Transcript
iRBRKF6i5Fw • RI'S ECONOMY RISE 5.12% FAKE!? Indonesian Citizens Live Only Eating Debt!!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0416_iRBRKF6i5Fw.txt
Kind: captions Language: id Good News Indonesia. Pertumbuhan ekonomi kita tumbuh besar 5,12% ini melebihi ekspektasi dunia. Bahkan melebihi ekspektasi profesor ekonomi dari segala penjuru planet bumi. Ini luar biasa karena ekonomi Indonesia tumbuh 5,12% bahkan ketika terjadi kelesuan di mana-mana, PHK di mana-mana, pengangguran meraja lela. Kok bisa? Wah, hebat memang Indonesia. Yang lebih hebat lagi apa? Pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalahkan negara-negara seperti Malaysia, negara-negara seperti Singapura, Amerika Serikat, Italia, Meksico, bahkan Arab Saudi. Kok bisa ya, Guys, ya? Negara-negara itu kalah loh pertumbuhan ekonominya sama Indonesia. So, kalau lu penasaran jangan dikip video ini. Let's check this out. Jadi, Teman-teman, ini lagi terjadi kehebohan di mana-mana ya di dunia ekonomi. Karena Indonesia pertumbuhan ekonominya melampaui ekspektasi. Even gua aja ya memprediksi pertumbuhan ekonomi kita itu di bawah 5% loh. Tetapi ternyata salah. Faktanya kita tumbuh 5,12%. Yang lebih hebat lagi apa? Kita uji nilai ini dengan negara-negara di Asia Tenggara. Lu tahu ada yang namanya Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam dan lain sebagainya. Semuanya kalah sama Indonesia kecuali Vietnam. Jadi data menunjukkan, lu bisa lihat di layar kaca, negara Malaysia cuma tumbuh 4,5%. Singapura 4,3%. Memang mereka ini enggak capable lah. Indonesia menang di 5,12% cuma kalah dari Vietnam di 7,96%. Jadi dari sini teman-teman bisa tahu bahwa ranking Indonesia di Asia Tenggara itu ranking 2 terbesar. Ini prestasi yang luar biasa loh. Nah, kita bandingkan lagi dengan negara lain. Jangan cuma diadu dengan negara Asia Tenggara yuk. Kita adu dengan negara G20. 20 negara terkaya di dunia. Di G20 ada siapa? Ada Jerman, Itali, Amerika Serikat, China, dan lain sebagainya. Nah, teman-teman bisa lihat di layar kaca ya. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB negara-negara G20 paling besar Cina di 5,2%. Di bawahnya Indonesia di 5,12%. Wow. Kita peringkat dua di G20. kita bahkan mengalahkan Singapura yang cuma 4,3%, Arab Saudi yang cuma 3,9%, Amerika Serikat yang cuma 3%, bahkan Spanyol, Belanda, Prancis, Korea Selatan, Jerman, semua kita kalahkan, Guys. Jadi, teman-teman bisa lihat di sini bahwa negara-negara maju seperti Singapura, Arab Saudi, Amerika Serikat itu termehek-mehek ya sama Indonesia, Guys. Luar biasa loh Indonesia ini. Kita 5,12% mereka cuman bisa 4% 3%. sedih lah kita merapat ya bentar lagi mengalahkan China dan bentar lagi bahkan bisa menyusul Vietnam. Nah, kalau itu gua agak ragu tuh. Tapi at least kita bisa ngalahin Cina dulu lah. Cuman yang mengejudkan gini guys ya. Karena kan banyak orang yang memprediksi pertumbuhan ekonomi kita di bawah 5%. Dan kabar baik ini sayangnya enggak disambut baik sama para orang di luar sana. Pengamat ekonomi di sana mulai dari yang abal-abal, yang palsu, sok pintar, bahkan yang pintar beneran itu banyak yang skeptis. Mereka bertanya-tanya, jangan-jangan terjadi manipulasi data nih. Kok bisa sih terjadi pertumbuhan tinggi? Padahal data-data yang lain tidak menunjukkan yang seperti itu. Bahkan sampai Menko ya Erlangga itu membantah bahwa tidak ada manipulasi data pertumbuhan ekonomi 5,12%. Bos BPS juga bilang begitu, dia harus membantah itu. Walaupun banyak ekonom menilai data pertumbuhan ekonomi versi BPS ini janggal, Guys. So, pertanyaannya ya, Guys, ini kan kita channel investasi ya, kita bahas ekonomi di