5 Reasons Why Inheritance Can Ruin Children's Character and Career!
HuzBO-5QSSM • 2025-10-19
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Lu pernah dengar enggak kisah tentang keluarga yang kaya raya? Wah, kaya banget mereka nih. Dan mereka tuh super kompak, super solid ya, harmonis lah. Tapi ternyata keluarga ini ujung-ujungnya berakhir saling benci, saling curiga, bermusuhan cuma gara-gara masalah warisan. Padahal ya dulu mereka ya rukun bahagia. Seolah-olah kayaknya keluarga paling keren sedunia lah keluarga ini. Tapi begitu sang ayah meninggal yang tersisa nih cuma perkara, sidang, somasi, gugatan, tuntutan. Soal apa? Perebutan rumah, tanah, rekening tabungan, saham. Wah, kacau. Dan ini sebetulnya sedih banget, Guys. Kenapa namanya juga ini channel investasi? Karena gua baru saja bertemu dengan keluarga yang berperang ya satu sama lain bahkan hampir saling bunuh sesama anak bahkan anak dan ibunya. Dan ini sangat sedih sekali padahal ya dulu mereka kompak banget. Nah, ironisnya di Indonesia masih banyak loh orang tua itu yang berpikir meninggalkan harta yang banyak buat anaknya itu salah satu bentuk kasih sayang. Bahkan mungkin itu bentuk kasih sayang yang paling penting. Nah, ini bahaya karena dalam banyak kasus yang gua pernah temui, by the way, gua juga dulu lawyer, gua ketemu dengan begitu banyak kasus terkait ini. Ternyata justru ketika bagi-bagi harta, bagi-bagi harta warisan, kekayaan, bukan jadi sumber kebahagiaan, tetapi itu justru menjadi awal kehancuran sebuah keluarga. Nah, kali ini gua mau sharing tentang El ya sama teman-teman di sini. Banyak follower gua usianya udah di atas 50 tahun. Dan ini bisa jadi pelajaran juga buat yang usia muda supaya lu tidak menjebak diri lu sendiri atau menjebak anak cucu kalian dari yang tadinya lu kira nih, lu memberikan kebahagiaan, mewariskan harta kesejahteraan. Ternyata yang lu wariskan adalah racun, Guys. Hati-hati loh. Karena ada ilmu menarik nih tentang harta warisan yang di-sharing oleh investor terhebat di dunia. Yuk, langsung aja kita bahas. [Musik] Yuk, kita langsung bahas aja nih. Karena ini hal ini menarik banget nih, Bro. Cuman sayang sangat sedikit orang yang membahasnya. Bahwa mewariskan harta ke anak itu enggak selalu salah loh. Tapi bisa jadi sangat berbahaya kalau lu tidak lakukan itu dengan matang dan bijaksana. Nah, ini gua mau sharing ya, lima alasan ya, kenapa warisan itu bisa jadi racun dan jebakan. Dan ini ngeri. Pertama ya, mewariskan uang itu bisa membunuh daya juang seseorang. Dan gua udah lihat begitu banyak contohnya ya, orang-orang yang dapat jadi pewaris. Begitu dapat duit banyak apa yang terjadi? Hilang harga dirinya. Dan ini gua lihat begitu banyak ya orang yang dapat harta warisan turun dari langit ya. Mereka hidup itu kayak enggak hidup, enggak kayak manusia. Kenapa? Lu jangan ketawa ya. Tapi gua memang pernah ketemu anak nih orang kaya banget. Bapaknya itu pas meninggal ninggalin harta hampir 2 triliun. Sampai detik ini anaknya enggak pernah kerja, enggak pernah berkeringat. Dan gua berulang kali ngelihat anaknya ini kayak enggak ada roh, kayak enggak manusia hidup lah. Dan gua bertanya-tanya kok kenapa dia sayang banget dia punya bakat, dia pintar, dia tidak butuh. Dia lulusan universitas ternama di luar negeri. Tapi kok dia tidak ada memberikan sesuatu buat society, enggak ada kebermanfaatan dampak bagi masyarakat. Gua tanya begitu, kenapa? Akhirnya gua ketemu sama sekretaris bapaknya. Sekretaris bapaknya itu bilang sama gua, "Oh, begini, Pak Ben. Wajar saja dia begitu. Karena dulu bapaknya pernah ngomong sama dia, kamu enggak usah khawatir, Nak. Nanti kamu kalau udah besar, kamu gak perlu kerja. Gak perlu kerja keras kayak bapak. Bapak udah siapin warisan yang banyak buat kamu. Wih, gua bilang aneh banget bapak itu ya. Dia mau menciptakan generasi apa? Gua kira itu tidak betul. Sampai kemudian gua ketemu sama salah satu direktur perusahaan yang dimiliki bapaknya. Terus gua tanya, "Itu si pewaris itu udah pernah datang belum ikut RUPS atau meeting?" "Oh, enggak pernah datang, Pak, sama sekali. Sibuk main game aja di rumah dia." "Loh, kenapa begitu?" Tuh ya. Soalnya udah diajarin bapaknya enggak usah kerja seumur hidup bapaknya udah lakukan itu buat dia. Oh, ya udah berarti gua tinggal melihat detik-detik kehancuran perusahaan ini. Udah pastilah. Nah, teman-teman ini bahaya ya. Apalagi ketika lu ngasih tahu sama anak lu bahwa