File TXT tidak ditemukan.
File TXT tidak ditemukan.
The Timeless Frame - Eksistensi Kamera Analog di Era Digital
I1CTzwFOGHQ • 2026-01-02
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Kala itu [musik]
dia datang membawa sebuah kadus kecil.
Di dalamnya ada harapan untuk menyimpan
waktu yang tak [musik] bisa kita ulang.
Dan untuk pertama kalinya
aku melihat dunia melalui lensa itu.
Kita bersua foto dan tertawa bersama.
[musik]
Lalu momen bahagia itu aku bingkai,
[musik]
kusandingkan dengan kamera itu.
Beberapa tahun kemudian, aku menyerahkan
kamera itu pada tangan yang tahu cara
menghargainya.
Rasanya seperti melepaskan sebagian dari
kenangan kita.
Namun
aku yakin bahwa yang paling berharga
akan selalu ada di sini.
Ini bukan hanya tentang kisahku,
tetapi juga kisah mereka yang terus
merawat dan mengajarkan kamera analog di
tengah pesatnya perkembangan teknologi
kamera digital saat ini. H
Tatkala deretan kios modern yang silih
berganti
di toko kecil inilah tetap bertahan.
Sudah lebih dari satu dekade dia merawat
dan menjual kamera analog Agung Widodo
yang mendedikasikan separuh hidupnya
untuk kamera analog. Meskipun dunia kini
serba digital, dia percaya
ada nilai yang tak tergantikan
dalam setiap prosesnya.
[musik]
Semua kamera itu menurut saya menarik
analog maupun digital. Karena kan beda
cara penyimpanan, pemrosesan, tapi
intine itu seni ya. Fotograf itu adalah
seni. Jadi hanya perkembangan teknologi
kita lebih dimanjakkan [musik]
oleh teknologi lebih ee kalau salah
ngambil [musik] gambar bisa dihapus.
Kalau kamera analog ndak saya
apa mengapresiasi anak-anak muda
generasi sekarang masih suka [musik]
dengan analog. Karena bagi saya ee
kamera analog itu fotografi yang
sesungguhnya.
Sejak tahun 2009,
Agung Widodo telah menembuh perjalanan
sejauh 35 km setiap harinya.
Menuju Pasar Kelidan Pakuncen,
Yogyakarta.
Langkah ini menjadi simbol dedikasinya
terhadap kamera analog.
Ee saya waktu boming boming itu 2010
sampai
itu permintaan makin lama makin naik.
Karena kan faktor ada [musik] media
sosial itu ya kayak
teman-teman yang gunakan [musik]
diposting terus beli kamera analog
diposting di Instagram.
Teman-teman dapat kamera point and shoot
itu jadikan [musik]
teman-temannya ingin terus akhirnya
kayak ngeracuni [musik] gitu. Jadi itu
antara tahun
2010 sampai 2018 itu puncak-puncaknya.
[musik]
Ee sumber-sumber saya mendapatkan kamera
ini pertama saya hunting. [musik]
Biasanya saya hunting wilayah kerja saya
[musik] yaitu Semarang,
Pungaran,
Ambarawa,
Magelang. [musik]
Untuk wilayah ke barat saya kalau
hunting itu ke Purworejo,
Kebumen, Temanggung,
Wonosobo, dan Kota Jogja sendiri.
Namun
perkembangan zaman membawa kabar yang
kurang nyaman. Rolle film yang menjadi
[musik] bagian penting dari fotografi
analog kini menjadi barang yang tidak
murah. Harganya semenjak [musik] pandemi
Covid-19 terus meningkat.
Harga rol film itu [musik]
sangat berpengaruh terhadap pertama
penjualan. [musik]
Jujur selama harga rol film itu naiknya
[musik] sudah ini hampir tiga kali ya.
Jadi dulu Rp40.000 sekarang [musik]
160 artinya sudah 300%
itu penjualan kamera [musik] saya
menurun. Terus anak-anak yang sudah
punya kamera akhirnya [musik] biasanya
mereka itu dalam 1 bulan minimal
menggunakan atau [musik] beli satu rol.
