STRICT WARNING! Singapore PM: World War 3 is Getting Closer, Indonesian Economy Could COLLAPSE!
blipm35RbIQ • 2025-07-02
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Halo, Guys. Ada berita yang luar biasa nih. Lawence Wong baru aja diundang di acara forum internasional yang paling besar di dunia, namanya World Economic Forum. Orang nomor satu di Singapura, Perdana Menteri Lawensong, itu ditanya, "Gimana sih soal situasi dunia ini? Perang Israel, Iran apakah jadi perang dunia 3? Dan yang paling penting situasi tentang perang dagang. Karena kalian tahu enggak perang dagang yang dibikin oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu ada deadline buat negara-negara segera datang making settlement with Amerika Serikat. Dan deadline-nya itu 1 minggu lagi, Guys. Alias tanggal 9 Juli harus sudah ada keputusan lu mau jadi musuh Amerika Serikat atau lu mau jadi trading partner Amerika Serikat. So, ketika gua dikirim video ini menurut gua ini menarik banget karena yang bicara langsung orang nomor satu di Singapura. Dan kita tahu ya orang nomor satu di Singapura ini contoh pejabat yang punya otak. Kalau lu mau tahu respon dia gimana, yuk jangan dikip video ini. Let's check this out. Unfortunately, I think the world is changing and we see over the years more pressures. This content against globalization has risen. It started way back. I remember in 1999 when the WTO was held in Seattle. You already had demonstrations and protests there. Uh but since then, year after year you see in advanced economies city is being destroyed because factories are closed, livelihoods get disrupted, jobs are displaced and in more recent years because of COVID and the concerns over supply security because of conflicts in Europe and the Middle East now concerns about security have risen and we are in a very different position today. Global norms, global rules are weakening. Global institutions are weakening and economic nationalism is replacing winwin cooperation. For small countries like Singapore, we are worried because we have limited options. We have limited bargaining power and we risk being marginalized. But even bigger countries, I think will have challenges dealing and operating in such a new environment because it would be harder for everyone to deal with common threats be it pandemics, climate change or financial shocks. So I think our response has to be collectively to try and still harness forces that will bring people together, promote integration, bring down barriers and strengthen multilateralism multilateralism that is more resilient, more inclusive and better suited to the realities of our time. So Singapore will do our part in this endeavor. Whether it's forging partnerships, updating global rules or advancing dialogue, working together with partners like the WF, the efforts may seem small and incremental but if likemed countries everywhere were to do our part then collectively I think we can make a difference and then step by step hopefully we can lay the groundw for a new and more stable global order in time to come. Jadi menurut Lawence Wong ya dari tahun ke tahun dunia ini keep on changing guys. Jadi semakin berubah dan dalam perubahannya itu mengakibatkan banyak orang yang tidak puas akibat globalisasi yang terjadi. Nah dia bilang sih ketidakpuasan globalisasi ini awalnya dimulai sejak tahun 1990 waktu itu. Salah satu meeting ada di Seattle. Gua pun masih ingat lihat berita saat itu banyak orang demonstrasi menduduki taman-taman kota dan ya orang enggak suka dengan yang namanya globalisasi karena mereka