Transcript
27FmNOPcpzI • THE INDONESIAN ECONOMY IS SLUMBERING!! PUBLIC PURCHASING POWER IS DECREATING!! IS THE MIDDLE CLAS...
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0406_27FmNOPcpzI.txt
Kind: captions
Language: id
Guys, ngeri banget nih, Guys. Ada
rombongan-rombongan di Indonesia yang
digerakkan secara khusus untuk
menghancurkan perekonomian Indonesia.
Teman-teman tahu, ekonomi kita itu
berbasis konsumsi loh. Tetapi sekarang
ini fenomena sangat aneh. Karena kan
banyak orang yang bilang, "Ya, ekonomi
Indonesia itu baik-baik saja, Bro.
Tambah kaya. Buktinya mall-mall banyak
yang ramai setelah pandemi. Habis
pemilu, bahkan banyak orang yakin
kunjungan mall bakal naik 20%. Apalagi
kemarin sebenar ada Ramadan dan lain
sebagainya. So, kalau seandainya semua
berjalan lancar, seharusnya kan
everybody is happy. Tapi faktanya hari
ini banyak pengusaha mall yang menangis.
Kenapa mereka menangis? Karena ada
tersangka yang begitu kejamnya
menghancurkan bisnis-bisnis ritail di
Indonesia. Ya, inilah orang-orang Rojali
alias rombongan jarang beli. So, kalau
lu penasaran ya gimana strategi Rojali
ini dalam menghancurkan perekonomian
kita, lu jangan skip video ini. Let's
check this out.
So, Teman-teman, sebelum kita bahas
lebih spesifik ya tentang bisnis mall,
sebelumnya kita suka bahas tentang
kehancuran bisnis rokok. Dan teman-teman
kan udah lihat ya, banyak perusahaan
rokok terbukti ya ramalan gua terbukti
benar sama-sama yang berhubungan dengan
gudang garam Sampurna itu ya tambah
nyungsep. Salah satunya biang keroknya
sama guys gara-gara si Rojali ini rokok
jarang beli ini nih. Ini betul-betul
jahanam guys. Betul-betul nih mereka ini
menghancurkan banyak bisnis di
Indonesia. Dan sekarang tersangka utama
kita ya Rojali ini ekspansi guys.
Kemarin habis bikin bangkrut pabrik
rokok. Sekarang Rojali itu pengen bikin
bankruk pengusaha mall. Kenapa ya?
Karena ini momentumnya lagi bagus ya,
prahara terkait kebijakan pemerintah,
prahara terkait ekonomi dunia, mungkin
juga gara-gara Donald Trump ya
memotivasi Rojali ini buat bikin
kehancuran di mana-mana. Tapi satu hal
yang jadi fakta adalah terlepas dari
orang bilang, "Oh, ekonomi Indonesia
tambah baik, tambah bagus, tambah
meroket." Ya, faktanya menunjukkan
khususnya buat pelaku bisnis ril ya
ternyata mengerikan. Contoh kamu bisa
lihat di layar kaca baru saja nih
matahari tutup dua toko dalam sebulan.
Lalu kemarin ada juga nih fresh nih from
the oven Transmart di Indonesia hanya
tersisa 18 toko doang bahkan yang di
Bogor berubah nih kayak Power Rangers.
Tadinya Transmart jadi Great Mall. Gua
kira cuma Power Ranger yang bisa berubah
bentuk ya. Ternyata transfer juga bisa
berubah, Guys. Lalu kita lihat lagi
orang terkaya di Indonesia punya bisnis
range market, toko buat barang-barang
groceries yang mahal-mahal itu merugi.
Jadi enggak heran sudah ada tujuh toko
range market, toko retail milik orang
terkaya di Republik Indonesia yang resmi
tutup. Dan yang paling baru kemarin kita
juga udah bilang ya, pengusaha Korea kan
lagi banyak yang dikerjain ya di
Indonesia, bukan cuma Hyundai loh. Nah,
anyway ada pengusaha retail khusus
jualan groceries juga namanya GS. GS
Retail, GS The Fresh, GS Supermarket,
mereka juga resmi tutup. Jadi ada GS
Supermarket, ada Lulu Hypermarket resmi
juga tutup. Kok bisa semua kompak tutup
nih para pengusaha ril? Ada yang bilang,
"Ya mungkin tutup karena tempatnya sepi,
Pak. Kayak kuburan kosong melompong."
Oh, kalau gitu wajar ya. Berarti kan
sekarang yang datang penuh bukan lagi
penuh dengan pembeli, tapi penuh dengan
roh halus. Roh halus itu apa? Rombongan
hanya ngelus. Jadi beli kagak ya, mereka
datang ngelus-ngelus doang. Bingung juga
gua. hobinya aneh, hobi ngeluse. But
anyway, ya kita faktanya karena market
tidak pernah bohong di layar kaca, kamu
bisa lihat ya sahamnya MAP Mitra di
Perkasa to date itu sudah minus 14%.
Lalu ada lagi aspirasi hidup Indonesia.
Anyway, ya itu dia sudah minus 36%.
