PURBAYA HUMILIATED!! NVIDIA Chooses Johor, Malaysia — 72 TRILLION Floating?! Why Not Indonesia?
6BDXHXKDOfo • 2025-12-08
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Saya Benix dengan ini ingin menyampaikan
rasa dukacita yang sedalam-dalamnya
kepada rakyat Indonesia, khususnya
kepada saudara-saudara kita yang
terdampak bencana hujan badai sikl
tropis yang mengakibatkan longsor dan
banjir di Aceh, di Sumatera Utara, dan
di Sumatera Barat. Dan saya dengan ini
juga turut merasakan kesedihan dan bela
sungkawa atasanya lebih dari 400-an jiwa
ya manusia yang terdampak bencana ini.
Dan di tengah musibah ini saya juga mau
mengingatkan buat teman-teman sekalian
bahwa kekuatan terbesar bangsa kita itu
adalah solidaritas. Jadi saya mau minta
untuk kepada kita semua, rekan-rekan
semua untuk saling terus
tolong-menolong, bahu-membahu,
gotong-royong dalam memberikan bantuan,
dalam memberikan dukungan, baik dari
segi materi, dari segi tenaga, waktu,
dan yang terpenting dukungan dalam
bentuk doa supaya saudara-saudara kita
di wilayah yang terdampak bisa segera
dipulihkan. Semoga masa yang sulit ini
dapat segera kita lewati bersama.
Purbaya menangis, Guys. Ini berita yang
sangat menyedihkan karena Menteri
Keuangan Favorit kita ya, Purbaya udah
mengibarkan bendera putih. Dia mengaku
Indonesia kalah sama Vietnam, kita kalah
sama Thailand, kita kalah sama
Singapura. Dan sekarang kita kalah lagi
sama Malaysia. Perkara apa? Perkara
investasi. Jadi, perusahaan artificial
intelligence nomor satu di dunia, Nvidia
itu sudah memutuskan milih investasi di
Malaysia. ya karena ada hubungannya
dengan iklim investasi di Indonesia yang
kusut dan Indonesia rugi 70 triliun. Ini
sedih banget loh. Betul-betul sangat
menyakitkan buat republik kita. Jadi
enggak usah heran Purbaya sampai
ngibarin bendera putih. So, kalau lu
penasaran kenapa si Purbaya bisa sampai
menangis lagi, Guys, lu jangan skip
video ini. Let's check this out. [musik]
Jadi, buat Teman-teman yang belum tahu
ya, CEO-nya Nvidia Jenson Huang itu udah
resmi shakeh hand resmi salaman sama
Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia
perihal investasi Nvidia di Johor Bahru
di Malaysia senilai 72 triliun buat
investasi AI. Dan ini luar biasa.
Kenapa? Karena Malaysia akan segera bisa
menjadi ibu kota AI minimal di Asia
Tenggara. Sekali lagi Indonesia akan
menjadi negara budak. Kenapa negara
budak? Ya, kalau zaman dulu kita hobi
impor barang-barang dari Jepang,
barang-barang dari Amerika Serikat.
Tempe aja kacang kedelnya lu impor dari
Amerika. Sekarang lu harus siap-siap.
Indonesia akan segera menjadi bangsa
budak lagi untuk kesekian kalinya.
Karena masa depan dunia adanya di AI dan
Indonesia tidak punya AI. Yang punya
siapa sih? Malaysia. Ini luar biasa.
Tapi yang jadi pertanyaan dan kita harus
mau kritis kenapa Nvidia Jensen Huang
lebih memilih investasi di Johor bukan
di Jonggol. Dan nilai investasinya
enggak main-main, Guys. Nilai
investasinya 4,3 biliun dolar loh alias
Rp72 triliun. Jadi teman-teman ya,
kenapa berita ini penting banget ya?
