4 IMPORTANT RULES FOR BEGINNER INVESTORS From The Intelligent Investor
ykuf-8Y4LYM • 2025-11-23
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Halo, Guys. Selamat datang di channel Benix, ya. Channel Benix ini channel investasi paling besar di Indonesia. Nah, di video kali ini kita bakal membahas empat poin paling penting dalam metode investasinya Warren Buffet berdasarkan ilmu yang dia peroleh dari gurunya, Benjamin Graham, orang yang menulis buku investasi paling legendaris namanya The Intelligent Investor. Nah, buku ini guys, ini buku ini sering kita sebut ya sebagai kitab sucinya lah para investor di seluruh dunia. Mau lu investor di India, di Jepang, di Cina, mau lu di Indonesia sekalipun, ya ini kitab sucinya kita nih, ke kaum investor. Nah, buku ini ya dianggap sebagai buku wajib nih kalau lu suka melakukan aktivitas investasi yang namanya value investing. By the way, ada begitu banyak ilmu investasi di luar sana. Ada growth investing, ada momentum investing, ada value investing. Ya, salah satunya ini. Dan buku ini jadi buku pegangan utamanya Warren Buffett. Ya, gua sih bisa bilang ya buku ini 60% benar lah, 40% salah. Kenapa? Karena banyak juga ilmu-ilmu yang udah enggak relevan buat dipakai di zaman sekarang ini. Dan Warren Buffett sendiri udah berkali-kali kejebak juga sih karena salah baca di buku ini. Untung dia ketemu Charlie Manger yang menyadarkan dia dari dosa-dosa kebohongan yang ada di buku ini. Tapi gua mau bahas bukan soal kesalahan-kesalahan yang ada di buku ini. Gua mau bahas tentang empat poin penting yang betul tentunya yang valid dari buku ini. So, yuk kita langsung aja masuk ke poin yang paling utama. Yang pertama, yang paling penting dari buku ini. Pelajaran pertama yaitu apa? soal margin of safety. Ingat ya, kita enggak ngomong soal growth investing di sini. Kita ngomong soal value investing. Buku ini beda ilmu. Di sini bicara tentang mergin of safety. Artinya lu beli di harga diskon. Maksudnya apa? Maksudnya kita itu harus beli saham jauh di bawah nilai intrinsiknya. Jadi ini ilmu yang paling penting di dalam bukunya Benjamin Gram ini, Guys. Karena buat dia resiko paling besar itu ya kehilangan duit. Artinya kalau lu mau jadi investor yang sukses dan berhasil, lu harus meminimalisir resiko lu. Dan cara meminimalisir resiko lu adalah lu menciptakan keamanan. Lu melindungi diri lu. Cara melindungi diri lu dengan apa? Dengan membeli saham yang memberikan margin of safety. Kenapa bisa kasih keamanan, Pak? Kenapa bisa jadi safety? Karena misalkan gini, gua kasih contoh yang gampang. Lu mau beli sebuah perusahaan sepatu misalkan di Cibaduyut, harganya R00 miliar. Kalau lu beli itu di harga R00 miliar, lu mau enggak? Menurut Benjamin Graham itu kemahalan. Menurut Benjamin Graham akan jauh lebih safe kalau ada sebuah perusahaan nilainya 100 M, lu beli dia di harga 50 M. Artinya lu beli di harga diskon. So, in case suatu waktu datang resesi, kiamat, terus valuasi perusahaan lu drop dari 100 miliar drop ke 60 miliar atau 70 miliar terjadi Krismon, lu masih enggak apa-apa. Lu masih oke karena lu beli di harga diskon. Atau kalau kita bagi dengan pecahan yang lebih kecil ya. Kalau harga wajar sebuah perusahaan setara dengan Rp100 per lembar