Transcript
gdpS-ShKb_M • 700 American Companies Go Bankrupt Due to Trump's Many Actions?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0553_gdpS-ShKb_M.txt
Kind: captions
Language: id
Hooters is the latest national chain to
file for bankruptcy protection. Forever
21 is fil for bankruptcy. Restaurant
Chain is filing for bankruptcy. This
time it's Hooters. AC Penny is now filed
for bankrupt seed. [musik] Robot filing
uh for bankruptced. Most of the Burger
King restaurants in our area has
bankruptcy.
Guys, lu tahu enggak kalau saat ini udah
ada 700 perusahaan Amerika itu bangkrut?
Mungkin lu berpikir kalau Amerika
Serikat itu ekonominya masih kuat ya
kayak tahun '90-an. Tapi faktanya di
tahun 2025 Amerika itu justru mengalami
lonjakan besar kebangkrutan perusahaan.
Ada 700 perusahaan dan sekitar 70.000
orang di PHK. Pertanyaannya, apa sih
yang sebenarnya terjadi? Kalau lu
penasaran, jangan skip video ini. Let's
check this out. [musik]
Jadi, salah satu penyebab utama nih dari
bangkrutnya perusahaan-perusahaan di
Amerika itu karena kebijakannya Donald
Trump, Presiden Amerika Serikat.
Emangnya dia keluarin kebijakan apa?
Yang pertama itu ya kita sudah tahu
banget ya tarif impor. Dia itu keluarin
tarif impor besar-besaran atau kalau di
dunia internasional itu kita kenal
istilah perang dagang. Nah, saat tarif
impor itu dinaikin, harga bahan baku dan
komponen tuh langsung melonjak tajam di
Amerika. Akibatnya, ya
keuntungan-keuntungan perusahaan margin
labanya itu hancur lebur, biaya
produksinya naik tajam. Dan tentunya
negara-negara lain yang enggak tinggal
diam aja negaranya diserang tarif.
Negara lain balas dengan tarif balasan
ke produk-produk asal Amerika.
Harga-harga produk Amerika di
negara-negara yang dikasih tarif sama
Trump melonjak tajam jadi enggak laku.
Ujungnya ekspor Amerika ya kena
dampaknya. penjualannya turun. Karena
penjualannya turun, produksi pun harus
dipangkas. Ngapain produksi
banyak-banyak kalau pembelinya sedikit
atau enggak ada bahkan. Dan kalau
penjualan turun ya kita harus menekan
cost, menekan biaya. Dan banyak
perusahaan di Amerika sana akhirnya
menyatakan bangkrut yang berujung PHK
massal. Masalah kedua itu efek berantai
ya dari tarif tadi. Tarifnya naik, harga
barang naik, inflasi ikutan naik. Ketika
inflasi tinggi, suku bunga itu ya
otomatis gak bisa diturunin sama deffed.
Karena ya suku bunga itu alat untuk
menekan inflasi. Kalau suku bunganya
turun, inflasi naik. Dan saat suku bunga
tetap tinggi yang dirugikan siapa? Ya
perusahaan. Biaya kredit mereka mahal,
bunganya mahal. Karena enggak bisa
minjam juga karena orang juga malas
minjam mau buat ekspansi perusahaan ya
atau mau buat buka usaha. Mereka juga
ogah buat minjam karena bunganya tinggi.
Ekspansi perusahaan pun tertahan. cash
flow terganggu akibatnya ya seluruh
ekonomi Amerika ya terganggu. Masalah
ketiga itu adalah volatilitas
geopolitik. Akhir-akhir ini
ketidakpastian global tuh meningkat
bukan cuman karena perang, tapi ya
karena Donald Trump. Aksi-aksi koboy-nya
Donald Trump ini bikin resiko pasar jadi
naik. Akibatnya investor jadi hati-hati.
Mereka mau keluarin dananya ya lebih
berhati-hati. Harga aset tuh jadi
bergejolak. bisa naik turun dengan cepat
tergantung situasi geopolitik yang
sama-sama terus berubah cepat alias
enggak ada stabilitasnya di situ. Hari
ini naik tapi besok mendadak Trump bikin
jumpa pers. Ngomong yang enggak enggak
bikin geopolitik goyang lagi. Akibatnya
harus investasi juga ikut goyang dan
bikin perdagangan internasional ya ikut
tertekan. Lingkungan bisnis secara
keseluruhan ya jadi enggak stabil. Nah,
gabungan dari semua ini membuat situasi
ekonomi Amerika itu jadi jelek, jadi
buruk. Biaya produksi naik karena bahan
baku yang kemungkinan besar nih datang
dari negara-negara yang kasih tarif
balasan ke Amerika. Contohnya Cina. Kita
tahu banget Amerika dan Cina itu perang
dagang gontok-gontokan adu kuat.
