketika kertas-kertas industri
memakai satu kayunya ini yang dipakai
hanya kulitnya dan kulit yang ketiga
atau kambiumnya. Nah, akar dari
digitalisasi aksara itu adalah
ya ditemukan di dalam prasasti batu,
lontar, dan salah satunya kertas deluang
ini. Banyak naskah-naskah kuno,
kitab-kitab kuning Al-Qur'an yang dibuat
pada media kertas duuang. Tapi perlu
dimerti bahwa niatan kami untuk
melestarikan ini bukan semata-mata untuk
hal ekonomi ya, tapi untuk nguriri
kabudayaan. Nah, itu bukan kita mau
kembali ke masa lalu. Itu akan
memantapkan siapa jati diri kita saja.
Nah, setelah kita bungkus dengan daun
pisang, kita simpan di tempat yang
lembab dan tidak terkena sinar matahari.
Kita butuh untuk papan bidang yang datar
dan bersih. Nanti kita tempelkan.
Setelah itu kita angin-anginkan di bawah
sinar matahari kurang lebih selama 1
hari penuh. Jika kita melupakan sejarah
maka
akan tidak berimbang.
Jadi kita majukan digitalisasi kita juga
lestarikan yang masih tradisional. Itu
salah satu contoh, salah satu
cita-cita, visi misi untuk bagaimana
kita bangkitkan
aksara ini secara lengkap dan komplit.
dan asor
wij
aksara Jawa itu terutama di
generasi-generasi muda kita ya di
generasi kita itu sudah banyak yang
tidak tahu sudah banyak yang tidak tahu
aksara Jawa kadang malah ada yang cuma
ngerti urutannya
aksara ja ngerti
tapi disuruh nunjukkan yang mana ngerti
pokoke ng paling yang dihafal biasanya
dua ro sama
kenapa kok gampang dihafal karena mirip
guru wilanganipun namung wolu dos saben
sak gotra meniko wolu
lah guru lagunipun
u i a E a E u
I
nadyan asor wij u
yen kalakuane
i Ui
lagi sekarang kan eranya kan digital ya
pokok nek enggak bisa tak pakai di HP
enggak bisa dipakai di laptop yo le
sinau angel sekarang
belajarnya susah mau dikenalin kayak
gini ya baru belajar langsung disuruh
nulis gini ya enggak jadi sinau enggak
jadi belajar
di ini kan nulisnya lebih susah daripada
di kertas di kertas saja yang lebih
mudah lebih mudah
jarang yang mau tetapi kalau dikenalkan
di digital ya anak-anak sekarang itu ada
cerita di teman itu yang ngajar ketika
diajarin aksara Jawa manual ya
malas-malesan. Tetapi ketika diajarin
secara digital ragelem leren. Jadi
ketika jamnya harusnya sudah jam selesai
tapi siswanya malah
asik gitu ya.
Asik ee masih bermain aksara Jawa di
digital gitu.
Sewu kalian dituntun
yen wis tunggal kalih tig
yen wisita
dadung.
Makanya yang di komunitas kita ya, kita
itu ee berusaha agar aksara Jawa ini
kembali ke fungsi aslinya. Fungsi aksara
aslinya kenapa? Untuk menulis ya.
Iya, untuk menulis.
Jadi aksara itu ya untuk menulis bukan
untuk dipelajari, diujikan.
Aksara Jawa sekarang kan statusnya gitu
kalau di pendidikan ya. Aksara Jawa itu
dipelajari untuk diujikan. Tujuan siswa
belajar aksara Jawa agar nilainya tidak
jelek. Iya.
[Tepuk tangan]
[Musik]
on ilahingahing
awit namastu purnama sidem
kang minyal
[Musik]
Gemah loh cinawi.
Jika kita berbicara wayang beber
tentunya kita tidak bisa lepas daripada
aksara-aksara yang juga ada pada
zamannya. Karena wayang beber
menurut kami wayang beber sudut pandang
kami itu sezaman ee tergantung medianya.
Wayang beber ee awal itu kan ee hemat
kami itu wayang beber yang masih
menggunakan media batu di mana itu ter
gambar atau dibuat pada candi-candi
tentunya di masa lalu yaitu berupa
relief. Nah, relief ini akan dikuatkan
dengan data-data aksara tersebut, yaitu
prasasti atau inskripsi yang kadang kala
juga ditemukan ee di pada area candi
tersebut. Jadi, dengan ditemukannya
aksara prasasti itu kan kita jadi tahu
relief ini ceritanya apa, yang membuat
dulu masa siapa, kerajaan apa, itu
data-data aksara itu penting sekali.
Kalau zaman dulu itu untuk membuat
prasasti ya, untuk membuat prasasti itu
awalnya tuh bisa di batu ya zaman
dulunya di batu terus ee setelah itu
diilogam terus diilontar dan buku. Nah,
zaman sekarang itu kalau tidak tertulis
di perangkat digital, kalau tidak muncul
di situ itu enggak diakui.
Maka dari itu ee kita ee nyengkuyung
bareng-bareng. Nah, untuk
mendigitalisasikan
aksara Jawa ini adal agar lebih enak
untuk dipelajari ee bisa ditulis
digunakan di perangkat digital manaun
itu.
Wah, ini sing perlu teknik tadi.
Nah, ditempel aja ya. Tempel dulu. Oke,
S du
Putri Wings
di satu sisi saya bangga bisa beraksara
Jawa.
Di sisi lain saya agak sedih karena
jarang yang menggunakannya ya. Jadi
sebagai pengguna saya bangga bahwa suku
Jawa itu mempunyai aksara sendiri.
Tetapi yang membikin sedih adalah
orang Jawa itu kalau di persentase yang
buta aksara, buta aksara Jawa itu lebih
banyak daripada yang bisa aksara Jawa.
[Musik]
Sudah bisa aksara Jawa meh ngopo?
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:22:03 UTC
Categories
Manage