File TXT tidak ditemukan.
Transcript
dqt1osB1Tog • The SECRET of Successful People to Escape the Chains of Poverty Forever
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0415_dqt1osB1Tog.txt
Kind: captions Language: id Lu pernah mikir enggak seberapa besar sih peluang orang kaya lu pada keluar dari zona kemiskinan? Apakah 100%, 50% atau bahkan 0% alias sama sekali enggak mungkin keluar dari zona kemiskinan? Faktanya, Guys, kesempatan untuk keluar dari kemiskinan itu sangat besar sekali. Tapi ini hanya untuk orang-orang yang siap mengubah pola pikirnya, Guys. Nah, di video ini gua mau bagiin nih lima cara ya. Lima mindset yang bikin orang jadi kaya raya, yang bikin mereka bisa naik kelas, yang bikin lu bisa keluar dari zona kemiskinan. Sementara yang lain tetap jalan di tempat. Yang pertama, orang kaya itu punya mindset sebagai pemilik, bukan korban. Nah, ini konsep yang sangat penting dan mindset yang sangat penting yang lu harus tahu dan internalisasi di dalam diri lu. Jadi, di buku Acer ya, The Secrets of Millionaire Mind itu dia bilang gini, orang kelas menengah bawah itu biasanya punya pikir, "Oh, ini udah nasib, ini udah takdir, ini memang salahnya orang tua gue, ini salahnya pemerintah, pokoknya udah semuanya karena hidup itu kejadian ke dia bahwa ya hidup memang begini adanya dan gua harus jalani hidup ini apa adanya." Mindsetnya itu mindset kayak korban, Guys. Jadi memang model-model viktim lah. Tetapi kalau orang kaya ya punya pola pikir rich mindset, rich people, mereka believe kalau eh hidup ini terjadi karena pilihan gua, karena keputusan gua. Kalau gua mau kaya, gua lakukan ini. Kalau gua mau miskin, gua hindari ini. Jadi mereka mengambil keputusan secara sadar bahwa hidup mereka yang ciptakan, hidup mereka yang usahakan. Mereka bekerja keras, mereka berpikir keras, mereka berusaha dengan segala daya upaya. Kenapa? Karena mereka percaya nasib mereka ada di tangan mereka. Nah, ini beda dengan orang miskin. Makanya orang miskin tuh suka banget nyalahin ya ini salah pemerintah. Hidup ini enggak adil. Gaji segini mah enggak cukup. Ekonomi lagi susah. Ini gara-gara dolar nih. Ini gara-gara inilah itulah gitu. Jadi mereka semua nyalahin aja karena mereka mentalnya viktim, korban. Tetapi kalau orang kaya itu mikir sebaliknya. Oh ini lagi perang tarif nih. Oh ini lagi perang Donald Trump nih. Oh ini lagi perang dunia 3 nih. Mereka pikir apa? Oh gua harus cari cara nih. Ada potensi apa nih? Ada cuan di mana nih? ada opportunity di mana nih? Itu mindset orang kaya. Mereka bukan korban. No. Mereka pelaku. Mereka pejuang. Mereka cari cara supaya bisa jalan. Tapi kalau mental victim gua udah pernah ketemu, Guys. Terus Tor ini teman gua ini gua sedih banget. Orang ini selalu pikir cari cara kenapa dia itu harus gagal. Ah, enggak bisa, Ben. Kalau ini begini nanti gua begini. Enggak bisa, Ben, nanti rugi. Enggak bisa, Ben, nanti gagal. Nanti kalau enggak berhasil, apa yang terjadi dengan karir gua? Udah yang dia pikirkan kegagalan semua dalam hidupnya. Hari ini enggak jadi apa-apa. Orang itu sedih lulusan Universitas Uni Indonesia tapi tolol. Padahal coba dia punya pikir, "Hei, mindset gua harusnya gimana caranya biar ini bekerja? Gimana caranya biar project ini berhasil? Gimana caranya biar ini jalan sukses besar?" Kan begitu dong. Tapi pola pikirnya langsung kalau gagal gimana? Kalau ada meteor gimana? Enggak sekalian lu pikir kalau besok kiamat gimana, kan gitu kan. Tolol namanya. Jadi kalau lu berpikir lu mau jadi orang kaya, lu harus punya mindset yang sama, pola pikir yang sama. Bahwa perubahan hidup itu tidak menunggu situasinya berubah. Lu mau rubah nasib lu, wah enggak. Tunggu deh ganti presiden. Waduh, sampai kapan lu mau jadi kaya? Enggak bisa, Guys. Aduh, nanti deh tunggu musim hujan. Lu memang mau nanam cabe apa gimana ya? Tapi lu harus punya pikir bahwa hidup ini terus berjalan, waktu ini terus berjalan. Kalau lu mau rubah nasib lu, kalau lu mau rubah hidup lu, lu enggak bisa nunggu situasi ini berubah. Tapi lu sendiri yang harus berubah. Kalau lu mau hidup lu berubah, lu harus rubah hidup lu dulu. Bukan nunggu-nunggu situasi yang lebih baik, bukan nunggu-nunggu orang lain yang lebih baik, bukan nunggu-nunggu orang lain memperlakukan lu lebih baik, enggak. Itu namanya wishful thinking. Lu ngarep, aliran ngarep, itu bukan investor, Bro. Kalau investor, ya lu pasti selalu lihat potensi, opportunity, gimana caranya lu bisa mendapatkan cuan dari segala situasi. Jadi, di sini lu harus punya prinsip lu itu bukan korban ya. Gua kan cuma lulusan SMP, ya. Gua kan enggak sempat kuliah. Iya, orang tua gua kan miskin. Iya, orang tua gua kan bukan pejabat. Iya, partai pilihan gua kan kalah. Eh, bego. Enggak. Itu enggak ada hubungannya. Hidup lu ada di tangan lu. Lu upayakan supaya bisa jalan, supaya bisa berhasil. Perjuangkan hidupmu. Kenapa? Karena kalau lu pengin jadi orang kaya, berarti lu harus punya mindset dulu sebagai orang kaya. Dan lu harus yakin bahwa lu bukan korban. Lu adalah pemilik atas hidup lu. Nah, Teman-teman, kita ada sistem poin di sini supaya lu bisa lihat lu udah berapa poin sih dalam hidup lu nanti di akhir video ini. Makanya lu jangan skip. Nah, kalau lu merasa lu udah punya risk mindset di sini, lu adalah pelaku. Lu bukan korban. Lu adalah orang yang menciptakan hidup. Lu orang yang bekerja. Lu orang