Akibatnya inflasi di Amerika Serikat itu
tetap tinggi. Sementara pendapatan
penduduknya itu enggak bertambah bahkan
mungkin menurun. Hasilnya konsumen pun
nahan belanja. Fokusnya belanja-belanja
itu semua pengeluaran tuh ya cuman buat
kebutuhan pokok. Mereka enggak lagi
belanja buat gaya hidup. dan dampaknya
langsung ke toko-toko retail, UMKM di
Amerika, restoran, dan ujung-ujungnya ya
ke pabrik. SNP Global Market
Intelligence itu memperkirakan ada
kenaikan 14% jumlah perusahaan yang
bangkrut di 2025 dengan jumlah PHK lebih
dari 70.000 tenaga kerja. Bukan cuman
perusahaan nih yang menyatakan bangkrut,
individu ya, pribadi nih juga banyak
yang menyatakan bangkrut. Data mencatat
ada kenaikan 8% di 2025 untuk
individu-individu, pribadi-pribadi yang
menyatakan kalau dirinya bangkrut.
Jumlahnya 41.000 kasus naik karena di
2024 jumlahnya hanya 38.000 kasus. Yang
mengajukan likuidasi juga naik 11% jadi
25.000 kasus. Dan yang mengajukan
cicilan untuk bayar hutang-hutangnya
naik 5% jadi 15.500 kasus. Tapi
perusahaan-perusahaan apa sih yang
sebenarnya dibilang bangkrut? Nih gua
mau sebut nih nama-nama perusahaannya
nih ya. Dan ini bukan perusahaan kecil
semuanya perusahaan-perusahaan besar.
Yang pertama itu ada GC Penny. Dia itu
bergerak di sektor retil. Dia ngajuin
bangkrut di bulan Desember lalu karena
enggak kuat nutup cost operasional.
Sementara pengunjung toko-toko dia sepi.
Penjualan GCPN itu terus turun di
kuartal 4 2025 penjualan dia anjlok
lebih dari 9%. Jadi cuman R5 triliun.
Padahal tahun lalu dia untung, sekarang
justru rugi 1 triliun. Selama setahun
penuh juga sama. Total penjualannya
turun 8,6% jadi R6 triliun. Dari yang
sebelumnya di tahun lalu untung 500
miliar nih di 2024 berubah jadi rugi 3
triliun di 2025. Bahkan laba operasional
seluruh grupnya dia ambruk lebih dari
45% ke angka 2,9 triliun. Ini udah bukan
bisnisnya melambat lagi, tapi ini tanda
perusahaan udah ngap-ngapan karena
kerugiannya udah puluhan triliun, Guys.
Lalu ada perusahaan luminar teknologis.
Perusahaannya bergerak di teknologi
otomotif khususnya sensor ya. Kenapa dia
ngajuin diri bangkrut? ya, karena dia
ngalamin kerugian. Perusahaan-perusahaan
otomotif itu menunda menggunakan
sensor-sensor mahal buatan dia nih yang
canggih. Kenapa? Ya karena ingin
harga-harga produk otomotif mereka tetap
kompetitif. Di saat daya beli masyarakat
tuh lagi lesu, kalau ditambahin
sensornya buatan dia, ya harganya jadi
naik. Makin enggak laku produk-produk
otomotif yang udah dibikin. Akibatnya
apa? Luminar pun nyatain bangkrut. Bukan
karena teknologinya jelek, tapi karena
pasarnya enggak jalan. Akibatnya total
pendapatan Luminar itu cuman sekitar R15
miliar di kuartal 3 2025. Tapi
kerugiannya jauh lebih besar. Dalam satu
kuartal Luminar itu rugi hampir 1,5
triliun. Ditambah lagi biaya operasional
dia itu tembus lebih dari 1,2 triliun.
Makanya enggak heran nih kalau lu lihat
sahamnya ambruk lebih dari 97% cuma
dalam 6 bulan. Nilai perusahaan musnah.
Ini contoh jelas nih. Ketika ekonomi
jadi ketat nih orang pada ngencengin
ikat pinggang. Kalau istilah zaman dulu
ya, bunga tinggi, orang-orang nahan
belanja. Perusahaan teknologi yang mahal
nih, ini korban pertama. Lalu ada
perusahaan teknologi terkenal lagi nih,
Aerobot ini mengalami bangkrutan juga
akibat dari tarif Trump ke Vietnam.