Terus ada lagi DFI Retail Nusantara ini
sudah minus 24%.
Jadi buat teman-teman yang menganggap
remeh ya fenomena Rojali ya. Rojali ini
memang tersangka yang luar biasa
terkenal lah. Udah dari bertahun-tahun
lalu gua bilang hati-hati ya dengan
orang yang sukanya itu ngerokok gratis
ya. Tias rokok jarang beli ya. Udah
pasti dia ini musuhnya Sumitro nih. Lu
tahulah si suka minta rokok. Yang satu
jarang beli rokok, yang satu sukanya
minta rokok. Berantemlah mereka ini.
Intinya orang-orang romantislah hubungan
kedua manusia ini. Rokok makan gratis
sedih. Mereka berhasil membuat banyak
pengusaha rokok di Indonesia
kalangkabut, gulung tikar dan sahamnya
minus gratis. Makanya lu enggak usah
bingung kalau udah dari bertahun-tahun
lalu gua udah bilang ya harga saham
Sampurna itu bakal jatuh di bawah 900.
Hari ini jadi kenyataan. Nah, tapi ya
udahlah itu kan bisnis rokok di
Indonesia. Sekarang kita mau ngomong
target baru Rojali ya. Rojali sudah
sukses menghancurkan pengusaha rokok.
Sekarang Rojali mau menghancurkan
pengusaha retail, pengusaha mall.
Pertanyaan utama, kenapa banyak retail
yang gulung tiker? ya. Padahal kata
mereka data menunjukkan mall itu banyak,
semakin ramai dikunjungin. Sebetulnya
sedang terjadi fenomena apa ini, Guys?
So, kalau lu penasaran guys, jangan lu
skip video ini karena ada delapan alasan
yang menyebabkan banyak pengusaha mall
retail modern yang gulung tiker. Dan
kalau lu bisa manfaatkan peluang ini, ya
tentu lu bisa ambil cuan yang besar dari
bisnis ini. So, guys, ada delapan alasan
ya, kenapa makin nyungsep nih pengusaha
ril, pengusaha mall di Indonesia. Alasan
yang pertama, ketika kunjungan ke
pusat-pusat belanja mall-mall shopping
center ini naik, tetapi kok banyak yang
bangkrut. Ternyata alasan pertama karena
daya beli melemah. Nah, Teman-teman tahu
data menunjukkan kenaikan pengunjung itu
memang terjadi di tahun 2025 ini. Jadi,
secara tahunan pengunjung ini sudah naik
10%. Bahkan diperkirakan sampai akhir
tahun pengunjung mall itu bisa naik lagi
sampai 20 hingga 30%. Tetapi sayangnya
ini bukan berarti transaksi juga ikut
naik karena ternyata daya beli justru
menurun khususnya yang kejadian di kelas
menengah. Karena daya belinya berkurang
maka uang yang dipegang semakin sedikit.
Tetapi mereka tetap pengin pergi ke
mall, cuci mata, menikmati AC yang
dingin sehingga mereka tetap datang ke
pusat-pusat perbelanjaan seperti
mall-mall favorit kamu. Makanya ya
menurut data Asosiasi Pengusaha Pusat
Belanja Indonesia alias APPBI memang
menyatakan bahwa jumlah kunjungan ke
pusat belanja naik, tetapi pola
belanjanya sudah berubah karena sekarang
mereka enggak lagi mau belanja di mall.
Dan penurunan daya beli ini sebetulnya
udah tercermin, Guys, dari penurunan
inflasi inti di Indonesia. Ingat ya,
Guys. Di Indonesia itu punya tiga jenis
inflasi umum. Nah, jadi pada umumnya
inflasi di Indonesia itu dibagi tiga.
Yang pertama itu inflasi at administered
price. Jadi inflasi karena faktor
pemerintah menaikkan harga-harga yang
bisa disetel sama pemerintah. Contoh,
kenaikan harga BBM. Begitu harga BBM
disetel pemerintah naik, pasti inflasi
juga ikut naik. Ketika harga tol dibikin
naik, harga listrik dibikin naik, pasti
semuanya ikut naik. Jadi, administer
price itu adalah inflasi yang memang
settingan dari pemerintah. Nah, yang
kedua itu ada inflasi dari volatile
food. Jadi, Teman-teman kalau lihat
harga bawang, harga beras, harga makanan
itu naik atau turunnya karena ya harga
bahan pokok sembako utamanya itu dicatat
sebagai inflasi volatile food. Nah, yang
penting apa? Yang penting itu adalah
inflasi yang ketiga. Yang ketiga adalah
inflasi inti. Nah, ini yang kita mau
bahas. Karena inflasi inti ini adalah
refleksi dari permintaan yang
sesungguhnya. Ketika inflasi inti naik
berarti memang ada kenaikan demand,
hukum supplyan demand aja. Tetapi ketika
inflasi inti turun berarti enggak ada
orang yang mau belanja, demand-nya
berkurang. Dan ini secara faktual
terjadi karena berdasarkan data yang
kita punya, penurunan di inflasi umum
faktanya memang naik. Di bulan Juni itu
1,87%.