yang melakukan daya upaya supaya merubah nasib lu. Kalau lu merasa lu sudah lakukan itu, catat ambil kertas penak lu udah dapat 20 poin. Tapi kalau lu masih merasa lu adalah korban, lu punya mentalitas viktim, ini salah orang tua gua, ini salah nasib gua, ini salah keluarga gua miskin, ini salah pemerintah, ini salah kenapa 03 kalah, ini salah kenapa 02 menang, ah lu masih bego akui itu. Tulis nilai lu nol. Kalau udah tulis itu, kita masuk ke yang kedua, Guys. Orang kaya itu fokus ke peluang, bukan kendala. Jadi, dia fokus di opportunity, bukan di masalah. Maksudnya begini, kadang-kadang lu ketemu situasi yang mengatakan bahwa eh lu enggak bisa nih lewat jalan ini. Eh, lu enggak bisa jadi direktur di usia muda. Eh, lu enggak bisa jadi pengusaha sukses. Orang umur lu masih di bawah 30 tahun. Eh, lu enggak bisa jadi investor saham soalnya gaji lu kan masih UMR. Aduh, bukan begitu pola pikirnya. Kalau orang kaya, rich mindset itu dia harus punya pola pikir, peluang, opportunity. Lu gak bisa bilang, "I cannot afford it. Gua gak bisa. Gua gak mampu beli itu. Gua gak bisa ke posisi itu. Gua tidak paham ilmu itu." No, lu harus berpikir not about you cannot afford it. Tapi lu harus punya pola pikir how can you afford it. Maksudnya gini, ada orang bilang, "Pak Beni, saya enggak bisa jadi investor. Orang gaji saya cuma Rp3 juta. Kalau saya beli saham itu, nanti gaji saya jadi berkurang setengahnya. Kalau saya beli saham itu karena harganya mahal. Kalau beli satu lot aja kan 100 lembar. Kalau harganya Rp30.000 berarti gua harus siapin Rp3 juta. Jadi saya enggak mau jadi investor. Padahal SAMnya bagus, padahal perusahaannya bagus, tapi lu kehilangan opportunity. Itu harusnya kan lu punya pola pikir, eh harusnya gimana caranya ya gua bisa investasi di situ? Harusnya gimana ya caranya gua bisa ikut peluang bisnis ini? Atau gimana ya caranya supaya gua bisa dapat beasiswa di sana atau bisa dapat S2 di sini. Harusnya berpikir gimana caranya bisa itu jadi kenyataan. Jadi kalau orang yang punya mindset gimana caranya lu bisa dapat peluang itu? Karena peluang mungkin enggak datang dua kali, tiga kali dalam hidup lu, lu akan lakukan segala cara. Misalkan, "Oke kalau gitu gua berhemat. Oke, gua tadinya makan tiga kali sehari. Gua sekarang makan dua kali sehari karena gua sekarang mau investasi di saham itu atau gua sekarang mau menabung buat S2 gua. Kalau gua udah bisa S2 gaji gua bisa naik atau ini saatnya gua buka bengkel sendiri? Karena gua udah lihat ini ada perumahan baru ramei penduduknya tapi tidak ada bengkel di sana. Tapi gua enggak punya modal. Oke, gua fight. Gimana caranya gua bisa dapat modal? bisa nabung sendiri atau cara apapun itu yang lu perlu lakukan supaya lu bisa wujudkan mimpimu. Karena kalau mindset miskin, ah ya sudah ini susah. Ah, ya sudah pasti gagal. Tapi mindset kayak ada jalan enggak ya? Gimana ya biar bisa bekerja ini? Gimana ya biar gua tetap bisa jalan di sini? Jadi ketika orang lain pada ketakutan, khawatir, panik, rich people, mindsetnya langsung ada celahnya enggak? Makanya ya orang-orang ini ya jago buat melihat masalah menjadi opportunity. opportunity kemudian menjadi duit. Artinya masalah orang lain jadi duit buat dia. So, ini hal yang sebetulnya paling mudah ya buat orang-orang yang memang punya mindset pejuang, fighter, cari opportunity, fight terus ya. Contoh paling gampang lah gua lihat gua bahkan tahulah gua punya teman ya di saat orang lain lagi ngetren nih PHK di mana-mana. Pabrik banyak yang bangkrut. Eh teman gua ada satu tambah kaya raya di daerah Karawang karena dia dapat peluang bisnis dari situ. Kenapa? Karena begitu banyak orang PHK di mana-mana apa yang dia lakukan? Dia buka jasa. Jasa bikin CV. Lu bayangin jasa bikin CV sesimpel itu aja enggak pakai ribet. Satu CV dia bikin, dia ngecas Rp150.000. Ini follower kita di sekolah Sambenix. Dia ngecas Rp150.000, Guys. Lu bayangin Rp150.000 buat satu CV per bulan di Karawang itu ada puluhan ribu orang kena PHK, kena pecat lah. Dia dapat 1000 orang aja, dia dapat Rp150 juta, Guys, per bulan. Jadi pas gua ngelihat, "Iya, Pak Ben, thank you ya buat ilmunya ya. Sekarang saya mulai bisa investasi saham di mana-mana." Emang berapa penghasilan lu? Ya, lumayanlah berkat Pak Ben gua dapat ide baru buat bisnis. Dia resign dari pabriknya. Dia kerja di pabrik Yamaha. Dia resign bikin usaha buat perbaikin CV orang yang kena PHK. Tadinya gaji dia cuman 5 juta sekian lah per bulan. Sekarang dia bisa dapat ratusan juta per bulan dari peluang usaha upgrade CV. Gila, sesimpel itu loh. Tapi itulah mindset orang kaya lihat opportunity. Orang lain lihatnya masalah, stres, panik, khawatir enggak. Dia dapat opportunity. Anyway, ini bukti bahwa ya kalau poor people dia cuman bisa desperate, sedih, khawatir, kecewa, menyalah-nyalahin orang lain, menyalah-nyalahi dunia. Ya, syukurlah. Tapi kalau lu mau jadi orang kaya harus punya pola pikir how can you afford it, gimana caranya bisa jalan? Gimana caranya gua bisa beli itu? Gimana caranya gua bisa invest di situ, gimana caranya gua bisa nambah pabrik lagi, gimana caranya usaha keluarga ini bisa bertumbuh, bukan tambah nyungsep ketika masuk ke generasi gua. Kan itu yang lu harusnya pikir. Jangan lihat masalah masalah masalah problem problem. Wah, kalau lu punya teman yang kayak gitu segera jauhin, Guys. Toxic gitu. Gua udah lihat