sahamnya, ya lu belanja jangan di R lah. Lu beli di harga 50 perak kek atau 60 perak kek. Jadi lu beli di harga diskon. Kenapa lu bisa tentukan harga diskonnya? Karena lu udah lihat harga wajarnya berapa sehingga lu bisa tentukan juga harga diskonnya berapa. Nah dengan demikian guys, kalau analisa lu meleset dan pasar mendadak panik ya lu tetap terlindungi. Jadi logikanya sih sangat-sangat simpel sebetulnya. Buku yang sangat tebal ini, Guys. By the way, tebalnya ini ratusan halaman, ya. Intinya adalah beli diskon. Dan ini mentalitas investor. L. Makanya lu jangan heran, ya. Kayak gua selalu nyaranin, lu jangan beli mobil baru kalau lu beli kendaraan. Usahakan beli yang diskon. Lu lebih safe, lu lebih hemat dibandingkan beli yang baru. Begitupun ketika lu beli aset, kalau lu bisa beli emas harganya Rp500.000 per gram, ngapain lu beli yang harga R,5 juta per gr? Atau dalam konteks saham perusahaan, kalau lu bisa beli saham perusahaan yang nilainya 50 miliar seharga 10 miliar, kenapa enggak? Dan banyak itu terjadi di market. Tapi sayangnya banyak orang yang gila dan goblok juga di market. Ada perusahaan harga R miliar, eh dia beli seharga 1 triliun. Bodoh. Stupid. Ada banyak. Enggak berkekurangan kita sama orang gila dan orang bodoh di republik ini. Tapi yang diajarkan oleh buku ini adalah belilah di harga diskon. Karena dengan begitu lu memberikan ruang room for error. Room ruangan buat lu kalau salah perhitungan. room kalau seandainya terjadi crash. Room kalau seandainya terjadi krisis moneter. Dan poin yang paling penting dalam konsep margin of safety adalah semakin besar diskon yang lu dapatkan, maka semakin kecil resiko lu buat rugi. Ya minimal dia akan balik ke nilai wajarnya lah. Karena harga wajarnya kan R miliar perusahaan itu. Lu belanja di harga 60 Man, ya. Kalau seandainya dia naik ke 100 M lagi, lu aja udah cuan hampir 100%, Guys. Jadi di situlah maksud ajarannya Benjamin Graham. Ada kelemahannya banyak. Tapi buat investor pemula, gua sarankan ikut metode ini dulu supaya lu tahu gimana rasanya menjadi seorang fundamentalis garis keras, yaitu apa? Value investing. Yang kedua, lu harus bisa membedakan yang namanya investasi dengan spekulasi. Di sini gua mau kasih tahu lu, lu jangan jadi penjudi saham. Enggak masuk akal. Kenapa? Karena jumlahnya sangat banyak di Indonesia, Guys. Di Indonesia itu ada banyak orang merasa dirinya investor padahal spekulator. Merasa yang dia lakukan itu investasi, padahal spekulasi. Bedanya apa? Investor kalau beli saham ya karena hasil analisisnya. Dia sudah lakukan analisa dahulu. Dia pikirin bisnisnya seperti apa dan akan menjadi apa. Dan dia juga punya kesabaran, daya tahan untuk menunggu dalam jangka panjang. Jadi dia bisa lewati badai itu. Mau naik, mau turun, mau naik, mau turun. Dia enggak peduli, Guys. Dia investor. Dia akan stick to the plan karena dia udah bikin skenario sahamnya. dia udah bikin analisisnya akan seperti apa. Tapi kalau spekulator, nah ini bedanya nih sama investor. Spekulator itu beli karena ikut hype, karena rumor, karena grup saham, karena FOMO. Jadi enggak jelas, enggak logis keputusan yang diambil untuk membeli atau menjual saham. Karena apa? Landasannya enggak ada. Enggak ada pondasi berpikirnya, cuma