Kind: captions Language: id Dulu punya ruko satu saja sudah seperti punya pohon uang yang gak bakal mati. Tapi coba deh kalian keliling sekarang berapa banyak papan bertuliskan disewa yang warnanya sampai memudar karena saking lamanya enggak ada yang ambil. Fenomena ruko kosong ini bukan sekadar kebetulan, tapi ada pergeseran besar yang jarang dibahas. Mari kita bedah bareng-bareng. Apakah investasi ruko benar-benar menuju kematian atau cuma sedang berganti kulit? Kita mulai dari fakta pahitnya dulu. Selama puluhan tahun, Ruko dianggap sebagai emas batangan dalam bentuk bangunan. Narasi ruko sebagai aset properti paling aman itu dibangun di era saat pusat ekonomi bersifat sangat fisik. Artinya kalau orang mau belanja baju, makan bakso, atau cari alat tulis, mereka harus keluar rumah dan menuju ke deretan ruko terdekat. Tapi di tahun 2026 ini, standar keberhasilan itu mulai retak dan menunjukkan celah yang besar. Ruko bukan lagi satu-satunya pintu gerbang ekonomi bagi masyarakat. Dulu lokasi adalah segalanya, tapi sekarang relevansi lebih penting daripada sekadar lokasi. Kita melihat banyak ruko di jalan protokol yang dulunya jadi rebutan, sekarang justru terlihat lesu. Pergeseran ini terjadi karena konsumen sudah menemukan jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan mereka tanpa harus melewati pintu ruko kalian. Jika pondasi kebutuhan fisik ini terus bergeser ke ranah digital, maka nilai ruko yang kita agung-agungkan selama ini perlu dipertanyakan kembali validitasnya. Dulu ruko itu menjadi primadona karena konsep multifungsinya yang luar biasa efisien. Lantai bawah untuk dagang, sementara lantai atas untuk tempat tinggal atau gudang. Sebuah efisiensi yang sangat masuk akal bagi pengusaha kecil. Tapi coba kita lihat realitas sekarang. Biaya maintenance ruko mulai dari iuran keamanan, kebersihan, hingga pajak bumi dan bangunan makin meroket setiap tahunnya. Hal ini berbanding terbalik dengan omzet para pedagang fisik yang makin kegerus oleh kompetisi harga di marketplace. Banyak penyewa yang akhirnya sadar bahwa membayar sewa ruko ratusan juta per tahun hanya untuk pajangan barang itu sudah enggak masuk akal lagi secara hitungan bisnis. Mereka lebih memilih menyewa gudang di pinggiran kota yang harganya sepertiga dari ruko tapi bisa menjangkau pembeli di seluruh Indonesia lewat ekspedisi. Akhirnya banyak pemilik ruko yang terjebak dengan bangunan besar yang megah. Tapi sepi peminat karena hitungan bisnis penyewanya sudah tidak lagi ketemu titik untungnya. Masalah lain yang sering saya temukan adalah ego dari pemilik aset itu sendiri. Banyak pemilik ruko yang masih mematok harga sewa tinggi, bahkan menaikkannya setiap 2 tahun sekali hanya karena mereka merasa lokasi mereka sangat strategis dan dilewati ribuan kendaraan setiap hari. Padahal definisi strategis di tahun 2026 ini sudah bergeser total. Ramainya kendaraan di depan rukoh bukan lagi jaminan orang akan mampir. Seringkiali itu hanya dianggap sebagai kemacetan yang justru dihindari oleh calon pembeli. Sekarang strategi sebuah lokasi lebih diukur dari seberapa mudah akses kurir menjangkau tempat tersebut atau seberapa luas lahan parkir untuk layanan ojek online. Pemilik ruko yang gagal paham soal pergeseran ini biasanya akan mendapati papan di sewa. Mereka terpajang hingga bertahun-tahun. Mereka terjebak pada memori kejayaan masa lalu. Sementara dunia bisnis di luar sana sudah bergerak menggunakan algoritma. Bukan lagi sekadar mengandalkan orang yang lewat di depan mata. Musuh utama investasi ruko hari ini bukanlah kenaikan pajak properti atau fluktuasi bunga bank, melainkan jempol kita sendiri yang setiap hari sibuk scrolling di layar ponsel. Kalau kita perhatikan, perilaku konsumsi masyarakat sudah berubah