Tetapi di bulan Juli naik menjadi 2,37%.
Jadi betul secara umum naik nih inflasi
umum ini naik dari 1,8 sekian pers.
Tetapi ketika kita membahas inflasi
inti, inflasi inti ternyata tidak naik,
Guys. Karena faktanya inflasi inti di
bulan Juni nilainya 2,37%.
Tetapi di bulan Juli inflasi inti justru
berkurang ke 2,32%.
Dan ini sebetulnya terus-menerus turun
trennya karena di bulan April aja
inflasi inti itu sebetulnya 2,5%. Nah,
inflasi inti ini yang penting buat kita
lihat karena apa? Dia merefleksikan
demand. Jadi seandainya kalau inflasi di
volatil food naik terus, betul
teman-teman kan menyaksikan ya harga
bahan pangan di Indonesia naik terus,
naik terus, naik terus. Betul terjadi
inflasi. Betul. Tetapi secara
keseluruhan kalau kita lihat inflasi
intinya itu justru menurun. Artinya ada
pengurangan pembelian. Wah menarik nih.
Karena ini memberikan sinyal bahaya,
Guys, buat Indonesia yang bercita-cita
mempunyai GDP pertumbuhan ekonomi kita
8%. Nah, Teman-teman tahu ya GDP itu
faktornya ada empat. Yang pertama
konsumsi, yang kedua investasi, yang
ketiga government spending, pengeluaran
pemerintah, dan yang terakhir ekspor
yang harus lebih besar dari impor kalau
kita mau pertumbuhan yang positif terus.
Nah, Indonesia yang paling penting di
mana sih dari empat komponen pertumbuhan
ekonomi ini? Ternyata komponen terbesar
adalah yang nomor satu, konsumsi. Data
menunjukkan di tahun 2024 konsumsi itu
menyumbang 54%
terhadap pertumbuhan GDP. Makanya kalau
teman-teman bilang negara Indonesia
pertumbuhan ekonominya berbasis
konsumsi, betul enggak? Betul sekali.
Karena 54% pertumbuhan ekonomi di
Indonesia disumbangkan oleh konsumsi,
khususnya konsumsi rumah tangga. Wow.
Yang artinya kalau rumah tangga
mengurangi konsumsinya, kalau rumah
tangga bergabung dengan Rojali, ekonomi
kita bukan to the moon 8%, tapi bahkan
bisa di bawah 5%. Nah, ini yang kita
lihat dan kita cermati bahwa ini bisa
menjadi sinyal bahaya Rojali. dan roh
halus dan rohana bergabung menjadi satu.
Rombongan hanya nanya by the way
bergabung jadi satu akan makin berdampak
lagi terhadap pertumbuhan ekonomi
Indonesia. So, itulah alasan pertama
guys kenapa makin banyak rojali ya
rombongan jarang beli karena memang daya
beli berkurang. Dibuktikan dari inflasi
inti yang terus berkurang padahal itu
komponen penting terhadap pertumbuhan
ekonomi Indonesia. Nah, yang kedua apa,
Pak? Yang kedua ada perubahan pola
belanja, Guys. Ini sudah berulang kali
gua bilang ya. user, customer itu
pindah. Mereka dulu suka belanja
offline, tapi sekarang makin banyak
konsumen yang belanjanya online. Contoh
gua dulu kita beli perlengkapan kantor
kan datang fisik lihat kursinya, mejanya
segala macam. Sekarang kita buat beli
perlengkapan kantor aja online, semuanya
serba online. Beli laptop online, beli
meja online, beli beli baju online, beli
topi online. Apa yang beli offline?
Mungkin beli kendaraan kali ya yang
masih offline ya. Sekarang beli listrik
aja udah online, Guys. Beli pulsa aja
udah online. Lu masih ingat enggak zaman
dulu beli pulsa itu kita harus pergi ke
kios di pinggir jalan? ada loh masalah
itu loh. Ternyata sekarang semua udah
online dan ini terbukti secara data
karena lu bisa lihat di layar kaca ya,
fakta membuktikan sejak tahun 2019 itu
pertumbuhan transaksi e-commerce di
Indonesia itu terus-menerus naik tinggi.
Di tahun 2019 transaksi online cuma 205
triliun, tetapi di 2024 sudah tumbuh dua
kali lipat lebih menjadi 487
triliun. Jadi ini membuktikan bahwa
kenapa banyak mall-mall itu sepi ya?
Karena roh halus ya bisa jadi ya. Tapi
kalau ada mall yang ramai tapi
transaksinya sedikit kenapa? Karena
orang datang cuma ngelihat belinya nanti
di e-commerce terbukti dengan data. Nah,
yang ketiga apa data lagi kita ngomong?