Bukan cuma soal perkara nilai investasi
yang sangat besar 4,3 biliun dolar loh,
itu sekitar 72 triliun. Tetapi karena
spill over effect-nya jadi lu tahu ya
mereka sudah mulai negosiasi si Malaysia
ini udah mepetin si Nvidia udah dari
tahun 2023. Jadi udah dari 2 tahun lalu
mereka sudah melobi supaya Nvidia buka
pabrik di Malaysia. Dan kenapa ini
penting banget? Karena ini bukan hanya
soal perihal data center, ada spill over
effect. Spill over effect itu apa? Ini
bisa bikin pembangunan industri-industri
turunan yang terkait dengan AI itu
berkembang drastis. Teknologi apa?
Teknologi semiconductor, teknologi data
center, termasuk teknologi artificial
intelligence. Dan ini bisa memberikan
kontribusi yang sangat signifikan
terhadap perekonomian Malaysia. Makanya
gak heran kalau Purbaya aja sampai
mengibarkan bendera putih. Karena ini
udah kekalahan telak sih. Betul-betul
kita ketinggalan zaman. Tapi yang jadi
pertanyaan penting, Guys, kenapa ya
Nvidia memutuskan untuk memilih
Malaysia? Kenapa Nvidia memilih Johor
bukannya Jonggol? Nah, sebetulnya ada
lima alasan penting nih, Guys, kenapa
yang dipilih itu Johor. Alasan yang
pertama itu connectivity. Ya, buat
Teman-teman yang belum tahu ya, secara
geografis Johor Baru sama Singapura itu
ya sebelah-sebelahan kayak Depok sama
Jakarta. Lu tinggal naik bus juga
nyampe. Mereka punya jembatan sendiri,
punya jalan khusus. Bahkan udah jadi hal
yang biasa buat orang-orang itu saling
seberang. Orang yang kerja di Malaysia
tinggal di Singapura atau orang yang
kerja di Singapura tinggalnya di Johor
Bahru. Itu udah hal yang normal lah buat
mereka. Dan Singapura buat teman-teman
yang belum tahu itu adalah international
hub. Mau itu kapal laut, mau itu pesawat
terbang, ya semua juga transitnya di
sana. Jadi kalau lu mau punya
connectivity yang bagus dengan dunia
Barat, dengan Eropa, dengan Jepang,
dengan Amerika, ya udah benar lu bikin
hub yang dekat dengan Singapura.
Sementara kalau lu bandingkan dengan
Jonggol, ya Jonggol itu tidak terkoneksi
ke manapun, Guys. Jonggol enggak ada
koneksi ke Tokyo, koneksi ke Kanada, ke
Berlin, ke Amsterdam, enggak ada
Jonggol. Boro-boro konektivity. Pesawat
aja, bandara aja enggak ada di Jonggol.
Jadi lebih masuk akal buat mereka memang
investasi di Johor yang tidak ada
masalah dengan connectivity. Nah, yang
kedua biaya operasional itu jelas jauh
lebih murah kalau lu bandingkan Johor
dengan Jonggol. Contoh, kalau lu ngomong
soal listrik, listrik tersedia banyak di
Malaysia. Mereka punya cadangan lebih
dari 500 MW yang masih available
sekarang. Bandingkan dengan di Indonesia
yang masih sering juga listriknya itu
biar pad terus belum tahu pun stabil
atau tidak arusnya. Jadi, itu bisa
mempengaruhi produktivitas mesin AI yang
mereka punya juga. Kalau arisnya sering
naik turun ya mesin lu cepat rusak biaya
tinggi. Terus apalagi soal data? Biaya
paket data di Indonesia juga masih
mahal. Ya udah jelas enggak logis kalau
bikin AID Indonesia di Jonggol sudah
jelas lebih mendingan di Johor. Dan
kalau lu bandingkan biaya operasional
dibandingkan Singapura sudah jelas juga
lebih murah di Malaysia. Karena kalau
mereka bikinnya di Johor ya UMR biaya
tenaga kerja di Malaysia jauh lebih
murah dibandingkan UMR-nya si Singapura.