spekulasi. Banyak enggak di Indonesia? Banyak. Baru tadi gua ketemu sama orang, dia nanya sama gua, "Ee Pak Benix beli saham apa?" Pak, gua bilang gua beli ini, ini. Kalau Bapak beli apa? Oh, saya beli ini, ini. Terus gua tanya, "Kenapa Bapak beli saham itu?" Ya, kayaknya bagus ya. Kata teman saya bagus ya. Enggak tahu dia enggak bisa jelasin. Tapi kalau lu tanya gua, kenapa gua beli saham perusahaan yang bakal kita rilis videonya di hari Senin nanti? Simpel jawaban gua. Gua udah tahu profit dia bakal tumbuh minimal 20% di tahun ini. Dan gua udah tahu perusahaannya ini bakal tumbuh profitnya bukan hari ini. Gua udah tahu dari sejak bertahun-tahun lalu dia bakal tumbuh di hari ini. Karena gua udah bikin perhitungannya. Gua udah ngerjain PR gua, penghasilan dia akan bertambah, net profit margin dia akan bertambah, klien dia akan bertambah. Itu kan bisa dianalisis. Itu bedanya investor sama spekulator. Bahkan sebelum kejadiannya jadi aja kita sudah bisa tahu apa yang akan terjadi dengan perusahaan ini. Tapi kalau spekulator enggak akan bisa menjelaskan kenapa harganya naik, kenapa harganya turun. Dia hanya bisa tahu, oh harganya naik beli. Oh, harganya turun jual. Kapan lu untungnya gitu? Ketika harga naik lu beli, ketika turun malah lu jual karena lu panik kan, ya. Jadi kalau kamu beli saham karena harganya naik itu spekulasi, Guys. Kalau lu beli saham karena lu udah lihat valuasinya bagus, fundamentalnya bagus, bisnisnya oke, itu namanya lu investor, bukan spekulator. Jadi itu yang kedua. Nah, yang ketiga apa? Yang ketiga lu harus tahu bedanya dunia nyata dengan market. Bukunya Benjamin Gram itu bilang ada pribadi baru namanya Mr. Market, pasar. Dan dia bilang, "Market itu gila, Guys. Lu jangan ikutin apa maunya dia karena market itu gila. Mr. Market datang ke sini itu gila. Dan ini Warren Buffet sering banget ngutip kata-kata Benjamin Geram di sini. Contohnya gini, gampang, Guys. Lu bayangkan, ya, market ya, ISG itu ada orang karakter imaginer namanya Mr. Market. Tiap hari dia datang nawarin barang sama lu. Contoh gini, lu udah tahu rumah lu harganya Rp500 juta, kucuk, kecuk, kucuk, hari ini datang dia nawar Rp300 juta, lu jual enggak? Kalau lu manusia yang logis, punya akal sehat, lu enggak akan jual. Karena lu tahu valuasi lu, valuasi aset lu R00 juta. Market hari ini nawar Rp300 juta, lu kasih enggak? Enggak karena lu waras. Tapi kalau spekulator, trader goblok, banyak tuh lakukan itu karena enggak bisa ngitung. So, apa yang dia lakukan? Oh, gua punya rumah harga Rp500 juta, ada yang nawar Rp300 juta. Jual a bego. Besok rumah lu nih harga Rp500 juta, tiba-tiba ada lagi orang yang nawarin, "Eh, gua beli ya harganya R00 juta." Enggak logis. Enggak logis. Tapi kejadian ada. Bahkan ada rumah harga Rp500 juta ditawar 5 M. Ada enggak? Ada. Itu market. Tidak logis. Nah, Teman-teman, inilah yang terjadi setiap hari. Barangnya sama, sahamnya sama. Perusahaannya mah itu-itu aja. Tapi Mr. Market ini agak error. Kadang dia nawar di atas, kadang dia nawar di bawah. Dan ini selalu berubah-rubah offering dia setiap hari. Kadang-kadang dia sangat optimis, Guys. Hari ini dia super optimis. Dia bisa mau beli rumah lu dengan harga gila-gilaan, tapi besok bisa juga. Tiba-tiba