total. Kita sekarang hidup di era di mana tokoh fisik tidak lagi menjadi destinasi utama, melainkan sekadar opsi kedua. Perubahan ini menyerang langsung ke jantung bisnis ruko. Dulu ruko adalah etalase paling efektif untuk memamerkan produk agar dilihat orang. Sekarang etalase itu sudah pindah ke media sosial dan aplikasi belanja. Dampaknya sangat nyata bagi investor. Permintaan akan ruang fisik untuk berdagang menurun drastis karena banyak pengusaha yang menyadari bahwa mereka tidak butuh lagi bangunan tiga lantai di pinggir jalan hanya untuk bisa berjualan. Layar ponsel telah memotong jalur distribusi tradisional dan ruko yang gagal beradaptasi dengan kecepatan jempol manusia ini perlahan-lahan mulai kehilangan relevansinya di pasar. Mungkin kalian pernah bertanya-tanya, kenapa sih pengusaha sekarang lebih memilih jualan dari rumah atau gudang tersembunyi daripada menyewa ruko megah? Jawabannya sederhana, efisiensi biaya. Kenapa mereka harus membayar sewa gedung tiga lantai yang mahal ditambah biaya listrik komersial dan tenaga kerja yang besar? Kalau mereka bisa mengoperasikan bisnisnya dari gudang kecil di gang sempit namun tetap laris manis lewat aplikasi, efisiensi inilah yang membuat ruko-ruko besar kehilangan penyewa potensial mereka. Para pelaku UMKM kini jauh lebih cerdas. Mereka tidak lagi terjebak pada gengsi memiliki toko di pinggir jalan raya jika beban biayanya justru membunuh keuntungan mereka. Akibatnya banyak ruko yang dulunya diisi oleh toko baju, toko sepatu, atau peralatan rumah tangga sekarang mendadak kosong karena para pemilik bisnisnya pindah ke model operasional yang lebih ramping dan digital. Ruko yang terlalu luas sekarang justru jadi beban bagi penyewa. Penting untuk kita sadari bahwa perubahan perilaku belanja ini bersifat permanen, bukan sekadar tren sesaat. Tokoh fisik di era sekarang sudah mengalami pergeseran fungsi. Mereka lebih berperan sebagai showroom untuk melihat barang secara langsung atau sebagai titik distribusi terakhir. Last mile delivery untuk mempercepat pengiriman bukan lagi sebagai tempat utama terjadinya transaksi. Efek dominonya, kebutuhan akan luas ruang ruko pun menyusut drastis. Jika dulu pengusaha butuh 200 m² untuk memajang stok barang, sekarang mereka mungkin cuman butuh 40 m² untuk area display. Sementara sisanya bisa dialokasikan untuk gudang murah di tempat lain. Bagi pemilik ruko, ini adalah sinyal bahaya. Model ruko tradisional yang kaku dan luas tanpa pembagian fungsi yang jelas mulai ditinggalkan oleh pasar. Jika kalian punya ruko yang desainnya masih konvensional, tantangannya adalah bagaimana cara memecah atau mengubah fungsi ruang tersebut agar tetap diminati oleh bisnis-bisnis modern yang serba minimalis. Kalian pasti sering melihat pemandangan ini. Sebuah perumahan baru yang megah. Gerbangnya estetik, tapi di bagian depannya berjejer puluhan ruko yang sepi, gelap, dan tertutup rapat. Fenomena ghost town atau kota hantu ini menjadi mimpi buruk bagi banyak investor properti saat ini. Seringkiali orang tergiur membeli ruko di kawasan baru karena janji manis pengembang tentang prospek masa depan dan pertumbuhan kawasan. Namun kenyataannya banyak dari ruko ini yang nasibnya hanya berakhir sebagai kantor pemasaran di awal projek. Lalu setelah perumahan selesai dibangun, ruko tersebut justru ditinggalkan tanpa penghuni. Membeli ruko di lokasi yang belum matang ekosistemnya ibarat membeli janji di atas kertas. Tanpa adanya arus, lalu lintas orang yang organik. Ruko-ruko ini hanyalah deretan kotak beton yang tidak menghasilkan apa-apa selain debu dan biaya pajak yang terus menumpuk setiap tahunnya. Akar masalahnya adalah seringkiali pihak developer membangun ruko hanya sebagai pelengkap fasilitas atau sekadar