sini. Pertanyaannya, apakah benar sih ekonomi Indonesia ini mengalami pertumbuhan atau jangan-jangan memang ada manipulasi data? Yuk, kita bahas secara objektif, Guys. Jadi, buat teman-teman ya, ini berulang kali gua katakan ya, kalau ekonomi suatu negara mau tumbuh, ada empat hal yang mereka harus kuatkan. Yang pertama konsumsi, yang kedua government spending, jadi pemerintah belanja. Yang ketiga itu adalah ekspor impor, harus lebih gede ekspor dibanding impor. Nah, yang keempat itu investasi. Nah, dari empat ini Indonesia faktanya ditopang dari konsumsi rumah tangga. kontribusinya 54,25% dan ini tumbuh 4,97% dibandingkan kuartal 2 2025. Jadi teman-teman bisa lihat bahwa memang ekonomi Indonesia ya 54% ditopang oleh pertumbuhan di sektor belanja konsumsi rumah tangga. So kalau bilang pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa naik di atas 5%, penyumbang utama siapa? Ya pasti rumah tangga belanjanya meningkat. Nah, gua enggak percaya dengan data BPS ya. Lu tahu gua lah kita skeptis. So, ketika kita dengar kabar 5,12% yang gua cek pertama kali bukan data investasi, bukan data ekspor impor, bukan data government spending yang sudah pasti penghematan anggaran. Jadi buat apa juga gua cek, tapi yang gua cek adalah konsumsi rumah tangga. Nah, teman-teman bisa lihat di layar kaca data membuktikan bahwa memang ada pertumbuhan transaksi makanan dan minuman yang mengalami pertumbuhan dibandingkan kuartal 1 2025 ke kuartal 2 2025. Contohnya di layar kaca, kamu lihat di kuartal 1 2025 sektor FnB ya makanan dan minuman itu cuma 5,9%. Tetapi di kuartal kedua 2025 sektor FNB itu sudah naik menjadi 6,04%. Jadi memang faktanya terjadi pertumbuhan konsumsi di rumah tangga kita untuk bahan makanan, untuk bahan minuman ya dibandingkan kuartal 1 ya kuartal 2 memang terjadi peningkatan. Berarti oh oke juga ya konsumsi naik ya. Tapi kan kita juga investor ya jadi harus skeptis. Kalau ini terjadi peningkatan harusnya ini kerefleksi loh ke perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan retail yang berhubungan dengan konsumsi rumah tangga. Ingat ya bukan rekomendasi jual atau beli enggak ada hubungan sama sekali tapi gua mau bahas karena kita adalah investor. Kita tes dong data BPS yang katanya ekonomi tumbuh. Data transaksi belanja rumah tangkanya tumbuh. Kita tes ke laporan keuangannya Alpha Maret. So teman-teman bisa lihat di layar kaca ya. Alpha Maret di 3 bulan pertama 2024 itu cuman bisa membukukan laba R21 miliar. Tetapi di kuartal pertama 3 bulan pertama di 2025 mereka sudah naik menjadi 1 triliun. So dari sini lu bisa lihat ya dalil 921 miliar ke 1 triliun. Jadi peningkatan loh memang ada pertumbuhan di kuartal pertama. Nah kalau kita bandingkan half year karena sekarang kita datanya masih bulan Juni 2025. Ayo kita bandingkan data semester pertama 2024. Jadi data menunjukkan, Guys, dari bulan Januari 2024 sampai Juni 2024, laba Alfamart itu cuman 1,8 triliun. Tetapi di semester pertama 2025 dari bulan Januari 2025 sampai Juni 2025 labanya sudah naik. Tadinya cuma R, triliun, sekarang sudah naik menjadi 1,9 triliun. Hampir 2 triliun. So, dari sini kita bisa lihat bahwa memang terjadi growth di konsumsi rumah tangga. Karena kalau seandainya terjadi minus, artinya harusnya laporan keuangannya minus, tapi faktanya enggak, malah terjadi growth. Berarti betul terjadi ada pola pertumbuhan dari konsumsi rumah tangga. Hei, tapi kita enggak bisa cek ini dari satu perusahaan. Coba kita bandingkan dengan yang lain. Alpha midi teman-teman lihat di layar kaca Alfa Midi di semester pertama 2024 mereka itu labanya cuman 300 miliar. Tetapi di semester pertama 2025 labanya