merasa terancam. Hari ini lu lihat dampaknya itu ada di mana-mana. Kemarin Amerika Serikat paling semangat mempromosikan globalisasi. Semua orang harus berdagang, harus menurunkan trade barrier, dinding penghalang hancurkan. Mereka adalah penggagas dan pendorong ide globalisasi. Karena apa? Mereka pengin dolar mereka berkuasa di dunia ini. Jadi mereka punya kepentingan, Guys, untuk memastikan dolar menjadi the world currency, menjadi mata uang dunia. Dan itu bisa terjadi kalau perdagangan dunia itu meningkat bukan berkurang. Oke, itu gol besarnya. Tetapi yang dia lupa ketika mereka melakukan program globalisasi itu pada saat yang sama, China itu menangkap, mengambil respon yang baik. Oke, kalau gitu gua turunin semua trade barrier itu. Gua bikin murah, gua bikin gampang akses pengusaha dari Amerika Serikat buat berbisnis buka cabang di China. Dan ini di luar prediksi Amerika Serikat. Mereka happy-happy aja. Mereka meng-outsource pekerjaan mereka, penghasilan mereka, pabrik-pabrik mereka ke negara China. China terima dolar. Dalam jumlah yang sangat besar mereka menjadi negara kaya raya. Tapi along the way, apa yang terjadi? Amerika Serikat kehilangan pabrik, kehilangan lapangan kerja. Dan jangan heran makin banyak pabrik-pabrik yang tutup di Amerika Serikat karena they lost their manufacturing job ke overseas. Ya, sekarang udah tulit globalisasi sudah di mana-mana. Negara-negara yang lebih kompetitif, lebih murah, lebih pintar SDM-nya siap untuk bertarung. Jadi globalisasi yang dulu digenjot penuh sama Amerika Serikat, sekarang menjadi serangan balik. Karena Apple pun pabriknya di China, laptop ini pun merek Amerika tapi pabriknya di China. Semua yang lu pakai pun kemungkinan besar dalam waktu 10 tahun ke depan cuman tiga pilihan. Made in China, made in India, atau made in Vietnam. They are going to be the factory of the world. Suka enggak suka, inilah globalisasi. Nah, buat negara-negara yang enggak siap, ya harus siap tertekan karena akan terjadi ketidakstabilan. Sekarang udah jelas ya, Amerika Serikat aja sekarang manufacturing-nya sudah tidak kompetitif lagi. Jangankan Amerika, negara-negara Barat, negara Jepang udah enggak kompetitif lagi kalau bicara manufacturing, they are going to lost a lot of jobs. Jadi, Teman-teman akan saksikan itu di Indonesia gimana? Udah jadi fakta. Bahkan di negara kita sibuk menghancurkan sendiri supaya makin banyak pabrik-pabrik yang kabur ke luar negeri. Mulai dari peraturan yang enggak jelas berubah-rubah, mulai dari ormasnya, mulai dari palak sana, palak sini, mulai tidak kestabilan harga energi, gasnya, buat pabriknya bisa operate dan lain sebagainya. Ada begitu banyak cara buat bikin investor takut investasi di negara ini. Gila. Tapi ya itu menjadi kenyataan dan apa yang dibilang Lawrence Wong ya, globalisasi itu hal yang tidak bisa dihindari. dan pasti akan terjadi. Tetapi sekarang dampaknya akan semakin ekstrem. Kenapa? Karena ada konflik di Eropa, Ukraina, Rusia. Ada konflik di Timur Tengah, Iran, Israel, Palestina, Hoti, Yaman, Hezbola, Lebanon dan lain sebagainya. Nah, kekhawatiran di dunia ini khususnya di sektor keamanan akan semakin meningkat. Ini kode juga ya, berarti lu bakal semakin cuan. Kenapa bisa? Karena normal-norma global itu mulai berubah, Guys. Jadi, zaman dulu mereka punya institusi yang kuat. Kita punya polisi yang super power namanya Amerika Serikat. Kita punya aturan hukum internasional. Semua sepakat untuk menggunakan itu. Tetapi sekarang semua udah main hajar dewek. Amerika Serikat melanggar konstitusinya sendiri. Ngebom negara lain tanpa