Yang ketiga adalah big data dari Bank
Sentral Asia, Bank BCA, bank swasta
terbesar di Indonesia. Jadi kemarin baru
saja mereka mengeluarkan data yang
menunjukkan bahwa terjadi tren penurunan
belanja masyarakat hingga kuartal 2
2025. Nah, ini membuktikan ya karena
semakin sedikit masyarakat yang
berbelanja ini membuktikan makin banyak
warga negara Republik Indonesia yang
bergabung menjadi anggota Rojali. Nah,
menurut BCA ya, lemahnya daya beli
masyarakat ini membuat orang-orang yang
datang ke tempat belanja cuma untuk
jalan-jalan. Mereka tidak membeli
apa-apa. Kalaupun mereka belanja, mereka
akan pilih-pilih yang nilainya tidak
besar. Nah, menarik nih. Artinya kan
banyak orang yang pergi ke mall
berdasarkan data Bank BCA itu sebenarnya
cuma buat window shopping. Artinya di
sini ada perubahan gaya hidup, Guys.
Nah, di sini kita berbicara tentang
lifestyle karena ternyata sekarang
lifestyle itu terus berubah loh. Zaman
dulu itu ngetren kalau orang ditanya,
"Lu olahraga apa?" Karate, lu olahraga
apa? Tekondo cuma kan makin banyak orang
yang patah kaki, Guys. Jadi mereka pikir
ulang, "Gua mau olahraga apa ya?"
Upgrade lah orang dari sana olahraga
bela diri upgrade ke olahraga pedal hari
ini karena mereka enggak bisa patah
kaki, enggak bisa patah tangan. Yang ada
stres aja karena ternyata susah sama
kayak main tenis susah, Bro. Anyway,
lifestyle berubah, Guys. Jadi, lifestyle
berubah. Data penggunaan kartu kredit
itu juga menunjukkan perubahan. Kalau
zaman dulu banyak orang pakai kartu
kredit, belanja ke mall, beli baju, beli
tas, dan lain sebagainya. Tetapi saat
ini data menunjukkan orang pergi ke mall
cuma untuk nongkrong. Lihat-lihat pun
kalau transaksi adalah transaksi makanan
dan minuman. Makanya teman-teman akan
melihat bahwa terjadi perubahan tren
ketika pembelian barang-barang retail
itu menurun. Pembelian groceries,
aparel, sepatu, baju, aksesoris,
perhiasan itu menurun.
Ternyata di mall yang sama terjadi
peningkatan khusus untuk satu segmen
yang namanya FNB, food and beverage.
Makanya teman-teman jangan kaget kalau
banyak copy shop makin ramai tempat
makan, kafe itu makin ramai. Karena
memang data menunjukkan ketika semuanya
lagi pada turun tetapi penjualan FnB
justru naik bisa sampai 10%. So di sini
kita mempelajari satu pola baru terjadi
perubahan tren di masyarakat. Nah,
peluang ini contohnya udah banyak sih
yang ngambil ya. Kalau mall-mall
pengusaha yang gesit, mereka langsung
rubah tuh mall-nya. Tadinya konsepnya
kayak ITC atau konsepnya kayak pusat
belanja pada umumnya, sekarang dirubah
menjadi konsep good news nih, Guys. Buat
kamu para investor saham yang mau
bergabung di Benix Investor Group,
sekarang kita ada diskon khusus 17%
hanya untuk 17 orang pertama yang
mendaftar sebelum 17 Agustus 2025. Jadi,
kamu dapat diskon besar. Tadinya bayar
Rp50 juta untuk setahun, sekarang
tinggal R1 jutaan saja. So, tunggu
apaagi? Segera daftarkan dirimu sekarang
juga loh. Karena cuma di Benix Investor
Group kamu bisa datang investigasi
langsung bareng Benix. Namanya Big
Investigation. Seperti investigasi Benix
di perusahaan kelapa sawit yang ada di
Bangka Belitung, perusahaan yang ada di
Sumatera, perusahaan yang ada di
Kalimantan, di Sulawesi, lu bisa dapat
akses langsung ketemu dengan direktur
perusahaannya, ngobrol bareng sama
manajemen perusahaannya, bahkan lihat
langsung operasional perusahaannya
seperti apa sih. Ingat ya, investasi itu
kan real. Jangan sampai lu investasi
bodong. Itu namanya beli kucing dalam
karung. Makanya penting buat kalian bisa
ikut di Big Investigation. Bukan cuman
itu, Guys. Kita juga ada namanya Big
Gathering. Jadi, ini ngopi-ngopi bareng
santai lah. Kita selalu bikin nih ngopi
santai bareng Benix. Ada di Singapura,
ada di Jakarta, ada di Semarang, di
Jogja, di Bali, di mana-mana lah.
Teman-teman bisa ikut buat ngobrol
langsung tentang investasi kamu. Nah,
buat Teman-teman yang enggak bisa hadir
secara fisik, kita juga ada pertemuan
online. Jadi, sebulan ada tiga kali
every weekend live langsung sama Benix
bisa tanya jawab langsung soal
perjalanan investasi kamu. Kita juga ada
sharing, kamu bisa dapat rekamannya,
video-video edikasi khusus untuk Benix
Investor Group. Nah, yang seru kita ada
gala dinner. Next. Gala dinner itu di
tanggal 29 Agustus bulan depan. kamu
harus segera daftar karena kita akan
mengundang direktur dari perusahaan yang
omset-nya ribuan triliun, Guys, buat
berbagi ngobrol bareng gimana sih
strategi investasinya di tengah perang
tarif Donald Trump. Wow, emiten-emiten
apa aja yang siap atau bahkan enggak
siap? Tentunya sih dari setiap peristiwa
ada opportunity yang kita bisa dapat.
