PARADOKS: Kenapa Sukses Datang Saat Kita Gak Ngarep?
iouOZgtEuHE • 2025-06-13
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Pernah enggak sih lu ngerasa semakin lu
ngejar sesuatu, semakin jauh lu rasanya
dengan sesuatu tersebut? Semakin ngarep
dan semakin lu ngejar gebetan, semakin
jauh gebetan tersebut. Tapi semakin lu
enggak peduli dengan seseorang, justru
orang itu malah jadi suka dengan lu.
Semakin lu greedy dan lu ngejar kekayaan
ketika lu trading, semakin emosi lu
enggak stabil dan trading lu malah jadi
boncos. Semakin lu ngarep di promosi, di
pekerjaan, justru lu malah enggak naik
gaji atau lebih buruk lu malah dipecat.
Ada yang ngerasa kayak gini? Jujur gua
relate banget. Menariknya adalah kok
bisa banyak tokoh agama, banyak tokoh
filsafat, semua mengatakan hal yang
sama. Tapi kok kita bisa ya melupakan
konsep fundamental seperti ini? Bahwa
semakin besar keinginan dan ambisi kita
akan sesuatu, semakin kita ngarep justru
hal tersebut akan terasa semakin sulit
untuk diraih. Yang jadi menarik lagi
adalah gimana kalau misalnya kunci untuk
mendapatkan segalanya, untuk mendapatkan
kekayaan, untuk mendapatkan perempuan,
laki-laki, gebetan, rumah, justru
terletak pada sikap di mana kita
sebetulnya tidak membutuhkan hal
tersebut. Bahwa kita tidak membutuhkan
apa-apa. Dengan kata lain, istilah
bahasa Inggrisnya adalah needing nothing
attracts everything. Konsep ini mungkin
terdengar kontradiktif, tapi di dalamnya
tersimpan sebuah teori kearifan kuno.
Kearifan atau kebijaksanaan yang juga
adalah sebuah paradoks tapi selalu
digaungkan dari masa ke masa, dari zaman
ke zaman, sejak ratusan bahkan ribuan
tahun lalu. Konsep ini menariknya bisa
mengubah cara berpikir kita dan cara
kita memandang hidup dan meraih yang
namanya keberlimpahan atau abundance
dalam berbagai hal. Dan konsep ini juga
akan mendekatkan kita dengan tujuan
kita. Makanya di video kali ini gua
bakal mengupas cara untuk melepaskan
ngarep, melepaskan ambisi, dan
melepaskan ego yang berlebihan. Yang
menariknya justru bisa ngebuka pintu
buat semesta, buat Tuhan untuk
menghadirkan apa yang benar-benar kita
butuhkan. Selamat datang di kelas
kehidupan dari 1%.
[Musik]
Mungkin ada beberapa dari lu yang
berpikir bahwa tidak membutuhkan apa-apa
artinya adalah kita menjadi pasif, kita
malas-malesan atau menyerah begitu saja
pada keadaan. Dengan kata lain, kita
hidup tanpa ambisi, hidup tanpa tujuan.
Kalau lu berpikir begitu, well, lu
salah. Karena pada dasarnya esensi dari
mindset atau gagasan ini sebenarnya
lebih menitik beratkan pada ngarep ya.
Jadi ngarap tuh maksudnya apa? Ya kita
lepaskan ngarap kita, lepaskan
keterikatan atau attachment kita pada
hasil yang kita harapkan. Yang kedua,
kita membebaskan diri kita dari
keinginan yang berlebihan. Nah, ini
biasa kita sebut dengan ambisi, ego, dan
lain-lain. Yang seringki dua hal ini ya,
ngarep ini menjerumuskan kita terhadap
lingkaran obsesi, lingkaran kecemasan,
lingkaran stres yang akhirnya malah
bikin kita gagal. Ada sebuah cerita yang
menarik. Jadi, bayangin ya, lu ada di
sebuah gurun, di gurun itu lu kehausan.
Menariknya di kejauhan lu melihat ada
sumber air, ada sebuah oasis yang lu
lihat dari jauh. Dan karena lu melihat
itu, lu akhirnya mengejar sumber air itu
sekuat tenaga. Lu pakai itu semua tenaga
lu untuk lari ke sana sampai lu
ngos-ngosan, sampai lu kayak mau mati
gitu. Sayangnya semakin lu lari justru
oasis itu malah semakin menjauh. Dan lu
pikir ini enggak masuk akal. Dan lu
mikir, kenapa sih gua enggak pernah bisa
mendekati sumber air itu? Padahal gua
udah lari sekuat tenaga. Well,
jawabannya sederhana karena memang
sumber air itu gak pernah ada di depan
lu. Uniknya, setelah lu menenangkan diri
di gurun tersebut, lu duduk dan lu baru
sadar bahwa di sebelah ada oasis kecil,
ada air yang selama ini lo lupakan.