Biaya tanah harga tanah di Malaysia juga
lebih murah dibandingkan harga tanah di
Singapura. Jadi dari segi biaya
operasional jauh lebih murah kalau dia
bikin data center di Johor. Dan yang
ketiga, nah ini penting banget sih. Yang
ketiga, infrastruktur data center itu
sudah sangat mapan di Johor. Johor itu
sudah menjadi pusat data center sejak
bertahun-tahun lalu. Sudah menjadi pusat
data center yang paling utama di
Malaysia. Udah banyak data center
berdiri di sana. Banyak lagi yang sedang
akan dibangun. Artinya sudah ada begitu
banyak sistem pendukung seperti apa? Ya,
lu butuh infrastruktur, jalan, kabel
telepon, listrik, jaringan kabel, tenaga
kerja, regulasi. Jadi itu ah hal yang
sangat umum di sana. Kota itu sudah
betul-betul terintegrasi. Jangan kaget
ya, Teman-teman. Mereka sudah punya data
center yang terkenal mendunia seperti
mereka punya Sedenak Teh Park. Ini
perusahaan-perusahaan terkenal seperti
Princeton Digital, Yonder, MN Holdings
itu ada di sini. Mereka juga punya YTL
Green Data Center Park. Ini Johor juga.
Jadi perusahaan seperti Tensen, Garena
Sea Limited, YTL Power itu semua ada di
sini. Di Johor Baru sendiri mereka juga
punya Nusa Cemerlang Industrial Park. Di
sini ada perusahaan seperti ST Telemedia
Global Data Center. Lalu ada lagi data
center di Nusa Jaya Tech Park.
Perusahaan-perusahaan dunia nih seperti
GDD Holding, Equinic itu semua bikinnya
di sini, Guys. Jadi, Teman-teman udah
kebayang kan? Jadi, data center itu
bukan bisnis baru. Ahlinya, sumber daya
manusianya, infrastrukturnya,
connectivity-nya mereka udah ready
memang sejak lama. Jadi soal
infrastruktur data center itu mereka
sudah sangat mapan dibandingkan buka di
Jonggol, Guys. Nah, yang keempat ya udah
jelas faktor soal SDM. Jadi SDM di
Malaysia lu sudah tahu namanya Johnson
Huang. Dia enggak bisa bahasa
sangsekerta, dia juga enggak bisa bahasa
Sunda. Dia bisanya apa? Bahasa Inggris.
Nah, di Malaysia itu udah terbiasa orang
berbahasa Inggris selain bahasa Melayu
ya. Dan kalau mereka punya ambil tenaga
kerja dari Indonesia pun atau dari
Singapura pun udah jelas lebih fasih
bahasa Inggris dibanding orang-orang di
Jonggol. Dan dari sini lu bisa gampang
mengetahui kalau mereka nanti ada
tektokan ya sama Nvidia yang di Amerika,
sama vendornya Nvidia yang ada di Taiwan
yang ada di ISML yang di Eropa. Mereka
udah jauh lebih punya tatanan bahasa
operational framework yang lebih gampang
tuh buat mereka komunikasi antar grup
antar divisinya. Jadi dari empat sisi
itu aja mereka udah untung banyak. Dan
teman-teman gak usah kaget kalau ini
semua memang udah diagendakan di
jauh-jauh hari. Karena ini udah sesuai
visinya si Anwar nih. Jadi Anwar Ibrahim
itu udah punya pandangan ke depan bahwa
ekonomi Johor akan melampaui banyak
wilayah-wilayah Malaysia yang lain.
Setidaknya dalam 2 tahun ke depan Johor
secara spesifik bakal lebih maju. Dia
punya target sangat luar biasa sih. Dia
menambah ya GDP per capita Malaysia.