Makanya penting banget buat kamu bisa
join ke gala diner Benix setahun sekali
kita adakan next gala dinner di tanggal
29 Agustus 2025. Oke, guys. Segera
daftarkan dirimu sekarang juga. Ingat
ya, diskon 17% cuma untuk 17 orang
pertama yang daftar sebelum 17 Agustus
2025. Segera kunjungi www.benix.id atau
hubungi nomor yang ada di bawah ini
08113220886.
Yuk, segera gabung dan daftarkan dirimu
menjadi bagian dari komunitas saham
paling seru di Indonesia bersama Benix
Investor Group. Sekarang dirubah menjadi
konsep nongkrong. Bukan lagi banyak
pedagang baju, bukan lagi banyak
pedagang motor, tapi dibanyakin pedagang
tenan yang jualan makanan, yang jualan
minuman. Contohnya ada mall tuh yang di
dekat Semanggi. Gua enggak mau sebut
merek, tapi mall ini udah berubah. Dulu
dikenal sebagai mall yang sepi kayak
kuburan, sekarang jadi ramai. Berubah
nama menjadi mall nusantara. Bahkan
menjadi icon baru nih di Jakarta. Gua
udah datang ke sana dan gua juga kaget
sih dengan perubahan transformasinya di
sana. Ih, berubah banget ini tempat dan
memang faktanya jadi lebih ramai. Nah,
di sini teman-teman bisa lihat ya kalau
pengusaha yang adaptif melihat kesulitan
ini bukannya dia bermurung menangis di
pojokan kamarnya seperti Sincan tapi ya
dia berinovasi contohnya ya mall yang
ada di Semanggi itu guys. Nah, lalu yang
alasan yang kelima ini menarik karena
ini berhubungan dengan kita semua para
investor di Indonesia. Ternyata manusia
di Indonesia itu tambah cerdas. Mereka
udah berpikir eh dibanding gua ganti
handphone baru kan lewat 1 detik
langsung jadi handphone bekas harganya
turun. ya mendingan gu ini gua pakai
buat investasi. So terjadi perubahan
gaya hidup bukan hanya di bidang FnB
loh, tetapi juga di spending mereka
mengurangi spending-spending yang enggak
penting dan sekarang mereka menjadi
selective spending. Fenomena Rojali
ternyata memberikan kabar baik buat kita
investor di Bursa effect. Ternyata
konsumen menengah atas mereka menahan
dirinya buat belanja barang-barang yang
enggak penting. Sekarang mereka
mengalihkannya ke investasi. Data
menunjukkan hal yang sama atau tidak?
Ada enggak buktinya? ada, Guys. Karena
data menunjukkan hingga Juni 2025,
jumlah investor di pasar modal Indonesia
terus menunjukkan pertumbuhan yang
signifikan. Karena per hari ini minimal
sudah ada 17 juta orang yang punya
rekening saham. Ini tumbuh 10 kali lipat
dibandingkan tahun 2018. Nah,
Teman-teman, ini adalah berita positif.
Makanya gua dari dulu bilang, lu harus
jadi investor saham. Lu harus jadi
investor saham. Dibandingkan lu jadi
investor togel atau investor judi online
atau lu jadi investor lilin lilin enggak
jelas. Udahlah itu bukan investasi,
Guys. Lu melakukan spekulasi. Ingat, itu
bukan spekulator. Lu kalau ada duit,
jadilah investor. Investasi sesuatu yang
pasti. Saham perusahaannya ada,
bisnisnya jelas. Kenapa lu masih kayak
orang goblok beli kripto? kan to tool
otak lu itu dan data memang menunjukkan
ya kita sih bersyukur ternyata ya jumlah
investor pasar modal tumbuh ketika
jumlah orang yang belanja ke mall
berkurang ternyata jumlah orang yang
belanja saham meningkat so this is a
very good news makanya lu jangan sampai
telat deh menjadi investor saham gua
dengar kemarin juga ada orang ngelamar
ya ditanya sama orang tuanya kamu udah
jadi investor saham belum belum Pak
enggak usah kawin sama anak saya semoga
ini membuktikan ya masa depan Indonesia
itu cerah guys ingat loh kunci pertum
tumbuhan ekonomi itu bukan cuma
konsumsi, Guys. Ingat ada empat. Salah
satunya adalah investasi. Investasi dari
luar negeri maupun investasi dari dalam
negeri. So, this is a very good news
menurut gua. Iya. Dan ini memang
berdasarkan data karena tadi kan kita
cuma ngomong investor yang di pasar
modal, sekarang kita ngomong investor ya
investor di bank lah, investor deposito
misalkan. Ini terbukti juga data ini.
Kenapa? Karena dana pihak ketiga alias
DPK orang yang nabung deposito tahun
lalu di bulan Juni 2024 cuman 8.000.