dia berubah. Dia jadi depresi, Guys. Dia sangat pesimis. Bahkan semua harga di diskon gila-gilaan bisa terjadi? Bisa. Itulah Mr. Market. Nah, terus apa yang lu harus lakukan? Lu harus bisa membedakan mood-nya Mr. Market. Maksudnya bukan lu ikut-ikutan mood-nya dia. Mod dia jual murah, oke gua jual murah. Mod dia jual mahal, oke gua jual mahal. Jangan. Bukan begitu yang lu harus lakukan. yang lu harus lakukan adalah memanfaatkan, Guys. Lu manfaatin Mr. Market itu. Jadi kalau Mr. Market lagi galau, labil kayak anak KBG, panik sehingga dia panic selling, dia jual harga bagus, dia jual di harga yang terlalu murah, lu manfaatin itu kesempatan lu buat beli. Lu manfaatin Mr. Market. Begitu juga sebaliknya, Mr. Market, Euforia, Hype, semua orang senang, quantitative easing, ekonomi, ekspansi, semua orang kaya. Ah, lu juga bisa manfaatin manfaatin Mr. Market karena di situ harga naik tidak wajar. Itulah waktunya lu buat hati-hati. Bahkan mungkin waktu lu buat exit. Sama ketika lagi hype sekarang AI. Semua perusahaan-perusahaan berbau AI semua hype bubble. Bahkan semua orang euforia rasanya makin hari makin kaya. Beli hari ini, jual hari ini, cuan. Besok beli hari ini, jual lagi, cuan terus. Karena naik terus, naik terus, naik terus. Hati-hati, Mr. Market lagi Euforia. Jangan-jangan itu waktunya buat lu exit. Lu harus hati-hati. Jadi, kuncinya di sini adalah lu harus tahu bahwa Mr. Market itu bukan bos lu. Kalau dia panik, lu enggak harus ikut panik. Kalau dia euforia, lu enggak harusia. Jangan. Karena Mr. Market bukan bos lu, bukan presiden, bukan orang tua lu. Lu jangan nurut apa kata market. No. Lu harus memperlakukan Mr. Market sebagai budak lu. Tugasnya melayani lu, tugasnya memperkaya lu. Dan tugas dia sebagai budak ya melayani lu ya, dia harus memberikan penawaran harga. yang menarik dan lu yang memutuskan. Apakah lu mau ambil penawaran dia di harga murah atau lu mau jual ke dia di harga mahal karena dia budak lu. Tugas dia memperkaya lu, tugas dia ngasih good deal ke lu. Itu yang lu harus punya di mindset lu terhadap Mr. Market yang tidak logis dan crazy ini. Mr. Market itu crazy, Guys. Stupid. Enggak logis. Lu manfaatin tuh Mr. Market tuh. Karena mereka enggak logis. Masa rumah harga R00 juta dijual seharga R200 juta? Enggak logis. Tapi ya udah good deal ambil. Begitu pun sebaliknya masa rumah R00 juta di jual seharga 5 triliun kan stupid juga kalau lu ambil ya. Lu jangan ambil sesimpel itu. Jadi lu harus bisa. E sebentar guys, sebentar guys sebelum kita lanjut videonya. Halo goodis guys. Teman-teman investor Benix Investor Summit 2025 akan segera diselenggarakan di bulan Desember 2025 di Swiss Bell Solo. Jadi buat teman-teman yang pengin segera diskusi, ketemu dan interaksi langsung ya karena kita bakal membahas tiga sektor penting. Yang pertama terkait energi, yang kedua terkait bisnis logistik, dan yang ketiga ada sektor spesial nih dengan pembicara yang spesial juga karena ya cuannya gede banget nih guys. Nah, buat lu yang penasaran dan pengin segera ikutan di event acara offline spesial Benix cuman ada 1 tahun sekali yang namanya Benix Investor Summit 2025. Yuk, segera daftar sekarang juga nih sebelum terlambat. Dan ingat, kursinya juga terbatas karena