papa punya hotel di situ, papa punya lapangan golf di situ, papa punya tanah di sini, papa punya rumah. Tuh, apa yang terjadi? Melatih mental anak lu manja. Gua udah lihat ini begitu banyak kenalan, bahkan saudara gua, teman baik gua, kenalan gua itu banyak yang begitu hancur mentalnya. Karena orang tuanya udah pernah ngomong dan anaknya tahu. Makanya kalau bisa nih, kalau lu punya duit banyak, kalau bisa anak lu jangan sampai tahu. Kalau dia udah tahu dan dia manusia combok, enggak punya tulang punggung, enggak punya rasa malu, apa yang dilatih mindset dia, ya sudah tahu segalanya sudah disiapkan masa depannya akan seperti apa. Dia tidak usah berkeringat, berjeripaya. Akibatnya lu melahirkan manusia tanpa tulang belakang. Lemper. Dia udah tahu rumah ada, mobil tinggal pakai, bisnis tinggal duduk di kursi direktur. Tinggal iya-iya tanda tangan, tanda tangan tanpa perlu tahupun apa yang dia tanda tangan, perusahaan tetap jalan terus, pikir dia. Jadi dia udah enggak usah lagi putar otak, bahkan berkeringat ya untuk tahu apa sih yang harus diperjuangkan. Karena udah enggak ada esensinya lagi dia berjuang, bangun karir, bangun koneksi, bangun pengetahuan. Enggak. Karena dari kecil dia udah kasih tahu, "Eh, enggak usah gua repot. Bokap gua punya tand 7.000 1000 hektar di sebelah sana. Bokap gua punya kebun sawit di sini. Bokap gua punya kapal tanker sini. Hmm. Manja habis lu. Ngeri ini. Dan akibatnya apa? Begitu anak lu udah tahu itu rasa lapar dia bakal hilang, rasa haus dia hilang, daya juang dia hilang, dan ambisi yang seharusnya ada ya di pewaris ya itu bakal berganti nih jadi rasa nyaman. Nah, pelan-pelan nih generasi penerus ini yang punya mentalitas seperti itu apalagi ditambah dimanja sama orang tuanya. Apa? Dia bukan lagi jadi seorang kreator, inovator, pengusaha yang harusnya resilience, tan banting, kuat, yang harusnya berpikir tentang bagaimana meng-create value, bagaimana kita harus lebih kreatif lagi, lebih produktif lagi. Enggak. Dia akan menjadi generasi yang punya mindset penikmat hasil. Ah, gua duduk-duduk aja dapat duit. Ah, gua duduk-duduk aja dapat deviden. Ah, gua duduk-duduk tidur-tidur golek-golek aja bisa pakai AC. Enggak usah bayar listrik, enggak usah takut besok makan apa, buat apa gua kerja keras. Pembantu gua ada delan, supir gua ada tujuh. Buat apa? Dan ini lu jangan kira cuma sedikit orang yang punya mindset begini apalagi anak-anak manja di luar sana. Genzy itu banyak banget gak punya tulang belakang tuh akibatnya gak bisa berdiri tegak, lemper, lembek. Dan ini sudah dibuktikan dengan riset dari Williams Group World Consultancy, salah satu lembaga konsultan terkait dengan ahli waris yang salah satu paling terkenal lah di dunia lah. Dia bilang apa? 70% keluarga kaya mereka itu kehilangan kekayaan mereka di generasi kedua. Dan 90% keluarga yang kaya raya, harta kekayaannya habis di generasi ketiga. Nah, gua udah lihat ini semua, Guys. Yang habis haranya di generasi kedua. Gua udah pernah lihat dengan mata kepala gua yang habis di generasi ketiga. Yang tadinya dulunya bapak kaya banget. Mungkin salah satu orang terkaya di pulau Sumatera. Sekarang generasi ketiga apa? Ngemis, lintang lantung. Hidupnya pindah-pindah dari rumah ke rumah di Medan. Padahal dulu orang terkaya di Pulau Sumatera. Habis dalam dua generasi. Generasi ketiga luntanglantung enggak jadi apa-apa. Ini ngeri loh. Gua enggak mau sebut sih nama pabriknya apa nanti ketahuan siapa yang gua maksud. Ya, by the way guys, ini semua kejadian ya bukan karena anak-anak itu bodoh atau enggak disekolahin, enggak punya pendidikan. Enggak. Bahkan gua udah ketemu yang dapat pendidikan S1, S2, S3 dari luar negeri, dari Amerika Serikat ada. Ah, lu jadi tahu nih yang gua ngomongin siapa nih. Tapi intinya bukan karena faktor mereka enggak terdidik atau bodoh, enggak. Tapi karena mereka dari kecil tidak dilatih untuk berjuang dari nol. Nah, yang kedua warisan ya yang enggak dikelola, yang enggak di-manage dengan bijaksana dan enggak diatur bahkan dan enggak pernah diobrolin bahkan di keluarga itu, itu ujung-ujungnya bakal menjadi sumber dari bencana. Kenapa sumber dari bencana? Karena dia akan menciptakan konflik yang tidak akan pernah usai. Nih nih yang kedua nih, jebakan warisan nih. Kenapa lu tahu? Ya kan gua mantan lawyernya di Indonesia. Lu juga bisa lihat datanya sih di peradilan Indonesia di Mahkamah Agung. setiap tahunnya loh kita itu ada hampir 