strategi untuk memaksimalkan penggunaan lahan tanpa benar-benar memikirkan ekosistem bisnis jangka panjang di sana. Mereka berfokus pada estetika dan nilai jual saat brosur dicetak. Tapi lupa menghitung apakah jumlah penghuni di perumahan tersebut cukup kuat untuk menopang puluhan bisnis yang akan menyewa di sana. Akibatnya ruko tersebut mengalami mati suri. Logikanya sederhana. Sebuah bisnis kuliner atau laundry tidak bisa bertahan kalau hanya mengandalkan segelintir penghuni yang mungkin belum semuanya pindah ke sana. Tanpa ada magnet dari luar kawasan, ruko-ruko ini tidak punya daya tarik bagi penyewa profesional. Investor akhirnya terjebak dalam siklus menunggu yang tidak pasti. di mana bangunan mulai terlihat kusam dan rusak sebelum sempat merasakan satu pun penyewa yang kontraknya bertahan lebih dari 1 tahun. Membeli ruko di kawasan yang belum hidup atau belum punya basis massa yang jelas itu sekarang jadi perjudian besar yang sangat berisiko. Zaman sekarang kita tidak bisa lagi cuma mengandalkan prinsip bangun dulu nanti juga ramai sendiri. Alih-alih mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga properti atau capital gain yang ada malah rugi di biaya perawatan. biaya keamanan dan pajak yang terus berjalan tanpa ada pemasukan sewa sama sekali. Kondisi ruko yang kosong terlalu lama juga akan menurunkan nilai jualnya secara psikologis. Orang akan bertanya-tanya kenapa ruko ini enggak laku-laku. Beban finansial ini bisa menjadi bola salju yang menghancurkan portofolio investasi kalian. Jadi sebelum tergiur dengan potongan harga atau skema cicilan ringan di kawasan baru, tanyakan dulu pada diri sendiri, apakah di sana benar-benar ada aktivitas ekonomi nyata atau kalian hanya sedang membeli sebuah monumen beton di tengah kota hantu? Bukan cuma sektor perdagangan yang sedang goyah, tapi rukoh yang dulunya laku keras untuk sektor perkantoran sekarang juga kena hantam keras oleh tren kerja fleksibel. atau work from anywhere. Dulu setiap perusahaan jasa mulai dari agen asuransi sampai kantor hukum merasa harus punya alamat di ruko pinggir jalan untuk terlihat kredibel. Tapi sekarang paradigma itu bergeser total. Pandemi telah membuktikan bahwa banyak pekerjaan bisa dilakukan dari rumah atau dari mana saja tanpa harus terikat pada gedung fisik yang kaku. Perusahaan mulai sadar bahwa menyewa satu unit ruko penuh itu sangat tidak efisien secara finansial. Mereka harus membayar listrik, internet, hingga biaya kebersihan untuk gedung tiga lantai yang mungkin hanya efektif digunakan di satu lantai saja. Tren efisiensi ini membuat ruko-ruko perkantoran konvensional kehilangan daya tariknya. Karena dunia profesional sekarang lebih mengutamakan konektivitas digital daripada sekadar alamat fisik yang mentereng di pinggir jalan. Jika kita perhatikan, banyak startup atau UMKM sektor kreatif sekarang lebih memilih sewa corking space atau kantor mungil yang estetik daripada ruko konvensional yang bentuknya seringkiali membosankan dan kaku. Kenapa? Karena di kantor modern atau coworking space, mereka mendapatkan fasilitas lengkap tanpa harus pusing memikirkan biaya operasional gedung. Mereka bisa menyewa sesuai kebutuhan jumlah staf tanpa ada ruang kosong yang mubazir. Sementara Ruko dengan layout vertikalnya yang melelahkan harus naik turun tangga terasa sangat kuno bagi budaya kerja milenial dan Jenzi yang kolaboratif. Pemilik ruko yang masih berharap mendapatkan penyewa kantor dengan kondisi bangunan apa adanya akan semakin sulit bersaing. Pasar sekarang mencari fleksibilitas dan kenyamanan. Bukan sekadar kotak beton yang butuh renovasi besar-besaran sebelum bisa dihuni. Jika ruko kalian tidak bisa menawarkan fleksibilitas itu, siap-siap saja kehilangan penyewa dari sektor