PURBAYA HUMILIATED!! NVIDIA Chooses Johor, Malaysia — 72 TRILLION Floating?! Why Not Indonesia?
6BDXHXKDOfo • 2025-12-08
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Saya Benix dengan ini ingin menyampaikan rasa dukacita yang sedalam-dalamnya kepada rakyat Indonesia, khususnya kepada saudara-saudara kita yang terdampak bencana hujan badai sikl tropis yang mengakibatkan longsor dan banjir di Aceh, di Sumatera Utara, dan di Sumatera Barat. Dan saya dengan ini juga turut merasakan kesedihan dan bela sungkawa atasanya lebih dari 400-an jiwa ya manusia yang terdampak bencana ini. Dan di tengah musibah ini saya juga mau mengingatkan buat teman-teman sekalian bahwa kekuatan terbesar bangsa kita itu adalah solidaritas. Jadi saya mau minta untuk kepada kita semua, rekan-rekan semua untuk saling terus tolong-menolong, bahu-membahu, gotong-royong dalam memberikan bantuan, dalam memberikan dukungan, baik dari segi materi, dari segi tenaga, waktu, dan yang terpenting dukungan dalam bentuk doa supaya saudara-saudara kita di wilayah yang terdampak bisa segera dipulihkan. Semoga masa yang sulit ini dapat segera kita lewati bersama. Purbaya menangis, Guys. Ini berita yang sangat menyedihkan karena Menteri Keuangan Favorit kita ya, Purbaya udah mengibarkan bendera putih. Dia mengaku Indonesia kalah sama Vietnam, kita kalah sama Thailand, kita kalah sama Singapura. Dan sekarang kita kalah lagi sama Malaysia. Perkara apa? Perkara investasi. Jadi, perusahaan artificial intelligence nomor satu di dunia, Nvidia itu sudah memutuskan milih investasi di Malaysia. ya karena ada hubungannya dengan iklim investasi di Indonesia yang kusut dan Indonesia rugi 70 triliun. Ini sedih banget loh. Betul-betul sangat menyakitkan buat republik kita. Jadi enggak usah heran Purbaya sampai ngibarin bendera putih. So, kalau lu penasaran kenapa si Purbaya bisa sampai menangis lagi, Guys, lu jangan skip video ini. Let's check this out. [musik] Jadi, buat Teman-teman yang belum tahu ya, CEO-nya Nvidia Jenson Huang itu udah resmi shakeh hand resmi salaman sama Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia perihal investasi Nvidia di Johor Bahru di Malaysia senilai 72 triliun buat investasi AI. Dan ini luar biasa. Kenapa? Karena Malaysia akan segera bisa menjadi ibu kota AI minimal di Asia Tenggara. Sekali lagi Indonesia akan menjadi negara budak. Kenapa negara budak? Ya, kalau zaman dulu kita hobi impor barang-barang dari Jepang, barang-barang dari Amerika Serikat. Tempe aja kacang kedelnya lu impor dari Amerika. Sekarang lu harus siap-siap. Indonesia akan segera menjadi bangsa budak lagi untuk kesekian kalinya. Karena masa depan dunia adanya di AI dan Indonesia tidak punya AI. Yang punya siapa sih? Malaysia. Ini luar biasa. Tapi yang jadi pertanyaan dan kita harus mau kritis kenapa Nvidia Jensen Huang lebih memilih investasi di Johor bukan di Jonggol. Dan nilai investasinya enggak main-main, Guys. Nilai investasinya 4,3 biliun dolar loh alias Rp72 triliun. Jadi teman-teman ya, kenapa berita ini penting banget ya? Bukan cuma soal perkara nilai investasi yang sangat besar 4,3 biliun dolar loh, itu sekitar 72 triliun. Tetapi karena spill over effect-nya jadi lu tahu ya mereka sudah mulai negosiasi si Malaysia ini udah mepetin si Nvidia udah dari tahun 2023. Jadi udah dari 2 tahun lalu mereka sudah melobi supaya Nvidia buka pabrik di Malaysia. Dan kenapa ini penting banget? Karena ini bukan hanya soal perihal data center, ada spill over effect. Spill over effect itu apa? Ini bisa bikin pembangunan industri-industri turunan yang terkait dengan AI itu berkembang