orang-orang kayak begitu enggak berhasil, enggak jadi apa-apa dalam hidupnya. Lu harus berani delete. Nah, itulah saran ketiga. Tapi sebelum lu ke sana, tulis lagi di buku kertas lu. Kalau lu sudah punya mindset, cari peluang, bukan kendala, tambahkan lagi poin 20 di rapot kamu. Kalau belum punya mindset seperti itu, lu harus tulis nol supaya lu tahu ya, lu harus kenal diri lu. Gua ini masuk kategori yang mana ya? Gua orang yang mengenal diri gua kah? Gua orang yang bisa lihat opportunity kah? Apakah gua berbakat menjadi orang kaya atau tidak, lu harus berani melakukan self assessment, menilai diri sendiri. Banyak orang yang gak sadar diri di Indonesia ini. Akibatnya ya dia enggak kenal dirinya sendiri. Jadi potensinya hilang terbuang sia-sia. So, tulis di situ nilai kamu berapa. Dan kita sekarang masuk ke step yang ketiga. Apa tadi? Keluar dari zona nyaman. Ini ditulis sama David Schwartz, The Magic of Thinking Big. Lihat di bukunya dia bilang apa? Sukses itu doesn't demand super intelligence. Lu kalau mau berhasil, lu enggak butuh otak yang super pintar, super intelek kayak gua, Benix, IQ-nya hampir 200. Enggak, enggak penting itu. Kalau lu mau sukses, lebih penting apa? Courage. So, success doesn't demand super intelligent. It demands courage. Dia butuh keberanian. Keberanian lu buat apa? Good news, guys. Gala dinner Benix Investor Group akan diselenggarakan di akhir bulan Agustus ini. Kamu harus buruan daftar karena di sini bakal ada pembicara yang luar biasa terkenal, mantan menteri, investor hebat juga karena dia sudah berhasil membawa perusahaannya punya Omzet ratusan triliun setiap tahunnya. Kita juga akan ketemu nih sama direktur emiten-emiten ternama memberikan kita cuan multibagger, Guys. Dan ngobrol sama direksi-direksi top dari perusahaan Tbk yang ada di Indonesia. Yuk, tunggu apaagi? Segera daftar sekarang juga dan kamu bisa dapetin 17% diskon ya, khusus buat 17 orang pertama. So, segera hubungi nomor yang ada di bawah ini. Sampai ketemu ya di Gala Dinar Benix bersama bintang tamu Spektakuler. Jangan lupa daftaran dirimu sekarang juga. Keberanian lu buat apa? Keberanian buat keluar dari zona nyaman. Karena banyak orang miskin, orang gagal itu karena dia takut. Dia enggak berani ambil resiko. Dia takut gagal, dia takut malu banyak. Sementara orang kaya itu tahu zona nyaman itu musuh dari pertumbuhan. Itu enggak pernah dan jangan pernah bawa diri lu ke zona nyaman. Ya, contohnya gua, gua enggak pernah terlena. Oh, ketika guaaji gua Rp0 juta, oke, itulah hidup gua. Enggak, gua enggak pernah berada di zona nyaman. Gua tidak pernah takut buat resign kapanp gua tidak pernah takut. Dan ketika gua resign apa yang terjadi? Oh, ternyata gaji gua naik jadi R juta. Terus gua berada di zona nyaman gitu. Enggak, gua upgrade lagi ilmu gua naik lagi jadi R00 juta. Terus gua apa yang gua lakukan satu zona nyaman? Enggak, gua resign juga gua mau gaji gua R500 juta. Kan gitu. Lu selalu punya mindset keluar dari zona nyaman. Kenapa? Karena begitu lu merasa nyaman, dunia itu langsung berlomba-lomba mengalahkan lu. Contoh paling gampang lu kalau berhenti belajar, ya kalau di dunia gua, gua kan investor ya. Begitu gua stop berhenti belajar, apa yang terjadi? Yang lain langsung ke catch up karena keluar ilmu baru. Zaman dulu enggak ada soal AI. Even Waren Buffet aja ketakutan buat investasi di Apple karena dia gak ngerti bisnis Apple. Sampai kemudian datang orang baru memperkenalkan bagus investasi di Apple. Dia gak paham teknologi. Dia takut. Padahal hari ini kalau lihat ya keuntungan terbesar Warren Buffet ternyata dari saham Apple itu bayangkan kalau dia enggak berani ambil keputusan itu selama bertahun-tahun dia anti investasi di teknologi. Padahal dia sahabat baiknya Bill Gates, pemiliknya Microsoft. Tapi akhirnya Warren Buffet ya berani mengakui kesalahannya. Gua selama ini terlalu bermain di zona nyaman. Zonanya apa? retail, dia investasi di perusahaan permen, dia investasi di perusahaan asuransi, dia investasi di perusahaan energi. Pokoknya bisnisnya bisnis gampang lah, enggak ribet. Tapi kalau lu investasi di perusahaan teknologi memang ribet karena mereka bisa punya pair multiplayer bisa sampai 10, 20, 100 bahkan. Tapi kalau kita ngobrol di dunia usaha juga banyak ya orang yang enggak berani buat maju. Ada gua lihat pengusaha usahanya gitu gitu gitu gitu enggak berani ngutang ke bank. Takut, "Pak, nanti gimana kalau enggak bisa bayar bunga." Tapi kalau lu enggak bisa bayar bunga, lu enggak bisa buka cabang, lu enggak bisa ekspansi. Ya udahlah, Pak. Enggak apa-apa. Biar bisnis gua gini-gini aja, gini-gini aja. Makanya gua senang banget ketika gua dengar jarum akuisisi GM. Karena Bakmi GM itu udah generasi ketiga lebih. Bahkan ahli warusnya puluhan orang, tetapi bisnisnya gitu-gitu doang. Lu enggak pernah hari ini ya, lu tahu BMI GM itu rasanya enak banget, tapi lu pergi ke Bandung enggak ada. Lu pergi ke Surabaya enggak ada bakm GM. Lu pergi ke Medan enggak ada bakm GM. Kok konyol banget? Sementara McD bisa buka cabang di mana-mana. Kenapa mereka takut buka cabang di mana-mana? Bakmi Aloy, bakmi karet tuh enak tuh Bakmi Aloy tuh di Lampung ada di Villa Citra itu enak banget punya nyali. Gua kaget kemarin tuh gua pergi ke Semarang ada Bakmi Aloy. Gila ini bakmy nih dari Lampung ada, Jakarta ada, Palembang ada sampai Semarang juga