ada persetujuan kongres. Seenak jidat aja. Israel ngebantai orang-orang di Palestina seenak jidat aja. Hukum internasional ada enggak? Ada. Pengadilan HAM ada di Denhak ada. Api apakah hari ini ada? Lu lihat Benjamin Netanyahu dihakimi, diadili karena pembantaian terhadap anak-anak kecil, sipil yang enggak berdosa di pasti. Enggak ada. Artinya di sini lu bisa lihat tatanan dunia ini sudah berubah, udah enggak ada moralitas, sudah enggak ada hukum internasional. Yang ada adalah siapa yang kuat dia menang, lu yang lemah siap lu dibantai, mati diinjak-injak. Dan ini kenyataan bahwa aturan-aturan norma hukum, hal-hal di tataran global yang dulu itu sangat kuat, sangat dihargai institusi ini, tapi sekarang semakin melemah. Institusi-institusi global makin melemah, peraturan-peraturan polisi dunia, polisi internasional semakin melemah. Bahkan karena ada semangat nasionalisme ekonomi, jadi orang-orang semua sekarang berlagak patriot, berlagak nasionalis, terutama di Amerika Serikat. Ini akan menggantikan rezim perdagangan global yang dulu itu penginnya ya kerja sama, bikin kerja sama yang saling menguntungkan. Sekarang enggak. Mereka pikirkan dirinya sendiri. Amerika Serikat menyatakan perang dagang terhadap seluruh dunia demi keuntungannya sendiri. Jadi dia enggak lihat lagi partnership ini harus saling menguntungkan, enggak. Apa untungnya buat rakyat Amerika Serikat? Lu bisa lihat ini dan lu bisa koreksi ini sesuka hati lu. Tetapi ada sisi positifnya juga loh. Apa? Setidaknya rakyat Amerika Serikat punya pejabat yang memikirkan kepentingan rakyatnya. Rela dia bela mati-matian kepentingan rakyatnya. Rela dia menjadi musuh seluruh dunia supaya rakyatnya menang. Fakta. Jadi lu suka enggak suka. Beruntunglah orang-orang yang menjadi rakyat Amerika dibela oleh para pejabatnya. Kalau lu menurut lu pejabat lu belain lu atau sibuk jualin lu biar dapat duit? Karena lu cuman komoditas suara, komoditas politik, fungsi lu adalah budak untuk memperkaya mereka. Apa ya begitu ya? Enggak tahu lu. Yang lebih tahu lah. Anyway, buat negara-negara kecil nih, konteksnya Singapura yang kita mau ngomongin ya. Lawrence Wong nih, Perdana Menteri Singapura. Dia bilang Singapura juga enggak bakal lolos dari ini. Bahkan makin tergencet karena perubahan dunia ini begitu cepat, begitu ekstrem, dan negara kecil seperti Singapura sudah pasti akan terdampak. Dan mereka sangat khawatir, Guys. Mereka sangat aware dengan perubahan dunia ini. Jadi, mereka enggak punya pilihan. Bahkan mereka harus segera membuat keputusan-keputusan yang strategik, perang-perang kecil. Kenapa? Karena kekuatan mereka terbatas. Ingat ya, negara Singapura ini secara geopolitik, secara wilayah, secara ekonomi ya di Asia Tenggara ya dia kecil. Tetapi Singapura ini punya kelebihan. Dia memiliki interkoneksi. Interkoneksi perdagangan internasional. Semua kapal-kapal di dunia kemungkinan besar lebih dari 50% pasti lewat Singapura. Mereka punya interkoneksi penerbangan internasional juga. Pesawat-pesawat transit di Singapura. Bukan di Jakarta, bukan di Medan. Enggak. Aliran duit pun di Asia Tenggara hub-nya transitnya ya di Singapura ya. Semua perusahaan di Indonesia lu lihat batu bara kek, sawit kek. Lu kira perusahaannya ke mana? Holding company-nya ya di Singapura. Jadi mereka udah berhasil mengetahui kita enggak punya batu bara, kita enggak punya emas, kita enggak punya tambang, kita enggak punya oil and gas, kita enggak punya wilayah yang besar, kita enggak bisa tanam sawit. Apa yang kita punya? Manusia. Berarti kita harus main pintar. Dan mereka berhasil memposisikan