drastis. Teknologi apa? Teknologi semiconductor, teknologi data center, termasuk teknologi artificial intelligence. Dan ini bisa memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap perekonomian Malaysia. Makanya gak heran kalau Purbaya aja sampai mengibarkan bendera putih. Karena ini udah kekalahan telak sih. Betul-betul kita ketinggalan zaman. Tapi yang jadi pertanyaan penting, Guys, kenapa ya Nvidia memutuskan untuk memilih Malaysia? Kenapa Nvidia memilih Johor bukannya Jonggol? Nah, sebetulnya ada lima alasan penting nih, Guys, kenapa yang dipilih itu Johor. Alasan yang pertama itu connectivity. Ya, buat Teman-teman yang belum tahu ya, secara geografis Johor Baru sama Singapura itu ya sebelah-sebelahan kayak Depok sama Jakarta. Lu tinggal naik bus juga nyampe. Mereka punya jembatan sendiri, punya jalan khusus. Bahkan udah jadi hal yang biasa buat orang-orang itu saling seberang. Orang yang kerja di Malaysia tinggal di Singapura atau orang yang kerja di Singapura tinggalnya di Johor Bahru. Itu udah hal yang normal lah buat mereka. Dan Singapura buat teman-teman yang belum tahu itu adalah international hub. Mau itu kapal laut, mau itu pesawat terbang, ya semua juga transitnya di sana. Jadi kalau lu mau punya connectivity yang bagus dengan dunia Barat, dengan Eropa, dengan Jepang, dengan Amerika, ya udah benar lu bikin hub yang dekat dengan Singapura. Sementara kalau lu bandingkan dengan Jonggol, ya Jonggol itu tidak terkoneksi ke manapun, Guys. Jonggol enggak ada koneksi ke Tokyo, koneksi ke Kanada, ke Berlin, ke Amsterdam, enggak ada Jonggol. Boro-boro konektivity. Pesawat aja, bandara aja enggak ada di Jonggol. Jadi lebih masuk akal buat mereka memang investasi di Johor yang tidak ada masalah dengan connectivity. Nah, yang kedua biaya operasional itu jelas jauh lebih murah kalau lu bandingkan Johor dengan Jonggol. Contoh, kalau lu ngomong soal listrik, listrik tersedia banyak di Malaysia. Mereka punya cadangan lebih dari 500 MW yang masih available sekarang. Bandingkan dengan di Indonesia yang masih sering juga listriknya itu biar pad terus belum tahu pun stabil atau tidak arusnya. Jadi, itu bisa mempengaruhi produktivitas mesin AI yang mereka punya juga. Kalau arisnya sering naik turun ya mesin lu cepat rusak biaya tinggi. Terus apalagi soal data? Biaya paket data di Indonesia juga masih mahal. Ya udah jelas enggak logis kalau bikin AID Indonesia di Jonggol sudah jelas lebih mendingan di Johor. Dan kalau lu bandingkan biaya operasional dibandingkan Singapura sudah jelas juga lebih murah di Malaysia. Karena kalau mereka bikinnya di Johor ya UMR biaya tenaga kerja di Malaysia jauh lebih murah dibandingkan UMR-nya si Singapura. Biaya tanah harga tanah di Malaysia juga lebih murah dibandingkan harga tanah di Singapura. Jadi dari segi biaya operasional jauh lebih murah kalau dia bikin data center di Johor. Dan yang ketiga, nah ini penting banget sih. Yang ketiga, infrastruktur data center itu sudah sangat mapan di Johor. Johor itu sudah menjadi pusat data center sejak bertahun-tahun lalu. Sudah menjadi pusat data center yang paling utama di Malaysia. Udah banyak data center berdiri di sana. Banyak lagi yang sedang akan dibangun. Artinya sudah ada begitu banyak sistem pendukung seperti apa? Ya, lu butuh infrastruktur, jalan, kabel telepon, listrik, jaringan kabel, tenaga kerja, regulasi. Jadi itu ah hal yang sangat umum di sana. Kota itu sudah betul-betul terintegrasi. Jangan kaget ya, Teman-teman. Mereka sudah punya data center yang terkenal mendunia seperti mereka punya Sedenak Teh Park. Ini perusahaan-perusahaan