Tadinya cuman Rp190-an juta, Guys. Alias
cuman setara 12.000 per kapita. Tapi
dengan metodenya si Anwar ini, dia mau
naikin pendapatan per kapita. Jadi perk
kepala manusia di Johor itu bakal naik.
Tadinya cuman Rp190-an juta menjadi R216
juta per kepala alias per kapitanya ada
1.000. Ada peningkatan penghasilan di
rakyat yang tinggal di Johor. Jadi
memang dia punya visi misi menciptakan
Malaysia lebih canggih, lebih modern,
dan lebih kaya raya, Guys, dibandingkan
sebelumnya. Hebat nih. Nah, Teman-teman
mungkin di sini banyak yang nyinyir ya,
Pak. kenaikannya kan cuman tipis dari
Rp199 juta per kapitanya bakal naik
setelah ada investasi Nvidia ini bisa
jadi Rp216 juta per kapita ya naiknya
enggak banyak cuman sekitar Rp16 juta
Rp17 juta lah artinya enggak nyampai 10%
lah kenaikannya artinya pendapatan
rakyat Malaysia di Johor ya khususnya
jadi Rp216 juta per tahunnya per kepala
tapi lu pernah bertanya-tanya enggak sih
Indonesia berapa pendapatan per
kapitanya ternyata GDP per kapita
Indonesia itu cuman 70-an juta, Guys,
setahun. Jadi, lu bayangkan di Malaysia
penghasilan per kapita mereka, GDP per
kapita mereka itu sudah tiga kali lipat
orang Indonesia. Artinya satu kepala
yang sama bisa menghasilkan
produktivitas nilai ekonomi tiga kali
lipat lebih banyak dibandingkan manusia
Indonesia. Jadi memang lu bisa aja
nyinyir e naiknya kan cuman Rp17 juta.
Iya, tapi itu artinya membuat GDP per
kapita Indonesia semakin terbelakang.
Jadi gak bisa dibilang kecil juga sih.
By the way, kalau kita lihat secara
makro ya, di tahun 2025 aja ekonomi
digital Malaysia itu diperkirakan bakal
memberikan sumbangsi sekitar 25%
terhadap perekonomiannya Malaysia. Lu
penasaran enggak perekonomian Malaysia
berapa? Perekonomian Malaysia GDP mereka
itu 7.000 triliun, Guys, di tahun 2024.
Ya, asumsinya salah. Misalkan 2025 juga
sama-sama 7.000 triliun, ya. Artinya
kalau 25% 25% nyawanya Malaysia akan
disumbangkan dari sektor ekonomi digital
yang nilainya sekitar 17.750
triliun. Nah, di sini Indonesia bisa
berbangga hati lah karena Indonesia
GDP-nya setiap tahun itu 22.000 triliun,
Guys. Jadi jauh di atas Malaysia yang
cuman 7.000 triliun setahun. Tapi satu
yang kita respect nih dan kita harus
belajar dari Malaysia, mereka mau
diversifikasi sumber penghasilan
negaranya sampai mereka berhasil
meng-generate 25% GDP mereka dari
ekonomi digital. Nah, gimana kalau kita
bandingkan dengan ekonomi digital di
Indonesia? Ternyata ekonomi digital di
Indonesia itu menyumbangkan R860 triliun
di tahun 2024. Oh, gede dong ya. gede ya
lebih gede bahkan dibandingkan Malaysia
yang cuman R750 triliun. Tetapi eseho lu
harus lihat ya 1750 triliun Malaysia itu
kan 25% terhadap perekonomian mereka
yang kecil itu yang 7.000 triliun itu
25%. Indonesia ekonominya 22.000 triliun
noh kita punya GDP-nya. Ternyata 1860
triliun itu cuman 8% dalam perekonomian
Indonesia. Jadi masih jauhlah
dibandingkan Malaysia. Ternyata kita
masih bersumber dari ekonomi-ekonomi
yang masih jejak-jejak masa lalu. Ekspor
apa? Ekspor sumber daya alam. energi
ekstraktif ya, pertambangan ya, kelapa
sawit yang nilainya bisa sampai 20%.