Singapura menjadi pemain besar di dunia ini. Lu bayangkan. Dan Singapura gua yakin akan semakin mengambil upaya untuk menjalin kemitraan dengan negara-negara di dunia. Mau lu penjahat perang, mau lu koruptor, mau negara lu komunis, mau negara lu kapitalis, mau negara lu agamis, mau negara lu ateis, lu bisa berdagang, berbisnis bersama Singapura dan Singapura akan menjadi mitra yang fair. Dan gua sangat yakin apa yang dibilang dia ini benar sama Lawrence Wong buat Singapura negara sekecil itu dia punya keunggulan yang Indonesia enggak punya. Hai, gua Benix, the CEO of Benix Investor Group. Dengan lu bergabung bersama Benix Investor Group, lu bakal dapat ilmu investasi saham selama 1 tahun penuh. Dan bukan cuman itu, lu bakalan dapat strategi rahasia cuannya Benix ratusan bahkan ribuan persen cuma dari saham. Di Benix Investor Group, lu bakal dapat begitu banyak pelajaran investasi selama 1 tahun ke depan, Guys. Mulai dari sharing saham yang bagus bareng Benix setiap bulannya. Kita juga bakal update portofolio Benix dan kita juga akan membedah laporan keuangan setiap bulannya. Yang paling seru, kita juga bakal mengunjungi nih emiten-emiten yang ada di ISG supaya lu bisa ngecek langsung ini saham perusahaan bagus, perusahaan bodong atau perusahaan sampah. Kalau gua sih jelas gua enggak mau beli saham-saham perusahaan sampah. Nah, kalau lu gimana lu udah yakin portofolio Sam lu udah bersih dari saham-saham perusahaan sampah ini? Kalau belum, mendingan lu segera sapu bersih deh kayak siem ini. Tahun lalu gua dan teman-teman di komunitas Sambenix saja udah cuan ratusan pers nih, Guys. Ini dari saham ANJT. Bisnisnya simpel banget, cuma jualan minyak goreng kelapa sawit. Lu juga pakai di rumah lu, ya? Enggak, N? Iya, Pak. Ini juga pakai. Eh, stop, stop, stop, stop. Ini mah saham gorengan bahaya, Guys. Kolesterolnya tinggi. Lu masih suka buang-buang duit, beli saham gorengan? Hasil rekomendasi grup sambodong di sebelah yang hobinya jualan candlestick. Goblok, berhenti, Bro. Itu sih bukan investasi, itu judi. Dan kalau lu masih belum join sekarang juga, Guys, lu itu udah rugi banget. Soalnya tahun ini aja kita udah cuan 50% lebih loh dari saham parkiran mobil yang namanya IPCC. Jadi buat apagi L ragu bergabung di komunitas saham Benix Investor Group. Soalnya guys, tahun ini aja kita udah punya list saham-saham yang berpotensi memperkaya kita semua. So, tunggu apaagi, Guys? Kalau lu mau cuan, segera daftarkan dirimu di komunitas saham Benix Investor Group sekarang juga. [Musik] Gua sangat yakin apa yang dibilang dia ini benar sama Lawrence Wong buat Singapura negara sekecil itu dia punya keunggulan yang Indonesia enggak punya. Indonesia negara besar, penduduknya juga banyak tidak gesit, lambat. Sekali bikin kebijakan di Indonesia Tengah, pasti nanti ada yang demo di Indonesia Timur. Sekali bikin kebijakan yang baik buat rakyat Jakarta, pasti nanti ada yang protes di Kalimantan atau di Sumatera. Jadi enggak bisa lu satukan. Nah, Singapura punya keunggulan. Dia negara kecil, dia bisa bergerak gesit. So, dengan perubahan peraturan global ini gua yakin justru konflik dunia ini, konflik global ini kalau Sane Lawrence wang mainnya cantik, dia justru akan bisa memanfaatkan mitra-mitra dagang yang lebih banyak lagi, kerja sama yang lebih strategis lagi dengan WEF World Economic Forum. Ini contoh yang paling gampang apa gini ya. Kalau Indonesia gagal mendapatkan tarif yang bagus dengan Amerika Serikat dan Singapura berhasil mendapatkan tarif yang bagus dengan Amerika Serikat, apa yang terjadi? Akan makin banyak orang Indonesia