Ternyata lu baru sadar, lu terlalu sibuk
ngelihat ke depan dengan ambisi lu tanpa
menyadari bahwa di sekitar lu semesta
itu udah menyediakan sesuatu. Cuma lu
enggak pernah sadar karena lu enggak
pernah lihat kiri kanan, lu enggak
pernah lihat atas sama bawah. Lu selalu
ngelihat ke depan, enggak pernah
ngelihat ke belakang atau sekitar lu.
Secara psikologi ya, karena gua jurusan
psikologi ya, ini bisa dibilang masuk
akal. Karena ketika kita terlalu terpaku
sama apa yang belum kita miliki, ketika
kita selalu membanding-bandingkan dari
orang yang lebih oke dari kita, kita ya
bakal cenderung ngerasa kekurangan
terus-menerus. Dan dampaknya apa? Kita
jadi kiri, energi kita malah jadi
negatif, kita cemas tiap malam. Ya,
gimana orang kita selalu ngelihat ke
depan ke atas. Dalam psikologi ini
dinamakan upward social comparison. Ini
artinya adalah yang membandingkan diri
sama orang lain atau sama kondisi lain,
tapi kondisinya itu di atas kita atau
lebih sukses dari kita atau lebih kaya
dari kita ya. Lebih ganteng dari kita,
lebih cantik dari kita, lebih mantap
dari kita. Ya, kalau kita membandingkan
diri kayak gitu ya, kita bakal merasa
gagal terus-menerus. Dan ini ya terjadi
di banyak orang Indonesia. Lu bisa lihat
lah di comment section video gua
sebelumnya yang gua ngomongin cara
bahagia meskipun gak kaya gitu ya. Lu
bisa cek videonya. Tapi nanti aja ya lu
beresin dulu video ini. Cuma di
komen-komen video itu banyak sekali ya.
Padahal gua gua ngomongin di video itu
tuh konsep tentang bersyukur. Tapi
banyak yang selalu bilang, "Ya gimana
bisa bersyukur. Kita kalah sama negara
di Eropa, kalah sama Singapura, kalah
sama Malaysia. Kita jelek dibanding sama
bla bla bla gitu ya. Kalau lu terus
ngebandingin seperti itu, ya enggak
heran lu akan selalu merasa jelek. Coba
lu bandingin Indonesia sama kondisi di
Ukraina, sama kondisi di Gaza, sama
kondisi di Pakistan, mungkin lu akhirnya
akan merasa bersyukur karena di sini
sejelek-jeleknya Indonesia yang mana gua
enggak bilang Indonesia jelek atau bagus
ya. Karena namanya negara pasti ada
waktu jelek, pasti ada waktu bagus. Tapi
intinya sekarang itu Indonesia kita lagi
enggak ada dalam masa peperangan. Kita
masih bisa beli ayam geprek harganya
Rp15.000. Kita masih bisa makan enak.
Kita masih bisa sekolah dengan tenang.
kita masih bisa nyari kerja, kita masih
bisa bikin bisnis. Jadi menurut gua ya
tanpa gua mengecilkan ya
tantangan-tantangan yang dimiliki oleh
orang-orang Indonesia, tapi mungkin
mindset ini bisa berguna nih buat lu
semua yang selalu membandingkan ke atas.
Karena konsep needing nothing attracts
everything ini, ini bukan sebuah gagasan
baru. Ini tuh ide lama, Guys. Ini tuh
telah jadi bagian dari kebijaksaan kuno
nih yang udah diajarin dari ratusan
tahun yang lalu dalam berbagai tradisi,
dalam berbagai agama, dalam berbagai
filsafat di seluruh penjuru dunia di
barat maupun di timur. Kalau bisa lihat
quot-quot-nya ada dari Rumi, ada dari
Daoisme, ada dari Buddhism, ada dari
Islam, ada dari Kristen. Intinya
semuanya pesannya sama. Terdapat
kekuatan yang luar biasa ketika lu
mencoba yang namanya melepaskan. Simpel.