cuman ada 50 kursi, Guys. Total kursi yang kita sediakan. Ikut di sini sangat happy lah, ya. Jadi, banyak sekali membuka wawasan baru, terutama banyak bocoran-bocoran mengenai ee kebijakan maupun emiten yang akan terbang selanjutnya. Jadi puas sekali sih dengan ini. Kalau tahu Pak Ben di YouTube sendiri kan lebih apa ya ee pinggir jurang ini lebih pinggir lagiah ini. Mengikuti [musik] BIC investor Samet ini setelah dua kali saya mendapatkan manfaat bahwa kalau kita bisa memahami fundamental atas perusahaan dan forecast untuk perusahaan ke depannya kita pasti dapat akan mendapatkan hasil yang jauh lebih baik. Dan itu yang saya rasakan selama setahun ini. Dan saya harapin kalau e untuk Benik Investor Summit 2025 diadakan, saya pasti akan ikut lagi. Salam cuan. So, siapa cepat dia dapat. Sampai ketemu di Solo ya, guys. Bulan Desember 2025. Benix Investor Summit 2025 segera datang lagi. Segera daftarkan dirimu sekarang juga sebelum terlambat. Ingat, ini acara eksklusif yang kita selenggarakan private dan sangat intim. Kita bisa berinteraksi full nih selama 24 jam karena acaranya diselenggarakan selama 2 hari dari hari Sabtu sampai hari Minggu dari jam 09.00 pagi sampai malam. So, tunggu apaagi? Segera daftarkan dirimu sekarang juga di nomor WhatsApp yang ada di bawah ini. Sampai ketemu di Solo, Guys. Bye bye. Jadi, lu harus bisa membedakan dunia nyata, dunia realita dengan dunianya misket, pasar yang seringki enggak nyambung, Guys. Dan ini tugas lu sebagai investor untuk tidak menjadi budaknya market. Pahami bisnisnya. Yang keempat, lu harus mau tahu apa itu fundamental analisis. Jangan lu dengerin tuh technical analisis, ilmu roket kebulan lah, pattern-pattern enggak jelas, tukang tipu semua, Guys. Itu gua garansi lu tukang tipu semua. Enggak ada yang benar. Yang paling benar ya fundamental analisis. This is a business. When you buy any stock, kalau lu beli saham, perusahaan apapun, yang lu beli adalah bisnisnya, yang lu beli adalah perusahaannya. Banyak orang beli saham yang dia lakukan apa? yang dia beli adalah angka-angka yang ada di running trade itu. Itu fake, itu konyol. Enggak ada ceritanya gini ya, ada orang nawarin lu, "Eh, guys, joinan yuk kita buka bengkel di perempatan Jalan Jenderal Sudirman. Terus lu, pertanyaan lu adalah hari ini bintang membentuk pola apa?" Ya, kok bodoh ya? Lu mau buka bengkel yang lu tanya bintang membentuk formasi apa? Atau lebih tolol lagi ada orang mau ditawarin investasi buka bengkel yang dia tanya hari ini membentuk pola apa ya? Apakah pola hammer, apakah switch hammer, apakah Thor hammer, apakah pola Spider-Man atau apalagi enggak masuk akal. Harusnya kalau lu investor, lu kan mau beli bisnis, lu mau kan invest bisnis, mungkin satu lembar saham, mungkin 10 lembar saham, tapi yang lu beli adalah sebuah bisnis. Seharusnya yang lu pertanyakan adalah berapa mobil yang lewat di jalan itu setiap hari? Berapa motor yang lewat di jalan itu setiap hari? Berapa banyak oli yang kita bisa jual? Berapa banyak servis jasa yang kita bisa kasih setiap bulan? Berapa banyak perumahan yang ada di dekat situ? Berapa banyak kompetitor kita, bengkel bengkel lain yang ada di lampu merah itu? Kan itu yang logis dong. Dan sebelum lu invest, lu bagus