Transcript
vv_7zkCPpJw • The Psychology of NPD People: Why Are Narcissists More Successful?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/SatuPersenIndonesianLifeschool/.shards/text-0001.zst#text/0767_vv_7zkCPpJw.txt
Kind: captions Language: id Lu pasti pernah lihat orang narsis. Apalagi di zaman sosemate kayak sekarang, lu bisa melihatnya dengan mudah. Bukan hanya dalam konteks pertemanan atau hubungan romansa, tapi juga di internet. Biasanya orang narsis ini adalah orang yang pertama super PD, kedua jago ngomong, dan yang ketiga hampir selalu jadi pusat perhatian. Meskipun kadang-kadang sih suka bikin masalah. Ya, uniknya adalah di zaman sekarang seringkiali si narsis inilah yang karirnya melesat lebih cepat dibandingin orang yang humble, yang rendah hati, yang kerja dalam diam. Meskipun mungkin mereka-mereka yang humble ini sebenarnya lebih jago. Kok bisa sih kayak gitu? Bukannya dunia tuh harusnya lebih menghargai orang humble ya dan kerja keras orang yang tulus gitu, bukan orang narsis atau bahkan NPD. Well, sayangnya dunia ini tuh enggak ideal ya, Guys. Dan fenomena NPD ini bukan cuma perasaan lu doang. Ini adalah realita pahit di banyak lingkungan. Dari kantor, lingkaran pertemanan sampai dengan influencer juga. Orang dengan sifat narsistik itu seolah-olah punya jalan tol menuju kesuksesan. Sementara orang yang humble harus melewati jalan yang berliku-liku. Nah, di sini kita bakal bahas dan bedah kenapa sih orang narsis tuh cenderung lebih sukses dan apa kelemahan fatal di balik topeng kesuksesan si narsis tersebut. Selamat datang di segmen lama 1% yang sekarang kembali lagi yaitu tentang analisis kepribadian. Lu tonton video ini sampai habis. Jangan lupa like dan subscribe. Kita bakal bahas soal psikologi orang narsis. Jadi apakah lu narsis? Kita lihat ya di video ini. Oke guys, sebelum lanjut gua mau ngasih tahu info buat lu yang lagi ngerasa bingung, ngerasa stuck sama hidup akhir-akhir ini. Entah itu soal karir, pendidikan, hubungan, keluarga, pernikahan, atau hal-hal personal lainnya. Sekarang 1% tuh nyediain psikotes premium. Di dalam psikotes premium ada berbagai pilihan tes yang dirancang buat ngebantu lo lebih paham siapa sih diri lo sebenarnya supaya lo bisa ngambil keputusan hidup lu dengan lebih baik. Psikotes ini tuh ngegabungin berbagai jenis tes psikologi profesional. Jadi setiap lu beli lu bakal dapat beberapa psikotes disatuin reportnya jadi puluhan halaman untuk hasil yang akurat dan personal. Lu bisa baca puluhan halaman ini. Dan yang paling keren, kalau lu enggak ngerti atau lu ada pertanyaan, lu bisa dapat insight lanjutan lewat konsultasi bareng expert dari 1% langsung berdasarkan hasil tes lu. Langsung aja kunjungi 1.bio/psicotespremium buat info lebih lanjut. Jadi istilah narsis ini sebetulnya berakar dari mitologi Yunani kuno. Jadi ceritanya ada orang namanya tuh Narsisus. Dia tuh adalah pemuda yang luar biasa tampan ya. Mungkin bisa dibilang setampan Timoti Salami lah atau Ncolas Saputra. Nah, saking gantengnya, saking tampannya orang ini, dia tuh menolak semua orang yang pengin jadi pasangan dia. Jadi dia tuh nolak semua orang. Nah, karena si Narsisus ini terlalu narsis sesuai dengan namanya alias kepedean, akhirnya si Narsisus ini dikutuk oleh dewa pada saat itu ya untuk jatuh cinta pada bayangannya sendiri di permukaan