1000 kasus per data yang berhubungan dengan sengketa warisan. Jadi bukan satu dua orang konflik warisan itu enggak banyak. Jadi ada saudara ya saling lapor polisi, saling somasi, saling gugat, saling blokir di WhatsApp. Keluarga-keluarga atau saudara-saudara yang dulu tumbuh bersama, happy bersama, main bareng ya. Tapi ternyata setelah besar di hari itu mereka saling bermusuhan gara-gara uang. Gua udah lihat ini mereka saling benci gara-gara uang. Ya, ya. Kita enggak bicara soal nilai juga sih nih, karena enggak peduli berapap pun nilainya. Kadang bahkan cuma warisan rumah tua yang ada di kampung yang bahkan mereka juga jarang pulang kampung 10 tahun sekali pun belum tentu. Tapi berantemnya udah kayak dunia bakal kiamat. Dan ada juga memang yang berantem gara-gara harta tanah misalkan yang nilainya miliaran rupiah. Tapi ujung-ujungnya sama lah. Intinya apa? Hasil akhirnya sama. Keluarganya retak bahkan pecah. Bahkan keluarga besar pun pengusaha yang seharusnya biasanya terdidik juga dan sudah disiapkan. Itu seringkiali loh gua lihat itu hancur gara-gara mereka tidak bisa mempersiapkan ya sesuatu yang sudah pasti yaitu kematian dan dia ujungnya juga enggak bisa mempersiapkan warisan dengan bijak. Jadi enggak pernah ada pembagian yang jelas, enggak pernah ada komunikasi terbuka. Yang ujung-ujungnya nanti ketika meninggal nih bapaknya nih biasanya yang tersisa cuman siapa yang paling berhak. Udah siapa yang paling berhak? Oh, dia paling berhak karena dia anak pertama. Oh, enggak. Oh, dia yang paling berhak karena dia anak laki-laki yang paling tua. Oh, dia yang paling berhak karena dia anak yang paling bungsu. Padahal esensinya bukan itu. Bahkan mungkin ada yang bilang harusnya dibagi rata. Rata itu versi siapa? Kalau ada yang anaknya masih umur 2 tahun, apa iya bagiannya sama dengan anak yang umurnya 50 tahun, punya empat anak, harus sekolahin anaknya kuliah, apa jadi harus bagi rata? Terus enggak fair dong. Jadi gimana yang benar paling benar? Yang paling benar komunikasi sebelum lu meninggal, Bro. Jadi buru-buru deh bikin surat wasiat biar orang enggak jadi perahara nih. Karena udah pasti gua udah lihat dengan mata kepala yah tujuh dari 10 orang meninggal ya itu meninggalkan perpecahan. Semoga lu bukan salah satu bagian dari itu. Gua ulangin sekali lagi buat follower gua yang udah tua siapin wasiat ngobrol sama ahli waris lu. Ngobrol sama keluarga lu, istri lu, anak-anak lu. Harus ngobrol, harus terbuka. Kenapa? Karena sekali lagi gua bilang tujuh dari 10 orang yang meninggal meninggalkan apa? konflik, guys. Hati-hati loh. Lu kira harta yang lu tumpuk selama ini membawa berkat bagi orang. Enggak jadi racun. Bahkan lu enggak mau itu terjadi, kan? Jadi mulai sekarang lu siapinlah itu berkas-berkasnya. Siapinlah itu wasiat lu. Obrolorinlah itu dengan ahli waris lu jauh-jauh hari sebelum lu mati. Mungkin lu mati pun masih 7 tahun lagi enggak ada yang tahu. Kunus. Tapi komunikasi selalu bagus. Kalau perlu overcommunicate. Jadi semua orang tahu siapa dapat apa, siapa tidak dapat apa. Sahsah aja. Halo, Guys. Kali ini kita diundang nih buat ngisi acara di Bintaro yang judulnya Konser Cuci Otak. Jadi, Benix diundang sebagai salah satu pembicara di sana loh. Nah, event ini seru banget karena di sini Benix enggak bakal berbicara tentang saham sama sekali. Enggak ada tentang dunia saham. Tapi mereka malah minta Benix untuk mempresentasikan ya, membawakan sebuah materi khusus yang enggak pernah ditayangkan di channel YouTube-nya Benix karena berhubungan dengan ya keamanan timnya Benix ini. Kenapa bisa begitu? Ya, karena di sini materinya lu bisa pilih ada tiga. Gua enggak bisa bahas semuanya, tapi satu ada. Lu bisa pilih sendiri tema mana yang paling baik nih buat kita bawakan di acara nanti. Yang pertama, lu bisa pilih judulnya prediksi BNIX tentang Kerusuhan Besar 2026 di Kazakhstan. Ingat ya, bukan di Indonesia tapi di Kazakhstan. Ya, kita bakal membahas detail tentang penyebab, dampak, dan siapa aktor penting di baliknya. Atau menurut lu lebih oke kita bahas yang kedua nih, bisnis darah Arab Saudi. Ya, kita bakal ungkap tuntas nih bagaimana rakyat Indonesia tanpa sadar sebetulnya terlibat loh dalam konflik Palestina dan membantu Israel untuk membantai, membunuh anak-anak di Palestina secara tidak langsung. Atau jangan-jangan yang ketiga, bagaimana melakukan hipnotisme massal. Jadi ya, gua bakal ngasih sharing nih, ini ajaran sih