Mereka kadang 3 bulan sekali satu rol
[musik] gitu.
Jadi amat sangat berpengaruh kenaikan
harga itu. Jadi perputaran
apa ee [musik] saya itu ya misalnya cash
flow untuk penjualan itu merosot sampai
50%
penjualan [musik]
karena harga film lain.
[musik]
Photography company Eastman Kodak has
filed [musik] for bankruptcy protection
with film sales evaporating in the
digital age [musik] and Kodak has failed
to develop another business as
profitable.
[musik]
kenaikan harga R film yang semakin masif
serta produsen kamera digital yang
berlomba-lomba untuk meningkatkan
kualitas fitur Dari tahun ke tahun,
kamera analog kembali menemukan
eksistensinya di kalangan anak muda.
Adi Alvian sebagai penghobi juga begiat
sebuah komunitas fotografi analog
di Yogyakarta.
Mbah kulo foto nggih kulo cekin
nggih kebun fokus ngoten niku. Kalau
ditanya proses sama hasil, justru
kayaknya belum ada deh yang bisa
menyamai feel-nya dari si analog itu.
Jadi prosesnya dapat, hasilnya juga
kalau kita benar-benar ya proper ya
mulai dari gear, dari film yang kita
pilih, karakternya, sama proses di pasca
pasca syuting untuk mendapatkan
visualnya itu keren. Mungkin digital
belum bisa yang menyamai hasilnya ya
untuk hasilnya ya. satu.
[musik]
Jadi kita dari HFS Hunting [musik] Full
Senyum, sebuah komunitas di Jogja yang
bergerak di bidang [musik] kamera
analog. Jadi di situ kita biasanya
ada agenda-agenda rutin kayak [musik]
hunting bareng, kayak sharing, mungkin
juga tanya jawab tentang [musik]
hardware-nya juga, kameranya juga. Jadi
di lewat komunitas itu kita bisa bertemu
banyak orang. [musik]
Nah, nanti tinggal disesuaikan pengin
episode berapa misalnya laptnya di F4
maka kita dapat speed 125. Kalau untuk
komunitas yang analog [musik] itu emang
harus ada karena untuk belajar kita
upgrading salah satunya [musik]
networking tadi kita nyari barang, nyari
apa, tanya-tanya misalnya, "Oh, ini
kamera [musik] ini kayak gini nih error.
Ada yang partnya ada yang hilang satu
enggak bisa dipakai." [musik] Enggak
mungkin bisa servis ke yang tempat
digital toh karena udah berbeda toh
mainnya ke anak-anak. "Oh, aku pernah
ngalamin ini misalnya caranya gini,
[musik] solusinya gini, udah begitu."
Komunitas fotografi analog menjadi
benteng pelestarian di tengah derasnya
arus digitalisasi [musik]
melalui ruang berbagi dan pembelajaran,
komunitas ini menjaga api semangat
fotografi [musik] analog agar tetap
menyala.
Cara gampang itu analog tuh yo motret
pakai film.
Padahal analog itu hubungannya dengan
alternatif [musik]
proses
san printing. Jadi tanpa kamera pun kita
bisa bikin foto. [musik]
Ya mungkin itu bukan analog ya, itu
alternatif ya. Tapi itu apa namanya?