air. Jadi, Narsisus melihat dirinya di air terus saking cintanya pada diri sendiri di pantulan air, dia akhirnya ngelihatin terus pantulan air tersebut. Dan saking obsesnya dia ke dirinya sendiri, dia sampai enggak bisa makan, enggak bisa minum sampai akhirnya narsisus meninggal di tepi danau. Nah, kisah inilah yang akhirnya menginspirasi istilah yang namanya narsis atau narsisme, yaitu tentang kecintaan pada diri sendiri yang berlebihan sampai akhirnya orang tersebut merusak diri sendiri dan mengabaikan dunia sekitar. Nah, dalam psikologi modern narsisme tuh adalah spektrum kepribadian yang ditandai dengan pertama rasa percaya diri yang meluap-luap. Jadi, pede banget. Benar-benar yakin kalau mereka tuh orang yang istimewa, orang yang hebat, orang yang lebih pintar, lebih pantas dari orang lain. Orang sih paling mantaplah pokoknya. Yang kedua, biasanya orang narsis itu butuh pujian. Jadi, mereka tuh hidup dari validasi dan kekaguman orang lain. Jadi, makin banyak orang yang nge-like ini adalah bahan bakar mereka. bodo amatlah mau bikin diskusi kagak jelas, mau bikin statement yang kontroversial, yang penting orang bisa dukung gue gitu ya. Yang penting gua gua gua gua pokoknya gu gua yang paling oke lah. Nah, yang ketiga, orang narsis itu adalah biasanya orang yang kurang empatik. Jadi mereka tuh kesulitan untuk benar-benar memahami atau peduli dengan perasaan orang lain. Akhirnya mereka jadi self center ya. Jadi semacam egosentris gitu. Jadi, fokus utamanya tuh benar-benar dirinya sendiri. Gue, gue, dan gue. Nah, ini sebenarnya salah satu yang bikin mereka hebat meskipun di sisi lain bikin mereka jadi rentan juga. Nah, kalau menurut Dr. Campbell, jadi dia adalah seorang ahli psikologi yang mendalami narsisme. Ada dua tipe narsisme. Pertama adalah tipe Grandius yang ya ini sering kita lihatlah ya sekarang-sekarang itu adalah orang yang ekstrovert, yang dominan, yang haus perhatian dan biasanya cukup arogan. Merekalah yang sering kita lihat sukses dengan cepat gitu ya. bikin segala macam diskusi publik gitu ya yang kontroversial itu mereka sangat jago di sana. Ada juga tipe yang kedua itu adalah tipe vulnerable yang lebih pendiam, lebih defensif dan biasanya cenderung insecure. Mereka mungkin tidak terlihat sukses tapi sama-sama narsis gitu ya. Sama-sama berpusat pada diri sendiri. Nah, Campell juga menggambarkan resep narsisme. Kalau di tes kepribadian ini ada by the way di 1% ya. tes kepribadian itu biasanya adalah kombinasi dari extra version yang tinggi, suka jadi pusat perhatian, dan agree yang rendah atau mereka biasanya kurang peduli sama orang lain. Nah, jadi apakah lu narsis? Ya, lu bisa ikuti tes kepribadian 1% ya. Ya, enggak juga sih. Di sana enggak bakal ada interpretasi narsis ya, tapi kita bakal tambah tes dark tried ke sana sih. Dan sebenarnya sekarang di website 1% itu juga sudah ada tes dark tried yang bisa lu coba secara gratis. Silakan dicoba nanti ya, tapi habisin dulu video ini. Jadi pertanyaan utamanya, kenapa orang narsis lebih sukses? Nah, biasanya gitu ya, orang narsis itu ya enggak akan pernah diam gitu. Mereka akan memastikan semua orang tahu kehebatan mereka. Kadang-kadang juga orang narsis tuh melakukan humble break tuh ya. Jadi kayak, "Oh, ini mah bukan karena gua gitu ya." Tapi karena el segala macam lah gitu. Sekarang tuh orang narsis sudah mulai