bagaimana cara melakukan praktik cuci otak yang paling efektif sepanjang sejarah dunia. Dan ini wajib diketahui ya karena ya negara-negara di seluruh dunia menggunakan strategi ini. So, teman-teman kalau lu mau ikutan buat di acara spesialnya Benix di Bintaro tanggal 26 Oktober bulan ini jam .00 siang, lu segera daftar ya di link yang ada di bawah ini. Dan sama-sama yuk kita saksikan ya video Benix apa sih yang udah kita bikin dari lama tapi enggak pernah kita tayangkan di channel YouTube-nya Benix. Yang ketiga, kondisi apa warisan itu menjadi jebakan, menjadi racun ketika anak tidak siap mengelola kekayaan. Bayangin ya, kamu kasih duit R miliar ke anak usia 20 tahun yang tidak pernah kerja. Coba lu bayangin enggak pernah kerja baru lulus kuliah biasanya hai hahi jalan-jalan ngo nongkrong tiba-tiba dapat duit 5 miliar. Enggak pernah kerja, enggak pernah keringat nih orang. Tiba-tiba dapat duit 5 M dari lu. Kira-kira bakal yang apa sih yang terjadi? Ya gua sih bisa lihat sih kemungkinan besar duit itu bakal habis guys. Ya, bukan karena anak lu punya niat jahat, mungkin juga bukan karena anak lu pakai narkoba. Gua yakin sih bukan gara-gara itulah ya. Makanya lu nonton channel Beni Nix karena lu bijaksana. Tapi gua yakin duit itu habis. Karena dia tidak ngerti cara mengelola keuangannya. Dia buta finansial. Dan ini berbahaya karena tanpa literasi finansial ya, ada orang bilang yang berbahaya itu buta huruf. Kagak. Ada tiga jenis kebutaan yang berbahaya di dunia ini dan itu bukan buta huruf. No. Yang pertama paling berbahaya adalah buta hukum. Lu jadi enggak tahu hak lu. Bahkan ketika lu ditindas, hak lu dirampas, lu enggak ngerti. Karena lu buta hukum. Itu berbahaya. Yang kedua adalah buta finansial. Ini sangat fatal. Siapapun lu, apapun profesi lu, mau lu petani, mau lu pengusaha, mau lu karyawan, kalau lu buta finansial, oh siap-siap aja lu. Lu bisa jadi meranah seumur hidup lu karena lu tidak bijak dalam mengelola finansial lu. Kenapa? Karena tanpa literasi finansial, kalau lu tidak melag finansial, maka lu tidak bisa disiplin finansial. Kalau lu tidak bisa disiplin finansial, maka ketika lu terima warisan yang besar itu justru jadi racun yang manis. Racun yang membunuh lu perlahan-lahan. Racun yang membunuh anak kamu perlahan-lahan. Karena dia tidak bisa membedakan ini duit buat apa. Oh, kayaknya boleh nih buat pacaran. Oh, boleh nih buat ganti handphone baru. Oh, enak nih buat ganti motor baru, mobil baru. Ujung-ujungnya habis jadi debu tadi yang gua bilang karena dia tidak bijak. Dia tidak tahu cara mengelola finansial itu. Ya bayangin bocil umur masih 20 tahun enggak pernah kerja seumur hidupnya. Tiba-tiba karena lu merasa lu orang yang sangat baik dan lu cita-cita lu masuk surga, jadi lu kasih duit 5 M ke anak lu. Hilang itu. Ingat ya, bukan karena anak lu jahat. Enggak. Gua yakin enggak, tapi karena dia tidak melag finansial. Nah, ini contoh ekstrem bisa kita lihatlah dari banyaklah anak pejabat, anak artis, atlet terkenal atau mantan selebritis. Ya, begitu dapat uang besar mereka apa? party pestapora, ganti mobil baru, jalan-jalan, belanja hal yang enggak penting, enggak perlu. Terus ujung-ujungnya ada sisa duit apa yang dia pakai? Investasi bodong. Yakinlah. Bahkan banyak kok pensiunan, gua yakin banyak pensiunan BUMN, swasta, PNS yang begitu pensiun. Bahkan nih udah orang udah punya kerjaan tapi seumur itu kerja ya. Tiba-tiba dapat duit miliaran pensiun. Duitnya apa yang terjadi? Hilang. Kenapa? Karena seumur hidup dia kerja duduk di belakang meja, di belakang komputer ngetik-ngetik tiba-tiba pensiun dapat duit miliaran. Ngide, "Kayaknya bagus nih gua pensiun ternak lele atau gua ternak bebek, apa yang terjadi? Hilang duit lu. Yakin gua? Tulis di kolom komentar. Kok bisa?" Ya bisa karena lu tidak melik finansial, tidak sadar. Lu punya enggak kemampuan itu? Lu ngerti enggak sih? Mayoritas enggak. Jadi bukan cuma bocil 20 tahun, enggak. Orang yang sudah umur 70 tahun pun dikasih 5 M, dikasih 10 M warisan atau uang pesangon pun bisa hilang loh karena dia enggak melag finansial. Jadi dan itu banyak terjadi ya cuman begitu dikasih ya tunggu aja 5 tahun 7 tahun bangkrut banyak begitu. Jangan lu jadi bagian dari itu. Makanya penting buat teman-teman segera upgrade knowledge investasi layar ke atas sama anak-anak lu. Suruh dia kursus. Kursus bahasa, kursus komputer, kursus finansial, kursus pajak, apalagi penting tuh