juga pergi ke lampu merah itu, ke depan bengkel itu yang ditawarin buat lu invest. Lu pergi bawa timer, pencet cek cek cek cek cek. 700 mobil lewat hari ini. Cek cek cek cek cek. 800 mobil lewat hari ini. Cek cek cek cek cek. Oh, cuma 30 mobil yang lewat hari ini. Karena ternyata hari ini hari Minggu orang pada liburan di rumah. Who knows? Tapi lu kan gak bisa tahu kalau lu enggak cek. Itulah namanya fundamental. Lu tuh namanya investasi itu namanya lu beli bisnis. Lu bukan beli kucing dalam karung. Beli kara kata angka-angka. Hani 127 angkanya angka bagus beli. Besok angkanya 123 tidak bagus. Apa itu? Bodoh lu. Lu harus lihat bisnisnya. Jadi, Benjamin Graham juga bilang investor yang benar itu harus selalu fokus pada nilai bisnisnya. Bisnisnya, bukan harga sahamnya. Hari ini enggak penting 271, 272, 270, 169. A itu enggak penting bisnisnya, Guys. Makanya lu harus baca laporan keuangannya. Cek profitnya stabil apa enggak, cek hutangnya gede, membahayakan atau tidak, produktif apa tidak. Cek cash flow-nya sehatkah atau jangan-jangan penyakitan, batuk-batuk. Cek juga track record manajemennya. Karena suka enggak suka, yang lu beli kan bisnis. Lu invest sebuah bisnis, bisnis dijalankan oleh manusia. Cek manajemennya. Bisa lu percaya enggak? Korupsi enggak? GCG enggak? Logis enggak? Jangan-jangan lu invest di perusahaan pembangkit listrik tenaga nuklir, tetapi direktur utamanya lulusannya sastra Jawa. Yang waras saja lu enggak nyambung, cek kredibilitas manajemennya wajib. Dan yang paling penting lu harus hitung nilai intrinsik perusahaannya. Kenapa? Karena Graham itu punya kepercayaan bahwa bisnis apapun yang ada di dunia ini, saham apapun yang lu beli, harganya ujung-ujungnya pasti mengikuti nilai bisnisnya. Jadi kalau lu beli sebuah perusahaan harga sahamnya 500, nilai intrinsiknya 2.000, dia percaya suatu saat dia akan kembali ke 2.000. Itu yang diyakini oleh kaum value investor. Bukan spekulator. Hobinya percaya apa kata bintang di langit, apa harta candlestick kayak babi ngepet. kerjanya jaga lilin, bodoh. Jadi tugas kamu, tugas kita semua sebagai seorang investor, bukan spekulator, bukan pelototin harga saham, running trade. Enggak. Tugas kita adalah mencari perusahaan yang bagus. Itu satu. Yang kedua, kalau bisa cari juga perusahaan bagus yang dijual murah sama Mr. Market. Karena Mr. Market tidak logis. Dan inilah inti dari segala inti buku ini, value investing. Nah, itu guys yang gua mau share sama lu. Tapi gua ada kasih bonus lah, singkat aja nih penting bagian ini. Dalam salah satu bagian di buku ini juga Graham itu membagi dua jenis investor guys. Yang pertama investor defensif, yang kedua investor agresif. Nah, buat teman-teman investor defensif ini sebenarnya cocok buat orang tua ya. Kenapa? Karena lu enggak bakal sering analisis. Lu mungkin ada kerjaan lain juga, tapi lu mau investing stabil dan aman dan nyaman. itu penting tuh. So, yang lu lakukan apa? Idealnya lu investasi ya mungkin di instrumen-instrumen yang stabil. Contoh obligasi, surat utang negara, lu beli dah tuh deposito, indeks saham itu yang lu beli atau ETF. Karena lu enggak perlu capek-capek tracking, mereka jalan sendiri, operate sendiri. Oke, itulah investor yang defensif. Atau lu bisa