ada. Nyalinya lebih tinggi dibanding Bakmi GM. Padahal Bang GM rasanya enak banget, tapi enggak ada nyali. Tapi ya sudahlah akhirnya diakuisisi dengan perusahaan lebih besar gua rasa bahkan bisa lebih untung lagi nih perusahaan. Lu bisa bayangkan ya kalau seandainya jarum itu terlena berada di zona nyaman, colollaps gua yakin. Kenapa ya? Lu lihat perokok di Indonesia tambah banyak apa tambah jumlahnya sedikit? Tambah sedikit jumlah perokok di Indonesia. Kalau jarum terlena nyungsep dia hari ini kayak Sampurna. Tapi kan dia pintar, dia diversifikasi, dia keluar dari zona nyaman. Memang kakek leluhur gua udah buyut-buyut anak beranak. Bisanya bisnis rokok, tapi gua mau diversifikasi. Masuk mereka ke perbankan punya bank BCA. Masuk mereka pergi ke bisnis e-commerce online ada Bli-bli. Masuk mereka ke bisnis media, punya narasi. Masuk dia ke bisnismi, beli bakmi GM. Menarik, Guys. Lu bayangin mereka aja yang udah kaya raya duitnya ratusan bahkan ribuan triliun enggak ada tuh berada di zona nyaman. Selalu punya nyali untuk mencoba hal yang baru, opportunity baru. Bayangkan kalau mereka masih bertahan dengan bisnis rokoknya. Hari ini apa yang terjadi? Colaps. Kalau anak-anaknya, cucunya terlalu enak, terlalu nyaman, dapat duit triliunan dari jualan rokok. Eh, begitu generasi keempat bingung planga-plongo. Eh, kok cukai naik 100%? Kok ada rokok ilegal? Kok ada rokok tanpa asap? Kok ada rokok dalam bentuk cairan? Apa ya ini ya? Bingung collapse. Jadi buat teman-teman yang mau keluar dari zona kemiskinan, lu harus punya mindset, berani belajar hal baru. Buat teman-teman yang belum tahu, ya. Gua ini basicnya sarjana hukum loh. Tapi lu tahu gua sebagai ahli ekonomi, ahli investasi. Kalau buat teman lama gua, mereka tahunya gua programmer karena gua bisa program. Gua dulu kuliah jurusan artificial intelligence. Gua bisa coding dalam bahasa HTML, Java, C++. Tapi gua gak takut. Gua pindah dari programmer ke sarjana hukum. Dari sarjana hukum ke dunia investment dan ekonomi. Gua enggak takut. Kenapa? Kenapa harus takut? Karena kalau lu aja enggak berani berubah, maka lu jangan berharap hidup lu bakalan berubah juga. Karena selalu itu mulainya dari lu sendiri. So, mulai belajar beranilah. Lakukan hal baru, pelajari hal baru, kerjaan baru, bahkan bernyali buat mulai dari nol. Kalau teman-teman dekat gua pasti sudah tahu gua berulang kali mulai dari nol. Tapi ya itulah itulah hidup perjalanannya seperti itu. Gua pun melihat ada begitu banyak juga ya orang-orang yang sukses ya. Ya karena dia ditempa jatuh bangun, jatuh bangun, jatuh bangun. Tapi lu lihatnya ketika udah enaknya doang. Tapi lu enggak lihat prosesnya ketika dia dikejar-kejar dop collektor. Ketika dia stres banget bisnisnya mau collapse hutang ke bank segala macam dia mau. Lu enggak pernah tahu cerita itu. Dia tapi yang lu lihat hari ini dia sukses berhasil kaya raya. Hmm. Tapi dia bisa ke situ karena dia melewati begitu banyak marabahaya, jurang-jurang yang demikian terjal sehingga dia bisa sampai ke titiknya hari ini. Nah, jadi buat teman-teman sebelum kita move ke yang keempat, tolong tulis di sini el termasuk yang mana? Lu orang yang menikmati kenyamanan hidup lu atau lu orang yang berani keluar dari zona nyaman? Kalau lu orang yang berani keluar dari zona nyaman dan lu sudah buktikan itu, tambahkan lagi 20 poin. Berarti ya sampai titik ini lu udah 60 poin. By the way ya, berani keluar dari zona nyaman bukan cuma soal resign atau belajar hal baru. Tadi gua udah bilang. Termasuk lu juga berani mengambil keputusan dalam hidup lu untuk mengatakan tidak terhadap hal-hal yang nyaman. Contoh apa? Dapat undangan kawin dari saudaranya di Singapura. Datang enggak berani bilang enggak. Undangan ponakannya, sunatan, tetangganya ulang tahun semua dia iayain. Iayain. Dia enggak berani bilang enggak. Dia takut bilang enggak. Dia iyain semua karena orangnya enggak enakan. Padahal Warren Buffet udah berani bilang bahwa kalau lu mau jadi kaya raya, lu harus berani bilang tidak. Termasuk kepada circle lu yang toxic. Eh, lu audit lagi diri lu sendiri sebelum lu audit laporan keuangan perusahaan orang lain. Coba lu audit diri lu sendiri, keluarga lu sendiri, ccle lu sendiri. Ada enggak orang-orang yang toxic? Ngutang dikit-dikit, ngutang sama lu, dikit-dikit, ngibul sama lu, bohong, manipulatif sama lu. Hati-hati. Ingat ya, kalau lu mau maju, lu harus berani katakan tidak, terutama kepada ccle toxic itu. Jadi, punya nyali apa? Satu contoh, keluar dari zona nyaman, lu berani delcon, delet kontak. Mantan lu yang toksik, teman-teman lu yang rese, yang enggak ada kasih value, kalau ketemu cuman ngajak mabuk. Hai hai, enggak ada value-nya buat lu. Buang semua, delete kontaknya. Berani enggak lu? Lakukan itu. Kenapa? Karena lu gak bisa bergerak. maju. Kalau kawanan lu, pek lu, orang-orang sekeliling lu itu berusaha untuk membawa lu ke level mereka. Dan mungkin juga level mereka dibawah lu dari pola pikir, dari mulai mindset, psikologis, daya fighting, daya juang. Jangan sampai lu justru yang ditarik ke mereka karena lu kan pengen upgrade nih, lu pengen naik kelas nih. So, lu harus berani deh lihat kontak. Lakukan itu. Ada orang bangga banget di suatu event marketing ya, ayo siapa yang kontaknya lebih banyak dari gua? Gua kasih hadiah. Akhirnya ada saya punya 7.000 R nomor kontak. Saya punya 12.000 nomor kontak. Saya