akuntansi dan investasi. Karena itu investasi layar ke atas pasti bermanfaat. Sumur hidup akan dia bawa itu dalam perjalanan hidupnya enggak bakal lepas. Ya, contohnya misalkan lu investasi bahasa, kursus Mandarin, kursus bahasa Inggris, sumur hidup dia akan bawa itu dalam hidupnya dan pasti bermanfaat pasti. Nah, yang keempat ini masalah jebakan warisan yang bahaya ya karena bisa jadi racun. Dia bisa mencebkan ketergantungan kayak nark dan yang kedua menyebabkan krisis identitas. Ini penting loh, karena manusia itu diciptakan dengan identitas sendiri yang unik dan dia bisa jadi mengalami krisis kepercayaan dirinya. Kenapa? Karena ya duit warisan ya, harta warisan itu bisa menciptakan ketergantungan yang tidak terlihat. Ini bahaya nih. Karena di belakang layar anak itu merasa nih hidupnya di bawah bayang-bayang orang tua. Anak itu merasa dia harus ikut jadi seperti orang tuanya. Ngintilin terus, enggak pernah independen, enggak pernah mandiri. Ujung-ujungnya ketika orang tuanya meninggal apa? Mereka berjalan tanpa arah, enggak tahu mesti ke mana karena terbiasa ngintil, terbiasa hidup di bawah bayang-bayang. Nama besar orang tuanya. Hati-hati lu. Iya, gua lagi ngobrol sama lu. Lu tahu apa yang gua obrolin? Hati-hati lu. Kenapa? Karena begitu lu meninggal, jangan sampai ya anak lu tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya. Mereka enggak tahu siapa mereka tanpa identitas nama besar keluarganya. Begitu orang tuanya meninggal dunia, runtuh identitas itu. Jangan dianggap remeh. Karena banyak orang begini, apalagi anak-anak orang besar lah yang namanya terkenal atau pengusaha ternama. banyak loh hancur seperti itu ya karena anaknya enggak punya identitas. Dia merasa dia pengin jadi pelukis atau menjadi pengusaha game atau menjadi musisi rock and roll atau pengin jadi guru atau pengin jadi pengusaha properti, enggak bisa. Dia enggak bisa wujudkan identitas dirinya karena ayahnya udah bangun usahanya selama bertahun-tahun. Punya nama besar yang begitu hebatnya di dunia bakm goreng. Kaya banget dari Sabang sampai Maroke orang makan bakie goreng dia. Iya. Gua lagi ngomong sama lu. Lu tahu siapa yang gua maksud? Lu sebenarnya enggak mau jadi kayak bapak lu bisnis bak Mi goreng. Lu pengen jadi diri lu sendiri karena lu mengenal diri lu sendiri. Lu tahu apa yang lu mau. Tapi lu enggak bisa lakukan itu karena lu enggak punya nyali. Lu udah bergantung pada racun itu. Apa duit bapak lu. Hilang jati diri lu sehingga lu sampai detik ini pengecut buat ngaku. Sebenarnya gua bukan A. Gua ini B. Tapi lu enggak punya nyali kan? Dan ini sedih karena ujung-ujungnya nanti di hari tua anak lu ya dia bakal ngih bahwa ya uang itu memang bisa loh membeli begitu banyak hal. membeli begitu banyak koneksi, membeli begitu banyak kenalan, membeli begitu banyak barang-barang. Tapi satu yang enggak bisa dia lakukan apa ya? Duit lu. Seberapa banyak duit warisan lu, dia enggak bakal bisa membeli makna hidup lu. Hati-hati lu. Hei, para pewaris, hati-hati lu. Dan ini bahaya. Apalagi buat lu yang mau mewariskan harta lu, ya. Kenapa lu harus hati-hati? Karena ya gua lihat ya, banyak nih anak-anak yang hanya tumbuh sebagai pewaris, dia kehilangan hal yang paling penting, yaitu alasan untuk hidup. Ngeri loh. Enggak punya alasan buat hidup. Ngeri. Banyak. Gua tanya. Menurut lu, lu kenapa hidup hari ini? Menurut lu kenapa lu diciptakan untuk lahir di dunia ini? Hei, tanya sama diri lu. Gua yakin banyak dari lu enggak tahu itu. Tanya itu sama anak lu. Menurutmu, lu kenapa ya dilahirkan di muka bumi ini? Coba deh tanya sama diri lu, sama anak lu. Tahu enggak ya mereka itu? Kalau mereka enggak tahu, mereka enggak kenal diri mereka dan itu bahaya. Ujung-ujungnya apa? Dia bakal ikut-ikutan atau dia bercita-cita jadi orang lain atau dia bercita-cita menjadi bukan dirinya sendiri. Artinya apa? Dia akan membohongi hidupnya. Seumur hidupnya dia hanya hidup untuk membohongi dirinya sendiri. Sayang. Kasihan. Nah, yang kelima. Nah, ini penting, Guys. Ini Warren Buffet sudah bilang, ya tentang pentingnya value. Namanya juga di aliran value investing, ya. Jadi, dia bilang, "Ya, warisan itu harus bernilai." Kenapa harus bernilai? Karena kalau warisan tanpa nilai itu sia-sia. Itu sebuah kesia-siaan. Jadi dia pernah bilang gini, "Lu jangan pernah mewariskan duit nih ke anakmu." By the way, Warren Buffet orang terkait di dunia, dia juga enggak mau warisin duit ke anaknya. Itu