yang kalau mau ekspor ke Amerika Serikat dia lewat Singapura. So, Singapura cuan lagi. Mereka pun sebaliknya. Kita mau impor, kita akan ambil barang dari Singapura. Hari ini aja kita impor minyak dari Singapura. Hebat enggak Singapura? Hebat banget. Hari ini aja pun kalau lu mau buka usaha, investasi butuh dana, duitnya dari mana? Dari Singapura juga. Singapura adalah investor asing yang paling besar di Indonesia. Begitu besarnya investasi Singapura, lu tahu yang namanya Cina, Amerika Serikat ya duitnya banyak, lu tahu juga Jepang. Ya, mereka juga kalah. Kenapa? Sebetulnya bukan karena Singapura kebanyakan duit juga enggak. Karena orang Jepang kalau mau invest ke Indonesia dia takut, Guys, hilang ini duit. Jadi dia parkir dulu transit di Singapura. Orang Cina pun begitu takut. Nanti pabrik gua dinasionalisasi dan nanti duit gua kena sikat nih sama pejabat Indonesia. Apa yang dilakukan? Transit dulu di Singapura. Semuanya transit di Singapura. Jadi, seolah-olah kita lihat bahkan sampai detik ini Singapura lebih percaya daripada Indonesia. Nah, kalau Singapura bisa memainkan perannya lebih strategis lagi, justru dia bisa mendapatkan cuan yang begitu besar di tengah prahara dunia ini dengan menjadikan Indonesia budak Singapura. So, kita bisa lihat, kita bisa saksikan aja bagaimana Lawrence Wong bisa membawa Singapura lebih maju lagi. Menarik nih, karena Singapura bisa cuan gede nih. Dia bisa memanfaatkan kelemahan institusi di Indonesia yang bukannya berkembang jadi tambah baik, tapi malah tambah hancur gitu loh. Jadi, ini adalah peluang nih buat negara asing. Next. And then we have for the first time a major war in Europe uh happening. Who worried are you for the future that we could again see uh wars happening? And even if you're seeing sluggish economic growth today, just imagine if if the war between Israel and Iran had spread and a closure of the straight of harmos would have happened it would have had devastating consequences. What can we do to mitigate uh the risks? and NATO meeting is happening now and they're increasing their aspirations to 5% of GDP to the military. Who would have thought that it was controversial last time I was at the NATO meeting, it was controversial to go up to 2%. Yes, as I said just now it's a different world because cumulation of discontent against globalization as well as a combination of recent experiences with COVID and security concerns have led to a situation where today security is a paramount concern of many countries and so it's not just about military spending it's about more resilient more secure supply chains for fear that along the way um if something were to happen if Bush comes to shaft I need the supplies but it's not forthcoming and no country wants to end up in that position. So it's understandable that countries are concerned, governments are concerned and respond responding to this concern but I think we should have a care about abandoning the concept of economic integration because integration cannot guarantee peace but I think it certainly gives us a better chance for peace than a me first approach. The more countries prioritize their own private national interest and allow the common global or shared interest to go down the drain, the more we will all be worse off. That lesson is so clear from history. So, let's not repeat the mistakes of history. Oke, menarik tuh yang dibilang sama Lawrence. Jadi, dia bilang keamanan negara itu menjadi perhatian ya, perhatian utama bagi banyak negara di dunia. Bahkan seluruh negara ya. Kalau dia punya akal sehat, dia