Jadi kalau dibilang Indonesia berbangga
enggak GDP-nya lebih besar, ya betul
22.000 triliun, Malaysia cuma 7.000
triliun. Cuman ternyata sayangnya kita
masih ekspor dalam bentuk bahan baku
industri-industri ekstraktif itu.
Makanya penting buat teman-teman kita
mendukung hilirisasi karena bisa
menciptakan lebih banyak lagi lapangan
kerja, bisa menciptakan lebih banyak
lagi value, bisa meng-capture lebih
banyak lagi triliun. penting nih. Nah,
Malaysia udah bisa melihat betapa
pentingnya buat mereka kejar ekonomi
yang high value dibandingkan ekonomi
yang low value, ekspor bahan baku. Tapi
tetap yang jadi pertanyaan, Guys. Ya,
namanya Indonesia kan lu udah tahu ya,
GDP-nya gede 22.000 triliun. Artinya
Indonesia itu punya pasar digital
terbesar di Asia Tenggara. Tetapi kenapa
bukan kita yang dipilih? Kenapa bukan
Jonggol yang dipilih? Ya simpel aja.
Karena meskipun kita punya Pulau Batam
nih yang sama-sama berdekatan dengan
Singapura, Indonesia itu minus
infrastruktur data centernya. Bukan
minim loh, minus infrastruktur data
centernya sangat sedikit. Kenapa bisa?
Karena kita punya satu kendala utama di
dalam bisnis AI yang sangat rakus
energi. Jawabannya adalah Indonesia
punya masalah di listrik, Guys.
Teman-teman, asal lu tahu aja ya, untuk
membangun sebuah data center itu negara
membutuhkan daya listrik yang sangat
besar. Nah, Malaysia itu udah bikin
kerja sama dengan YTL Power untuk
menyiapkan pembangkit listrik spesifik
nih buat AI berkapasitas 500 MW dan
mereka siap nambah lagi suntikan dari
cadangan listrik nasional mereka sekitar
600 MW. In total mereka udah siapin
barisan pasukan listrik sekuat 1100 MW
alias 1,1 GW. Jadi buat teman-teman yang
belum tahu, inilah kenapa pentingnya
buat Indonesia memperkuat infrastruktur
kelistrikannya kita. Kalau ada negara
yang punya cita-cita menjadi AI
powerhouse, itu hoaks kalau dia tidak
punya pembangkit listrik yang sangat
besar. Dan ini udah gua berulang kali
suarakan dari ya dari 3 atau 4 tahun
lalu. Indonesia harus secara masif lebih
banyak lagi bangun pembangkit listrik
supaya Indonesia bisa menjadi pusat
investasi yang lebih menarik. Karena at
the end of the day, mau apapun untuk
perusahaan lu yang berhubungan dengan
data center, at the end of the day,
cost-nya COGs terbesar adalah biaya
listrik perkwh berapa. Nah, Johor bisa
menyelesaikan masalah ini. Tetapi bukan
arti ini datang dengan masalah juga,
Guys. Karena teman-teman sudah tahu ya,
kemarin kita ada bikin video tentang
Indonesia yang berencana ekspor listrik
ke Singapura. Investasinya sampai
gigawatt, Guys. Nah, Teman-teman, bukan
artinya ini tidak datang dengan jebakan
juga. Kenapa? Karena ada satu jebakan
penting di bidang investasi data center.
Data center selain listrik itu juga
membutuhkan konsumsi air, Guys. Dan
konsumsi airnya sangat besar. Bahkan
begitu besarnya sampai pernah
menciptakan krisis air. Di mana ada data
center yang besar pasti ada krisis air
di sana. Contoh di Amerika, lu tahu data
center di Amerika pada umumnya memakan
100 MW nih. Ini data center yang
kecil-kecilan nih. 100 MW itu setara
konsumsi 75.000 Rumah tangga loh. Lu
bayangin 75.000 rumah tangga itu sedotan
listriknya yang dipakai itu udah setara
dengan satu data center. Gila enggak?