bahaya. Yang paling penting apa? Yang paling penting lu wariskan nilai ke anak lu, wariskan value ke anak lu. Atau dalam konteksnya War buffet, wariskan cara knowledge bagaimana menciptakan uang, bagaimana menciptakan value, how to create itu yang penting. How to create value. Jadi kalau lu jago banget katakan di bisnis perikanan, lu tahu bisnis perikanan dari ujung sampai ujung. Oh, ini bagus nih kita impor ikan kembung. Oh, bagus nih. Oh, bagus nih. Kita invest di kapal, tangkap ikan tuna, tangkapnya di Indonesia Timur, jualnya ke Jepang atau ikan salmon. Lu udah ahli lah. Kapan harus berlayar, kapan harus sembunyi, kapan harus tebar jala, kapan harus servis kapal. Lu udah paling ahli loh. Dapat duit banyak lu dari situ. Yang paling penting dari lu adalah bukan gimana caranya mewariskan duit itu ke anak lu, tapi lu wariskan value-nya sebagai seorang nelayan, resilience, fight, bisnisnya, triknya, caranya. Itu paling penting sih value itu. Itu bisa dipakai buat anak lu. Bukan cuma soal bisnis mancing. Gua yakin value yang sama. Cara berlayar yang baik, cara mengarungi ombak yang baik, cara berinteraksi dengan karyawan lu, fisherman-fisherman nelayan yang lu kelola itu pasti bisa diterapkan di bisnis apapun. Itu value. Itu lebih penting buat lu wariskan karena dia jadi bisa menghadapi hidup berdasarkan ilmu yang lu dapat dari pengalaman hidup lu. Bukan ilmu dari sekolahan. Enggak ada yang ngajarin. Enggak ada. Yakin gua. Nah, jadi ini penting buat orang tua nih ya. Jangan sampai lu salah fokus. Karena banyak orang tua itu salah fokus. Kenapa salah fokus? Karena mereka sibuk nih ngumpulin aset, ngumpulin duit, perbanyak aset, perbanyak properti, perbanyak harta. Sibuk mereka ngumpulin aset. Tapi mereka justru lupa nih. Mereka lupa mengajarkan hal yang paling penting. Tiga hal nih. Dan tiga hal penting ini lu harus rekam baik di otak lu. Itu apa? Tentang visi, tentang disiplin, dan tentang nilai kehidupan. Ini penting, Guys. Tiga hal ini penting. Ini enggak ada di buku nih. Ini memang hanya bisa diajarin nih oral day to day dari lu sebagai orang tua ke anak lu. Ini visi gua. Ini kedisiplinan yang gua lakukan. Ya, lu bisa lakukan, lu bisa copy paste atau lu bisa kembangkan. Kasih sentuhan lu sendiri, kreasi lu sendiri. ciptakan nilai yang baru, ciptakan sesuatu yang baru. Itu menarik loh. Karena kalau nilai-nilai itu bisa diturunkan ya, value itu bisa diturunkan ya, pengetahuan itu bisa diturunkan dan lu bisa lakukan itu dengan bagus, continuous ya. Harta yang lu wariskan, koneksi yang lu wariskan, bisnis yang lu wariskan, atau apapun yang lu wariskan pada anak lu, itu enggak bakal habis, Guys. Tapi justru bakal berlipat ganda. Karena yang lu wariskan bukan duit. Duit bisa hilang. Lu dicuri orang bisa dimakan rayap, bisa berkarat. Tapi kalau lu wariskan value ya nilai-nilai itu, itu bakal hidup terus tuh dan bahkan berlipat ganda. Bukan artinya warisan harta itu tidak bagus, enggak salah. Tapi mewariskan harta tanpa value, tanpa nilai, tanpa ilmu itu sama dengan kesiaan. Enggak percaya? Buktikan. Buktikan aja. Jadi intinya adalah apakah salah mewariskan harta? Jawabannya tidak. Yang salah adalah kalau lu enggak tahu gimana sih cara mewariskannya. Dan inilah cara yang lebih bijak. Pertama, ajari anak mengelola uang sejak kecil. Bukan lewat ceramah loh, tapi lewat contoh action. Gimana sih cara mengelola duit sejak dia kecil? Jadi lu kasih action. Oh, kalau ada kembalian dihitung ya. Kalau bayar 500 ada kembalian 300 lu hitung ya. Hitung bonnya, simpan bonnya. Belajar bikin pembukuan, ajarin, kasih contoh. Yang kedua, libatin mereka dalam bisnis lu. Libatin mereka dalam usaha, keluarga lu, dalam investasi. Lu libatin. Jangan lu tolol dan konyol. Kayak ada gua punya kenalan. Crazy rich, Bro. Bapaknya sih maksud gue yang crazy rich, ya. Anaknya mah enggak cuman pewaris ya. Banyak bisnisnya dari bisnis properti. Tapi lu tahu anaknya nih kalau diajak cek lokasi tanah bapaknya zaman dulu enggak pernah mau. Turun dari mobil pun enggak mau. Kepanasan nanti hitem, nanti kena hujan. Aduh, sekarang apa? Bapaknya dulu tanahnya di mana-mana loh, propertinya di mana-mana. Bahkan punya resor di Bali. Saking banyaknya duitnya bapaknya, anaknya ini jadi manja. Hari ini apa? Hampir 70% aset bapaknya itu hilang karena anaknya enggak tahu ini tanyanya siapa, ini tanyanya di mana. Enggak tahu dia. Dia enggak pernah mau diajakin bapaknya buat