bakal mementingkan soktar. keamanan negaranya, keamanan rakyatnya. Ini bukan cuma soal tentang belanja militer nih atau penguatan tentara, enggak. Tapi melainkan juga termasuk meningkatkan keamanan supaya negara itu bisa lebih tangguh, lebih resilien untuk mengamankan rantai pasoknya. Jadi, dia ngomongin soal ketahanan pangan, dia ngomong soal ketahanan energi, dia ngomong soal logistik. ini akan semakin krusial, ini akan semakin penting. Dia sempat komen tentang European military spending yang kemudian ditargetkan naik ke 5% loh dari GDP mereka. Kalau seandain itu benar-benar terjadi, ini bakal heboh. Karena tadi pembawa acaranya bilang ya, tahun lalu kalau mereka bicara soal military spending, jangankan naik ke 5%, naik dari 1% ke 2% aja sipil itu pada heboh. Ini kita mau perang, kenapa dana dipakai buat memperkaya jenderal-jenderal apa segala macam. Enggak. Waktu itu memang jadi hal kontroversial, tapi sekarang enggak. Sekarang malah rakyat-rakyat itu setuju. Banyak negara-negara Eropa yang belanja senjata lebih banyak lagi karena mereka mau bersiap-siap mengamankan negaranya di era perang dunia 3. Nah, di sini Lawrence juga bilang nih bahwa ya dunia nih kita semua nih harus lebih hati-hati lagi, Guys. Kenapa dunia harus lebih berhati-hati? Karena semakin banyak negara-negara yang mau meninggalkan konsep integrasi ekonomi atau integrated ekonomi mereka. Ini salah satu yang bikin ekonomi Eropa itu bisa maju ya karena mereka menerapkan IEC itu. Jadi ekonomi di Eropa itu dibikin terintegrasi satu mata uang, satu zona pabean, kalau bisa bahkan satu sistem pajak. Ini semua disamaatakan karena mereka mau mengintegrasikan ekonominya dengan harapan menghindari terjadinya perang dunia 3 supaya makin damai. Eropa tercipta enggak? tercipta. Perang dunia 1 meletus di Eropa. Iya. Perang dunia 2 meletus di Eropa, perang dunia 3 tidak ada. Karena apa? Ekonomi mereka sudah saling terikat. Maalui Itali, Jerman, Spanyol sudah saling membutuhkan satu sama lain. Jadi sistem itu jalan. Iya. Nah, sekarang orang mau berjalan sendiri-sendiri. So, kalau makin banyak negara-negara yang mengurangi atau makin banyak negara-negara yang menghilangkan hubungan dagang mereka, menghilangkan hubungan ekonomi mereka, ini akan mencegah terjadinya perdamaian dunia, malah akan mempercepat perang dunia. Menurut Lawen Swong. Di sini gua sepakat karena kalau lu lihat sejarahnya Uni Eropa, Jerman lawan Polandia lah, nanti Jerman perang lagi lawan Prancis lah, Prancis perang lagi lawan Italia lah dan lain segala macam. Udah gitu-gitu ajaal negara Eropa. Tapi itu semua hilang kan? Perang Napoleon lah, perangnya si Bismark lah, itu semua udah hilang sejak terjadinya integrasi ekonomi under European Union itu. So, ini menarik nih. Nah, Lawrence sudah bilang itu berulang kali bahwa kalau seandainya makin banyak negara yang jalan sendiri-sendiri yang hanya memprioritaskan kepentingan negaranya sendiri ya, maka ya masalah global itu bakal makin parah. Dan ini sudah sangat jelas terjadi dalam sejarah tadi yang gua contoh-contoh negara Eropa berperang tapi itu semua hilang sejak mereka menjadi integrated economic union ya itu akan hancur dan ada kemungkinan sejarah ini terulang kembali. Makanya dia bilang kalau bisa sih sejarah itu jangan terulang kembali lah. Si Singapura ternyata enggak mau. Padahal mereka bisa untung gede loh dari situ, Guys. Next. Coming back to um the tariffs and and trade uh what has uh your dialogue with the US administration been so far? Uh what is Singapore faced with? Oh, we got 10% terrorist. That that is relatively good deal