belajar seperti itu juga. Tapi intinya orang narsis ini ya orang yang suka dipuja-puja, dipuji-puji oleh orang gitu. Nah, sampai saking PD-nya mereka gitu ya, kalau ada orang misalnya yang mengkritik mereka, orang narsis ini juga biasanya akan mengkritik balik dan enggak tanggung-tanggung gitu ya, mengkritik baliknya juga pakai ya berbagai macam cara la untuk membunuh karakter si orang lain yang mengkritik mereka. Kadang-kadang juga pakai adominem ya. Kayak misalnya, "Alah, lu kan enggak seganteng gue atau alah lu kan punya masalah sendiri. enggak usah ngekritik-kritik gua gitu, alah bla bla bla bla bla bla gitu ya. Jadi ya seringki seperti itulah orang narsis tuh memang sebetulnya di hati kecil mereka ya si orang narsis ini sebetulnya insecure juga gitu. Makanya akhirnya kalau egonya kegores sedikit ya bisa emosilah mereka-mereka ini. Nah orang yang narsis ini sebetulnya punya beberapa kelebihan ya. Kenapa mereka sukses? Karena pertama mereka jago menjual diri. Self promotion. Jadi di wawancara kerja, diapat saat presentasi si narsis ini adalah bintangnya. mereka enggak ragu-ragu melebih-lebihkan semua achievement mereka, menjual visi besar yang mungkin gak masuk akal juga gitu. Dan orang yang humble mungkin akan lebih bilang, "Ini hasil kerja tim kok." gitu. Bukan gua gitu. Tapi mungkin orang narsis yang super narsis akan bilang, "Ya, ini proyek yang gua pimpin nih menuju kesuksesan. Kalau enggak ada gua, proyek ini enggak akan berhasil." Nah, siapa yang lebih didengar atasan? Ya mungkin orang yang bragging, alias orang yang kedua alias orang yang narsis. Yang kedua, orang narsis itu biasanya karismatik dan charming lah intinya ya. Orang narsis itu sangat charming sekali. Mereka tahu cara membuat orang lain tuh terkesima, terkesan. Mereka tuh memancarkan aura leadership yang kuat gitu. Jadi orang tuh secara natural gitu ya tertarik dan mungkin believe pada mereka. apapun yang mereka omongin orang mungkin akan setuju karena ya karismatik itu. Dan yang ketiga, orang narsis juga biasanya berani lebih berani mengambil resiko karena mereka enggak punya empati pada orang lain. Mereka juga sangat percaya pada kemampuan diri sendiri dan karena enggak ada empati mereka jadi enggak mikirin gitu dampaknya ke orang lain. Bodo amatlah. Yang penting gua viral dulu, yang penting gua ngambil resiko dulu, yang penting enggak apa-apa dah. E badity is a good publicity gitu ya. Dan dalam bisnis atau dunia influencer, keberanian ini sering dianggap dengan nada positif gitu ya. Wah, berani sekali. Impactnya keren karena kamu mengambil keputusan-perkusan ini gitu ya. Meskipun ee realitanya adalah keputusan ini bisa aja merugikan orang lain. Yang keempat, biasanya orang narsis itu fokus pada politik. Entah itu politik di kantor gitu ya, politik ee di mana pun gitu ya. Mereka tuh paham bahwa di banyak tempat persepsi itu lebih penting daripada realita. Jadi branding itu yang utama e agar mereka bisa mencapai si kekuasaan atau politik tersebut. Mereka tuh sangat ahli dalam mengelola branding dan persepsi, mencari muka, dan memastikan bahwa mereka tuh selalu terlihat bagus. Bahkan jika itu berarti mengorbankan orang lain, bahkan enggak usah orang lain, rekan kerja atau partner bisnis mereka aja sendiri mungkin akan mereka korbanin ya. Apalagi orang lain ya yang enggak kenal sama mereka. Mereka akan