sudah 390 miliar. Artinya terjadi growth yang ekstrem, Guys. 30% loh growth dari 300 M ke R90 miliar di semester yang sama. So, kalau kita bandingkan ini ke data faktual dari bisnis rettail, ternyata memang terjadi peningkatan konsumsi rumah tangga. Berarti valid. Konsumsi adalah kontributor terbesar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih dari 50% dari sektor konsumsi rumah tangga dan itu terefleksi dalam pertumbuhan laba Alfamart. Menarik ya. Berarti memang benar ya rumah tangga kita pada sibuk belanja. Makanya gua jadi gak heran ketika gua baca berita headline, ada orang Indonesia banyak berjejer-jejer ngantri di mall mau belanja emas. Beli emnya bukan 1 gr, 2 gr loh, beli emnya 50 gr. Mereka sampai antri berhari-hari. Bahkan hari ini pun kalau lu mau ke Antam beli emas, antri lu, Bro. Lu datang ke Antam bawa duit, lu enggak bisa bawa pulang, Mas. Lu bisanya bawa pulang nomor antrian. Lu datang lagi ya 2 hari lagi baru bisa dapat emasnya. Segitunya orang Indonesia mau spending, belanja ke mana-mana. Gila. Gila. membingungkan nih ekonomi Indonesia dan kok bisa ya konsumsi kita meningkat terus. Padahal kalau teman-teman lihat berita di media, PHK massal di mana-mana, pecat-pecat massal di mana-mana. Bahkan data mengatakan bahwa di 3 bulan pertama 2025 ada 38 pabrik melakukan PHK massal. Bahkan di bulan Juni 2025 1 bulan aja PHK tembus 42.000 manusia yang di PHK. Apalagi di bulan Juli baru aja ya tumbang lagi nih pabrik tekstil di Karawang tutup korbannya ribuan tenaga kerja kena pecat. Nah, ini kan jadi membingungan, Guys. Orang pada belanja di mana-mana padahal PHK di mana-mana juga. Dan PHK di mana-mana ini dikonfirmasi dengan data dari Bank Indonesia. Kita punya layar kaca menunjukkan perkembangan indeks ya ketersediaan lapangan kerja di Indonesia itu bukan makin banyak tapi makin sedikit. Sejak awal tahun itu ada 107 poinnya. Tapi hari ini bulan Juni 2025 sudah turun menjadi 94 poin. Artinya kalau poinnya di bawah 100 ini menunjukkan kondisi ketersediaan lapangan kerja semakin sedikit. Artinya kondisi pesimis karena nilainya ada di bawah 100, Guys. Artinya orang enggak optimis seperti tahun lalu. Jadi dari sini kita bisa lihat memang betul lapangan kerja semakin sedikit, pengangguran makin banyak, PHK makin banyak. Tapi kan jadi aneh dong kalau gitu. Kok bisa pengangguran di mana-mana, pecatan di mana-mana, PHK di mana-mana, tapi kok konsumsi naik, ekonomi naik? Ini harusnya jadi pertanyaan, Guys. Gua enggak mau nyerah, kita cari dong. Makanya lu buruan daftar ya sekolah SAM BENX yang terbaru. Karena di season 8 kita akan belajar tentang investasi rare Earth. Nah, ini khusus buat pemula saham. Jadi buat teman-teman yang masih bingung gimana cara baca laporan keuangan, gimana cara mengkoneksikan neraca laba rugi, keputusan investasi, bisnis rare earth yang bakal booming sebentar lagi. Makanya sampai Donald Trump ngemis-ngemis minta rare Earth dari Indonesia. Tunggu apaagi, Guys? Yuk, segera ikutan di sekolah Sambenix season 8. Kita akan membahas khusus pemula di dunia saham gimana cara jadi investor yang hebat, khususnya di sektor rare Earth. Kita cari dong, gua akhirnya bukalah PMI index, purchasing manager index. Kenapa orang bisa belanja? Ya, berarti kan mereka jangan-jangan terima duit lebih banyak. Artinya ekonomi bergerak dari situ kali. Apalagi jangan-jangan pabrik-pabrik makin doyan belanja. So, ketika kita lihat data PMI terjadi apa? Memang peningkatan dari 46,9 ke 49,2 di bulan Juli 2025. Tetapi ini masih di zona merah. Karena kalau baca datanya Bank Indonesia ketersediaan lapangan kerja kalau di atas 100 bagus, di bawah 100 