punya 15.000 nomor kontak. Hmm. Bolehlah kalau lu cuma sales lah. Tapi kalau lu seorang CEO, pengusaha, lu mau sukses, lu harus berani delete kontak. Buang yang enggak penting-gak penting itu buang. Gua tiap hari itu undangan meeting ada lebih dari 30 kali orang ngajak gua meeting inilah, meeting itulah. Mayoritas gua bilang enggak, enggak, enggak, enggak, enggak. Enggak penting. Jadi lu harus berani bilang enggak. Ya terserah dia mau bilang apa. Benny, kok lu enggak bisa datang ke acara ulang tahun ponakan gua? Urusan lu. Lu mau marah? urusan lu. Gua ada hal yang lebih penting gua harus lakukan. Kenapa? Karena lu hidup harus ada prioritas. Lu harus berani keluar dari zona nyaman. Termasuk ketika lu tidak nyaman. Ketika saudara lu, teman baik lu meminta hal-hal yang sebetulnya enggak ada nilai tambahnya bagi lu. Lu harus berani katakan tidak. Beranilah keluar dari zona nyaman. Yang nah yang keempat tadi udah tiga ya. Kalau lu 20 berarti udah 60 poin lu. Tapi lu harus jujur ya sama diri lu. Yang keempat ini penting guys. Orang kaya itu punya mindset jangka panjang bukan instan. Makanya gua berulang kali bilang gini, kalau lu cocok jadi investor itu sebenarnya paling gampang. Gua suka ngajar ya. Gua ngajar tuh udah sampai ke pedalaman Kalimantan, Guys. Jadi enggak usah kuliahin gua soal ini. Gua udah lihat real case-nya seperti apa. Gua udah sampai masuk ke Sulawesi, ke Sumatera. Gua bisa bilang dengan jujur, jauh lebih gampang ya ngajarin petani loh buat jadi seorang investor handal dibandingkan orang ibu kota profesional, lawyer, accountant, ahli pajak segala macam. Enggak susah. Mereka jauh lebih gampang ngajarin petani karena mereka udah punya mindset jangka panjang. Ho. Kalau gua nanam semangka hari ini, gua panennya 4 bulan lagi. Oh, kalau gua nanam pohon sawit hari ini, gua panennya 5 tahun lagi. Mereka sudah tahu. Jadi mereka tidak gampang dikibuli oleh ya investasi-investasi palsu, investasi bodong menggaransi cuan 10% sehari, 50% sebulan. Hal-hal yang enggak realistis. Karena realitanya lu nanam pohon durian hari ini, enggak bisa lu makan buahnya besok. Enggak bisa. Kalau bisa lu itu penipuan. Kalau ada yang jual benih, "Bro, bro, beli nih biji terbaik nih. Ini adalah benih pisang terbaik. Lu tanam hari ini, besok lu bisa dapat buah." Itu udah jelas penipu, Guys. Hati-hati. Makanya, nah orang kaya enggak gampang ditipu-tipu dengan hal-hal aneh begitu. Dia udah tahu ketika dia investasikan waktunya, duitnya, energinya, termasuk pengusaha juga. Ini buat sesuatu yang baik dalam jangka panjang. Makanya penting yang namanya integritas. Kenapa? Selalu berpikir jangka panjangnya seperti apa? Jangka panjangnya seperti apa? Bukan soal besok gua mau makan apa. Itu mentalitas orang miskin. Eh, gua nyolong aja dulu. Itu mentalitas orang miskin. Mereka punya nyali dipakai buat hal yang sia-sia. Contoh nyali maling besi, mencuri. Mereka cuma pikir besok makan apa, hari ini makan apa. Udah sampai situ doang level pemikirannya. Miskin terus. Besok pikir lagi, besok pikirnya itu lagi. Mereka enggak pikir jangka panjang. Eh, mendingan gua kursus menjahit ya? He, mendingan gua kursus bahasa Inggris ya. Heh, gua bisa belajar nyetir ya. Gua bisa jadi sopir truk ya? Eh, gua bisa jadi sopir tambang ya. Mereka enggak berpikir jangka panjang. Nanti udah jadi sopir tambang, upgrade lagi. Ini gua kasih contoh real case. Gua punya teman baik kemarin baru ngajakin proposal bisnis, cuan bareng-bareng gua. Investasi bareng yuk. Teman gua ini mantan buru pabrik motor Jepang yang ada di Karawang. Ketika zaman dulu dia kuliah, dia harus bolak-balik karena dia dapat shift malam. Kadang-kadang shift malam itu masuknya jam 09.00 malam sampai jam 5.00 pagi. Lu bayangin siangnya kuliah bareng gua. Malamnya langsung lagi naik motor pergi ke Karawang. Dari Depok ke Karawang ya, dari UI ke Karawang. Lu bayangin setiap hari dia lakukan itu, Sabtu, Minggu juga kerja. Kenapa? Biar dapat lemburan. Hei, gila ini lulusan STM. STM mesin kerja di pabrik Jepang, motor di Karawang, tapi punya nyali, punya harapan baik, berpikir jangka panjang. Gua tidak mau seumur hidup jadi buru. Terus gua tanya sama dia, "Ngapain lu kuliah di UI? Buat apa lu ambil kuliah hukum bareng gua?" Lu kan udah enak, gua aja pengangguran namanya. Gua mahasiswa ya. Lu kan udah punya gaji. Gaji lu berapa, Bro? Ya, gua sekarang levelnya udah senior lah. Kalau senior gaji gua waktu itu UMR sekitar Rp3 juta ya. Jadi waktu itu gaji gua udah Rp4.500. Jadi ya lumayanlah udah bisa nyicil buat bayar uang kuliah. Terus gua tanya lagi, ngapain lu masih lanjut kuliah? Gaji lu udah di atas UMR, Bro. Jawabannya gini, "Ben, ya gue jadi STM, gua enggak mau dong kerja teknik ngegerinda, gerinda, gerinda tiap hari berapapun gaji gua." Tetap akan lebih bagus kalau gua punya keahlian. Dan gua yakin kalau gua kuliah di sini, gua punya title sarjana hukum, gua bisa dapat lebih banyak dari sini. Jadi enggak apa-apa gua menderita selama 5 tahun kuliah di UI. Selama 5 tahun gua akan kerja 20 jam sehari. Lu bayangin dia kerja di Karawang, kuliah di Depok, rumah di Bogor. Lu bisa bayangin perjuangan dia selama 5 tahun? Hari ini jadi apa dia? Perjuangan buruh pabrik ini yang kalau lu kuliah, waduh lu tahulah bakaian buru itu oli minyak di mana-mana lah. Pakai long trouser gitu, Long John. Ya, lu bisa langsung lihat gila