paling potensial ini. Selain masalah fungsi, faktor desain ruko yang gitu-gitu aja sejak tahun 90-an benar-benar bikin penyewa dari generasi baru ini malas untuk melirik. Bayangkan ruko dengan fasad kotak, jendela kecil, dan tangga sempit yang tersembunyi. Desain seperti ini sama sekali tidak mendukung produktivitas maupun citra perusahaan modern. Mereka butuh tempat yang punya karakter, pencahayaan alami yang cukup, dan suasana yang mendukung kreativitas. Bukan cuma sekat-sekat tembok beton tiga lantai yang terasa sumpek. Kegagalan para pemilik ruko untuk melakukan facelift atau renovasi desain sesuai selera zaman sekarang menjadi salah satu penyebab utama kenapa ruko mereka sulit laku. Di mata penyewa modern, ruko yang tidak estetik itu dianggap tidak layak huni untuk jangka panjang. Investasi ruko sekarang bukan lagi soal beli lalu diamkan, tapi soal bagaimana kalian mengemas aset tersebut agar terlihat menarik secara visual di tengah gempuran pilihan ruang kantor yang jauh lebih modern dan kekinian. Satu-satunya sektor yang sampai saat ini masih bisa dianggap sebagai penyelamat atau napas buatan bagi investasi ruko adalah bisnis kuliner alias food and beverage. Coba kalian perhatikan. Hampir semua ruko yang masih hidup dan ramai biasanya diisi oleh kopi kekinian, restoran franchise, atau tempat makan estetik. Bisnis FnB adalah magnet yang kuat karena mereka menciptakan alasan bagi orang untuk benar-benar datang ke lokasi secara fisik. Namun, jangan salah sangka dulu. Meskipun sektor ini sangat potensial, mereka juga adalah penyewa yang paling cerewet dan selektif. Ada syarat-syarat teknis yang sangat ketat yang harus dipenuhi sebelum sebuah brand kuliner mau menyewa ruko kalian. Mereka tidak hanya melihat luas bangunan, tapi juga kekuatan daya listrik, pasokan air, hingga sistem pembuangan limbah. Jika ruko kalian adalah model lama yang tidak siap dengan standar operasional dapur modern, maka kesempatan emas mendapatkan penyewa FNB yang stabil ini bisa hilang begitu saja. Satu hal yang menjadi penentu hidup atau matinya bisnis kuliner di sebuah ruko adalah ketersediaan lahan parkir. Penyewa dari sektor FnB sekarang sangat selektif. Mereka tidak akan mau menyewa ruko kalian bahkan jika lokasinya di pusat kota sekalipun kalau tidak punya area parkir yang memadai. Mengapa? Karena di era sekarang kenyamanan pelanggan adalah segalanya. Pelanggan akan berpikir dua kali untuk mampir jika mereka harus berputar-putar mencari parkir atau harus parkir di pinggir jalan yang berisiko digusur petugas. Selain parkir untuk pelanggan, akses untuk ojek online juga krusial. Kalau Rukomu tidak punya ruang tunggu atau tempat parkir khusus untuk para kurir makanan, operasional bisnis penyewa bakal berantakan karena komplain dari warga sekitar atau kemacetan yang ditimbulkan. Jadi, lupakan harapan bisa mendapatkan penyewa brand besar dengan kontrak jangka panjang jika lahan di depan ruko kalian hanya cukup untuk dua unit motor. Kita sekarang sedang menyaksikan sebuah tren di mana ruko-ruko lama di pusat kota mulai ditinggalkan karena aksesnya yang macet dan area parkirnya yang semraut. Masyarakat modern jauh lebih memilih untuk berkendara sedikit lebih jauh menuju Lifestyle Mall atau komplek ruko modern yang konsepnya terbuka, open space. dengan manajemen parkir yang profesional. Di sana mereka bisa makan, nongkrong, sekaligus merasa aman dengan kendaraan mereka. Ruko konvensional yang berdiri sendiri di pinggir jalan raya seringkiali kehilangan daya tarik karena dianggap terlalu ribet untuk dikunjungi. Fenomena ini menciptakan lubang besar bagi investor ruko lama. Nilai sewa ruko mereka turun karena tidak lagi mampu menampung gaya hidup konsumen saat ini. Tanpa adanya pembenahan akses atau