jelek. Kalau baca data PMI di atas 50 bagus, di bawah 50 jelek. Di bawah 50 membuktikan bahwa masih terjadi kontraksi di PMI index. Artinya para-para pemilik pabrik itu mengurangi belanja sektor manufacturing, tidak lagi belanja procurement berkurang. Itu yang terjadi. Oh. Ahah. Terus gimana, Guys? Kok bisa naik tinggi? Apalagi penjualan mobil ya, pabrikan mobil, namanya juga manufacturing juga itu bukannya makin tinggi tetapi makin turun. Teman-teman tahu di bulan Mei 2024 penjual mobil itu lebih dari 70.000 unit loh. Tetapi di bulan Mei 2025 cuman 60.000 unit. Artinya gua yakin ya penjualan mobil di 2025 lebih sedikit dibandingkan 2024. Maka lu jangan heran kalau saham kesayangan lu tuh perusahaan otomotif bakal makin nyungsep karena penjualan mobil bukan tambah naik tapi makin sedikit. Wah seru nih guys. Artinya apa? Ya memang terbukti pabrikan itu makin sedikit belanja ya karena barang-barang pabrikan mereka juga enggak banyak yang serap. Yang jadi pertanyaan kalau gitu kenapa konsumsi bisa menaik tinggi? Kenapa bisa bertumbuh ekonomi kita? Di situlah gua mulai berpikir, jangan-jangan ini terjadi karena mereka melakukan gerakan mantap alias makan tabungan. So, gua berangkat lagi, balik lagi ke Bank Indonesia buat ngecek pertumbuhan ekonomi 5,12% BPS ini asli atau palsu. Gua cek, jangan-jangan konsumsi rumah tangga yang kita lihat selama ini itu adalah konsumsi fake. Jangan-jangan mereka belanja bukan pakai uang mereka, tapi mereka belanja pakai cadangan duit mereka di deposito atau di tabungan. Dan ketika gua buka data Bank Indonesia, data tabungan mereka, rasio tabungan masyarakat bukan naik tapi nurun. Di bulan Juli 2024 itu ada 15,5% rasio dari pendapatan masyarakat yang dia bisa sisihkan buat ditabung. Tetapi di bulan Juli 2025 jumlahnya berkurang, hanya menjadi 13,7%. Di sini artinya orang-orang sudah melakukan gerakan mantap makan tabungan. Hmm, menarik. Kalau dari sisi tabungan berkurang di perbankan kita, berarti sisi lain ada peningkatan enggak? jangan-jangan utangnya naik. Ketika konsumsi naik, tabungannya berkurang, jangan-jangan utangnya juga naik. Dan ketika kita membuka laporan Bank Indonesia, data menunjukkan tesis kita valid. Bahwa konsumsi masyarakat di bulan Juli 2024 itu hanya 73,8%. Tetapi di bulan Juli 2025 konsumsi masyarakat malah naik menjadi 75,4%. Berarti valid, Guys. Tapi pakai duit siapa mereka itu lakukan belanja ekonomi kehidupan rumah tangga sehari-hari mereka? Ternyata data menunjukkan jangan-jangan ngutang dan itu terjawab di jumlah cicilan pinjaman rakyat yang bertumbuh tadinya cuma 10,7% di tahun 2024 tetapi di tahun 2025 naik menjadi 10,9%. Begitupun tabungannya tadi konsisten memang berkurang. Tadinya 15,5% di tahun 2024 masuk ke 2025 sudah berkurang hanya tinggal 13,7%. Jadi dari sini kita mendapatkan informasi awal bahwa hei konsumsi rumah tangga meningkat berarti datanya cocok nih dengan BPS. Ketika kita konfronir dengan data Bank Indonesia, ternyata betul konsumsi naik. The Bank Indonesia juga menunjukkan itu. Pada saat yang sama tabungan berkurang dan hutang naik. WS jadi menarik. Hutangnya dari mana? Kita cek dong. Gua enggak yakin semua orang Indonesia bankel. Kalau konsumsi rumah tangga naik, gua enggak yakin murni itu utang dari perbankan. Ternyata ketika kita cek ini juga terefleksi, Guys, dari penggunaan payat ya, BNPL bisnis eh buy now pay ternyata naik 23%. Jadi, Bopelator ini bukan cuma perbankan loh, memang kayak ada Bank BCA lah, teman diri lah, tapi banyak juga fintech-fintech yang menyediakan bopellator. Contoh Shopee Pay itu bisa atau pakai GoPay atau pakai Credivo. Jadi banyak banget lalu bisa pakai