though isn't it? I heard about 140% but I think that's 50 is not well from I mean if you look at the facts we have an FDA with America America has a surplus with us um so on the basis of the FTA and the fact on the trade balance we should have a zero tariff not a 10% tariff um but I think America has decided that 10% is their baseline tariff and they are probably not going to go below 10% so we have been engaging the officials but that I think is the sort of mindset at this stage but I know that other ASEAN countries have higher tariff than us and they have been also engaging their American counterparts and we hope in time to come when America decides makes a decision on the reciprocal terroris that you will be able to bring them down at least closer to 10% if not 10% if indeed 10% is going to be the baseline applied to all countries and I think it's also important to remind ourself that you know we're getting used to 10% but this is very high it's three times higher than it used to be on average uh from the US so it's uh it's already quite uh substantial that's why I've said that uh we are in a new era where there will be more barriers to trade and we have to accept these realities not that we think it's a good idea but these are the realities that we have to work with and in the meanwhile countries that would like to promote and advance the agenda for free trade should come together and work in different formats, different platforms whether regional or plurilateral platforms to advance the agenda for free trade and Singapore will be the first to lead the charge on this. Oke, di sini pintar nih Lawrence Wang nih gua tahu dia sebenarnya happy karena Singapura itu cuma dapat rate 10%. Kenapa dia harusnya happy tapi dia ahli propaganda, Guys. Ahli diplomasi. karena dia tahu negara terbesar di ASEAN yang namanya Indonesia itu kena tarif jauh lebih tinggi dari itu. Ada kemungkinan Indonesia kena tarif di atas 30%. Nah, kalau itu benar-benar terjadi ya Indonesia akan semakin menjadi budaknya Singapura dan akan semakin memperkaya Singapura. Karena tadi yang gua bilang ya alur dagangnya ya kita bakal ekspor ke Singapura. Dari Singapura ekspor ke Amerika Serikat. Menarik nih, hebat nih Lawrence Wong actingnya nih. Anyway, dia pun masih komplain kalau Singapura itu kena tarif 10% karena dia tahu Singapura sama Amerika Serikat itu punya free trade agreement, perjanjian perdagangan bebas ya. Nah, Amerika itu karena ada free trade agreement itu malah justru surplus dagang. Jadi di tahun kemarin tahun 2024 ini kita sudah cek dagangnya Amerika Serikat itu surplus sampai 45 triliun. Artinya Singapura justru lebih banyak impor barang dari Amerika Serikat dibandingkan Amerika Serikat impor barang dari Singapura. So menurut Lawrence ini memang diplomat sejati. Dia bilang even 10% pun kemahalan. Harusnya 0%. Sebetulnya harusnya bahkan Singapura yang ngasih tarif buat barang-barang Amerika Serikat. Karena Amerika Serikat yang lebih butuh Singapura buat buang barang-barang mereka dari Amerika ke Singapura. Tapi hebat ini diplomasinya Lawrence Wong nih. Pintar dia. Pintar karena dia sangat diuntungkan dengan nilai 10% ini. Ini sama kayak teman gua. Ada teman gua pengusaha ya dapat bunga dari bank. Kalau ketemu ngumpul-ngumpul sama pengusaha, "Wah gua sedih banget. Bunga gua gede banget gitu." Orang-orang kan suka ngomong gitu. "Lu bunga berapa?" "1%. Lu berapa? Lu 11% gitu." Ada orang nih dia cuma bunganya 9%, ya. "Gua juga bunga gua gede, lu berapa? 