kerja sama antar pemilik ruko untuk menyediakan lahan parkir bersama, deretan ruko lama ini hanya akan menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu yang perlahan kalah saing dengan kawasan yang lebih ramah pengunjung. Banyak orang terjun ke investasi ruko karena terbuai istilah passive income. Bayangannya sederhana, beli ruko, sewakan, lalu duduk manis menerima transferan tiap tahun. Tapi di pasar yang sedang berubah ini, kalian jangan cuma menghitung harga beli atau potensi uang sewa saja. Kalian harus mulai menghitung dengan teliti berapa biaya yang tetap keluar justru saat ruko itu sedang kosong atau tidak berpenghuni. Dalam dunia properti, ruko yang tidak terisi adalah liabilitas, bukan aset. Banyak investor pemula yang kaget saat menyadari bahwa meskipun tidak ada pemasukan, tagihan tetap datang menagih. Investasi ruko membutuhkan napas yang panjang dan cadangan kas yang kuat. Karena jika kalian salah perhitungan, ruko yang kalian harapkan jadi sumber kekayaan justru bisa menjadi lubang hitam yang menyedot tabungan kalian secara perlahan. Namun pasti. Ada satu jebakan psikologis di mana pemilik ruko berpikir bahwa mendiamkan ruko itu tidak memakan biaya. Padahal realitanya justru sebaliknya. Bangunan yang tidak dihuni cenderung lebih cepat rusak daripada yang ditinggali. Masalah seperti kebocoran atap yang tidak terdeteksi, rayap, hingga pelapukan tembok akibat kelembaban bisa membuat biaya renovasi membengkak saat nanti ada calon penyewa yang tertarik. Belum lagi biaya tetap yang wajib dibayarkan seperti iuran keamanan lingkungan, biaya kebersihan, hingga pajak bumi dan bangunan PBB yang nilainya untuk kategori ruko komersial itu tidak murah. Bayangkan jika ruko kalian kosong selama 2 atau 3 tahun. Akumulasi dari semua biaya operasional ini bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Tanpa disadari, kalian tidak sedang melakukan investasi, tapi sedang membiayai sebuah bangunan yang tidak memberikan imbal balik apapun. Mari kita bicara jujur soal angka. Ketika ruko kalian enggak laku disewa selama 2 tahun saja, nilai investasi kalian sebenarnya sudah turun drastis jika dihitung secara komprehensif. Cobalah bandingkan dengan inflasi dan opportunity cost atau biaya peluang jika uang tersebut diletakkan di instrumen lain seperti emas atau saham yang lebih likuid. Menahan aset ruko yang mati di lokasi yang sudah tidak lagi produktif adalah langkah yang berbahaya bagi kesehatan finansial. Banyak pemilik yang keras kepala mempertahankan harga sewa tinggi karena merasa sayang kalau disewakan murah. Padahal secara hitungan matematika mendapatkan penyewa dengan harga lebih rendah jauh lebih baik daripada membiarkannya kosong dan terus menanggung biaya operasional. Di pasar sekarang, ruko yang tidak menghasilkan cash flow secara rutin adalah beban nyata yang bisa menghambat pertumbuhan kekayaan kalian dalam jangka panjang. Jadi setelah kita bedah semua tantangannya, apakah ini artinya investasi ruko sudah benar-benar mati dan harus ditinggalkan? Jawabannya belum tentu. Namun satu hal yang pasti, cara mainnya sudah berubah total dan tidak bisa lagi menggunakan pola pikir 10 tahun lalu. Kita harus menyadari bahwa ruko bukan lagi sekadar bangunan serba guna yang pasti laku hanya dengan pasang spanduk di depan jendela. Di tahun 2026 ini, keberhasilan investasi Ruko sangat bergantung pada kemampuan pemiliknya untuk membaca mikrotren di lokasi tersebut. Kita memasuki era di mana Ruko harus dikelola layaknya sebuah bisnis, bukan sekadar aset diam. Mereka yang masih bisa mendulang cuan dari ruko adalah para investor yang mau turun tangan langsung memahami siapa calon penyewa mereka, apa kebutuhan spesifik bisnisnya, dan bagaimana bangunan tersebut bisa memberikan