Bino Pay later. Ternyata angkanya menunjukkan peningkatan. Ternyata terbukti nih teori gua bahwa fenomena pertumbuhan ekonomi 5% ini itu harus dipertanyakan bukan karena basis datanya palsu, tetapi karena penyangga pondasinya ternyata bukan pakai duit sendiri, tetapi duit orang lain. Ini adalah kombinasi antara gerakan mantap makan tabungan dengan gerakan matang makan utang, guys. Mantap, Bro. Jadinya nih. So, gua cek data by peleter data peningkatan. Gua jadi tambah curiga. Jangan-jangan data pinjol juga meningkat. So, ketika gua investigasi sekarang gua berangkat ke OJK, ternyata memang pinjaman online pinjol itu meningkat pesat, Guys. Teman-teman tahu di bulan Desember 2024 orang yang ngutang di pinjol itu R7 triliun. Tetapi di bulan Juni 2025 ini belum selesai loh tahun 2025, tapi angkanya sudah melebihi 2024 bahkan sudah tembus 83 triliun. Nah, yang mengerikan guys, ketika jumlahnya naik dari 70-an triliun ke 80-an triliun udah pasti gagal bayarnya naik. Apalagi ekonomi lagi sulit. So, gua cek jumlah orang yang NPL, non performing loan. Orang-orang yang kreditnya macet. Ternyata memang terjadi peningkatan. Di bulan Desember 2024, orang yang kreditnya macet 2,6%. Di bulan Juni 2025 sudah naik menjadi 2,85%. Artinya, Guys, semua yang lu lihat transaksi ekonomi belanja rumah tangga itu sedih karena mereka ternyata makan duit pinjol atau makan duit buy now pay later. Dan ini semua kan bunga berbunga, Guys. Dan kita cek lagi datanya. Oke, Guys. Enggak semua orang punya akses ke pinjol misalkan. Gimana kalau mereka ke pegadaian? Gua buka lagi data pegadaian. Data pegadaian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan signifikan. Di bulan Maret 2025, orang yang ngegadai harta bendanya itu nilainya R95 triliun. Di bulan April 2025 sudah naik menjadi 100 triliun, Guys. Cuma dalam waktu 1 bulan. Di bulan Mei 2025 naik lagi menjadi 103 triliun. Artinya, Guys, pertumbuhan ekonomi kita itu naik tinggi, konsumsi naik tinggi betul-betul menggunakan duit utang. Ini ngeri sih dan ini udah tervalidasi karena gua udah ambil data dari pincolat pegadaian semua menunjukkan yang sama. Bahkan data perbankan juga tadi kan pinjaman itu komposisi buat nyicil pinjaman itu makin tinggi loh. So ini bisa menciptakan bob waktu guys bagi perekonomian kita. Makanya buat teman-teman ya gua lebih fokus kepada solusi. Ini menurut gua lebih penting sih soal data BPS itu asli atau palsu ya. Gua udah kasih data perbandingan yang ternyata memang faktual datanya di Bank Indonesia memang terjadi peningkatan konsumsi rumah tangga. Tetapi pada saat yang sama lu harus curiga konsumsinya dari mana? Ternyata jumlah tabungannya berkurang, tetapi jumlah utangnya bertambah. Dan ini ngeri, Guys. Ngeri. Kenapa? Lu tahu bunga pinjol itu bisa sampai 12% per bulan, Guys. Ini kan sadis loh. Ngeri enggak? 12% per bulan loh bunga pinjol itu sadis. Kita belum ngomongin by no payer lah atau pegadaian dan lain sebagainya. Enggak. Kalau makin banyak orang yang menggadaikan hartanya, menjual jiwa raganya, ikut pinjol lah, ikut rentenir lah, wah bisa habis ekonomi kita. Jadi ternyata pertumbuhan ekonomi kita ditopang oleh sesuatu yang fragile yang namanya apa? Utang. Dan utang itu enggak gratis, ada bunganya. Dan ini bisa jadi bom waktu kalau suatu waktu seketika terjadi semua orang banyak yang gagal bayar. Karena tadi ya, angka orang yang gagal bayar itu bukan berkurang tetapi meningkat. Gimana enggak meningkat? Orang dia belanja enggak ada kerjaan, orang dia ngutang dia kena PHK. Terus bayarnya pakai apa? Ini kan jadi bom waktu. Ketika ini semuanya gagal bayar, wah perekonomian kita bisa habis, Guys. Makanya