00 triliun. Ingat ya, cuma R8.700
triliun. Hari ini naik 1 tahun di bulan
Juni 2025 angkanya sudah naik signifikan
dari 8.000 triliun menjadi 9.300
triliun, Guys. Jadi luar biasa loh ini.
Artinya makin banyak orang-orang yang
melag investasi. Gua senang banget
semakin sedikit orang-orang yang gila
tolol percaya lilin-lilin candlestick
dan sebagainya, tapi makin banyak orang
yang waras ya investasi yang pasti-pasti
aja. So, this is a very good news. Dan
ini membuktikan ya bahwa ternyata orang
itu shifting. Bukan cuma shifting gaya
hidup, tapi shifting juga ke pola
spending-nya. Tadinya spending
asal-asalan, sekarang spending untuk
investasi. So, this is a very good
thing. Nah, yang keenam. Yang keenam ini
faktor kehancuran kelas menengah. Jadi,
di Indonesia itu yang punah bukan cuma
Tyrannosaurus Rex ya atau Raptor ya.
Jadi, di Indonesia juga punah namanya
kelas menengah. Hati-hati ya, bentar
lagi masuk daftar UNESCO nih, manusia
kelas menengah di Indonesia nih. Karena
jumlahnya terus berkurang, Guys. Gila
emang nih. Gila. Jadi ini fenomena
terjadi di Indonesia bahwa ya lemahnya
konsumsi ini menurut gua ya karena juga
karena kelas menengah bukannya bertambah
tetapi berkurang. Nah, total konsumsi di
Republik Indonesia itu nilainya ribuan
triliun setiap tahun. Nah, dari total
belanja ribuan triliun setiap tahun itu
ternyata 70% manusia yang berbelanja di
Indonesia itu adalah kelas menengah. So,
kalau populasi kelas menengah semakin
menghilang berkurang, artinya orang yang
belanja semakin berkurang juga. Karena
70% konsumsi, ingat ya, pertumbuhan GDP
Indonesia itu bergantung dari sektor
konsumsi. Ternyata ditopang oleh kelas
menengah. Ketika kelas menengah itu
makin hilang, makin langka, artinya ya
mall bakal makin sepi, mall makin
banyak, Rojali dan Rohana rombongan
hanya nanya. Dan paling parah lagi ya,
kelas menengah Republik Indonesia ini
enggak di-support, Guys. Jujur ini sedih
lah. Udah mereka sulit dapat kerja, PHK
di mana-mana, mau dapat bansos juga
enggak dapat karena mereka kelas
menengah. Yang boleh dapat bansos kan
yang romusa rombongan muka susah. Susah
deh sekarang kalau lu menjadi kelas
menengah.
lu digencet mau ke bawah enggak bisa, di
atas juga enggak bisa. Di tengah-tengah
lu digencet terus. Terus apalagi
orang-orang yang masuk udah kelas
menengah masuk lagi sandwich generation.
Maksudnya apa, Pak? Sandwich generation
itu ini adalah orang-orang generasi
sandwich. Lu tahu ya sandwich itu kayak
burger ya. Dia digencet dari atas,
ditekan juga dari bawah. Dari atas dia
harus ikut menghidupi orang tuanya. Dari
bawah dia harus menopang hidup mungkin
anaknya, anak tetangganya juga ya. Kalau
di atas selingkuhan ya termasuk
ponakannya atau saudaranya atau
sepupunya dia tidak bisa spending untuk
dirinya sendiri. Dan ini gua lihat udah
banyak ini kejadian sih di beberapa
kenalan gua ya. Memang dia enggak bisa
lagi bergerak karena duitnya habis buat
kasih makan ibunya yang sakit-sakitan,
perawatan orang tuanya. Saat yang sama
dia juga menumpang hidup biaya sekolah,
biaya kuliah adik-adiknya. Terus dia
gimana ya? Dia enggak bisa bergerak.
Sedih, Guys, generasi sandwich ini. Dan
ini apakah ditolong sama pemerintah? Ya,
pemerintah menolong dengan mengeluarkan
pajak.
Jadi, kelas menengah udah makin
kesulitan hidupnya ya menurut
pemerintah. Ah, cuman gitu doang lu. Ini
ada ujian baru nih, pajak. Jadi udah
makin sulit hidupnya, insentif juga
enggak banyak, dapat bansos juga kagak.
Ternyata sekarang kelas menengah dapat
bonus lagi pajak. Dan ini udah berulang
kali gua bilang ya, eh lu itu jangan
aneh-anehlah, demo-demo ngasalah
Indonesia gelap lah, Indonesia negro
lah, Indonesia apalah enggak tahu gua.
Apalagi yang kemarin demo-demo tambang.
Ingat, Guys. Semakin banyak perusahaan
tambang yang ditutup, berarti semakin
dikit duit yang beredar, semakin sedikit
penghasilan pengusaha di Indonesia,
semakin dikit penghasilan karyawan,
buruh pabrik, dan ekonomi pelaku usaha
di sekitarnya. Karena ketika lu demo
tambang biar tutup, berarti tutup juga.