ngunjungin lahannya. Padahal lu namanya investor ya. Lu harus tahu dong aset bapak lu ada di mana. Kalau ada 1000 SH, 1000 SH itu lu harus tahu dan pernah datang. Tapi memang si bodoh ini ya dia enggak mau lakukan itu si anak manjanya. Tapi ya sudahlah, lu udah tahulah yang gua maksud tuh lu. Ya, betul. El lemari basinya gede banget, Guys. Lebih gede dibanding kamar mandi yang ada di rumah lu. Lemari besinya gede banget. Isinya apa? Sertifikat semua. Sertifikat rumah, pabrik, resor, bangunan. Wah, wuh gede banget. Sertifikatnya banyak banget. Dan dia banyak yang hilang karena dia enggak tahu. Bahaya nih. Makanya lu harus selalu libatkan ya anak lu di dalam setiap usaha lu atau bisnis lu, investor sedini mungkin. Biar kalau dia bikin kesalahan juga, kesalahannya juga masih kecil. Lu bisa marahin, lu bisa koreksi, kasih tahu mana yang salah. Dagang bakmi ajarin dia cara masak bakmi, cara bikinnya, cara masaknya, cara bawain ke customernya, cara campur bumbunya. Ajarin ya enggak apa-apa ya lakukan itu. Kalau lu enggak pengin dia jadi gelandangan, ya kalau lu pengin dia jadi pewaris yang benar dari bisnis lu, diajari. Jadi dia juga ada rasa cinta dari awal. Jangan lu gengsi-gengsi, ah kasihan masih kecil. Ah, nanti gua diomongin orang, kok anak gua enggak dikasih main PlayStation kayak anak orang lain. Wah, peduli setan, Guys. Enggak, enggak, enggak. Lu siapin anak lu sedini mungkin. Yang ketiga, lu harus belajar menggunakan sistem trust fun atau warisan yang bertahap. Jadi, ya anak lu enggak kaget nih menerima warisan besar nih sekali gede ya. Sumber hidupnya enggak pernah pegang duit 20 miliar, tiba-tiba dapat 20 miliar. Hilang sudah itu barang. Garansi, Guys. Tapi pelajari dia, ajari dia, kasih kesempatan dia. Oke, kita tes. Kasih dia R juta. Dari R juta kasih dia R juta. Dari R juta jadi R00 juta. Lihat duit itu jadi apa. Apakah jadi cacing apa jadi naga atau musnah diterang dunia. Jadi, lu bisa tahulah kebijaksanaan anak lu sedini mungkin dan kemampuan dia, kapasitas dia itu mengelola duit itu seberapa banyak. Tapi lu harus kasih kesempatan. Hati-hati. Banyak orang tua itu yang begitu takutnya loh ngasih duit sama anaknya. Gua bahkan pernah lihat ada orang ya, anak orang kaya nih. Saking takutnya orang tuanya nanti dia kena nark. Nanti dia mabuk-mabukan sama anaknya, party segala macamnya. Anaknya enggak biasa pegang duit. Eh, ujung-ujungnya orang tuanya colollaps dong. Dapat dia harta warisan sekian M. Enggak ngerti dia duitnya buat apa. Hilang udah di trading crypto. Goblok memang ya. Tapi ya udahlah dia enggak ngerti itu buat apa, enggak diajarin juga. Syok selesai. Nah, yang keempat tadi yang gua udah pernah bilang, lu harus mau ya mewariskan nilai hidup. Sedih. Karena ini bisa jadi generation loss. Orang yang punya banyak pengalaman tapi enggak mau ngobrol. Jarang ngobrol. Orang tua banyak tuh, bapak-bapak tuh jarang ngobrol sama anaknya. Lu harus lebih sering ngobrol sama anak lu supaya dia bisa mewarisi nilai-nilai hidup. Oh, ternyata dunia ini seperti ini ya bekerja. Oh, ternyata dunia kerja itu sadis ya. Oh, ternyata politik itu seperti itu ya. Oh, oh, gitu. Itu lu harus mau sering ngobrol sama anak lu. Lu harus bisa warisin nilai karena itu enggak ada sekolahnya. Enggak ada sekolah nilai, enggak ada sekolah value. Itu enggak ada. Itu pengalaman hidup, Guys. Jadi, lu harus mau. Jangan malu. PD aja bapak-bapak di rumah, ibu-ibu di rumah PD. Ceritakan perjuangan lu, perjuangan hidup lu, perjalanan hidup lu, kesalahan-kesalahan yang lu pernah bikin. Sharing aja biar mereka bisa ambil sendiri nilainya. Lu enggak usah takut dijud sama anak gua. Oh, ternyata saya dulu bikin kesalahan ini, nanti lu takutin. Enggak, enggak. Lu harus sharing kesalahan-kesalahan lu. Dan filosofi hidup lu penting. Sama seperti investasi saham, lu harus punya filosofi dalam konsep warisan. Ya, lu juga harus mau ya, harus sharing ya filosofi hidup lu gimana. Karena nilai-nilai hidup ini ya, perjuangan lu, jer payah lu, kesalahan lu itu jauh lebih berharga. dibanding sertifikat tanah lu. Percayalah yang gua katakan, Guys. Percayalah. Nah, yang kelima ini penting nih. Yang kelima itu ya lu harus belajar ya menggunakan duit lu, harta lu, pending lah sebagian lah, enggak usah banyak-banyaklah, sebagian lah. Buat hal-hal yang bermanfaat ya. Hal-hal bersifat apa? Amal sosial atau kasih ke yayasan yatim piatu. Belajar, lakukan itu supaya dicontoh nih