serang terus supaya menaikkan nama mereka. Karena semakin mereka menyerang orang, mereka ya akan semakin terkenal gitu ya. Pertanyaan yang penting juga adalah kenapa sih orang tuh bisa jadi narsis? Nah, orang tuh tidak terlahir langsung menjadi narsis. Jadi, sifat ini itu kebentuk dari kombinasi yang kompleks. Kita bisa agree bahwa ini tuh bukan genetik doang, tapi ada juga faktor lingkungan, ada faktor pola asuh. Jadi, pertama pola asuh, dua faktor genetik, dan tiga faktor kultural. Pola asuh kita mulai ya. Pola asuh dari orang narsis itu biasanya lahir dari pola asuh yang memuja anak secara berlebihan. Jadi biasanya ketika anak tersebut nanti besarnya jadi narsis, orang tuanya tuh mungkin bisa kita lihat banyak memuja dan memuji anak tersebut bahwa si anak ini itu bakal mengubah dunia, bahwa si anak ini itu bakal jadi orang sukses gitu ya. Nah, ini menumbuhkan aspek narsisme. Dan menariknya adalah pola asuh yang dingin dan menuntut gitu ya. Jadi, anak yang tumbuh dengan orang tua yang dingin, suka mengkritik, dan menuntut standar yang tidak realistis juga bisa mengembangkan narsisme. Jadi, orang tuh bisa jadi mengembangkan narsisme sebagai selfde, jadi untuk melindungi diri mereka dari rasa sakit. Karena mereka merasa tuh sebenarnya deep down ya mereka tuh insecure gitu. That's why mereka menciptakan persona yang palsu. Jadi narsisme ini jadi kayak topeng untuk menutupi luka dan insecurity yang sangat dalam sejak kecil. Nah, ini bisa jadi adalah akar dari narsisme. Lalu faktor genetik ini yang kedua ya. Faktor genetik juga ngaruh. Beberapa penelitian itu nunjukin ada komponen keturunan dalam narsisme. Jadi memang ada aja anak yang dari lahir sudah narsis gitu gitu ya. Dan kalau dikombinasiin dengan pola aso yang salah, dia bisa meningkatkan resiko ya jadi narsistik banget atau jadi NPD lah. Dan yang terakhir, nah ini jawabannya adalah karena culture gitu ya. Jadi kultur atau budaya modern di mana di zaman sosm kayak sekarang ya kita bisa lihatlah kita sangat terobsesi dengan branding jumlah followers, jumlah likes dan validasi dari eksternal. Dan menariknya based on data culture di negara kayak Amerika Serikat yang di Amerika kan sangat individualis gitu ya, sangat memvalue kontribusi itu dari diri sendiri gitu. Ternyata secara statistik menghasilkan orang narsis yang lebih banyak. Tapi yang jelas dari sini kita tahu kalau narsisme itu sebetulnya bukan pilihan sadar dari orang yang narsis tersebut. Justru narsisme itu biasanya lahir dari perjalanan hidup yang seringki berakar dari luka masa kecil atau pola asuh yang enggak sehat atau ya selfde lah. Dan orang narsis itu yang menariknya adalah mereka enggak sadar bahwa mereka tuh narsis atau mereka tuh NPD gitu. Dan lu juga harus tahu bahwa gangguan mental lu sebenarnya dibagi jadi dua gitu ya dari aspek sadar enggak sadarnya. Jadi pertama adalah ego distonic ya. Jadi jenis ego distonic ini biasanya penderita gangguan mental sadar bahwa mereka tuh punya masalah ya. Contohnya misal lu depresi, ya lu sadar bahwa lu lagi depresi ya kan. Pokoknya kalau lu cemas, anxious atau depresi, lu sadar bahwa lu tuh ada masalah. Nah, ini namanya ego distonic. Nah, tapi ada juga tipe yang kedua. Jadi orang yang gangguan mental tapi enggak sadar. Nah, ini namanya ego sintonik. Contohnya ya orang NPD gitu. Mereka nyadar enggak sih? ya, mereka