ini orang. Buat apa sih ada orang bengkel di sini? Mungkin orang berpikir seperti itu, tapi gua melihat ini orang fighter pasti jadi orang. Nah, hari ini apa yang terjadi sama dia? Ya, dia jadi salah satu lawyer bonafit yang gua enggak mau sebutin namanya karena gua promosiin gratis. Jadi, tapi gua mau bilang ya dia mendapat berkali-kali lipat dibandingkan penghasilannya yang dulu yang cuman R jutaan itu ya. Hari ini gajinya hampir 3 digit. Jadi growing, dia punya grow mindset. Gua berpikir untuk jangka panjang bukan buat hari ini. Kalau dia mau buat hari ini zaman dulu itu dia udah happy gajinya di atas UMR. Banyak orang-orang di Karawang gaji di atas UMR langsung beli Ninja, beli motor baru, beli istri baru dan lain sebagainya. Yang dia lakukan enggak. Dia investasi untuk masa depannya. Nah, dia berani lakukan itu. Ketika dia lulus, apa yang dia lakukan? Dia resign. Lu bayangin dia resign, dia sudah naik pangkat bahkan sampai supervisor gajinya di atas R juta. Tapi dia resign, dia berani ambil keputusan itu karena dia mau merubah nasibnya. Dia mau merubah nasib keluarganya. Dia harus menghidupi orang tuanya nanti ketika sudah pensiun. Dia punya pola pikir jangka panjang. Dan ini yang membedakan orang miskin sama orang kaya. Orang miskin itu carinya kepuasan. Bagaimana membuat dirinya happy, ganti handphone baru. Kalau perlu pakai pinjol, ganti handphone baru. Karena mereka pengin cepat dipuaskan hasratnya itu. Mereka enggak punya nyali, enggak punya keberanian, enggak punya mindset buat menabung, buat berpikir jangka panjang, buat kuliahin anaknya di tempat yang lebih bagus dari dia, supaya anaknya punya kehidupan yang lebih baik dari dia. Tidak ada itu. Ujung-ujungnya apa? Orang-orang kayak begini kena investasi bodong, kena judul, kena pinjol karena hobinya memuaskan diri sendiri demi gol-gol jangka pendek. Enggak penting. Enggak penting lu punya handphone baru. Enggak penting. Enggak ada gunanya. Ya mungkin kecuali kalau lu konten kreator kali. Tapi selain itu enggak penting. Handphone harga R2 juta dengan handphone sama R juta sama-sama bisa WhatsApp, Bro. Udahlah. Yang paling lu pakai apa sih? Paling WhatsApp, email, Instagram, semua pun bisa. Buka Instagram YouTube di handphone R juta. Ngapain lu pilih handphone harga R juta? kan gitu ya. Cuma buat gaya biar dibilang orang keren. Buat apa? Hidup dari kacamata orang lain. Nah, ini yang membedakan dengan orang kaya. Orang kaya itu sabar dia bangun asetnya. Dia investasi jangka panjang. Investasi apa? Kalau teman kita tadi investasi leher ke atas, investasi keilmuan, sarjana, atau tempat lain. Ada investasi dalam bentuk tanah, investasi dalam bentuk kebun, investasi dalam bentuk deposito atau dalam bentuk saham. Dan mereka sabar bertahan. hidupnya biasa aja, sederhana. Karena mereka udah tahu yang penting itu bukan menang hari ini, Bro. Yang penting itu menang 30 tahun lagi. Itu makanya banyak orang bilang, "Eh, yang penting dapat rezeki besar. Hari ini salah, lebih baik dapat rezeki panjang." Jadi, orang kaya itu memang benar mentalitasnya bahwa kekayaan itu dibangun, Guys. Bukan diburu-buru. Kalau diburu-buru, ujung-ujungnya lu jadi marketing afiliator krypto, bangsat lu. Bodong aja semua dijualin. Bego jadya. Jangan begitu. Belajar lu bisa menunda kepuasan. Belajar lu bisa menunda kenikmatan lu sekarang. Karena yang penting apa? Lu dapat kebebasan lu. Lu dapat financial freedom lu nanti depan. Lu harus lakukan itu. Nah, kalau buat teman-teman gimana yang di sini? Lu udah melihat diri lu orang yang berani enggak sih buat mengambil keputusan bertahan? Tidak sedikit-dikit gratifikasi diri sendiri, memuaskan diri sendiri, hasrat diri sendiri, tidak berpikir instan, tapi punya pola pikir jangka panjang. Oh, nanti anak gua seperti apa? Oh, gua harus menabung hari ini karena gua mau anak gua sekolah di sini. Oh, gua mau investasi gua seperti ini. Oh, gua nanti mau bawa orang tua gua haji 20 tahun lagi. Oh, gua nanti mau kasih rumah yang lebih baik buat mertua gua nanti. Lu tipe yang mana, Guys? Atau lu orang yang hidup hari ini? Ya, buat hari ini. Gua masih lihat banyak orang yang seperti itu. Lu masuk kategori yang mana? Kalau lu sudahudah masuk ke tipe orang yang mampu berpikir panjang dan menunda kesenangan jangka pendek, ambil pena kamu, tulis lagi kamu dapat ekstra 20 poin. Tapi kalau belum, tulis nol. Belajar mengenali diri sendiri. Lu masuk yang mana, lu harus jujur. Bahkan hari ini ya, gua suka ketemu direktur ya yang gajinya juga udah lumayan ya, gajinya sekitar Rp jutaan ya. Itu masih banyak loh yang hidupnya dari pinjol. Sedih kalau lu lihat itu sedih banget yang masih ngutang ke mana-mana sedih. Aduh, gua gak bisa sebut namanya karena perusahaannya Tbk. Tapi itu fakta yang gua temui begitu tragis dia gak bisa mengontrol hasrat di dalam dirinya. Sehingga hari ini orangnya sekarat ya, lagi di rumah sakit di Singapura tapi hutangnya banyak banget. Cucilan rumah belum habis, cicilan mobil belum selesai, anaknya masih ada yang mau kuliah. Ngeri, Guys. Padahal ya gajinya Rp50 juta sama tunjangan mungkin dapat Rp10 juta sebulan. Tapi itu tidak cukup, Guys. Karena gaya hidupnya enggak masuk akal dan itu realita. Nah, yang kelima. Yang kelima ini prinsip dari Warren Buffet bahwa apa? The best investment is in yourself. Karena the more you learn, the more you earn. Jadi maksudnya