terkenal seperti Princeton Digital, Yonder, MN Holdings itu ada di sini. Mereka juga punya YTL Green Data Center Park. Ini Johor juga. Jadi perusahaan seperti Tensen, Garena Sea Limited, YTL Power itu semua ada di sini. Di Johor Baru sendiri mereka juga punya Nusa Cemerlang Industrial Park. Di sini ada perusahaan seperti ST Telemedia Global Data Center. Lalu ada lagi data center di Nusa Jaya Tech Park. Perusahaan-perusahaan dunia nih seperti GDD Holding, Equinic itu semua bikinnya di sini, Guys. Jadi, Teman-teman udah kebayang kan? Jadi, data center itu bukan bisnis baru. Ahlinya, sumber daya manusianya, infrastrukturnya, connectivity-nya mereka udah ready memang sejak lama. Jadi soal infrastruktur data center itu mereka sudah sangat mapan dibandingkan buka di Jonggol, Guys. Nah, yang keempat ya udah jelas faktor soal SDM. Jadi SDM di Malaysia lu sudah tahu namanya Johnson Huang. Dia enggak bisa bahasa sangsekerta, dia juga enggak bisa bahasa Sunda. Dia bisanya apa? Bahasa Inggris. Nah, di Malaysia itu udah terbiasa orang berbahasa Inggris selain bahasa Melayu ya. Dan kalau mereka punya ambil tenaga kerja dari Indonesia pun atau dari Singapura pun udah jelas lebih fasih bahasa Inggris dibanding orang-orang di Jonggol. Dan dari sini lu bisa gampang mengetahui kalau mereka nanti ada tektokan ya sama Nvidia yang di Amerika, sama vendornya Nvidia yang ada di Taiwan yang ada di ISML yang di Eropa. Mereka udah jauh lebih punya tatanan bahasa operational framework yang lebih gampang tuh buat mereka komunikasi antar grup antar divisinya. Jadi dari empat sisi itu aja mereka udah untung banyak. Dan teman-teman gak usah kaget kalau ini semua memang udah diagendakan di jauh-jauh hari. Karena ini udah sesuai visinya si Anwar nih. Jadi Anwar Ibrahim itu udah punya pandangan ke depan bahwa ekonomi Johor akan melampaui banyak wilayah-wilayah Malaysia yang lain. Setidaknya dalam 2 tahun ke depan Johor secara spesifik bakal lebih maju. Dia punya target sangat luar biasa sih. Dia menambah ya GDP per capita Malaysia. Tadinya cuman Rp190-an juta, Guys. Alias cuman setara 12.000 per kapita. Tapi dengan metodenya si Anwar ini, dia mau naikin pendapatan per kapita. Jadi perk kepala manusia di Johor itu bakal naik. Tadinya cuman Rp190-an juta menjadi R216 juta per kepala alias per kapitanya ada 1.000. Ada peningkatan penghasilan di rakyat yang tinggal di Johor. Jadi memang dia punya visi misi menciptakan Malaysia lebih canggih, lebih modern, dan lebih kaya raya, Guys, dibandingkan sebelumnya. Hebat nih. Nah, Teman-teman mungkin di sini banyak yang nyinyir ya, Pak. kenaikannya kan cuman tipis dari Rp199 juta per kapitanya bakal naik setelah ada investasi Nvidia ini bisa jadi Rp216 juta per kapita ya naiknya enggak banyak cuman sekitar Rp16 juta Rp17 juta lah artinya enggak nyampai 10% lah kenaikannya artinya pendapatan rakyat Malaysia di Johor ya khususnya jadi Rp216 juta per tahunnya per kepala tapi lu pernah bertanya-tanya enggak sih Indonesia berapa pendapatan per kapitanya ternyata GDP per kapita Indonesia itu cuman 70-an juta, Guys, setahun. Jadi, lu bayangkan di Malaysia penghasilan per kapita mereka, GDP per kapita mereka itu sudah tiga kali lipat orang Indonesia. Artinya satu kepala yang sama bisa menghasilkan produktivitas nilai ekonomi tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan manusia Indonesia. Jadi memang lu bisa aja nyinyir e naiknya kan cuman Rp17 juta. Iya, tapi itu artinya membuat GDP per kapita Indonesia semakin terbelakang. Jadi gak bisa dibilang kecil juga sih. By the way, kalau kita lihat secara makro ya, di tahun 2025 