merasa gak ada yang salah dengan dirinya sendiri gitu loh. Nah, inilah yang membuat mereka tuh jadi toxic banget. Kenapa toxic? Karena sangat sulit untuk berubah karena mereka enggak kerasa ada masalah. Mungkin enggak nyari bantuan juga sampai akhirnya kena batunya. Lah biasanya begitu. Justru malah lu bakal tahu orang itu NPD ketika banyak orang yang ngeluh sama dia gitu. Bisa aja sih bukan narsis ya, bisa aja orang emang jahat tapi most likely lu akan tahu orang NPD dari korban-korbannya. Biasanya sih begitu. Terus kelemahan orang narsis apa dong? Kayaknya positif-positif aja nih trait-nya gitu. Nah, jadi gini. Meskipun orang narsis itu punya kecenderungan lebih tinggi buat sukses, kesuksesannya itu bisa jadi lumayan rapuh. Karena apa? Karena sifat yang membawa mereka ke puncak kesuksesan itu adalah sifat yang sama yang akan menjatuhkan mereka. Jadi kelemahan orang NPD ya itu adalah pertama mereka biasanya ya jago memulai tapi cenderung mungkin buruk dalam mempertahankan kesuksesannya. Nah, jadi ini adalah paradoks karena mereka tuh hebat gitu dalam memulai hubungan gitu ya, negosiasi bisnis, wawancara kerja. Tapi karena enggak ada empatinya kalau mereka enggak belajarnya dan mereka tuh enggak mampu nerima kritik ya. Ada yang kritik langsung kesel langsung di cancel gitu ya. Nah, jadi dalam jangka panjang biasanya partner bisnisnya bakal lelah gitu ya, pasangannya juga bakal cabut, teman-temannya bakal hilang gitu ya bakal hancur pada akhirnya. Makanya biasanya orang yang narsis ini itu banyak musuhnya. Kalaupun orang narsis ini kelihatannya banyak teman, biasanya karena itu hubungan yang dangkal atau hubungan yang transaksional. Nah, yang kedua makanya kelemahan mereka adalah hubungannya tuh dangkal dan transaksional. Nah, ini karena apa? Karena mereka melihat orang lain tuh sebagai alat. Jadi, rekan kerja, teman, bahkan pasangan itu hanya berguna selama orang itu tuh bisa memberikan mereka pasokan narsis gitu. Tapi kalau udah enggak dibutuhin, ya mungkin bakal dibuang gitu aja. Ketika orang tuh udah mulai ngekritik ya, udah mulai kayak lu kenapa sih kayak begini? Ya, mereka akan dibuang, mereka akan dihina balik tanpa pikir panjang. Nah, inilah yang membuat orang narsis ini dikelilingi oleh orang yang entah ya memuja-muja banget atau ya sebaliknya justru memanfaatkan si orang narsis ini. Jadi bukan teman yang beneran. Dan yang ketiga ya ini sifat narsis karena mereka kurang empati ya dan antikritik jadi ya mereka sulit belajar karena merasa diri paling benar. Mereka enggak bisa menerima masukan atau kritik ee pribadi. Semua kritik dianggap sebagai serangan. Akibatnya apa? Ya mereka berhenti berkembang terus ee mereka juga makin banyak musuh. mereka bakal mengulangi kesalahan yang sama karena ego mereka tuh terlalu besar untuk mengakui bahwa mereka salah. Mungkin orang narsis ini bisa dibilang orang yang ya susah minta maaf sih. Nah, ketika semua sifat ini menjadi ekstrem ya dan merusak fungsi kehidupan, nah di sinilah yang dinamakan sebagai NPD. Jadi ya itulah NPD itu yang tadi meskipun enggak sesimpel itu ya dan harus based on diagnosis dan NPD itu bukan lagi sekedar sifat tapi kondisi kesaran mental. Tapi intinya ya di sini gua mengedukasi aja kalau ya penderita NPD itu sebetulnya tadi ya banyak buruknya, bisa jadi sukses juga, tapi sebetulnya mereka tuh