apa? Lu kalau investasi emas bisa dicuri orang, oke. Lu investasi mobil bisa berkarat, bisa rusak, bisa tabrakan, bisa dimaling orang juga. Lu investasi tanah bisa longsor, bisa keluar sertifikat palsu. Namanya negara Kazakhstan, Bro. Tapi ada satu investasi yang enggak bisa dicuri sama siapapun, yaitu apa? Investasi kepada diri sendiri. Jadi kalau orang miskin itu biasanya harus lu push buat belajar, harus push buat sekolah, bahkan dia enggak mau upgrade nilai dirinya sendiri. Stay aja di situ. Jadi lu kalau ketemu orang umurnya hari ini 40 tahun tapi knowledge-nya enggak ada bedanya dengan ketika lu ketemu dia pas SMA dulu, dia enggak naik level. Dunia sekarang udah bergerak cepat, tapi dia jalan di tempat. Kenapa? Karena dia tidak mau investasi ke dirinya sendiri. Nah, orang kaya itu tahu bahwa the best investment is in yourself. Artinya apa? Investasilah ke dirimu sendiri. investasi layar ke atas. Kalau lu enggak ngerti, lu pengin bisnis sesuatu, belajar cari mentor, bayar, ikut kursus, ikut sekolah lagi. So what? Lu harus lakukan itu karena even selevel Warren Buffet aja sampai ikut kursus ke DLK negeri. Jadi dia lakukan itu padahal dia udah dari S1 dari universitas paling bagus di dunia. S2 dia juga tapi dia enggak puas diri karena dia tahu aset dia yang paling berharga ya dirinya sendiri. Jadi sebelum dia pakai duitnya buat investasi di hal-hal yang lain, lu investasilah buat diri lu sendiri. Investasi apa, Pak? Contohnya lu kursus bikin kue, bikin roti, investasi kursus petiseri, investasi kursus ngelas, ngebengkel, benerin baterai, ujung-ujungnya lu bisa buka pabrik mobil listrik. Who knows, lu enggak ada yang tahu. Tapi itulah perjalanan kehidupan. At the end of the day nih, titik-titik ini akan sekaling bertautan dan akan membantu lu. Hari ini lu mungkin merasa enggak penting kursus bahasa Inggris. Eh, tunggu dulu. Itu sangat penting. Hari ini lu merasa bahasa Indonesia aja cukup atau bahasa Inggris aja cukup. Eh, salah. Hari ini lu harus bisa bahasa Inggris sama bahasa Mandarin. Realita dunia, Amerika Serikat collapse, China naik. Lu harus upgrade. Karena kalau skill lu naik, pasti income lu juga naik. Ya, contohnya gua ya. Dulu gua mulai waktu di BINUS gua tuh ya artificial intelligence. Gua software engineer, kita belajar coding. Bahasa gua bahasa mesin, ribet setengah mati, bahasa assembly. Susah, Guys. Dari situ gua pindah. Gua berani ambil keputusan. Pindah gua ambil hukum. Kebetulan didaftarin sama kakak gua di UE lulus belajar hal baru. Tapi di situ juga gua enggak puas diri hukum ini dari sudut pandang sosial seperti apa. Gua bergabung ke LSM, Guys. Gua ikut Komnas Anak waktu itu dibawa Kaseto Sekjennya Aris Merdeka si Rait. Ya, gua ikut mereka gajinya gratis. Yang penting gua dapat ilmu dulu. Tapi gua menganggap itu investasi. Gua dapat koneksi banyak di situ. Dari situ gua masuk ke LBH Jakarta. Ini undernya Adnan Buyung Nasution. Dapat ilmu baru. Iya. Duit dibayar kagak bro. Miskin semua di situ. Tapi lu dapat koneksi. Ingat, yang lu cari bukan duit, tapi lu investasi ke dalam diri lu. Lu dapat kenalan baru, lu dapat pengetahuan baru, lu dapat network baru. Dan itu semua berfungsi buat lu. Mungkin enggak pada saat itu, tapi dalam perjalanan karir lu ya itu akan terjadi seperti itu. Karena gua enggak akan dibayar mahal kalau skill gua cuman sarjana hukum. Dan gua yakin akhirnya gua belajar. Gua belajar akuntansi, gua belajar soal investasi, gua belajar soal pajak. Mau enggak mau, suka enggak suka. Karena apa? Ya, kita harus investasi ke diri kita sendiri. Makanya sekarang orang kalau pakai gua, hire gua jadi konsultan. Mereka harus bayar ratusan juta per jam. Iya. Kenapa? Karena mereka bisa dapat hasil review yang holistik. Hm. Dari orang yang sudah punya pengalaman berkarir di perusahaan software terbesar di Indonesia, Gojek saat itu punya pengalaman di Astra, punya pengalaman di Oyo, punya pengalaman di Tensen, di MNC, itu yang dibeli sama orang. Dan lu harus punya keberanian buat investasi di dalam diri lu sendiri. Jadi, bahkan ketika waktu itu gaji gua pun enggak cukup buat kursus, gua upayakan gua bisa dapat kursus bahasa Inggris. Gua ikut apa? Toast master. Karena harganya murah, tapi jaringannya banyak. Gua enggak perlu keluar biaya duit mahal-mahal. Waktu itu gua belum ada duit, gua ikutin itu. Teman-teman bisa lakukan itu enggak? Bisa. Jadi, ada begitu banyak jalan menuju Roma buat Teman-teman yang mau investasi ke dalam dirinya sendiri. Sampai kemudian ya gua merasa udah cukup gua gantian, gue yang ngajar. Dan sampai sekarang pun gua masih kebiasa ngajar. Tadinya gua biasa ngajar di kolong jembatan ke anak-anak yang enggak punya duit ya buat ikut sekolah SD, SMP. Sekarang gua ngajar ke kampus-kampus karena menurut gua ini udah urgen nih buat kita bawa generasi Genzi kita buat naik level lah pola pikirnya supaya bisa menang nih lawan negara asing. Karena globalisasi sudah semakin dekat. Kalau enggak makin banyak nih negara kita habis buat belanja barang impor. Habis rupiahnya digadaikan buat beli dolar. So, buat teman-teman ya, gua aja berani investasi ke diri gua sendiri untuk mempelajari hal-hal yang mungkin menurut lu gak make sense. Tapi kalau di sini ada orang ITB pasti tahu. Dulu gua tuh pernah sampai kursus ke ITB belajar bikin stemsel gimana caranya membuat kultur jaringan untuk tanaman