aja ekonomi digital Malaysia itu diperkirakan bakal memberikan sumbangsi sekitar 25% terhadap perekonomiannya Malaysia. Lu penasaran enggak perekonomian Malaysia berapa? Perekonomian Malaysia GDP mereka itu 7.000 triliun, Guys, di tahun 2024. Ya, asumsinya salah. Misalkan 2025 juga sama-sama 7.000 triliun, ya. Artinya kalau 25% 25% nyawanya Malaysia akan disumbangkan dari sektor ekonomi digital yang nilainya sekitar 17.750 triliun. Nah, di sini Indonesia bisa berbangga hati lah karena Indonesia GDP-nya setiap tahun itu 22.000 triliun, Guys. Jadi jauh di atas Malaysia yang cuman 7.000 triliun setahun. Tapi satu yang kita respect nih dan kita harus belajar dari Malaysia, mereka mau diversifikasi sumber penghasilan negaranya sampai mereka berhasil meng-generate 25% GDP mereka dari ekonomi digital. Nah, gimana kalau kita bandingkan dengan ekonomi digital di Indonesia? Ternyata ekonomi digital di Indonesia itu menyumbangkan R860 triliun di tahun 2024. Oh, gede dong ya. gede ya lebih gede bahkan dibandingkan Malaysia yang cuman R750 triliun. Tetapi eseho lu harus lihat ya 1750 triliun Malaysia itu kan 25% terhadap perekonomian mereka yang kecil itu yang 7.000 triliun itu 25%. Indonesia ekonominya 22.000 triliun noh kita punya GDP-nya. Ternyata 1860 triliun itu cuman 8% dalam perekonomian Indonesia. Jadi masih jauhlah dibandingkan Malaysia. Ternyata kita masih bersumber dari ekonomi-ekonomi yang masih jejak-jejak masa lalu. Ekspor apa? Ekspor sumber daya alam. energi ekstraktif ya, pertambangan ya, kelapa sawit yang nilainya bisa sampai 20%. Jadi kalau dibilang Indonesia berbangga enggak GDP-nya lebih besar, ya betul 22.000 triliun, Malaysia cuma 7.000 triliun. Cuman ternyata sayangnya kita masih ekspor dalam bentuk bahan baku industri-industri ekstraktif itu. Makanya penting buat teman-teman kita mendukung hilirisasi karena bisa menciptakan lebih banyak lagi lapangan kerja, bisa menciptakan lebih banyak lagi value, bisa meng-capture lebih banyak lagi triliun. penting nih. Nah, Malaysia udah bisa melihat betapa pentingnya buat mereka kejar ekonomi yang high value dibandingkan ekonomi yang low value, ekspor bahan baku. Tapi tetap yang jadi pertanyaan, Guys. Ya, namanya Indonesia kan lu udah tahu ya, GDP-nya gede 22.000 triliun. Artinya Indonesia itu punya pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Tetapi kenapa bukan kita yang dipilih? Kenapa bukan Jonggol yang dipilih? Ya simpel aja. Karena meskipun kita punya Pulau Batam nih yang sama-sama berdekatan dengan Singapura, Indonesia itu minus infrastruktur data centernya. Bukan minim loh, minus infrastruktur data centernya sangat sedikit. Kenapa bisa? Karena kita punya satu kendala utama di dalam bisnis AI yang sangat rakus energi. Jawabannya adalah Indonesia punya masalah di listrik, Guys. Teman-teman, asal lu tahu aja ya, untuk membangun sebuah data center itu negara membutuhkan daya listrik yang sangat besar. Nah, Malaysia itu udah bikin kerja sama dengan YTL Power untuk menyiapkan pembangkit listrik spesifik nih buat AI berkapasitas 500 MW dan mereka siap nambah lagi suntikan dari cadangan listrik nasional mereka sekitar 600 MW. In total mereka udah siapin barisan pasukan listrik sekuat 1100 MW alias 1,1 GW. Jadi buat teman-teman yang belum tahu, inilah kenapa pentingnya buat Indonesia memperkuat infrastruktur kelistrikannya kita. Kalau ada negara yang punya cita-cita menjadi AI powerhouse, itu hoaks kalau dia tidak punya pembangkit listrik yang sangat besar. Dan ini udah gua berulang kali suarakan dari ya dari 3 atau 4 tahun lalu. Indonesia harus secara masif lebih