nilai tambah yang tidak dimiliki oleh kompetitor di sekitarnya. Kunci utamanya sekarang adalah spesialisasi. Kalian tidak bisa lagi mengharapkan satu unit rukoh bisa cocok untuk segala jenis usaha. Investasi ruko yang cerdas saat ini harus fokus pada segmentasi yang sangat tajam. Misalnya, apakah ruko kalian punya lokasi yang sempurna untuk jadi gudang transit atau dark store bagi platform belanja online? Ataukah strukturnya lebih ideal untuk diubah menjadi pusat komunitas seperti studio olahraga khusus, klinik spesialis yang butuh privasi, atau bahkan cloud kitchen yang melayani ribuan pesanan makanan setiap harinya. Strategi palugada atau bisa buat apa saja sudah tidak relevan lagi. Pemilik aset yang jeli akan mulai memetakkan potensi spesifik rukonya sejak awal. Dengan menentukan spesialisasi, kalian bisa menyesuaikan fasilitas bangunan sesuai kebutuhan penyewa idaman tersebut sehingga mereka merasa tidak punya pilihan lain yang lebih baik selain menyewa ruko milik kalian. Pada akhirnya kuncinya adalah adaptasi dan kemauan untuk berevolusi. Pemilik Ruko yang akan sukses di masa depan adalah mereka yang tidak kaku dan mau mengeluarkan modal tambahan untuk melakukan renovasi atau repositioning asetnya mengikuti selera pasar modern. Ini bukan lagi soal beli lalu diamkan, tapi soal bagaimana kalian mengemas aset tersebut agar tetap relevan. Mungkin kalian perlu menjebol tembok untuk menciptakan ruang terbuka yang lebih luas. memasang panel surya untuk menekan biaya listrik penyewa atau bahkan bekerja sama dengan pemilik ruko di sebelah untuk membuat kantong parkir bersama yang lebih layak. Jangan hanya menjadi pemilik yang menunggu penyewa datang sendiri sambil mengeluh pasar sedang sepi. Inovasi adalah satu-satunya cara untuk mengubah kotak beton yang mati menjadi aset yang kembali produktif dan menghasilkan cash flow yang sehat di tengah perubahan pasar yang sangat cepat ini. Dunia properti memang sedang berubah dengan sangat cepat dan ruko berada tepat di garis depan pergeseran tersebut. Jika kalian tetap memaksakan pola pikir lama yang kaku, aset ruko ini memang berisiko besar menjadi beban finansial atau monumen mati yang menyedot tabungan. Namun, jika kalian jeli melihat celah dan berani beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang serba digital, Ruko sebenarnya masih bisa menjadi instrumen investasi yang sangat menarik. Sekarang semua kembali ke keputusan kalian. Apakah kalian akan terus mempertahankan standar lama atau mulai berinovasi dengan cara main yang baru? Video ini bukan ajakan untuk membeli, menjual, atau menyewakan ruko tertentu, ya. Semua informasi di sini murni untuk edukasi dan berbagi sudut pandang tentang perubahan pasar. Setiap keputusan investasi properti punya nilai risiko dan modal yang besar. Jadi, semua balik lagi ke tangan masing-masing penonton. Pastikan lakukan riset mendalam, cek lokasi secara langsung, pahami risikonya, dan sesuaikan dengan kondisi finansial pribadi kamu sebelum melangkah. Kalau kalian merasa pembahasan ruko ini membuka mata atau justru bikin kalian makin waspada, jangan lupa klik tombol subscribe dan nyalakan loncengnya. Di channel ini, kita bakal terus bedah realita pasar yang jarang dibicarakan agar strategi investasi kalian tetap relevan dengan zaman. Saya juga penasaran banget. Coba tulis di kolom komentar, menurut kalian bisnis apa sih yang paling tahan banting kalau disewa di ruko saat ini? Atau mungkin kalian punya pengalaman pahit soal properti? Yuk, kita saling berbagi ilmu di bawah. Jangan lupa juga bagikan video ini ke teman atau keluarga yang mungkin lagi berencana beli ruko supaya mereka enggak salah langkah. Terima kasih sudah menonton sampai habis dan sampai jumpa di diskusi selanjutnya. Yeah.