Dan data center 100 MW itu bisa
menghabiskan minimal 2 juta liter air
per hari. Kok bisa? Ya simpel aja. Lu
bayangin ya. Lu punya komputer canggih
di rumah, laptop lu aja bisa panas, lu
cuma main game doang atau cuma buka
YouTube 1 jam, 2 jam langsung panas.
Nah, lu bayangkan data center processing
power-nya jutaan kali lebih cepat
dibandingkan laptop lu atau handphone
lu. Tentu butuh pendingin. Pendingin
yang paling murah apa? Pakai air water
cold. Sehingga mereka harus dipakai
terus-terus diguyur pakai air bersih
supaya terjadi penguapan panas,
evaporasi. Dan artinya daerah-daerah
yang punya data center harus siap.
seperti Malaysia nih, orang-orang di
Johor gua kasih peringatan lu, lu harus
siap bakal terjadi krisis air. Karena
data center makin banyak sudah pasti
kebutuhan air meningkat tadi ya. Data
center yang kecil aja 100 MW aja bakal
menyedot 2 juta liter air loh per hari
karena kebutuhan listriknya panasnya itu
setara 75.000 kk, Guys. Nah, sebetulnya
Johor Baru udah pernah kena krisis air
sih buat teman-teman yang belum tahu ya.
Mereka kan udah lama nih main di data
center. 6 tahun yang lalu tahun 2019 ada
250.000 orang di berbagai wilayah di
Johor itu yang kekurangan air bersih
sampai pemerintahan di Johor itu
menjatah air warganya. Nih, Teman-teman
di Malaysia bisa kirim komentar di
bawah. Benar enggak Jor itu sampai
pernah krisis air dan akibatnya apa?
Bukan cuman soal airnya, mereka juga
butuh listrik yang sangat tinggi data
sender ini. Akibatnya sebagian wilayah
di Johor juga sempat mengalami pemadaman
listrik. Nah, ini sedemikian proya
Malaysia dengan investor asing. Kalau
perlu warganya mati lampu. Kalau perlu
warganya enggak minum, warganya enggak
mandi, yang penting investor asing
happy. Wajar aja ya, banyak investor
yang berlomba-lomba ke Johor. Dan ini
memang begitu ajaibnya Malaysia. Mereka
rela lihat rakyatnya enggak mandi,
panukan kudisan gitu loh. Kayak di Johor
ini sampai krisis air pun mereka rela
lihat rakyatnya menderita. Padahal air
bersih di Johor itu sebetulnya diekspor
ke Singapura. Jadi kalau ada air
prioritaskan server-server ini biar adem
dulu. Nih hebat nih Johor nih. By the
way buat teman-teman yang belum tahu ya,
lu kan suka pakai chat GPT, lu pakai
open AI. Lu tahu enggak kebutuhan open
AI itu listriknya itu setara 1,2 GW,
Guys. Lu bayangin satu data center, dia
punya banyak data center, tapi satu data
center open AI itu 1,2 gigw dan itu udah
setara dengan satu kota kecil yang ada
di Texas. Jadi, lu bayangin ya kalau
satu kota mati lampu, kalau di-download
semua listriknya sama Open AI itu bisa
kebayang enggak? Ya, Jakarta aja JABO
Detabek itu kebutuhan listriknya 10 GW,
Guys. Artinya Open AI itu bisa menyedot
hampir 12% total produksi listrik di
Jaboretabek. Gila nih. Gila. Itu baru
dari satu data center open AI. Makanya
teman-teman jangan heran kalau menurut
Bloomberg ya AI faktanya itu
menghabiskan air dari semua area di mana
dia beroperasi. Dia menyedot air tanah,
dia menyedot air sungai, dia menyedot
semua air yang tersedia di daerah di
mana pun dia berada. Bahkan BBC sampai
pernah bikin reportase, Guys.