juga DCA. Ada sama yang bagus ya lu DCA lah lu udah tahu. Nah, ada satu lagi investor yang agresif. Investor agresif ini memang pengin analisis secara lebih dalam, lebih detail. punya ilmu, punya waktu juga buat lakukan riset. Dan yang kedua, mereka juga mau riset saham, cari saham yang ender value satu persatu, satu persatu. Baca, baca, baca tiap hari. Hari ini ada hampir 1000 saham, Guys, di ESG. Ya, kalau lu investor 100% kayak gua, apa yang lu lakukan hari-hari lu? Ya, bukan nonton Netflix, tapi baca laporan keuangan perusahaan-perusahaan itu. Dan itu hobinya, itulah hobi kita semua. Dan ini cocok apalagi buat orang-orang yang hobi baca, yang rajin riset, cocok untuk menjadi agresif investor. Karena mereka jadi tahu apa yang dia beli dan tahu apa yang sebaiknya tidak dibeli. Ya wajar aja karena hidupnya hari-harinya dihabiskan dengan membaca valuasi sebuah perusahaan. Nah, terus yang benar yang mana? Yang agresif atau yang defensif? Ini menurut Graham, bukan menurut Benix. Menurut Graham sebetulnya tidak ada yang benar, tidak ada yang salah. Yang penting kamu tahu apa yang kamu lakukan dan lu konsisten. Contohnya kalau lu investor yang defensif, lu mau DCA dollar cost averaging, lu mau top up top up terus ya in the long run ya lu profit ya sepanjang urusannya bagus ya dan pada umumnya ya lu bakal aman. Makanya penting banget buat teman-teman buka tuh kalkulator investasinya Benix. Di situ lu cek lah orang yang punya konsistensi ngasih Rp500.000 aja per bulan konsisten aja. Enggak peduli ya penghasilan lu UMR di atas UMR atau di bawah UMR. Dalam waktu 20 tahun lu jadi miliarder, Guys. Asal lu bisa konsisten invest R00.000, R500.000, R500.000 tiap bulan, ya. Growth 20% aja setahun. Dalam waktu 20 tahun lu jadi miliarder. Garsi, Guys. Semudah itu kok. Jadi lu mau agresif, lu mau defensif, enggak ada yang benar, enggak ada yang salah menurut Graham. Nah, kalau lu sendiri gimana? Menurut lu, lu aliliran yang mana? Ya dan lu sudah melakukan belum sih empat poin inti dari buku The Intelligent Investor ini? Yang pertama ngerti soal margin of safety. Yang kedua ngerti bedanya spekulasi dan investasi. Yang ketiga kenal sama Mr. Market. Salaman, Guys. Peluk kalau perlu supaya lu kenal tuh sama Mr. Market. Yang keempat, bisa ngitung nilai intrinsik perusahaan alias lu bisa melakukan fundamental analisis. Menurut lu, lu udah melakukan empat poin yang diminta sama Benjamin Graham enggak sih? Karena kalau kamu sudah paham ya, keempat konsep ini, kamu sudah menguasai esensi value investing ala Benjamin Graham, guru besarnya. Warn Buffet. Dan lu setuju enggak kalau kita bahas buku investasi yang lainnya nih selain Benjamin Graham? Karena banyak juga yang sebenarnya enggak benar sih di buku ini. Lu setuju enggak kalau video selanjutnya kita bahas buku investasi yang lain yang bagus yang merubah hidup Warren Buffet and Charlie Manger atau mendingan kita bahas aja kesalahan-kesalahan yang ada di buku ini menurut Benix apa aja? Tulis segera saran kalian di kolom komentar di bawah ini. Next video kita membahas tentang apa? Ditunggu komentar kalian. Jangan lupa subscribe channel Benix dan share video ini sebanyak-banyaknya. Salam sehat, salam cuan. Bye bye. [musik]
Resume
Categories