banyak lagi bangun pembangkit listrik supaya Indonesia bisa menjadi pusat investasi yang lebih menarik. Karena at the end of the day, mau apapun untuk perusahaan lu yang berhubungan dengan data center, at the end of the day, cost-nya COGs terbesar adalah biaya listrik perkwh berapa. Nah, Johor bisa menyelesaikan masalah ini. Tetapi bukan arti ini datang dengan masalah juga, Guys. Karena teman-teman sudah tahu ya, kemarin kita ada bikin video tentang Indonesia yang berencana ekspor listrik ke Singapura. Investasinya sampai gigawatt, Guys. Nah, Teman-teman, bukan artinya ini tidak datang dengan jebakan juga. Kenapa? Karena ada satu jebakan penting di bidang investasi data center. Data center selain listrik itu juga membutuhkan konsumsi air, Guys. Dan konsumsi airnya sangat besar. Bahkan begitu besarnya sampai pernah menciptakan krisis air. Di mana ada data center yang besar pasti ada krisis air di sana. Contoh di Amerika, lu tahu data center di Amerika pada umumnya memakan 100 MW nih. Ini data center yang kecil-kecilan nih. 100 MW itu setara konsumsi 75.000 Rumah tangga loh. Lu bayangin 75.000 rumah tangga itu sedotan listriknya yang dipakai itu udah setara dengan satu data center. Gila enggak? Dan data center 100 MW itu bisa menghabiskan minimal 2 juta liter air per hari. Kok bisa? Ya simpel aja. Lu bayangin ya. Lu punya komputer canggih di rumah, laptop lu aja bisa panas, lu cuma main game doang atau cuma buka YouTube 1 jam, 2 jam langsung panas. Nah, lu bayangkan data center processing power-nya jutaan kali lebih cepat dibandingkan laptop lu atau handphone lu. Tentu butuh pendingin. Pendingin yang paling murah apa? Pakai air water cold. Sehingga mereka harus dipakai terus-terus diguyur pakai air bersih supaya terjadi penguapan panas, evaporasi. Dan artinya daerah-daerah yang punya data center harus siap. seperti Malaysia nih, orang-orang di Johor gua kasih peringatan lu, lu harus siap bakal terjadi krisis air. Karena data center makin banyak sudah pasti kebutuhan air meningkat tadi ya. Data center yang kecil aja 100 MW aja bakal menyedot 2 juta liter air loh per hari karena kebutuhan listriknya panasnya itu setara 75.000 kk, Guys. Nah, sebetulnya Johor Baru udah pernah kena krisis air sih buat teman-teman yang belum tahu ya. Mereka kan udah lama nih main di data center. 6 tahun yang lalu tahun 2019 ada 250.000 orang di berbagai wilayah di Johor itu yang kekurangan air bersih sampai pemerintahan di Johor itu menjatah air warganya. Nih, Teman-teman di Malaysia bisa kirim komentar di bawah. Benar enggak Jor itu sampai pernah krisis air dan akibatnya apa? Bukan cuman soal airnya, mereka juga butuh listrik yang sangat tinggi data sender ini. Akibatnya sebagian wilayah di Johor juga sempat mengalami pemadaman listrik. Nah, ini sedemikian proya Malaysia dengan investor asing. Kalau perlu warganya mati lampu. Kalau perlu warganya enggak minum, warganya enggak mandi, yang penting investor asing happy. Wajar aja ya, banyak investor yang berlomba-lomba ke Johor. Dan ini memang begitu ajaibnya Malaysia. Mereka rela lihat rakyatnya enggak mandi, panukan kudisan gitu loh. Kayak di Johor ini sampai krisis air pun mereka rela lihat rakyatnya menderita. Padahal air bersih di Johor itu sebetulnya diekspor ke Singapura. Jadi kalau ada air prioritaskan server-server ini biar adem dulu. Nih hebat nih Johor nih. By the way buat teman-teman yang belum tahu ya, lu kan suka pakai chat GPT, lu pakai open AI. Lu tahu enggak kebutuhan open AI itu listriknya itu setara 1,2 GW, Guys. Lu bayangin satu data center, dia punya banyak data center, tapi satu data