sangat rapuh dan sangat insecure. Jadi ya egonya itu adalah selfde mereka untuk menutupi rasa malu dan kekosongan diri yang sebenarnya dalam banget. Mungkin pertanyaan yang menarik adalah apakah gua harus jadi narsis biar gua bisa lebih sukses gitu. Well, jawabannya ya enggak lah gitu kan. Karena ya kalau lu memang terakhir humble ya jadi humble aja gitu. Cuman orang humble juga kan bisa belajar. Pertama, lu bisa ngejual diri secara etis. Enggak dari nyerang orang, tapi dari mengakui pencapaian lu gitu. Jadi kalau memang kontribusi lu besar, ya not akui itu tanpa merasa sombong, ya. Nah, yang kedua, lu bisa bangun kepercayaan diri tapi dari kompetensi. Jadi, fondasi kepercayaan diri dari orang yang humble ya mungkin adalah pengalaman yang nyata udah bertahun-tahun gitu ya. Nah, ini tuh kepercayaan diri yang tumbuh dari kompetensi itu memang lebih tahan banting. Jadi, kalau ada orang yang mengkritik, ya lu mungkin akan terima gitu ya, tapi lu enggak semudah itu untuk down. Dan yang ketiga adalah lu harus mengenali pola orang narsis. Nah, lu harus memahami cara kerja orang narsis ini bukan untuk meniru mereka, tapi untuk belajar baik-baiknya tuh apa, buruknya bisa dibuang. Dan ini juga berguna untuk melindungi diri lu supaya lu tidak dimanfaatkan atau diserang jadi korban orang narsis ini. Pada intinya kesuksesan yang dibangun di atas integritas dan kerendahan hati mungkin memang lebih lambat ya untuk tumbuh dibanding orang narsis gitu. Tapi ya namanya sukses ya yang lebih sustainable tuh sukses yang jangka panjang gitu loh. Kayak menanam pohon gitu loh. Jadi akar dan batangnya tuh bakal jauh lebih kuat kalau ditanam selama bertahun-tahun. Meskipun lu gak sukses instan ya, tapi at least batang lu, kompetensi lu itu jadi lebih kuat meskipun waktu suksesnya lama. Nah, kalau lu penasaran sama level narsisme lu, kita bikin kuis gratis. Nama tesnya adalah tes dark tri yang bisa ngukur tingkat narcissism, psyopath, dan makiaavilianism. Tapi eh lagi-lagi ya, ini non clinis dan ini kayak just for fun aja gitu. Bukan buat diagnosis, cuma buat lihat aja oh gua narsis apa enggak gitu ya. Kalau lu mau share ke sosmate ya silakan, tapi ya buat diri sendiri juga enggak apa-apa banget sih ya. Jadi kurang lebih seperti itu gitu ya. Dan e please hindari mendiagnosis orang dengan NPD gitu ya. Karena bisa jadi bukan NPD cuy, bisa jadi emang orangnya nyebelin aja ya. Bisa jadi emang orangnya narsis doang tapi enggak NPD gitu. Bisa jadi orangnya ternyata malah psikopat dan manipulatif gitu ya. Itu dari psyopat dan maavelanism. Jadi bisa jadi yang lain gitu. Jadi jangan langsung nge-judge atau jangan kayak mention nama orang di komen gitu ya. E ini buat pelajaran lu aja. Nah, kalau lu punya uang lebih dan mau analisis yang lebih komprehensif dari kepribadian lu, lu bisa coba tes kepribadian komprehensif personality analisis dari 1%. Ini juga bisa jadi langkah awal untuk lebih mengenali diri sendiri. Sebenarnya sekarang tesnya tuh udah banyak di dalamnya. Ada berapa gitu, ada belasan kayaknya. Dan eh di dalamnya juga nanti kita bakal masukin analisis dark triot dan belasan tes lain supaya lu bisa tahu kepribadian lu dengan lebih lengkap. So, that's it. Semoga video ini bisa membantu dan please sekali lagi jangan melabel diri sendiri atau orang dengan sebutan NPD. Akhir kata gua F 1%. Thanks [Musik]