Satu nyawa dengan si analog. Jadi
amit-amit nih udah enggak ada yang
produksi jes [musik] kosong ya. Kita
masih bisa dengan alternatif proses tadi
gitu. Karena analog itu apa ya? ya magic
sih sebenarnya. Oke, kita bisa
mendapatkan barang-barang kimia atau
sesuatu yang bisa kita reaksikan dengan
cahaya yang akan menjadi nah nyawanya
itu sebenarnya di situ. Kalau kalau
analog itu karena orang benar-benar
pengin tahu si proses atau mungkin
bahkan gagal pun anjir aku motret nih
misalnya terus kebakar atau mungkin
[musik] ada apa
bakar
[musik]
fix kebakar
itu yang dinikmati sebetulnya
bakar full
[tertawa]
sedih
dan kita enggak akan expect untuk film
itu tuh turun. Karena sejauh ini ya dari
mungkin dari perang dunia kedua yang
bikin film tuh ya cuman Eropa kayak
misalnya [musik]
UK, Jerman, Ceko, terus Amerika sama
Jepang. Terakhir-terakhir si Cina bikin
lagi film Shanghai itu bikin lagi. Tapi
dari dulu tuh [musik] Indonesia enggak
ada. Jadi kalau misalnya berharap film
itu turun atau berharap [musik] kamera
unlock itu bakal gimana yo ya enggak
enggak usah enggak usah tinggal
dinikmatin aja yang jadi apa daya tarik
atau sesuatu [musik] yang pengin kita
pelajari sampai nanti itu kalau dianalog
the whole prosesnya itu [musik]
[musik]
ya. Namanya juga komunitas
semua kan yang ngurusin manusia. Manusia
ada umurnya. [musik]
Terus umurnya itu kan mempengaruhi
kepentingan dia kewajiban harus [musik]
ngapa-ngapain. Mungkin kan teman-teman
yang kayak di anirat atau yang dulu
hunting pasar [musik] kan beberapa juga
sering pai e analog toh untuk huntingnya
walaupun campur. Dulu ada [musik] Mas
Bagus di itu di apa hunting pasar.
Sebelum pandemi Covid-19,
Bagus Krisnawan berbagi cerita mengenai
kamera analog di kanal YouTube-nya.
Mulai dari hunting, ulasan, dan tutorial
saat tren kamera analog belum kembali
ramai.
Kini dia memilih untuk diam,
tapi bukan berarti padam.
Oke, Teman-teman. Video good news kali
ini adalah quick tips. Aku akan
memberikan tips singkat kepada kalian
tentang cara memasang film di kamera
analog. Kali ini kita pakai film 35 mm
di
aku. Mungkin rutin motret film itu
terakhir mungkin 2021
2020 bahkan sebelum pandemi itu
ee salah satunya harga film ya yang naik
yang yang enggak masuk akal gitu. Bahkan
kalau hitungan kita 36 frame paling
murah film berapa sih? Rp70.000 boleh
enggak? Ada boleh enggak boleh ya?
Enggak ada.
Enggak ada lagi film harga Rp70.000.
Atas 100
di atas 100. Selamat sore. Kita lagi di
Alun-Alon Kid Yogyakarta dan hari ini
aku akan motret pakai Canon Canonet QL17
G3. [musik] Filmnya pakai Koda Color
Plus 200. Film paling murah yang bisa
kita temui di pasaran. Kalau kamu jeli,
kamu bisa dapat film ini dengan harga
[musik] paling sekitar R30.000-an. Ya,
aku pikir kalau teman-teman yang main
fotografi analog hanya semata-mata
mengejar untuk look, [musik]
aku pikir akan lebih mudah kalau kita
mudah dan murah ya kalau kita langganan
aplikasi.
Banyak aplikasi film emulator lah
disebutnya gitu yang bisa menimulasikan
[musik]
film berbagai macam merek film gitu.
Karakter green-nya, [musik] karakter
highlight shadow-nya, karakter rednya
itu banyak gitu.
Nah, yang lebih apa lagi ya? Lebih
fundamental lagi bagi teman-teman yang
shoot film itu menurutku bukan
semata-mata looks-nya, tapi
experience-nya. Dari mulai kita proses
[musik] ee pengambilan gambarnya sampai
proses post pro-nya itu bisa ditentukan.
Kita mau underin, kita mau overin, kita
mau kasih print pakai [musik]
print kah atau kita tetap digitalkan
terus kita digital print kah.
Jadi kalau mungkin ditanya kembali lagi
pertanyaan tadi apa ada solusi enggak
yang lebih murah? Ya kalau mau murah ya
jangan mainan film gitu karena emang
film secara ekosistem itu tidak
diciptakan untuk cost yang rendah gitu.