9%." Tapi ngeluh aja dia walaupun bunganya udah paling kecil dibanding semua orang, tapi itulah pengusaha selalu cari cela. Kayak Lawrence Wong sendiri dia bilang, "Ya 10% ini juga udah banyak. ini sudah naik tiga kali lipat karena sebelumnya Singapura itu bahkan tarifnya ya di bawah 3% lah. Jadi ini negosiator yang handal lah. Dan dia bilang ya saat ini kita memang sudah memasuki era baru, Guys. So dia yakin akan makin banyak negara-negara yang bikin hambatan-hambatan dagang baru. Jadi ya kita harus lebih peka terhadap hambatan-hambatan itu, Guys. Nah, dia juga bilang ya, oke, ada negara yang makin menutup diri, ada negara yang makin nasionalis, makin patriotis secara ekonomi. Tapi buat negara-negara yang masih punya cinta, masih punya semangat menjalankan agenda perdagangan bebas, menurut Lawrence Wong itu harus datang work together, bekerja sama, bersatu padu untuk memajukan program perdagangan dunia. Jadi harus punya agenda yang sama. Dan dia pengin dan dia akan lakukan ini kok dia bocorin ya strategi Singapura. Singapura bakal menjadi negara yang menjembatani terjadinya hal tersebut. So, ini menarik nih. Singapura akan menjadi negara hub perdagangan dunia buat negara-negara yang diasingkan oleh Amerika Serikat. Hebat banget dia. Udah dia dapat tarif rendah, dia juga yang jadi penyelamat buat negara-negara yang bakal bangkrut atau dirugikan dari perang tarif Amerika Serikat. Hebat, hebat, hebat, hebat. Nah, kalau menurut kamu gimana, Guys? Menurut kalian perang dagang dari Donald Trump ini 1 minggu lagi loh deadline-nya Indonesia bisa dapat good deal enggak? atau malah justru bad deal ya, makin parah ya. Karena kan terakhir posisi kita itu ada di sedikit di atas 30% kalau enggak salah ada di 32% tarif untuk barang-barang Indonesia yang masuk Amerika Serikat. Artinya tiga kali lebih mahal dibandingkan Singapura. Nah, kalau ini betul terjadi, kalau tim negosiator kita terbukti cap kaki lima dodolin ajaib ya harus siap-siap. Indonesia tadi yang gua bilang akan makin banyak kebocoran karena produk kita menjadi tidak kompetitif. Salah satu cara supaya kita menjadi lebih kompetitif ya, kita ekspor barangnya ke Singapura. Terus dari Singapura ke Amerika. Lumayan loh diskon jadi 30% turun menjadi 10%. Hebat ya. Nah, satu hal yang paling penting guys, kira-kira nih Amerika bakal mendengarkan enggak ya permintaannya Lawrence Wong supaya tarif Singapura turun dari 10% ke 0%. Wah, kalau ini terjadi memang ini pedagang tulen nih. Jago banget nih Lawrence Wong nih. Dan ya siap-siap ya Indonesia akan kembali menjadi budak Singapura. Menurut lu berhasil enggak ya negosiasi Singapura? Singapura masih mau turunin loh dari 10% ke 0%. Hebat banget ini Singapura nih. Keren, keren, keren. Dan yang paling penting, Guys, apa ya yang bisa ditawarkan oleh tim negosiator Indonesia ya supaya kita tarifnya jangan 32% dong, turunin dong 10% dong. Menurut kalian apa yang harus digadaikan ya oleh negara kita? supaya bisa mendapatkan fasilitas yang sama seperti Singapura. Yuk, segera tuliskan pendapat kamu di kolom komentar di bawah ini. Apakah kita kasih Papua ke Amerika Serikat? Apakah kita kasih konsensi tambang ke perusahaan-perusahaan Amerika Serikat? Atau ada yang lebih menarik lagi, yang lebih seksi supaya Indonesia makin dicintai oleh Amerika Serikat. Atau jangan-jangan enggak usah, biarin aja. Kita kena tarif 32% kita cari mitra dagang yang lain. Kita mandiri dong. Lu lebih suju gitu gimana? kasih pandangan kalian di kolom komentar di bawah ini, Guys. Dan jangan lupa like, share, and subscribe ya channel Benix. Semoga video ini bermanfaat. Salam sehat, salam cuan. Bye- bye. [Musik]
Resume
Categories