Tapi apakah simpel itu artinya mudah?
Ya, belum tentu.
Pertanyaannya adalah gimana cara kita
bisa aplikasiin ini di kehidupan kita
yang kadang begitu kompleks, begitu
penuh tuntutan. Keluarga kita toxic
misalnya ya, teman kita juga toxic juga
atau kita kagak punya teman ya kan.
Gebetan kita juga enggak suka atau
bahkan jiji sama kita. Gimana caranya
juga kita enggak FOMO ketika semua
influencer di luar sana pamer kekayaan,
nyuruh lu kerja, ngegoblok-goblokin lu
ketika lu miskin, ketika lu bodoh,
ketika lu punya tantangan tersendiri.
Gimana caranya lu bisa enggak butuh
apa-apa, bisa bersyukur, tapi di sisi
lain lu tetap bisa produktif, bisa
kerja, dan mampu mencapai semua tujuan
lu. Lu enggak kena mental. Well,
kuncinya adalah terletak di kesadaran
dan latihan. Nah, ini cara paling
pertama, cara paling sederhana. Cara
supaya lu bisa sadar dan lu bisa latihan
terus ya dengan bertanya ke diri lu
sendiri. Tanya beberapa pertanyaan ini.
Ini buat refleksi. Siapa tahu dari
mindset ini nih ya, ini bisa mengubah
hidup lu ke depannya. Pertama nih, apa
ekspektasi yang sedang el genggam begitu
erat sampai saat ini? Ekspektasi ini
banyak kan? Ini bisa berupa keinginan
atau ambisi lu. Contohnya, lu merasa lu
harus punya rumah, lu merasa harus
nikah, lu merasa harus promosi di tahun
ini. Nikah di umur misal 25, harus punya
R00 juta pertama di umur 20 dan
lain-lain. Nah, coba sekarang lu lepasin
keinginan itu, lu lepasin genggaman
terhadap ekspektasi itu gitu ya
perlahan-lahan. Mungkin lu bisa sambil
tutup mata nih ya, lu pause videonya, lu
tutup mata gimana ketika lu melepaskan
beban itu bahwa sebenarnya lu enggak
perlu gitu. Coba gua yakin harusnya ya
otak lu bakal kerasa lebih ringan ya
kan? Otak lu bakal mungkin malah jadi
kepikiran ide-ide buat dapetin hal itu
ketika lu melepaskan ego dan ambisi lu
terhadap hal itu. Unik. Unik. Benar.
Nah, itu pertanyaan pertama. Pertanyaan
kedua, kalau misalnya nih lu berhasil
melepaskan hal tersebut, ruang apa sih
yang bakal tercipta di hidup lu? Jadi
gini, melepaskan keterikatan bukan
berarti lu pasti dapetin hal tersebut,
ya. Jadi misalnya lu melepaskan
keinginan lu punya rumah, bukan berarti
lu jadi punya rumah tahun depan. Bukan
berarti kayak gitu. Tapi justru
menariknya adalah ini bisa juga
menciptakan ruang buat hal lain. Mungkin
nih ya dengan lu enggak ngarap dapat R
miliar pertama nih sebelum usia 30. Lu
enggak ngarap dapat satu Bitcoin pertama
nih ya sebelum usia 25. Lu enggak ngarap
dapat satu rumah pertama sebelum nikah
gitu ya. Lu enggak ngarep nikah cepat
gitu. Enggak ngarep apa-apa.
Jangan-jangan lu malah menyediakan ruang
untuk hal lain. Ruang untuk kedamaian.
ruang untuk ide-ide baru buat bisnis lu,
ruang untuk hubungan yang lebih sehat,
ruang untuk lu kerja lebih serius, ruang
untuk waktu lebih banyak dengan
keluarga, atau malah ya menyediakan
ruang buat peluang-peluang lain yang
kita enggak tahu apa gitu. Nah, lu bisa
pikirin ruang apa yang bakal tercipta
ketika lu melepaskan benar-benar
melepaskan keinginan tersebut. Yang
ketiga ini pertanyaan ketiga. Di area
mana di hidup lu saat ini lu bisa
mencoba untuk bergerak maju tapi enggak
ngarep tapi lu enggak pakai ambisi. Lu
maju ya udah gerak sesuai dengan
keinginan lu aja gitu. Sesuai dengan ya
gimana semesta membawa lu aja. Nah, ini
lu bisa coba identifikasi hal yang bisa
bikin lu maju. Ini bisa banyak ya. Bisa
di pekerjaan, bisa di hubungan personal,
bisa di pengembangan diri. Coba
identifikasi. Identifikasinya tuh hal
kecil dulu aja ya. Ingat ya, hal kecil
kalau dilakuin tiap hari efeknya tuh
bakal compounding. Contoh, lu nonton
video-video YouTube 1% atau video
edukasi lain ya, enggak harus 1%.