gua sangat setuju ya kalau pemerintah ini harus segera bergerak cepat. Apalagi kemarin ya KPPU ya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha itu sudah mencurigai ada permainan mata nih antara para pelaku pinjol nih. Mau yang ilegal atau yang legal. Dan nilai transaksinya ngeri loh, R.650 triliun. Kan gila, Guys. Ini benar-benar harus segera ditangani, Guys. Bahkan gua minta ya, KPK, Kejaksaan itu juga turut mengusut kasus ini. Lu bisa bayangkan peredaran uang negara kita, rakyat kita yang makin tersedot lagi ke sana. Kalau dibiarkan, wah makin parah, Guys. Apalagi kalau sampai betul ada kartel di situ. Wah, ini ngeri. Ini benar-benar jadi bom waktu nasional sih kalau seandainya kita enggak tangani ini dengan bijak ya. Karena memang ya sisi positif mereka membantu pertumbuhan ekonomi nasional. Tapi di sisi negatif ketika terjadi ledakan gagal bayar karena bunga yang mencekik ini, apalagi kalau betul ada dugaan kartel itu, wah siapsiap sih negara bisa hancur, Guys. Nah, menurut kalian gimana, Guys? Ini kabar baik atau tidak sih? Pertumbuhan ekonomi 5,12% yang ditopang dari konsumsi. Apalagi setelah kita bongkar memang betul konsumsinya itu meningkat, valid. Tapi ternyata berdasarkan analisis BIS yang lu bisa lihat di sini itu ditopang oleh duit orang lain. Duit bank, duit pinjol. Bopelator, pegadaian yang kalau seandain ini semua colollaps, ujung-ujungnya ekonomi kita juga yang dirugikan. Jadi yang bagus gimana? Gua sih senang kalau pertumbuhan ekonomi kita itu mulai diversifikasi. Kita andalkan investasi asing, jangan anti asing. Makanya demo-demo anti asing ini harus segera dibantai nih. Demo-demo menolak masuknya dana asing, investasi pertambangan kek, investasi pabrik kek, banyak orang demo lah. Pabriknya belum jalan sudah demo kan enggak masuk akal. itu harusnya didukung dan bisnis-bisnis yang bereasi ekspor harus kita bantu, sokong, permudah izinnya, permudah dapat lahannya. Kalau bisa diskon juga listriknya, diskon gasnya supaya ekonomi kita enggak bertopang pada sektor konsumsi doang. Yang lebih ngeri lagi apa konsumnya? Konsumsi barang-barang luar negeri. Kemarin gua baru dapat kiriman oleh-oleh dari Bali namanya pia. Pia susu. Pas gua lihat komposisinya apa, ternyata mayoritas adalah tepung terigu. Ternyata oleh-oleh khas Bali adalah produk impor. Karena pias susu itu bahan bakunya tepung terigu. Gua lihat bahan baku kedua apa setelah tepung terigu? Ada susu, mentega, telur. Nah, lu udah tahu sapi aja kita impor. Berarti kita makan bareng impor. Telur kita makan apa? Jagung. Ayam kita makan jagung. Pakannya dari mana? impor. Jadi, oleh-oleh kas Bali itu setelah gua lihat ternyata isinya adalah barang impor. Itulah produk UMKM kita isinya barang impor. Ya, gimana bisa maju? Kenapa enggak makin miskin aja kita udah beli barang impor Bali bahan bakunya pakai dolar, terus UMKM kita harus didukung, diberikan insentif, diberikan keringanan pajak. Padahal hobinya adalah jual beli barang impor. Makin habis ekonomi kita. Makanya kita harus dukung penuh kalau pertumbuhan GDP harus mengandalkan investasi dan produk-produk ekspor. Nah, menurut kamu gimana, Guys? Menurut kalian ini kabar baik atau kabar buruk sih? Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,12%. Itu dulu deh. Yuk, segera tuliskan pandangan kalian di bawah ini seperti apa dan solusinya apa nih supaya kita bisa segera pindah diversifikasi. Tadinya bergantung kepada konsumsi, pertumbuhan ekonomi kita, tetapi bisa geser ke tempat lain lah. Solusinya apa ya, Guys? Ditunggu loh komentar kalian sekarang juga. Semoga video ini bermanfaat. Salam sehat, salam cuan. Bye bye. [Musik]