Pengusaha catering di sana, pengusaha
transportasi di sana, orang yang suka
masak di sana, orang yang nyapu jalan di
sana, semua hilang. Tutup habis. Ya,
gara-gara lu hobi demo peluk-peluk
pohon. Padahal lu ke sana juga enggak
pernah, ya. buang sampah sembarangan
lagi lu. Awas aja lu. Terus apaagi?
Orang yang demo pabrik. Pabrik-pabrik
disuruh tutup setiap tahun rutin. Ini
udah jadi agenda rutin nih. Lu kira
cuman sarapan nasi uduk doang yang rutin
di Indonesia? Enggak, Guys. Demonstrasi
itu udah kayak sarapan di Indonesia.
Jadi makin banyak pabrik yang tutup
karena demo terus. Demo enggak jelas.
Ada aja selalu ada 1001 alasan buat
demo. Akibatnya apa? Yah, udah
tambang-tambang makin banyak ditutup.
Perusahaan kelapa sawit banyak ditutup.
Padahal tulang punggung perekonomian
Indonesia ya dari ekspor apa? Ekspor
tambang batubara, ekspor sawit, terus
giliran kita mau ekspor manufacturing,
pabrik-pabrik itu didemo juga tutup.
Akhirnya apa? Jangan heran kelas
menengah akan semakin hilang. Padahal
kelas menengah ini adalah pahlawan
pajak. Ingat, Guys. Kalau lu terus-terus
menggaung-gaungkan Indonesia, UMKM maju,
UMKM maju. Padahal yang diubsidi itu
cuman pengusaha-pengusaha mikro,
pengusaha-pengusaha kecil, bayar pajak
0,5%. Lu pernah pikir enggak sih
pengusaha gorengan pinggir jalan,
pengusaha pecelele pinggir jalan, mereka
bayar gaji karyawannya berapa? Apa UMR?
Gua yakin tidak. Pasti di bawah UMR.
Kalau gaji karyawannya dibawa UMR,
berarti mereka bayar pajak PPH 21
enggak? PPH perorangan tidak. Artinya
ada kontribusi enggak sama negara? Eh,
lu pikir lagi. So, yang harus di-support
siapa? Ya, sama aja ya, bukan hanya
kelas menengah, tetapi pengusaha
menengah itu juga harus di-support.
Karena gua yakin sih pengusaha menengah
apalagi yang bisa naik ke menengah atas,
gua yakinlah karyawannya dibayar UMR.
sehingga mereka bisa berkontribusi
terhadap pembangunan negara ini. Tetapi
data menunjukkan sebaliknya, Teman-teman
bisa lihat di tahun 2019 ini adalah
tabulasi ya prioritas pengeluaran kelas
menengah di Indonesia dalam 5 tahun
terakhir. Teman-teman lihat pemerintah
itu nge-track loh eh kelas menengah nih
sebentar lagi jadi barang langka nih
mengalahkan dinosaurus. Coba kita track
duitnya pada ke mana sih kelas menengah?
Tertek kelas menengah duitnya yang warna
hijau di tahun 2019 41% pergi untuk
makanan. Lalu yang kedua yang warna
coklat tua 27,8%
teman-teman lihat di grafik itu adalah
pengeluaran kelas menengah yang
terbesar. Nomor dua adalah perumahan.
Artinya ya buat teman-teman yang nyicil
KPR, gua yakin mayoritas orang beli
rumah ya dengan KPR. Keluar udah habis
di situ buat bayar KPR. Lalu yang
terbesar selanjutnya apa, Guys? Ya tentu
saja ya ada pengeluaran buat cicilan
kendaraan dan lain sebagainya. Tetapi
yang menarik adalah ternyata 3,4%
pengeluaran kelas menengah adalah buat
bayar pajak. Wow, ternyata ya komponen
pajak ada loh di dalam komponen
pengeluaran kelas menengah. Gua kira
kelas menengah enggak bayar pajak, Guys.
Ternyata enggak bayar pajak. Dan data
ini menunjukkan setelah 5 tahun di tahun
2024, pengeluaran pajak kelas menengah
itu bukannya berkurang, tetapi
bertambah. Karena ketika di tahun 2019
pengeluaran pajak cuman menyita 3,4%
dari penghasilan kelas menengah,
ternyata di tahun 2024 pajak sudah
menyita 4,5%
dari spendingnya si kelas menengah ini.
Artinya ya ketika kelas menengah semakin
hilang, semakin punah, ternyata bukannya
pajak tambah ringan, tetapi pajak makin
nyelekit, Guys. Data membuktikan. Kita
bicara berdasarkan data. So, Teman-teman
ya, dari sini kita melihat ini adalah
indikasi yang positif bahwa perekonomian
Indonesia yang digadang-kadang tumbuh 8%
bisa jadi terhambat nih, tertunda nih
karena fenomena Rojali ini ya. Rojali
bisa terjadi ternyata kear kalangan
menengah hilang. Kenapa kalangan
menengah hilang? Ya karena banyak
pengeluaran-pengeluaran kelas menengah
ya yang makin gila-gilaan ya tadi ya,
inflasi ya sudah inflasi makin tinggi
kayak contohnya tadi ya, bahan makanan
dan lain sebagainya. Di sisi lain daya
beli berkurang. Eh, pemerintah apakah
mau menolong? Ternyata pemerintah naikin
pajak. Ya, ironis ini, Guys. Padahal ya
khususnya ya gua mau bicara soal kelas
menengah sebagai pelaku usaha yang
sebetulnya lebih butuh bantuan dari
pemerintah. Karena tadi apa ya?