jamur. Eh, siapa yang sangka 20 tahun kemudian gua buka kebun di Palangkaraya. Kita punya kebun pisang terbesar di Kalimantan Tengah. Hmm, siapa yang sangka? Gua juga enggak nyangka, tapi waktu itu gua mau belajar aja. Gua yakin segala sesuatu itu ada gunanya. Ya, mungkin enggak sekarang tapi nanti. Kursus gua yang paling aneh ya, investasi layar ke atas. Kalau kursus animasi itu udah standar lah. Kursus bahasa Mandarin gua juga udah pernah, itu juga standar lah. Kursus yang aneh-aneh. Gua pernah belajar kursus gimana caranya merubah minyak jelantah jadi solar. Menurut lu aneh ya, tapi gua ikutin itu. Gimana kursus merubah minyak goreng bekas makan jadi sabun shampo produk yang berbasiskan palm oil. Jadi itu dari sekian banyak hal yang gua pernah ikutin ya itulah salah satu contohnya yang menurut lu mungkin aneh-aneh ya. Tapi kalau yang standar-standar kursus matematika gua udah pernah, kursus kalkulus gua udah pernah, programming ya apalagi animasi pun gua bisa. Jadi itulah yang kita lakukan untuk investasi ke diri sendiri. Termasuk sekarang misalkan gua pengin banget nih ngerti bisnis nikel. Gua sampai kursus gimana caranya rare earth itu bisa diolah. Gimana caranya nikel, baxed, cobalt itu bisa menjadi produk sampingan dari penggalian nikel. Ternyata ven-nya beribu-ribu dolar jauh lebih mahal dibandingkan lu investasi batu bara. Harganya enggak nyampai 100$00. Tapi begitu lu ngelihat, wah rare earth ternyata seksi, Guys. Makanya lu buruan daftar ya sekolah S Benix yang terbaru. Karena di season 8 kita akan belajar tentang investasi rare Earth. Nah, ini khusus buat pemula saham. Jadi, buat teman-teman yang masih bingung gimana cara baca laporan keuangan, gimana cara mengkoneksikan neraca laba rugi, keputusan investasi, bisnis rare Earth yang bakal booming sebentar lagi. Makanya sampai Donald Trump ngemis-ngemis minta rare Earth dari Indonesia. Tunggu apaagi, Guys? Yuk, segera ikutan di sekolah Sambenix season 8. Kita akan membahas khusus pemula di dunia saham gimana cara jadi investor yang hebat khususnya di sektor rare earth. So, gimana guys? Kita udah mau sampai akhir dari video ini bahwa penting banget lu punya lima mindset jadi orang kaya. Nah, skor kamu gimana sekarang? Coba angkat kertas kalian. Tadi kan total ada lima rasi. Masing-masing nilainya 20 poin. Karena kalau nilai kamu ya di atas 60, maka kemungkinan kamu buat keluar dari zona miskin itu sudah cukup besar. Jadi yang lebih penting lagi, seberapa persen kemungkinan lu bisa berubah dari miskin menjadi kaya? Ternyata persentasenya tergantung seberapa pengin kamu berubah. Karena keputusan ada di tanganmu. Sekarang lu bisa jalani hidup ini seperti apa adanya yang udah-udah seperti biasa. Atau lu bisa mulai ubah pola pikir lu mulai detik ini, detik lu lihat video ini, eh gua mau berubah, gua enggak mau gitu-gitu aja. Karena ketahuilah, Guys, apa yang terjadi di dalam hidupmu hari ini, apapun itu, siapa yang jadi pasanganmu, apa kuliahmu, seberapa besar gajimu, seberapa besar circle kamu, itu adalah hasil dari keputusan kamu, bukan dari keputusan orang lain. Jadi, apa yang kamu lakukan, apa yang kamu pikirkan, itulah yang akan kamu lakukan dan terjadi di dalam hidup kamu. Jadi, what you don't change is what you have. Apa yang elah di masa lalu lu, itulah yang terjadi di dalam diri lu hari ini. Jadi, lu jangan komplain ke mana-mana. Ini salah pemerintah, ini salah Prabowo, ini salah 03 enggak menang, ini salah Donald Trump. No, lihat dulu ke diri lu sendiri. Because what you don't change, artinya lu sudah memilih apa yang kamu tidak rubah dari hidupmu. Berarti kamu sudah pilih secara sadar. Gua terima fakta itu terjadi di dalam hidup gua. Itu adalah keputusan gua. So, lu harus hati-hati because what happen in your life is actually because of your decision. It keputusan kamu yang terjadi dalam hidupmu. So, guys, yuk segera komen di bawah ini dari lima mindset yang ada di sini yang udah gua terangin sama kalian, mana sih yang lu sudah terapkan di dalam hidup lu? Dan ada enggak sih contoh konkrit dari lima mindset ini yang lu lihat dari sekelilingmu, temanmu, saudaramu, keluargamu yang memiliki lima mindset ini dan ternyata mereka berhasil merubah kehidupan mereka. Sharing juga dong di sini biar dilihat sama teman-teman lain bahwa iya betul orang bisa berubah dari zero no one nobody into somebody into someone. Tolong dong sharing juga pengalaman cerita kalian di sini. Dan buat teman-teman ya kalau lu ngerasa video ini memberikan lu value, yuk segera share video ini ke teman-teman kalian yang lain yang membutuhkan insight ini juga. Karena apa? Karena Indonesia butuh lebih banyak lagi orang yang mau fight, orang yang mau berubah, mau kasih yang terbaik dalam hidupnya. punya patien, punya obsession untuk berubah, ya setidaknya dirinya jadi lebih baik lagi. Karena kalau diri lu secara individual jadi lebih baik lagi, percayalah keluarga lu, family lu, ccle lu akan menjadi lebih baik lagi. Dan kalau makin banyak ya keluarga-keluarga, family-fily yang berhasil naik kelas negara juga akan jadi lebih baik lagi, akan tambah positif karena makin banyak sel-sel kecilnya dalam bentuk individu dan keluarga itu yang berhasil berubah menjadi positif. Oke, guys. Semoga video ini bermanfaat. Ditunggu komentar kalian. Yuk, segera subscribe channel Benix. Salam sehat, salam cuan. Bye bye. [Musik]