sama anak lu bahwa lu menggunakan duit lu buat hal yang bermanfaat. Buat bukan ganti koleksi jam tangan lu bolak-balik itu aja atau ganti motor lu atau mobil mewah lu. Enggak, enggak. Gunakan duit lu buat hal yang bermanfaat buat orang lain. Karena kalau enggak, kalau lu enggak belajar lakukan itu, anak lu enggak ada empati. Kalau anak lu enggak punya empati, ujung-ujungnya, ya nanti ketika lu lewat ya, dia akan sibuk dengan dirinya sendiri, menyenangkan, memuaskan dirinya sendiri. Bahkan bisa jadi dia enggak peduli sama keluarganya, anak, istrinya. Bisa jadi loh karena lu ngasih contoh begitu. Tapi kalau lu kasih contoh, lu peduli sama lingkungan lu, masyarakat sekitar lu, ya dia akan contoh itu. Itu itu hal yang baik. Orang tua gua juga lakukan itu kayaknya enak ya. Gua kasih sebagian deh beliin susu tiga kardus buat yayasan yatim di sebelah rumah gua. Lakukan itu. Dibanding duitnya lu pakai buat gonta-ganti handphone lu setiap tahun, ya lu pikir juga lah. Enggak jelas juga itu. Kasih contoh lu lakukan spending yang bermanfaat bukan buat lu doang, tapi buat orang di sekitar lu. Ya mungkin juga bukan ngasih duit atau barang. Lu ngasih beasiswa, pendidikan buat orang yang enggak mampu. Itu contoh yang baik sih. Jadi, dari sini lu belajar ya bahwa mungkin jangan-jangan ya warisan terbaik itu bukan rumah yang mewah, bukan juga tabungan atau sukuk atau ori. Koleksi emas lu yang bertonton itu enggak. Tapi ya kadang-kadang ya sering banget sih yang gua lihat yang jadi bertambah-tambah malah hartanya itu justru ketika anak itu diwariskan kemampuan buat berdiri di atas kakinya sendiri. Itu loh yang sering yang gua lihat ya. Enggak peduli berapa banyak kekayaan lu ya. Tapi yang gua lihat dengan mata kepala gua ya, ya bukan yang dikasih duit banyak itu enggak, enggak. Tapi dikasih kemampuan itu, skill set buat itu. Berdiri di atas kakinya sendiri. Dan ini penting karena apa? Ketika kita suatu saat tiada, ya kita sudah pasti matiah lu sama gua. Kita suatu saat pasti tiada. Nah, yang benar-benar akan menjaga nama baik loh, nama baik kita itu bukan harta, Guys. Bukan duit, tapi karakter dan kebijaksanaan yang kita tanamkan nih sama anak-anak kita. Duit bakal hilang. Yang tadi gua bilang lu kasih duit R00 miliar bisa habis dimakan rayap. Lu mau kasih apa? Logam mulia silver. Ada orang lagi ngetren nabung silver atau emas bisa habis rusak dimakan karat tuh bisa habis tuh lama-lama rusak atau dimaling orang kebakaran longsor runus. Ada orang juga yang hobi koleksi datang banjir habis juga suratnya. Jadi yang penting itu sebetulnya ya bukan cuma soal harta loh. Jadi ya ketika lu udah tiada ya yang bakal jaga nama baik lu, nama baik lu pasti akan tetap hidup. Badan lu udah mati dimakan rayap. Tapi yang bisa tetap hidup itu ya nama baik lu yang dijaga oleh pewaris lu. Kenapa? Karena dia mewarisi ya karakter dan kebijaksanaan yang baik yang lu tarkan, yang lu ajarkan sama dia. Oke, guys. Jadi kita sudah sampai di pengujung acara. Dari lima jebakan warisan tadi, warisan itu yang menjadi racun. Hm. Bahkan warisan mana sih yang lu pernah alamin atau lu pernah saksikan terjadi di lingkungan terdekat lu? Sharing dong di kolom komentar di bawah ini biar jadi pengalaman nih buat followers BENX yang lain, buat rakyat Indonesia yang lain yang ikut nonton channel BENX ini. Semoga jadi bermanfaat lu nilai yang lu sharing itu, ilmu yang lu sharing, pengalaman lu itu supaya ya kita bisa jadi orang yang lebih baik lagi tentunya. Dan pewaris-pewaris ingat, ada juga nih anak-anak umur 20-an. Baca tuh kolom komentar di bawah. Jangan sampai lu jadi generasi manja, generasi yang enggak punya tulang belakang lemah. lembek. Enggak bisa berdiri di atas kaki lu sendiri. Karena lu udah disiramin nih, kata bapak lu nih. Bapak lu punya duit di sini, mobil di sini, tanah di sini, lu jadi lemper. Jangan sampai lu jadi begitu. Baca kolom komentar di bawah ini. Harta bapak lu bisa jadi habis tuh dalam satu generasi atau dalam dua generasi karena hal-hal yang di-sharing di bawah ini. Oke, guys. Segera sharing pandangan kalian seperti apa tentang warisan yang jadi racun ini. Tolong berikan kesaksian yang sebenar-benarnya, sejujur-jujurnya biar jadi ilmu yang bermanfaat buat kita semua. Oke, segera subscribe channel Benix sekarang juga kalau lu belum subscribe, detik ini juga subscribe. Semoga video ini bermanfaat. Salam sehat, salam cuan. Bye bye. [Musik]
Resume
Categories