Meskipun harga R film mengalami
peningkatan yang signifikan, Bagus
Kresnawan tidak membatasi rasa cintanya
dalam fotografi.
Melalui konten 36
sesuai dengan kapasitas foto dalam satu
film, dia mengekspresikannya melalui
hunting foto dengan kamera digital yang
menghasilkan 36 frame dalam satu kali
pemetretan.
Selamat datang di Gutius. Kabar bagus di
segmen 36 pas. 36 pas salah satu konten
saya Street fotografi [musik] yang punya
moto
karena kita cinta fotografi dan
fotografi untuk semua orang. Mari kita
foto satu persatu. Let's go. Pokoknya
intinya 36 pas itu aku pengin mengajak
orang untuk merayakan fotografi. Bukan
semata-mata harus pakai kamera SLR
mirrorless, pakai film, pakai digital.
Even di situ aku kontennya hampir semua
pakai handphone gitu. Aku tunjukkan di
mana ya fotografi seharusnya
menyenangkan bagi semua orang gitu. Nah,
kalau 36-nya ya pasti terinspirasi
[musik] dari roll film ya. Karena roll
film kan paling common size-nya 36
[musik] frame gitu. Jadi sesimpel itu
aja 36 pas. Ya udah ketika udah 36
selesai 36 pas.
Oke, selesai sudah 36 frame [musik] hari
ini di Pasar Hewan Imogiri. Jadi, ya
kita kembalikan, kita rayakan fotografi
itu sebagai sebuah ee cara untuk
berekspresi. [musik]
Kemahalan itu sebanding dengan sebuah
pelajaran yang sangat fundamental dalam
dunia seni melukis cahaya.
Bagi Haji Susanto, seorang dosen
fotografi dari ISU Jakarta, kamera
analog bukan sekedar alat yang
tertinggal [musik] zaman,
namun sebagai ruang belajar tentang
perhitungan, ketelitian, dan [musik]
kesabaran.
Kalau bagi kami ya di Institut Seni
Indonesia Yogyakarta, fotografi analog
itu masih punya posisi penting ya dalam
proses pendidikannya.
[musik]
Jadi mahasiswa kami itu ada beberapa
mata kuliah di semester awal yang memang
ee prosesnya itu [musik] menggunakan
teknologi analog seperti fotografi hitam
putih, lalu fotografi cetak tua, old
print.
Nah, kedua mata kuliah itu menjadi basic
bagi mahasiswa untuk kemudian
mendapatkan bekal dalam mereka berkarya
fotografi
supaya mereka itu memiliki kesadaran
yang lebih lengkap tentang bagaimana ee
fotografi secara sejarah dan secara
teknologi itu tercipta dan berkembang
[musik] hingga saat ini.
Ini salah satu projeknya anak jalanan.
Terus saya punya bukunya di rumah yang
panti asuhan gitu loh.
Heeh.
Jadi anak-anak jalanan gitu di dikasih
[musik] pelatihan fotografi, terus
dikasih kamera terus mereka suruh motret
kehidupannya. Terus beberapa saat itu
ngobrol bareng ditanyain [musik] foto
ini tuh kenapa sih kamu ambil maknanya
apa?
Kalau sebenarnya ya, kalau dari visual
dari tampilannya itu secara
karakteristik fotografi analog dan
digital itu bukan menjadi hal yang
kemudian bisa kita perdebatkan. Karena
kita menggunakan digital pun itu bisa
kita olah supaya seolah-olah dia menjadi
foto yang memiliki [musik] visual ee
seperti foto analog gitu. Nah, kemudian
yang yang menjadi lebih penting [musik]
justru adalah bagaimana kemudian kita
melihat prosesnya tadi kembali ke
prosesnya tadi yang berbeda itu tentu
saja di prosesnya.
Satu, dua, cakep.
