Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] [Tertawa] Ngopo to nadak sinau aksara jao? Kemajuan zaman itu layaknya sebuah pohon. Pohon yang besar menghasilkan buah yang manis. Buah itu adalah peradaban baru. [Musik] Ini namanya pohon gluga di Jawa. Kalau di bahasa latinnya brosunesia papirivera fan. Nah, Inggrisnya bisa disebut paper mulberry. Jadi ini budaya kuno kawasan Asia yang sudah ada bahkan ribuan tahun sebelum Masehi. Nah, seperti pada aksara yang sekarang menjadi digitalisasi aksara di media handphone, media laptop itu seperti buah yang manis rasanya. Tapi kita tidak bisa melupakan pohon raksasa itu. Kita tidak bisa melupakan cabangnya, rantingnya, kemudian tubuh sang pohon dan akhirnya pada akarnya yang kuat. Ketika kertas-kertas industri memakai satu kayunya ini yang dipakai hanya kulitnya dan kulit yang ketiga atau kambiumnya. Nah, akar dari digitalisasi aksara itu adalah ya ditemukan di dalam prasasti batu, lontar, dan salah satunya kertas deluang ini. Banyak naskah-naskah kuno, kitab-kitab kuning Al-Qur'an yang dibuat pada media kertas duuang. Tapi perlu dimerti bahwa niatan kami untuk melestarikan ini bukan semata-mata untuk hal ekonomi ya, tapi untuk nguriri kabudayaan. Nah, itu bukan kita mau kembali ke masa lalu. Itu akan memantapkan siapa jati diri kita saja. Nah, setelah kita bungkus dengan daun pisang, kita simpan di tempat yang lembab dan tidak terkena sinar matahari. Kita butuh untuk papan bidang yang datar dan bersih. Nanti kita tempelkan. Setelah itu kita angin-anginkan di bawah sinar matahari kurang lebih selama 1 hari penuh. Jika kita melupakan sejarah maka akan tidak berimbang. Jadi kita majukan digitalisasi kita juga lestarikan yang masih tradisional. Itu salah satu contoh, salah satu cita-cita, visi misi untuk bagaimana kita bangkitkan aksara ini secara lengkap dan komplit. dan asor wij aksara Jawa itu terutama di generasi-generasi muda kita ya di generasi kita itu sudah banyak yang tidak tahu sudah banyak yang tidak tahu aksara Jawa kadang malah ada yang cuma ngerti urutannya aksara ja ngerti tapi disuruh nunjukkan yang mana ngerti pokoke ng paling yang dihafal biasanya dua ro sama kenapa kok gampang dihafal karena mirip guru wilanganipun namung wolu dos saben sak gotra meniko wolu lah guru lagunipun u i a E a E u I nadyan asor wij u yen kalakuane i Ui lagi sekarang kan eranya kan digital ya pokok nek enggak bisa tak pakai di HP enggak bisa dipakai di laptop yo le sinau angel sekarang belajarnya susah mau dikenalin kayak gini ya baru belajar langsung disuruh nulis gini ya enggak jadi sinau enggak jadi belajar di ini kan nulisnya lebih susah daripada di kertas di kertas saja yang lebih mudah lebih mudah jarang yang mau tetapi kalau dikenalkan di digital ya anak-anak sekarang itu ada cerita di teman itu yang ngajar ketika diajarin aksara Jawa manual ya malas-malesan. Tetapi ketika diajarin secara digital ragelem leren. Jadi ketika jamnya harusnya sudah jam selesai tapi siswanya malah asik gitu ya. Asik ee masih bermain aksara Jawa di digital gitu. Sewu kalian dituntun yen wis tunggal kalih tig yen wisita dadung. Makanya yang di komunitas kita ya, kita itu ee berusaha agar aksara Jawa ini kembali ke fungsi aslinya. Fungsi aksara aslinya kenapa? Untuk menulis ya. Iya, untuk menulis. Jadi aksara itu ya untuk menulis bukan untuk dipelajari, diujikan. Aksara Jawa sekarang kan statusnya gitu kalau di pendidikan ya. Aksara Jawa itu dipelajari untuk diujikan. Tujuan siswa belajar aksara Jawa agar nilainya tidak jelek. Iya. [Tepuk tangan] [Musik] on ilahingahing awit namastu purnama sidem kang minyal [Musik] Gemah loh cinawi. Jika kita berbicara wayang beber tentunya kita tidak bisa lepas daripada aksara-aksara yang juga ada pada zamannya. Karena wayang beber menurut kami wayang beber sudut pandang kami itu sezaman ee tergantung medianya. Wayang beber ee awal itu kan ee hemat kami itu wayang beber yang masih menggunakan media batu di mana itu ter gambar atau dibuat pada candi-candi tentunya di masa lalu yaitu berupa relief. Nah, relief ini akan dikuatkan dengan data-data aksara tersebut, yaitu prasasti atau inskripsi yang kadang kala juga ditemukan ee di pada area candi tersebut. Jadi, dengan ditemukannya aksara prasasti itu kan kita jadi tahu relief ini ceritanya apa, yang membuat dulu masa siapa, kerajaan apa, itu data-data aksara itu penting sekali. Kalau zaman dulu itu untuk membuat prasasti ya, untuk membuat prasasti itu awalnya tuh bisa di batu ya zaman dulunya di batu terus ee setelah itu diilogam terus diilontar dan buku. Nah, zaman sekarang itu kalau tidak tertulis di perangkat digital, kalau tidak muncul di situ itu enggak diakui. Maka dari itu ee kita ee nyengkuyung bareng-bareng. Nah, untuk mendigitalisasikan aksara Jawa ini adal agar lebih enak untuk dipelajari ee bisa ditulis digunakan di perangkat digital manaun itu. Wah, ini sing perlu teknik tadi. Nah, ditempel aja ya. Tempel dulu. Oke, S du Putri Wings di satu sisi saya bangga bisa beraksara Jawa. Di sisi lain saya agak sedih karena jarang yang menggunakannya ya. Jadi sebagai pengguna saya bangga bahwa suku Jawa itu mempunyai aksara sendiri. Tetapi yang membikin sedih adalah orang Jawa itu kalau di persentase yang buta aksara, buta aksara Jawa itu lebih banyak daripada yang bisa aksara Jawa. [Musik] Sudah bisa aksara Jawa meh ngopo? [Musik]
Resume
Categories