Berapa gede tarifnya? Emang 46%. Padahal
Vietnam ini ini pusatnya manufaktur
produk-produk Aerobot. Akibatnya
perusahaan Aerobot ini sampai punya
hutang yang belum kebayar nih dari
pinjaman di tahun 2023. Besarnya 3,2
triliun. Meskipun di tahun 2024 aerobot
nih mencatat pendapatan sebesar 11,5
triliun, nilai sahamnya gimana? Dalam 6
bulan terakhir anjlok juga 96%. Ada lagi
nih berikutnya korbannya Donald Trump
namanya Forever 21. Ini brand fashion
ya. Sebenarnya mereka juga udah pernah
bangkrut di tahun 2019 tapi diselametin
dibeli sama Spark Group. Nah, Forever 21
ini memiliki hutang di kisaran R8
triliun. dia kalah saing dengan aplikasi
belanja luar negeri kayak temu sein yang
jauh lebih praktis enggak perlu datang
ke toko, harga-harga produknya jauh
lebih murah. Nah, sekarang Forever 21
udah mulai beralih nih. Dia ikut-ikutan
jualan online, toko-tokonya ditutup.
Yang di PHK juga banyak. Berikutnya ada
Hooters. Nih restoran-restoran
favoritnya pria nih. Hooters juga ikut
bangkrut. Kenapa dia bisa bangkrut?
Karena inflasi yang tinggi, biaya tenaga
kerja, harga-harga bahan pokok juga
ningkat karena tarif-tarifnya si Trump.
Ditambah lagi daya beli masyarakat
Amerika turun. Akibatnya, Huters
menyatakan bangkrut karena dia gak
sanggup mengatasi hutang dia yang
mencapai 6,2 triliun. Nah, itu tadi
perusahaannya. Ini baru li perusahaan ya
dari lebih dari 700 perusahaan yang
bangkrut. Akibat dari
perusahaan-perusahaan yang bangkrut itu
yang akibat tarifnya si Trump ya,
kebijakan-kebijakan politiknya si Trump
di November 2025 itu ada 7,8 juta warga
Amerika yang nganggur nambah 700.000
dari periode yang sama di tahun
sebelumnya. Ya wajar karena ada 700
perusahaan yang bangkrut otomatis ya
pengangguran bertambah PHK meraja lela
massal. Lapangan kerja juga surut
orang-orang susah cari kerja ini belum
ditambah PHK yang disebabkan oleh
maraknya penggunaan AI. Data mencatat
ada 55.000 orang di Amerika yang di PHK
karena digantikan pekerjaan dia sama AI.
Indonesia harus siap-siap nih. Sekarang
kita bandingin nih dengan Indonesia ya.
Sepanjang 2025 jumlah PHK itu tercatat
88.000 R000 tenaga kerja yang
penyebabnya kalau menurut Kemnaker nih
Kementerian Tenaga Kerja itu lebih
karena tekanan kinerja ekspor impor dan
dinamika geopolitik global. Jumlah
pengangguran Indonesia itu sekitar 7,4
juta orang didominasi oleh Gen usia 15
sampai 29 tahun dengan persentase 67%
dari total pengangguran. Wah, jadi Gen
memang berat bangetlah di zaman sekarang
ya. Udah cari kerja susah, lapangan
pekerjaan juga terbatas banget, sedikit
banget. Menariknya nih, Indonesia itu
justru berpotensi diuntungkan dari
kebijakannya tarif Trump. Kenapa? Karena
kita itu berhasil cuman dapat tarif 19%
dari Trump. Nah, ini akan mendatangkan
investasi asing ke Indonesia. Apa
hubungannya? Ya, karena kalau mereka
tetap beroperasi di negara sebelumnya
nih, misalkan Vietnam tadi, mereka itu
kena tarif tram 46% nih kalau mau jualan
di Amerika. Nah, lebih baik mereka
berinvestasi ke Indonesia pindah. Dengan
berinvestasi di Indonesia, mereka kalau
jualan ke Amerika cuman kena tarif 19%.
Nah, ini tentunya peluang yang
menguntungkan kita. Karena dengan
investasi-investasi tersebut ya
mudah-mudahan bisa menekan angka
pengangguran di Indonesia, bisa membantu
Gen mendapat pekerjaan. Sekarang muncul
pertanyaan besar nih, apakah
kebangkrutan massal
perusahaan-perusahaan di Amerika ini
murni karena kesalahan Donald Trump atau
sebenarnya Trump itu lagi dikerjain sama
The FE? Karena di video sebelumnya kita
bahas bahwa Trump itu sangat ingin,
pengin banget suku bunga Amerika itu
rendah. Tapi sampai saat ini bank
sentral Amerika itu tetap nahan suku
bunganya di angka yang tinggi. Jadi
sekarang pertanyaannya kembali ke kalian
nih. Menurut kalian apakah kebangkrutan
massal perusahaan-perusahaan di Amerika
itu murni karena ulah Donald Trump
dengan tarif-tarifnya atau ada permainan
kebijakan moneter di balik layar? Tulis
pendapat kalian di kolom komentar. Like
dan share video ini. Subscribe jika
kalian belum subscribe. Salam sehat.
Salam cuan. Bye bye.
[musik]