Kalau saya menyarankan penghobi-penghobi
fotografi
itu [musik]
kalau bisa tetap fotografi analogi itu
menjadi salah satu praktik dalam
berkeseniannya. Walaupun kemudian dia
berkaryanya itu secara utama [musik]
dengan digital, tapi tetap harus dia
juga melakukan aktivitas fotografi yang
sifatnya analog ini. Jadi, ada dua hal
yang selalu harus kita kita lakukan
supaya aktivitas fotografi kita itu bisa
utuh gitu loh. Enggak hanya digital aja.
Jadi, kita juga harus merasakan juga
aktivitas fotografi analog. Apalagi ada
kamera-kamera analog baru yang
diproduksi juga seperti pentak kemarin
ya. Lalu Role juga mengeluarkan kamera
analog yang baru. Ya, nanti saya pikir
produsen-produsen yang lain pun akan
kembali lagi melihat bahwa industri
analog ini punya potensi yang besar di
masa depan gitu.
Ee menurutku
analog masa depannya mungkin enggak
terlalu cerah
sampai [musik]
ada produsen yang berani mengeluarkan
produk developing film di rumah
dengan sistem yang kompact
karena battle-nya tetap mau enggak mau
di media rekamnya.
Jadi film semakin mahal, labnya semakin
sedikit.
penggunanya banyak, demand-nya tinggi.
Kalau tidak disuplai dengan produk yang
bisa ee mempermudah orang makai, ya
menurutku mungkin bisa jadi akan
ditinggalkan.
Enggak akan enggak [musik] akan mati
sih. Pasti akan ada karena itu kan apa
ya? Ilmu pengetahuan sih. Selama ada
sekolah kayak ISI misalnya, ada
fotografi, sekolah yang jurusannya
fotografi, pasti akan ada fotografi
basic, fotografi dasar biasanya hitam
putih. Nah, itu dari analog bisa
dibreakdown satu-satunya.
Jadi, pasti akan ada.
Iya, analog itu pasti akan ada dan saya
rasa semuanya itu nanti pasti akan
lambat laun memilih untuk kembali ke
fotografi analog. Karena ya kita
merasakan sendiri ya kita dengan media
sosial, dengan semua [musik] di
kehidupan ini yang ee rasanya itu
terlalu cepat, terlalu terlalu apa-apa
itu terlalu bising ya, terlalu berisik
gitu kan. Nah, saya rasa suatu saat
analog akan menjadi salah satu jalan
keluar bagi kita untuk kemudian kembali
merasakan ee nikmatnya berfotografi
gitu.
Saya pernah bikin [musik] postingan di
Instagram itu eh [musik] analog is not
dead atau film is not dead. Artinya itu
harapan saya karena berhubungan dengan
mata pencarian saya sebagai pedagang
kamera analog itu kemarin intine [musik]
petisi. Saya minta dukungan sama-sama
teman-teman komunitas, teman-teman
menghobi [musik]
kamera analog ee untuk like, komen agar
petisi ini terdengar sampai [musik] ke
produsen, agen, pedagang sehingga harga
[musik] film itu tidak terlalu tinggi
sehingga harganya itu bisa terjangkau
[musik]
seperti itu.
Harga rol film terus meningkat dari
waktu ke waktu. Pasar kamera analog akan
tetap hidup dijaga oleh mereka yang
percaya bahwa fotografi analog memiliki
nilai estetika dan historis yang tidak
tergantikan.
Dalam fotografi analog, setiap hasil
jepretan memiliki makna.
Sebab setiap prosesnya
menut waktu, kesabaran dan ketelitian.
Kamera analog bukan sekedar alat,
[musik]
melainkan bagian dari perjalanan
fotografi yang tetap relevan meski zaman
terus
berubah.
[musik]
sisi
pada [musik]
semua
lampu.
[musik]
Semua
lampu
yang bicara [musik]
adalah cahaya
dikonstruksi. [musik]
Di komposisi
[musik]
yang kau cerah [musik]
adalah riwayat
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:21:31 UTC
Categories
Manage