File TXT tidak ditemukan.
Pilkada Tak Langsung: Wacana Lama yang Kembali | Banyak Alasan
g_Qv2Z78OHE • 2026-01-27
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Pemilihan kepala daerah atau Pilkada langsung akan dihapus dan digantikan Pilkada tidak langsung lewat DPRD. Wacana ini diusung oleh parpol yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih pendukung Prabowo Subianto pada Pemilu 2014. Alasannya karena Pilkada langsung ongkosnya mahal menimbulkan konflik sosial dan maraknya kepala daerah yang terjerat korupsi. Wacana ini berujung pada disahkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 yang memutuskan bahwa pemilihan gubernur, Bupati, dan Walikota akan dilakukan melalui mekanisme pemilihan di DPRD. Keributan politik ini berhenti ketika Presiden saat itu SBY membatalkan Pilkada tidak langsung lewat Perpu nomor 1 tahun 2014. Perpu itu sekaligus mencabut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang pemilihan gubernur, Bupati, dan Walikota yang mengatur pemilihan kepala daerah secara tidak langsung oleh DPRD. Kini wacana Pilkada tidak langsung muncul kembali. Ketua Umum Partai Golkar Bahlilah Dalia yang tanpa malu mulai membicarakan ini di acara ulang tahun ke-60 Partai Golkar akhir tahun 2024 yang lalu. Dalam kajian banyak partai Golkar Bapak Presiden, ada suara-suara yang muncul dari kajian kami. di Pilkada rasa Pilkades dan saya pikir Bapak Presiden kalau memang partai lain yang belum mau menginisiatif izinkan kami untuk Golkar memulai dialektika ini. Dan Presiden Prabowo pun bersemangat menyambut usulan bahlil tersebut. Menurut saya, kita harus perbaiki sistem kita dan kita tidak boleh malu untuk mengakui bahwa kemungkinan sistem ini terlalu mahal. Betul. Dari wajah yang menang pun saya lihat lesu juga. Yang menang lesu apalagi yang kalah. Usulan ini adalah langkah mundur demokrasi. Inilah empat alasan dari saya mengapa Pilkada tidak langsung perlu kita kritisi. Alasan yang pertama, jika Pilkada langsung dianggap mahal, mengapa bukan politik uang yang diberantas atau pendanaan partai politik yang lebih transparan. Penyebab mahal itu bukan proses pemilihan langsungnya, tapi cara berpolitik yang tak pernah dibenahi. Korupsi, politik uang, dan transaksi kekuasaanlah yang jadi penyebab ongkos politik jadi sangat tinggi. Pilkada lewat DPRD tak menyelesaikan persoalan ongkos politik yang tinggi. Pilkada tidak langsung justru lebih rawan transaksi gelap. Politik uang tetap mungkin terjadi di ruang tertutup. dan bahkan lebih sulit diawasi. Alasan yang kedua, kepala daerah akan tersandra partai politik. Ketika kepala daerah dipilih DPRD, maka loyalitasnya berpindah bukan ke rakyat, tapi ke partai dan fraksi. Kepala daerah akan bekerja dalam tekanan politik. Jika tak sesuai dengan kepentingan elit dari partai pengusungnya, kebijakan strategis bisa macet. Alasan yang ketiga, Pilkada tidak langsung akan membunuh kedaulatan rakyat. Pilkada langsung bukan sekadar urusan memilih. Pilkada langsung adalah momen di mana rakyat menilai, menghukum, atau memberi kesempatan lanjut bagi calon kepala daerah yang kredibel. Ketika hak itu dicabut, rakyat hanya akan jadi penonton dari pertaruhan nasib mereka. Alasan yang keempat, ini sebenarnya bukan soal biaya. Ini adalah modus sentralisasi kekuasaan. Mengembalikan Pilkada ke DPRD adalah langkah mundur. Lewat partai politik, kekuasaan akan kembali terpusat di tangan elit. Masa depan daerah tak lagi ditentukan oleh warga, tapi ditentukan oleh segelintir elit saja. Otonomi daerah bahkan akan segera terkikis habis. Daerah hanya akan jadi objek kekuasaan, bukan subjek demokrasi. Itu tadi empat alasan dari saya mengapa kita perlu mengkritisi ide Pilkada tidak langsung. Kamu punya alasan yang lain? Tulis di kolom komentar, ya. [Musik]
Resume
Categories