Perumahan-perumahan yang ada di Georgia
itu juga salah satu pusat data center di
Amerika. Kecil padahal itu krisis air.
Ibu-ibu sampai menangis. Saya enggak
bisa minum air lagi. Air menjadi barang
langka. Dan itu semua terjadi karena air
bersih dipakai oleh data center, Guys.
Hebat, ya. Luar biasa sih ini. Nah, by
the way, Indonesia gimana nih, Guys?
Menurut kalian kita rugi enggak sih kita
cuman ekspor listrik doang? Memang sih
kita dapat duit ratusan triliun ya
dengan ekspor listrik ke Singapura dan
bisa jadi nanti disambungin lagi ke
Johor Bahru tuh bisa jadi makelar tuh si
Singapura buat jualin listrik kita ke
Johor Bahru. Tapi yang jadi pertanyaan
ya, Indonesia sebetulnya harus menangis
enggak bersama Purbaya? Karena kita
kehilang investasi dari perusahaan AI
nomor satu di dunia. Ini sebuah kerugian
yang luar biasa. Nah, memang sih
investasinya cuma R2 triliun, Guys. Tapi
kan teman-teman tahu yang namanya Nvidia
adalah salah satu tonggak masa depan
kemajuan teknologi artificial
intelligence yang ada di dunia. Kalau ah
investasi ke Indonesia, kita bisa dapat
transfer teknologi dari sana. Kita bisa
dapat engineer-engineer terbaik di dunia
akan pindah ke Indonesia dan akan ada
transfer knowledge di sana tentunya.
Jadi, gimana nih? Kita harus ikut
bersedih atau enggak nih sama Purba atau
ya udahlah let it go lah biarkan aja. L
toh ada risiko juga kalau kita terima
Nvidia. Kita harus siap. memberikan
listrik dan air bersih untuk data
centernya. Walaupun kalau lu pikir-pikir
ya sayang juga kita enggak dapat
investasi dari Nvidia karena Nvidia ini
perusahaan dengan valuasi termahal di
dunia. Hari ini valuasinya 4,4 triliun
US Dar, Guys. Itu setara 74.000 triliun
ya biar lu kebayang ya. 74.000 triliun
itu berarti 74 kuadriliun. Artinya lu
bisa beli Bank BCA 70 kali, Guys. Gila,
ada sebuah perusahaan valuasinya 70 kali
lipat lebih besar dibandingkan Bank BCA.
74.000 triliun, Guys. So, kembali lagi
nih pertanyaan buat teman-teman
sekalian. Kalau menurut lu Indonesia
rugi enggak sih kehilangan Nvidia?
Indonesia harus belajar enggak sih
gimana caranya membuat investasi jauh
lebih menarik di Indonesia sendiri? Dan
menurut lu dan menurut kalian semua ya,
gimana sih caranya ya biar Indonesia
bisa jadi lebih menarik lagi? buat
investor asing yang berkualitas tinggi
tentunya ya, seperti Microsoft, Intel,
AMD, Nvidia atau TSM pindahin pabrik
mereka ke Indonesia. Gimana sih cara
yang paling bagus supaya mereka mau
invest ke kita bukan ke Johor lagi,
Malaysia lagi, Singapura lagi? Gimana,
Guys? Coba dong berikan saran kalian dan
pandangan kalian kenapa alasan utama
yang paling besar kenapa mereka memilih
investasi di Johor bukannya di Jonggol?
Oke, guys. Semoga video ini bermanfaat.
Ditunggu ya pandangan kalian seperti
apa. Segera like video kita dan jangan
lupa subscribe. Salam sehat. Salam cuan.
Bye bye.
[musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:06:41 UTC
Categories
Manage