center open AI itu 1,2 gigw dan itu udah setara dengan satu kota kecil yang ada di Texas. Jadi, lu bayangin ya kalau satu kota mati lampu, kalau di-download semua listriknya sama Open AI itu bisa kebayang enggak? Ya, Jakarta aja JABO Detabek itu kebutuhan listriknya 10 GW, Guys. Artinya Open AI itu bisa menyedot hampir 12% total produksi listrik di Jaboretabek. Gila nih. Gila. Itu baru dari satu data center open AI. Makanya teman-teman jangan heran kalau menurut Bloomberg ya AI faktanya itu menghabiskan air dari semua area di mana dia beroperasi. Dia menyedot air tanah, dia menyedot air sungai, dia menyedot semua air yang tersedia di daerah di mana pun dia berada. Bahkan BBC sampai pernah bikin reportase, Guys. Perumahan-perumahan yang ada di Georgia itu juga salah satu pusat data center di Amerika. Kecil padahal itu krisis air. Ibu-ibu sampai menangis. Saya enggak bisa minum air lagi. Air menjadi barang langka. Dan itu semua terjadi karena air bersih dipakai oleh data center, Guys. Hebat, ya. Luar biasa sih ini. Nah, by the way, Indonesia gimana nih, Guys? Menurut kalian kita rugi enggak sih kita cuman ekspor listrik doang? Memang sih kita dapat duit ratusan triliun ya dengan ekspor listrik ke Singapura dan bisa jadi nanti disambungin lagi ke Johor Bahru tuh bisa jadi makelar tuh si Singapura buat jualin listrik kita ke Johor Bahru. Tapi yang jadi pertanyaan ya, Indonesia sebetulnya harus menangis enggak bersama Purbaya? Karena kita kehilang investasi dari perusahaan AI nomor satu di dunia. Ini sebuah kerugian yang luar biasa. Nah, memang sih investasinya cuma R2 triliun, Guys. Tapi kan teman-teman tahu yang namanya Nvidia adalah salah satu tonggak masa depan kemajuan teknologi artificial intelligence yang ada di dunia. Kalau ah investasi ke Indonesia, kita bisa dapat transfer teknologi dari sana. Kita bisa dapat engineer-engineer terbaik di dunia akan pindah ke Indonesia dan akan ada transfer knowledge di sana tentunya. Jadi, gimana nih? Kita harus ikut bersedih atau enggak nih sama Purba atau ya udahlah let it go lah biarkan aja. L toh ada risiko juga kalau kita terima Nvidia. Kita harus siap. memberikan listrik dan air bersih untuk data centernya. Walaupun kalau lu pikir-pikir ya sayang juga kita enggak dapat investasi dari Nvidia karena Nvidia ini perusahaan dengan valuasi termahal di dunia. Hari ini valuasinya 4,4 triliun US Dar, Guys. Itu setara 74.000 triliun ya biar lu kebayang ya. 74.000 triliun itu berarti 74 kuadriliun. Artinya lu bisa beli Bank BCA 70 kali, Guys. Gila, ada sebuah perusahaan valuasinya 70 kali lipat lebih besar dibandingkan Bank BCA. 74.000 triliun, Guys. So, kembali lagi nih pertanyaan buat teman-teman sekalian. Kalau menurut lu Indonesia rugi enggak sih kehilangan Nvidia? Indonesia harus belajar enggak sih gimana caranya membuat investasi jauh lebih menarik di Indonesia sendiri? Dan menurut lu dan menurut kalian semua ya, gimana sih caranya ya biar Indonesia bisa jadi lebih menarik lagi? buat investor asing yang berkualitas tinggi tentunya ya, seperti Microsoft, Intel, AMD, Nvidia atau TSM pindahin pabrik mereka ke Indonesia. Gimana sih cara yang paling bagus supaya mereka mau invest ke kita bukan ke Johor lagi, Malaysia lagi, Singapura lagi? Gimana, Guys? Coba dong berikan saran kalian dan pandangan kalian kenapa alasan utama yang paling besar kenapa mereka memilih investasi di Johor bukannya di Jonggol? Oke, guys. Semoga video ini bermanfaat. Ditunggu ya pandangan kalian seperti apa. Segera like video kita dan jangan lupa subscribe. Salam sehat. Salam cuan. Bye bye. [musik]
Resume
Categories