Minimal misalnya 30 menit sehari. Lu
bayangin kalau dikali 365 hari lu nonton
video kayak gini tiap hari itu jadi
10.900 menit. Nah, banyak orang di sini
mungkin lu termasuk ya 30 menit sehari
lu pakai buat head speech di Twitter,
buat scrolling gak jelas, buat nontonin
hal yang gak bermanfaat, itu bakal punya
efek compounding. Nah, mungkin banyak
dari lu yang bingung hal kecilnya apa
ya? Gua enggak tahu, gua enggak tahu.
Nah, ini sebenarnya ada banyak
tools-nya. Contoh kalau di 1% kita ada
psikotes gratis, ada juga yang berbayar
gitu ya. Nah, itu bisa lu kerjain tuh
yang kayak gitu ya. Lu bisa cari tahu
dulu kepribadian lu apa gitu kan. Lu
bisa improve di mana, lu tuh orangnya
kayak gimana. introvert, extrovert, dan
lain-lain gitu. Bukan untuk labeling ya,
bukan untuk kayak, "Oh, gua introvert
jadi gua enggak bisa." Bukan untuk kayak
gitu, tapi justru untuk tahu, "Oh,
kelemahan gua di sini, gua bisa improve
nih di kelemahan gua ini atau kelebihan
gua di sini, oh gua bisa maksimalin lagi
gitu ya." Jadi seringkiali Gen itu pakai
psikotes buat nge-label, padahal enggak.
Harusnya psikotes itu dipakai buat
identifikasi masalah, kelebihan,
kekurangan. Kalau lu bingung di
pertanyaan ketiga, lu bisa coba hal yang
tadi gua sebutin.
Pada akhirnya paradox ini, needing
nothing attracts everything itu akhirnya
ngajarin kita bahwa dengan melepaskan
keterikatan, melepaskan attachment pada
keinginan ya, pada ambisi, pada hasil
yang harus nih di tahun segini gitu ya,
kita justru membuka diri kita pada ya
alam semesta gitu. Kayak apa nih yang
bisa dilakuin gitu kan. Dan ingat jangan
lupa alam semesta dan Tuhan gitu ya itu
seringkiali udah nyediain gitu apa yang
kita butuhin. Kadang kita aja yang
terlalu sibuk ngejar hal yang kita
anggap penting gitu. Kita enggak sadar
bahwa sebenarnya apa yang kita cari ada
di depan mata kita, ada di sebelah kita,
ada di belakang kita. Dan kalau sampai
sekarang lu masih bingung dengan diri
lu, ya lagi-lagi ya lu bisa coba jawab
pertanyaan tadi. Mungkin bukan hari ini
ya. Mungkin besok lu bakal nemuin
jawabannya. Kalau misalnya lu mahasiswa,
saran gua sih lu bisa join organisasi
atau komunitas dengan visi serupa.
Contohnya kalau di 1% kita punya
komunitas 1% ya. Ini juga kita open buat
non mahasiswa sih. Tapi kalau yang
pengurusnya kita open buat mahasiswa.
Tapi kayaknya sekarang belum open R ya.
Ya silakan follow Instagram-nya aja.
Tapi join komunitas, join organisasi
kayak gini tuh menurut gua tuh akan
memudahkan hidup lu nanti karena lu jadi
kedoronglah sama teman-teman yang lain
untuk yang ngembangin diri itu enggak
harus selalu komentar 100% ya. enggak
harus selalu ee di sini karena banyak
organisasi lain, ada komunitas lain
juga. Akhir rata ya, semoga video ini
bisa jadi inspirasi buat lu. Semoga ee
mindset ini bisa berguna buat lu. Ya,
mungkin ada beberapa orang yang enggak
enggak akan menganggap mindset ini
berguna dan ya tentu video ini bukan
untuk semua orang. Tapi kalau ini
berguna, please like, please subscribe,
nyalain notifikasinya dan gua dari 1%.
Well, thanks
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:56:49 UTC
Categories
Manage