Orang-orang kalau pengusaha kelas
menengah ya, apalagi kelas menengah
atas, kita enggak ngomong peng usaha
enterprise, tapi kan UMKM itu ada usaha
kecil, usaha mikro, usaha kecil, usaha
menengah. Yang sebetulnya yang menengah
ini butuh bantuan. Mereka mungkin
omset-nya sudah di atas R miliar. Mereka
mungkin sudah punya banyak ratusan
karyawan, tetapi kenapa yang dikasih
insentif dari pemerintah selalu yang
pengusaha mikro mikro mikro mikro kredit
mikro misalkan itu kan cuman berapa R00
juta, R00 juta lu dapat mau jadi apa?
Tapi pengusaha menengah kalau kita bisa
bikin jadi naik kelas nih pengusaha
menengah kan bisa jadi the next
unilever, the next nestle. Why not gitu
loh kita support mereka? Kasihlah
insentif pajak yang menarik. Jangan 0,5%
itu hanya untuk pengusaha mikro. Kenapa
enggak dibikin insentif pajak yang
berjenjang, Guys? 0,5 1% 2% 3% udah
berulang kali gua bilang ya kalau
tiba-tiba orang pengusaha menengah harus
kena pajak 22% berhadapan nih dengan
pengusaha multinasional lain yang
omset-nya udah ratusan triliun pajak
sama-sama 22% gimana caranya dia bisa
compete dia jangankan mau jadi
enterprise mau naik level dari pengusaha
menengah ke pengusaha yang kelas besar
aja udah berat guys jadi perlu ada
keberpihakan dari pemerintah dan ini
penting buat pemerintah ketahui ya bahwa
faktanya daya beli itu makin berkurang
dan kelas menengah semakin menghilang.
Ya, di sini kita mau bilang artinya
pemerintah harus segera turun tangan.
Bukan cuma buat kalangan kecil atau
pengusaha kecil atau pengusaha mikro,
no. Tapi juga masuk ke pengusaha
menengah, ke rakyat kelas menengah.
Karena merekalah yang paling banyak
sebetulnya menciptakan lapangan kerja
yang berkontribusi kepada pendapatan
pajak negara. Karena bayar pajak PPDA
satu karyawan-karyawannya ini bayar
pajak penghasilan. Bukan yang pinggir
jalan itu yang bayar pajak penghasilan.
No, justru pengusaha menengah ini.
Tetapi kenapa pemerintah tidak turun
tangan? Karena menurut gua pribadi,
pemerintah wajib memberikan stimulus
ekonomi yang harus berdampak dan berefek
langsung terhadap kemampuan daya beli
masyarakat Indonesia. yang kalau ini
enggak segera dilakukan sama pemerintah,
kalau makin banyak kelas menengah yang
nyungsep menghilang bergabung dengan
Tyronosaurus, Rex, dan Raptor, ya kita
harus siap pertumbuhan ekonomi Indonesia
di bawah 5%. Boro-boro ya di atas 7%
seperti Vietnam, gua yakin
seyakin-yakinnya pertumbuhan Indonesia
di bawah 5%. Dan ini bukan kabar baik
buat Indonesia karena momentumnya buat
Indonesia sekarang adalah grow, grow and
grow. Dan pertanyaan pentingnya ingat
ya, ini adalah channel investasi.
Menurut kamu dengan fenomena Rojali dan
Rohana ini, ini menjadi indikasi positif
atau buruk buat Indonesia. Karena ingat
yang namanya investasi selalu berlaku
dua arah. Di sini kan teman-teman
langsung bisa bilang ada pihak yang
dirugikan, tapi kamu tahu enggak ada
juga loh yang diuntungkan. Menurut kamu
perusahaan apa sih yang diuntungkan
dengan fenomena Rojali ini? Karena dari
kemarin gua udah nunggu pengen beli
sahamnya, cuman kurang satu poin lagi di
brengsek hari ini udah loncat kodok. So,
gimana kalau menurut kalian, Guys? Eh,
apakah ini udah waktunya ya kita
investasi saham atau masih ada nih
rombongan Rojali ke loter yang
selanjutnya? Jadi, mendingan wait dulu
nih. Gimana menurut kalian perekonomian
Indonesia akan semakin naik meroket ke
bulan atau nyungsep? Oke, guys. Semoga
video ini bermanfaat. Jangan lupa
tuliskan pandangan kamu gimana ya
terkait rombongan Rojali ini positif
atau negatif. Dan sekali lagi yang lebih
penting, emiten apa? Perusahaan apa yang
dirugikan itu gampang dan yang
diuntungkan dengan fenomena ini. Semoga
video ini bermanfaat. Segelas subscribe
channel Benix. Salam sehat, salam cuan.
Bye bye.
[Musik]